📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

🍃Pentingnya Adab dalam Menuntut Ilmu | Ust. Dr. Muhammad Yusran Anshar, Lc., M.A.

Dewan Syariah Wahdah Islamiyah59:27

Transcription

Alhamdulillah, cukup jelas ya. Kita memanfaatkan waktu dengan baik. Insyaallah tidak berlama-lama, kita berikan kesempatan kepada ustaz kita untuk menyampaikan materi tentang pentingnya adab dalam menuntut ilmu. Fa'idza ta'addal maskur wajur. Silakan, Ustaz.

I syukran. Ee asalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Alhamdulillah wasalatu wasalam ala rasulillah wa ala alihi wasohabatihi wa mawalah. Amma ba'd.

Para pemirsa wah ee atau para peserta ee konsultasi syariah via Zoom dan yang lainnya. Alhamdulillah ee pada malam hari ini ee kembali kita melanjutkan kegiatan konsultasi syariah Dewan Syariah Wahdah Islamiyah. Ee dan seperti yang disebutkan tadi, malam ini kita akan ee membahas atau sebagaimana biasanya di hari Jumat ee malam Sabtu pembahasan kita pembahasan tentang masalah umum dan kontemporer. Ee masalah yang kita angkat hari ini adalah pembahasan tentang persoalan adab. Sebenarnya persoalan adab masalah klasik ya. Namun ee kita masukkan dalam bagian permasalahan kontemporer karena terasa hari-hari ini masalah adab atau krisis akhlak dan adab makin terasa.

Ee tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan kita hari ini mengalami ee masalah yang besar. Bukan kurangnya sarjana yang lahir, bukan karena sekolah-sekolah dan kampus kurang orang pintarnya. Masih sangat banyak orang-orang pintar di negeri kita ini. Bahkan ee masyaallah ya, begitu banyak orang-orang yang dikatakan cerdas, orang yang pakar dalam bidangnya, cendikiawan dan memiliki sekian banyak gelar-gelar akademik. Namun di waktu yang sama kita kadang bersedih. Mereka-mereka yang memiliki keilmuan yang mumpuni kadang mengkhianati ilmunya. Dalam artian tidak sedikit orang berilmu justru melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan oleh seorang awam, apatah lagi seorang yang dikatakan berilmu. Pengkhianatan terhadap ilmu berupa melakukan hal-hal yang ee termasuk dosa-dosa besar, hal-hal yang aib itu ee tidak sedikit. Bahkan kalau kita melihat orang-orang yang dikatakan korupsi, orang yang mengambil harta rakyat itu banyak justru dikatakan dari orang-orang yang berilmu, orang-orang yang ee memiliki ilmu, orang yang sarjana, bahkan mungkin memiliki sekian banyak gelar-gelar akademik. Seluruh strata yang ada telah diraihnya. Namun sangat disayangkan tidak memiliki integritas, tidak memiliki amanah ilmiah, tidak memiliki berkah dari ilmunya.

Di waktu yang sama juga kita sangat bersedih ya walaupun kita ee punya di negeri kita ini ada namanya hari pendidikan, ada juga bahkan beberapa waktu yang lalu ada namanya hari santri. Tapi fenomena di sebagian sekolah yang ada di negeri kita, baik sekolah umum bahkan juga di sebagian sekolah yang berlebelkan sekolah agama, justru kadang terjadi hal-hal yang sangat disayangkan. Penuntut-penuntut ilmu yang ee belajar namun tidak memiliki etika dan adab. Penuntut ilmu yang tidak membedakan bagaimana perlakuan yang pantas dengan teman dan dengan gurunya. Penuntut ilmu yang tidak mau dinasihati. Ya, penuntut ilmu yang kadang ee bersikap kurang ajar, tidak beradab kepada ee para guru-guru mereka. Dan itu juga mungkin gambaran penyikapan mereka terhadap orang tua mereka.

Dan di waktu yang sama juga sebaliknya kadang sebagian guru itu juga memang tidak menunjukkan adab yang tepat ya bagi muridnya sehingga melahirkan murid-murid juga yang tidak memiliki adab. Persoalan ee terjadi karena ee semuanya atau berbagai pihak yang tidak memperhatikan masalah ini. Dan juga ya sungguh sangat disayangkan kadang orang tua ee mereka mempercayakan pendidikan dan tarbiah anak mereka sepenuhnya kepada para guru. Lalu mereka tidak punya andil bagian dalam mendidik anak-anak mereka. Sehingga kadang mereka menyangka mereka hanya cukup menyediakan dana sebesar-besarnya, sebanyak-banyaknya untuk memenuhi seluruh kebutuhan pendidikan anaknya. Tapi mereka tidak mau punya andil langsung dalam mendidik anak mereka. Mereka tidak menjadikan rumah mereka madrasah pertama sebelum anak-anak mereka pergi belajar. Dan kadang kalau mereka mendapati anaknya diajar dengan pendidikan yang mungkin mereka anggap terlalu ketat dan disiplin, kadang mereka juga keberatan tidak setuju dengan orang ee para guru dan mungkin melakukan hal yang ee menunjukkan perlawanan kepada guru. Ya, banyaklah persoalan-persoalan yang kita dengar dan saksikan hari ini yang menjadi perbesar bagi kita semuanya.

Tidak berkahnya ilmu dan terjadinya kasus-kasus yang kita isyaratkan tadi itu muaranya kalau kita lihat di antara sebabnya adalah metode yang tidak tepat dalam menuntut ilmu dan hilangnya keberkahan pada ilmu yang kita miliki. Dan metode yang diajarkan oleh kaum salaf, generasi yang terbaik pada umat ini adalah mendahulukan pelajaran adab sebelum yang lainnya. Mendahulukan praktik adab sebelum menghafalkan sekian banyak ilmu yang kadang sifatnya sekedar teori belaka. Dan dari adab-adab kita pada saat menuntut ilmu itulah lahir keberkahan. Maka apa sebenarnya ya ee pentingnya adab dan bagaimana adab-adab penuntut ilmu kepada gurunya dan bagaimana adab guru kepada muridnya. Ini kami akan sebutkan sebagian ya ee yang dijelaskan oleh para ulama kita.

