Transcription
[Musik] Assalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Saya lihat Ustadz orangnya sangat percaya diri. Bagaimana cara mengatasi sifat pemalu, minder, dan rendah diri? Terima kasih, Ustadz.
Astagfirullah. Saya mohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala bila ada yang dilihat oleh orang lain berupa hal-hal yang terlihat baik dan sebagainya, tapi ternyata juga saya belum bisa memenuhi seperti apa yang terlihat, maka semoga Allah mengampuni kekurangan-kekurangan itu, memaafkan, dan memberikan bimbingan supaya menjadi lebih baik.
Ya, teman-teman sekalian, membangun kepercayaan diri pada hal yang positif itu tidak diikat dengan profesi seseorang ya atau tugas seseorang ya. Kepercayaan diri itu tidak melekat kepada seorang Ustaz saja, Kiai saja ya, seorang Habib misalnya, seorang guru, tidak. Tapi semua kalangan sepanjang mengerjakan nilai kebaikan, mesti membangun kepercayaan diri yang kokoh kepada dirinya untuk komitmen mengerjakan kebaikan itu, sehingga melahirkan motivasi kuat untuk melakukannya. Mengerjakannya siapapun dan apapun yang ia kerjakan. Apakah yang misalnya dia di birokrasi ya di dunia birokrasi, apakah di dunia diplomasi, apakah seorang pebisnis, seorang pedagang, seorang perawat, dokter, insinyur, bahkan misalnya dosen, guru, mahasiswa, atau juga pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan pada umumnya masyarakat ya, baik bertani, berkebun misalnya, dan sebagainya. Semua butuh kepercayaan diri dibangun sepanjang dikerjakan itu baik, sepanjang yang dikerjakan itu baik.
Nah, sekarang membangun kepercayaan diri itu seperti apa? Maka dimulai dengan hadis Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh sahabat Umar Bin Khattab radhiyallahu ta'ala. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, nabi memberikan tips kepada kita semua pesan yang sangat kuat. Seseorang itu kalau ingin mengerjakan sesuatu, kembalikan kepada motivasi terkuat dalam dirinya ya, yaitu niatnya. Jadi ada tiga tahapan kita mengerjakan sesuatu itu berdasar dasar hati kita dulu. Yang pertama ada keinginan, yang kedua ada tekad, yang ketiga ada niat.
Nah, keinginan itu disebut *ra'd* namanya. Setiap orang tuh ingin pada segala yang baik. Kalau Anda tanya, mau nggak ke surga? Semua jawaban mau. Ingin nggak haji tahun ini? Semua orang ingin. Tapi apakah setiap yang punya keinginan punya tekad? Belum tentu. *Azam* namanya, *azimah*. Punya tekad baik. Saya ingin ke surga, saya punya tekad yang kuat untuk bisa mendapati itu. Tekad ini akan menurunkan turunan-turunan sampai nanti ke niat. Sama persis. Saya pengen haji nih tahun depan, pengen banget. Beda dengan yang sekedar ingin. Saya ingin haji, ingin saja. Tapi punya tekad, dia ingin mewujudkan keinginan itu.
Tahapan mewujudkan tekad tuh ke selanjutnya disebut dengan niat. Ada usaha pendahuluan ya, nabung-nabung dari sekarang, terus berikhtiar ya, ikhtiar yang optimal sehingga apa yang kita tekankan itu bisa tercapai. Ingin ke surga, alhamdulillah. Merdeka apa surganya? Firdaus. Maka kita siapkan, berniat betul-betul bikin tekadnya itu terwujud dalam bentuk perencanaan awal. Perbaiki diri, mulai berhijrah. Berhijrah mendekat, meninggalkan yang buruk. Hijrah itu meninggalkan kebiasaan yang kurang baik yang tidak Allah sukai kepada kebiasaan baik yang Allah dan rasulnya sukai. Itu poinnya.
Jadi hijrah itu bukan tidak bukan menuntut kita pindah kepada suatu tempat tertentu ya, kecuali kalau di tempat kita beraktivitas itu sangat tidak kondusif sekali ya, susah mendekat kepada Allah, terancam dalam keburukan ya. Di tempat kerja misalnya, tempat kerjanya diliputi keburukan-keburukan yang sulit sekali mendekat kepada Allah. Mau salat susah, baca Quran susah. Sementara kita sadar bahwa rezeki itu yang mengatur Allah kan? Kan kita sadar betul Allah Maha Pemberi rezeki, Allah mendatangkan rezeki. Kenapa kita tidak berpindah ke tempat yang kemudian Allah sukai dan dengan itu keberkahan Allah berikan? Allah tetapkan rezeki, tidak akan tertukar, tetap tidak akan berkurang. Perhatikan poinnya.
