Transcription
[Musik] Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, ini adalah pertemuan kita yang pertama terkait dengan sejarah Khulafah Ar-Rasyidun.
Yang pertama dimulai dengan Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu ta'ala Anhu. Ada beberapa poin yang akan kita bahas, Insya Allah, pada kesempatan kali ini.
Poin-poin pembahasan tentang Abu Bakar adalah sebagai berikut:
Yang pertama adalah tentang keistimewaan Abu Bakar, keistimewaan yang tidak dimiliki oleh para sahabat lainnya.
Kemudian, Insya Allah, poin kedua kita akan bahas tentang hadis-hadis tentang keutamaan Abu Bakar.
Setelah itu, Insya Allah, kita akan bahas tentang masalah pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah. Ini pembahasan yang sangat penting karena ada orang-orang yang mencari permasalahan dalam hal ini untuk mencela para sahabat terkait pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah.
Selanjutnya, kita juga akan bahas tentang kegiatan Abu Bakar selama menjadi khalifah. Meskipun Abu Bakar hanya memiliki masa pemerintahan selama dua tahun, namun banyak yang telah dilakukan Abu Bakar selama menjadi khalifah.
Di antaranya adalah tetap mengutus pasukan, seperti pasukan utama yang dipimpin oleh Zaid. Kemudian, memerangi nabi-nabi palsu dan para pengikut nabi-nabi palsu. Ini juga merupakan bahasan yang panjang, termasuk ekspansi atau perluasan negara Islam di zaman beliau.
Di antara hal penting lainnya adalah awal mula pengumpulan Al-Qur'an. Ini akan kita bahas pada pembahasan tentang Khalifah Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu ta'ala Anhu.
Mari kita beranjak pada poin yang pertama tentang keistimewaan Abu Bakar yang tidak dimiliki oleh para sahabat lainnya.
Salah satu keistimewaan Abu Bakar radhiallahu anhu adalah dia adalah orang dewasa yang pertama masuk Islam. Siapa orang pertama kali masuk Islam? Khadijah radhiyallahu ta'ala Anha, karena beliaulah yang pertama kali menenangkan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ketika Nabi turun dari Gua Hira dengan penuh ketakutan.
Setelah itu, siapa anak kecil pertama yang masuk Islam? Mereka mengatakan adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ta'ala Anhu.
Siapa budak yang pertama kali masuk Islam? Mereka mengatakan lelaki dewasa yang pertama kali masuk Islam adalah Abu Bakar As-Siddiq.
Ketika Abu Bakar As-Siddiq masuk Islam, dia berdakwah dan ikut memikul beban dakwah. Dengan sebab beliau, lima orang masuk Islam, yaitu Utsman bin Affan, Talhah, Abdurrahman bin Auf, dan Abu Ubaidah. Semua lima orang ini dijamin masuk surga.
Di antara sepuluh orang tersebut, lima orang masuk Islam berkat Abu Bakar, dan seluruh pahala mereka mengalir kepada Abu Bakar. Bahkan, jika saya tidak salah ingat, pernyataan Ibnu Hajar menyebutkan bahwa semua orang dewasa yang masuk Islam telah meneladani Abu Bakar, sehingga pahala mereka juga mengalir kepada Abu Bakar.
Ini menunjukkan betapa agungnya Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu ta'ala Anhu. Di antara keistimewaan Abu Bakar yang tidak dimiliki oleh yang lainnya adalah dia satu-satunya yang diberi gelar As-Siddiq.
Dia selalu membenarkan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Ketika Allah mengutus Nabi kepada kalian, seluruh sahabat mengatakan, "Engkau dusta, wahai Muhammad," kecuali Abu Bakar yang berkata, "Engkau benar."
Dalam peristiwa Isra Mi'raj, ketika orang-orang ragu tentang peristiwa tersebut, sebagian orang murtad bahkan ada yang kafir. Mereka datang kepada Abu Bakar dan mengejeknya, "Lihat kawanmu, dia mengatakan bahwa dia telah melakukan perjalanan di malam hari dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis dan kembali sebelum terbit fajar."
