📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Bacaan Mandi Taubat Zahir Dan Batin. Dan Sholawat Daimun Yang Berkekalan | Ustad Iswardi S.Ag

DAKWAH MAKRIFAT40:20

Transcription

Ya, tolong dilanjutkan dengan selawat ya, Ustaz. Kitab bagaimana menisbatkan selawat.

Ee baik Bapak Ibu, selawat kita itu ya itu kepada selawat yang daimun, yang hakikat. Nah, apa maksudnya selawat daimun yang hakikat itu? itu adalah berselawat kepada Nur Muhammad. Nah, sekarang yang Nur Muhammad itu kita sudah tahu sudah nyata pada sekalian langit dan bumi, pada api, pada angin, pada air, pada tanah. Api angin, air dan tanah yang ada pada alam itu sempurna pada diri kita. Oleh karena itu ketika Bapak Ibu berselawat sudah hadir Muhammad itu mana yang dikatakan ketika kita berselawat adir Muhammad dan Muhammad yang mana kan begitu adalah Muhammad yang hakiki. Kalaupun hadir Muhammad yang majazi yang bertubuh dan berjasad yang rohani beliau junjang kita Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam hadir itu juga bagus dan luar biasa. Oleh karena itu ketika kita berselawat, selawat itu kepada Nur Muhammad. Bagaimana cara berselawat kepada Nur Muhammad yang sudah nyata pada alam ini dan sebenar pada diri kita? Assalamualaika ya Rasulullah sallallahu ala Muhammad. Allahumma sholli ala Muhammad wa ala ali Muhammad. Nurun alan nur wahua arsyilim. Jadi ketika Bapak Ibu mandi pun bacakanlah selawat terhadap air, terhadap gayung, terhadap ember, terhadap diri kepada sekeliling rumah dan seluruhnya itu seru semuanya. Assalamualaika ya Rasulullah shallallahu ala Muhammad. Allahumma sholli ala Muhammad wa ala ali Muhammad. Nurun ala nur wahua rbul arsil azim. Baru siram. Jadi yang masuk ini nur. Yang menampung yang menerima sebagai wadah juga nur. Inilah dikatakan nurun alan nur. Cahaya di atas cahaya yang makan nur, yang dimasukkan juga nur. Maka makhluk sesama makhluk itu maksudnya tuh nur dengan nur tidak akan memberikan mudarat dia. Jadi kalau Bapak Ibu mandi selama ini cukup bismillah. Sekarang dengan ilmu ini hendaklah kita selawati air, selawati diri kita, selawati semua yang ada pada depan kita itu secara umum alam ni dia supaya apa? Mati kita nanti tidak berbau, tidak hancur, tidak dimakan belatung. Makanya dikatakan oleh Nabi sebagai kesempurnaan nur Muhammad itu zahid dan batin pada dirinya sebagai rahasia nyatanya wujud diri Allah. Apa kata Rasulullah? Innallaha harroma alal ardhi ayyakula ajasadal anbiya. Sesungguhnya Allah mengharamkan atas bumi untuk memakan, untuk menghancurkan, untuk membusukkan jasadnya anbiya. Mana yang anbiya? Yang anbiya itu adalah Nur Muhammad. Sekarang Nur Muhammad itu kita sudah mengenalnya. Api Nur Muhammad, angin Nur Muhammad, air Nur Muhammad, tanah Nur Muhammad, kesempurnaan Nur Muhammad, api, angin, air, dan tanah itu sempurna pada diri kita. Inilah yang akan menjadi khalifah. Ketika itu yang namanya tanah, yang namanya cacing tidak akan memakannya. Inilah jaminan Allah melalui lisan Nabi. Man khofa minallahi khofahu kulai. Siapa yang sudah benar-benar dia takut kepada Allah, dia sudah mengenal Allah khofahu kulai, maka seluruh alam juga takut kepadanya. Artinya apa? Seluruh alam itu menjadi rahmat kepada dirinya. Kenapa seluruh alam ini rahmat kepada dirinya? Karena dirinya itulah menjadi khalifah mewakili alam yang ada pada semesta ini. Walaupun alam ini Nur Muhammad, kita Nur Muhammad, tapi kalifatnya pada insan yang mengenal Allah.

