Transcription
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah, kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah subhanahu wa taala atas nikmat yang Allah berikan kepada kita.
Sebagaimana selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulillah alaihi wa sallam, beserta para keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang istiqamah berjalan di bawah sunnah beliau sampai hari kiamat.
Kita meminta kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan dilindungi dari ilmu yang tidak bermanfaat. Semoga Allah memberikan pertolongan kepada kita dan saudara-saudara kita, khususnya yang terzalimi di Palestina dan di berbagai macam tempat.
Semoga Allah perbaiki urusan kita dan urusan pemimpin-pemimpin kita. Semoga Allah jaga kita dan masa kita dari segala keburukan. Amin ya rabbal alamin.
Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa taala kembali dipertemukan oleh Allah subhanahu wa taala dengan karya Al Imam An-Nawawi rahimahullahu taala, rahmatan wasi'ah.
Semoga Allah merahmati keluarga beliau, orang tua beliau, guru-guru beliau, dan semoga Allah merahmati ulama kita dan guru-guru kita yang menjaga keikhlasan dan konsisten dalam mengabdikan waktunya untuk Allah tabaraka wa taala.
Semoga kita diberikan ilmu nafi. Amin ya rabbal alamin.
Hadirin Allah muliakan, kembali bersama penutupan bab ini dan kembali kita melihat beberapa contoh singkat praktik para ulama.
Kemarin kita telah menjelaskan bagaimana Ibrahim al-Hari dan Yusuf al-Qadi, sebagaimana yang diceritakan oleh Al-Han bin Quraisy atau Abil Hasan bin Quraisy.
Sekarang mari kita beranjak ke Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam.
Imam Ahmad berkata, Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam kepada Imam Ahmad, kata beliau rahimahumullah, "Laar Mahabbah lma khajnaik amanak."
Kalau kunjungan atau kebersamaan itu harus sesuai dengan kadar cinta, atau disesuaikan dengan kadar cinta karena Allah, maka kami tidak akan keluar dari sisimu.
Kami tidak akan berpisah denganmu, atau kami tidak akan meninggalkan. Jadi, 24/7 itu di samping beliau rahimahullah, 24 jam kali 7 itu bersama dengan beliau.
Jadi, kalau untuk menunjukkan betapa besarnya cinta karena Allah dan untuk menunjukkan bahwa ekspresi fisik itu tidak bisa mengungkapkan secara penuh apa isi hati.
Sebagaimana kita sampaikan juga bahwa mereka mengerti kedudukan dan jasa seseorang, sehingga mereka katakan walaupun kita sudah berusaha menunaikan hak saudara kita, atau kalau dalam konteks ini ulama besar, tapi upaya kita itu belum mengekspresikan atau belum mengungkapkan cinta yang lebih mendalam dan hak beliau yang begitu besar.
Karena sekali lagi, cinta karena Allah itu berkaitan dengan jasa-jasa seseorang atau kebaikan seseorang dalam menunaikan hak Allah, dalam menunaikan hak Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, dalam agama, atau kepada kita.
Jadi, apa yang aku lakukan ini walaupun sudah jungkir balik, sudah susah payah, tapi tetap tidak bisa untuk mengungkapkan secara utuh rasa cinta karena Allah kepada engkau.
Kenapa? Karena apa yang kau lakukan lebih besar, kebaikan yang dilakukan lebih tinggi lagi, lebih banyak lagi.
Sehingga sekali lagi, orang-orang beriman itu memadukan antara upaya yang totalitas dan mengakui bahwa dia belum bisa memberikan yang seharusnya.
Itu pola rasa cinta karena Allah.
Lalu dikatakan, "Min ikhwanina man la nalqohu illa fil marah wahuaana mimalqohuaha."
Masa lu disampaikan bahwa di antara saudara-saudara kami, di antara sahabat-sahabat kami, ada yang perjumpaannya hanya sekali dalam setahun, tapi hubungan kita lebih dekat, lebih solid, lebih kuat daripada orang-orang dan pihak-pihak yang kita ketemu setiap hari.
Jadi, lihat bagaimana seringkali parameter bukan dalam sisi fisik, tapi sisi hati.
Karena sisi fisik atau pengungkapan dari perbuatan real itu seringkali tidak bisa mewakili apa yang ada dalam hati.
