📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

TPE BARU, bag 2 : LITURGI SABDA

Terry Ponomban14:39

Transcription

[Musik] G-shock account no firmanMu YouTube UHO Firman cintamu kau Mi perih lu nyuruh saudara-saudari.

Bagian kedua ekaristi adalah Liturgi Sabda.

Di Turki, Sabda dimulai sejak bacaan pertama terus-menerus sampai pada doa umat.

Khusus untuk bagian ini, diawali dengan duduk.

Hai, ketika kitab suci dibacakan, umat duduk. Duduk adalah sikap hamba yang siap sedia mendengar, siap sedia menerima, merenungkan, dan melaksanakan Sabda Tuhannya.

Hai, bacaan-bacaan terdiri dari bacaan pertama, biasanya diambil dari kitab suci Perjanjian Lama.

Kemudian ada Mazmur Tanggapan, kemudian bacaan kedua, biasanya diambil dari kitab suci Perjanjian Baru, kemudian bacaan Injil.

Selama bacaan pertama, Mazmur Tanggapan, dan bacaan kedua, umat tetap duduk.

Bacaan dan Mazmur dibawakan dari mimbar Sabda.

Hai, sesudah pembacaan, lektor mengungkapkan dengan jelas, "Demikianlah Sabda Tuhan," dan umat menjawab, "Syukur kepada Allah."

Sesudah itu, menyusul saat Hening, baik sesudah bacaan pertama maupun bacaan kedua, dengan tujuan untuk lebih meresapkan Sabda Allah yang baru didengar.

Hai, tadi dikatakan pembacaan dilakukan dari mimbar Sabda, atau dalam istilah liturgisnya, Ambo.

Ambo berasal dari kata Yunani "Ana by me in," yang artinya naik, bergerak dari bawah ke atas.

Mengapa Ambo adalah sebuah tempat di mana orang naik dari bawah ke atas?

Hai, karena Ambo merupakan tempat membacakan kitab suci, tempat mewartakan Sabda Tuhan.

Sabda Tuhan harus digemakan, diwartakan dari ketinggian, maka orang perlu naik ke Ambo, ke mimbar.

Karena itu, posisi mimbar selalu lebih tinggi dari tempat duduk umat.

Kalau kita perhatikan gambar yang ada di samping ini, inilah sebuah Ambo dari gereja zaman dulu.

Ada tangga-tangga naik ke atas, dan di atasnya ada semacam payung.

Hai, yang bertujuan sebenarnya untuk menggemakan, memantulkan suara lektor atau pengkotbah, dan bentuknya juga bagaikan mutiara, kulit mutiara yang terbuka.

Karena Sabda Tuhan adalah Mutiara Iman, Mutiara Kehidupan, Mutiara Sabda Allah.

Hai, sesudah bacaan pertama dibacakan atau dinyanyikan, Mazmur antar bacaan atau Mazmur Tanggapan yang ada hubungannya selalu dengan bacaan-bacaan yang dipilih.

Sesudah bacaan kedua, Solis atau diakon atau lektor menyanyikan haleluya.

Hai, lengkap dengan baik pengantar Injil.

Aleluya sebenarnya berarti "Pujilah Tuhan," selalu dinyanyikan.

Selalu dinyanyikan.

Hai, kalau tidak dilakukan, tidak dinyanyikan, bait pengantar Injil dengan atau tanpa aleluya dapat dihilangkan.

Sebelum diakon membacakan Injil, ia berlutut di depan Imam untuk mendapatkan berkat.

Imam biasanya mengucapkan doa, "Semoga Tuhan menyucikan hati dan mulut saudara supaya saudara pantas dan sanggup mewartakan Injil-Nya dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus."

Di akun menjawab, "Amin."

Hai, jika tidak ada di akun dan Imam sendiri yang membacakannya, maka sesudah mengisi pedupaan dan memberkatinya, Imam menundukkan kepala dengan hormat ke hadapan altar dan berkata dalam hati, "Allah Yang Mahakuasa, bersihkanlah hati dan mulutku supaya aku dapat mewartakan Injil sucimu dengan pantas."

Lihat betapa membaca Sabda Tuhan adalah satu tugas penuh tanggung jawab, suci, dan mulia.

Baik diakon maupun Imam perlu berdoa terlebih dahulu, apalagi lektor yang terdiri biasanya dari kita umat awam.

Sangat perlu mempersiapkan diri, bahkan berdoa pribadi untuk tugas itu.

Kemudian diakon atau Imam menuju ke mimbar.

Bila perlu, diiringi oleh pelayan produk dan pelayan.

Hal ini penting, biasanya pelayan berjalan sendiri dan Imam berjalan sendiri.

Mestinya dengan Agung dan megah, dupa dan lilin mengawal dan mengarak Imam atau diakon menuju Ambo, menuju mimbar Sabda.

Mengapa digunakan dupa?

Hai, untuk penghormatan terhadap kitab suci.

Dupa itu fungsinya menguduskan, menyucikan, sebab Sabda Alam adalah Sabda Tuhan yang suci.

Asapnya adalah lambang doa yang naik ke surga dan disambut oleh Allah.

Hai, asap juga mengungkapkan kehadiran Tuhan.

Begitu juga, keharumannya adalah lambang surgawi, lambang keilahian yang turun menyatu dengan umat yang menyambut awam yang bersabda.

Hai, pembacaan Injil diawali oleh diakon atau Imam dengan menyapa umat, "Tuhan bersamamu."

Hai, umat menjawab, "Dan bersama rohmu."

Inilah Injil Suci Menurut Santo Markus, Lukas, Matius, atau Yohanes.

