📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Tarikh Islam-7: Tarikh (Wafatnya) Abu Bakar Ash-Shiddiq #6 Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A

Firanda Andirja46:09

Transcription

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah. [Musik] [Musik]

Pada kesempatan kali ini, kita akan melanjutkan pembahasan tentang kisah Abu Bakar As Siddiq. Ini adalah pertemuan yang terakhir tentang kisah beliau. Insya Allah, pada kesempatan berikutnya, kita akan bahas tentang kisah Umar Bin Khattab radhiyallahu ta'ala anhu.

Tahun 13 Hijriyah, Abu Bakar As Siddiq mulai berpikir untuk menyerang Romawi sebagai bentuk melaksanakan sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Karena Nabi yang memulai penyerangan terhadap Romawi melalui Perang Tabuk, ya sebelumnya perang Mu'tah yang dipimpin oleh tiga pimpinan, yaitu Ja'far bin Abi Thalib, Abdullah, dan kemudian ketiganya meninggal dunia mati syahid.

Lalu dipimpin oleh Khalid bin Walid, setelah itu melanjutkan namanya Perang Tabuk pada tahun 9 Hijriyah. Namun, tidak jadi peperangan karena Romawi gentar. Kemudian Rasulullah SAW mengirim juga Usamah bin Zaid.

Ketika tahun 13 Hijriyah di awal tahun, setelah menyelesaikan para murtaddin dan mengalahkan banyak peperangan dalam melawan Persia, sekarang Abu Bakar As Siddiq mulai berpikir untuk menyerang Romawi. Apa yang beliau lakukan tidaklah lain kecuali kelanjutan dari sunnah yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Adapun sejarah kenapa Rasulullah menyerang ke Tabuk tentu ada sejarah-sejarahnya. Kenapa ada perang Mu'tah? Kenapa ada Perang Tabuk? Karena Romawi yang pertama kali cari gara-gara. Romawi yang pertama kali gara-gara, kalau kita lihat sejarah peperangan, tidak pernah Nabi SAW menyerang dulu.

Nabi SAW tidak pernah melakukan itu. Semua yang Nabi lakukan Shallallahu Alaihi Wasallam adalah balik menyerang setelah diganggu terlebih dahulu, baik oleh orang Yahudi, baik oleh Persia, maupun yang lainnya. Oleh karenanya, Rasulullah SAW tidak pernah berpikir untuk menyerang Habasyah, padahal Habasyah adalah negeri Nasrani.

Karena Habasyah punya jasa kepada kaum Muslimin dengan kebaikan Raja Asih. Apa yang dilakukan oleh Abu Bakar adalah kelanjutan dari sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Maka di bulan Rajab, Abu Bakar As Siddiq radhiyallahu ta'ala anhu kemudian membuat tempat pasukan yang terpisah-pisah menuju negeri Syam dari berbagai arah. Yang pertama, pasukan dipimpin oleh Yazid bin Abu Sufyan ke arah Damaskus. Yazid bin Abi Sufyan memimpin pasukan menyerang ke Damaskus.

Yang kedua, pasukan dipimpin oleh Syarah Bil bin Hasanah ke arah Yordania. Kemudian pasukan ketiga dipimpin oleh Abu Ubaidah Ibnu Jarrah ke arah Hems, itu daerah Rusia Hems.

Kemudian pasukan perang dipimpin oleh Amr bin Ash radhiyallahu ta'ala anhu ke arah Palestina. Semua daerah ini adalah daerah Syam, daerah Syam itu di utara.

Kalau kita dari Mekkah, naik ke Madinah, ke arah utara, kemudian naik lagi ke arah utara ke Khaibar sekitar 30 kilo, kemudian naik lagi ke Al Ula, kemudian naik lagi ke Tabuk dari Madinah 750 kilo.

Kemudian naik lagi ke arah Syam. Tabuk adalah kota perbatasan, sampai sekarang di Arab Saudi. Tabuk adalah perbatasan antara Arab Saudi dengan daerah Syam, dengan Yordania dan yang lainnya. Jadi daerah Yordania dan ke atas semuanya disebut daerah Syam, dulu dikuasai oleh Romawi.

Inilah empat pasukan dibentuk oleh Abu Bakar As Siddiq untuk menyerang. Tentu sangat jauh, ya dari Madinah ke daerah-daerah ini sudah mungkin 1.000-an kilo lebih. Dari Madinah ke daerah-daerah ini, ada Damaskus, Yordun, Hems, kemudian Palestina, ini 1.000 lebih ratusan kilo.

Akan tetapi, keempat pasukan ini menghadapi banyak kesulitan ketika melawan Romawi. Akhirnya, Abu Bakar As Siddiq mengirim Khalid Ibnu Walid bersama pasukannya dari Persia menuju ke negeri Syam untuk membantu pasukan-pasukan yang sudah dikirim oleh Abu Bakar As Siddiq pada bulan Safar tahun 13 Hijriyah.

Di antara faedah yang menakjubkan, Abu Bakar As Siddiq adalah khalifah Rasulullah. [Musik]

Ketika beliau menyuruh orang untuk memisukan menyerang Romawi, beliau menulis surat dengan kata-kata yang sangat lembut. Di antaranya, surat yang beliau kirimkan kepada Amr bin Ash radhiyallahu ta'ala anhu. Sebelumnya, di zaman Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, Amr telah diangkat oleh Nabi untuk mengurus di Oman.

