📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Tarikh Islam-6: Tarikh Abu Bakar Ash Shidiq Radiallahuanhu #5 - Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A

Firanda Andirja47:51

Transcription

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, kita masih melanjutkan tentang perjalanan perang Khalid Ibnu Walid ketika berperang di daerah Persia, yaitu daerah Irak zaman dahulu.

Kita telah selesai dari perang Ahwal, sekarang kita masuk pada perang Ulaiyah, atau disebut juga dengan [Musik].

Perang ini terjadi pada bulan Safar juga, ya, setelah Khalid mengalahkan pasukan perang Persia di Walajah.

Ketika perang di Walajah, ada sebagian dari kabilah Bakar Bin Wail yang beragama Nasrani, yaitu orang-orang Arab yang beragama Nasrani, yang ikut serta dalam perang Walajah.

Mereka tewas dalam peperangan tersebut, sehingga akhirnya kabilah Bakar membalas dendam.

Mereka pun mengumpulkan seluruh anggota kabilah mereka, ya, kemudian dipimpin oleh seorang yang bernama Abdul Aswad Al Ajri.

Anaknya mati dalam perang Al Walajah, maka dia pun menulis surat kepada raja Persia, Ardasyir, untuk mengirim pasukan.

Karena mereka telah berkumpul, orang-orang Arab beragama Nasrani ini siap untuk menyerang pasukan Khalid Ibnu Walid.

Akhirnya, datanglah pasukan Persia yang dipimpin oleh seorang bernama Jaban.

Kemudian bergabunglah antara orang Arab Nasrani dengan Persia.

Ini menunjukkan betapa dengkinya orang-orang Nasrani kepada pasukan kaum Muslimin.

Padahal mereka tahu bahwa orang Persia sering menghina orang-orang Arab.

Bagi orang Persia, orang Arab tidak ada nilainya, dan mereka tahu hal tersebut.

Kita tahu orang Persia beragama Majusi, namun karena mereka jengkel sama kaum Muslimin, maka mereka minta tolong orang-orang Persia.

Padahal mereka beragama Majusi dan Nasrani juga anti-Majusi, tapi karena punya kepentingan yang sama ingin menyerang Khalid Ibnu Walid, maka mereka pun bergabung.

Maka berkumpullah jumlah mereka yang sangat banyak, ada yang mengatakan sampai 150.000 pasukan.

Mereka berkumpul di suatu lokasi namanya Ulis.

Nah, ketika itu mereka berkumpul dan sudah siapkan makan siang.

Mereka sudah kumpul untuk makan siang, kemudian tiba-tiba pasukan Khalid bin Walid datang sekitar 18.000 sampai 20.000.

Sementara jumlah mereka sampai sekitar 150.000.

Ketika pasukan Khalid bin Walid datang, orang-orang Arab Nasrani ini seperti tidak peduli dengan Khalid bin Walid.

Jaban, pemimpin pasukan Persia, mengatakan, "Ayo bangkit perang!"

Namun mereka tidak peduli, "Kita makan dulu, kita sudah datang."

Mereka sombong dan angkuh karena jumlah mereka yang sangat banyak, maka mereka makan saja.

Namun Khalid bin Walid tidak membiarkan mereka makan.

Khalid bin Walid kemudian berperang melawan mereka.

Akhirnya, terjadi peperangan dahsyat di antara mereka.

Di antara kesombongan mereka yang menjadikan mereka besar kepala, sehingga cuek dengan Khalid bin Walid yang sudah datang, mereka masih makan siang.

Mereka menanti bantuan, mereka minta bantuan lagi.

Selain pasukan Jaban, ada pasukan yang dikirim oleh Ardasyir dipimpin oleh seorang bernama Mbah Man.

Pasukan ini banyak, dan mereka berharap pasukan ini kalau datang, habislah Khalid bin Walid dan anak buahnya.

Tapi ternyata pasukan ini tidak sampai-sampai.

Yang dikirim oleh Ardasyir tidak sampai-sampai, ternyata Ardasyir memanggil mereka untuk balik karena ada kegoncangan di Al-Mada'in.

Sehingga akhirnya pasukan yang seharusnya dikirim untuk membantu pasukan kaum musyrikin akhirnya balik.

Sehingga terjadi peperangan hanya antara Arab Nasrani dengan pasukan Jaban melawan Khalid Ibnul Walid.

Akhirnya, peperangan sangat keras dan alot.

Dua-duanya bersabar dengan sabar yang luar biasa.

Sampai akhirnya Khalid bernazar kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala ketika itu adalah [Musik].

Karena perang ini sulit, mereka ternyata kuat bergabung antara Nasrani dengan Majusi melawan kaum Muslimin.

Khalid berkata, "Ya Allah, jika Engkau anugerahkan kepadaku untuk menguasai mereka, untuk melawan mereka, maka aku tidak akan biarkan seorang pun yang aku tangkap kecuali aku akan mengalirkan sungai mereka dengan darah mereka."

Subhanallah, terjadi peperangan dan akhirnya pasukan Khalid yang menang.

Kemudian Khalid menyuruh seorang untuk memberi pengumuman, "Mereka tidak ada yang dibunuh kecuali yang tidak mau ditangkap."

Kalau ditangkap, kenapa Khalid ingin ditangkap?

Karena semuanya ditangkap untuk dipenggal supaya darahnya dialirkan ke sungai sebagaimana nazarnya Khalid bin Walid, kecuali yang tidak boleh ditangkap.

