Transcription
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wasyukrulillah la haula wala quwwata illa billah. La ilahaillallahu wahdahu la syarikalah lahul mulku walahul hamdu wahua ala kulli qir. Allahumma sholli ala Muhammad wa ali Muhammad.
Alhamdulillah dalam beberapa hari ini saya dapat merekam data Rembang melalui live webcam webcam Pulau Redang Terengganu, Malaysia. Selamat datang di studio kami Islamic Science Research Institute. Eh, lokasinya di Terengganu ini sangat bagus dan ideal. Eh, sampai saat ini telah ada 5 hari data toilet Terengganu yang saya miliki yaitu 8 September, 9 September, 13, 14, dan 15 September. Ee namun akan saya analisis secara terpisah ya.
Eh, sekali lagi saya jelaskan bahwa webcam di Terengganu ini termasuk dalam kategori night vision webcam atau infrared vis eh webcams. Jenis webcam ini bekerja pada empat kanal, yaitu tidak tiga kanal adalah eh visible light jadi RGB, red, green, and blue. yang masuk dalam visible light eh dengan panjang gelombang 380 sampai 750 nanm nanometer ya. Jadi 1 juta ee mm ya sejuta sejuta mm karena mikron itu 1/1000 mm ya kalau nanometer itu 1 sejuta mm jadi sangat kecil sekali. Jadi bisa dibayangkan kalau untuk berjalan sepanjang misalnya ee 1 mm saja itu dia harus bergerak bergetar selama sejuta kali kan ya. Jadi itu saya menduga kanal keempatnya adalah eh near infrared dengan panjang gelombang 750 nm sampai 2.500 nm. Jadi 2,5 mikrometer. Jadi 750 sampai nanometer sampai dengan 2,5 mikrom u anunya e infrared-nya near infrared. Namun tentu saja informasi yang akurat hanya dapat diperoleh jika jenis webcam-nya diketahui dengan pasti. saya saya belum dapat informasi yang ee pasti tentang webcam ini dengan infrared webcams ketika objek dalam kondisi tingkat penyenarannya rendah, low light condition atau bahkan tanpa penyeran, tanpa penyaran atau no light condition dan karena RGB tidak bekerja ya, maka ee ee kanal infrared inilah yang bekerja. Jadi saat kondisi tanpa sinar, tanpa sinar rekaman video ini ditransfer ke wilayah gry scale. Maka selama kondisi tanpa sinar ini objek akan terekam berupa video. Oh, video monokrome ya. Video monokrom hitam putih ya.
Dalam menganalisis video atau citra seperti ini secara teknis ee Saxon algorithm tidak sama sekali tidak ee terganggu ya karena dia bekerja menggunakan besaran statistik citranya ya di jadi terserah ee apa tuh panjang apa sensor yang e yang digunakan ee apa itu dia dia akan saya akan ee kami ee algoritma ini bekerja ini dengan besaran dan statistiknya. Ee kemudian ee data-data ini dan statisti ini kemudian di ee dimodel secara matematik. Jadi itu tidak makanya tidak teral. Namun untuk verifikasinya yang ini agak sedikit bermasalah karena beberapa teknik image processing hanya bekerja pada kanal RGB pada visible light itu. Jadi untuk tugas verifikasinya nanti harus dipilih algoritma yang hanya bekerja untuk citra hitam putih.