Nah, itu hijrah yang menuntut perpindahan tempat. Sama dengan Anda tinggal di lokasi misalnya yang di tempat itu walaupun kompleknya terlihat megah dan sebagainya, tapi fasilitas untuk masjid tidak ada, mau pengajian susah, mendekat kepada Allah juga tidak mudah gitu kan. Karena mencari tempat yang teduh yang nyaman ibadah yang enak beraktivitas di situ, kemudian Anda membangun kepribadian yang lebih dekat dengan Allah subhanahu wa ta'ala. Jadi hijrah itu prinsip dasarnya meninggalkan perbuatan yang tidak disukai oleh Allah dan rasulnya kepada kebiasaan dan perbuatan yang disukai Allah dan rasulnya. Jadi bukan menuntut satu perpindahan secara langsung ya, atau pindah kepada misalnya komunitas pengajian golongan tertentu, bukan, bukan itu poinnya.
Lebih kepada mendekat kepada Allah. Siapapun yang bisa membimbing kita sepanjang sesuai dengan ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Nabi, mengacu kepada keterangan dasar Alquran, ya. Gitu. Ikuti dalam kebaikan ya, tanpa harus mencela atau menepikan orang-orang atau golongan-golongan lain tertentu.
Nah, dalam konteks berpindah ini, maka lakukan semua karena Allah. Motivasi nya karena Allah dulu. Nanti supaya dibimbing oleh Allah. Karena nanti orang melakukan sesuatu itu banyak motifnya ya. Tadi kata nabi, *dunya*. Jadi Anda ini melakukan aktivitas untuk percaya diri ini ya, mengatasi sifat malu, minder, macam-macam, apa yang mau dikejar? Karena dunia. Kalau cuman dunia, orang banyak sekarang ya latihan-latihannya segala rupa untuk mencapai pekerjaan tertentu adalah latihan sekarang di bidang bisnis misalnya, dilatih Anda *public speaking*, bagaimana bicara depan orang begini begitu dan sebagainya untuk capaian dunia. Anda akan dapat kata nabi. Anda akan dapat. Tidak ada kesalahan di dalamnya sepanjang dicari itu baik, tapi belum tentu ada pahala untuk bekal pulang.
Nah, niat itu menentukan apakah apa yang akan kita cari ini disukai oleh Allah sehingga punya bekal akhirat, sehingga akhirat, atau cuman dunia saja. Itu poin pertamanya. Jadi tanamkan pada diri kita itu motivasi yang kuat untuk mengerjakan sesuatu ini, lelah Allah ya dan rasulnya. Nanti karena Allah itu memberikan kekuatan pada jiwa dan rasulnya memberikan bimbingan yang sudah nabi contohkan kepada kita ya, dan mewariskan pedoman-pedoman kehidupan yang abadi sifatnya. Nanti tinggal diikuti di situ ya kan.
Jadi yang pertama adalah membangun kekuatan niat, motivasi diri dulu. Motivasi diri dulu. Saya ingin melakukan ini sebagai *hujjah* saya ketika kembali kepada Allah. Saya ingin melakukan ini ya supaya Allah rida dengan saya. Nanti dari niat yang benar itu Allah berikan kekuatan pada diri kita.
Nah, niat itu terjemahkan dengan apa? Setelah muncul dalam hati kita, kita akan memulai aktivitas itu yang baik itu, maka kita bisa mulakan itu dengan memohon kepada Allah. Nah, di sini dia. Jadi membangun sifat kepercayaan diri di antaranya memulai dengan menautkan aktivitas yang akan kita kerjakan ya, dengan harapan perlindungan dan pemberian kekuatan serta bimbingan dari Allah. Mohon *taufik* namanya, minta. Nah, itu keadaan itu disebut dengan tawakal namanya. Tawakal itu menyerahkan keadaan kita yang akan kita ikhtiarkan baik mulainya ataupun akhirnya kepada Allah. Gantungkan kepada Allah sehingga Allah berikan perlindungan yang paripurna kepada diri kita.
