📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Syarah 'Aqidah Salaf Bag. 1 ~ UST. ABDUL HAKIM BIN AMIR ABDAT حفظه الله تعالى

MAKTABAH MU'AWIYAH BIN ABI SUFYAN2:24:50

Transcription

Inalhamdulillah, nahmaduhu waastainuhu waastagfiruh, wubillahiusinatiahillah. F hadadua ilahaillallah wahdahu la syarikalah, wa Asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Amma ba'd, ah ikhwah.

Saya sangat berbahagia berada bersama Antum, bersama sahabat saya, alfadil Al Ustaz Rahmud RI hafidullahu taala. Dan saya melihat Antum sekalian begitu bersemangat dan bergembira, yang menunjukkan insya Allah taala, Antum cinta kepada Manhaj Salafi.

Memang senantiasa kita memohon kepada Allah Jalla zikruhu agar Allah memberikan Hidayah hidayatut Taufik kepada kita untuk tetap berada di dalam agamanya dan berjalan di atas sunah nabinya yang mulia, alaihiatu wasalam, bersama perjalanan salafun shihin, radiiallahu Anhu.

Kitab ini merupakan Syarah atau penjelasan dari Matan Isi sebuah kitab kecil yang pernah saya tulis dan pernah saya bahas di tempat ini, di masjid ini, sebagai mukadimah.

Awal tulisan ini termaktub di kitab al-masail jilid ke-4, pada masalah ke-81, yang terbit pertama kali pada tahun 2005. Kemudian saya pisahkan menjadi sebuah kitab kecil yang berisi tentang poin-poin akidah Salaf pada tahun 2008, terbit pertama kali.

Nah, di antara tahun-tahun tersebut, saya mulai sedikit demi sedikit menyarahkannya sampai tahun 2015, dengan sangat berlambat-lambat dan mengulang-ulang, jadilah kitab seperti ini.

Segala puji bagi Allah subhanahu wa taala. Siapa kaum Salaf? Kaum Salaf adalah mereka yang hidup pada tiga kurun pertama, yang Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam tegaskan dalam Hadis Mutawatir yang telah diriwayatkan oleh jemaah para sahabat, dikeluarkan oleh para imam Ahlul hadis.

Hadisnya sangat terkenal sekali: Khairun Nas Qarni, tummalladzina yalunahum, tummalladina yalunahum. Sebaik-baik manusia, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam menyebut bahwa mereka adalah sebaik-baik manusia, yakni sesudah generasi para nabi dan rasul.

Sebaik-baik manusia sesudah generasi para nabi dan rasul, dan sesudah nabi mereka adalah Qarni yang hidup di masa di zaman, yakni para sahabat. Dalam lafaz yang lain, Beliau mengatakan: Kirukum sebaik-baik kamu.

Dalam lafaz yang lain atau riwayat yang lain: Kiru hadil Umah, sebaik-baik umat. Ini ada lagi riwayat yang katakan: Khairu umati, sebaik-baik umatku. Berarti mereka ini adalah yang terbaik sesudah para nabi dan rasul.

Sesudah nabi mereka alaihialatu wasalam, Qarni yang hidup di zamanku, yakni para sahabat. Para sahabat hidup bersama Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam sampai beliau wafat. Kemudian setelah itu berganti zaman dengan zaman sahabat selama satu abad, dari tahun 11 Hijriah sampai 100 Hijriah.

Oleh karena itu, sesudah tahun 111 Hijriah, tidak ada lagi sahabat yang hidup di permukaan bumi. Yang hidup di zaman sahabat adalah mereka setelah zaman sahabat, maka zaman Tabi'in dan hidup pada zaman Tabi'in, Atbaut Tabi'in, summalladina yadunahum.

Kemudian yang sesudah mereka, inilah tiga generasi terbaik dan mereka inilah yang dinamakan kaum Salaf. Mereka inilah Ahlus Sunnah, mereka inilah Alfirqah An Najiah.

Al Imam Ibnu Hazam di kitab ini, pada halaman 10, menjelaskan siapa sebenarnya Ahlus Sunnah itu. Al Imam Ibnu Hazam di kitabnya Al-Fisal fil Milal wal Ahwa W Nihal mengatakan bahwa Ahlus Sunnah adalah yang memiliki kebenaran.