Untuk 8 September ee yang lalu, perekaman video saya lakukan sejak kedudukan matahari sekitar 30 derajat di bawah ufuk ya. Jadi jauh sekali dari ee perlu diketahui bahwa Malaysia sudah merubah ee kehadiran fajar resmi itu adalah pada 18 derajat di bawah FUK. Tadinya 20 derajat tapi sudah dirubah menjadi 18 derajat. Seperti juga Muhammadiyah di organisasi Muhammadiyah di Indonesia itu merubah jadi 18 derajat. Jadi cukup banyak kalau tinggal ngambilnya dari 30 derajat ini masih cukup banyak waktu untuk membuktikan bahwa fajar tidak pernah muncul saat matahari telah terbit ee cukup waktu untuk ee membuktikan bahwa fajar tidak pernah muncul saat matahari telah terbit di UFI. Ya, masih rentangnya itu sangat panjang. Karena kalau di daerah ekuator itu kira-kira 1 derajat itu ee 4 menit. Jadi kalau 30 derajat itu kan 30 * 4 120 menit ya 120 menit cukup lama lah itu. Rekaman video saya hentikan pada kedudukan matahari sekitar 4 sampai 8 derajat di bawah. Jadi tidak sampai terbit matahari ya. video. Kemudian saya ee video kemudian saya ekstrak menjadi eh steel images ya, gambar-gambar lepas gitu, foto-foto lepas untuk menganalisis forensik digital kehadiran Fajar Sodq. analisisnya menggunakan saks algoritm yang menyimpulkan ternyata Fajar Sodik baru muncul pada 28 September adalah pada pukul 6 8 menit 1 detik yaitu pada saat matahari berada pada posisi 13,7 derajat di bawah ufuk ya. Jadi jauh sekali 13,7 dari 18 derajat yang resmi dianukan oleh pemerintah Malaysia, oleh ee kerajaan Malaysia itu ternyata 13,7 derajat. Ee nanti di hari-hari berikutnya malah ada yang 12,5, ada yang 12,4. Tapi tentu saja itu akan saya anukan sendiri-sendiri.
Dengan demikian ketika masjid-masjid di Terengganu mengumandangkan azan subuh pada pukul 5535 saat matahari 18 darjat di bahu ufuk, fajar Sodq sendiri baru lahir sekitar 17 menit 26 detik kemudian. Jadi saat muslim menyelesaikan salat subuh mungkin fajar sendiri baru muncul saat itu. Karena katakanlah ee ee azan kemudian diberi waktu 10 kira-kira 10 menitlah untuk ee qobliah subuh dan sambil menunggu iqamah gitu ya. Setelah iqamah kemudian salat. Salatnya katakanlah 7 menit. Jadi 17 menit pas begitu salat subuh selesai fajar baru muncul. Jadi saya yakin ini merupakan isu yang sangat serius secara syariat. Beberapa metode verifikasi menggunakan beberapa teknik image processing dari image dan jn ctaav saya lakukan. Namun seperti biasa, sakson algoritm memberikan hasil yang paling akurat dan paling sensit paling sensitif mendeteksi kehadiran pajar ya.
Ee perlu dicatat juga bahwa pada 2012-2013 saya pernah beberapa kali ke ee ke Terengganu ini meskipun tidak sampai ke Pulauedangnya ya. Secara umum daerah ini sangat indah. Bahkan saya pernah bermain tenis di University Terengganu, Malaysia. Ee jadi cukup banyaklah juga kenangan yang indah di Terengganu ini. Ee mari kita ee ikuti kajian berikut ini.
Baiklah, kita ee mulai kajian kita. Title dari ee video saya kalian ada ini adalah Halo Malaysia jangan tertipu salat subuh sebelum fajar. CAS September 8 September 2025. Seperti biasa saya Saksono e dari Sakson Academy. Saya Tono Saksono dari Sakson Academy Samic Sinence Research Institute. Ee seperti biasa saya perkenalkan dulu di ini adalah website yang saya baru saya kembangkan masih belum ee selesai tapi ee insyaallah nanti buku-buku yang kami terbitkan dan ee video-video yang kami rilis akan kami manage dalam ee website ini.