Ee Abdullah bin Mubarak rahimahullahu taala salah seorang imam besar ya yang wafat tahun 100 81 Hijriah. Seorang ulama yang memiliki kapasitas keilmuan yang sangat mumpuni dalam seluruh bidangnya dan juga seorang alim besar yang ahli ibadah dan seterusnya. Beliau mengatakan tentang bagaimana metode kaum salaf ya. Beliau termasuk atba'ut tabi'in. Bagaimana dulu mereka menuntut ilmu. Beliau mengatakan bahwa "Ee kunna nata'allamu al-adaba alma isrinaah." Kami dahulu belajar adab itu sampai 30 tahun. Baru belajar ilmu selama 20 tahun. Adab duluan dan lebih panjang ya waktunya dibandingkan belajar ilmu. Itu pengakuan beliau ya. Bahkan beliau mengatakan kita lebih butuh sedikit adab. Kebutuhan kita akan adab walaupun sedikit jauh lebih besar daripada kebutuhan kita terhadap ilmu yang banyak. "Nahnu fi qilin minal adabi ahwaju min qilin minal ilmi." Walaupun sedikit tapi kita belajar adab dan bisa kita amalkan itu jauh lebih kita butuhkan daripada mempelajari sekian banyak ilmu. Sufyan rahimahullahu taala juga menegaskan hal itu bahwa kami dulu belajar adab ya sebelum belajar ilmu ya.

Muhammad bin Sirin dan banyaklah bahkan bahkan Imam Malik rahimahullahu taala menyebutkan bagaimana ibunya mempersiapkan beliau sebagai seorang ulama. Ibunya selalu berpesan kepada Imam Malik ketika menyiapkan segala perangkat ee ee perangkat ilmu yang dibutuhkan Imam Malik ya bukunya, pakaiannya dan seterusnya. Beliau mengingatkan kepada Imam Malik untuk belajar kepada Rabiah Roi yang dikenal masa itu guru dari Imam Malik. "Pelajarilah darinya adab sebelum engkau mempelajari ilmu darinya." Ini pesan yang baik seorang tua. Orang tua yang memesankan kepada anaknya untuk mau beradab kepada gurunya. Bukan justru sebaliknya ya. Orang tua yang kadang keberatan jika anaknya diajari, dinasihati, mungkin diberikan tindakan yang berupa takdib ya sebagai bentuk takdib. Salah satu bentuk takdib adalah kadang bentuk penegasan. Kalau kadang orang tua berkeberatan ya bahkan melakukan perlawanan mau ee menuntut sang guru ya ke pengadilan dan seterusnya. Padahal seharusnya terjadi sinergisitas dan kolaborasi antara orang tua dan guru dalam mendidik anaknya.

Ee ada beberapa adab-adab yang perlu untuk kita perhatikan ya bagi para penuntut ilmu dan juga bagi para guru ya. Sekali lagi harus ada hubungan timbal balik ya. Guru tahu bagaimana sikap yang benar sebagai guru dan anak juga atau anak didik, para murid, para siswa ee tahu bagaimana bersikap kepada guru-guru mereka.

Satu sifat dan adab yang paling penting yang harus ada pada semuanya yaitu keikhlasan. Dalam artian semuanya harus ikhlas menuntut ilmu. Bukan sekedar untuk menambah wawasan, bukan sekedar untuk menghafal, bukan sekedar untuk dikatakan seorang yang pintar, cerdas, cintikiah, dan gelar-gelar yang kadang disematkan bagi orang yang memiliki ilmu. Tapi seharusnya niatan yang paling awal ikhlas kepada Allah. Kita menuntut ilmu karena Allah perintahkan. Kita menuntut ilmu karena kita mau menjadi orang yang ee takut kepada Allah Subhanahu wa taala. Kita menuntut ilmu untuk menghilangkan kejahilan kita. Kita menuntut ilmu untuk beribadah sesuai dengan apa yang Allah inginkan. Dan kita menuntut ilmu untuk mendapatkan surga yang terbaik. Ya. Ee adapun hal-hal yang sifatnya duniawi itu kita tidak jadikan sebagai prioritas. Walaupun itu juga sesuatu yang ee akan didapatkan tanpa perlu diniatkan pun itu akan didapatkan karena Allah telah menjamin "yarfa'illahulladzina amanu minkum walladzina utul ilma darajat." Secara umum orang yang berilmu itu akan dirajat, akan ditinggikan derajatnya di sisi Allah Subhanahu wa taala di dunia apatah lagi nanti di akhirat. Itu adab dan sifat yang harus ada baik kepada penuntut ilmu, siswa, maupun bagi para guru.

Adapun adab seorang murid kepada gurunya di antaranya adalah menghormati dan mengagungkan gurunya. Ee dan di antaranya adalah dengan cara tidak meninggikan suara ya di hadapan gurunya sebagaimana anak tidak meninggikan suara kepada orang tuanya ya. Karena guru itu sekali lagi adalah pengganti orang tua kita di sekolah. Guru adalah orang tua ideologis kita. Orang tua kita adalah orang tua biologis kita yang juga kadang ee sekaligus orang tua ideologis. Tapi guru walaupun bukan orang tua biologis kita, dia juga pada hakikatnya adalah orang tua ideologis kita dan dia telah sangat berjasa kepada kita. Maka kita memperlakukan mereka bagaikan memperlakukan orang tua kita. Di antara hal yang tidak boleh adalah mengangkat suara di atas suara mereka. Sebagaimana Allah katakan tentang sikap anak kepada orang tua "fala taqul lahuma uffin wa la tanharhuma." Ya, tidak boleh kita mengangkat suara e lebih daripada orang tua kita. Dan Allah juga mengatakan ee dalam surah al-Hujurat surah adab dan akhlak. "Ya ayyuhalladzina amanu la tarfa'u aswatakum fauqa nabi wa la tajharu lahu bil qawli kajarri ba'dhikum liba'd." Walaupun ini ayat ini khusus ya asalnya khusus kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Diingatkan kepada para sahabat dan kepada umat tidak meninggikan suara lebih daripada suara Rasulullah. Namun ini juga sebagiannya diambil sifat penuntut ilmu tidak meninggikan suaranya di atas suara dari guru-guru mereka dan juga tidak memanggil guru mereka. dengan panggilan yang sama dengan rekan-rekan teman-temannya. Ya, dalam ayat yang lain juga di surat An-Nur "la taj'alu da'a ar-rasuli bainakum keda'i ba'dhikum ba'dhan." Jangan kalian jadikan panggilan kalian kepada Rasulullah sama dengan panggilan kalian kepada sesama kalian. Walaupun ayat ini juga khusus berlaku kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam asalnya demikian, tapi ulama kita juga mengambil faedah. Begitulah kurang lebih seorang anak kepada orang tuanya dan seorang murid kepada gurunya tidak pantas memanggil orang tua dan gurunya sama dengan panggilannya dengan teman-temannya. Maka kalau biasa kita panggil teman kita, kita sapa dengan namanya, kita panggil namanya ya Ahmad, ya Fulan ya kita panggil dengan namanya. Adapun guru kita, maka tidak pantas kita sebut namanya, kita panggil dengan panggilan kehormatan ya, dan bukan menyebutkan namanya secara langsung.