Maka akhirnya kaum Muslimin hanya menangkap mereka di mana-mana, ditangkap sampai akhirnya datanglah tawanan yang sangat banyak.

Kemudian Khalid bin Walid menugaskan sekelompok orang untuk menggal kepala mereka dan mengalirkan darah mereka di sungai tersebut.

Itu dilakukan sehari semalam.

Kemudian besok masih dicari lagi, dikejar lagi yang masih tersisa sampai dua hari besok.

Besoknya semua pasukan mereka dikejar, kalau dapat dibawa.

Karena Khalid sudah bersumpah, "Siapa pun yang saya dapati, saya akan penggal dan saya akan alirkan darahnya di sungai mereka."

Sampai akhirnya sebelum Khalid bin Walid mengganggu mereka, aliran sungai dialirkan ke arah lain, kemudian ditutup.

Khalid bin Walid menumpahkan darah mereka.

Akhirnya ditumpahkan darah yang banyak, tapi darah tersebut tidak mengalir karena darah mudah sekali menggumpal.

Akhirnya ada salah seorang dari pasukan Khalid yang mengatakan [Musik], "Ini [Musik] tidak bisa, kau akan mengalirkan darah mereka, wahai Khalid, sampai kau kembalikan aliran air sungai."

Jadi orang sudah berkumpul, kemudian aliran sungai tadi yang ditahan oleh Khalid atau dialirkan ke tempat lain, dibalikkan ke sungai tersebut.

Akhirnya air sungai pun mengalir melewati darah-darah mereka.

Maka sejak saat itu, sungai tersebut dikenal dengan sungai Nahrudam, sungai darah.

Ketika itu, yang terbunuh sekitar 70.000 orang dari pasukan Majusi dan Nasrani.

Kata Ibnu Katsir rahimahullah, waqila Mia Alfan, ada yang mengatakan 150.000 pasukan.

Wallahu a'lam.

Kemudian setelah Khalid mengalahkan mereka semua, di hari mereka kabur semua, maka Khalid kembali ke makanan yang sudah dihidangkan.

Kemudian Khalid makan makanan tersebut yang tadi awal mereka sedang makan, mereka kabur perang.

Makanan tersebut masih ada, Khalid pun makan.

Maka dari makanan-makanan mereka, bersama kaum Muslimin ketika itu, Khalid bin Walid mendapatkan ghanimah yang sangat banyak.

Kemudian seperti biasa, Khalid bin Walid pun mengirimkan 4/5, 1/5, 4/5 dibagi-bagi kepada para Mujahidin.

Kemudian dikirim ke Khalifah, yaitu Abu Bakar As Siddiq radhiyallahu ta'ala Anhu, dikirim melalui seorang bernama Jandal dari Bani Angel.

Tatkala Jandal ini sampai kepada Khalid, Abu Bakar As Siddiq kemudian menunaikan amanah titipan dari Khalid bin Walid.

Akhirnya Abu Bakar As Siddiq memberi hadiah kepada Jandal ini dengan Jariyah dari seorang wanita dari tawanan itu, budak wanita.

Kemudian Abu Bakar As Siddiq berkata kepada orang-orang Quraisy di Madinah, "Khalid lagi di Irak, lagi di Persia."

Kata Abu Bakar As Siddiq, "Ya wahai kaum Quraisy sekalian, sesungguhnya kalian telah menyerang singa musuh."

Maksudnya menyerang Persia, dan ternyata singa kita, singa kalian itu mendominasi.

Singa tersebut untuk makan hewan buruan yang menang.

Maksudnya kata Abu Bakar As Siddiq dengan perkataan yang masyhur, "Para wanita tidak mampu melahirkan putra seperti siapa."

Memang tidak akan ada lagi yang bisa melahirkan seperti Khalid bin Walid.

Tentunya kalau kita lihat kisah ini, ada beberapa faidah yang bisa kita ambil.

Bahwasanya, ya, suku terkadang terjadi perang saudara di antara suku jika memang keyakinan bisa berbeda.

Lihatlah, padahal mereka orang-orang Arab dari kabilah Bakar Bin Wail dan di yang beragama Nasrani sampai gabung dengan Majusi untuk melawan pasukan Khalid bin Walid.

Di pasukan Khalid bin Walid juga ada pasukan dari kabilah Bakar Bin Wail yang kaum Muslimin, dan mereka yang paling semangat untuk melawan kabilah Bakar Bin Wail karena mereka berjihad di atas jalan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Meskipun harus berperang melawan sesama Arab, ya, harus berperang melawan sesama Arab.

Bagaimana orang Arab yang tahu bahwasanya Majusi begitu benci atau merendahkan orang-orang Arab, mereka akhirnya bergabung karena ada kepentingan-kepentingan bersama.

Adapun sikap Khalid yang telah bernazar dan menyembelih mereka atau memenggal kepala mereka untuk menumpahkan darah itu adalah karena ijtihad Khalid.

Seandainya mereka yang menang, pasti kaum Muslimin akan dicincang.

Pasti kaum Muslimin akan dicincang dan mereka berhak untuk dibunuh.

Cara bunuh Khalid, Khalid cara membunuh mereka dengan cara demikian karena dia sudah bernazar.

Karena saking alotnya perang ketika itu, sampai beliau mengatakan, "Kalau saya berhasil membunuh mereka, tangkap mereka, saya akan mengalirkan darah mereka di sungai tersebut."

Ini menunjukkan hebatnya Khalid Ibnul Walid radhiyallahu ta'ala Anhu.