Baik, seperti biasa saya selalu ulangi ini agar ee bagi mereka penonton yang baru melihat bisa memahami ini. Jadi, bumi berputar pada porosnya. Akibatnya seolah-olah matahari itu mengorbit bumi. Nah, pada saat dia masih 18 derajat di bawah ya, 18 derajat itu di sini nih, sini ke sini itu ini dinamakan fajar astronomis. Kemudian naik 12 ee 12 derajat. Sekarang di sini 12 derajat. Jadi naik 6 derajat. Ini namanya fajar notika. Kemudian naik lagi 6 derajat. Jadi sekarang tinggal 6 derajat. Sini. Inilah fajar sipil. Kemudian ini ee terbit di timurnya berak terus tenggelam di barat. Tenggelam turun 6 derajat. Inilah senja sipil. Turun lagi 6 derajat senja Notika dan turun 6 derajat lagi senja astronomis. Ee ini pembagian ini diberikan oleh seorang pastur pastur Katolik pada abad ke-17-an tanpa data ya tanpa data. Tidak ada datanya. Sebetulnya itu kalau untuk keperluan administratif enggak apa-apalah. Misalnya kapan harus mematikan lampu, mematikan obor dan sebagainya untuk keperluan ee penghematan energi dan sebagainya itu oke saja. Lap persoalannya kemudian ini dipercaya oleh umat Islam bahwa fajar astronomis inilah fajar sodq. Ya, ini yang berbahaya. Kemudian senja astronomis inilah akhir waktu magrib dan mulainya waktu isya. Ini yang betul-betul ee misleading, sangat menyesatkan.
Pertama, karena pembagian fajar ini sebetulnya tidak ada ya. Tidak ada. Mengapa saya tahu? Karena saya punya 2.200 data yang saya koleksi dari seluruh dunia dari lima benua itu. Kemudian fajar astronomis itu fajar sodik itu bukan fajar astronomis. tidak ada itu yang 18 derajat pajak itu akan saya pas termasuk ee ee kasus ee tanggal 8 September di Terengganu ini. Oke. Ee pembagian fajar itu adalah dideklarasikan oleh Giovanni Baptistari Choli pada abad ke-17-an seorang pastor Katolik dan astronomi Italia. Pada tahun 1651 dia menulis buku Almagestum Novum dan mendefinisikan tiga tahapan rembang menjadi tiga berdasarkan depresi matahari di bawah ufuk ya. Rembang astronomis saat 18 derajat di bawah ufuk tadi seperti tadi ketika bintang-bintang yang cahayanya lemah itu mulai menghilang. Ya, itulah. Jadi itu adalah navigasi titik karena referensinya adalah bintang. Kemudian Rembang Notika adalah matahari 12 derajat di bawah ufuk. Saat matahari 12 derajat buah ufuk di situ dianggap terdapat cukup sinar sehingga ufuk mulai kelihatan sehingga untuk navigasi. Jadi misalnya pelaut itu melihat ada ufuk di sana. itu kita akan mendarat ke ke daratan itu karena referensinya adalah sekarang garis horizon, maka di itulah navigasi navigasi garis ya membedakan dengan navigasi titik yang tadi yang menggunakan bintang itu. Nah, kemudian Rembang sipil ini setelah cukup sinar cahaya ini bukunya ya. Ini bukunya Richoli adalah penentang utama Heliosentric System. Jadi dia percaya bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Jadi semua bintang-bintang matahari apa bahkan matahari ya matahari dan planet-planet semua yang benda langit itu semuanya mengelilingi bumi karena bumi adalah pusat alam semesta itu. Jadi si Ricioli ini adalah pendukung geocentric system bumi sebagai alat eh anu alat eh dan ini sudah terbukti bahwa ini keliru kan salah ini salah besar karena seharusnya adalah di dalam tata surya kita itu adalah helocentric system matahari adalah pusat tata surya kita. Oke, jadi itu. Tapi persoalannya anehnya justru orang yang penentang heliocentric system dan pendukung geocentric system itu yang jelas salah teorinya tapi kemudian teori pembagian fajarnya itu dijadikan referensi rujukan bagi semua astronom di dunia. Jadi ini persoalannya oke. Kalau untuk keperluan administrasi tadi untuk administratif, kapan lampu dimatikan, bagaimana pengelolaan ee apa tuh manajemen perkotaan misalnya kalau untuk anu kapan lampu harus dinyalakan, dia harus dimatikan dan sebagainya. Oke, itu oke. Tapi waktu termasuk ibadah muslim ini jadi persoalan karena umat muslim menganggap bahwa fajar astronomis itulah fajar sodq. Kemudian sanja astronomis itulah akhir masa salat magrib. Itu yang padahal pembagian fajar ini tidak pernah ada. Tidak ada. Nanti akan saya tunjukkan dalam B. Jadi, ya persoalannya kemudian ketika saya me menunjukkan me publikasi dengan ribuan data yang saya miliki, umat Islam tidak percaya. Mungkin karena inferioritas pada astronomat. Dianggapnya astronom barat itu ya pasti lebih canggihlah kira-kira gitu. Meskipun tanpa data ini persoalannya. Seluruh umat Islam telah menjadi korban konsep yang keliru ini. Karena fajar astronomis itu tidak ada. Fajar sodiq itu bukan fajar astronomis. Fajar astronomis bukan fajar sodiq. Pembagian fajar nurut tricioli itu tidak ada. Tidak pernah ada. Jadi padahal menurut ee Rasul juga hanya ada dua fajar yaitu fajar kazib dan fajar soddiq. Sayangnya hampir semua ulama muslim lebih percaya pada spekulasi yang tak memiliki data daripada bukti-bukti saintifik yang nyata. Ya, saya punya 2.200 data.