Beliau dikirim oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam untuk mengurus harta sedekah, harta zakat di sana. Nah, sekarang Abu Bakar As Siddiq ingin mengajak beliau menjadi pemimpin perang. Tapi bagaimana cara Abu Bakar As Siddiq menulis surat kepada beliau?

Sebenarnya, kalau beliau perintah, mudah berhenti ikut perang. Tapi tidak demikian. Beliau menggunakan kata-kata yang sangat lembut. Beliau berkata dalam suratnya kepada Amr, "Wahai Abu Abdullah, saya ingin menyibukkan engkau pada perkara yang lebih penting bagi engkau dalam kehidupanmu di dunia dan akhiratmu."

Jadi, ada amal yang lebih baik daripada engkau jadi pengurus harta sedekah atau jadi wali atau jadi gubernur di daerah tersebut. Sekarang berbalas, "Nyaman nggak di situ?" Nyamanlah mengurus harta.

Abu Bakar bisa saja perintah, tapi tidak. Dia menggunakan kata-kata yang halus. "Saya ingin menyibukkan engkau dengan perkara yang lebih baik untuk kehidupanmu dan akhiratmu daripada pekerjaanmu yang sekarang." Kecuali memang kau lebih suka kerja jadi ngurus harta sedekah, itu juga amal saleh.

Mengurus harta sedekah terus kirim ke ibukota kaum Muslimin juga amal saleh. Semuanya baik karena semuanya butuh pengaturan.

Maka, apa jawabannya? Maka dia pun kirim surat kepada Abu Bakar. Dia berkata, "Ini Islam. Aku hanyalah satu anak panah dari anak-anak panah dalam Islam yang melemparkan anak panah tersebut. Wal Jamilah, kau yang mengumpulkan anak-anak panah tersebut, pemimpin kami. Fandor ashadha, lihat mana perang yang paling sulit, yang paling berat, lemparkan aku di situ. Terserah kita." [Musik]

Kirim kepada Walid bin Uqbah dengan kitab atau surat yang sama, dan jawabannya sama. "Kami hanya sekedar panah, kau panahkan kemana kami akan jalankan." Ini menunjukkan bagaimana lembutnya Abu Bakar.

Dia tidak perlu basa-basi perang, tapi menolak. Dia tidak akan paksa. Dia tidak akan apa-apa. Tapi semua tahu tentang kehebatan Abu Bakar. Ketika dikirim surat, maka mereka pun nurut.

Kita tahu bagaimana para sahabat sangat cinta kepada jihad fisabilillah, ya, karena mereka itu pahalanya sangat besar. Demikianlah, ya, bagaimana kerja keras Abu Bakar dalam waktu yang singkat, tapi hasilnya luar biasa.

Abu Bakar ditegakkan oleh Allah dalam menghadapi kegentingan-kegentingan yang luar biasa, mengambil keputusan-keputusan yang sulit. Di mana beliau diingkari oleh para sahabat yang lain, mulai dari pengiriman utama, semuanya tidak setuju.

Tapi beliau bertahan, dari mulai memerangi para penolak zakat, semua juga tidak setuju. Beliau tetap bersikeras, ya, dan akhirnya keberhasilan-keberhasilan yang luar biasa yang dilakukan.

Ya, luar biasa. Ya, makanya seingat saya tidak disamakan Abu Bakar kecuali seperti Imam Ahmad. Artinya, Abu Bakar ditegakkan oleh Allah untuk meredam fitnah murtad para murtadin.

Allah tegakkan Abu Bakar sebagaimana Allah mendekatkan Imam Ahmad untuk meredam fitnah qol Quran. Karena ketika itu semua ulama, kecuali cuma satu orang, kalau tidak salah, yang bertahan mengatakan Alquran bukan makhluk. Di antaranya dia dan Imam Ahmad.

Tapi dia meninggal dunia. Kemudian bertahan lima Muhammad sendiri. Semua ulama yang lain qauliyah tidak kuasa mengatakan Alquran bukan makhluk. Karena kalau bilang Alquran bukan makhluk, ditangkap dan dibunuh.

Yang bertahan sampai disiksa tiga khalifah. Siapa Imam Ahmad? Kalau Imam Ahmad ikut-ikutan, sudah selesai akidah ahlussunnah. Kalimat ikut-ikut mengatakan Alquran itu makhluk, selesai.

Bagaimana Abu Bakar ditegakkan oleh Allah untuk meredam fitnah riddah, fitnah murtad yang dikeluarkan oleh orang-orang yang murtaddin, baik yang mengikuti nabi palsu atau mengingkari kewajiban bayar sedekah.

Akan tetapi, meskipun Abu Bakar memiliki kesuksesan-kesuksesan yang luar biasa, beliau tidak sombong sama sekali. Tidak pernah merasa mentang-mentang. Tidak pernah merasa hebat sebagai seorang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Beliau merasa semua yang Allah berikan padanya hanyalah nikmat dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tidak pernah merasa mentang-mentang, padahal sukses kesuksesannya luar biasa.

Siapa yang bisa seperti beliau? Di antara sejarah yang membuktikan akan hal ini, bagaimana beliau Bukhari dalam tarifnya dari Sufyan bin Ubaidah.