Dan juga di antara ee adab kepada guru kita adalah berkhidmat kepadanya. Ya. Dan sangat banyak ya asar-asar dari salaf ya menjelaskan hal tersebut. Seorang guru sebenarnya tidak ee selalu ya minta tolong kepada murid-muridnya. Tapi seorang murid yang baik ya adalah yang ee berinisiatif kadang menyiapkan dirinya untuk ee berkhidmat kepada gurunya. Dan itu di antara sebab keberkahan ilmu kita. Lihatlah bagaimana Anas bin Malik radhiallahu anhu khidmahnya kepada ee Nabi sallallahu alaihi wasallam Abdullah bin Mas'ud ya. yang juga pembawa sendalnya dan pembawa siwaknya Rasulullah dan banyak lagi keperluan-keperluan lainnya juga ee apa sahabat-sahabat seperti Tsubban radhiallahu taala anhu, Abu Firas ya radhiallahu taala anhu. Dan di antara yang paling terkenal adalah Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma. Seorang anak muda yang dikenal sebagai seorang yang ee dikatakan penerjemahnya Al-Qur'an, tarjumanul Qur'an juga dikenal dengan Habrul Ummah, orang alimnya umat. Dikenal juga dengan Bahr, lautan ilmu. Beliau ini ketika ketemu dengan Zaid bin Tsabit, salah seorang ulama besar di kalangan sahabat. Beliau ketika melihat Zaid bin Tsabit dengan kendaraannya, maka beliau turun dan menuntun tali kekang kendaraan Zaid bin Tsabit. Zaid bin Tsabit radhiallahu anhu merasa risih karena Abdullah bin Abbas ini seorang ee yang kalangan bangsawan ya, seorang dari Quraisy, seorang yang merupakan sepupu dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka beliau merasa tidak enak. Maka beliau ingin juga turun dari kendaraannya. Tapi Abdullah bin Abbas meminta kepada beliau untuk tetap di atas kendaraannya. Dan Abdullah bin Abbas di bawah menuntun ee tali kekang kendaraannya sambil mengatakan, "Hakadza umirna an nif'ala bi ulamainaa." Beginilah kami diperintahkan menyikapi atau bersikap kepada ulama-ulama kami. Abdullah bin Abbas kadang mendatangi Zaid bin Tsabit ya karena semangatnya Abdullah bin Abbas ini tidak kenal waktu. Kadang di siang hari pun beliau datangi Zaid bin Tsabit di rumahnya. Ternyata Zaid bin Tsabit sementara tidur. Maka Abdullah bin Abbas tidak mau mengganggu. Menunggu di depan rumahnya dan menunggu dan menunggu sampai beliau juga ketiduran. Nanti ketika mau salat Asar, lalu Zaid bin Tsabit membuka pintu dan mendapati Abdullah bin Abbas telah ee lama menunggu di depan rumahnya akhirnya ketiduran. Lalu Zaid bin Tsabit mengatakan, "Kenapa tidak ketok pintu? Kenapa tidak bangunkan? Dan kenapa tidak bilang saja, 'Biar saya yang akan datang kepadamu untuk mengajarkan ilmu yang kamu butuhkan.'" Lagi-lagi Abdullah bin Abbas mengatakan, "Kamu adalah guru saya. Saya yang butuh maka saya yang mendatangimu dan saya siap ya untuk ee melakukan apa saja demi mendapatkan ilmu dari." Begitulah ya salah satu sebab ee hingga ilmu dari Abdullah bin Abbas berberkah khidmah beliau ya dan penghormatan beliau kepada guru beliau.

Dan juga termasuk di antara hal yang penting adalah kadang seorang murid harus ee ee ee juga ya sebelum itu ee seorang murid harus juga beradab ya termasuk dalam ee mengajukan pertanyaan kepada gurunya ya dan juga dalam ee masalah-masalah yang mungkin dianggap ada berbeda dengan apa yang dia pahami. Di antara adab pada saat bertanya ketika mungkin gurunya menyampaikan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia pernah dengarkan, bukan sikap yang baik seorang murid ketika dia ee menyebutkan pandangan-pandangan yang lain lalu membandingkan pendapat guru yang lain dari ee yang dia dengarkan kepada gurunya yang mungkin akan menimbulkan perasaan yang tidak enak dari sang guru. Apalagi tidak ee dia menunjukkan ya bahwasanya ee apa yang dikatakan gurunya adalah sesuatu yang keliru atau salah. Ya, boleh dia bertanya tapi dengan maksud untuk belajar dan bukan untuk justru menunjukkan kelemahan sang guru. Dan termasuk jika seorang murid belajar kepada sang guru dan mungkin apa yang dia dengarkan dan dari sang guru adalah sesuatu yang sudah dia ketahui. Maka di antara adab seorang murid adalah dia menunjukkan bahwa dia sangat butuh dari apa yang disampaikan oleh guru dan seakan-akan apa yang disampaikan itu suatu hal yang baru dan tidak menunjukkan bahwasanya dia lebih tahu apalagi dia yang mengoreksi membetulkan apa yang disampaikan oleh gurunya.

Athâ' bin Abi Rabah rahimahullah, salah seorang mufti kota Makkah, tabi'in kabir. Athâ' bin Abi Rabah ini seorang tabi'in, tapi para sahabat banyak yang mengakui keilmuannya. Beliau bilang, "Kadang saya mendengarkan satu ilmu yang diajarkan oleh seseorang anak muda." Beliau termasuk tabi'in yang senior, yang sangat dihormati ilmunya. Tapi beliau suka istifadah, mengambil manfaat dari siapa saja. Beliau mengatakan, "Kadang saya mendengarkan suatu ilmu yang diajarkan oleh seseorang atau yang disampaikan oleh seseorang dan saya sudah tahu ilmu tersebut sebelum anak itu lahir, sebelum pembicara itu lahir. Tapi saya mendengarkannya seakan-akan baru saja saya mendengarkan maklumat itu darinya." Ya, beliau tidak mau tunjukkan bahwasanya beliau lebih hebat. Ya, selama dia dalam status sedang menuntut ilmu, dia tampakkan bahwasanya dia sedang butuh dengan ilmu tersebut dan tidak menunjukkan kesombongannya. Kadang sebagian kita yang pemahamannya kita juga masih setengah-setengah, tapi ada sesuatu yang kelihatan yang kita sudah pernah dengarkan, kita langsung mau tunjukkan bahwasanya kita sudah sangat tahu. Padahal juga mungkin pengetahuan kita tidak secara sempurna dari apa yang kita dengarkan tersebut.