Kemudian saya bacakan perkataan Ibnu Katsir yang sudah pernah saya nukilkan.

Beliau berkata, "Semua [Musik]."

Kemudian terjadi kejadian-kejadian yang panjang di tempat-tempat yang berbeda-beda, peperangan di lokasi yang berbeda-beda yang mungkin bosan kita mendengarnya.

Sementara [Musik], tokoh dalam cerita ini tidak pernah capek dan tidak pernah lelah dan tidak pernah bosan berperang.

Kita yang mendengar ceritanya sudah bosan, karena perang lagi, perang lagi, perang lagi, perang lagi.

Khalidnya sendiri tidak pernah letih, Khalidnya sendiri tidak pernah bosan terus menjalankan perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Berkululah seorang [Musik] dalam kekuatan, kemudian ketegasan, keberanian dalam setiap peperangannya.

Orang seperti ini memang Allah ciptakan untuk memuliakan Islam.

Kita dengar ceritanya sudah capek.

Antum punya cewek?

Belum? Kita lanjut lagi, masih perang lagi.

Khalid bin Walid jadi perang disebut tadi yang kita sebutkan namanya perang Uleis atau amnesia.

Kemudian setelah itu melanjutkan ke Al-Khairah.

Antum lihat di peta itu, ya, dari Al-Walajah kemudian Ulais, di tengah-tengah itu Al-Walajah, kemudian Ulais, kemudian Al-Hirah.

Maka [Musik] ketika Khalid menuju kepada Al-Khirah, sampailah kabar tentang bagaimana Khalid menang dalam perang Uleis kepada Marzaban Al-Khaira, yaitu kepada pimpinan Al-Hirah yang bernama Marzaban.

Dia yakin bahwasanya Khalid akan menuju Al-Khairah, maka dia pun menyiapkan pasukannya.

Kemudian dia mengirim pasukan di bawah pimpinan anaknya sendiri, kemudian dia akan ikut dari belakang.

Pokoknya anaknya dulu dikirim untuk menghadang.

Kemudian sang anak tadi, anak Marzaban, memerintahkan pasukannya untuk menutup saluran sungai Al-Furat di situlah yang ada di sekitar agar perahu-perahu Khalid tidak bisa sampai ke daerah Al-Khairah.

Benar, akhirnya Khalid dan pasukannya naik kapal, dan akhirnya kapal tersebut kandas.

Maka Khalid pun marah, maka dia pun turun dengan pasukannya kemudian mengejar pasukan musuh.

Akhirnya, intinya Khalid berhasil membunuh anak dari Al-Marzaban.

Sampailah kabar tentang wafat anaknya Al-Marzaban, akhirnya Al-Marzaban pun kabur.

Dia kabur dan meninggalkan Al-Hirah, dan akhirnya Khalid bin Walid pun tiba di kota tersebut.

Setelah Khalid bin Walid menguasai Al-Hirah, kemudian Khalid menuju ke An-Najah.

Di sana ternyata di daerah situ ada empat istana.

Akhirnya Khalid bin Walid membagi pasukan menjadi empat untuk menyerang istana tersebut.

Walhasil, akhirnya mereka pun kalah dan akhirnya tunduk kepada perintah Khalid bin Walid.

Mereka akhirnya minta syarat, yaitu Khalid persyaratkan, "Kalau kalian mau ngalah, maka harus bayar."

Sehingga Khalid bin Walid menyuruh mereka untuk bayar dengan jumlah yang banyak, yaitu kalau tidak salah disuruh bayar 190.000 dirham.

Mereka mengirim untuk tunduk kepada perintah Khalid agar mereka selamat.

Mereka berani bayar 190.000 dirham.

Akhirnya harta tersebut kepada Khalifah Abu Bakar As Siddiq radhiyallahu ta'ala Anhu.

Sampailah jumlah yang banyak, 190.000 dirham kepada Khalid, kepada Abu Bakar As Siddiq.

Namun di antara akhlak kaum Muslimin ketika itu, Abu Bakar As Siddiq menjadikan 190.000 ini sebagai potongan dari jizyah mereka.

Karena mereka ketika tunduk, mereka harus bayar.

Tapi kata Abu Bakar, "Yang mereka ambil sekarang ini, anggaplah sebagai cicilan mereka."

Ini di antara kebaikan kaum Muslimin.

Sudah menguasai, tinggal bunuh saja, tinggal ambil.

Sebagaimana kita sering mendengar, begitu ada peperangan menang, ya sudah dijajah, selesai, semua harta diambil.

Tapi tidak, Islam tidak.

Kalau mau tunduk, silakan bayar.

Abu Bakar menyuruh Khalid demikian, "Kalau mereka mau masuk Islam, masuk Islam.

Kalau mau perang, perang.

Kalau mau tunduk, bisa."

Mereka tadinya berperang dan kalah, akhirnya mereka supaya selamat, mereka bayar 190.000 agar selamat.

Namun ternyata setelah 190.000 dirham tersebut tidak diambil cuma-cuma oleh Abu Bakar As Siddiq, tapi dijadikan sebagai cicilan mereka sebagai tanda ketundukan.

Kemudian setelah itu terjadi perang berikutnya, perang namanya Al-Ambar.

Ya, Fathul Ambar di atas lagi Al-Hiroyah, di layar terus naik ke atas sampai ke Al-Ambar.

Ya, kotak 123, kotak yang paling atas ketiga.