Dari Sufyan atau Ubaidah, Abu Bakar datang dua orang Arab Badui yang masuk Islam. Ketika di zaman Nabi, mereka diberi pemberian oleh Nabi, banyak diberi letusan ekor unta. Karena mereka pemimpin orang-orang Arab Badui, Nabi mengambil hati mereka dengan memberikan banyak pemberian kepada mereka.

Waktu di zaman Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, itu sekitar tahun 9 Hijriyah atau delapan Hijriyah. Rasulullah banyak berbuat baik kepada mereka. Sekarang sudah tahun berapa? 13 Hijriyah. Dari 8 ke 13, berapa tahun? 5 tahun.

Jadi, Rasulullah kepada mereka tahun 8 setelah Fathu Makkah di perang Hunain sekitar tahun 9 Hijriyah. Mereka berdua datang lagi kepada Abu Bakar. [Musik]

Pengganti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. [Musik]

Di tempat kami, daerah kami ada tanah yang biasanya dekat pantai, seperti payau, ada kadar garamnya sehingga tidak ada tumbuhan yang tumbuh di situ. Ya, dan tidak ada manfaatnya. [Musik]

Rasulullah [Musik] berikan hadiahkan tanah tersebut kepada kami. Kan tanah milik kaum Muslimin, meskipun letaknya jauh di daerah Timur Kota Madinah. Dan mereka tinggal di daerah tersebut.

Mereka berkata, "Di tempat kami ada tanah begini-begini, tidak ada manfaatnya, tidak ada tumbuhannya. Bolehkah kau hadiahkan kami tanah tersebut agar kami bisa mengolahnya? Mungkin kami tanam, mungkin kami bajak untuk kami olah."

Huma Abu Bakar pun setuju. Abu Bakar memberikan tanah tersebut kepada mereka berdua karena mereka berdua sangat disayang oleh Nabi.

Gampangannya gitu, Nabi sering kasih mereka. Ya, bahwa tertulis bukti bahwasanya tanah diberikan kepada mereka. Lalu tujuannya baik, tanah mati mau diolah. Dalamnya pun haram.

Namun kata Abu Bakar, "Saksi Umar, kalian pergi ke Umar. Saya sudah setuju." Ya, Umar tidak hadir di situ ketika di majelis tersebut.

Tapi Abu Bakar langsung setuju, suruh minta persetujuan Umar atas surat keputusan tersebut. Surat Raja, tapi butuh tanda tangan siapa? Umar radhiyallahu ta'ala anhu.

Akhirnya, mereka berdua datang kepada Umar. Mereka bacakan keputusan Abu Bakar, surat tersebut. Kemudian dia hapus semua tulisan Abu Bakar pakai lidahnya tersebut. [Musik]

Kemudian Umar bilang sama mereka berdua, "Ini memang Nabi sayang sama kalian. Karena waktu itu Islam masih lemah, Nabi kasih-kasih kalian itu 5 tahun lalu. Sekarang sudah bukan mualaf, sudah masuk Islam 5 tahun yang lalu. Allah sekarang sudah memuliakan Islam ini."

Saya kalau saya ingat cerita dulu di Madinah, sempat saya ditugaskan dakwah di sana. Jadi kadang-kadang sopir-sopir Indonesia kita dakwahi. Kadang-kadang kita satu bangunan di sebelah ada orang-orang Filipina, orang Filipina baru masuk Islam. Kita di bagian orang Indonesia.

Makanya yang sederhana. [Musik]

Saya bilang, "Kalau kau begitu, murtad dulu masuk Islam. Mereka mualaf. Kalau kamu Islam sudah kelamaan, jadi makan roti satu real sudah selesai."

Karena memang mereka punya zakat yang memang digunakan untuk itu. Kalau kamu tidak ada, sudah kita makan roti aja, tutorial pakai bumbunya tutorial kita. Maksudnya, jadi wajar ketika Nabi memberikan pemberian kepada mereka.

Karena mereka dulu masih baru masuk Islam. Sekarang Umar bilang, "Enggak perlu itu surat." Dihapus oleh Umar bin Khattab radhiyallahu ta'ala anhu.

Kemudian kata Umar, "Fa'at bila Ila Abi Bakar." Mereka dalam kondisi lemas, jengkel, dan yang lainnya. Maka mereka ngomong sama Abu Bakar.

Perkataan yang menyakitkan, provokatif. Tidak terprovokasi. Dia tahu siapa Umar. Kalau dia mau, dulu dia jadi khalifah.

Fajar Umar pun datang kondisi marah kepada Abu Bakar. Sehingga berdiri di depan Abu Bakar. Kemudian Umar berkata, "Akhirnya tanah negara. Kenapa kau berikan kepada dua orang ini? Hartamu atau harta kaum Muslimin?"

Pertanyaan Abu Bakar juga Umar, juga menukik. "Engkau Abu Bakar bagi-bagi tanah ini, tanahmu atau tanah negara kita?" Diskusi dulu, kata Abu Bakar.

Tidak tersinggung. Dia mengatakan, "Balhiyah, ini tanah umum, tanah kaum Muslimin. Tanah negara ini untuk dapat hadiah. Tanah ini sudah diskusi sama mereka. Jadi, Antum tidak ada makasi sama teman-teman."

