Transcription
dan juga Nabi Sallallahu alaihi wasallam mengatakan, "Dan aku suka sekali dengan alfa'al, kalimat optimis: saya boleh, saya akan diampuni, saya akan masuk syurga, saya akan berjaya, saya akan lulus, saya akan berkahwin, saya akan punya anak, ya, saya akan jadi orang kaya, saya akan jadi orang pandai." Kata Nabi Sallallahu alaihi wasallam, "Jangan kalian pernah ucapkan kata-kata buruk yang boleh jadi doa buruk untuk diri kalian, harta kalian, dan juga keluarga kalian, yang boleh saja malaikat lalu mengaminkan dan terjadilah."
Bismillahirrahmanirrahim. Allah Subhanahu Wa Ta'ala rahmat-Nya sangat luas. Salah satu sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah rahmat-Nya mengalahkan murka-Nya, sebagaimana dijelaskan dalam Hadis Qudsi. Ya, ertinya Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan kesempatan kita agar selalu optimis, sebesar apa pun dosa yang kita lakukan, sebanyak apa pun yang sudah kita langgar, selama kita ingin kembali atau bahasa agama kita, taubat di jalan Allah, Allah akan terima. Bahkan dalam Hadis Bukhari dikatakan Allah sangat gembira dengan taubat hamba-hamba-Nya. Jadi ada tekanan penekanan tentang masalah pentingnya optimisme dalam Islam, dan ini akan lebih panjang lebar kita bahas pada kesempatan ini, insya-Allah.
Di pembukaan ini, teman-teman sekalian, kita boleh merenungi sabda Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Beliau mengatakan, "La 'adwa wa la tiyarah wa yu'jibuni al-fa'lu." Ertinya, "Ketahuilah, tidak ada penyakit yang menular sendiri dan tidak ada kesialan, serta aku sangat menyukai alfa'al." Alfa'al itu kata-kata optimis, ya. Jadi, seperti biasa di teman-teman doktor itu atau medis, kalau orang lagi sakit, "Saya boleh sembuh tak?" Insya-Allah boleh, ya. Apa pun selalu kita menghubungkan boleh, selama bukan sesuatu yang melawan sunatullah. Misal, kalau ada orang harap malam dihilangkan sama sekali, itu keliru. Sunatullah, peraturan malam dan siang berpasang-pasangan. Atau berharap agar lawan jenis, lelaki atau perempuan, hilang sama sekali, ini juga tidak mungkin sunatullah. Atau menghapus kematian, ya, atau kelahiran, atau menentukan, err, mengatakan bahawasanya tidak mungkin, err, orang ini akan mati pada hari ini dan menentukan misalnya itu takdir, maka ini semua tidak mungkin.
Tapi kalau sesuatu yang sifatnya manusiawi, sembuh dari penyakit, mengejar prestasi-prestasi dunia terbaik dari pendidikan, dari pekerjaan, ya, mengejar harta yang halal, pasangan yang baik yang sempurna menurut kita, keturunan yang banyak, pakaian yang bagus, harta dan urusan dunia, maka itu kita dianjurkan optimis. Termasuk kalau kita sudah melakukan pelanggaran-pelanggaran pun, kita diharapkan agar segera bertaubat dan kembali ke jalan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Perhatikan sabda Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, di sini dikatakan, "Wa la tiyarah," tak ada kesialan. Nah, ini seringkali orang menghilangkan atau merobohkan pilar optimisme dalam hidupnya kerana menganggap sial. Misal, mobilnya mogok tiba-tiba, "Sial ni mobil!" Padahal sebenarnya tidak ada sial, atau ada hari sial, ada waktu sial, ada tempat sial, tak ada dalam Islam. Semua itu, semua di muka bumi ini, teman-teman, adalah tempat yang baik, ya. Bahkan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mengatakan, "Innama ju'ilat li al-ardh masjidan wa tahuran." Allah telah jadikan untukku bumi ini semuanya suci dasarnya dan boleh jadi masjid untuk solat. Jadi tak ada dikatakan tempat sial.
