Transcription
[Musik] Baik, seseorang bertanya kepada Ibnu Abbas radhiallahu ta'ala anhuma riwayat Firaun. Sekali ya, pertanyaannya sederhana. Jadi, ketika beliau sudah berusaha merawat ibundanya sampai dengan optimal dan sampai meninggal dunia, lalu dia berkata, "Saya alhamdulillah telah membalas budi orang tua saya seperti ia merawat saya saat kecil. Ya, saya telah membalas sampai Ibu saya meninggal, saya balas perawatan itu seperti Ibu saya merawat sejak kecil." Apa komentar Ibnu Abbas radhiallahu ta'ala anhuma? Kata beliau, "Tetap tidak akan engkau pernah penuhi bakti ibumu kepadamu dengan baktimu kepada ibumu. Bukankah ibumu merawat engkau supaya engkau hidup dan tumbuh? Sedangkan engkau merawatnya menuju kematian ibumu; engkau mengharapkan kematiannya, sertakan Ibu mengharapkan kehidupanmu." Di sini, Ibnu Abbas, seorang penafsir Quran yang legalitasnya langsung dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam, dan hadis-hadis Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam menunjukkan tidak ada batas pengabdian dan bakti kepada orang tua. Apa indikasinya? Jangankan hidup, saat meninggal pun masih ada ibadah yang pahalanya diteruskan untuk orang tua. Pernah dengar? Padahal haji dan umrah ya untuk orang tua, bukannya orang yang sudah tidak ada. Kalau pun tak mampu dia kerjakan atau sudah wafat, dan ternyata bukan hanya padahal haji dan umrah, ada padahal puasa. Seorang datang kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah, Ibuku meninggal, aku ingin berbuat baik. Boleh enggak puasa untuk Ibu?" Kata Nabi, "Lakukan." Pernahkah dengar kita bagaimana seseorang menyembelih saat korban diniatkan kepada orang tua yang telah meninggal? Ada dalilnya, dan boleh dilakukan. Imam Ahmad bin Hambal juga akan menegaskan itu. Jadi, batas kepada orang tua itu tidak ada batasnya, sampai kata pun sepanjang kita masih berkehidupan. Bahkan kalau ingin wafat pun masih berbuat baik adalah… bagaimana caranya? Di hadis Muslim dengan 9 lafaz ya, idaman jika wafat seorang manusia, aktivitas terputus semua amalnya kecuali tiga. Apa itu? Satu, shodaqoh jariyah, shodaqoh yang terus mengalir. Ada seorang anak, ibunya bapaknya sudah meninggal, dia mau sedekah karpet misalnya di mushola. Ini pertamina, atau sedekah mushaf Quran disimpan di situ. Lalu anak ini meninggal, mushafnya masih ada, ya, karpetnya masih ada. Itu kalau disujud, dibacain terus, bukan hanya untuk anak itu, karena konsep dasarnya untuk wakaf orang tua atau sedekah untuk orang tua, ngalir ke orang tuanya juga. Ini ada kan, kalau sudah walaupun di pertamina selesaikan, masih dikerjakan, mengajarkan dan sebagainya. Kalau diniatkan ibadah dan niatnya dia katakan misalnya, "Saya berniat ibadah, pahalanya mengalir untuk orang tua saya." Jadi kalau dia mengajarkan itu kemudian meninggal, dipraktekkan dari hasil CSR yang bikin masjid, bikin ini, jaga salat lima waktunya misalnya, kalau ini masih hidup. Anak saleh yang berdoa untuk orang tuanya. Jadi sekali lagi, tidak ada batas birrul walidain dari seorang anak kepada orang tuanya. Allah Ta'ala, seorang anak yang selalu mengingatkan pekerjaannya untuk bakti pada orang tua itu, Allah langsung jawab di dunia tanpa menunggu akhirat. Jadi di akhirat pahalanya, di dunia Allah desain segala kemudahan yang mengiringi aktivitasnya. Anda kalau sedang eksplorasi, kesulitan dan sebagainya, coba minta doa orang tua, datangi orang tua, baktikan orang tua. Itu akan ada pengaruhnya. Ini kelihatan sederhana, tapi sayang, Allah kadang-kadang dilekatkan lewat rida kedua orang tua. Dan itu konsepnya sudah banyak ada. Pekerja, tiga orang pekerja kehujanan, kemudian singgah di sebuah gua, ketutup sama batu besar. Di Al Bukhari, panjang Saleh hadisnya, ya salah satu di antara mereka mendorong, enggak bisa. Dua orang, enggak bisa. Tiga orang, enggak bisa ketiganya. Maka mereka sepakat menggunakan rumus Al Maidah di ayat yang ke-35, ya ayyuhalladzina amanu taqqullah, maka tawasul. Carilah di antara yang bertawasul itu dengan amal salehnya terhadap orang tua, seperti Anda, Pak, bekerja. Ibu kerjanya banyak dan sebagainya, dia dedikasikan pekerjaannya untuk berbakti pada ibunya. Jadi setiap pulang dia akan siapkan makanan dengan susu yang diminumkan langsung di ibunya. Enggak pernah makan kecuali ibunya dulu. Hasil pekerjaannya demikian. Satu kali begitu datang sebelum meminumkan susu, menghilangkan makanan ibunya, tertidur di luar jadwal. Maka kata beliau, "Saya tetap menyiapkan susunya, saya pegang di samping beliau sampai bangun. Saat bangun pun ibunya enggak sadar karena sudah tua, enggak sadar bahwa anaknya sudah berdiri lama, dan saya tidak mengatakan di lisanku sedikitpun untuk melukai hati Ibu bahwa saya sudah berdiri lama. Selama ini tidak, saya tetap minumkan dengan penuh bakti dan memohon taat kepada Allah, 'Ya Allah, jika memang amalan itu menjadikan ini bernilai di dalam diriMu, bernilai dariMu, maka mohon bebaskan kami dari hukuman batu ini.'" Jadi orang menggelinding batunya dan sudah banyak kisah termasuk dosa-dosa yang ingin ditobati. Ibnu Abbas mengatakan, "Apa ibumu masih hidup? Karena aku tidak melihat bakti kepada orang tua yang mendatangkan cepatnya rahmat Allah diturunkan Allah Ta'ala untuk harta atau untuk ibadah." Batas minimal untuk berbakti pada orang tua adalah berdoa, itu paling minimalnya, ya. Karena itu banyak doa di Quran disebutkan, termasuk di Quran surah ke-17, ayat 23 sampai 27. Itu yang kita bawa ke dalam keseharian kita, "Robbi firli wali waliday". Nanti menariknya begini, nanti kalau waktu ada yang lebih luas lagi kita bisa rincikan doa saat antum mau nikah kaitan dengan orang tua, ada tidak ada. Doa saat antum bekerja dapat proyek nih, sukses, ada lagi doanya dengan orang tua, dan itu komplit. Quran surah 46 ayat 15 misalnya, doa saat sedang berkeluarga nih, terus kita merasakan karena akan dibalik apa yang kita perlakukan ke orang tua. Antum punya anak, itu akan berbalik tuh, karakternya akan sama. Nah, saat itulah antum merasakan itu, cepat berdoa, ada doanya juga ya. Jadi minimal bakti paling rendahnya itu kita bisa berdoa, karena tidak mengeluarkan apapun, hanya perhatian-perhatian yang baik. [Musik]