Mereka menyetuju. Mereka setuju, kata Umar. "Faedah, kan masyarakat sudah diskusi sama mereka. Apakah berarti seluruh kaum Muslimin rida? Ini kan tanah kaum Muslimin. Mereka taruhlah 5 orang, 6 orang, 10 orang setuju. Apa kaum Muslimin semuanya setuju?"

Harusnya aku menjadi khalifah, tapi kok maksa aku jadi apa? Setelah kesuksesan yang begitu banyak, yang dia apa, orang-orang murtaddin, kau yang melarang saya untuk mengutus Usamah untuk melawan orang yang apa, bukan untuk orang yang bayar zakat. Kau kan yang larang saya, Umar.

Abu Bakar tidak bilang demikian. "Kau kan yang keliru." Yang keliru, yang keliru. Dan banyak Abu Bakar berselisih dengan Umar. Yang benar, Abu Bakar banyak lebih banyak menenangkan Abu Bakar daripada Umar.

Tapi Abu Bakar tidak merasa sombong, tidak merasa angkuh setelah kesuksesan yang luar biasa. Beliau tetap tawadhu. Dan itulah seorang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Demikianlah, Abu Bakar memandang dirinya bahwa dirinya hanyalah hamba Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kedudukan jabatan yang beliau jalankan tidak membuat beliau terpedaya.

Sampai beliau sakit dan akhirnya meninggal pada tanggal 22 Jumadil Akhir tahun 13 Hijriyah. Ketika beliau meninggal, ada beberapa riwayat yang menarik.

Di antaranya, saya akan baca kalimat-kalimat tersebut. Di antaranya, Aisyah datang kepada ayahnya ketika ayah sudah nafasnya sudah sulit, seakan-akan di sakaratul maut.

Sudah mau keluar, menyebutkan suatu bait yang maknanya, "Demi Allah, ya, tidak bermanfaat harta bagi seorang pemuda. Percuma harta yang banyak jika ternyata ruhnya sudah mau keluar dari kerongkongannya."

Dada sudah sempit. Ketika Aisyah mengucapkan syair tersebut, Abu Bakar memandangnya seakan-akan beliau marah. "Cuma saya ucapkan demikian, tapi katakanlah wajah telah datang sakaratul maut menghampiri dan sungguh-sungguh menghampirimu. Itu yang dulu kau selalu menghindar darinya."

Orang menghindari kematian, tapi akan datang juga kematian tersebut. Kemudian perhatikan menjelang wafatnya Abu Bakar, diskusi sama anaknya.

Dia berkata, "Ini kuntu nah hal tuqiha Irfan, wahai Aisyah. Dulu saya pernah kasih hadiah kepada engkau sebuah kebun. Wa innafina, tapi saya ragu dengan harta tersebut. Faruqyah, dan karena kau punya saudara-saudara yang lain. Anakku, bukan cuma kamu saja. Tolong kembalikan harta tersebut yang saya sudah hadiahkan kepadamu."

Kembalikan. Dia juga bukan mata dunia, mata duit. Ndak balikan, ya, supaya jadi harta warisan Abu Bakar untuk dibagikan kepada yang berhak.

Kemudian beliau berkata, "Ama Inna munduhu Lina amron muslimin, sejak aku menjadi khalifah, kita tidak pernah makan dari harta kaum Muslim. Kita tidak pernah makan dirham mereka."

Artinya, kita tidak pernah foya-foya. Kita cuma makan makanan yang sederhana. Itu makanan dari makanan yang sederhana. Kita juga pakai pakaian yang kasar, bukan pakaian yang lembut.

Jadi, Abu Bakar maksudnya tidak pernah makan dari harta Baitul Mal. Enggak pernah. Yang saya ambil cuma yang cukup untuk saya makan dan baju yang sederhana, baju yang tebal, yang kasar.

Dan tidak ada sedikitpun harta kaum Muslimin yang ada pada kami, kecuali ini ada seorang budak Habasyi dan ini unta yang Nazi, yaitu unta yang digunakan untuk mengambil air.

Dan ini ada kain yang usang. Kalau saya meninggal, faedah itu Umar. Kalau saya sudah meninggal, ini kembalikan ke Umar, khalifah selanjutnya.

Saya tidak mau ambil. Saya tidak mau ambil. Dalam riwayat yang lain, [Musik] beliau berkata, "Wahai Aisyah, lihatlah hartaku sebelum saya jadi khalifah dan selesai jadi khalifah. Kalau ada pertambahan, kasih khalifah selanjutnya."

Jadi, cek sebelum jadi presiden, jadi kepala negara, sebelum jadi raja, sebelum jadi khalifah, katanya sekian. Catat, sudah Lengser, yang lebih. Kembalikan ke penguasa berikutnya.

Kemudian [Musik] film utusan Abu Bakar meninggal dunia. Kemudian utusan Aisyah membawa harta tersebut, ya, budak, kemudian unta, dan kain usang.

Umar pun menangis. Umar pun menangis. Maksudnya, seperti ini pun masih dikembalikan. Ini barang sepele. Rohimahullah, merepotkan khalifah setelahnya. Begini caranya.

Abu Bakar sangat waroh. Kita mau ikut dia. Aduh, berat cara menjalankan hukum dengan seperti ini. Ambil itu semua, kata Umar. Itu semua yang diserahkan Abu Bakar.