Maka nabi mengajarkan kita untuk berdoa dalam memulai segala hal. Nah, doa itu juga membangun kepercayaan diri. Makanya orang kalau mau mengerjakan sesuatu ketika dia berdoa lebih kuat kan ya. Anda mau bicara, Anda berdoa dan diajarkan kan di Quran di surat Thaha itu bagaimana seorang Musa Alaihissalam dibantu sekretarisnya Nabi Harun Alaihissalam ya, dua-duanya datang kepada Firaun untuk berdakwah menyampaikan kebaikan. Membangun kepercayaan dirinya bagaimana kan? Berdoa dulu ya kan.
Setelah dia berniat baik, menjadikan semua urusan karena Allah, dibimbing oleh Allah tuh ya. Bimbingannya indah sekali. Jadi dipimpin oleh Allah. Nanti kalau datang, katakan yang baik-baik, katakan yang lembut supaya dia sadar. Di Quran surah Thaha itu kan ayat 43 sampai 44, katakan yang lembut gitu kan, katakan yang halus, tutur kata yang baik, yang elok dengan retorika yang benar gitu kan. Sampaikan aja. Mudah-mudahan dengan itu nanti ada kelembutan pada hati dia sehingga dia merasa takut kepada Allah dan memperbaiki diri. Nanti Allah bimbing, berikan kekuatan. Makanya nanti ayat-ayat berikutnya itu memberikan kepercayaan diri yang kuat kepada Musa ketika tawakal itu ada loh. Dibimbing doanya, lalu kemudian Allah menegaskan, jangan takut Musa, aku akan mempersamai kamu, dengan kamu akan dibekali begini begitu dan sebagainya.
Ini isyarat Quran yang sangat dalam. Tautkan aktivitas kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Lalu bacakan doa. Kalau di sini terkait dengan bagaimana supaya tampil bisa bicara dan sebagainya, doanya juga ada sendiri seperti tadi diajarkan di Quran, *Robbi shrohli shodri wa yassirli amri wahlul uqdatan min lisani*. Nanti untuk belajar supaya pede nih, jangan sampai pesimis. Waduh, saingannya berat nih. Waduh, ini bisa nggak lulus ujian? Percaya diri yang dituntut. Ikhtiar kok. Nanti Allah yang mengatur. Anda masuk di kampus mana, di sekolah mana yang terbaik untuk masa depan kita. Kadang-kadang tahapan kita ke A, tapi kata Allah, jangan ke situ, kamu ke B aja karena kamu nanti bakatnya akan dibutuhkan di bidang ini. Ini bisa terjadi. Harapan masuk A, tiba-tiba masuk B, dan semua kampus bisa bisa mendapatkan bagian-bagiannya gitu ya.
Maka di sini penting kita ikuti doa-doanya banyak. Ilmuwan sesuai dengan bidangnya masing-masing. Kalau belum tahu doanya, ucapkan apa? Ucapkan seperti nabi bimbing dalam hadisnya. Ya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka mulai dengan *Bismillahirrahmanirrahim*. Perbuatan baik itu niatkan ya dalam diri kita. Kuatkan ucapan *Bismillahirrahmanirrahim*. Anda mau kerjakan apa nih? Mau pidato? *Bismillahirrahmanirrahim*.
Nah, *ba* itu nanti ada 14 makna. Di antara makna *ba* di situ nanti ada sebagian ya, dengan sebab aku akan mengerjakannya. Aku takutkan karena Allah. Layaknya Allah karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Maka mohonkan kebaikan kepada Allah, minta kebaikan. *Bismillah ya rohman rohim*. Nanti sifat-sifat Rahman dan Rahim Allah akan disertakan kepada kita. Maksudnya apa? Diberikan bimbingannya kepada kita, dioptimalkan, dinaungkan kepada kita dengan rahmat Allah kita akan dimudahkan beraktivitas, dengan rahmat Allah dijaga dari kesalahan, dengan rahmat Allah diberikan kekuatan. Itu *Bismillahirrahmanirrahim*.
Makanya nabi pun ketika mulai menerima wahyu, diminta oleh Allah untuk pendek, untuk percaya diri. Walaupun nabi nggak pernah belajar, nggak pernah beliau punya guru formal, nggak ada. Beliau pernah masuk madrasah ya kan, nggak pernah belajar *ummi* sifatnya ya, sifatnya apa? *Ummi*. Maka apa yang terjadi? Yang terjadi ketika menerima wahyu kan ya, kata malaikat, *Iqra* (Baca). Mana Bi Khalid? Saya betul-betul nggak bisa baca. Saya betul nggak bisa baca. Sampai yang ketiga kan. Keramaan ada Karim. Nabi bisa mengatakan tuh ya, pakai bentuk kata kerja bentuk *past tense*, kemudian dengan *nafi*, "Saya nggak bisa baca". Tapi ketika bertemu dengan *ba* itu *taukid* sifatnya. *Ma* ketemu dengan *ba* itu penguat *tauhid*. "Saya betul-betul nggak bisa baca".