Nah, jadi itu ee selawat. Yang kedua, ketika Bapak Ibu sudah berselawat kepada Nur Muhammad itu hakikatnya dalam pemahamannya sudah sempurna pula sekaligus selawat kita kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Kenapa sudah sempurna pula selawat kita kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam? Karena beliau itulah sebagai uswatun hasanah. Beliau itulah contoh dan sur teladan yang terbaik. Apa kata Allah? Laqod kana lakum fi rasulillahi uswatun hasanah liman kana yarjullaha. Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu terdapat contoh teladan yang terbaik bagi dirimu. Limang kana yarjullah. Bagi orang yang ingin berjumpa Allah. Mana yang Rasulullah sebagai suri teladan bagi kita untuk berjumpa Allah? Maka pandanglah Rasulullah itu zahir batin. Yang zahir itu berjasad itulah Nabiuna Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Yang batin itulah Nur Muhammad. Sekarang Nur Muhammad itu sudah nyata pada alam dan sempurna pada diri beliau. Maka di situlah rahasianya ketika kita berselawat kepada Nur Muhammad, berselawat kepada diri sendiri dan berselawat juga kepada diri baginda Rasul Nabiuna Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Sudah sempurna tuh. Tapi kalau kita hanya memahami berselawat itu kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam saja, tidak kepada Nur Muhammad yang sudah nyata pada diri, maka beliau mendapatkan rahmat dan anugerah. Kita gak pernah mendapatkan rahmat dan anugerah tadi. Karena kita tak mau menselawati akan diri sendiri. Makanya di dalam kita salat, asalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Salamnya kiri kanan rahmat dan berkatnya kembali ke sini. Nah, kan gitu. Kalau pendeknya asalamualaikum warahmatullah, salam untuk semuanya. Rahmat kembali ke sini. Jadi selawat itu kepada diri sendiri. Jadi ketika kita membaca selawat apalah namanya, maka kata guru-guru kita, Rasulullah hadir. Rasulullah hadir itu secara makna hakikat. Inilah yang hadir tuh yang Muhammad tuh. Sekiranya ruhnya Nabiuna Muhammad sallallahu alaihi wasallam junjungan kita itu hadir, sempurnalah majelis kita itu zahir dan batin. Itu rahasianya Bapak Ibu. Jadi di mana ada Allah, di situ ada Muhammad. Di mana ada Muhammad di situ nyatanya Allah. Karena Allah dan Muhammad gak pernah berpisa cerai. Tuh, itu memahaminya.

Kemudian yang ketiga di dalam kita berselawat untuk mandi. Ketika kita mandi, Bapak, Ibu, setelah kita selawatkan hendaknya mandi kita itu sekaligus kita memulangkan akan diri kita ini sebelum diri kita ini dimandikan oleh jemaah. Pulangkan kembali secara utuh. Bagaimana cara memulangkannya? Ketika kita sudah baca selawat tadi ya, lalu kita siram. Pada saat kita menyiram yang pertama pulangkan tubuh insani ini ke alam baitul makmur. Siram yang kedua, pulangkan hati rohani ini ke alam rafrab. Siram yang ketiga, pulangkan roh nurani kita tuh ke alam almalail a'la. Kenapa dipulangkan? Ada apa dengan diri dan alam itu? Tubuh kita yang kasar ini asalnya dari alam baitul makmur. Hati rohani itu asalnya dari alam rab-raab. Ruh kita itu asalnya daripada alam alalail a'la. Lalu pertanyaannya alam baitil makmur rab almaail ala itu alam apa? Alam Baitul Makmur Rabb-rab dan almalail Allah. ini yang dimaksud dan yang dikatakan alam