Ketika sampai di sana, maka Khalid bin Walid mendapati ternyata pasukan Persia telah berlindung di benteng mereka.

Mereka membuat hendak membuat parit, sehingga Khalid bin Walid tidak bisa melewati parit tersebut.

Ini di antara metode mereka, kalau mereka dikepung, mereka bikin parit.

Akhirnya mereka pun menyerang kaum Muslimin dari atas benteng-benteng mereka, dan kaum Muslimin hanya bisa mengepung mereka.

Akhirnya Khalid bin Walid karena tidak bisa melewati parit yang mereka buat, menyuruh kaum Muslimin ketika itu agar memusatkan panah mereka kepada mata-mata musuh dengan satu panahan.

Jadi ramai-ramai kaum Muslimin mengarahkan panah mereka ke mata mereka.

Akhirnya ada sekitar 1.000 orang mata mereka terkena panah.

Jadi disebut oleh para ulama, menunjukkan bagaimana hebatnya kaum Muslimin dalam memanah.

Artinya mereka, kalau panah jitu, ya, ketika mereka mengarahkan kepada mata bisa.

Kenapa mata?

Sehingga 1.000 orang dari mereka kena matanya terkena panah.

Sehingga perang tersebut dikenal dengan Datul Uyun, yaitu perang yang mengenai mata-mata musuh.

Jadi mata mereka sekitar 1.000 pasukan mereka terkena panah kaum Muslimin.

Kemudian [Musik] menyuruh kaum Muslimin untuk mengambil unta-unta yang sudah lemah, tidak kuat untuk disembelih, kemudian diletakkan di atas parit-parit tersebut.

Ya, sehingga ditutupi dengan unta-unta, kemudian baru dilewati oleh kaum Muslimin.

Akhirnya mereka pun kalah dan mereka tunduk.

Mereka akhirnya melakukan sulah, yaitu membayar kepada kaum Muslimin karena tunduk kepada pasukan Khalid.

Kemudian juga perang berikutnya disebut dengan perang Ainul Tammer.

Lanjut di situ, berkumpul pasukan dari kaum Arab dengan kaum Persia.

Kaum Arab dipimpin oleh seorang namanya Akoh bin Abi Aqoh, kemudian bergabung dengan Persia Majusi yang dipimpin oleh seorang namanya Mihran.

Kemudian berkata kepada pimpinan Majusi, Mihran, "Biar saya perang dengan Khalid, kamu nonton saja.

Kami orang Arab lebih tahu tentang cara perang orang Arab, biar kami Arab yang berperan, kamu nonton saja."

Orang Persia mengatakan, "Sudah, kita perang sekalian lawan Khalid bin Walid."

Akhirnya Mihran mengatakan kepada anak buahnya, "Tenang saja, sudah, biar mereka berperang.

Mereka lebih tahu.

Kalau mereka menang, kan kemenangan buat kita orang-orang Arab ini.

Kalau perang melawan Khalid, mereka menang, Khalid kalah, kan kemenangan buat kita.

Kalau mereka kalah, pasukan Khalid pasti sudah lemah karena capek berperang."

Akhirnya dibiarkanlah Akoh untuk maju duluan.

Akoh bin Abi Aqoh ini dia orang Arab.

Akhirnya dia lagi sibuk menyusun pasukan, dibariskan.

Khalid bin Walid punya ide nekat.

Kata Khalid bin Walid kepada anak buahnya, "Saya ingin datang ke dia langsung."

Ya, kamu jaga saya.

Jadi Khalid suruh anak buahnya pasukan di belakang jaga Khalid, sementara dia sedang mengatur shaf.

Khalid datang langsung menuju ke pasukan musuh, langsung tangkap.

Nih orang, selesai ditangkap, dibawa, pasukannya kabur semua.

Pasukannya kabur semua ketika Mihran, sang pimpinan Persia, melihat pasukan Akoh sudah kalah karena pimpinan mereka ditangkap.

Akhirnya Mihran pun kabur dari benteng, kabur Persia tersebut.

Akhirnya orang-orang Arab Nasrani ini kemudian kabur juga dan mereka masuk ke dalam benteng Persia tersebut.

Akhirnya benteng tersebut dikepung oleh Khalid bin Walid dan pasukannya.

Akhirnya dimenangkan oleh Khalid bin Walid.

Kemudian banyak tawanan, Akoh sendiri pun dibunuh oleh Khalid bin Abdul Khalid bin Walid.

Didapati ternyata dalam benteng tersebut ada budak-budak atau anak-anak kecil, ya, 40 orang yang mereka belajar Injil.

Sementara pintunya ditutup, akhirnya Khalid bin Walid menghancurkan benda tersebut.

Ternyata ada 40 anak-anak muda atau 40 orang sedang belajar Injil.

Setelah itu, Khalid bin Walid kemudian ambil 40 orang tersebut, kemudian dibagi-bagikan.

Ini budak-budak semua dibagi-bagikan kepada kaum Muslimin.

Di antaranya ada Umron Homeron, dihadiahkan kepada Utsman bin Affan.

Kemudian dimerdekakan oleh Utsman bin Affan.

Umron ini sering meriwayatkan hadis Maula Utsman bin Affan.

Umron ini adalah dari 40 orang tersebut, ada satu namanya Humron.

Khalid menghadiahkannya kepada atau kaum Muslimin menghadiahkannya kepada Utsman bin Affan, dan kemudian dimerdekakan oleh Utsman bin Affan.

Kemudian juga ada Sirin, Sirin dihadiahkan atau diberikan kepada Anas bin Malik.

