Transcription
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil alamin.
Wa Allah, Allahumma, aminana. Allahumma, muslimin, umatin. Allahumma, aslih umuraha.
[Musik]
Min alhamdulillah, kita panjatkan puji dan syukur kita kepada Allah tabaraka wa taala atas nikmat yang Allah berikan kepada kita.
Sebagaimana selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulillah alaihi wa salam beserta para keluarga, sahabat, dan orang-orang yang berjalan di bawah naungan sunnah beliau sampai hari kiamat kelak.
Semoga Allah memberikan kita ilmu yang bermanfaat dan dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat.
Semoga Allah tolong kita dan saudara-saudara kita, khususnya yang terzalimi di Palestina dan berbagai macam tempat.
Semoga Allah perbaiki urusan kita dan urusan pemimpin-pemimpin kita.
Semoga Allah jaga bangsa kita dari segala keburukan.
Allah maha berkuasa atas segala sesuatu, dan semoga sebagaimana Allah memberikan taufik untuk hadir di majelis ilmu, Allah pun memberikan taufik untuk bisa memahami dan mengamalkan ilmu yang kita dapatkan.
Amin ya rabbal alamin.
Alhamdulillah, kita kembali dipertemukan oleh Allah subhanahu wa taala.
Lama enggak ketemu jemaah ya? Terakhir kita ketemu tahun berapa? 2024 ya? Sekarang sudah 2025.
Antum terlihat lebih dewasa, jadi semoga Allah memberikan keberkahan pada waktu-waktu kita.
Amin ya rabbal alamin.
Hadirin Allah muliakan, kembali bersama Taqiratus Sami Kia Ibnu Jamaah rahimahullahu taala, sebuah kitab yang merupakan salah satu kurikulum para ulama dari waktu ke waktu.
Tujuannya tidak lain tidak bukan agar kita dan umat itu mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
Karena hanya dengan memenuhi syaratnya, kita bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
Di antara syaratnya adalah beradab dengan ilmu itu sendiri.
Umar bin Khattab menyampaikan, "Taad lu, beradablah dan pelajari adab, serta beradablah, lalu kalian belajar."
Itu nasihat dari Al-Faruq yang mengerti antara yang benar dan yang salah, pembeda antara yang hak dan yang batil.
Karena sekali lagi, ilmu itu baru jadi ilmu nafik kalau di tangan orang baik-baik, kalau di tangan orang yang beradab, di tangan orang-orang yang punya standar tertentu.
Ini bukan berarti kita sudah punya adab yang baik, justru kita masih banyak PR, jemaah.
Apalagi yang bicara, karena kita banyak PR itulah kita mengkaji dan kita memperbaiki diri.
Semoga Allah memberikan ilmu nafik kepada kita.
Amin ya rabbal alamin.
Kita masuk ke kelanjutan pembahasan kita.
Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua.
Asallahaikum.
[Musik]
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil alamin.
Tamatul wasalamu ala nabiina Muhammadin wa alihi wa ashabihi ajma'in.
Allahumma, fir lana, wali ustina, wali wa'ih, walil muslimina ajma'in.
Qimamu Badruddini Abu Abdillah Muhammad ibrahim, ak ikhl, wa qin wa waswarqatu wuhwakuldamatulnaj wanul khqi.
Bismillah. Alhamdulillah, wa shatu wasalam, rasulillah wa alihi ajma'in.
Berkata penulis rahimahullahu taala, eh alenia baru pembahasan baru dalam poin atau bab-bab yang sama.
Setelah menjelaskan beberapa virus-virus yang paling mematikan, lalu beliau rahimahullahu taala kembali mengingatkan kita pada akhlak-akhlak atau karakter-karakter yang diridai oleh Allah subhanahu wa taala yang harus dimiliki oleh seorang muslim, apalagi penuntut ilmu.
Di antara akhlak tersebut adalah Mardiah, dawamu, taubah, wal ikhlas, wal yaqin, wat takqwa, wasabar, dan seterusnya.
Di antara akhlak yang diridai oleh Allah subhanahu wa taala yang harus dimiliki oleh seorang penuntut ilmu yang pertama, kata beliau, dawamut taubah, senantiasa bertauat kepada Allah subhanahu wa taala.
Jadi, senantiasa bertobat kepada Allah subhanahu wa taala.
Berbicara tentang tobat, perbincangan yang sangat panjang, hadirin, tapi sedikit kita angkat sejenak karena ini menarik.
Dan ini diangkat pertama kali dalam Alin ini.
Di antara akhlak-akhlak yang diridai adalah senantiasa bertobat.
Senantiasa bertobat, dan perintah bertobat adalah perintah Allah tabaraka wa taala.
Allah berfirman dalam surat At-Tahrim ayat 8, misalnya, "Ya ayyuhalladzina amanu tubu ilallahi taubatan nasuha, asabukum aukairum saytikum wilakum jannatin tajri min tahtihal anhar."
Wahai orang-orang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang nasuha.
Apa yang akan terjadi? Semoga Rabb kalian menggugurkan kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai.
Ini jelas perintah bertauat dan bertobat dengan tobat yang nasuh.
Nah, ngomong-ngomong si nasuh ini, siapa jemaah?
Obat-obatan nasuha, siapa yang bisa jelasin tobat nasuh?
Atau apa? Siapa?
Kenal Mas sama nasuh secara bahasa dulu?
Bahasa nasuh at apa?
Asalamualaikum warahmatullahabarakatuh.
Ustaz, waalaikumsalam.
Antum siapa?
Eh, Bowo.
Ustaz Bowo, I hubungannya sama Nasuha siapa?