Ee dan juga tentu saja ya ee selalu mendoakan dan tidak melupakan jasa guru-guru kita ya. Ya. Bahkan sebagian salaf mengatakan, "Saya siap menjadi bagaikan seorang hamba kepada tuannya bagi seorang yang mengabarkan mengajarkan kepada saya walaupun satu huruf dari ilmu." Tidak ada namanya mantan guru. Guru kita yang pernah mengajarkan kita mungkin tajwid, pertama kali mengajarkan kita ilmu, itu juga guru kita yang tidak boleh kita lupakan. Ya, guru kita yang pernah pertama kali mengajarkan kita Al-Fatihah. Ya, itu jugalah guru kita yang tidak boleh kita lupakan. yang mungkin saat sekarang ya sebagian mereka hingga hari ini statusnya masih mengajar sesuatu hal yang mungkin bagi orang sederhana dan kita sudah mencapai derajat yang mungkin ya dianggap lebih tinggi. Tapi kita tetap bersikap hormat dan setia dan selalu mengingat jasa-jasa mereka dan tidak pernah lupa untuk selalu mendoakan mereka. Dengan itu insyaallah ilmu akan berberkah.

Adapun para guru ya secara singkat ya sebagai penutup yang perlu untuk kami ingatkan tentu saja kita adalah teladan ya. Kita harus menunjukkan keteladanan dan juga di antara hal yang paling penting adalah kita menyikapi murid-murid kita secara hikmah. Mereka berbeda-beda dan seorang mualim, seorang guru butuh yang namanya hikmah. Sebagaimana Luqman Alaih Salam. Dan hikmah adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kita menyikapi murid kita dengan sikap yang berbeda dan cara yang berbeda sesuai dengan sifat-sifat mereka. Kadang ada yang perlu disikapi dengan lembut, kadang yang perlu ada sedikit ketegasan. Kadang di antara mereka ada yang cepat pemahamannya, di antara mereka ada yang butuh untuk berulang-ulang kali kita ajari dan seterusnya. Ya, seorang pendidik yang baik yang bisa menyikapi itu dengan sikap-sikap yang sesuai dengan porsinya. Dan itulah yang diajarkan oleh Nabi kita sallallahu alaihi wasallam. Dan termasuk hal yang paling penting adalah kita hukum asal bersikap lembut kepada mereka. Itu hukum asal ya memang kadang perlu ketegasan tapi hukum asal adalah kelembutan. Utamanya bagi mereka-mereka yang masih butuh untuk dilembutkan hatinya, masih perlu pendekatan persuasif, masih butuh untuk dikuatkan imannya. Kita tahu bagaimana sikap Nabi kita sallallahu alaihi wasallam kepada Badui yang kencing di masjid. Ya, bagaimana sikap Rasulullah kepada Muawiyah bin Hakam Assulami yang bicara dan berdoa mengucapkan "yarhamukallah" pada waktu sementara salat. Ya, bagaimana bijaknya beliau meluruskan kesalahannya. Dan ada seorang anak muda datang kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan mengatakan, "Ya Rasulullah, i'zan li biz-zina." Wahai Rasulullah, izinkan saya berzina. Bisa dibayangkan kalau kita didatangi seseorang yang minta izin untuk berzina. Begitu mendengarkan orang tersebut, para sahabat marah karena semua tahu bagaimana besarnya dosa zina. Dan orang ini begitu lancang bicara di hadapan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Tapi Rasulullah bilang, "Biarkan dia mendekat." Anak muda itu mendekat. Lalu Rasulullah menyadarkan dia dengan pertanyaan, "Apakah kamu tega jika ibumu dizinahi?" Beliau bilang, "Tentu saja tidak." Maka begitulah juga orang lain tidak tega jika ibunya dizinahi. Apakah tega adikmu atau saudarimu dizinahi? Apakah tega anakmu dizinahi anak perempuanmu? Apakah tega bibikmu dizinahi? Semua jawabannya tentu saja tidak wahai Rasulullah. Maka Rasulullah berkata, "Gitulah juga orang lain." Artinya, "Kapan kamu berzina kepada seorang?" Maka pada hakikatnya dialah mungkin seorang ibu dari seseorang. Dia mungkin adik dari seseorang atau kakak dari seseorang, mungkin dia adalah bibik dari seseorang dan seterusnya. Sebagaimana kalian tidak ingin keluarga kalian diperlakukan seperti itu, maka jangan juga memperlakukan kepada orang lain. Orang ini tersadar dengan niat jahatnya, niat yang sangat tidak pantas itu. Lalu dia siap berubah. Cuma dia mengatakan, "Ya Rasulullah, doakan saya. Karena keinginan untuk itu saya sudah sadar itu sesuatu yang tidak boleh. Tapi selalu ada keinginan yang jahat tersebut. Doakan saya." Lalu Nabi kita sallallahu alaihi wasallam memegang dada dari pemuda tadi dan mengatakan "Allahumma aghfir dzanbahu wa thahhir qalbahu wa hassin farjahu." Ya Allah ampuni dosa darinya dosanya. Ya Allah bersihkanlah hatinya dan ya Allah bentengi kemaluannya dari melakukan dosa-dosa. Kata anak muda tadi begitu Nabi selesai berdoa maka pikiran-pikiran jahat untuk melakukan zina sudah tidak pernah muncul pada saya. Ini mungkin hal yang jarang kita lakukan terhadap anak-anak murid kita, terhadap anak-anak kandung kita. Bahwa kita sebagai pendidik jangan cuma mengandalkan teori-teori pendidikan yang kita pelajari, yang telah kita trainingkan, yang kita juga telah mengikuti pelatihannya. Lalu kita merupakan satu sisi yang penting doa-doa tulus para pendidik, para orang tua kepada anak-anak mereka. Mungkin itu ya beberapa hal yang kami perlu ingatkan karena masalah pendidikan masalah yang sangat besar. Keinginan kita untuk melahirkan generasi yang terbaik. Generasi emas, generasi yang cemerlang itu hanya sekedar impian belaka yang tidak akan wujud jika kita tidak memperbaiki dan kita tidak mulai mencipta atau kembali ya kembali mendidik umat sebagaimana telah dididik oleh generasi-generasi yang terbaik. Mari kita takut ya. Sebagaimana kata Allah Subhanahu wa taala, kita harus khawatir jangan lahir generasi ke depan, generasi yang lemah yang memperturutkan hawa nafsunya, menyia-nyakan salatnya dan kelak akan masuk ke dalam neraka yang nyala-nyala. Waliadubillah. Semoga penerus kita ke depan lebih baik daripada kita. Dan itu bukan suatu hal yang mustahil jika kita memperbaiki cara kita mendidik dengan mengharapkan taufik dari Allah Subhanahu wa taala. Wallahu taala alam. Ee itu sebagai ee pembukaan dari kami sallallahu ala Nabi Muhammad wa alihi wasahbi wasallam. Walhamdulillahi rabbil alamin.

Alhamdulillah. Eh, syukron ustazuna jazakumullahu khairan. Demikianlah materi pengantar kita untuk malam hari ini dengan judul Pentingnya Adab Dalam Menuntut Ilmu. Semoga Allah menjadikan kita semuanya sebagai penuntut ilmu juga orang yang menebarkan ilmu sebagai pengajar yang membersamai menuntut ilmu kita ataupun pengajaran kita dengan adab yang mulia yang telah dituntun dalam syariat kita.

