Transcription
Kita membicarakan masalah usul Baginda Ali. Jadi, usul Baginda Ali ini adalah pembicaraan antara Baginda Ali dengan Rasulullah. Di mana dalam pembicaraan itu adalah menceritakan tentang syariat, tarekat, hakikat, makrifat. Jadi, syariat, tarekat, hakikat, makrifat itu adanya itu ketika Sayidina Ali bertanya kepada Tuan Rasulullah. Ya kan, sebagai dasar daripada ajaran tasawuf. Heeh. Dia berdasarkan daripada kitab usul Baginda Ali. Adapun kemudian daripada itu, inilah suatu risalah yang kecil dan menyatakan usul Baginda Ali. Barang siapa yang mengetahui daripada usul Baginda Ali ini, isinya jadi sempurna amalnya.
Sembah Sayidina Ali, "Ya Tuanku, Ya Rasulullah, apa istana syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat?" Maka bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, "Adapun istana syariat itu tubuh kita. Istana tarekat itu hati kita. Istana hakikat itu ruh kita. Istana makrifat itu adalah sir." Jadi, maksudnya tuh diri kita ini mengandung syariat, tarekat, hakikat, makrifat. Tubuh, hati, roh, dan sir. Tubuh, hati, nyawa, dan sir.
Barang siapa yang dia mengenal perjalanan sampai di hakikat, berarti dia sampai di tingkat ruh. Kalau dia makrifat, sama di tingkat sir. Maka sembah Sayidina Ali, "Ya Tuanku, syariat, tarekat, hakikat, makrifat, apa kejadiannya?" Tadi yang pertama tadi istananya kan. Ini kejadiannya. Kejadian syariat itu tanah. Rasulullah kejadian tarekat itu air. Hakikat itu angin. Kejadian makrifat itu api.
Jadi, makrifat itu adalah api. Api itu di dalam itu adalah darah. Itu yang meliputi seluruh alam. Ya kan. Kalau hakikat itu pada angin. Maksudnya angin itu adalah nafas yang berzikir Allah. Kalau api ini kan sudah duduknya di perasaan kita. Maka sembah Sayidina Ali, "Ya Tuanku, adapun air itu air apa? Angin itu angin apa? Tanah itu tanah apa? Dan api itu api apa?"
Maka sabda Rasulullah. Jadi Rasulullah ini yang menjawab, Sayidina Ali yang bertanya. "Adapun air itu Nur Muhammad. Tanah itu badan Muhammad. Angin itu roh Muhammad. Dan api itu terang Muhammad." Jadi orang makrifat itu sampai di terang Muhammad. Kalau roh Muhammad itu bercahaya, angin itu roh Muhammad. Jadi kalau kalau kita tuh diri kita tuh mengandung bercahaya, berarti kita sampai tingkat hakikat. Kalau sampai di terang, berarti makrifat.
Bermula sembah Sayidina Ali, "Ya Tuanku, adapun syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat, apakah berlain-lainan atau samakah amalnya?" Jadi kita bicara masalah amalnya orang syariat, tarekat, hakikat, makrifat. Adapun amalnya orang syariat itu orang yang memulai di palu. Maksudnya di palu, orang yang beramal di paksa. Nah, itu amalnya orang syariat. Amalnya orang tarekat itu semata-mata mengerjakan segala pesuruh. Jadi dia sembahyang itu dia mengikuti aturan disuruh oleh Allah Taala. Dan amalnya hakikat itu mengesakan zat Allah Taala. Hanya Allah Taala aja yang ada. Dalilnya, "Qulhuallahu Ahad, Allahus Samad, lam yalid walam yulad, walam yakullahu kufuwan Ahad." Dan amalnya orang makrifat itu tetap zat Allah Taala. Maksudnya dirinya tuh mengandung memahami zat Allah Taala tuh tetap di dirinya selama 24 jam.