Nah, oke. Kemudian yang lebih parah lagi begini. Karena di ekuator itu para ulama klasik itu menganggap bahwa di ekuator itu ee atmosfer itu lebih tebal. Maka kalau di ekuator dari 18 derajat ini diturunkan lagi 2 derajat. Jadi itulah sebabnya Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura itu menggunakan 20 derajat untuk ee subuh. Jadi ini mataharinya 20 derajat turun lagi. Sedangkan isanya 18 derajat. Meskipun Malaysia beberapa tahun lalu merubah ini menjadi 18 ya juga organisasi ee besar Muhammadiyah di Indonesia menjadi 18. Tapi tetap itu belum cukup. Nah, sementara itu untuk lintang-lintang lebih tinggi ee itu dikurangi ini usia itna menggunakan 1614 kemudian ee Mesir ee itu menggunakan 19,5 derajat. Jadi karena ke lebih keut lebih ke atas lintang ke arah ee tinggi itu kemudian ee atmosfernya dianggap ee lebih tipis kemudian dikurangi ini umum alqura di ee Saudi Arabia 18, kalau di Eropa karena penggagasnya adalah orang Eropa, tetap 18 saja. Amerika lebih utara lagi jadi 15 tapi ini pun berubah empat kali. empat kali dalam dekade ini. Ada 15 kemudian 17,5 kemudian 18 balik lagi ke jadi empat kali sudah berubah. Jadi ini anunya. Nah, padahal kalau kita kaji dengan kita pikir dengan ee lebih anu ya ee lebih rileks gitu ya, rembangutika yang 12 derajat itu bahkan sebetulnya lebih cocok dengan Albaqarah 187. Karena apa? Rembang itu adalah navigasi ee ee garis melihat ufuk. Nah, itu pada Albaqarah 187 juga di gitu ee dihalalkan bagi kalian untuk menggauli istri kalian di malam hari gitu dan sebagainya. Kemudian wau wasrobu dan makanlah dan minumlah hatta yatabayakum sehingga jelas bagi kalian minal benang putih daripada benang hitam saat fajar. Dalam beberapa hadis penjelasannya bahwa benang itu bukan buah harfiah benang putih dan ee hitam tapi itu adalah pertemuan antara malam dan siang. pertemuan antara malam si saat fajar itu. Jadi memang ini fenomena astronomis ya.
Nah, saya memiliki 2.200 data Rembang pagi maupun malam sejak 2015 sampai 2025 sekarang ini ya. Panggilan fajar astronomi jadi itu eh resisnya reoli itu tidak ada ya. ee tidak tidak betul gitu. Kemudian dikoleksi menggunakan belasan sensor modern ya nanti akan saya tunjukkan. Silakan gunakan artificial intelligence untuk mencari data yang mendukung kehadiran fajar fisik, fajar astronomi, nautika, dan sipil ya. Di mana tidak ada. Memang tidak ada datanya. Saya sudah cari ini. Anehnya seluruh umat muslim masih persisten percaya bahwa pembagian fajar astronomis, Nutika dan sipil itu ada. Itu persoalannya. Jadi, eh kesimpulan saya, Fajar astronomis itu bukan fajar sodi ya. Fajar astronomisnya sendiri tidak ada ya.