Kalau ada orang pernah terbunuh di satu tempat, maka itu kes dia terbunuh, dan tidak ada namanya roh gentayangan akan mengganggu orang di sana. Ini semua menghilangkan, merobohkan pilar optimisme sehingga orang tidak mahu tinggal di sana, orang merasa selalu diganggu, padahal ini permainan syaitan. Salah satu sebab turunnya Surah Jin adalah orang-orang Mekah, saudaraku seiman, mereka seringkali kalau mereka melakukan perjalanan ini di masa jahiliah, ya, sebelum datang Islam kepada mereka, mereka seringkali kalau, err, melakukan perjalanan, kemudian mereka turun di sebuah lembah, mereka tancapkan khemah-khemah mereka untuk tinggal. Maka tanpa ada sebab, tiba-tiba pemimpin kafilah perjalanan itu meminta bekal masing-masing dari orang yang ikut dalam kafilah perjalanan tadi. Kemudian dia datang ke tengah-tengah lembah lalu dia berkata, "Wahai penjaga lembah ini, setengah bekal kami, ambillah, jangan ganggu kami." Maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala turunkan Surah Jin, salah satu potongan ayatnya adalah, "Fa zaduhum rahaqa." Maka syaitan-syaitan yang ada di sekitar lembah itu makin mengerjai mereka.
Jadi tidak ada, teman-teman, seandainya biar tidur di dekat kuburan, ya, di sekitar kuburan, tidak ada masalah. Kuburan orang sudah mati, mereka di alam barzakh. Tak ada ceritanya kuburan boleh terbuka, pocongnya keluar ganggu orang seperti sering digambar dalam filem-filem di Indonesia. Ini perusakan akidah. Tidak ada sama sekali. Siapa di antara kita sini, teman-teman, yang pernah kedatangan pocong kakinya, atau, err, neneknya, atau sekeluarganya? Tidak ada. Kalau memang mereka boleh datang loncat-loncat ke rumah, ketuk pintu, minta makan, ajak berbual, semua orang akan mengalami. Bahkan orang boleh berharap orang tuanya boleh datang kepada dia. Tidak ada dalam Islam itu, dan memang tidak ada faktanya. Tapi ini dilakukan oleh orang-orang yang memang tergoda oleh syaitan, akhirnya masuk ke dalam akidah atau cuba merusak, masuk menusul akidah Islam. Tapi ini tidak mungkin, insya-Allah, merusak akidah selama kita belajar yang benar.
Dan juga Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mengatakan, "Dan aku suka sekali dengan alfa'al, kalimat optimis: saya boleh, saya akan diampuni, saya akan masuk syurga, saya akan berjaya, saya akan lulus, saya akan berkahwin, saya akan punya anak, ya, saya akan jadi orang kaya, saya akan jadi orang pandai, ya, saya akan memaafkan." Ya, semua itu alfa'al, dan kita dianjurkan dalam Islam seperti itu. Bahkan itu boleh menjadi doa, ya. Makanya Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, hadis tadi itu hadis riwayat Bukhari Muslim, ya, yang hadis tentang kata-kata alfa'al, kata-kata optimisme. Dan dalam Islam kita dianjurkan agar selalu saja, ya, menghindari kata-kata buruk. Bahkan kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, "Jangan kalian pernah ucapkan kata-kata buruk yang boleh jadi doa buruk untuk diri kalian, harta kalian, dan juga keluarga kalian, yang boleh saja malaikat lalu mengaminkan dan terjadilah."
Misal, ada suami isteri mengatakan, "Saya menyesal nikah sama kamu." Ada orang tua mengatakan pada anaknya, "Menyesal saya melahirkan kamu," misalnya, "menyesal saya punya anak seperti kamu." Maka boleh jadi kalimat buruk dari itu boleh saja anaknya justru jadi nakal gara-gara kata-kata itu. Atau anda lihat dirinya di cermin, dia mengatakan, "Saya kok jelek sekali, ya." Akhirnya dia selalu memandang dirinya jelek, padahal sebenarnya sejelek apa pun dia dalam pandangan manusia, tetap ada ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, tetap ada kesempurnaan ciptaan di situ. Allah mengatakan, "Fi ahsani taqwim," kami ciptakan manusia dengan sempurna sesempurna-sempurna mungkin.