Ambil ini harta negara. Abu Bakar cuma budak, onta, sama kain usang. Cuma masih diambil pula. Udah kasih aja.

Bagaimana, wahai Abdurrahman, anak-anaknya Abu Bakar? Kata Umar, "Tidak akan saya kembalikan. Tidak mungkin berlaku dalam kekuasaanku. Tidak mungkin saya begitu. Yang sudah Abu Bakar keluarkan, tidak mungkin saya kembalikan. Lebih baik saya mati daripada mengembalikan harta negara kepada yang bukan berhak."

Harta negara, ambil. Riwayat ini satu riwayat. Riwayat yang lain, ketika Abu Bakar akan meninggal dunia, dia berkata, "Ungguru." Dia berkata kepada Aisyah, "Mula Athaya Hata ini. Lihat dua kain usang milikku ini. Faedah itu faksiluhuma. Kalau aku mati, bersihkan kain. Mungkin agak kotor-kotor, bersihkan dua kain tersebut. Wakaf, wakaf, dan jadikanlah kedua kain tersebut kain kafanku."

Yang masih hidup lebih utama menggunakan kain yang baru daripada yang mati. Saya enggak usah pakai baju yang behel. Udah, kalau kain kafan yang murah-murah aja. Ini kain kafan bekas, kain yang bekas, cuci bersihin.

Saya mau dikafankan dengan kain ini. Dan sunnahnya orang meninggal seperti itu. Enggak usah mewah.

Makanya di antara larangan para ulama, orang meninggal kemudian bermewah-mewah. Sudah meninggal, selesai. Harta ditinggal, pakai kain kafan sederhana, dipikul, masukkan tanah, tutup. Mau raja, mau pejabat, mau rakyat, semua sama saja.

Di antara bid'ah yang dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin ketika meninggal, bangga-banggakan kalau pakai paket tertentu. Kemudian kadang pakai peti tertentu, kemudian diiringi tertentu di kuburan tertentu.

Ini sampai saya ketemu orang, ayah dikuburkan di kuburan itu, kuburan mahal. Bangga buat apa kubur, kemudian yang mahal-mahal buat apa? Yang penting bukan di atas, yang penting di bawahnya.

Bagaimana mau di atasnya, rumah mewah, di bawahnya bagaimana? Bukan atasnya. Makanya di antara bid'ah adalah bermewah-mewah dalam pekuburan.

Lihat Abu Bakar As Siddiq, yang baju-baju baru lebih baik untuk yang masih hidup. Saya yang ini aja. Ngapain pakai baju-baju baru? Ini kain saya usang, cuci nanti saya pakai untuk kain kafan.

Kemudian Abu Bakar dari perbuatan beliau, beliau tidak makan dari harta Baitul Mal kecuali yang dibutuhkan. Tadi beliau berkata, "Kami tidak makan kecuali makanan yang biasa, makanan yang sederhana. Kami tidak ambil dari Baitul Mal kecuali kain untuk beli baju yang sederhana."

Karena beliau tidak bisa kerja. Asalnya beliau kerja, namun kalau beliau kerja, beliau tidak bisa ngurusi kaum Muslimin. Gimana perang sana, perang.

Sehingga memikirkan perang, enggak bisa. Sehingga beliau akhirnya tidak kerja dan beliau makan dari harta Baitul Mal, tetapi sekedarnya.

Paham? Tapi sekedarnya. Maka dalam riwayat, beliau sesungguhnya kaumku sudah tahu saya punya keahlian kerja. Saya bisa mencukupi keluargaku, tetapi karena saya harus ngurusin negara, saya tidak bisa kerja.

Saya kulu alu Abu Bakar, maka terpaksa saya dan keluargaku semua makan dari Baitul Mal. Karena kalau saya kerja, saya tidak bisa ngurus apa negara.

Kalau saya ngurus negara, saya tidak bisa kasih makan anak dan istri. Akhirnya Abu Bakar terpaksa mengambil, tapi dia ngambil secukupnya.

Makanya sebenarnya dalam aturan negara, pejabat boleh makan Baitul Mal, tapi secukupnya, bukan berlebih-lebihan. Nanti akan datang bagaimana perkataan Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, di mana beliau berkata, "Ini anzaltun Malik."

Kata beliau, "Aku menempatkan diriku terhadap Baitul Mal seperti pengurus anak yatim. Kalau saya tidak punya dan saya butuh, saya ambil secukupnya. Kalau saya sudah cukup, saya kembalikan."

Jadi, ini bagaimana sikap Umar terhadap harta negara. Saya anggap diri saya seperti walinya seorang anak yatim. Boleh nggak kita makan? Boleh, tapi secukupnya.

Kalau saya berlebihan, saya kembalikan. [Musik]

Kalau saya cukup, saya tidak perlu lagi. Dan ini dalil bagaimana tawadhunya Abu Bakar As Siddiq radhiyallahu ta'ala anhu dan bagaimana sikap beliau dalam menyikapi harta kaum Muslimin.

Jadi, demikianlah ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala tentang sejarah Abu Bakar As Siddiq, tokoh yang sangat luar biasa. Itulah murid langsung Nabi SAW.