Jadi dalam hal ini yang dipak, yang bisa menyatukan itu ada dua, hakikat dan makrifat yang masuk di dalam syahadat. Bermula sembah Sayidina Ali, "Ya Tuanku, syariat, tarekat, hakikat, makrifat, berlain-lainan nafsunya." Jadi nafsunya orang syariat, nafsu amarah. Matinya hancur luluh ceraiberai di dalam bubur. Jadi orang syariat itu matinya nafsunya amarah. Matinya hancur luluh cerai berai di dalam kuburnya. Orang tarekat itu nafsunya sawiyah. Matinya kurus kering di dalam kuburnya. Nah, yang paling penting itu hakikat. Hakikat itu nafsunya orang hakikat itu adalah luamah. Matinya lemak, lamak, gemuk, putih, kuning di dalam kuburnya. Dan yang terakhir matinya orang makrifat itu nafsunya orang makrifat itu nafsunya itu mutmainah. Matinya lenyap di dalam kuburnya. Jadi kalau ingin lenyap di dalam kuburnya, kita harus menjadi orang makrifat.
Maka sabda Sayidina Ali, "Ya Tuanku, adapun syariat, tarekat, hakikat, makrifat, berlain-lainan atau samakah akan sembahyangnya?" Nah, ini paling pentingnya sembahyangnya. Jadi sembahyangnya orang syariat itu kiblatnya menghadap Baitullah. Memberi tubuhnya bercahaya. Itu kiblatnya Baitullah. Kiblatnya menghadap Baitullah. Tubuhnya bercahaya. Salatnya orang tarekat itu kiblatnya menghadap Baitul Makmur di langit yang ketujuh. Bercahaya. Salatnya orang hakikat itu kiblatnya menghadap langit yang ketujuh. Memberi rohnya atau nyawanya bercahaya. Salat orang makrifat itu akan kiblatnya menghadap seperti firman Allah Taala di dalam Al-Qur'an, "Fa ainama tuwallu fa samma wajhullah." Artinya, barang di mana kamu hadapkan akan mukamu atau hatimu atau akalmu atau rohmu, maka di sanalah wujud Allah Taala. Maka bercahaya salatnya dan imannya terang tiada sepertinya.
Oleh sebab itu, carilah ilmu sampai di tingkat hakikat makrifat supaya sempurna diri kita. Bermula sembah Sayidina Ali, "Ya Tuanku, adapun syariat, tarekat, hakikat, makrifat, berlainan atau samakah pekerjaannya?" Ini pekerjaannya. Pekerjaan syariat itu mengata syahadat, salat, puasa, zakat, dan naik haji. Pekerjaan tarekat itu artinya mentasbihkan, mentasbihkan barang yang diamalkannya. Menetapkan pekerjaan hakikat itu senantiasa mengesakan Allah Taala, menafikan barang yang lainnya. Pekerjaan makrifat itu semata-mata tetap adanya dan sendirinya Allah Taala. Jadi pekerjaan hakikat itu semata-mata tetap adanya dan sendirinya zat Allah Taala. Jadi yang paling penting itu hakikat dan makrifat. Ini pekerjaannya.
Kemudian bermula sembah Sayidina Ali, "Ya Tuanku, syariat, tarekat, hakikat, makrifat, samakah alamnya?" Maka sabda Rasulullah, "Syariat itu perjalanan tubuh, yakni alam malakut. Alam malakut. Hakikat itu alam malakut. Perjalanan hati. Hakikat itu alam jabarut. Perjalanan ruh. Makrifat itu alam lahut. Perjalanan sir." Nah, jadi kalau kita sudah sampai makrifat, kita sampai di sir. Tubuh, hati, nyawa, sir. Berarti kita sudah makrifat. Itulah perjalanan di alam lahut. Maksudnya lahut itu alam ketuhanan.
Maka sembah Sayidina Ali, "Ya Tuanku, bagaimanakah ilmunya orang syariat?" Jadi ilmunya orang syariat itu adalah ilmu yakin. Ilmunya orang tarekat itu ilmu yakin. Ilmunya orang hakikat itu ainul yakin. Ilmunya orang makrifat itu kamalul yakin. Jadi dia kamalul yakin.