Al-Hulaimi berkata rahimahullah, "Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam suka dengan optimisme kerana pesimis merupakan cermin persangkaan buruk kepada Allah tanpa alasan yang jelas. Optimisme diperintahkan dan merupakan wujud persangka yang baik atau prasangka yang baik. Seorang mukmin diperintahkan untuk bersangka baik kepada Allah dalam setiap kondisi." Ini dinukil dari Fathul Bari Syarah Sahih Bukhari, ya, di jilid 10 halaman 226.
Jadi bagaimana kita dianjurkan agar selalu berbuat kebaikan-kebaikan, teman-teman? Kita selalu optimis. Jadi, seburuk apa pun masa lalu anda, tak ada hubungannya dengan anda sekarang. Masa lalu dalam Islam tidak pernah dilihat. Bukankah majoriti sahabat dulunya orang-orang bukan Muslim, orang kafir di Mekah, kemudian mereka dapat hidayah? Bukankah Umar bin Khattab radiallahuanhu adalah orang yang paling benci Islam, bahkan pada saat akan mengucapkan syahadat hari itu dia menghunuskan pedangnya, pakai baju perangnya untuk membunuh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, dan terbalik, Allah berikan hidayah, ya. Bukankah Abu Sufyan, orang yang memimpin pasukan Ahzab, orang yang membenci Islam, tapi selepas pembukaan kota Mekah masuk Islam? Bukankah Ikrimah bin Abu Jahal, ayahnya Abu Jahal meninggal dalam keadaan kafir, dia selalu bersama ayahnya membenci Islam, tapi selepas masuk Islam dia menangis memegang Al-Quran sambil mengatakan, "Ini perkataan Tuhanku yang aku lalaikan selama ini." Kemudian dia mengatakan, "Ya Rasulullah, mulai hari ini aku akan," ya, ini lihat kalimat optimisnya, "aku akan bersedekah sejumlah duit yang aku keluarkan untuk memerangi anda sebagai tebusannya." Mereka optimis. Banyak sahabat masuk Islam umurnya sudah tua, tapi mereka menghafal Al-Quran. Tidak ada kata-kata pesimis, mereka selalu optimis.
Ya, Abdurrahman bin Auf radiallahuanhu datang ke Madinah dari Mekah cuma pakaian di badan, hartanya semua disita oleh orang-orang kafir Mekah. Tapi dia datang, ya, dengan berbekal hanya pakaian di badan. Lalu dia datang ke pasar Madinah, dia datangi salah satu penjual, ya, perangkat pertanian, perkebunan, cangkul dan yang sejenis. Lalu mengatakan, "Saya seorang Muhajir, saya butuh untuk mengambil barang anda, jatuh tempo esok saya bayar." Mulailah dia ambil lima enam cangkul dan beberapa jenisnya, kemudian dia jual esok laku sampai dia punya toko, sampai dia menjadi salah satu dari penduduk Madinah atau kaum Muslimin terkaya atau orang-orang terkaya. Tak ada kata-kata pesimis, mereka selalu optimis, dan ini memang pilar Islam.
Ingat selalu firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Surah Al-Insyirah ayat 5 dan ayat 6, ya, "Fa inna ma'al 'usri yusra, inna ma'al 'usri yusra." Di setiap kesulitan, ingat ayat ini. Ada kesulitan apa pun, kita lagi sakit berharap sembuh, kita lagi miskin berharap kaya, kita lagi di PHK berharap supaya boleh dapat kerja baru, kita lagi, err, belum lulus sekolah kita berharap nanti menjadi seorang sarjana atau apa saja, kita belum berkahwin berharap berkahwin, belum punya anak berharap punya anak. Semuanya itu, ya, "Fa inna ma'al 'usri yusra," di setiap kesulitan akan ada kemudahan.
