📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

AQSO SPESIAL : ( Satu Renungan Mendalam ) Mau Kemana Hidupmu? - Ustadz Adi Hidayat

Adi Hidayat Official10:16

Transcription

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil alamin wasalatu wasalamu ala rasulillahil Karim wa ala alihi wasahbihi ajmain. Wa bad.

Saudara-saudariku di mana pun Anda berada, semoga Allah subhanahu wa taala memuliakan, menyehatkan, melindungi kita. Sampai dengan detik ini kita dapat bersua, dan lebih dari itu, semoga Allah subhanahu wa taala senantiasa memberikan taufik, panduan-panduan untuk menjalani kehidupan di dunia ini agar mendapatkan rahmat Allah subhanahu wa taala yang bisa kita bawa pulang menghadap Allah pada hari kiamat kelak. Insyaallah.

Teman-teman, malam ini di tanggal 26 Oktober 2023 masehi, edisi spesial. Yang biasanya kita membahas Aqsa dengan cukup panjang, kali ini kita ingin berbagi pesan yang sangat singkat. Yang dalam singkat ini kita ingin mengingatkan, baik kepada diri saya pribadi dan kepada kita semua, tentang satu bagian dari ayat Al-Qur'an yang kiranya penting kita renungi, yaitu Quran surah ke-81 At-Takwir di ayat ke-26. Saat Allah subhanahu wa taala berfirman, "Maka engkau itu sesungguhnya mau ke mana?"

Ayat yang singkat tapi begitu padat dan sangat mendalam, memberikan satu kesan yang cukup menusuk ke dalam jiwa setiap manusia. Pertanyaan yang datang langsung dari pencipta kita, "Sesungguhnya engkau mau ke mana?" Allah sudah menjelaskan mengapa kita diciptakan. Allah sudah memberikan jalan kehidupan bagi kita dan menerangkan konsekuensi di balik pilihan-pilihan yang kita tetapkan untuk menempuh jalan-jalan yang dimaksudkan. Bila benar resikonya seperti ini, bila salah konsekuensinya demikian.

Maka di antara sekian manusia yang telah mengetahui semua konsekuensi itu, terkadang masih mengedepankan bujukan-bujukan atau bahkan pengaruh-pengaruh nafsunya agar bergeser dari nilai-nilai kebaikan, bahkan nilai kemanusiaan yang telah Allah tetapkan. Ketika Allah menyampaikan, "Tidak, Allah tidak ciptakan jin dan manusia itu kecuali untuk menaati Aku, untuk beribadah kepada-Ku." Jadi sifat menjalani kehidupan di muka bumi ini adalah dilandaskan pada kepatuhan kita kepada Allah subhanahu wa taala. Kepatuhan itulah yang disebut dengan ibadah. Patuh, tunduk, patuh. Bahasa Arabnya itu disebut dengan Islam. Jadi Islam dalam pengertian etimologi secara bahasa artinya tunduk, taat. Orang nya disebut dengan muslim.

Jadi setiap manusia itu konsekuensinya memang mesti patuh, tunduk, dan taat kepada Sang Pencipta, yaitu Allah subhanahu wa taala. Karena itu, ketika Allah menyampaikan di dalam firman-Nya, "Wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya'budun," tidaklah kuciptakan jin dan manusia itu kecuali untuk menjadikan seluruh aktivitasnya agar menaati Allah subhanahu wa taala, dijadikan sebagai ibadah.

Jadi kita dari bangun tidur sampai tidur itu sejatinya adalah memetakan kurikulum untuk menaati Allah dalam bingkai ibadah. Dilatih dalam bentuk ritual-ritual itu untuk mengaktifkan titik spiritual kita, titik roh kita. Segala yang terkait dengan roh disebut rohani. Jadi dalam diri kita ini ada, ada spiritnya, ada rohnya, dan itu adalah titik latihan pertama untuk mengaktifkan, ya, titik-titik kebertuhanan.

Jadi ketika Allah sampaikan, "Tidaklah Aku ciptakan engkau kecuali untuk menaatiku." Nah, titik ketaatan itu yang disebut dengan titik ritualnya, ibadahnya, ibadah ritual, keadaannya, keadaan spiritual itu yang penting kita aktifkan dulu. Itu sebabnya diminta kita salat untuk mengoneksikan diri kita, mengaktifkan sinyal itu dengan Allah subhanahu wa taala, dengan Sang Pencipta. Sehingga ketika terkoneksi, terbangun kesadaran dari dalam diri kita sebagai sebuah fitrah. Nanti kesadaran itu yang akan membimbing bagian dari sifat intelektual kita, titik intelektual, ya, IQ itu ya, intellectual question. Kemudian nanti titik fisik kita, physical question.

Jadi nanti yang menggerakkan adalah titik spiritualnya ini yang memberi perintah. Kalau akal itu masih objektifnya normal saja, karena dia hanya mengkonstruksikan pikiran, mengolah data, ya. Jadi informasi-informasi menjadi knowledge, knowledge itu yang akan diteruskan kepada fisik untuk dieksekusi, ya. Bagaimana nanti lisan bicara seperti apa, konstruksi bicaranya, mengatur katanya, bagaimana memilihnya, seperti apa menjelaskannya, bagaimana. Tapi perintah untuk melakukan itu sumbernya dari sini, ya, dari titik terdalam. Di dalam itu cuma ada dua, ada jiwa takwa, ada jiwa fujur. "Fa alhamaha fujuraha wa taqwaha." Maka di dalam diri manusia itu di titik paling dalamnya itu ada nilai kebaikan disebut dengan takwa, karakter moral kebaikan. Ada yang buruk disebut dengan fujur. Nama lainnya disebut dengan nafsu, karena dari fujur keluar su, melewati nafas, nafas ketemu, jadi nafsu. Quran Surah ke-12 Ayat 53, "Wa ma ubarri'u nafsi innafsa la'ammaratum bissuu illa ma rahimarabbih."