Ahlul Haq, yakni Kebenaran ada pada mereka dan yang selain mereka adalah Ahlul Bid'ah. Yang selain dari Ahlus Sunnah adalah Ahlul Bid'ah. Kenapa? Karena Ahlus Sunnah itu adalah sahabat dan sahabat langsung dididik oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, belajar kepada beliau, ditarbiah, dididik, dan ditasfiah, dibersihkan oleh Nabi yang mulia alaihiatu salam.

Sahabat dan setiap orang yang mengikuti Manhaj mereka, setiap orang yang mengikuti Manhaj mereka, cara dan sikap beragama mereka seperti Tabi'in. Pertama orang yang mengikuti sahabat adalah Tabi'in, kemudian Ashabul Hadis, dan orang-orang yang mengikuti mereka dari para fuqaha dari zaman ke zaman, sampai pada hari ini.

Al Imam Ibnu Hazam rahimullahu taala hidup pada abad keempat dan kelima Hijriah, dan setiap orang yang mengikuti mereka dari orang-orang awam di timur dan di barat bumi, semoga rahmat Allah tercurah kepada mereka.

Inilah Ahlus Sunnah. Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti Manhaj perjalanan para sahabat. Demikian juga mereka yang mengikuti para sahabat dinamakan Salafi. Siapa saja yang mengikuti perjalanan mereka di dalam kehidupan keagamaan mereka, maka mereka adalah Salafi dan mereka adalah Ahlus Sunnah.

Oleh karena itu, kita dapat membagi apabila kita berbicara tentang Tarikh, sejarah tahun keberadaan kaum Salaf, maka dia sampai kepada tiga kurun pertama, sampai pada abad ketiga: abad pertama sahabat, abad kedua Tabi'in, abad ketiga Tabi'abi.

Selesai. Itulah kalau ditinjau dari jurusan Tarikh mereka. Tetapi kalau dilihat dari jurusan Manhaj, Manhaj sikap dan cara beragama, maka ini luas sekali sampai pada zaman kita ini.

Karena itu, para ulama mengatakan Salaf itu adalah yang hidup di kurun-kurun terbaik, tiga kurun terbaik, dan siapa saja yang mengikuti mereka di dalam beragama itu Salafi, nisbah kepada kaum Salaf, disandarkan kepada kaum Salaf.

Kenapa? Karena mereka mengikuti cara beragama kaum Salaf. Paham ini? Demikian juga Khalaf, generasi yang datang sesudah generasi kaum Salaf.

Kalau kita berbicara tentang Tarikh, maka mereka adalah generasi yang datang sesudah generasi kaum Salaf. Tetapi kalau kita berbicara tentang Manhaj dan akidah, maka siapa saja yang menyalahi, yang menyelisihi, yang berlawanan dengan Manhaj dan akidah kaum Salaf, dia Khalaf.

Walaupun dia hidup di kurun terbaik, karena kita tahu sebagian dari ahli bid'ah, pemuka-pemuka ahli bid'ah, sebagiannya hidup di kurun tersebut. Tetapi perjalanan mereka menyelisihi kaum Salaf.

Khawarij hidup di zaman sahabat, di kurun terbaik, di masa Khilafah Ali Bin Abi Thalib, radiiallahu taala Anhu, bersama para sahabat. Tetapi mereka tidak mengikuti Manhaj para sahabat.

Maka siapa saja yang menyalahi Manhaj para sahabat, dia Khalaf. Dan siapa saja yang mengikuti Manhaj para sahabat di dalam beragama, maka dia Salafi. Tidak ada perbedaan dalam hal ini di antara para ulama.

Syekh Abdul Aziz Bin Baz rahmatullahi Alaihi pernah ditanya, siapa Salaf itu? Beliau menjelaskan Salaf adalah mereka yang hidup di kurun yang terbaik dan setiap orang yang mengikuti asar mereka, Manhaj mereka, maka itu Salafi.

Paham pembicaraan mengenai Tarikh dan Manhaj? Oleh karena itu, Al Imam Ibnu Hazam mengatakan bahwa Ahlus Sunnah itu sahabat dan orang-orang yang mengikuti perjalanan mereka, Manhaj mereka dari Tabi'in dan seterusnya sampai kepada orang-orang awam di barat dan di timur bumi sampai hari ini.

Kata Ibnu Hazam dan seterusnya, semoga rahmat Allah kepada mereka. Itu Ahlus Sunnah. Tegas sekali pemisahannya, Ahlus Sunnah, Ahlul Haq. Kebenaran ada pada Ahlus Sunnah. Kebenaran ada pada Manhaj Salaf.