Maka apa yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala untuk membangun kepercayaan diri beliau? *Bismillah*. Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Niatkan membaca itu ya, baca untuk mengikuti bacaan yang dibimbing oleh siapa? Oleh hamba yang Allah utus. Dan dengan kuasa Allah yang membuat menjadikan sesuatu yang begitu mudah. Yang mencipta kamu aja begitu mudah. Yang mencipta manusia saja begitu mudah, apalagi menjadikan kamu terbimbing untuk bisa mengikuti bacaan, lebih mudah lagi. Maka lakukan karena Allah. Allah kan kuasa atas segala hal.
Anda adabnya. Kalau Anda sulit melakukan sesuatu, Anda akan berusaha minta tolongkan pada yang lebih kuat. Gitu kan ya. Ada misalnya seorang usil pada Anda, Anda minta tolong pada yang lebih kuat atau Anda lapor misalnya kepada yang berwenang dan sebagainya. Kenapa? Karena sifat dan fitrah manusia mencari yang lebih kuat. Siapa yang lebih kuat dibandingkan dengan Allah? Siapa yang memberikan kekuatan pada kita lebih dibandingkan apa yang Allah berikan kepada kita? Maka tautkan diri kita kepada Allah. Membangun kepercayaan diri, doa membangun kekuatan.
Nanti setelah itu yakinkan bahwa apa yang Allah berikan kepada kita itu sempurna dan bisa melakukan apapun ya, sepanjang nilai itu baik. Allah mengajarkan kepada Adam semua jenis segala hal yang bisa digunakan dalam beraktivitas di bumi ini ya. Karena Adam itu nabi. Nabi bukan rasul. Maaf, Adam itu nabi, walaupun beliau bukan rasul. Karena bedanya kalau nabi diberikan risalah terbatas untuk diri dan kerabat dekatnya, tidak untuk umat. Adam diutus umat belum ada, baru ada diri dan kerabat dekatnya yaitu istrinya sendiri dan nanti anak keturunan awal dasarnya. Maka dipilih oleh Allah di Quran misalnya surah ke-3 Al-Imran ayat 33. *Innallaha istafa Adam*. Nanti baru ketika ada umat, komunitas, nanti risalah diberikan membimbing menjadi rasul, yaitu Nuh Alaihissalam. Makanya nanti *Innallaha istafa*.
Dan ketika Allah kemudian memberikan sifat pengajaran, ada fitrah kenabian. Fitrah kenabian itu diajarkan secara langsung semua. Diajarkan segala hal yang terkait dengan kebutuhan membangun risalah di muka bumi ini. Jadi nabi, rasul, diajarkan semua. Diajarkan. Nah, tapi mereka manusia. Kita manusia. Kita bukan nabi. Kita bukan rasul. Maka sifatnya, potensi ditanamkan pada diri kita. Jadi di dalam diri kita ini potensinya banyak sekali bakatnya ya. Dan kita harus yakin, percaya diri. Bakat apapun yang dibutuhkan untuk memberikan maslahat pada kehidupan kita di bumi ini bisa dicapai. Ini di sini ada kemampuan dalam diri kita ini ya, untuk menjadi ahli fisika, ahli kimia, karena matematika, dalam saat yang bersamaan ahli Quran, ahli hadis. Mau bicara apapun. Coba lihat manusia tuh lidahnya, masya Allah. Diajarin bahasa ini bisa, bahasa Inggris, bahasa Arab, bisa bahasa Cina, bisa macam-macam tuh. Itu dari lidah, dari bahasa aja. Coba lihat bagaimana Allah memberikan kemampuan pada kita dengan memori yang sangat luar biasa untuk bisa mengingat dan hafal benda-benda. Anda itu luar biasa. Coba kalau Anda mau kumpulkan benda-benda di lingkungan Anda aja, Anda bisa ingat tuh ya benda-benda lingkungan kita bisa kita sebutkan satu, dua, tiga. Berapa banyak memori kita kapasitasnya? Artinya kita ini makhluk yang sangat unik, makhluk yang sangat istimewa. *Laqad khalaqnal insana fi ahsani taqwim*. Surah 95 ayat ke-4. Itu Allah bersumpah