Di antara juga Umar bin Khattab. Makanya dikatakan oleh sebagian Salaf, "Bosnya para sahabat, Kanu you allimuna Umar." Dulu para Salaf mengajarkan anak-anak mereka untuk cinta kepada Abu Bakar dan cinta kepada Umar.

Mereka berdua sosok yang sangat luar biasa. Insya Allah kita akan lanjutkan tentang sosok Umar bin Khattab pada pertemuan berikutnya, Insya Allah, setelah Idul Fitri.

Insya Allah, ya, di penghujung ini, saya akan menunjukkan beberapa keteladanan Abu Bakar As Siddiq. Tentunya keteladanan beliau sangat banyak, namun bisa saya simpulkan beberapa poin.

Yang pertama, Abu Bakar As Siddiq adalah orang yang mudah bergaul. Beliau mudah bergaul sehingga beliau punya kenalan banyak. Sampai kita sebut, ketika Abu Bakar berhijrah bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, maka orang-orang kenal Abu Bakar, tapi orang-orang tidak kenal Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Kenapa? Abu Bakar mudah bergaul. Dia ahli nasab. Beliau ahli nasab dan orang Arab senang ngobrol tentang apa. Dia punya keahlian ilmu yang disenangi oleh orang Arab.

Sehingga kalau beliau bicara, orang saya melihat pedagang suka pergi kemana-mana. Makanya saya katakan, ketika beliau menggiring pasukan, beliau bisa memperkirakan jarak-jarak sini, nanti ketemu di sini.

Dia tahu wilayah-wilayah Persia, wilayah Romawi, karena beliau adalah orang yang pandai berinteraksi.

Ya, di antara hal yang menunjukkan akal ini. Hal ini poin kedua. Pertama, beliau bergaul. Ini orang pandai bergaul. Bagus selama pergaulan tersebut dalam rangka untuk dakwah.

Dalam rangka untuk memanfaatkan kepada kaum Muslimin, bukan mudah bergaul dalam rangka buang-buang umur. Enggak, ya. Pandai bergaul, ngobrol sana, ngobrol sini, ngobrol, tapi enggak ada faedah yang bisa ditularkan.

Seorang pandai bergaul, tapi pergaulan yang bermanfaat untuk akhiratnya itu baik. Dan orang tidak kaku, tidak mendiam di rumah, tidak pandai ngomong, diam-diam aja.

Kalau orang diam-diam aja, kadang-kadang terkesan sombong. Ya, kalau orang bisa ngomong, aja siapa sekedarnya.

Kalau bergaul, bergaul yang ngobrol yang bermanfaat, yang terarah untuk akhirat. Seseorang di antara yang menunjukkan akal ini.

Perkara yang kedua, Abu Bakar memiliki sifat-sifat mirip dengan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Dalam Shahih Bukhari, ketika Abu Bakar sulit untuk beribadah di kota Makkah, maka dia pun pergi keluar dari kota Makkah untuk berhijrah.

Beliau ingin beribadah kepada Allah. Berjalanlah beliau meninggalkan kota Makkah. Sampai suatu tempat cukup jauh, tiba-tiba beliau bertemu dengan Ibnu Duhunnah atau Ibnu Nah, salah seorang pemimpin Kaula Karah, yaitu kabilah yang jauh, bukan suku Quraisy.

Maka dia mengatakan, "Tidak kemana kau, Bakar? Aku ingin berjalan di muka bumi untuk beribadah kepada Allah. Kaumku tidak membiarkan aku untuk beribadah."

Apa kata Ibnu Nah? "Orang seperti engkau, Bakar, tidak boleh keluar dari negerinya dan tidak boleh diusir dari negerinya. Kenapa? Innakala rahim. Engkau suka menyambung silaturahmi. Lil Kalla wa taqsibul maklum. Engkau bekerja untuk orang lain. Watak ridhoif. Engkau suka menjamu tamu. Waktu kau membantu orang yang seperti kamu ini, tidak pantas untuk diusir dari kaumnya."

Maksud saya, sifat-sifat Abu Bakar persis seperti perkataan Khadijah kepada Nabi ketika Nabi ketakutan turun dari Gua Hira dan mengatakan, "Laku di khasiat itu oleh Nafsi. Aku khawatir suatu keburukan menimpa diriku."

Maka Aisyah, Khadijah menenangkan, "Kalau Allah absyir, tidak sekali-kali. Allah tidak layu. Jika Allah abada, Allah tidak akan menghinakan engkau, wahai suamiku. Sesungguhnya engkau adalah orang yang jujur, juga menjenguk silaturahmi, bekerja untuk orang lain, membantu orang lain, suka menjamu tamu, suka membantu orang yang dalam kesulitan."

Perkataan ini persis diucapkan Ibnu Nah kepada Abu Bakar. Jadi, sifat Abu Bakar mirip dengan sifat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Artinya, pulang ke kota Makkah, bahwa Bakar saya jadi jaminan. Jangan usir dia, padahal dia musyrik. Ini musyrik, tapi dia kepala kabilah Kora, sehingga dihormati sama orang-orang Quraisy.

Kemudian di antara kelebihan Abu Bakar, beliau berusaha menjadi pelopor dalam berinfak. Beliau pelopor yang pertama kali membantu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dalam dakwah. Selain Khadijah, siapa? Abu Bakar.