Maka Abu Bakar menjawab, "Saya membenarkan dia. Lebih dari itu, saya membenarkan bahwa dia telah menerima berita dari langit." Ini lebih menakjubkan daripada sekedar perjalanan menuju Baitul Maqdis.
Oleh karena itu, Abu Bakar diberi gelar As-Siddiq. Ketika Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam naik Jabal Uhud, gunung Uhud bergetar. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berkata, "Tenanglah, wahai Uhud, sesungguhnya yang berada di atasmu adalah seorang Nabi, seorang Siddiq, dan dua orang yang mati syahid, yaitu Umar dan Utsman radhiyallahu ta'ala anhum ajma'in."
Ini menunjukkan bahwa kita semua membenarkan, tetapi pembenaran kita tidak seperti pembenaran Abu Bakar. Dia memiliki pembenaran yang luar biasa, imannya sangat tinggi.
Makanya Umar berkata, "Seandainya iman Abu Bakar ditimbang dengan iman umat, masih lebih berat iman Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu ta'ala Anhu."
Ini adalah keistimewaan yang tidak dimiliki oleh sahabat-sahabat lainnya. Abu Bakar membenarkan sejak awal, dan pembenarannya tidak ada keraguan sama sekali.
Di antara peristiwa penting adalah ketika peristiwa Hudaibiyah. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menandatangani perjanjian damai dengan Suhail bin Amr, utusan dari kaum Quraisy, ada poin-poin yang secara zahir merugikan kaum Muslimin.
Di antara poin-poin tersebut adalah tidak bisa umrah tahun ini dan hanya boleh umrah tahun depan. Mereka harus kembali ke Kota Mekah selama tiga hari. Padahal, kaum Muslimin sudah berjalan dari Madinah menuju Mekah, menempuh 400 KM, dan sudah sampai di Hudaibiyah, tinggal 20 kilometer lagi menuju Ka'bah.
Namun, mereka dihadang dan dipaksa untuk menandatangani perjanjian damai. Nabi setuju dengan poin-poin tersebut, yang secara kasat mata merugikan kaum Muslimin.
Ketika Rasulullah SAW baru saja setuju dengan perjanjian tersebut, tiba-tiba ada seorang bernama Abu Jandal, anaknya Suhail bin Amr, melarikan diri dari Mekkah menuju Kota Madinah. Dia datang kepada Nabi dan kaum Muslimin dalam kondisi terbelenggu.
Dia berkata, "Selamatkan aku, wahai kaum Muslimin." Kemudian ayahnya, Suhail bin Amr, yang merupakan delegasi dari kaum musyrikin, berkata, "Wahai Muhammad, ini harus dikembalikan."
Abu Jandal berkata, "Wahai kaum Muslimin, aku kabur dari mereka dengan susah payah. Apakah kalian ingin aku dikembalikan kepada mereka, dan mereka akan memfitnahku dalam agamaku?"
Rasulullah SAW mengatakan, "Wahai Suhail, kecualikan yang ini. Nanti habis ini baru yang lain harus dikembalikan."
Akhirnya, Rasulullah SAW mengatakan, "Ini sudah, Abu Jandal, baliklah engkau ke Kota Mekah."
Para sahabat yang melihat kejadian ini semua geram dan jengkel. Mereka sudah berjalan jauh, ingin menyelamatkan diri, tetapi disuruh kembali.
Setelah selesai perjanjian tersebut, Rasulullah SAW menyuruh para sahabat untuk menyelesaikan umrah mereka dengan mencukur rambut dan menyembelih hewan. Namun, tidak ada yang mau melakukannya.
Bahkan Umar datang kepada Nabi, "Wahai Rasulullah, bukankah kita di atas kebenaran? Mereka di atas kebatilan."
Nabi menjawab, "Benar, wahai Umar."
Kemudian Umar berkata lagi, "Kita berperang dengan mereka. Jika kita meninggal, kita masuk surga. Jika mereka mati, mereka masuk neraka. Benar atau tidak?"
Nabi menjawab, "Benar."