Yang selain Manhaj Salaf adalah Ahlul Bid'ah. Kenapa? Karena menyelisihi para sahabat. Kan hidup di zaman sahabat. Tiga firkah sesat hidup di zaman sahabat.

Dan seseorang dihadapkan kepada salah satu dari dua pilihan dan dia harus menentukannya. Hidup di zaman sahabat, firkah pertama yang muncul di zaman sahabat, Khawarij, menyelisihi sahabat, menyelisihi Manhaj sahabat dalam banyak hal.

Firkah yang kedua, bersamaan dengan Khawarij, adalah Syiah Rafidah. Khawarij diperangi oleh sahabat setelah didakwahkan karena mereka menyelisihi para sahabat, mengkafirkan para sahabat, mengkafirkan Utsman, mengkafirkan Ali, mengkafirkan seluruh para sahabat.

Dan Manhaj mereka, inti dari kesesatan mereka adalah pemahaman mereka yang sangat buruk terhadap Al-Qur'an. Saya jelaskan di kitab ini ketika membahas tentang firqah.

Bersamaan dengan itu muncul Ridah Syiah. Sebagian dari mereka dibakar hidup-hidup oleh Ali Bin Abi Thalib, radiiallahu taala Anhu, karena menuhankan Ali.

Sebagian kisahnya termaktub di Sahih Bukhari. Firkah yang ketiga, Qadariah. Qadariah terbagi dua: Qadariah yang asli dan Qadariah Muktazilah.

Qadariah yang asli adalah mereka yang bermazhab mengingkari ilmu Allah, bahwa Allah Jalla zikruhu tidak tahu apa-apa kecuali setelah terjadinya sesuatu. Oleh karena itu, para sahabat berlepas diri dari mereka.

Abdullah bin Umar, radiiallahu taala Anhu, ketika disampaikan oleh Tabi'in dan dua orang Tabi'in menemui Abdullah bin Umar, memberitahukan bahwa di sana ada kelompok, ada para pelajar yang mempelajari ilmu dan mereka mengingkari takdir.

Yang dimaksud mengingkari ilmu Allah. Maka Abdullah bin Umar berlepas diri dan membawakan hadis Jibril yang sangat terkenal. Karena Manhaj para sahabat, apabila muncul bid'ah, ahli bid'ah menampakkan bid'ahnya, maka para sahabat duduk di majelis, membacakan hadis-hadis Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, mengingkari ingkaran mereka, membantah mereka dengan membacakan hadis-hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.

Kita lihat perkataan dua orang Tabi'in yang mengatakan bahwa kelompok ini pelajar, penuntut ilmu. Yang jadi pertanyaan, mereka berada di Manhaj siapa? Sama seperti zaman kita, banyak halqah-halqah orang belajar tetapi sesat dan menyesatkan, tidak berada di atas Manhaj yang hak.

Pemimpin mereka waktu itu, Mabad Al-Juhani, tokoh mereka, Mabad Al-Juhani, duduk, yakni bersama mereka, membahas tetapi tidak berdasarkan Manhaj yang hak. Tidak duduk di majelis para sahabat dan mereka menuntut ilmu tanpa basirah, hanya bermodalkan semangat dan cinta tetapi tidak mempunyai basirah.

Akhirnya mereka tersesat. Tiga firkah ini ditentang dan dibantah oleh para sahabat. Kita berhadapan dengan ketiga firkah dan melawan para sahabat. Kita berada di mana? Siapa yang akan kita benarkan? Ketiga firkah ini atau salah satunya atau para sahabat?

Karena hidup di zaman para sahabat, ketiga firkah sesat ini dan mereka berlawanan dengan para sahabat dan mereka menampakkan dan memunculkan bid'ah mereka. Maka ditentang oleh para sahabat.

Kita lihat Tabi'in memulangkan bertanya kepada para sahabat ketika mereka melihat ada kelompok-kelompok seperti ini. Mereka bertanya kepada ahli ilmu. Mereka bertanya kepada para sahabat, mencari sahabat.

Nah, ini keutamaan. Dari sini kita tahu bahwa ketiga kelompok ini hidup di kurun yang terbaik, tapi sesat. Dan mereka tidak termasuk Salaf.