Allah mentakdirkan Nabi dikelilingi oleh orang-orang berada. Karena di awal Islam, butuh duit untuk berdakwah. Allah mentakdirkan Nabi menikah dengan Khadijah yang janda kaya raya.

Allah mentakdirkan lelaki dewasa yang pertama kali masuk Islam siapa? Abu Bakar. Dan dia mengerahkan hartanya untuk Islam seluruhnya.

Makanya Abu Bakar, dia mengatakan kepada di depan para sahabat, "Tidak ada harta bermanfaat kepadaku seperti hartanya Abu Bakar." Karena Abu Bakar berinfak di awal-awal Islam, ya, di mana ketika itu orang-orang tidak mau membantu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Maka Abu Bakar pun mendengar pujian Nabi, beliau menangis. Kata dia, "Ya Rasulullah, Malik, apa makna kecuali untuk Anda, wahai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam."

Yang sudah kita katakan, Abu Bakar pernah menyumbangkan seluruh hartanya dua kali, yaitu ketika berhijrah, seluruh hartanya dia sumbangkan. Kemudian tatkala Perang Tabuk, seluruh hartanya beliau sumbangkan.

Ini adalah contoh dari Abu Bakar As Siddiq radhiyallahu ta'ala anhu. Rasulullah SAW pernah berkata kepada para sahabat, [Musik] apa namanya, "Abu Bakar membantuku dengan hartanya tatkala tidak ada orang yang membantuku."

Selanjutnya, Abu Bakar As Siddiq selalu mendahulukan dalil daripada logika. Terlalu banyak hal yang menunjukkan akan hal ini.

Bagaimana beliau berpegang teguh kepada dalil dan meninggalkan logika. Pokoknya dalilnya begitu. Beliau di antaranya ketika perjanjian Al Hudaibiyah. Sudah pernah kita sampaikan, mungkin semua orang, para sahabat, gundul.

Karena Nabi tidak mau perang. Di antara yang paling gundul adalah Umar bin Khattab radhiyallahu ta'ala anhu. Tidak ada yang menyetujui keputusan Nabi di kalangan laki-laki kecuali siapa? Abu Bakar.

Semua sahabat tidak setuju. Yang setuju cuma siapa? Abu Bakar As Siddiq. Tapi Umar gundul. "Ya Abu Bakar, Abu Bakar, Abu Bakar, innahu Rasulullah."

Ya, sesungguhnya itu Muhammad adalah utusan Allah. Tidak mungkin membanggakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ikuti aja kata Abu Bakar.

Sementara utus para sahabat, semuanya ingin perang. Di sini Abu Bakar mendahulukan dalil daripada logika, daripada perasaan, daripada emosi.

Kemudian juga ketika Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam meninggal, semua orang terbawa dengan emosi, termasuk Umar yang tidak mau terima, dikatakan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sudah meninggal dunia.

Abu Bakar datang terlambat. Dia datang masuk ke rumah Aisyah, ke rumah Nabi. Diacungkan Nabi, kemudian dia keluar. Dia sampaikan dalil, "Allah berfirman begini-begini, Rasulullah bisa meninggal dunia."

Selesai. Sehingga para sahabat semuanya sadar ketika mereka sangat sedih. Mereka lupa ayat tersebut.

Tapi Abu Bakar bisa berpikir dengan jernih untuk menyebutkan ayat tersebut. Sehingga akhirnya para sahabat mengulang-ulang ayat itu.

Ya, wama Muhammadun ila Rasulullah. Kalau sebelumnya pada mati Muhammad, juga bakalan apa? Mati. Sallallahu Alaihi Wasallam. Mereka ulang-ulang seakan-akan ayat tersebut baru pertama kali mereka dengar.

Padahal mereka hafal ayat tersebut. Tapi karena kesedihan yang luar biasa buat mereka, tidak bisa berpikir dengan jernih. Yang bisa berpikir dengan jernih, apa? Abu Bakar.

Beliau mendahulukan dalil daripada perasaan. Di antara dalil bahwasanya beliau mendahulukan dalil pada logika dari para perasaan.

Ketika Fatimah radhiyallahu anha minta warisan Abu Bakar dalam kondisi sulit. Ini putri Nabi dan dia sangat sayang kepada Nabi. Itu dia sangat sayang kepada putri Nabi.

Tapi nas ada dalilnya. Kami para nabi tidak ada warisan. Apa yang kami tinggalkan adalah sedekah. Maka dia tidak bisa kasih warisan kepada siapa? Fatimah.

Meskipun konsekuensinya Fatimah radhiyallahu anha marah kepada beliau sebagai sifat manusiawi. Abu Bakar bertahan atau tidak bertahan, dipegang.

Kalau dia enggak enak, dia akan kasih. Kalau dia enggak enak, dia bakalan apa? Kasih. Tapi dia berpegang dengan dalil, meninggalkan perasaan.

Sampai di akhir hayat, kemudian Abu Bakar datang kepada Fatimah, minta agar Fatimah memaafkan. Karena ketawa Tuhan Abu Bakar, dia minta maaf agar Fatimah maafkan.

Karena tidak salah, cuma konsekuensi dalil, dia tidak boleh dikasih warisan kepada siapa? Fatimah radhiyallahu ta'ala anha.