lahud, alam Tuhan, alam rabbani. Inilah makna inna lillahi. Sesungguhnya tubuhmu asalnya dari Baitul Makmur. Hatimu asalnya dari rab-rab, ruhmu dari almalil ala. Itu alam diriku. Siapa sudah tahu asal-usul tubuh, hati dan rohnya adalah dari alam diriku? Wa inna ilaihi rojiun. Kembalikanlah kembali semuanya itu kepada aku. Inilah pesan Nabi. Kullu saiin yarjiu ila asolihi. Tiap-tiap segala sesuatu, tubuh, hati, dan roh yang disebut sesuatu kembalikan kepada asalnya. Asalnya adalah Allah. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Datang dari Allah, kembalinya kepada Allah. Ketika itu, Bapak, Ibu, kita sudah memandikan dan memulangkan diri kepada Allah sebelum kita ini meninggal dunia. Dan itulah yang disebut namanya dengan mandi taubat. Jadi, setiap mandi itu adalah mandi tobat. Ya, mandi tobat itu mandi setelah kita berlaku dosa. Karena orang yang berdosa itu dirinya akan menjadi namanya junub batin. Orang yang berdosa itu dirinya menjadi junub batin. Kapan dirinya itu berdosa dan menjadi junub batin? ketika dia tidak mengenal akan Allah. Ah, dalam penguraiannya diri kita tuh tubuh, hati, dan ruh. Kapan tubuh ini berdosa? Tubuh ini berdosa pada saat memandang kepada yang tak baik, mendengar kepada yang tidak baik, berkata kepada yang tidak baik, berpikir kepada yang tidak baik, itu dosa. Yang kedua, kalaulah tubuh ini tidak berdosa hari ini, hati kita juga rentan dengan dosa. Kapan hati kita berdosa? Pada saat hati kita tidak hadir kepada Allah itu dosa. Ketika hati ini hadir kepada dunia, adunia itu yang jadi Tuhan tuh dosa itu. Ketika hati ini hadir kepada sesuatu itu dosa tuh. Maka ketika itu wajib kita ini mandinya mandi tobat. Yang ketiga, tubuh tidak berdosa, hati tidak berdosa. Tubuh ini patuh saja, hati ini hadir kepada Allah. Ingat Allah. Subhanallah. Subhanallah. Kapan roh itu berdosa? Roh itu berdosa ketika dia masih memandang ada diri yang lain selain Allah. Ketika masih ada diri yang lain selain Allah yang terpandang pada dirinya dan di luar dirinya, situlah dosa dosa itu. Makanya Nabi katakan wujudazan. adanya wujud dirimu itu adalah dosa. Oleh karena itu, Bapak Ibu, kesimpulannya setiap kita mandi maka hendaklah kita ini mandi junub, mandi hadas besar. Walaupun kita tidak junub secara zahir, tetapi junub secara batin mesti dipahami. Junub secara batin ketika masih terpandang sesuatu selain Allah itu junub tuh. Junub secara batin ketika hati tidak hadir kepada Allah tuh junub tuh. Walaupun zinya tidak junub tapi batinnya junub. Maka ketika itu setiap kita mandi usahakan mandinya mandi junub bukan junub secara syariat. Kalau junub syariat-syariat ya lakukan. Kalaupun tidak junub secara syariat yang dikatakan junub tadi apa? Tidak memandang Allah itu sudah junub tuh. Tidak ada dirati kepada Allah sudah junub tuh. Bahkan waktu mandi itu disebut namanya mandi junub. Mandi tobat tuh. itu maksudnya ya itu rahasianya Bapak Ibu maka sempurnalah mandi kita itu mandi tobat sudah yang disebutnya mandi junub memulangkan diri sudah ketika mandi itu tinggal lagi bagaimana Bapak Ibu orang yang mengaji tentu berbeda dengan orang tidak mengaji. Bapak, Ibu pengin awet muda. Ketika kita awet muda, Bapak, Ibu pandang pulalah hakikat air itu sebenarnya nur. Sedangkan hakikat air yang disebut nur