Kenapa? Karena manusia penuh keterbatasan.
Ada orang ingin, kalau dalam konteks mengunjungi, ada orang ingin mengunjungi sahabatnya atau gurunya, tapi terkendala biaya.
Dia tidak sekaya yang lain, ya bisa bolak-balik datang, bolak-balik datang, bolak-balik datang.
Tapi rasa cintanya sama sahabatnya atau sama gurunya, misalnya, atau sama orang tuanya itu melebihi orang-orang yang ada di sekitar sahabatnya, gurunya, atau orang tuanya.
Karena ada anak yang tidak bisa ke rumah orang tuanya kecuali setahun sekali ketika lebaran, tapi rasa cintanya lebih besar daripada orang-orang yang tinggal sekampung sama orang tua.
Jadi, lihat bagaimana menarik bahwa ini intinya adalah dalam hati, tapi harus kita ekspresikan, harus kita ungkapkan.
Dan pengungkapan itu seringkali tidak bisa mewakili apa yang di dalam hati.
Maka kalau itu yang terjadi, parameternya ada yang ada pada dalam hati.
Dan sekali lagi, tadi kita sampaikan bahwa orang-orang yang membangun hubungannya karena Allah subhanahu wa taala itu memadukan banyak sikap-sikap yang indah, yaitu totalitas berusaha menunaikan hak, berusaha untuk memberikan yang terbaik.
Tapi dia sadar, atau dia merasa walaupun dia sudah berikan yang terbaik, seringkali tidak bisa menunaikan hak seseorang.
Maka dia meminta uzur, meminta maaf, meminta dimaklumi.
Lihat bagaimana ulama dan orang-orang saleh itu memadukan dua hal tersebut.
Hadirin berusaha memberikan yang terbaik kepada pihak lain, apalagi orang yang punya jasa, orang yang punya kebaikan yang besar.
Tapi di sisi lain, alih-alih mengungkit kebaikan, mengungkit pemberian, atau mengungkit apa yang sudah dilakukan, mengungkit kunjungan mereka, justru berpikir apa yang saya lakukan ini tidak bisa ngebayar, tidak bisa menunaikan haknya, tidak bisa untuk balas budinya, tidak bisa untuk balas jasanya.
Kita harus standby 24/7, standby 7 ke 24 jam.
Nah, siapa yang bisa demikian?
Jadi kita datang sambil minta maaf, mohon maaf belum bisa menunaikan.
Jadi, lihat bagaimana ketinggian nilai-nilai yang dimiliki oleh orang-orang saleh dan para ulama.
Dan lihat bagaimana uzur itu terjadi di tengah-tengah mereka.
Dengan itu tadi, ini apa artinya?
Di disampaikan, "Intinya tuh bukan apa, kalau memang tidak bisa kecuali setahun sekali, tapi hati kita itu selalu bersama dan lebih kuat daripada yang ketemu setiap hari."
Jadi, hadirin Allah muliakan, ini hal yang sangat penting bagi kita.
Karena sekali lagi, salah satu inti dari cinta karena Allah adalah bagaimana kita fokus menunaikan kewajiban kita dan bagaimana fokus dalam memberi, bukan fokus dalam menuntut dan menerima.
Apa yang sudah kita berikan, bagaimana kita membalas, bagaimana kita memberikan yang terbaik.
Itu cinta karena Allah subhanahu wa taala.
Bahkan jangankan orang yang sudah baik sama kita, orang yang mungkin tidak terlalu dekat dengan kita, tapi sumbangsihnya dan performanya dalam menunaikan hak Allah subhanahu wa taala, hak Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.
Lalu bagaimana mengamalkan agama dan rajin beribadah itu membuat kita kepikiran bagaimana menunaikan hak orang itu, bagaimana membalas jasa-jasanya.
Padahal bisa jadi bukan jasa-jasa pribadi ke kita, tapi kita gimana cara memberikan atau membalas, misalnya jasa-jasanya terhadap kebaikan pada amal saleh tertentu.
Misalnya kita di sebuah desa atau kampung, kita tidak terlalu dekat, atau kita baru, atau kita tidak terlalu dekat dengan sosok, misalnya sosok Ustaz atau Kiai yang mendakwahkan iman dan tauhid di kampung tersebut.
