📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Permainan Tradisional Yang Terkenal Di Indonesia | Permainan Jadul

Bunda Zoya7:43

Transcription

[Musik] Halo, teman-teman! Di video Bunda kali ini, kita akan belajar tentang macam-macam permainan tradisional. Nah, sebelum bermain, biasanya adik-adik melakukan Home pimpa atau gambreng terlebih dahulu. Home pimpa dilakukan untuk mengawali permainan dan sambil bernyanyi: “Pimpa alayum gambreng maipah, pakai baju rombeng.”

Egrang. Egrang adalah sebuah permainan tradisional yang menggunakan sepasang bambu untuk berjalan. Bambu dibentuk seperti tongkat yang memiliki tumpuan kaki. Biasanya, egrang kerap dilombakan pada acara kemerdekaan Republik Indonesia pada bulan Agustus. Permainan egrang berguna dalam pelatihan pengendalian diri, dengan menjaga keseimbangan, kefokusan, dan meningkatkan rasa percaya diri, sekaligus sebagai hiburan.

Engklek. Engklek, atau permainan jingkat-jingkat, adalah permainan tradisional yang dimainkan di atas bidang. Permainan ini menggunakan alat bernama gacho, yaitu berupa potongan genteng atau batu yang pipih. Gacho dilempar pada kotak pertama. Setelahnya, pemain mulai melompat-lompat dengan satu kaki dari satu kotak ke kotak lain secara berurutan, kecuali kotak tempat gacho.

Lompat Karet. Permainan dari karet gelang sangat digemari oleh anak-anak. Sebelum bermain, anak-anak harus mampu mengepang terlebih dahulu karetnya sehingga menjadi sebuah tali yang panjang. Permainan ini bisa dimainkan satu orang atau lebih. Jika bermain sendiri, kedua ujung karet bisa dipegang sendiri menggunakan kedua tangan dan memutar talinya ke bawah dan ke atas. Jika bermain beramai-ramai, dua orang harus memegang karet dari masing-masing ujung.

Gundu. Bermain kelereng sering juga disebut dengan permainan gundu atau guli. Di daerah Jawa, permainan ini disebut bermain nekeran; di Palembang, disebut ekar; dan di Banjar, disebut kleker. Permainan ini banyak diminati oleh anak laki-laki. Caranya yaitu membuat sebuah lingkaran dan meletakkan semua kelereng dalam lingkaran. Pemain harus membidik kelereng dari luar lingkaran. Kelereng hasil bidikan yang keluar dari lingkaran akan menjadi milik pemain.

Congklak. Orang Jawa menyebutnya dengan bermain dakon, sedangkan warga Sumatera menamainya congklak. Permainan ini disebut dentoman di Lampung dan mokaotan di Sulawesi. Biji congklak bisa berupa biji-bijian atau kerikil kecil.

Ular Naga. Dua orang yang terakhir kalah menjadi pagar atau gerbang. Pemain yang pertama menang Home pimpa akan menjadi induk Naga. Dia berada paling depan, diikuti pemain lain di belakangnya. Ular naga berjalan mengelilingi pagar sambil semua bernyanyi. Ketika lagu selesai, gerbang akan menurunkan tangan dan menangkap salah satu pemain dengan cepat. Anak yang ditangkap akan diminta memilih pagar mana yang ingin diikutinya sampai ular naga habis. Setelah itu, pagar yang memperoleh anak paling sedikit harus kejar-kejaran merebut anak paling belakang pagar lainnya.

Kereta Api. Permainan ini hampir sama seperti bermain ular naga, namun ada yang berbeda pada lagunya.

Tebak Wajah. Permainan ini melatih kejujuran dan sportivitas. Pemain yang menutup mata akan meraba satu persatu wajah yang menjadi patung. Jika sudah yakin dengan jawabannya, ia akan menebak dengan lantang siapa yang dirabanya.

Gasing. Permainan gasing sangat digemari anak laki-laki. Gasing zaman dahulu dibuat dari kayu. Permainan ini membutuhkan seutas tali untuk dililitkan pada bagian pucuk atas gasing, lalu ditarik sekuat mungkin agar gasing yang jatuh ke tanah mampu berputar kencang.

Petak Umpet. Orang yang berjaga harus menutup mata dan menghitung dari 1 sampai 10. Kemudian, yang lain bersembunyi. Setelah selesai menghitung, barulah mencari keberadaan teman yang lain.

Gobak Sodor. Permainan ini selain membutuhkan kerja sama, juga harus gesit melewati sang penjaga garis agar tidak tertangkap. Biasanya, gobak sodor dimainkan 8 sampai 10 anak yang terbagi menjadi dua kelompok.

Bola Bekel. Cara memainkan bola bekel yaitu melempar bola bekel ke atas, kemudian pemain harus mengambil beberapa kerikil atau benda kecil yang telah disepakati.

Cublak-Cublak Sueng. Cublak-cublak sueng merupakan salah satu macam permainan tradisional yang berasal dari Jawa Tengah. Permainan ini membutuhkan jumlah peserta lebih dari dua orang, di mana salah satu pemain membungkuk dan menghadap ke bawah dengan mata terpejam. Kemudian, pemain lain meletakkan tangan di atas punggung pemain yang membungkuk, lalu memindahkan kerikil yang digenggamnya dan menyanyikan lagu cublek-cublek sueng.

Boi-Boian. Permainan ini merupakan salah satu macam permainan tradisional yang dimainkan dengan cara melemparkan bola kecil pada tumpukan pecahan genteng atau batu yang pipih, dinamakan boi-boian. Karena pada zaman dahulu, pemain yang memainkan permainan ini lebih banyak anak cowok, yang dalam bahasa Inggrisnya adalah Boy.

Rangku Alo. Permainan rangku alo merupakan salah satu macam permainan tradisional dan juga tarian dari Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur. Rangku alo biasanya dimainkan sebagai syukuran dan ekspresi rasa bahagia untuk merayakan hasil panen pertanian dan perkebunan.

Ketapel. Permainan ketapel merupakan permainan tradisional yang multifungsi. Selain untuk bermain lempar-lemparan, ketapel juga bisa digunakan untuk berburu mangga, rambutan, dan lainnya. Setelah ketapel dibuat, letakkan batu atau kerikil pada kulit yang sudah dibuat tadi, lalu tarik ketapel dengan kuat dan arahkan pada sasaran, lalu dilepaskan.

Benteng. Permainan benteng merupakan salah satu permainan tradisional yang dimainkan dua kelompok. Masing-masing kelompok memiliki suatu tempat sebagai markas. Biasanya berupa tiang, batu, atau pilar yang digunakan sebagai markas.

Kucing-Kucingan. Permainan kucing-kucingan merupakan salah satu macam permainan tradisional masyarakat Jawa yang sudah dikenal sejak lama. Permainan kucing-kucingan menceritakan kehidupan seekor kucing yang selalu kejar-kejaran dengan musuhnya, seekor tikus.

Bagia. Permainan bagia merupakan salah satu macam permainan tradisional yang berasal dari Sumatera Barat. Permainan ini menggunakan sejenis sandal yang terbuat dari kayu dan slop kaki yang digunakan untuk 3 sampai 1 orang. Cara bermainnya, pemain harus mengisi slop sandal yang kosong, kemudian mereka melangkah secara bersamaan.

[Musik]