dengan tiga risalah. Istilahnya Nabi Isa alaihi salam, Nabi Musa alaihi salam, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Maupun di sini Nabi Musa alaihi salam, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Dan pakai *lam* dan *qad* pakai *taukid* dan *talkih* untuk menunjukkan kesempurnaan. Secara fisik, kayu sudah sempurna tuh penciptaan manusia. Fisiknya sempurna, akalnya sempurna, potensinya sempurna. Tinggal kita membangun kepercayaan diri bahwa dengan kesempurnaan jadi kita bisa mencapai itu. Kita bisa, kita bisa, kita bisa. Percaya pada diri kita dan tautkan kepercayaan itu kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Maka itu di antara cara yang terbaik. Kemudian setelah itu ikhtiar, ikhtiar dan belajar secara bertahap, *step by step*. Barangkali di sini nanti akan ditemukan beberapa kekurangan yang Allah tampakkan untuk diperbaiki. Jadi kalau salah wajar namanya baru belajar. Kalau sudah pintar ya wajar kalau nggak salah lagi kan. Kita baru belajar nih, belajar bicara, ada salah wajar. Saya saja bisa salah ya, dan pasti salah karena manusia akan sifatnya tadi barusan kan salah. Salah Anda misalnya tidak sengajaan atau bahkan pikiran lebih cepat duluan, lisan baru bisa mengikuti mungkin terjadi ya. Atau memang betul-betul salah dan harus dikoreksi ya. Tidak ada yang sempurna. Karena itu disebut dengan *insan*. Kata Ibnu Abbas radhiyallahu ta'ala anhuma yang dikutip kemudian oleh Ibnu Mansur dalam kitab yang di sana Arab. *Summil insanu insan*. Ya, disebutkan insan itu ya dari kata *yanto* lupa. Manusia itu akarnya *insan* seakar dengan *nisyan* yaitu lupa. Karena ketika dia punya komitmen kadang dia lupa. Dia punya komitmen dengan Allah untuk menyembah, dia lupa nggak nyembah Allah. Dia punya komitmen berbuat baik, dia lupa nggak berbuat baik. Makanya kalau ada orang berdusta, sebetulnya dia tahu dusta itu salah, cuman saat berdusta dia lupa. Dia tahu korupsi itu salah, cuman saat korupsi dia lupa. Makanya lupa itu seringkali disandingkan dengan salah. Itu lupa. *Nasi*. Saya lupa nasinya. Kita lupa. Ya Allah mohon jangan hukum kami kalau kami pernah lupa. Dari lupa itu jadi salah. Itu di Al-Baqarah ayat 286. *Nisyan*. Yaitu lupa. Nanti turunannya *insan*. *Insan* disebutkan istilahnya 65 kali kurang lebih dalam Alquran. Nah, kadang repotnya makanan kita nasi. Banyak makan nasi, banyak lupa. Saya pernah waktu kuliah itu dosen kami tanya, "Mama anak kita apa artinya ini?" Kita jawab kompak, "Nasinya." Lupa. Maka ustaz kami respon, "Akaltu nasi yang banyak makan."
Di antara langkah-langkah awal membangun kepercayaan diri: motivasi, menguatkan niat, memohon kepada Allah bimbingan, kemudian mendekatkan diri kita kepada Allah dengan berdoa sesuai dengan objek aktivitas yang akan kita kerjakan atau setidaknya mengucapkan *Bismillahirrahmanirrahim* sebelum memulai aktivitas. Setelah itu yakin pada diri kita ada potensi untuk melakukan itu. Lalu belajar dari kekurangan, kesalahan. Kalaupun ada salah, jangan langsung divonis, "Saya nggak bisa." Tidak, bukan begitu caranya. Tapi Allah menampakkan itu supaya diperbaiki. Nah, jadi lebih baik, lebih baik, lebih baik untuk ke depan. Setelah itu nikmati hasilnya. Ya, ikuti. Nikmati dan bangun tawakal hasilnya kepada Allah.
[Musik] Sudah selesai. Tata lagi dan hasilnya tunjukkan kepada Allah. Tawakal. Bagaimana memberikan yang terbaik kepada kita Allah ta'ala.
[Musik]