Maka semua tindakan kita, menatap, mendengar, berbicara, bertutur, sampai dengan berjalan, ujung kepala sampai ujung kaki yang kita jadikan sebagai bagian dari perangkat beraktivitas, itu semua tatanannya perintahnya kalau tidak dari takwa adalah dari fujur. Kalau bukan dari sifat baik, sifat buruk yang bersumber dari nafsunya. Maka semua kegiatan yang kita desain dalam setiap hari itu kita tata. Dan Allah tanya, "Baik, engkau untuk apa bekerja?" "Ya Allah, saya ingin mencari rezeki." "Baik, bagus, untuk dapat uang." "Setelah dapat uang mau ke mana?" "Pengin kaya." "Setelah kaya mau ngapain?" "Beli ini, beli itu." "Setelah itu mau ngapain?" Ditanya terus sampai ujungnya, "Fa aina tadhabun?" Sampai ke titik puncaknya.

Kalau kamu sudah meraih apa yang kamu inginkan itu, harta sudah banyak terkumpul, sudah mewah rumah sudah megah, mobil melimpah, hidup juga kaya begitu rupa, terus mau ngapain? Maka orang-orang yang bingung pada akhirnya dia mencari-cari ketenangan. Akhirnya balik lagi, sudah kaya segala rupa, cuma cari ketenangan. Akhirnya balik lagi ke desa, nyewa gubuk, nanam kangkung, nanam cabe. Terus kalau memang dengan seperti itu bisa bahagia, kenapa selama ini kerja keras mendapatkan sesuatu yang dikumpulkan? Balik ditanya, "Kamu kedudukan pengin jadi apa?" Terus yang di militer pengin dapat bintang satu, dua, tiga, empat, kalau perlu jenderal besar bintang lima. Sudah itu mau ngapain? Mau diarahkan ke mana semua itu?

Karena pada akhirnya semua bintang akan berguguran, ya, wafat juga meninggal juga. Kalau sudah selesai purna, selesai demikian. Yang punya ilmu, punya jabatan macam-macam, mau diapain ya. Ketika semua titik itu mencapai pada titik jenuhnya di akhir, itu akan balik kan ya. Jabatan purna, harta juga jenuh. Nah, di titik itu kita disadarkan, ditanya, "Mau ke mana?" Maka dijawablah dengan jawaban yang sangat mendalam, "Innii mudhahibun ila Rabbi sayahdin." Yang terbaik adalah katakan, "Saya ini menyiapkan bekal untuk berjumpa dengan Rabbi." Itu jawaban yang paling indah.

Kalau ditanya mau ke mana hidup ini, kata Quran, jawab, "Aku menyiapkan bekal untuk kembali dan berjumpa dengan Rabbi yang telah menciptaku." Dari situlah kemudian Allah kata, "Katakan, Aku berikan petunjuk." Kalau begitu, "Yahdin." "Aku berikan petunjuk," kata Allah. Jadi orang-orang yang menyiapkan semua aktivitasnya dan dia lakukan untuk Allah, berjumpa dengan Allah, maka Allah akan berikan petunjuk dalam setiap aktivitas kehidupannya. Diberi petunjuk bagaimana mata memandang, telinga mendengar, lisan bicara, sampai kaki berjalan, sehingga dia betul-betul menjadi pengabdi dari Rabb-Nya yang Maha menyayanginya. Pengabdi disebut dengan abdun, jamaknya disebut dengan abid. Yang Maha menyayangi disebut Rahman. Maka disebutlah dia dengan ibadah Rahman. Demikian di surah Al-Furqan itu. Itulah puncak yang mesti kita ikhtiarkan dalam kehidupan yang kita selalu sampaikan dan komitmenkan sejak bangun tidur.

Dan kita katakan, "Alhamdulillahilladzi ahyana." Terima kasih ya Allah, segala puji milik-Mu yang telah memberi kesempatan hamba menjalani kehidupan, padahal engkau telah tahan nyawa hamba tadi dalam tidur sesuai ajal. Kau berikan kesempatan hamba berjanji, ya Allah, hamba akan menyebar beraktivitas untuk mencari bekal menghadap-Mu.

Saudara-saudariku, sedalam, sejauh, sebanyak kegiatan aktivitas jabatan yang telah kita kumpulkan, harta benda, pengetahuan sampai detik ini, apakah betul-betul sudah kita siapkan sebagai bekal untuk bertemu dengan Allah atau hanya sekedar mengumpulkan semua itu tanpa arah yang pada akhirnya bertemu dengan kejenuhan kembali? Renungkanlah malam ini, malam Jumat, Jumat saat manusia pertama diciptakan, diturunkan di surga, mengawali misi di dunia, diwafatkan, dan di titik itu kita akan berpisah dengan dunia. Saat azan berkumandang, nampak jelas seluruhnya. Semoga Allah muliakan kita. Selamat merenung. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik. Alhamdulillahirabbil alamin. Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.