Inilah bapaknya Muhammad bin Sirin, yang sering kita dengar, tabi'i, seorang tabiin.

Sirin bapaknya dia adalah dari 40 orang tersebut.

Setelah itu sudah sampai di ujung di kamar, kemudian dilanjutkan dengan perang Dumatul Janda.

Dumatul Janda, yaitu daerah sudah di perbatasan dekat sebelah utara, sudah masuk ke arah Yordan.

Maka Abu Bakar As Siddiq radhiyallahu Anhu mengirim Walid Bin Uqbah kepada Iyat bin Gunung.

Kita sudah katakan bahwa Abu Bakar As Siddiq untuk menyerang dari utara, tapi dia melewati Dumatul Janda terlebih dahulu.

Ternyata perang di situ alot, pasukan kaum musyrikin banyak.

Sehingga akhirnya Abu Bakar As Siddiq mengirim Al Walid Bin Uqbah sebagai pasukan bantuan kepada pasukannya Iyat bin Gunung.

Ketika itu sedang mengepung Dumatul Janda.

Tatkala sampai di sana, ya, maka akhirnya terjadi perbincangan antara Iyat dengan Iyat bin Gunung dengan Al Walid bin Uqbah.

Kata Iyat kepada Al Walid, "Sesungguhnya terkadang sebagian ide itu lebih baik daripada pasukan yang banyak.

Menurut kamu, apa yang harus aku lakukan?

Kami sudah kepung, enggak bisa mengalahkan, tidak bisa menguasai, sudah ngepung lama tapi tidak bisa menaklukkan Dumatul Janda.

Kira-kira ada ide apa?

Terkadang ide lebih baik daripada jumlah pasukan yang banyak."

Apa kata Walid? "Tulislah surat kepada Khalid, minta pertolongannya.

Ya, biar Khalid datang ke sini bantu kamu."

Ide yang sangat bagus.

Akhirnya Iyat bin Gunung tali surat kepada Khalid bin Walid, sedang ada di Kamar untuk datang ke Janda.

[Musik] di sebelah kiri atas, sebelah kiri atas itu jauh.

Kalau yang tadi Persia, sebelah apa kanan, paham?

Jadi daerah sebelah apa kanan yang warna kuning kelihatan.

Kemudian Khalid harus pergi ke arah kiri, ke arah Dumatul Janda.

Sudah di ujung, di atasnya daerah merah itu, daerah Romawi, paham?

Jadi Dumatul Janda ini masih di Jazirah Arab, tapi sudah di perbatasan sebelah kanan Persia, sebelah atas apa Romawi.

Jadi Khalid pergi dari yang terjauh menuju ke Dumatul Janda.

Sebelum Khalid datang, Khalid membalas suratnya Iyat bin Umar radhiyallahu anhu dari Khalid kepada Iyat.

Iya, "Kuhendaki kepadamu, aku akan maksudku tulisan ini."

Apa kata Khalid? "Nabi Khalil, Ibu tunggu sebentar, akan datang kepadamu hewan-hewan tunggangan yang siap membawa racun-racun."

Kata Ibu, "Pasukan yang datang berturut-turut."

Jadi setelah itu, kemudian Khalid pun berangkat.

Ketika datang kabar pasukan Khalid datang, kabar ini sampai kepada penduduk Dumatul Janda.

Mereka pun ketakutan.

Kemudian terjadi perang yang dahsyat, dan akhirnya kaum musyrikin pun kalah.

Banyak di antara mereka yang terbunuh, dan akhirnya Dumatul Janda pun dikuasai oleh pasukan kaum Muslimin.

Ini adalah lokasi yang sangat strategis karena dia ada di sisi selatan Jazirah Arabia, dari sisi utara, dari sisi utara apa Syam Romawi, kemudian dari sisi timur Persia.

Akhirnya dipegang oleh kaum Muslimin.

Saya itu ada perang-perang berikutnya, ada namanya Al Hafiz.

Kita kembali lagi di atas, ya, ada tempat-tempat yang sampai pada perang Alhasil.

Kemudian Al Musaidiyah sampai terakhir adalah perang Al-Firad, sebelah atas yang paling atas itu perang terakhir yang dilakukan oleh Khalid bin Walid di daerah Persia.

Kita bacakan sebentar, ya, [Musik] dari buku Al-Bino ini.

Kemudian Khalid bin Walid pun berjalan dengan pasukannya menuju Al-Firad, dan dia adalah daerah perbatasan antara Syam, Irak, dan Jazirah.

Kemudian beliau menempati di sana selama bulan Ramadhan dalam kondisi muftiron, dalam kondisi berbuka, jadi tidak puasa.

Ini bulan Ramadhan, perang di bulan Ramadhan, dan beliau tidak puasa karena beliau sibuk melawan musuh-musuh.

Dia butuh kekuatan, sudah tidak puasa.

Ketika orang-orang Romawi mengetahui Khalid bin Walid sudah datang dekat daerah perbatasan Romawi, ya, maka mereka pun ngamuk.

Kemudian mereka minta tolong kepada Arab-Arab yang ada di sana yang berloyal kepada Romawi, seperti Taghlib dan Namir.

Akhirnya mereka pun berkumpul, pasukan Romawi ketika itu, ya, dengan orang-orang Arabnya.

Bergabung juga disebutkan oleh dalam buku ini, ya, jadi ada tiga kelompok kaum musyrikin berkumpul.