Ee baik, kita masuk ke sesi berikutnya itu sesi konsultasi atau tanya jawab. Ada beberapa pertanyaan yang sudah masuk di kolom chat. Ee tapi sebelumnya kami persilakan kepada peserta yang ingin menyampaikan pertanyaan secara langsung untuk raise hand dan akan kami izinkan untuk ee membuka mikrofon dan menyampaikan pertanyaannya secara langsung. Silakan.

Cek ya. Untuk sementara ee belum ada yang res hand maka kita akan membacakan beberapa pertanyaan atau satu persatu dari beberapa pertanyaan yang masuk di kolom chat Zoom. Ee sebelum itu kami sampaikan kepada peserta untuk lebih maksimalnya pertanyaan juga bisa disampaikan di kolom Q&A di Zoom untuk memang fasilitas tanya jawab di media Zoom kita. Jadi lebih maksimal jika kita kirimkan di situ. Barakallahu fikum. Kita ee sebelum itu kita cek bisa kita lanjut ke pertanyaan pertama, Ustaz. Iya. Silakan. Silakan.

Nah, Ustaz ee pertanyaan dari Saudara Zainuddin Syam ee pertanyaannya, Ustaz, bagaimana sikap kita tentang adab yang ada di lingkungan kita terkait ee adab kepada guru berupa jabat tangan ataupun mencium tangan guru dan kadang-kadang juga dengan menunduk untuk mencium tangan guru ya. Ee ya sebenarnya termasuk bentuk ihtiram ya kepada orang tua, kepada ee baik orang tua kita maupun kepada guru kita adalah ee berterima kasih ya. Dan terima kasih kadang berupa menjabat tangannya dan kadang dengan menciumnya ya. Mencium tangan, mencium jidat. Ini menjadi tradisi yang dikenal ya sejak dahulu oleh para ulama kita. Dan para ulama dari seluruh mazhab menyebutkan hal ini secara dasar dibolehkan dibolehkan ee dengan berapa catatan ya. Catatan pertama adalah ee dia didasari sebagai penghormatan kepada orang tua kita ya, orang tua, paman ya, kakek dan seterusnya atau orang-orang yang ee punya saham dalam mengajari kita dan juga orang-orang yang memiliki keilmuan dalam persoalan keagamaan atau disebabkan ilmu dan kesalehannya. Bukan karena persoalan-persoalan duniawi. Dan ini yang sangat ditekankan oleh Imam ee banyak ulama kita. Di antaranya Imam Nawawi rahimahullahu taala menyebutkan dimakruhkannya mencium tangan kepada seseorang disebabkan karena jabatannya, kekayaannya atau persoalan-persoalan duniawi lainnya. Adapun kalau persoalan kesalehan dan keilmuan maka itu dibolehkan. Kemudian juga hal yang kedua bahwa hal itu tidak menjadi sesuatu yang harus ya dalam artian ee seorang murid ya yang kadang menghormati gurunya dengan ee jabat tangan ya lalu tidak sampai mencium maka dia juga ee tidak harus tidak dikatakan dia tidak ee beradab selama dia dengan penuh penghormatan kepadanya ee ee maka kita-kita ya atau seorang pendidik ee tidak memaksakan hal itu dan tidak menilai ya muridnya sebagai telah kurang ajar tidak beradab kepadanya jika tidak sampai ee mencium tangan umpamanya atau dia yang mengondisikan anak muridnya untuk seperti itu. Karena dikhawatirkan juga ya ee dikhawatirkan juga sikap yang seperti itu kadang menyebabkan ada kesombongan ya. Keangkuhan ya atau merasa ee dia suci, saleh ya, maka hal itu kadang perlu dihindari. Makanya sebagian salaf menganggap itu bisa dikatakan sujud kecil ya ee cium tangan seperti itu. Walaupun ee yang ee tepat adalah tidak mengapa insyaallah selama menghindari hal yang ee berlebihan. Ee ee dan juga ee hal yang ee sikap membungkuk ya membungkuk secara berlebihan seperti bagaikan rukuk, bagaikan sujud ya dalam Islam ee tidak dihancurkan seperti itu. Kalau dahulu sebelum kita mereka kadang sujud itu sebagai bentuk penghormatan ya. Sebagaimana sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam itu bukan sujud peribadatan, sujud penghormatan. dan sujudnya ee saudara Nabi Yusuf bahkan orang tua Nabi Yusuf kepada Nabi Yusuf sujud penghormatan bukan ee peribadatan. Adapun di syariat kita tidak dibolehkan ya, tidak dibolehkan ee yang seperti itu. Makanya dalam riwayat ketika Muad bin Jabal radhiallahu anhu setelah pergi ke Syam dan melihat ada yang semacam itu, beliau sempat mempraktikkan kepada Rasulullah dan mengatakan bahwa engkau lebih mulia daripada mereka-mereka yang saya lihat pembesar-pembesar mereka yang mereka pengikutnya pada sujud kepada mereka. Rasulullah mengatakan, "Lau kuntu amiran ahadan." Seandainya dalam syariat saya boleh seseorang sujud kepada orang lain, maka yang saya perintahkan sujud adalah perintahkan sujud kepada ee kepada wanita untuk sujud kepada suaminya. Seandainya boleh, tapi itu tidak dibolehkan. Ee jadi hindari ya sujud yang seperti itu yang atau rukuk yang ee hanya kepada Allah Subhanahu wa taala. Ee kalau kadang seperti membungkuk yang membungkuk mungkin hanya karena ee mengondisikan ya mungkin ee seorang yang kita mau cium jidatnya atau yang mungkin agak lebih pendek daripada kita yang seperti itu insyaallah juga ee tidak ee mengapa. Namun kalau dia ee lebih mirip kepada ruku dan yang semacamnya, maka sebaiknya hal itu dihindari. Dan Rasulullah pernah ditanya ketika seseorang ketemu dengan saudaranya, apa sikap yang paling cocok? Apakah dia menciumnya? Apakah dia ee tunduk kepadanya? Apakah dia memeluknya? Maka Rasulullah mengajarkan bahwa sunahnya setiap kita ketemu adalah mengucapkan salam, berjabat tangan. Itu yang paling sunah. Adapun memeluknya jika kita tidak ketemu dalam waktu yang lama. Dan adapun menciumnya ee tidak disyariatkan kecuali mungkin anak dengan orang tuanya. Dan adapun sampai tunduk maka itu ee tidak dianjurkan. Jadi ini yang di antara hal yang perlu untuk kita sikapi secara pertengahan ya. Wallahuam.