E sensor modern yang saya gunakan. Saya menggunakan SQM yang ini non imaging sensor jadi sudah saya tidak pernah pakai lagi. Saya tidak rekomendasikan ini ya. Kemudian ada eh DSLR kamera ini ada yang 16 megapel, 32 megapel, 64 megapel saya gunakan semua. smartphone juga kita gunakan ada ee Samsung, iPhone, segala macamlah banyak sekali ini. Kemudian ini All sky camera, yaitu kalau kita diambil sky camera itu berarti setengah bola bola langit itu bisa terekam di atas kita. W drone juga saya pakai dua macam gitu ya. Nah, cuman kelemahan daripada sensor yang ada di sini, kalau kita akan mengambil data ya kita harus datang ke side-nya. Saya pernah mengambil data ke Mesir ya kita harus datang ke Mesir. Kita harus mengambil data Istanbul, kita pergi ke Istanbul. Mengambil data Amerika, saya pernah mengambil data Amerika ya. Saya bawa ke Amerika anunya bawa sensornya. Jadi persoalannya itu kan sangat mahal sekali. Nah, untungnya teknologi begitu canggih sekarang banyak sekali ee webcams yang beroperasi melalui internet dapat dioperasikan, dapat diakses melalui dari dari tempat tidur kita. Jadi itulah yang saya gunakan di saat termasuk mengambil data Terengganu ini. Jadi yang kanan ini adalah digital mobile surveillance system atau ada atau juga webcams itu bisa kita akses tanpa kita harus datang ke site-nya. Itu yang sangat menguntungkan. Termasuk yang Terengganu akan saya tunjukkan di sini datanya ini sudah banyak sekali ya. ee ada pokoknya sekitar 2.200 data lah ini. Jadi seluruh dunia sudah cakup seluruh dunia dan ternyata dari 2.200 data itu average-nya adalah 12,4 derajat. 12,4 derajat. Jadi tidak ada itu 18 derajat, tidak ada apalagi 20 derajat ya 12,4 derajat. Ee kemudian penyebarannya oke, maaf jumlah datanya sekitar 2.200 itu sampai 2024. Tapi 2025 ini saya sudah mulai mengambil data lagi. Kemudian cakupannya samping meliputi lima benua ya. Lima benua seluruh dunia saya sudah punya datanya. Paling selatan adalah New Zealand dengan lintang ini 4502 selatan dan 16840 eh East. Kemudian yang paling utara adalah Norway 6939 utara dan 1857 timur. Oke, ini penyebarannya dari 2.200. Data itu saya ambil sejak Juni 2015 sampai dengan Desember 2024 ya. Yang 2025 belum saya masukkan. Oke. Ini distribusinya eh populasinya distribusi population distribution-nya 20 derajat itu tidak ada 0 sama sekali 0%. 19 derajat juga 0%. 18 derajat ada 1,2%. 1,2%. Tapi ingat ya, ada juga yang 6 derajat. 6 derajat 1,4%. Jadi itulah distribusi normal seperti itu. Nah, jadi biasanya saya 2,5 kali standar deviasi di kanan dan kiri itu saya hilangkan. saya anggap outlier. Jadi saya ini buku yang sudah saya tulis dalam tentang prematur down ini ada empat buah buku ya total halaman 14 empat buku ini adalah 1700 halaman lebih semuanya tersedia di Amazon. Oke. Kemudian lampiran.