Umar merasa jengkel. Mereka sudah berjalan jauh, tetapi tidak jadi umrah. Mereka sangat merindukan Ka'bah setelah enam tahun meninggalkan kampung halaman.
Ketika itu, hampir seluruh sahabat tidak setuju dengan Nabi SAW, kecuali Abu Bakar. Umar pun datang kepada Abu Bakar dan bertanya, "Wahai Abu Bakar, bukankah kita di atas kebenaran? Jika kita berperang, kita masuk surga."
Abu Bakar menjawab, "Iya, tetapi mengapa kita harus merendah di hadapan mereka? Sesungguhnya dia adalah utusan Allah dan tidak akan membangkang perintah Allah subhanahu wa ta'ala."
Umar berdali lagi, "Bukankah Rasulullah mengatakan kita akan tawaf?"
Abu Bakar menjawab, "Apakah Rasulullah berkata tahun ini?"
Umar menjawab, "Tidak, kita akan tawaf tahun depan."
Umar sudah jengkel. Mereka sudah dekat, tetapi tidak jadi umrah.
Akhirnya, Rasulullah SAW menyuruh para sahabat untuk mencukur rambut mereka, tetapi tidak ada yang mau. Mereka berharap Rasulullah SAW berubah pikiran.
Mereka ingin Rasulullah mengambil kertas perjanjian dan merobeknya. Mereka ingin agar tidak ada keraguan.
Dalam sebagian riwayat, diriwayatkan bahwa Nabi berkata, "Abu Bakar, tidaklah aku menawarkan Islam pada seorang pun kecuali pasti langsung terima."
Kecuali Abu Bakar, yang langsung menerima tanpa ragu.
Karena dia adalah teman dekat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Dia tahu betul siapa Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
Muhammad tidak pernah berdusta seumur hidupnya. Dia adalah orang yang diberi gelar oleh orang-orang Quraisy sebelum mengaku sebagai Nabi, dengan gelar Al-Amin, yang jujur dan amanah.
Ketika Nabi bilang, "Saya seorang Nabi," Abu Bakar langsung membenarkan tanpa ragu.
Nampak pembenarannya ketika Isra Mi'raj dan peristiwa Hudaibiyah.
Ini di antara bukti bahwa Abu Bakar adalah satu-satunya yang harus jadi imam ketika Rasulullah SAW sakit.
Ketika Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sakit, beliau memerintahkan agar Abu Bakar menjadi imam.
Aisyah berkata, "Ya Rasulullah, Abu Bakar itu orang yang lembut, suka menangis. Jika jadi imam, suaranya tidak kedengaran."
Rasulullah menjawab, "Suruh Abu Bakar jadi imam."
Aisyah sampai berkata, "Kalian ini seperti wanita-wanita yang ada di kisah Nabi Yusuf."
Maksudnya, mereka mengatakan sesuatu yang berbeda dengan maksudnya.
Aisyah khawatir jika Abu Bakar jadi imam, itu pertanda Rasulullah akan meninggal.
Namun, Rasulullah SAW bersikeras agar Abu Bakar jadi imam.
Akhirnya, Abu Bakar menjadi imam. Tidak ada yang disuruh kecuali Abu Bakar.
Di antara keistimewaan Abu Bakar yang tidak dimiliki oleh yang lainnya adalah dia satu-satunya yang menemani Nabi berhijrah.
Ketika Rasulullah SAW akan berhijrah, Abu Bakar ingin ikut.
Siapa yang menemani Nabi dalam perjalanan dari Mekkah menuju Madinah? Abu Bakar.
Siapa yang tidur bersama Nabi di gua? Abu Bakar.
Rasulullah SAW mengatakan, "Abu Bakar adalah sahabatku."
Allah menyatakan bahwa Abu Bakar adalah sahabat Nabi.
Ketika Nabi dan Abu Bakar berada di gua, Nabi berkata kepada sahabatnya, "Jangan kau sedih, sesungguhnya Allah bersama kita."
Ini adalah tazkiyah dari Allah yang membenarkan perkataan Nabi.