sifat air itu adalah mengikat. Unsur air mengikat. Makanya orang tua kita nak cuang kata kakeknya, "Kalau kamu cuci daging kambing ni jangan lama-lama nanti alot dia lihat dagingnya keras dagingnya." Itu maksudnya ketika Bapak Ibu paham bahwa Nur Muhammad itu sudah nyata pada air dan air itu unsurnya mengikat paham kita itu, maka dia akan memperbagus kulit, daging, urat, dan tulang itu. Maka orang mengaji dengan tidak mengaji andai kata umurnya 50 sama 50 akan berbeda selisih kayaknya 5 tahun dan 6 tahun tuh. Ah, itu rahasianya untuk kita. memahami ilmu itu zahir dan batin. Bapak, Ibu tak perlu mandi di tujuh pencuran, tujuh muara namanya. Kalau Minang tujuh muaro ya. Mandi kembang ajalah di rumah. Ah, itulah mandi air nurani ya. Air nurani itu air yang tidak turun dari langit, tidak mencurat dari bumi, tidak berubah wujudnya, tidak berubah warnanya dan rasanya. Itulah air nur Muhammad itu. Itulah air hakikat. Itu yang disebut namanya air keikhlasan, air kesabaran, air ketawakalan, air qanaah, air bahala. Ah, itu kesimpulannya air lautan Tuhan, air makrifat namanya, air nurani sebutannya. Itu hakikatnya, Bapak, Ibu. Insyaallah Bapak, Ibu lihatlah nanti kalau ada yang meninggal di antara kita ini ya. Nah, lihat dan saksikan itu. Berbau gak dia? Bangkai gak dia. Karena ilmu ini betul-betul wujud zahir dan nyata dia. Kita mau yang di mana duduknya kita mesti paham. Kalau makam kita duduk di syariat saja tak mau kita memahami makna hakikat. Makanya ketika duduk di syariat orang syariat itu kalau mati matinya membangkai. Belum lagi ditanam 1 jam sudah bau dia tuh. Ah itu dimakan cacing belatung tuh yang hancur nanti di tanah. Kenapa? Karena dia mengatakan inna khalaqnakum min turab. Manusia ini diciptakan daripada tanah. inakum itu datang dari tanah kembali kepada tanah padahal dia mengatakan innillahi wa inna ilaihi rojiun datang dari Allah kembali kepada Allah nyatanya datangnya dari Allah kembalinya ke tanah encurti dah ah naik kita ke atas ke makam tarekat orang tarekat kalau mati dia tidak membangkai ya tidak di bahkan kan cacing tanah tapi badannya itu menyusut dan mengering tidak pula jadi janglot mengering badannya susut badannya bukan jadi jenglot ni Bapak Ibu ya mengering kayak namanya ikan salai tahu ikan salai ee ikan yang di laut itu di diasinkan dia. Ah tu badannya mengering tapi dia tidak bau dia nyusut. Ah itu duduk di tarekat tuh. Naik lagi di makam itu adalah di hakikat. Duduk di hakikat adalah duduk di Nur Muhammad. Dia tidak makan cacing tanah, dia tidak menyusut badannya, tidak mengering. Dia utuh bahkan harum. Naik lagi ke atas makrifat. Ibarat burung dalam sangkar. Burungnya lepas, sangkar pun lesap. Datangnya kosong, kembalinya kosong. Asalnya Tuhan, kembalinya tetap jadi Tuhan.

Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi. Saya saudari dari Iya, izin bertanya. Pada saat kita tahiyat mengucapkan dua kalimah syahadat ee ashadu alla ilahaillallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Ee syahadat Allah. Bagaimana kita cara menisbatkannya ustaz ke alam mikra pada diri kita atau ke alam makhluk pada alam semesta? Mohon penjelasan. Dan pada saat kita mengucapkan s rasul, kita menisbatkannya ke mana? Apakah ke rasul yang ada di Madinah atau bagaimana? Terima kasih.

Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ee baik Bapak Ibu, mudah-mudahan Bapak Ibu semua paham dengan apa yang ditanyakan oleh Bapak kita tadi. Ee tadi Bapak Ibu kita sudah tuntaskan pemahaman tentang Allah bahwa Allah itu satu-satunya. Kalau Allah itu satu-satunya bahwa tidak ada diri yang lain selain daripada dirinya. Kalau tidak ada diri yang lain selain daripada dirinya, Bapak, Ibu, ketika kita bersyahadat ya dalam mengucapkan kulimah itu di waktu kita salat, ya, bagaimana cara kita mengambil pahamnya? Nah, ini kita turun ke bawah, naik ke atas lagi. Nanti ketika kita turun ke dalam bahasa ee syariat yang telah berhakikat yang bersyahadat itu ya yang melafazkan kulimah ashadu alla ilahaillallah pada waktu syahadat itu adalah Muhammad. Ah, namanya Muhammad. Muhammadlah yang menyatakan, "Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah melainkan Allah." Itu Muhammad. Setelah Muhammad bersyahadat, lalu Allah juga bersyahadat. Bersaksi, "Wa ashadu anna Muhammad Rasulullah." Aku juga bersaksi bahwa Muhammad itu adalah utus Allah hambaku. Itu yang pertama maminya. Yang kedua lebih halus lagi dalam penyampaiannya sesungguhnya ketika kita bersyahadat itu maknanya diri yang zahir menyatakan diri yang batin. Diri yang zahir itu Muhammad. Menyatakan diri yang batin yaitu Allah. Yang kedua, diri yang batin juga menyatakan diri yang zahir. Ya. Yang ketiga, diri yang zahir menyaksikan diri yang batin dan diri yang batin menyaksikan diri yang zahir. Terakhir. Nah, terakhir di dalam makrifat ya. bahwa Allah cuma satu-satunya yang wujud dan yang nyata. Gak ada diri siapa-siapa di sana. Itu artinya bahwa Allahlah yang menyaksikan akan dirinya sendiri. Bagaimana caranya dalam mengambil paham bahwa Allah menyaksikan akan dirinya sendiri bahwa dialah sebenar-benar yang bersaksi. Ashadu alla ilahaillallah. Apa kata aku yang bernama Allah tadi? Aku bersaksi atas diriku tidak ada yang nyata melainkan Allah diriku. Saya ulang lagi. Aku bersaksi atas diriku tidak ada yang nyata melainkan Allah diriku. Wa ashadu anna Muhammad Rasulullah. Aku bersaksi atas diriku bahwa Muhammad itu wujud aku. Dihaluskan kajinya supaya jelas lagi. Aku bersaksi atas diriku tidak ada yang nyata melainkan Allah. Allah diriku nyata pada wa ashadu anna muhammad rasulullah. Aku bersaksi atas diriku bahwa Muhammad itu wujudku nyata pada tubuhku. Kesimpulannya dari beberapa syahadat tadi yang duduk di makrifat. Ashadu alla ilahaillallah wa ashadu anna muhammadar rasulullah. Kesimpulannya, aku bersaksi atas diriku bahwa Allah itu aku. Aku bersaksi atas diriku bahwa Muhammad itu wujud aku. Gak ada lagi ya ikad di sana. Karena dia yang menyaksikan dan yang menyatakan bahwa Allah itu diriku, bahwa Muhammad itu juga wujud diriku. Aku sebenar-benarnya. Nah, dalam dalam mengambil pahamnya perlu ada penjelasan. Namun hakikat daripada penjelasan itu setelah kita paham tidak ada bahasa iktikad. Kalau ada bahasa iktikad kita, berarti masih ada dua wujud. Nanti lagi ya kita mengiktikadkan bahwa Allah itu adalah diriku. Kita mengiktikadkan bahwa Muhammad itu adalah wujud Allah yang nyata pada diriku. Ah dua wujud nanti. Ah jadi ketika kita sampai Bapak Ibu pada puncak wahdatul wujud keesaan wujudnya semata-mata tidak ada bahasa itikad di sana ya. Gak ada bahasa iktikad. Kalau iktikad masih ada dua wujud. Ah, kalau kita duduk di makrifat disebut juga iktikad. Siapa yang beriktikad di