Oleh karena itu, orang yang tidak berada di tiga kurun itu tetapi mengikuti Manhaj sahabat, maka dia Ahlus Sunnah, dia Salafi. Karena intinya adalah mengikuti Manhaj perjalanan keagamaan secara Tashil, berhujah, berdalil.

Kenapa saya harus berada di Manhaj Salaf? Kenapa saya memilih Manhaj? Harus tahu hujah, harus tahu dalilnya. Dan yang kedua, Tashil terperinci.

Karena Manhaj Salaf berbicara tentang Islam secara Kafa. Karena Manhaj inilah yang didakwahkan oleh para sahabat Ridwanullah alaihim Jamian.

Dan kita tahu pasti bahwa ketiga firkah tadi berlawanan dengan para sahabat, berlawanan secara Manhaj, secara sikap beragama yang menyelisihi para sahabat yang hidup pada zaman itu.

Dan para sahabat langsung diajarkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, menerima dari Nabi mereka yang mulia alaihiatu Wasalam. Saya kira faham.

Kemudian di kitab ini, saya mengawali memulai dengan empat buah mukadimah, sangat panjang sekali. Dan inti dari kitab ini ada di dalam mukadimah ini, dari halaman 11 sampai pada halaman 172.

Mukadimah yang pertama, kedua, ketiga, dan keempat untuk melapangkan jalan bagi para pembaca agar mudah memahami apa yang ditulis di dalam kitab ini.

Bu imah pertama dengan judul pengambilan mereka, kaum Salaf dan orang-orang yang mengikuti Manhaj mereka dalam menetapkan akidah mereka. Apa pegangan mereka? Apa pengambilan mereka? Apa yang menjadi dasar mereka di dalam menetapkan akidah mereka?

Pertama, bahwa mereka berpegang sekuat-kuatnya dengan Zahir Nas Alkitab dan Asunah. Mereka mengimaninya secara zahirnya nas-nas tersebut tanpa takwil yang batil atau tahrif, merubah lafaz atau makna atau arti yang hak kepada makna atau arti yang batil.

Mengapa demikian? Karena tidak satu pun dari ahli bid'ah melainkan mereka telah melakukan tahrif, tahrifun nusus, merubah Nas Al-Qur'an dan Sunah, persis seperti pendahulu mereka dari Ahlul Kitab.

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yang mengatakan kepada kita: "Sungguh pasti," kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, "kamu akan mengikuti sunah-sunahnya, yakni perjalanan cara kelakuan kehidupan orang yang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai jika mereka masuk ke lubang D, pasti kamu akan memasukinya."

Para sahabat paham siapa yang dimaksud oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Alahudasara. Bukankah Yahudi dan Nasara, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: "Siapa lagi kalau bukan mereka?"

Makhluk yang pertama melakukan tahrif adalah Iblis. Kemudian Iblis menyebarkan kepada talamidnya, murid-muridnya. Nanti akan kita bahas.

Oleh karena itu, Ahlus Sunnah berpegang sangat dengan Zahir Nas yang dimaksud. Mereka tidak melakukan takwil yang batil dan tahrif nusus, merubah Nas.

Itu setiap ahli bid'ah pasti akan merubah Nas, imma lafzan secara lafaz atau makna. Orang-orang Syiah Rafidah telah merubah Al-Qur'an secara lafaznya, persis seperti perbuatan Yahudi yang merubah Taurat dan Injil.

Lafaz-lafaz dalam Taurat dan Injil dirubah, diganti, dihilangkan, dan seterusnya. Demikian juga perbuatan Rafidah. Al-Qur'an tidak asli dan ini yang As. Nanti akan datang, Al-Qur'an tiga kali lipat lebih besar dari Al-Qur'an kaum Muslimin dan seterusnya.

Mereka tulis di kitab-kitab mereka dan mereka pun melakukan perubahan secara makna yang juga dilakukan oleh Yahudi dan contohnya tidak terhitung jumlahnya.

Wal tidak seorang pun, tidak satu pun dari firkah sesat dari ahli bid'ah melainkan mereka telah tahusus, merubah, merubah Nas. Kebanyakan perubahan yang mereka lakukan adalah perubahan makna.

Oleh karena itu, di sini saya berikan contoh seperti perbuatan Syiah Rafidah, Khawarij, Jahmiah, Muktazilah, Qadariah, dan seterusnya.