Nah, demikian juga ketika mengirim pasukan Usamah. Semua orang melarang, tidak ada yang setuju dengan Abu Bakar.

Abu Bakar enggak. Saya tidak akan membatalkan pasukan yang telah dibentuk oleh Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Jalan utama, semua sahabat tidak ada yang setuju.

Kemudian Umar juga berkata, "Ya Abu Bakar, memang kalau harus jalan utamanya, ganti. Masih muda, belasan tahun, ganti."

Enggak, ini yang dipilih oleh Nabi. Dia yang dipimpin. Jadi, Abu Bakar berpegang dengan apa? Dalil.

Kemudian juga ketika memerangi orang-orang yang menolak bayar zakat, dia juga pakai dalil. Pakai dalil dengan kias. Dia bantah Umar bin Khattab.

Kemudian dia perangnya terkenal dengan pemegang dalil, mendahulukan dalil daripada logika, mendahulukan.

Kemudian di antara kesiman Abu Bakar, beliau tidak sombong dan takut, termasuk orang sombong. Padahal beliau sudah dijamin masuk surga.

Rasulullah SAW ketika mengatakan tentang 10 orang masuk surga, yang Nabi sebutkan pertama Abu Bakar di surga, Umar, Utsman, fil Jannah.

10 orang yang pertama disebut oleh Nabi adalah Abu Bakar. Tapi Abu Bakar tidak sombong. Beliau tetap takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Sehingga ketika Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam mengatakan, "Manjaro yang Alhamdulillah. Siapa yang menggeretkan bajunya isbal dengan kesombongan, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat kelak."

Abu Bakar datang kepada Nabi. Dia gelisah dengan hadis tersebut. Dia bilang, "Ya Rasulullah, saya Kana ijary yesterfi ahyanan. Kadang-kadang sarungku melorot."

Karena Abu Bakar kurus, jadi kadang-kadang sarungnya melorot. Kemudian, "Ila ini kecuali saya perhatikan, kadang Morot lagi. Saya khawatir termasuk mereka."

Ya, Rasulullah, bagaimana dengan saya? Kata Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, "Melorot kau bukan karena apa? Sombong. Tapi karena kurus."

Maksud saya, Abu Bakar tidak ah. Kalau saya enggak ada, itu kan cuma buat mereka. Enggak. Dia tetap merasa takut.

Meskipun dia masuk surga, dia tetap khawatir ada kesombongan dalam apa dirinya. Dia khawatir dia melakukan dilarang oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Sampai Nabi kasih statemen, "Kau bukan orang sombong. Kau bukan orang sombong." Artinya, apa yang terjadi padamu karena tidak sengaja.

Kemudian di antara sifat Abu Bakar adalah mudah memaafkan. Ya, sebagaimana kisah Mistoh, yang dia adalah kerabat Abu Bakar.

Kalau tidak salah, anak dari sepupunya Abu Bakar atau anak dari mimpinya Abu Bakar yang ikut menuduh Aisyah radhiyallahu ta'ala anha berzina.

Padahal selama ini yang kasih nafkah adalah Abu Bakar As Siddiq radhiyallahu ta'ala anhu. Sampai akhirnya turun ayat membela Aisyah.

Maka Abu Bakar ketika itu berhenti memberikan bantuan kepada Mistoh. Maka Allah turunkan ayat, "Kata Allah Subhanahu Wa Ta'ala, memaafkan dan lapang dada. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian?"

Maka akhirnya Abu Bakar pun memaafkan Mistoh. Demikian juga kisah antara Abu Bakar dan Umar, sebagaimana pernah kita sampaikan ketika Umar akhirnya Abu Bakar maafkan.

Umar bin Khattab radhiyallahu ta'ala anhu. Kemudian di antara kesiman Abu Bakar, dia tidak merasa paling terbaik ketika jadi khalifah.

Dia berkata, "Ini walitualikum. Aku telah diangkat menjadi pemimpin bagi kalian dan aku bukan yang terbaik. Aku bukan terbaik di antara kalian."

Beliau tidak sombong, tidak angkuh. Padahal semua orang sepakat dia yang terbaik. Dan Umar telah mengatakan, "Tidak ada yang seperti Abu Bakar."

Siapa yang seperti Abu Bakar? Umar berkata. Tapi Abu Bakar tidak merasa terbaik. Dia mengatakan, "Ini aku telah dipilih, jadi aku bukan terbaik."

Kalau maksud saya, Abu Bakar jauh dari ujub, jauh dari merasa hebat. Enggak ada sama sekali. Sementara kehebatan sudah beliau lakukan terlalu banyak.

Dipuji oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Kita aja kalau dipuji Ustad, sudah kepala besar. Enggak. Ini yang puji Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Ayat turun tentang Abu Bakar. Ayat-ayat turun tentang Abu Bakar. Dan beliau tidak sombong sama sekali. Tidak sombong sama sekali.

Inilah ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Beberapa kelebihan Abu Bakar As Siddiq radhiyallahu anhu yang menunjukkan kehebatan beliau radhiyallahu ta'ala anhu.

Kita akhiri tentang kisah beliau sampai di sini. Insya Allah kita lanjutkan pada kisah khalifah yang berikutnya, Ibnu Khattab.

Kemudian Nabi Muhammad. Apabila kita berada, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.