situ? Ah, tentu jawabannya yang beriktikad dan mengiktikadkan itu adalah dirinya juga. Allah yang mengiktikadkan. Aku bersaksi bahwa Allah itu aku. Aku bersaksi bahwa Muhammad itu wujud aku. Aku jua itu. Nah, itu cara penyampaian kaji. Ah, dalam hal pemahamannya tidak ada bahasa itikad, Bapak, Ibu. Ya, tinggal menyebut saja lagi. Di situlah kita paham yang menyebut siapa, yang disebut siapa, yang bersaksi siapa, yang disaksikan siapa. Ah, turun betul kita ke syariat. Nah, turun betul kita ke syariat. Pertanyaannya tadi, Muhammad mana yang kita saksikan? Ustaz mau nanya dulu sama Bapak Ibu. Saksi itu bersaksi itu bersyahadat itu apa artinya? Menyaksikan. Kalaulah saksi bersaksi itu menyaksikan, menyaksikan itu melihat atau tidak melihat? Melihat. Ketika kita sudah paham bersaksi itu maknanya melihat, ketika kita memahami Muhammad itu adalah Muhammad junjungan kita, Nabiuna Muhammad sallallahu alaihi wasallam yang lahirnya di kota Makkah, meninggalnya di kota Madinah. Ketika kita bersaksi bahwa saksi itu adalah melihat, benarkah kita sudah melihat dan menyaksikan Muhammad bin Abdullah yang lahir di Makkah dan meninggal di Madinah itu? Tidak. Berarti kalau kita tidak melihat yang kita saksikan itu adalah Muhammad bin Abdullah, maka saksi apa namanya tuh? sasih palsu. Sekarang kalaulah bukan Muhammad bin Abdullah yang kita saksikan, lalu Muhammad yang mana yang kita saksikan sehingga yang kita saksikan itu benar-benar kita melihatnya. Apakah Muhammad bin Abdullah atau Muhammad sebagai wujud Allah yang disebut Nur Muhammad? Nur Muhammad sekarang Nur Muhammad itu sudah sempurna pada sekalian alam, sudah sempurna pada diri setiap manusia. Namun dalam kesempurnaan Nur Muhammad pada diri setiap manusia tentu dia berkelas, dia berlevel dia. Ah ini dalam cara mengurai kaji kesempurnaan memandang Nur Muhammad itu kepada seluruh manusia. Akan tetapi kesempurnaan Nur Muhammad kepada seluruh manusia itu sempurna kepada nabi yang jumlahnya 124.000. Kesempurnaan Nur Muhammad pada.000 Ibu itu di atas Nabi ada makam yang tertinggi itu namanya Rasul yang 315. Kesempurnaan Rasul yang 315 itu ada lagi level yang tertingginya yaitu 25 nabi dan rasul. Kesempurnaan nabi yang 25 itu ada level yang tertingginya lagi itu kepada yang lima. Kesempurnaan nabi dan rasul kepada yang lima. Ada level yang tertinggi lagi itu satu. Itulah junjung kita nabina Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Begitu cara memandangnya. Lalu bagaimana dengan kita? Ah ini kita k walaupun Bapak Ibu dan Ustaz bukan nabi dan bukan rasul tidak mendapat mukjizat kan itu tidak ada mukjizat namun namun tahu bahasa namun akan tetapi diri kita ini juga bahagian daripada dirinya walaupun Nur Muhammad itu sempurna kepada junjungan kita Nabiuna Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Akan tetapi umatnya ini juga bahagian daripada Nur Muhammad. Itu contoh. Ah, ini botol botol kaca. Lalu botol kaca ini kita lemparkan ke atas sampai di bawah dia pecah. Berkeping-keping pecahannya. Ada kepingannya ini 4 m, ada kepingannya 3 m, ada kepingannya 2 m, ada kepingnya 1 m, dan ada kepingannya dekat di sini. Walaupun kepingannya ini 4 m, yang 3 m, yang 2 m dan 1 m juga bahagian daripada dari apa? Botol ini juga. Walaupun nur itu ya sudah jadi alam dia, planet kah, tumbuh-tumbuhanah, manusia kah, manusia yang saleh, manusia yang alim, manusia aulia, manusia nabi dan rasul. Namun manusia yang saleh ini juga