Intinya, teman-teman, jangan sampai di masa kita lagi sulit melanggar hukum Allah Subhanahu Wa Ta'ala, malah ke dukun, ya, malah berbuat kesyirikan, malah bermaksiat. Lagi ada masalah malah minum khamar, malah berzina, maka makin hancur hidup dia. Ayat ini berlaku bagi orang yang menghadapi kesulitan lalu dia kembali kepada Allah Subhanahu Wa'ala. Cubaan yang sedang datang justru bentuk kasih sayang Allah agar kita boleh kembali kepada-Nya. Di saat itu anda wuduk, bahkan sejadah sujud di malam hari, mohon kepada Sang Pencipta Allah. Anda sedang memohon kepada Pencipta langit dan bumi. Kalau anda sedang sakit, lagi ada masalah, yang ciptakan anda Allah, yang ciptakan masalah itu Allah, yang boleh menyelesaikannya Allah. Dan anda kalau sudah mendapat nikmat, yang ciptakan anda Allah, yang berikan nikmat itu Allah, yang boleh menambahnya juga Allah Azza Wa Jalla. Itu kemuliaan seorang mukmin. Dan Allah ulangi, "Inna ma'al 'usri yusra." "Inna" adalah harfu taukid dalam bahasa Arab, huruf yang memastikan. "Inna" dan saudara-saudaranya, "anna," "lakinna," semua sama. Tapi "inna" Allah mengatakan pasti, "ma'al 'usri yusra," di setiap kesulitan ada kemudahan, asal anda kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, ya.
Dan juga, teman-teman sekalian, salah satu hadis yang mulia diriwayatkan oleh Imam Muslim, kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, "Al-haris 'ala ma yanfa'uk, wasta'in billahi wa la ta'jiz." Ini luar biasa hadis tentang masalah optimisme. Perhatikan kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, "Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu." Selama bermanfaat, tidak ada maksiatnya, kejar proses tertinggi dalam pendidikan, dalam pekerjaan. Anda yang sedang kuliah, yang mengikuti acara kita, lagi sekolah, kejar prestasi terbaik. Jangan bilang, "Oh, saya tak boleh seperti si Fulan, dia selalu ranking satu atau juara satu atau dia selalu mendapatkan nilai A+, saya tidak boleh, saya cuma boleh C." Ini 'ajiz namanya. Harus kita mengatakan, "Boleh." Saya pada saat kuliah, saya cuba terapkan kaedah ini dan berhasil. Saya merasa pada saat saya berkumpul dengan orang-orang yang malas, maka kita boleh terkena tempiasnya. Tapi kalau saya, ya, semangat duduk dan berteman sama orang-orang yang berhasil, maka saya seperti mereka, saya seperti mereka. Dan alhamdulillah saya temukan itu, ya, nilai-nilai yang tinggi pada saat sedang ujian, pada saat kuliah kita dapatkan kerana memang kita, ya, bersemangat untuk itu, ya.
Kemudian, Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mengatakan, "Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu dan minta tolonglah kepada Allah." Nah, ini jangan lupa, kerana kalau Allah tidak tolong, kita tidak akan mampu, begitu kan. "Dan jangan kamu lemah," "wa la ta'jiz," jangan putus asa, jangan pesimis.
Ada juga hadis Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam yang mulia. Kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, "Kalau di tangan seseorang di antara kalian, ya, di tangan seseorang di antara kalian itu ada bibit pohon, sementara dia tahu esok terjadi kiamat, maka tetap dia tancapkan." Luar biasa, ya, motivasi dalam Islam. Kita sudah tahu kiamat esok, ertinya hancur juga pohon itu nanti, kita juga tak ambil manfaat, tapi tetap dia tancapkan. Kerana bagi seorang Muslim, perbuatan baik apa pun yang dia lakukan, maka akan ada pahalanya di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Sampai di detik terakhir pada saat dia mahu meninggal dunia, seorang ulama bernama Abu Yusuf rahimahullah, salah satu ulama mazhab yang terkenal, ya, dari mazhab Hanafi. Beliau pada saat sudah mahu meninggal, datang seorang temannya yang dianggap ada ilmu lebih dari dia. Lalu dia mengatakan, "Ajarkan kepada saya." Kata temannya, "Anda sudah dalam sakit yang parah ini, menghadapi, mahu menghadapi sakaratul maut." Dia mengatakan, "Saya meninggal dalam kondisi saya faham ilmu itu lebih saya cintai daripada, lebih saya cintai daripada saya meninggal dalam kondisi saya tidak tahu." Lalu temannya mengajarkan kepada dia dalil-dalil. Dia berusaha menghafal, dan ternyata apa yang terjadi, teman-teman sekalian? Dia menghafalnya, beberapa detik kemudian dia meninggal dunia. Begitu besarnya motivasi dalam Islam dan optimis setiap kali mengejar prestasi terbaik.