Pertama kali dari Romawi, kemudian dari Persia, ya, Persia juga ada di situ yang tinggal di Fort.

Kemudian juga di orang-orang Arab, kabilah Arab yang berwalak kepada kedua negeri adidaya tersebut, yaitu dari Wanita dan Namir.

Sehingga berkumpullah tiga kelompok besar.

Sebagian dari pasukan Romawi, sebagian dari pasukan Persia, dan sebagian dari orang-orang Arab.

Akhirnya mereka pun berkumpul, dan antara mereka ada sungai Efrat.

Sungai Efrat di sebelah mereka.

Akhirnya mereka berkata kepada Khalid, "Oh Umar [Musik], kalian minggir supaya kami bisa lewat."

Minggir dulu, kata Khalid, "Enggak, kalian lewat bawah, kami tidak mau minggir."

Ya, kalian nyebrang, tapi lewat bagian apa bawah.

Akhirnya Romawi dan Persia saling ngomong di antara mereka, "Ini orang perang di atas agamanya dan dia orang cerdas dan pintar.

Ya, kita bakalan kalah, kita bakalan kalah."

Tapi akhirnya mereka terpaksa menyeberang.

Ketika mereka menyeberang, akhirnya mereka sudah berkumpul semuanya.

Maka Romawi berkata, "Rival yom makanan."

Kata Romawi, "Kisah pasukan mana Romawi, mana Persia agar kita tahu mana pasukan kita yang buruk, mana yang baik, dan dari mana kita terkalahkan, dari mana kita kerja."

Jadi mereka tidak gabung, mereka berpisah.

Pasukan Romawi, pasukan Persia untuk menyerang pasukan kaum Muslimin.

Tapi akhirnya dimenangkan oleh perang terakhir yang dilakukan oleh Khalid bin Walid.

Ketika itu terjadi di bulan, di tengah-tengah bulan Zulqaidah.

Jadi sudah menunggu di sana sejak Ramadan, ya, habis Ramadan di tengah-tengah bulan Zulqaidah pada tahun 12 Hijriyah.

Setelah itu Khalid bin Walid mengalahkan sekitar 100.000 pasukan ketika itu.

Kemudian Khalid bin Walid setelah menang dalam peperangan, beliau pun menetap di Al-Firat selama 10 hari.

Setelah 10 hari tidak ada pasukan lagi yang datang, maka Khalid bin Walid bilang, "Kita balik menuju Allah, balik menuju kapan."

Sekitar tanggal 25, tanggal 25.

Kemudian Khalid bin Walid menyuruh Hasyim bin Amr untuk berjalan di pasukan depan.

Kemudian beliau menyuruh saja untuk berjalan di bagian belakang.

Jadi pasukan-pasukan depan Al-Mukadimah ada sahkoh, pasukan bagian belakang ini mau pulang dari Al-Firat menuju ke mana?

Jauh, akhirat.

Menuju ke akhirat.

Bagi pasukan, buat apa?

Ternyata ada rencana.

Kemudian Khalid bin Walid menampakkan seakan-akan dia tidak di depan.

Dia mulai jalan di bagian belakang, ikut pasukan di belakang.

Orang-orang tidak perhatian.

Tiba-tiba kemudian meninggalkan pasukan, kemudian dia menuju ke Masjidil Haram ingin haji.

Dia pergi ke Mekkah, kemudian dia melewati jalan-jalan yang tidak diketahui oleh orang.

Jalan-jalan yang susah, ya, yaitu jalan yang tidak diketahui orang.

Jalan sini, jalan sini, ada orang tidak tahu.

Karena dia meninggalkan pasukan, karena kalau ketahuan dia meninggalkan pasukan, bahaya.

Mungkin Romawi dengar Khalid lagi haji, mungkin senang.

Persia dengar Khalid lagi haji, mungkin diserang.

Maka dia pasukannya pun tidak tahu.

Maka dia mengambil pura-pura ke belakang, terus kabur, kabur pergi ke mana?

Ke Mekkah.

Subhanallah, ya, tidak capek.

Ya, tapi tidak capek, istirahat dulu.

Pergi ke Mekkah, masukkan jalan pelan-pelan menuju surga.

Karena menuju haji jauh, mungkin jalan berhenti.

Khalid sudah perkirakan, "Jangan kamu jalan pelan-pelan."

Sampai ke Al-Hirah, sampai mungkin tanggal sekian baru sampai.

Intinya sampai habis haji, baru sampai ke akhir.

Kemudian sampai di Mekkah, beliau kemudian haji.

Kemudian setelah itu beliau balik menuju pasukan, ya, sebelum mereka sampaikan haji.

Dia balik lagi menuju pasukan bagian belakang.

Begitu sampai akhir, sudah ada orang, sudah ada yang tahu.

Pasukannya tidak ada yang tahu kalau Khalid ternyata berhaji, kecuali yang bersama dia menemani beliau.

Namun kabar ini akhirnya sampai kepada Abu Bakar As Siddiq.

Karena orang haji yang pulang ini, gimana pasukan?

Di mana?

Bayangkan dari Irak ke Mekkah, tidak jauh.

Subhanallah, maksudnya luar biasa.

Akhirnya ketahuan sama Abu Bakar As Siddiq.

Akhirnya Abu Bakar As Siddiq disebutkan oleh Ibnu Katsir, "Walid, sudah, kamu enggak boleh lagi perang di Irak.

Kamu sekarang pergi ke negeri Syam, itu hukumannya."

Kemudian beliau tulis-tulisan kepada Khalid, teguran.