Semua kegiatan hijrah, semua kegiatan hijrah, dengan jasa Abu Bakar dan keluarganya.
Siapa yang menyiapkan onta untuk berhijrah? Abu Bakar.
Siapa yang menyiapkan makanan untuk hijrah? Abu Bakar.
Siapa yang mengikat makanan dan minuman? Asma binti Abu Bakar.
Dia mengambil ikat pinggangnya dan memotongnya menjadi dua, satu untuk mengikat makanan dan satu untuk mengikat minuman.
Sejak saat itu, Asma binti Abu Bakar diberi gelar Dzatun Nithaqain, pemilik dua ikatan.
Ini adalah gelar yang menunjukkan kemuliaan Asma binti Abu Bakar.
Meskipun jasanya hanya mengikat makanan, tetapi ini diabadikan karena makanan ini terkait dengan kejayaan Islam.
Ketika Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tidur bersama Abu Bakar di gua, siapa yang memberi informasi kepada Nabi? Abdullah bin Abu Bakar, putranya Abu Bakar.
Dia pergi ke Kota Mekah untuk melihat kondisi dan malamnya melapor kepada Nabi.
Siapa yang menghilangkan jejak? Amir bin Fuhairah, budak yang digembalakan oleh Abu Bakar.
Semua perjalanan hijrah dengan jasa Abu Bakar As-Siddiq.
Dia juga menemani Nabi berdoa di Perang Badar.
Nabi berdoa di Aris, dan hanya Abu Bakar yang diajak untuk berdoa.
Nabi dan Abu Bakar berdoa agar Allah memenangkan kaum Muslimin.
Nabi mengangkat tangan dan berdoa hingga ridanya jatuh.
Setelah selesai berdoa, Abu Bakar mengambil ridanya yang jatuh dan mengaitkannya kembali ke pundak Nabi.
Dia berkata, "Cukup, doamu sudah cukup. Allah pasti akan mengabulkan doamu."
Hanya Abu Bakar yang menemani Nabi dalam doa tersebut.
Di antara keistimewaan Abu Bakar adalah satu-satunya yang diizinkan bersedekah dengan seluruh hartanya.
Seluruh hartanya disumbangkan, dan Rasulullah SAW tidak melarangnya.
Ketika Abu Bakar menyumbangkan seluruh hartanya, dua kali, pertama ketika hijrah dan kedua ketika Perang Tabuk.
Ketika hijrah, Abu Bakar menyumbangkan seluruh hartanya untuk hijrah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.
Ayahnya, Abu Quhafah, datang dan bertanya, "Apa yang diserahkan oleh ayah kalian?"
Asma binti Abu Bakar menjawab, "Ada harta, tetapi ternyata hanya batu-batu."
Ketika Perang Tabuk, Rasulullah SAW memotivasi orang untuk bersedekah.
Abu Bakar dan Umar berlomba-lomba. Umar membawa setengah hartanya, tetapi Abu Bakar menyumbangkan seluruh hartanya.
Rasulullah bertanya, "Apa yang kau sisakan untuk keluargamu?"
Abu Bakar menjawab, "Aku sisakan untuk mereka Allah dan rasul-Nya."
Rasulullah SAW menerima sedekah seluruh harta tersebut.
Ini menunjukkan imannya yang luar biasa.
Kira-kira, gampang sedekah dengan seluruh harta, tetapi Abu Bakar melakukannya.
Ini di antara keistimewaan yang dimiliki oleh Abu Bakar As-Siddiq yang tidak dimiliki oleh sahabat-sahabat lainnya.
Hanya Abu Bakar yang tidak ditutup pintu antara dua rumah.
Rasulullah SAW mengatakan, "Semua pintu yang mengantarkan kepada Masjid Nabawi sudah ditutup, kecuali pintu Abu Bakar."
Hanya Abu Bakar yang paling dicintai oleh Nabi.
Dia adalah orang yang paling dicintai Nabi, dan tidak didapatkan oleh sahabat-sahabat lainnya.