Nah, ini yang pertama, pengambilan mereka, kaum Salaf dan orang-orang yang mengikuti Manhaj mereka dalam menetapkan akidah mereka, berpegang dengan zahirnya Nas tanpa takwil yang batil dan tanpa tahrif.

Yang kedua, pada halaman 12, mereka mendahulukan dalil-dalil naqliah, Nas Alkitab dan Sunah dari dalil-dalil aqliah, akal. Atau dengan kata lain, mereka telah mendahulukan Wahyu Alkitab dan Wahyu Asunah dari rayu, dari Ryu akal pikiran semata.

Mengapa? Hal ini disebabkan bahwa yang menjadi asas dalam Islam adalah wahyu, bukan Ryu. Tetapi ketika kaum Salaf berbicara tentang ini, tidak berarti bahwa Manhaj Salaf telah menghilangkan atau merendahkan akal.

Tidak. Di dalam Islam dikenal dengan adanya dua macam dalil: yang pertama, dalil naqliah, dalil naqliah, dan juga disebut dengan dalil sam'iah. Dalil naqliah karena sampainya kepada kita melalui riwayat, melalui riwayat dengan jalur periwayatan, isnad atau sanad.

Dalil naqliah ini, dalil Alkitab dan Sunah, akan sampai kepada kita melalui jalur periwayatan dari siapa? Rabbul Alamin. Sanadnya, dia Rabbul Alamin, menyampaikan kepada Jibril. Jibril menyampaikan kepada Nabi kita yang mulia, alaihiatu wasalam, dan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam menyampaikan kepada sahabat.

Oleh karena itu, sahabat memiliki sanad yang sahih. Sanadnya itu dari Nabi mereka, dari Jibril, dari Rabbul Alamin. Dan sahabat menyampaikan kepada Tabi'in, dan Tabi'in menyampaikan kepada Tabi'ut Tabi'in.

Ini naql dengan jalan periwayatan, dikatakan samiyah, mendengar dengan jalan mendengar. Dalil naqliah, dalil Alkitab dan Sunah, atau hadis sampai kepada kita melalui jalur periwayatan dengan sanad dari Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, dari sahabat, dari Tabi'in, dan seterusnya.

Yang dimaksud adalah sunah yang sahihah, bukan hadis-hadis yang daif. Tidak. Yang dalil pertama. Yang kedua, dalil aqliah, nzariah, yang dimaksud dalil yang dihasilkan dari sebuah penelitian, pendapat, dan seterusnya.

Nah, ketika kita telah tahu ada dua macam dalil, dalil naqliah, dalil Alkitab dan Sunah, dan dalil aqliah, sekarang timbul pertanyaan: Mungkinkah bertentangan terjadi kontradiksi antara kedua macam dalil ini?

Jawabnya tidak. Tidak akan pernah bertentangan, berlawanan antara dua macam dalil ini. Jika seseorang menjadikan asas adalah dalil naqliah, asasnya adalah dalil naqliah, Wahyu, Wahyu Alkitab dan Wahyu Asunah.

Oleh karena itu, pada halaman 4, pertanyaan di atas: Mungkinkah terjadi pertentangan atau kontradiksi antara dalil-dalil naqliah dan dalil-dalil aqliah? Jawabannya kita serahkan kepada Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala.

Beliau mengatakan di dalam sebuah kitabnya yang sangat berharga, yaitu Ar-Radd 'ala al-Mantiq, sebuah bantahan terhadap logikanya orang-orang Yunani yang sebagian kaum Muslimin telah terperangkap dan masuk ke dalam penjara filsafat Yunani.

Maka Syekh menelanjangi mereka di kitabnya ini. Beliau mengatakan: "Bal k Rasul Sallallahu Alaihi Wasallam, bahkan segala sesuatu yang telah diketahui dengan akal, yang ikhtilaf akalnya, akal sih, akal sih adalah akal yang memiliki ketegasan.

Lawan dari sarih adalah akal yang iktiraf, dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah terjadi kontradiksi, kecuali terhadap orang-orang yang memiliki akal dengan akal yang iktiraf, terjadi kegoncangan di dalam akalnya.

Karena itu, akal yang iktiraf dapat dengan mudah dimasuki syubuhat, kerancuan-kerancuan. Maka Syekh mengatakan, karena akal memiliki ketegasan, maka tidak didapati dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya.

Yang menunjukkan bahwa dalil-dalil aqliah, akal itu selalu mengikuti Wahyu dan tidak akan pernah