Sembah Sayidina Ali, "Ya Tuhanku, bagaimanakah kebaktiannya?" Jadi kebaktian orang syariat itu tobat, segala doa. Kebaktian tarekat itu sabar dan rida. Kebaktian hakikat itu syukur barang yang datang daripada Allah. Kebaktian makrifat itu ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah Taala.
Maka sembah Sayidina Ali, "Bagaimanakah kejadiannya yang empat itu?" Jadi syariat itu kejadiannya af'al. Syariat itu kejadiannya asma. Hakikat itu kejadiannya sifat. Makrifat itu kejadiannya zat. Bermula Sayidina Ali, "Ya Tuhanku, adapun yang empat itu apakah zatnya?" Maka menjawablah Rasulullah, "Adapun syariat itu kulit bulu pada diri kita. Tarekat itu darah daging. Hakikat itu urat tulang. Makrifat itu otak sumsum." Jadi makrifat itu dia bermain di otak karena otak itulah puncak daripada makrifat dengan zikirnya tiada suara dan tiada huruf.
Maka sembah Sayidina Ali, "Adapun yang empat itu bagaimanakah maujudnya?" Maujudnya sabda Rasulullah, "Syariat itu pendengaran. Tarekat itu penglihatan. Hakikat itu penciuman. Makrifat itu pengasa." Perasaannya Allah tuh hadir.
Sembah Ali, "Ya Tuhanku, adapun yang empat itu bagaimana rohnya?" Maka sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, "Syariat itu rohani. Tarekat itu roh Rahman. Hakikat itu roh idafi. Makrifat itu Rabbani." Jadi orang makrifat itu dia bermandi di Rabbani karena dia sudah sampai di mengetahui rasa Tuhan. Daripada "Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa Rabbahu." Akhirnya, akhir kalam, asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirahmanirahim. Allah itu nama bagi wajibul wujud. Adanya itu tiada bertempat. Dalilnya Esa, "Qulhuallahu Ahad, Allahus Samad." Esa. Apakah maksud? Maka berbilang menjadi lud. Kenapakah alif isbat disebut Allah Muhammad? Alam meliputi sudah bertahan. Menolak bersekutu dan bersan. Di manakah jalani Tuhan? U dengan Tuhan dengar di sini. Kami nasihat kepada sekalian handai sahabat. Bernama Allah, yaitu empat hal: asma, sifat. Jadi Allah itu terdiri daripada alif, lam, lam, ha. Isyarat daripada empat asma, sifat, zat. Itulah yang memenuhi jihad delapan. Maksudnya jihad delapan itu atas, bawah, kanan, kiri, muka, belakang. Ada delapan. Jadi asma, sifat, zat Allah itu meliputi jihad delapan. Wujudnya itu tiada sebenar. Karena yang maujud Allah sendirian. Yang empat itu tiada cerainya. Semuanya itu Allah sendiri yang punya wujud. Yang lain fana. Semuanya itulah hakikat yang sebenarnya. Allah itu zahir bertampan. Karena yang empat tiada lain. Tiada lindungnya. Barang siapa jangan lagi pengap dan jangan lagi lalai dan lengah supaya bertemu dengan Allah. Tiada di mana ada kamu di situ jual. Jadi Allah Taala tuh di mana ada kamu di situ juga. Maksudnya ada di diri kita semua. Allah punya perbuatan. Itulah sebenarnya pandang hakikat Allah. Wahdatul wujud. Maksudnya keesaan. Itulah pandang di-intai zahir dan batin. Sama tiada bercerai. Jadi Tuhan dia bertampan. Setiap nama berlainan kepada yang punya nama. Yang punya nama itulah disebut rahasia.
[Musik]
Lamun pinandu pasul. Maksudnya pinandu tetap kenal. Kita bisa melihat Allah karena Tuhan itu adalah dia berkampan di nama. Sungguh-sungguh nama itulah yang kita pandang. Karena setiap nama tidak berlainan kepada yang punya nama. Yang punya nama itulah si rahasia. Jadikan Esa pemandangmu. Tuhan maujud hampir padamu. Cobalah kenal akan diri. Akulah Tuhan.