Baru masuk Islam beberapa bulan, Rasulullah SAW menyuruhnya untuk menjadi pemimpin perang dalam perang Zatus Salasil.
Dia baru beberapa bulan masuk Islam, tetapi Rasulullah SAW mengangkatnya menjadi Amir perang.
Anak buahnya banyak, di antara Abu Bakar dan Umar.
Ketika pulang perang, dia merasa Rasulullah sangat sayang padanya.
Dia bertanya, "Siapa orang yang paling kau cintai, ya Rasulullah?"
Rasulullah menjawab, "Abu Bakar."
Dia merasa takut, "Saya yang paling terakhir disebut."
Namun, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memperlakukan Abu Bakar dengan luar biasa.
Sehingga dia menyangka bahwa dia adalah orang yang paling dicintai oleh Nabi.
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Seandainya saya boleh mengambil kekasih dari kalangan manusia, saya akan angkat Abu Bakar sebagai kekasih."
Ini menunjukkan kecintaan Nabi yang luar biasa kepada Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu ta'ala Anhu.
Sekitar ada sembilan poin yang menunjukkan keistimewaan Abu Bakar yang tidak dimiliki oleh sahabat-sahabat lainnya.
Baik, sekarang kita akan masuk pada poin kedua, hadis-hadis tentang keutamaan Abu Bakar As-Siddiq.
Saya akan bacakan hadis-hadis yang sangat banyak, tetapi kita sebutkan sebagiannya.
Dalam hadis riwayat Ahmad dan Nasa'i, Rasulullah SAW bersabda ketika beliau sakit dan meninggal dalam kondisi sakit.
Beliau memuji Allah dan menyanjungnya, kemudian berkata, "Tidak seorang pun dari seluruh manusia yang paling berjasa kepadaku, baik dari jiwanya maupun hartanya, seperti Abu Bakar."
Tidak ada yang paling berjasa kepadaku, sampai dalam satu hari berkata, "Tidak ada harta yang paling bermanfaat bagiku seperti hartanya Abu Bakar."
Abu Bakar pun menangis ketika dipuji oleh Nabi.
Lantas Abu Bakar berkata, "Tidaklah harta dan jiwaku kecuali untuk Anda, wahai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam."
Abu Bakar pernah berkata kepada para sahabat, "Allah mengutus kepada kalian, tetapi kalian berkata aku dusta. Abu Bakar membenarkan."
Ketika kalian mendustakan aku, dia membantu aku dengan jiwa dan hartanya.
Maka Rasulullah mengatakan, "Tidak ada yang paling berjasa dalam hidupku seperti Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu Anhu."
Karena dia bersedekah dan mengorbankan jiwanya ketika belum ada orang-orang yang beriman kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.
Kemudian Rasulullah SAW berkata, "Walaupun saya boleh mengambil kekasih dari kalangan manusia, saya akan jadikan Abu Bakar sebagai kekasihku."
Walaupun persaudaraan sama Islam saja sudah masjid, Abu Bakar tutup semua jalan menuju masjid kecuali jalannya Abu Bakar.
Ketika kalian meninggal dunia, isyarat bahwasanya yang akan jadi khalifah setelah aku adalah Abu Bakar.
Karena khalifah butuh jalan yang langsung menuju masjid, karena dia akan jadi imam setelah meninggal dunia.
Ini adalah isyarat nantinya semua pintu suruh tutup kecuali pintu Abu Bakar.
Di antara hadis yang menunjukkan tentang keutamaan Abu Bakar radhiallahu ta'ala Anhu adalah dia adalah yang awal-awal masuk Islam.
Kata Amr bin Abbas, "Saya menyangka semua manusia sesat dan mereka tidak memiliki sandaran apapun dan mereka menyembah berhala."
Saya pun segera naik tungganganku dan menuju orang tersebut yang menyampaikan kabar-kabar.
Ketika bertemu dengan beliau, saya berkata, "Siapa Engkau?"
Nabi menjawab, "Ana nabiyun."
Saya bertanya, "Apa itu nabi?"
Nabi menjawab, "Silaturahmi untuk menghancurkan berhala-berhala dan agar Allah di tauhidkan dan tidak disekutukan."