Dan anda diberikan lagi satu motivasi besar dalam Islam dalam masalah optimisme ini, iaitu kalau anda sudah niatkan, ternyata anda belum melakukannya, asal anda tulus kerana Allah, Allah akan berikan pahalanya. Misal, kalau anda mahu niat mahu tidur solat malam, mahu tidur niat mahu solat malam, ternyata kebablasan, bangunnya azan Subuh. Di sini anda akan diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala pahala lengkap solat malam. Kerana kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, "Siapa yang baru niat mahu mengerjakan satu amal kebaikan, lalu dia belum sempat mengerjakan, dicatatkan baginya satu pahala. Fa in 'amilaha, kalau dia sempat kerjakan, kutiba lahu 'asyru amsaliha, kalau dia kerjakan akan dicatatkan baginya 10 kali ganda." Jadi kalau anda bangun solat malam, anda akan dikasih 10 kali ganda kerana sudah niat sebelumnya dan dikerjakan.
Seperti itu, seperti sekarang anda tidak punya harta untuk haji misalnya, tapi anda niat mahu haji. Anda meninggal sebelum mengerjakan haji, anda akan dapat pahala haji. Jihad, sedekah, bakti sama orang tua, apa saja. Setiap kali anda lihat perbuatan baik orang lakukan, anda tidak mampu melakukan, tapi anda memang berniat, berazam, bertekad, "Kalau Allah berikan kemudahan seperti orang itu, saya akan lakukan," maka anda akan diberikan pahala yang sama. Begitu kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dalam hadis, ya, manusia ini empat, ya. Yang pertama adalah orang yang diberikan ilmu dan harta, lalu dia habiskan keduanya di jalan Allah. Dia hartanya banyak dia sedekahkan, dan dia juga punya ilmu agama dia ajarkan. Kemudian datang golongan ini, manusia terbaik. Semoga Allah Subhanahu Wa'ala jadikan kita termasuk orang-orang ini.
Yang kedua adalah orang yang Allah karuniai ilmu tanpa harta. Dia beragama, pandai tapi miskin. Tapi dia, kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, melihat orang yang pertama lalu dia mengatakan, "Andai saja Allah memberikan kepadaku seperti si Fulan, saya seperti orang yang pertama, saya punya juga harta, saya juga akan lakukan hal yang sama: bangun masjid, rumah anak yatim, bantu orang susah, segala macam." Apa kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam? "Fahuma fi ajri sawa'," maka mereka sama pahalanya. Bayangkan optimisme yang tinggi, luar biasa dalam Islam. Kita biar tidak mampu bangun masjid, kita tidak mampu bantu janda-janda anak yatim, kita tidak bantu, tidak mampu membangun sebuah kota, apalah perbuatan-perbuatan kita. Kita tidak mampu pergi haji, kita tidak mampu, belum mampu beli umrah, pergi umrah, tidak mampu melakukan banyak hal, ya, dari kebaikan sosial. Tapi kita bertekad dalam hati, "Kalau seandainya Allah berikan saya kesempatan, saya akan lakukan yang sama," maka sama pahalanya dengan orang yang melakukan itu. Optimis, apalagi yang lebih jelas daripada ini.
Dan kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, golongan ketiga adalah orang yang Allah karuniakan kepadanya harta tanpa ilmu. Kaya tapi tak tahu agama, maka dia menghabiskan hartanya pada kemaksiatan. Lalu datang golongan keempat, wal'iyazubillah, ini yang paling buruk. Orang yang tidak dikurniai harta juga ilmu, sudah miskin, bodoh, ya. Lalu dia bukan melihat golongan kedua sama ketiga pertama, bukan kedua sama pertama, tapi dia lihat golongan ketiga yang kaya tapi bermaksiat. Maka dia mengatakan, "Kalau saya punya kesempatan seperti si Fulan," maksudnya orang yang ketiga tadi menghabiskan hartanya foya-foya di jalan syaitan, "maka saya akan lakukan hal yang sama." Kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, "Fahuma fi wizri sawa'," maka mereka sama dosanya, ya. Ini bahaya sekali, maka jangan pernah niat untuk menjadi ahli maksiat.