[Musik]
Tuhanku, sampai kita menyembah Tuhan, menyedari dan kenal yang itu Allah. Maksudnya Allah yang ada tiada yang berkehendak. Hanya Tuhannya kehendak. Kehendakmu itu dikehendakkannya. Tahumu itu ditahukannya. Hidupmu itu ialah hidupnya. Jadi hidupmu itu ialah hidupnya. Heeh. Maksudnya zahir batin abdi. Jadi nang hidup itu adalah hidupnya Tuhan. Kita cuma dipinjami hidup tadi itu. Itulah jalan mencari Tuhan. Sifat dirimu itu perakan. Jadi di diri zahir di badan karena satu seluas. Karena Tuhan dia menyamar menjadi manusia. Jadi manusia itulah yang mengandung nur Tuhan. Mengandung diri Tuhan. Mengandung asma Tuhan. Esa pengakuan sudah didapat. Seperti perkataannya, "Qulhuallahu Ahad." Itulah sebenarnya orang makrifat. Karamlah ia di lautan. Ia menjadi zat semata-mata. Itulah bukti menyebut Allah. Hati Tuhan. Hidup dirinya mati. Hilanglah tubuh. Tuhan mengganti. Inilah perjalanan sempurna pasti.
Dengar di sini sabda Rasulullah, "Awaluddin ma'rifatullah." Yakni awal agama mengenal Allah. Kadim dan muhadas dibedakanlah. Maksudnya kadim yang artinya kadim yang dahulu adanya. Sedangkan muhadas yang kemudian adanya. Bedanya itu tiada cerainya. Adapun yang kadim yaitu Tuhan. Dan yang muhadas alam sekalian. Yang dua itu sangat berhampiran. Diulah bersungguh-sungguh.
[Musik]
Membicarakan di situlah Tuhan. Hati-hati, Bang. Supaya jangan sampai tersalahnya Tuhan. Tiada berlainan hampirnya. Bukan hulul dan ittihad. Artinya hulul ada ketempatan di dalam satu jihad yang delapan. Maksudnya di salah satu jihad, atas, bawah, kanan, kiri, muka, belakang. Buat delapan. Tuhan itu bertempat di dalam. Di dalam diri. Nah, itu berarti sesat. Heeh. Artinya hulul ada ketempatan di dalam satu jihad delapan. Bertempat di kiri atau di kanan, di belakang atau di hadapan, atau di atas atau di bawah, atau di luar atau di dalamkah. Begitulah iktikad yang amat salah karena menepatkan keadaan Allah. Jadi Allah itu meliputi alam semesta. Allah muhit. Bukan ittihad pula kepada hakikat wujudnya dua disatukan. Satunya itu dua campuran. Bukan begitu kehampiran Tuhan. Misalnya seperti banyak dengan batu dicampur dua menjadi satu. Itu namanya bersekutu. Jadi hulul dan ittihad itu sesat. Adapun sebenarnya kehampiran Tuhan itu duanya itu cuma sebutan. Ikan. Iktijam dan yakin. Diumpamakan kapas dengan kain. Kain itu mengandung kapas. Ya kan. Maksud diri kita mengandung Tuhan. Allah itu tentulah ada wajib dikenal. Tiada keterangan. Firman sabda. Kamu masukkan ke dalam dada. Apabila Tuhan itu tersingkap. Itulah najis yang paling rigat. Tidak diterima amal ibadat. Kekal di neraka selama-lamanya. Jadi paham hulul dan ittihad itu adalah sesat. Yang benar adalah paham wahdatul wujud. Yang ada hanya Allah Taala. Maksudnya Allah Taala yang ada tu dirinya. Karena Allah itu adalah sebuah nama. Tapi setiap nama tidak berlainan kepada yang punya nama. Yang punya nama itulah yang disebut rahasia.
Akhirul kalam kami ucapkan wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Wa itu yang tadi yang pertama itu kalau dimasukkan.