bahagian daripada Nur Muhammad itu. Namun jangan kita berhenti dan tertahan kepada Nur Muhammad. Pandang rahasia di balik Nur Muhammad. Bahwa Nur Muhammad itu adalah rahasia daripada diri Allah. Walaupun kesempurnaan diri Allah itu nyata kepada Nabiina Muhammad sallallahu alaihi wasallam, namun diri Bapak Ibu juga bahagian daripada nyatanya diri Allah itu. Paham maksud satu? Oleh karena itu hendaklah Bapak Ibu bertubuhkan Allah saja. Kalau Bapak Ibu sudah bertubuhkan Allah, berakhlaklah dengan akhlaknya Allah. Memandanglah dengan pandangan Allah. Beradablah dengan adabnya Allah. Kalau di hakikat hendaklah Bapak Ibu bertubuhkan Muhammad. Muhammad yang zahir, Muhammad yang batin. Kalaulah yang zahir dan yang batin ini hakikatnya Muhammad, Muhammadlah sebutannya ini. Naik lagi ke atas. Kalaulah Muhammad itu rahasia nyatanya Allah, itu tiada lain Allah, maka zahir dan batin itu adalah Allah yang berwujudkan Muhammad yang berupa Adam yang sudah sempurna wujudnya menjadi insan. Selesai. Jadi dalam bersyahadat Bapak Ibu, Bapak Ibu cukup memahami saja ashadu alla ilahaillallah wa ashadu anna Muhammad Rasulullah. Allah yang bersaksi akan dirinya sendiri bahwa Allah itu adalah diriku dan Muhammad itu adalah wujud diriku sendiri. Aku tuh. Ah. Jadi kenapa ada sebuah pertanyaan? Kita bisa bertanya karena kita duduk di hakikat. Tapi kalau kita sudah duduk di makrifat gak ada pertanyaan lagi. Apa yang mau ditanyakan juga lagi? Karena sudah itu semuanya. Ah jadi kita bertanya untuk mendudukkan paham sebenarnya. Ya, kalau sudah dapat pahamnya, Uskut cukup diam di situ. Nah, jadi apa diam? Karena kita sudah mengerti. Karena yang bersaksi dengan yang disaksikan satu wujudnya. Inilah maknanya Allah dengan Muhammad tidak pernah berpisah cerai. Dua, namun tiada berpisah. Mungkin itu, Pak, cara mengambil pahamnya begitu. Jadi kalau diiktikadkan bahasa Bapak boleh tapi duduknya di di hakikat. Muhammad mengiktikadkan di dalam dirinya bahwa tidak ada yang wujud pada dirinya melainkan Allah. Ketika itulah aku bersaksi kata Muhammad nih, aku bersaksi kata Muhammad bahwa tidak ada yang nyata melainkan Allah adalah diriku. Aku bersaksi kata Muhammad bahwa Muhammad itu itulah nyatanya diri Allah. Itu mendudukkan itikad-itikad. Tapi kalau sudah sampai kepada wadatul wujud Allah dan Muhammad itu esa, dizahirkan ilmunya, Allah yang bersaksi atas dirinya sendiri. Aku bersaksi atas diriku sendiri bahwa Allah itu diriku. Aku bersaksi atas diriku sendiri bahwa Muhammad itu wujud aku. Ah, naik lagi kepada makrifat bil makrifat. Gak ada saksi menyaksikan di situ lagi. Gak ada bahasa menyembah-menyembah lagi. Hilang kata menyembah, hilang kata bersaksi, hilang kata menyaksikan. Itulah maknanya alabid wal ma'bud wahid. La yazkurullah illallah. La shatta illallah. Tidak ada yang salat dan berzikir hanya Allah. Diamlah Bapak Ibu lagi. Itu diam itu bukan kita tidak melafaz di dalam salat. Tetap kita menyebut dan melafaz dalam salat. Akan tetapi yang melafaz dan menyebut itu Allah itu sendiri. Itu yang menikmati itu. Jadi sampai pada puncak menikmati. Nah, sekarang Bapak Ibu pemahamannya sampai di mana? Ah, duduk saja di makam itu dulu. sampai benar-benar sudah mantap. Ah, baru naik ke atas. Maksudnya sudah mantap ketika hati dan akal sudah membenarkan apa yang kita pahami baru oh udahlah diam aja lagi. Begitu duduknya Bapak, Ibu ya. Nah, itu tuh enggak apa-apa itu ilmu, cara memecah ilmu gitu.