Sampai itu kampung orangnya jadi baik-baik, jadi bertakwa kepada Allah, akhlaknya mulia.
Ketika kita masuk atau kita berkunjung, "Kok bisa nih orang kampung, orang desa perangainya dan sifatnya seperti ini?"
Oh, ternyata dididik sama Ustaz atau Kiai.
Oh, gimana saya balasnya?
Ya itu mikir tuh, itu cinta karena Allah.
Emangnya dia pernah, emangnya kenal? Enggak pernah berbuat baik personal kepada anda? Enggak.
Tapi ini kan menunaikan hak Allah, menunaikan hak Allah.
Dan kita diperintahkan cinta karena Allah subhanahu wa taala.
Jadi berpikir, gimana caranya?
Apalagi kalau misalnya pihak-pihak tersebut sudah menunaikan hak Allah, punya jasa pribadi juga sama kita, itu harusnya lebih pusing lagi kita kalau kita benar-benar cinta karena Allah subhanahu wa taala.
Tapi kalau kita oportunis, kalau kita ahli dunia yang berkedok kebaikan, oh enggak, kita hanya berpikir, "Apa yang bisa saya dapatkan? Gimana saya memeras, bagaimana saya dapat keuntungan pribadi dari kondisi seperti ini?"
Itu terus yang dipikirkan.
Tapi orang-orang yang cintakan Allah enggak.
Mereka lebih berpikir, "Apa kewajiban saya? Saya sudah tunaikan? Apakah tanggung jawab saya? Saya sudah tunaikan? Dan apakah hak mereka sudah saya berikan?"
Atau hak dia sudah saya berikan?
Kalau dia sahabat, apakah hak dia sudah saya berikan?
Kalau dia orang tua, apakah hak beliau sudah kita berikan?
Dan seterusnya, itu cinta karena Allah.
Dan kita enggak diminta hal-hal gitu, sebagaimana sudah kita bahas.
Kalau dapat kesulitan, ngeluh, protes.
Tapi kalau dapat kenikmatan, pelit dan sangat egois, dan enggak mau berbagi dengan yang lain.
Jadi ini hal yang sangat penting untuk kita renungkan.
Simpel, tapi lihat bagaimana kerangka berpikir mereka dan bagaimana sikap mereka.
"Laarqil mahabbah l khajna minqna."
Kalau durasi kebersamaan atau kunjungan sesuai dengan harus disesuaikan dengan rasa cinta kita, enggak akan meninggalkanmu.
Jadi mohon maaf dan juga kasih uzur kalau aku, kalau saya harus meninggalkan engkau untuk mengerjakan yang lain.
Itu bukan berarti saya enggak cinta atau enggak.
Tapi ini karena keterbatasan saya.
Itu loh, ini karena keterbatasan saya.
Jadi makanya sangat berkualitas sekali.
Allahu taalaam.
Saya rasa cukup sampai di sini.
Semoga Allah memberikan taufik dan semoga menjadi bahan renungan bagi kita.
Subhanakamahailla Anta, astagfirik.
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ketika Ayahku mengajar membaca Al-Quran, di antara kita adakanya air mata mengalir begitu saja saat membaca kalamullah.
Teringat bagaimana Allah mampukan kita mempelajari huruf demi huruf Al-Qur'an melalui perantara Ayah maupun guru yang Ayah pilihkan untuk mengajar kita.
Ayah menyemangati kita mengenal huruf Al-Qur'an, membacanya hingga menghafal surat demi surat dari kitab terbaik ini.
Entah sudah berapa kebaikan yang beliau berikan kepada kita, namun rasanya belum cukup kita membalas kebaikannya.
Kini sosok itu telah tiada, namun kebaikan ilmu yang beliau ajarkan melekat dalam diri kita.
Sudahkah kita memberikan balasan terbaik untuknya?
Doakan kebaikan untuk beliau dan hadiahkan aliran pahala yang tidak terputus melalui kegiatan belajar Al-Qur'an, kitab terbaik yang Allah turunkan.
Mari berinfak dan menjadi bagian dari perjuangan memberantas buta huruf Al-Qur'an dan program keilmuan lainnya bersama Muhajir projek tilawah.
Salurkan infak terbaik kita melalui.