Dia mengatakan, "Abu Bakar mengakui kehebatan Khalid.

Dia yang tadi mengatakan ibu-ibu tidak mampu memberikan anak seperti siapa Khalid.

Dan tidak ada sampai sekarang, belum ada seorang wanita melahirkan anak seperti siapa."

Mengakui kehebatan beliau.

Dia mengatakan, "Wahai Khalid, sesungguhnya pasukan tidak ada yang semangat seperti kalau kau yang bawa.

Dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta'ala, tidak ada pasukan yang benar-benar semangat perang seperti kalau kau yang menjadi pimpinannya dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Maka hendaknya kau bergembiralah dengan niatmu yang tulus dan perencanaanmu.

Sempurnakanlah perjalananmu, perangmu, niscaya Allah akan menyempurnakan pahala bagimu.

Namun sampai ke ujung, maka kau akan merugi, ya, dan kau akan ditinggalkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Ya, wa iyyaka Antutu Dila Bi amalin, fainnama hati-hati.

Jangan sampai kau merasa mentang-mentang, karena sesungguhnya keberhasilanmu dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala."

Ya, nasihat dari Abu Bakar As Siddiq.

Ya, hebat Khalid pun, jangan sampai apa, ujub.

Kira-kira kalau antum jadi Khalid, 7 atau tidak?

Luar biasa, perang enggak pernah kalah, selalu menang.

Ya, baru datang pasukan, sudah Romawi dan Persia sudah ketakutan.

Ada kesempatan haji.

Kemudian [Musik].

Kita tutup kajian kita dengan membaca dari Al-Binohayah tentang kejadian-kejadian yang terjadi pada tahun ini, itu pada tahun 12 Hijriyah.

Di antara kejadian-kejadian yang terjadi pada 12 Hijriyah, di antaranya Abu Bakar As Siddiq memerintahkan Zaid Bin Tsabit untuk mengumpulkan Al-Qur'an, yang sudah kita bahas.

Di antara kejadian yang terjadi pada tahun 12 Hijriyah, Ali Bin Abi Thalib menikah dengan Umamah binti Zainab binti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Fatimah meninggal dunia.

Baru kemudian Ali Bin Abi Thalib menikah dengan wanita-wanita, di antaranya beliau menikah dengan ulama Umamah.

Pintu Abil Ash, kita tahu anak putri-putri Nabi yang paling tua namanya siapa?

Zainab menikah dengan Abul Ash Ibnu Rabi.

Ya, dan Abul Ash ini adalah ponakannya siapa?

Ponakannya Khadijah.

Khadijah punya saudari namanya Halah bintu Khairit.

Ada yang mengatakan saudari perempuannya Khadijah namanya Allah, atau anaknya Halah, atau ini namanya Abul Ash.

Kemudian Abul Ash ini menikah dengan Zainab.

Abul Ash menikah dengan Zainab atas saran dari Khadijah radhiyallahu ta'ala.

Menikah Abul Ash dengan Zainab, maka Khadijah melepaskan kalung yang biasa dia pakai, dia berikan di leher Zainab sebagai hiasan di malam pertama untuk bertemu dengan Abul Ash Ibnu Rabi.

Nah, Ali Bin Abi Thalib dari pernikahan tersebut punya anak perempuan namanya Umamah.

Umamah inilah yang dalam hadis Nabi SAW salat fardhu sambil menggendong Umamah ketika masih bayi.

Kalau Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sujud, maka diletakkan Umamah.

Kalau beliau berdiri, maka beliau angkat Umamah.

Inilah Umamah yang akhirnya dinikahi oleh siapa?

Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ta'ala anhu.

Dan di tahun ini pula, Abul Ash meninggal dunia.

Meninggal dunia.

Kemudian juga di antara kejadian tahun 12 Hijriyah, Umar Bin Khattab menikah dengan Atikah bintu Zaid bin Amr Bin Nufail.

Atikah adalah sepupu Umar, sangat mencintai Atikah ini, sepupunya ini.

Dia takjub dengan sepupunya ini, bahkan Umar tidak berani.

Umar tidak suka istrinya pergi ke masjid, namun dia tidak bisa melarang istrinya untuk ke masjid karena apa?

Cinta.

Ya, saya bacakan, salat Umar tidak melarang istrinya untuk ke masjid.

Padahal dia tidak suka kalau istrinya ke mana?

Ke masjid.

Suatu hari, Umar nunggu istrinya di tengah jalan.

Dia duduk dalam kegelapan.

Kalau Umar marah, istrinya lewat di tengah kegelapan, mukul pantat istrinya.

Maksudnya, "Udah, jangan keluar-keluar lagi."

Karena dia sangat sayang kepada istrinya.

Para jahat Ila Manzilah.

Maka akhirnya Atikah ini pulang ke rumah, dan dia tidak pernah keluar rumah lagi setelah itu.

[Musik] Sebelumnya, Atikah ini menikah dengan saudaranya Umar, Zaid Ibnu Khattab.

Kemudian Zaid bin Khattab meninggal.

Kalau tidak salah, di antara peperangan, meninggal.

Akhirnya jadi janda.

Ketika janda, dinikahi oleh siapa?

Umar.

Sebelumnya, sebelum dinikahi oleh Zaid, ternyata Atikah ini dinikahi Abdullah bin Abu Bakar, siapa putranya Abu Bakar.

Jadi Atikah ini pertama suaminya siapa?

Abdullah bin Abu Bakar.