Cik. Barakallahu fikum, Ustaz. Kita beralih ke pertanyaan berikutnya. Ee kontemporer, Ustaz, terkait bagaimana dengan perkembangan zaman sekarang yang kita ada teknologi AI. Ee bagaimana ee sikap atau pandangan terhadap murid yang lebih senang bertanya kepada AI? Karena AI itu dia bentuknya responsif atau cepat memberikan respon, Ustaz. Dan sedangkan guru katanya membutuhkan waktu atau kadang butuh beberapa waktu untuk kita mengetahui jawabannya. Bagaimana pandangan terhadap murid yang seperti ini, Ustaz?

Iya. Ee secara umum kita tentu saja tidak ee menentang kemajuan teknologi ya. Dan Allah Subhanahu wa taala senantiasa memang memberikan kepada hambanya sesuatu yang cocok dengan zamannya. Ya, ketika zaman kita di mana orang sudah memiliki semangat menuntut ilmu ee untuk langsung ketemu guru untuk mendengarkan riwayat seterusnya atau baca buku berjilit-jilit itu sudah lemah, maka Allah hadirkan teknologi yang semacam ini. Namun itu semuanya tidak menggantikan ee selama-lamanya mulazamah kita kepada guru-guru yang terpercaya ya keilmuannya. Karena ee kalau kita paham sebenarnya AI masih banyak hal yang perlu diverifikasi ya maklumat yang disampaikannya. Bahkan kadang seakan-akan menyebutkan perkataan ulama dan menyebutkan referensi lalu setelah dicek tidak sebagaimana yang dia sebutkan ya. Ee maka ya keliru ya ketika seseorang hanya melakukan seperti itu dan banyak keberkahan yang hilang ya termasuk ketika orang hanya mengandalkan ee taklim-taklim yang sifatnya online dan tidak menghadiri lagi majelis yang langsung yang ada di masjid atau tarbiyah dan semacamnya. Banyak hilang keberkahan ya dari ee ilmu yang pernah didapatkan oleh salaf keberadaan masjid, pertemuan langsung dengan ee guru, dengan teman-teman ee dan melaksanakan adab-adab dan hak-hak ukhuwah ya dan kehadiran para malaikat dan seterusnya ya yang tidak tergantikan dengan majelis-majelis online. Nah, maka ya kita tidak menolak itu. Tapi jangan sampai ee ilmu kita hanya diambil dari seperti itu. Nah, itu yang namanya ee al-mushafi ya. Ee makanya dulu salaf mengatakan ya dan ini disebutkan oleh Syekh Bakar bin Abdullah Abu Zaid dalam Hilyatut Thalibil Ilm. Jangan mengambil ilmu dari al-mushafi. Ya, seorang yang mushafi artinya seorang yang hanya sekedar dari mushafnya atau seorang yang dari ee bukunya saja ya dan tidak belajar dari gurunya. Maka sampai ada keluar perkataan "Man syakhuhu kitabuhu aksar min khata'ihi." Siapa yang gurunya cuma bukunya saja tidak ada Syekh langsungnya, maka salahnya lebih banyak daripada benarnya. Ya. Ee seharusnya dipadukan ya, dipadukan ya. Ee orang yang cuma baca buku sendiri ee banyak kekeliruannya kadang ya. Walaupun ee buku sangat penting untuk kita baca tapi harus kita punya perangkat ilmu yang sudah memadai. Termasuk AI ini ya, orang yang tidak punya ilmu-ilmu alat, tidak punya kaidah yang jelas. Terap dalam masalah ilmu lalu hanya mengandalkan seperti itu dikhawatirkan lebih banyak salahnya daripada benarnya. Tapi kalau sudah kita punya perangkat dan kadang kita dalam keadaan di mana memang tidak bisa kita temui guru, maka itu sangat membantu insyaallah. Wallahuam.

Baik, kita beralih ke pertanyaan berikutnya, Ustaz Tuna. Ee pertanyaan ee yang keempat tadi kami lihat sudah terjawab tentang bagaimana cara yang baik atau yang pertengahan untuk ee mencium atau berjabat tangan kepada guru. Ee kita beralih ke pertanyaan yang kelima. Apakah kurang beradab, Ustaz? Tadi dikatakan bahwa adab itu bukan hanya dari murid kepada guru, tetapi guru juga memperhatikan adab kepada muridnya. Apakah termasuk ee kurang beradab ketika guru mengajarkan muridnya harus jongkok ketika berjalan di depannya, Ustaz? Ee jika ini terkesan berlebihan. Lalu, bagaimana sikap seorang murid jika dikondisikan dalam keadaan tersebut?

Iya. Ee sebaiknya hal ini ee dihindari ya. Wallahuam. Sikap yang semacam ini dihindari karena kita tidak ya wallahuam ya kita tidak mendapatkan asar-asar yang jelas dari ee para sahabat ya dan generasi yang terbaik ee tentang cara yang semacam itu. Ee dan sebaiknya kalau ada murid yang mendapatkan ee perlakuan semacam itu, sebaiknya dia komunikasikan dengan cara yang terbaik kepada gurunya dan ee sebaiknya ee ditanyakan kepada pihak yang berwenang ee dan dimusyawarahkan dengan baik ya. Ee tidak langsung juga memperlihatkan perlawanan ya ee karena boleh jadi ada alasannya ya. Perlu didiskusikan. Tapi yang kami tahu, wallahuam, hal itu tidak ee dicontohkan oleh generasi salaf dan nabi kita manusia yang terbaik, manusia yang paling patut dihormati. Bahkan bahkan ya sebagaimana kata Anas bin Malik dan yang lainnya bahwa tidak ada seseorang yang paling kami cintai dan paling kami hormati melebihi Nabi sallallahu alaihi wasallam. Namun jika beliau datang, kami tidak e berdiri untuk menghormati beliau karena kami tahu beliau tidak suka disikapi secara berlebihan. Bahkan beliau selalu memesankan kepada sahabatnya, "La tutruni kama atratan-Nasara Isa bin Maryam." Jangan kalian memuji saya secara berlebihan sebagaimana pujian orang Nasrani kepada Isa bin Maryam. Pujian-pujian sikap berlebihan itu kalau dibiarkan akan menjurus kepada peribadatan ya sebagaimana yang terjadi pada kaum Nasrani ya. Maka perlu ada langkah preventif ya saddudz-dzara'i' menghindari hal yang semacam itu. Wallahuam.

Sallallahualikum ustaz. Kita beralih ke pertanyaan berikutnya. Eh, bagaimana sikap kita jika ditakdir ee ditakdirkan bertetangga dengan guru kita yang kita tahu ee seluk-beluk kehidupannya yang kadang aibnya tersingkap, Ustaz. Perbuatannya misalnya tidak sesuai dengan apa yang ia sampaikan di majelis. Bagaimana sikap kita terhadap guru yang seperti ini?