Umat menjawab, "Dimuliakanlah Tuhan."

Perhatikan, dahulu Imam mengatakan, "Inilah Injil Suci Yesus Kristus," tetapi sekarang sesuai teks Latin yang asli, bukan lagi Injil Yesus Kristus, tetapi "Inilah Injil Suci Menurut Santo ini atau itu."

Sementara itu, diakon atau Imam menandai buku dengan ibu jarinya dan dirinya sendiri, padat dahi, mulut, dan dadanya dengan tanda salib.

Apakah hanya Imam atau diakon yang membuat tiga tanda salib ini?

Hai, boper menuliskan dengan ibu jari.

Imam membuat tanda salib pada Injil, lalu pada dahi, mulut, dan dadanya.

Hal yang sama dapat dilakukan juga oleh umat, yakni menandai dahi, mulut, dan dadanya.

Hai, Erpan atau makna dari tiga tanda salib ini pada dahi, semoga tetap batuan dipahami dengan akal budi, diwartakan dengan mulut, dan disimpan dalam hati.

Sesudah itu, diakon atau Imam mendupai Injil jika ada pedupaan.

Sesudah Injil dibacakan, diakon atau Imam berseru, "Demikianlah Sabda Tuhan," dan umat menjawab, "Terpujilah Kristus."

Hai, perhatikan, bukan lagi "Demikianlah Injil Tuhan," tetapi "Demikianlah Sabda Tuhan."

Jawaban kita tetap sama, "Terpujilah Kristus."

Tidak lagi dikatakan bahwa Imam atau diakon harus mengangkat buku evangeliarium.

Hai, sesudah Injil, Imam atau diakon menyeruhkan aklamasi, "Demikianlah Sabda Tuhan."

Bisa diucapkan, bisa juga dinyanyikan oleh.

Hai, perhatikan, kita tidak lagi menggunakan pola lagu yang lama, "Berbahagialah mereka yang mendengar Sabda Tuhan," tidak lagi digunakan.

Hanya satu cara, "Demikianlah Sabda Tuhan," dan umat menjawab, "Terpujilah Kristus."

Sambil Imam atau diakon mencium buku evangeliarium, ia berkata dalam hati, "Semoga karena pembacaan Injil, dosa-dosa kami dihapuskan."

Hai, kalau brani garis dipimpin oleh Uskup, maka dia pun mencium evangeliarium atau membawa evangeliarium kepada Uskup untuk dicium sambil berkata, "Semoga karena pembacaan Injil, dosa-dosa kami dihapuskan."

Dalam perayaan meriah, Uskup dapat memberkati umat dengan evangeliarium baru.

Sesudah itu, diakon membawa evangeliarium ke meja samping atau ke tempat lain yang lebih anggun dan serasi.

Tentang pembacaan Sabda Tuhan, dikatakan tidak diijinkan untuk mengganti bacaan-bacaan dan Mazmur Tanggapan yang berisi Sabda Allah dengan teks-teks lain yang bukan dari Alkitab.

Misalnya, pada hari proklamasi, tidak bisa diganti dengan Pembukaan UUD 45 atau dengan teks proklamasi atau dari bacaan seorang riwayat hidup seorang Kudus.

Bacaan-bacaan hendaknya dibawakan oleh lektor, tentu yang melatih dan mempersiapkan diri, sedangkan Injil dimaklumkan oleh diakon atau Imam lain yang tidak memimpin perayaan.

Selanjutnya, homili atau khotbah pemilih dibawakan oleh Imam atau diakon pada setiap hari Minggu dan hari pesta.

Sangat dianjurkan pula untuk hari-hari lain.

Perhatikan, sesudah memilih, Imam, diakon, maupun umat mengambil saat ini untuk meresapkan dan merenungkan kembali pesan-pesan Tuhan yang disampaikan tadi oleh.

Hai, kemudian menyusul syahadat atau pengakuan iman.

Umat berdiri pada saat mengucapkan syahadat.

Syahadat ini dapat dinyanyikan atau diucapkan.

Tersedia dua pola lagu untuk kalimat pertama syahadat.

Disediakan juga dua rumusan syahadat, yaitu syahadat Nicea Konstantinopel dan Syahadat pembaptisan gereja Romawi.

Seperti yang ditetapkan para rasul, kita lebih mengenalnya dengan Syahadat panjang dan Syahadat singkat.

Mengapa syahadat singkat disebut syahadat pembaptisan gereja Romawi?

Karena dahulu kala, syahadat ini harus diucapkan oleh calon-calon baptis untuk memperkaya Bung dalam gereja Katolik Roma.

Hai, perhatikan, pada saat mengucapkan syahadat, ketika kita tiba pada kata-kata berikut ini, "Ia dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh perawan Maria, dan menjadi manusia," semua umat beriman menundukkan kepala, termasuk Imam dan diakon.

Sedangkan pada hari raya kabar sukacita dan pada hari raya Natal, semua berlutut.

Mengapa? Untuk mengenang dan menghormati peristiwa inkarnasi Allah menjadi manusia.

Perhatikan juga, syahadat adalah pengakuan iman, jadi jangan dikatakan doa.

"Aku percaya" atau "doa syahadat."

Syahadat adalah pengakuan iman.

Hai, sesudah memilih dan syahadat premi Kharisma, dilanjutkan dengan doa umat yang dikenal juga dengan nama doa universal atau doa umat beriman.

Dibacakan dari mimbar atau dari tempat lain yang cocok.

Demikian, kitab siap untuk berpindah pada Liturgi ekaristi.