Ada cukup banyak, teman-teman, yang cuba kita bahas dalam kesempatan kita ini, semoga Allah berkahi, bagaimana kita dianjurkan agar selalu punya optimisme. Ada hadis yang lain, hadis ini riwayat Imam Ahmad, maaf, riwayat Bukhari Muslim. Tepatnya kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam kepada Saad bin Abi Waqqas, "Ketahuilah wahai Saad, engkau meninggalkan anak-anakmu dalam keadaan kaya, ya. Engkau pada saat meninggal tinggalkan warisan yang banyak, jauh lebih baik, ertinya untukmu dan untuk mereka. Kau dapat pahala yang banyak, mereka pun boleh hidup, daripada mereka kau tinggalkan dalam kondisi mengemis kepada orang-orang." Bukan sebuah optimisme supaya kita menjadi orang kaya yang halal lalu kita tinggalkan untuk ahli waris. Itu hadis sahih riwayat Bukhari Muslim.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala, teman-teman, tidak pernah melarang kita untuk menikmati apa yang telah diciptakan selama lima huruf "halal," dan Dia hanya melarang lima huruf yang lain, "haram." Dan perlu kita titikberatkan, dan ini sering saya bahaskan, yang haram itu jauh lebih sedikit dibandingkan yang halal. Halal ini banyak sekali. Pada saat Allah haramkan babi, Allah ganti dengan sapi, kambing, ayam, arnab, semua haiwan air. Kenapa harus babi dimakan? Ini sebagai bentuk cubaan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Seperti anda kerja di pejabat, nah, pasti di pejabat itu akan, begitu anda melamar kerja dan anda diterima, akan yang ada adalah motivasinya. Kalau kerja dari jam sekian sampai jam sekian akan dapat ini, dapat ini, dapat ini, dapat ini, kan? Tapi di pejabat juga akan dikatakan, "Kalau anda melanggar akan ada begini dan begitu." Tentu syarikat tidak berharap anda melanggar, berharap anda berjalan. Nah, itu dimaksudkan, ini cara memahami rasionalnya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan yang haram itu bagi orang-orang yang mahu langgar, cubaannya, begitu kan. Jangan dilanggar. Pelanggaran-pelanggaran itu untuk diketahui dan dihindari. Anda sudah tahu ini di syarikat saya tidak boleh, maka jangan dilakukan supaya anda tidak kena PHK, supaya anda tidak punya masalah. Begitu juga dengan hal-hal yang merupakan motivasi, ya, atau motivator untuk bekerja di pejabat, anda lakukan, ya.
Perhatikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala menjelaskan kepada kita dalam Surah Al-A'raf ayat 32. Surah Al-A'raf ayat 32, anda boleh buka di aplikasi Al-Quran di telefon bimbit anda. Bunyinya, "A'uzubillahiminasyaitanirrajim." Sekali lagi, Al-A'raf ayat 32, "Qul man harrama zinatallahi allati akhraja li 'ibadihi wa at-tayyibati min ar-rizq." Katakan, "Hai Muhammad, siapa yang melarang, mengharamkan perhiasan-perhiasan yang telah Allah keluarkan untuk hamba-hamba-Nya, dan 'at-tayyibati min ar-rizq,' yang baik-baik dari rezeki?" Makanan yang sihat, makanan yang wangi, berkualiti, pakaian, minuman, pergaulan yang halal. Siapa yang mengharamkan semua itu? Allah suruh orang beriman untuk makan minum, "Kulu washrabu," makanlah dan minum. Tapi Allah kasih kuncinya, "halalan," yang halal, dan "tayyiban," yang berkualiti.
Kalau orang beriman, teman-teman, tak boleh makan, tak boleh minum, tak boleh biologis, maka mungkin kita susah hidupnya, wajar orang menjadi kafir. Tapi ini semuanya boleh, tapi dengan cara halal. Makan minum yang halal, biologis yang halal dengan cara berkahwin, begitu kan. Kata Allah Subhanahu Wa Ta'ala, "Katakan, Hai Muhammad, itu untuk orang-orang beriman di dunia dan juga untuk, hanya untuk mereka di akhirat." Di dunia orang kafir masih dapat makan minum dan segala macam, tapi di akhirat orang beriman saja. Di dunia kita dapat kenikmatan selama kita menjalankan atau menikmati yang halal, menjalankan perintah dan menikmati yang halal. Dan di akhirat kita juga akan dapat khusus buat kita saja. Orang kafir malah akan ditunjukkan ke api neraka, wal'iyazubillah.