Iya. Ee tentu saja ee semua butuh nasihat ya. Dalam hadis ee Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Dari radhiallahu anhu yang diriwayatkan Imam Muslim. Ee nabi kita sallallahu alaihi wasallam mengatakan "Ad-dinu an-nasihah." Agama itu nasihat. Ee ketika beliau ditanya "Liman?" Beliau mengatakan "Lillahi wa li kitabihi wa li rasulihi wa li aimmatil muslimina wa 'aammatithim." Semua berhak dinasihati. Semua berhak mendapatkan perhatian dan ee termasuk para pemimpin, termasuk guru dan murid. Walaupun tentu saja beda cara mengiatkannya. Ee kadang kita dapati guru yang memang ee memiliki manfaat dari keilmuannya, tapi mungkin dari segi pengamalannya tidak persis dengan apa yang dia katakan. Ya, maka kita sebagai murid ee pertama diusahakan ya usahakan tidak menghalangi kita untuk mengambil ilmunya. Ambil yang benarnya ya. Ambil yang benar dari ilmu penyampaiannya. Diajari kita salat jemaah lalu dia tidak salat jemaah. Diajari kita untuk begini lalu dia sendiri. Nah, itu tentu saja kita ambil kata-kata yang benarnya ya. Adapun kekeliruannya kita tidak mau mengikuti. Cuma tentu saja kita sayang ya, kita mudian prihatin juga kalau melihat hal yang seperti itu. Maka perlu kita ee nasihati dengan cara yang tidak langsung ya. Cara yang tidak langsung mungkin lewat orang yang lebih tua atau mungkin ee rekan gurunya yang sesama gurunya. Atau mungkin kita kadang dengan cara bertanya yang bijak yang mungkin menyadarkan sang guru kita ya bahwasanya dia selama ini lalai ya tapi hindari hal-hal yang kesan yang tidak baiknya cara kita untuk bertanya. Jadi ee kalau ada yang seperti itu maka ee jangan menjadi penghalang bagi kita tetap mengambil ilmunya, manfaatkan ilmunya. Kalau memang dia seorang yang menjadi guru kita yang sudah ditakdirkan menjadi guru kita, apa maksudnya ditakdirkan menjadi guru kita? Ditakdirkan menjadi guru kita artinya memang dia sudah menjadi guru kita di sekolah kita sehingga gak mungkin kita hindari ya. Tapi kalau ee pelajaran-pelajaran yang sifatnya ee bebas ya kita mengambil ilmu lewat majelis-majelis ilmu yang lainnya, pengajian-pengajian, maka dulu salaf, dulu salaf itu memang pelajaran-pelajaran yang ee talaqi-talaqi istilahnya ilmu-ilmu yang ee didapatkan dari guru di luar ee pendidikan yang formal. Mereka memang ee kadang menyeleksi ya kepada siapa mereka belajar ee karena ilmu ini adalah bagian daripada agama ya. Muhammad bin Sirin mengatakan "Inna hadal ilma dinun, fanzuru 'amman ta'khudzu dinakum." Ilmu ini adalah bagian daripada agama. Maka ee perhatikan kepada siapa kamu ber mengambil ilmu. Mengambil ilmu datang dari orang yang berilmu. Mengambil ilmu datang ee harus diambil dari orang yang memang akidahnya bagus dan mengambil ilmu juga dari orang-orang yang kalau bisa idealnya yang bisa kita teladani dari perbuatannya sebelum perkataannya. Wallahuam.

Jazakallah khairan. Ustaz. Kita beralih ke pertanyaan ke delapan. Bagaimana sikap seorang guru untuk menyikapi muridnya yang nampaknya bosan, Ustaz? Ee dari bosannya dalam belajar itu sepertinya kurang memperhatikan gurunya. Jadi nampaknya kurang beradab karena sudah bosan misalnya dalam belajar. Bagaimana sikap seorang guru?

Iya. Ee jadi memang di sinilah kadang ee pentingnya apa yang dinamakan turuqut tadris ya, metode pengajaran ya. Tidak bisa disangkal ya bahwasanya memang ilmu ini kadang kita tahu tentang keutamaannya. Cuma kadang memang ee lebih mudah ya memahami ilmu itu dari orang yang memang ee komunikatif dalam penyampaiannya atau mungkin yang kita memang sangat ee akui keilmuannya, orang yang kita percayai ya, dibandingkan orang yang mungkin kadang ee kita kurang simpati dengannya atau mungkin yang tadi disebutkan membosankan ee maka ya kita sebaiknya ya. Ah, ini perlu dilihat juga ya. Kalau kita guru yang memang dominan mereka seperti itu, maka mungkin kesalahan besar pada kita. Tapi kalau mungkin cuma satu dua saja, satu dua saja yang seperti itu, maka mungkin ini ee satu dua anak didik kita yang seperti itu yang mungkin terkesan kurang perhatian, tidak disiplin, dan ee terkesan sudah bosan dengan pelajaran. Maka ini yang perlu kita istilahnya dikhususi ya. Kita memberikan perhatian yang lebih khusus ya. Kalau tadi secara umum maka solusinya adalah kita meningkatkan kapasitas ee pengajaran kita, kapasitas keilmuan kita, dan juga metode pengajaran kita. Dan sebenarnya teori-teori metode pengajaran yang diajarkan orang hari ini ee sudah ada semua ya atau kebanyakannya pada Nabi kita sallallahu alaihi wasallam. Kalau kita melihat bagaimana metodenya Rasulullah membuat orang tidak bosan, beliau bagaimana bertanya kepada ya mengajak para muridnya juga para sahabatnya untuk ikut aktif ya dalam pembelajaran ya. Dan begitu banyak kalau kita mau ambil metode pelajaran dari hadis-hadis ya kita akan ee pahami bahwa memang beliau adalah guru yang terbaik ya sepanjang sejarah. Jadi memang kita perlu lebih memvariasikan ya sebagaimana Nabi kita juga sallallahu alaihi wasallam mengajarkan yang seperti itu. Tapi sekali lagi kalau memang itu hanya ada satu dua dari sebagian siswa maka mungkin kesalahan bukan pada kita, tapi memang ee satu dua siswa ini yang perlu perhatian yang lebih. Maka sebaiknya kita ee mengadakan pendekatan ya kepada anak tersebut. Kita doakan dan kita berikan mungkin ee perhatian yang lebih banyak bahkan porsi waktu yang lebih banyak atau mungkin atau mungkin orang itu sedang punya masalah ya. Apatah lagi kalau mungkin sebagian mereka yang dahulu semangat lalu tiba-tiba kelihatannya futur. Nah, ini ee mungkin ada masalah kendala yang dihadapinya ya. Sebaiknya kita adakan pendekatan persuasif dan kita mau mendengar apa masalahnya ee dan sebagai cerminan juga bagi kita kalau ada hal yang perlu diperbaiki dari kita. Wallahuam.