Saya bertanya, "Siapa yang bersamamu dalam dakwahmu?"
Nabi menjawab, "Abu Bakar dan seorang budak."
Artinya, Abu Bakar dan Bilal bersama Nabi dalam dakwah.
Ketika Nabi ditanya, "Kau sedang sama siapa?" Nabi menjawab, "Abu Bakar."
Di antara keutamaan Abu Bakar radhiallahu ta'ala Anhu adalah ketika terjadi diskusi antara Abu Bakar dan Umar.
Akhirnya Abu Bakar bersalah dan Umar pun tersinggung.
Abu Bakar minta maaf kepada Umar, tetapi Umar tidak mau.
Akhirnya, Abu Bakar pergi ke rumah Nabi untuk curhat.
Dia berkata, "Ya Rasulullah, antara aku dan Umar ada permasalahan."
Nabi menjawab, "Allah akan mengampuni engkau tiga kali."
Akhirnya Umar menyesal karena tidak memaafkan sahabatnya Abu Bakar.
Dia pun segera ke rumah Abu Bakar untuk meminta maaf.
Ketika Nabi melihat Umar, wajah Nabi terlihat marah.
Nabi marah kepada Umar karena Umar tidak mau memaafkan sahabatnya, Abu Bakar.
Ketika Abu Bakar melihat Nabi dalam kondisi marah, dia berkata, "Ya Rasulullah, saya yang salah. Jangan marah kepada Umar."
Namun, Nabi tetap membela Abu Bakar.
Kata Nabi, "Ini sahabat kalian. Kalian semua bilang Muhammad dusta, tetapi Abu Bakar membenarkan."
Ini menunjukkan betapa luar biasanya kedudukan Abu Bakar di sisi Nabi.
Di antara keistimewaan Abu Bakar dalam hadis dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Siapa yang berinfak dengan dua sepasang, maka dia akan dipanggil untuk berjihad di jalan Allah."
Dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga.
Siapa yang ahli salat, pada hari kiamat kelak dia akan dipanggil dari pintu salat di surga.
Siapa yang suka berjihad, maka dia dipanggil dari pintu jihad.
Siapa yang suka bersedekah, maka akan dipanggil dari pintu sedekah.
Siapa yang suka berpuasa, maka akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan.
Abu Bakar bertanya, "Adakah seorang yang dipanggil dari semua pintu?"
Rasulullah menjawab, "Ada orang seperti itu, dan saya berharap engkau termasuk mereka, wahai Abu Bakar As-Siddiq."
Ini menunjukkan bahwa Abu Bakar adalah orang yang beribadah dalam segala hal.
Makanya dalam satu hadis, Rasulullah SAW pernah bertanya, "Siapa di antara kalian yang puasa hari ini?"
Abu Bakar menjawab, "Saya, ya Rasulullah."
"Siapa yang hari ini mengikuti jenazah?"
Abu Bakar menjawab, "Saya, ya Rasulullah."
"Siapa yang hari ini memberi makan kepada fakir miskin?"
Abu Bakar menjawab, "Saya, ya Rasulullah."
Rasulullah SAW berkata, "Tidaklah berkumpul pada seorang kecuali masuk surga."
Ini menunjukkan bahwa Abu Bakar beramal saleh dengan berbagai macam amal saleh.
Makanya pantas jika nanti dia dipanggil dari seluruh pintu-pintu yang ada di surga.
Namun, ini mungkin bisa disampaikan. Insya Allah, kita sampaikan hadis-hadis yang lain terkait dengan masalah pembahasan pemilihan Abu Bakar sebagai khalifah pada pertemuan berikutnya, Insya Allah ta'ala.
Ini adalah pembahasan yang sangat penting karena di sinilah orang-orang orientalis menghembuskan syubhat, sebagaimana orang-orang juga menghembuskan syubhat permasalahan absahnya Abu Bakar radhiyallahu Anhu sebagai khalifah.
Demikian saja apa yang saya sampaikan. Subhanallah.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.