Nah, inilah saya masuk ke Terengganu, Pajar Sodq Terengganu September ee 8 September 2025 ya. Oke, jadi seperti tadi saya sudah katakan ee format ee datanya aslinya adalah video. Tapi kemudian video itu kan resolusinya setiap 1 detik itu ada 30 foto. Ee itulah sebabnya kalau kita run gitu dia smooth kan seperti ee ber apa tuh tidak ada tidak ada apa ya ee cedanya. Karena memang setiap detik itu ada 30 foto. Nah, tapi kalau saya akan memproses itu berarti kan ada ratusan ribu foto. Jadi, saya sampling. Samplingnya itu adalah setiap 20 detik. Jadi, foto satu kemudian foto ke ee dua itu 20 detik. Jadi ini foto pertama yang saya ambil adalah foto pertama saat matahari 29,6 derajat di bawah fuk. Jadi hampir 30 derajat ya pada pukul 5.321 pada saat itu standar deviasi. Standar itu menunjukkan kegelapan dari malam itu, kegelapan dari foto itu. Nah, bisa dilihat di sini foto itu meskipun ini sebetulnya gelap bulita, tapi karena ee webcam di Terenggan itu menggunakan sensor infrared near infrared. Jadi, ini kelihatan. Jadi ini sama sekali bukan bukan ee fajar ini bukan karena fajar karena memang ee sensornya menggunakan sensor ee infrared. Jadi ini kelihatan gitu ya. Jadi ada cuman hitam putih gitu. Nah kemudian ini foto yang terakhir 360 pada saat itu matahari 0,4 derajat. Jadi ini matahari sudah terbit ya. Sudah terbit saya anukan. Saya pikir bisa ini berubah jadi berwarna gitu. Ternyata belum juga berubah jadi berwarna. Nah, ini standar deviasinya ya. Ini menunjukkan bahwa ini sudah sangat terang karena tadi dibandingkan dengan 12,4 derajat itu kalau dia gelap gulita malam ya. Oke. Jadi antara foto ini dan foto ini fajar itu pasti muncul di antara itu ya. Itu yang anunya. Nah, kemudian, nah, ini foto setelah ee cukup sinar sehingga webcam itu sekarang berubah menjadi eh color ya. Eh, karena ee sudah cukup anu jadi kalau dia tidak ada sinar ini gelap gulita maka dia anu eh sinar apa sensor infrarednya yang bekerja. Sekarang sudah RGB-nya sudah bekerja. Ini hanya untuk memberikan anu saja, ilustrasi saja gitu ya. Oke.
Nah, kemudian eh prosesnya adalah saya menggunakan Saksono algorithm ya. Jadi ini fotonya nomor anunya ID-nya ID fotonya ini ee waktu ya. Kemudian ini adalah kedudukan matahari sejak 29,6 derajat di bawah upuk sampai dengan tentu saja ini sebetulnya sampai sekitar 0,4 derajat. Tapi yang untuk pemodelan ini hanya digunakan sampai yang 7,5 derajat ini. Oke. Kemudian ini standar deviasinya. Inilah menunjukkan kegelapan malam ini. Jadi bisa dilihat sejak 30 derajat di bawah ufuk ini gelap terus ini sekarang sekarang bagaimana ritually bisa membedakan antara 30 derajat dengan 20 derajat dengan 18 derajat di sini 18 derajat. Bagaimana pada abad ke-17 orang bisa membedakan itu. Kita saja dengan dengan teknologi yang sudah modern sekarang ini tidak bisa. Bila ada yang bisa membuat algoritm untuk membedakan kegelapan malam antara 30 derajat dengan 20 derajat dengan 18 derajat silakan. Tapi insyaallah enggak bisa. Enggak bakal bisa. Jadi inilah yang diadikan oleh ee ee Albaqarah 187. Perpotongan antara malam dan siang. Siangnya itu ini perpotongannya adalah di sini. Di sini itu terjadinya pada saat 13,7 derajat di bawah. Jadi fajar sesungguhnya muncul pada saat pada foto ke-195 pada pukul 68.801 801 saat matahari 13,7 derajat di bawah ufuk. Jadi kalau misalnya ini adalah fajar fajar true-nya fajar sodiknya yang muncul 68 padahal eh official eh azan di Terengganu di Malaysia itu kan 18 derajat. Jadi pukul 5035. Sedangkan ee matahari terbit itu pukul 6.59. 5914. Jadi kalau ini dikurangi ini itu rentang official itu yang offisial menurut kerajaan Malaysia itu ada 1 derajat eh 1 jam 8 menit 39 detik. Tapi yang sesungguhnya adalah ini dikurangi ini hanya 51 menit 13 detik saja. Jadi kalau hari itu umat Islam ber ee azan pada saat 5.50 kemudian ada 10 menit ee ee menunggu iqamah sambil salat qabliah subuh 10 menit. Kemudian jadi kira-kira pukul .00 gitu ya ee pukul .00 gitu. Kemudian ee salat pukul 6.00 salat katakanlah salatnya 7 menit gitu berarti 1 menit kemudian fajar itu baru muncul karena fajar muncul 4608 ya. Jadi ini sangat serius sekali. Belum lagi kalau salatnya cuma 5 menit berarti masih 3 menit lagi. Jadi ini sangat serius sekali. Sangat serius sekali. Oke.