Baik, Ustaz. Masih ada beberapa menit kita mengambil pertanyaan berikutnya. Ee apakah ada doa khusus yang disebutkan dalam Al-Qur'an ataupun sunah agar seorang anak bisa didoakan oleh orang tuanya agar bisa memiliki adab dan akhlak sejak kecil. Dan mohon arahan arahannya, Ustaz, bagaimana tips mendidik anak supaya anaknya beradab dan berakhlak kepada guru sejak kecil?

Iya. Ee adapun masalah doa itu bisa dengan bahasa apa saja? Ya, sesuai dengan kebutuhan kita. Tapi untuk doa akhlak minimal ee banyak sebenarnya tapi secara umum minimal dua yang kita kenal ya. Doa yang terkenal "Allahumma anta hassanta khalqi fahassin khuluqi." Ya Allah engkau telah memperbaiki bentuk rupaku maka perbaikilah juga akhlakku. Hadis ini insyaallah hasan ya. Cuma ee sebenarnya hadis ini ee bukan secara khusus kita baca pada saat bercermin. Ya, sebagian orang menyangka hadis ini khusus dibaca pada saat bercermin. Sebenarnya hadis ini adalah doa untuk memperbaiki akhlak ya, tidak dibaca secara khusus pada saat bercermin. Ya Allah, Engkau telah memperbaiki bentuk jasad rupaku, maka perbaikilah juga akhlakku. Dan dalam hadis Muslim ee Rasulullah mengatakan sallallahu alaihi wasallam, "Allahumma ihdini li ahsanil akhlaqi la yahdi li ahsaniha illa anta." Ya Allah, Engkau ee yang memberikan petunjuk kepada akhlak yang baik. Tidak ada yang bisa memberikan petunjuk kepada akhlak yang baik melainkan engkau. Maka berikanlah petunjuk kepadaku untuk bisa berakhlak yang baik. Jadi berdoa yang semacam ini dan doakan juga ya saudara-saudara kita. Atau anak didik kita ya. Ee dan jika ee apa jika kita mungkin ada yang lebih dari itu lebih rinci kita inginkan ee akhlak-akhlak khusus maka sampaikan saja dengan bahasa kita ya. Allah Subhanahu wa taala maha mengetahui ikhtilaf alsinatinah ya perbedaan lisan-lisan kita. Wallahuam.

Ee baik Ustaz kita sudah hampir sejam. Izin, Ustaz, kita ambil pertanyaan satu pertanyaan terakhir. Iya. Ee pertanyaannya masih sesuai dengan tema. Ee mohon arahannya, Ustaz. Buku terjemah yang relevan sesuai dengan judul yang kita bahas malam hari ini. Dan kemudian arahannya juga untuk bacaan terkait dasar-dasar ilmu Islam seperti akidah, ibadah, dan akhlak. Pertanyaan pertanyaan pertama tentang buku yang khusus yang relevan sesuai tema. Dan yang kedua buku-buku yang direkomendasikan untuk bacaan dasar untuk akidah, ibadah, dan akhlak.

Ee iya, afwan. Ana kurang ee mengetahui ee referensi tentang buku-buku yang sudah diterjemahkan ya. Ee kalau buku-buku asli ee cukup banyak ya, cukup banyak tentang masalah itu ya. Ee baik dari ulama-ulama terdahulu maupun ulama-ulama ee sekarang ya. Kalau ulama yang biasanya yang mudah dan lebih relevan rasanya kalau ulama-ulama sekarang ya seperti Syekh Utsaimin yang punya kitab tentang Al-Ilm ee juga ee Syekh ee ee Nasir Umar, Syekh Muhammad Amin ee dan termasuk yang paling baik adalah Syekh Bakar bin Abdullah Abu Zaid dengan Hilyatut Thalibil Ilmiah. Ee tapi ee kalau di antara buku yang sudah diterjemahkan juga mungkin ee Mukhtasar Minhajul Qasidin bagian pertama itu tentang ilmu. Nah, itu juga bagus ya, bagus dipelajari tentang ee ilmu ee bagian-bagian awal dari ee karena Mukhtasar Minhajul Qasidin mengacu kepada buku aslinya ee yang asalnya adalah Ihya Ulumuddin. Ee di bagian seperempat awalnya itu adalah tentang ibadah dan pembahasan paling awalnya adalah tentang ilmu. Di situ disebutkan tentang adab-adab penuntut ilmu dan juga adab-adab guru terhadap muridnya ya. Ee itu ya ee dan ee bagi penanya kalau umpama ada buku yang dia dapatkan, buku bahasa Indonesia yang dia dapatkan dianggap baik ee bisa ditanyakan ya secara langsung ya nanti bisa kita berikan masukan ee karena kami gak tahu kalau sudah diterjemahkan. Nah, ini ada info ee bahwa buku Hilyatut Thalib dan buku Kitabul Ilmnya Syekh Utsaimin sudah diterjemahkan. Nah, ini termasuk yang bagus ya. Ee kita rekomendasikan untuk itu. Wallahuam.

N Ustaz ee jazakumullah khairan. Ee kepada seluruh pemirsa dan peserta konsultasi syariah, ada beberapa pertanyaan yang belum sempat kita bacakan pada malam hari ini. Insyaallah panitia akan tampung dan bacakan. Insyaallah diberikan jawabannya di sesi konsultasi syariah di malam-malam berikutnya. Ee untuk peserta yang terluput mengirimkan pertanyaan dan tidak sempat lagi dikirimkan di kolom chat atau kolom Q&A di media Zoom kita malam hari ini, silakan mengirimkan pertanyaan Anda di kontak WhatsApp untuk admin konsultasi syariah di nomor nomor WhatsApp 08135440897. Sekali lagi kontak WhatsApp untuk pertanyaan yang ingin disampaikan bisa ke 0813 54408 97. Ee maka dengan berakhirnya jawaban dari Ustazna untuk pertanyaan terakhir kita di malam hari ini berakhir pula sesi kedua dari konsultasi syariah kita pada malam hari ini. Kita ucapkan syukron wajakumullah khairan kepada jazakumullah kiran syukran jazak khairan materi dan jawaban yang disampaikan. Alhamdulillah. Semoga Allah menjadikan ee materi yang disampaikan juga jawabannya sebagai pemberat amal kebaikan beliau di akhirat kelak. Dan juga wajakumullah khairan kepada seluruh peserta yang setia membersamai kita sampai di akhir sesi pada konsultasi syariah malam hari ini pembahasan umum dan kontemporer. Insyaallah kita bertemu pada sesi konsultasi syariah di malam-malam berikutnya dengan pembahasan lain yang juga tidak kalah menarik dan penting untuk kita semua. Semoga Allah merahmati kita, memberikan akhlak dan adab yang mulia kepada kita semua dan memberikan ilmu yang bermanfaat. Dan mari kita tutup majelis ini dengan doa kafaratul majelis. Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik. Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Maha barak fikum.