Ketika Abdullah bin Abu Bakar meninggal dunia, dinikahi oleh siapa?

Zaid bin Al Khattab.

Ketika Zaid bin Khattab meninggal dunia, ini siapa?

Umar.

Ketika Umar bin Khattab meninggal dunia, ketika Zubair meninggal dunia, Abdullah bin Abu Bakar, Zaid bin Khattab, kemudian Zubair Ibnu Allah.

Ketika Zubair bin Allah meninggal dunia, dia dilamar oleh Ali Bin Abi Thalib.

Jadi zaman dahulu, mohon maaf, tidak ada perkataan janda nganggur, tuh, tidak ada.

Jadi para sahabat menolong.

Ada teman meninggalnya, ada jandanya dinikahi.

Maka ketika Zubair meninggal dunia, maka Ali Bin Abi Thalib pun ingin menikahi Atikah.

Tapi apa kata Atikah ini?

"Maut, saya tidak ingin kau meninggal dunia karena suami-suami ku semua pada apa?

Meninggal."

Akhirnya tidak mau menikah lagi sampai meninggal dunia.

Di tahun ini pula, Umar membeli atau ya membeli budaknya bernama Aslam.

Aslam, ya, dan dia adalah salah seorang tabiin yang sangat mulia.

Dia punya namanya Zaid bin Aslam, ahli tafsir.

Zaid bin Aslam, Aslam ini adalah budak yang dibeli oleh Umar.

Punya namanya Zaid bin Aslam.

Kalau kita baca buku tafsir, sering ada dari Zaid bin Aslam.

Di antara yang meninggal pada tahun ini [Musik] adalah Abul Ash.

Tadi kita sebutkan, Ali Bin Abi Thalib menikah dengan putrinya Umamah bintu Abul Ash.

Dan tahun yang sama, Abul Ash, tapi Nur Rabi bin Abdul Uzza bin Abdi Syams bin Abdi Mana bin Qusay Al-Quraisy, suaminya Zainab, meninggal dunia.

Meninggal dunia.

Abul Ash adalah orang yang sangat baik kepada Zainab, sebagaimana yang disebut dalam buku Sirah.

Ketika orang musyrikin menyuruh [Musik] agar kaum musyrikin menceraikan putri-putri Nabi agar Nabi sibuk dengan putri-putrinya yang diceraikan.

Ketika itu putri Nabi Zainab, Ruqayyah masih kecil.

Ini semua sudah menikah.

Zainab menikah dengan Abul Ash, Ruqayyah dan Ummu Kulsu menikah dengan putra-putra Abu Lahab.

Ya, menikah Abu Lahab.

Maka karena orang-orang musyrikin tidak senang dengan kegiatan Nabi yang berdakwah, maka mereka menyuruh kepada suami-suami istri-istri Nabi, "Ceraikan istri, ceraikan putri-putri Muhammad.

Biar Muhammad sibuk ngurusin putri-putri yang jadi janda.

Kalau kalian menceraikan putri-putri Muhammad, kalian minta wanita mana saja, akan kami berikan.

Pokoknya ceraikan, nikah tunjuk wanita Quraisy yang mana saja, akan kami berikan."

Akhirnya Ruqayyah dicerai, pemukul juga dicerai.

Ketika mereka datang kepada Abul Ash untuk menceraikan Zainab, Abu Lahab tidak mau.

Padahal dia musyrik, dia tidak mau menceraikan.

Apa? Kenapa?

Karena yang menikahkan dia dengan Zainab adalah Khadijah.

Abul Ash adalah ponakannya siapa?

Khadijah.

Jadilah Khadijah punya saudari namanya Halah bintul Khoilid, punya anak namanya Abul Ash.

Sehingga bola ini adalah ponakannya Khadijah.

Kemudian Abul Ash menghadiri Perang Badar, sebagaimana kita tahu.

Kemudian dalam Perang Badar tersebut, dia pun jadi tawanan.

Ditawan oleh mertuanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Minta untuk ditebus tawanan-tawanan.

Akhirnya Zainab pun menebus suaminya dengan mengirim kalung yang diberikan oleh ibundanya, itu Khadijah.

Kalung tersebut diletakkan dan dikirim kepada bapaknya untuk menebus siapa suaminya.

Kata Ibnu Katsir, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun sedih dengan sedih yang luar biasa.

Akhirnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membebaskan Abul Ash jadi tawanan perang karena kalung tersebut.

Karena kalung ini mengingatkan beliau kepada siapa?

Khadijah, kepada putrinya Zainab.

Zainab tidak punya harta apa-apa untuk menebus suaminya kecuali mengirim kalung tersebut.

Tapi Rasulullah memberi isyarat agar Abul Ash mengirim Zainab ke Madinah.

Zainab dari Mekkah dikirim ke Madinah.

Akhirnya Abul Ash memenuhi permintaan Nabi, maka dia dibebaskan dan dia mengirim Zainab ke Kota Madinah.

Abu Lahab tinggal di Mekkah, masih dalam kondisi kafir.

Dia akhirnya masuk Islam menjelang Fathu Makkah.

Jadi kita kafir tetap kafir, tetap kafir sampai menjelang Fathu Makkah, baru kemudian beliau masuk Islam.

[Musik] Inilah di antara kejadian-kejadian yang terjadi pada tahun 12 Hijriyah.

Insya Allah, kita pertemuan berikutnya kita akan masuk pada tahun 13 Hijriyah dan insya Allah tentang wafatnya Abu Bakar As Siddiq.