Nah, sekarang untuk verifikasinya saya menggunakan original image, kemudian edge detection, dan 3D service. Ah, ini anunya eh ini adalah original image-nya ya, original image. Kemudian ini edge detection. Ini kalau deteksi ininya masih ada sangat tipis sekali ini. Kalau nanti fajar sudah muncul karena ini anu ya ada sebetulnya ada batas ini ada tapi kalau nanti fajar sudah muncul ini semakin tebal. Nah, ini juga begitu. Ini pasti anu ini foto foto pertama saat 29,6 derajat di bawah ukat 28 kom e 28 derajat di bawah di bawah 26,4 belum ada ini 23 21, 18 ini 18 derajat masih gelap. Ini ada Venus ini Venus bisa terdeteksi di sini. Ini juga terdeteksi di sini. Vinus ya. Jadi ee jadi 18 derajat tidak ada belum ada 16.6 14 e9 141,7. Inilah saksono algoritmeksi kehadiran fajar di sini. Tapi ini belum bisa belum bisa mendeteksi. Ini juga belum ada belum terdeteksi oleh ini. Ee mengapa itu 13,7? Karena ini kan tadi sudah saya jelaskan sekarang 13,3 13. Ee 3 12.9. Nah, di sini sudah anu nih. Coba saya kembalikan satu ST lagi. Nah, ini ini kelihatan naik ini. Nah, ini kelihatan naik 12,4. Jadi, 3D surface bisa mendeteksi pada, derajat di bawah karena ini kemudian semakin jelas. Nah, ini semakin jelas ya. Jadi itulah ini juga seperti itu. Sekarang ini semakin tebal kelihatan ini. Jadi edetection baru dapat mendeteksi fajar pada saat matahari 12,0 derajat di bawah. Nah, ini semakin jelas. Ini juga semakin jelas. Jelas ini juga. Jadi kesimpulannya saksional algoritm masih paling akurat atau sensitif mendeteksi kehadiran pajar. Fajar terdeteksi saat matahari 13,7 derajat di bawah ya tidak ada 18 derajat. 3D surface baru mampu mendeteksi fajar saat matahari 12,4 derajat di bawah. Ed detection baru mampu mendeteksi fajar saat matahari 12.0 ee derajat di bawah. Meskipun video direkam sejak matahari 30 derajat di bawah ufuk kelahiran fajar pada 20 derajat 18 derajat tidak pernah ada ya tidak pernah ada. Oke. Pembagian tiga fajar astronomis, notika, dan sipil tidak pernah ada secara empiris. Untuk pemantauan klien fajar, penggunakan penggunaan webcam color tampaknya lebih baik daripada infrared webcam ya. karena kita bisa lebih ee lebih natural lah gitu ya. Kalau nanti kalau misalnya gelap ya gelap gitu nanti kalau ee berwarna ya kelihatan gitu. Lebih dapat dipahami oleh orang awam memberikan kebebasan teknik verifikasi yang lebih beragam. Bila ada otoritas negara maupun agama yang akan menginstall webcam saya lebih merekomendasikan webcam color untuk pemantauan fajar. Ya, tentu saja demikianlah semoga bermanfaat. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.