Hah? Apa?
Ustaz, ada tat Nasuh tuh.
Ee, tobat yang dia berusaha untuk meninggalkan maksiat itu sehingga tidak berulang lagi, Ustaz.
H secara bahasa, apa Nasuha itu?
Nasuha.
Naseh.
Nasuha itu artinya murni.
Oh, dari mana?
Dari kata nasoha.
Oh, dari nasoha.
Jazakallah khairan.
Antum bisa bahasa Arab, Bu.
Masyaallah, jazakallah khairan.
Jadi, nasuhat itu bukan nama orang, hadirin, tapi dari kata-kata nasuh.
Itu dari kata-kata dari nasohaah, itu dari Nun, Shad, sama Ha.
Wazannya itu faul, faul.
Nah, faul itu dari fail.
Kenapa dari fail?
Jadi, faul dalam rangka mubalagoh, penekanan, kayak syakur sama sabur.
Sama bingung kan, hadirin?
Kita akhiri aja pembahasan ini.
Susah memang kalau enggak belajar bahasa Arab atau enggak belajar saf.
Tapi intinya, nasuh itu sebenarnya kata benda, fa, kata benda subjek, kata benda subjek fail, tapi jadi faul.
Jadi, awalnya tuh nasih dari nasih, jadi nasuh untuk penekanan untuk mendapatkan makna lebih.
Dari sekedar makna standar itu, intinya jadi nasi itu kan murni.
Jadi untuk dapat makna yang lebih lagi dari sebatas murni aja sudah bagus ya, tapi untuk lebih murni lagi dalam bahasa Arab itu ada caranya, yaitu misalnya dirubah dari nasih ke nasuh.
Gitu, jadi itu poin.
Jadi tobat yang murni, gitu, hadirin.
Tobat yang ikhlas.
Nush itu juga bisa bermakna ikhlas.
Apa sih yang dimaksud dengan taubatan nasuhah ini kita perlu tahu karena kita disuruh melakukannya.
Ee, saya langsung bacakan aja ya keterangan beberapa ulama tentang masalah ini.
Di antaranya dijelaskan oleh Umar bin Khattab radhiallahu taala Anhu, Ubay bin Ka'ab radhiallahu taalaan.
Mereka mengatakan, "Taubatan nasuha itu adalah an yatuba minadzanbi tumma la yaudu ilaih."
Seseorang bertobat dari dosa dan dia tidak kembali lagi.
Dia tidak kembali lagi dari atau dia tidak kembali lagi ke dosa tersebut.
Dia tidak kembali lagi ke dosa tersebut.
Jadi, hadirin yang Allah muliakan, seseorang bertobat dari dosa, lalu dia tidak kembali lagi ke dosa itu.
Dia tidak kembali lagi ke dosa tersebut.
Itu poin.
Itu namanya ee eeudulbanu.
Ada kelanjutannya, hadirin.
Sebagaimana susu itu, susu sapi itu tidak kembali lagi ke, apa namanya, hadirin tuh dor, tuh tempat susu.
Kalau sapi betina, nah enggak sampai lagi ke D itu tempat susunya.
Kalau perah, itu perah susu sapi.
Enggak kan itunya ada.
Nah, itu namanya Dar.
Nah, jadi kira-kira bisa enggak susu balik lagi ke sana?
Enggak bisa.
Nah, itu tobat yang nasuh.
Itu dalam loh, hadirin.
Coba kita renungkan, kita sudah tobat nasuha belum?
Kita ini sudahah atat nas versi standarnya para ulama atau belum?
Sebagaimana susu tuh enggak balik lagi ke sana, tahu kan D itu ya?
Jadi yang enggak mungkin gitu balik lagi, masa dimasukin lagi gitu?
Enggak bisa.
Itu kata Umar bin Khattab dan Ubay bin Ka'ab.
Q Hasan alas Al Hasan Al Basri.
[Musik]
Menyampaikan, Al Hasan Al Basri memberikan redaksi yang berbeda.
Kata Hasan Al Basri, "Taubat nasuha itu adalah pada saat seseorang itu menyesali kesalahan-kesalahan masa lalunya dan dia bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi."
Jadi Hasan Al Basri menyebutkan dua unsur nih, hadirin.
Yang pertama, penyesalan pada saat seorang hamba itu nyesal banget terhadap kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa masa lalu.
Yang kedua, dia bertekad bulat untuk tidak mengulanginya lagi.
Kita lanjutkan.
Waqalal Kalbi, nama besar juga Al Kalbi rahimahullah.
An yastagfiro bisan, "Taubat nasuha itu beristigfar dengan lisan, waandamu bilqolbi, dan menyesal dengan hati, wumsiku bil badan."
Dan dia menahan dengan badannya, artinya dia bertahan untuk tidak terjatuh lagi.
Jadi dia bertahan dengan tubuhnya dan dirinya agar enggak jatuh lagi.
Itu dikatakan oleh Al Kalbi.
Kita lanjutkan.
Mari kita sebutkan Said bin Musayyib, pakar fikih nomor satu di kalangan tabi'in.
Jadi sengaja saya sebutkan kan langsung keterangan nama-nama besar biar jemaah bisa dengar langsung dan bisa mendapatkan simpulan yang lebih utuh.
Karena mereka menyampaikan dengan redaksi yang berbeda, tapi nanti substansinya sama gitu loh.
Dan sehingga jemaah enggak bingung kalau nanti ngedengar redaksi-redaksi yang berbeda.
Karena intinya bukan di redaksi, tapi intinya di substansi.
Said bin Musayyib mengatakan, "Taubat adalah tansoh biha anfusakum."
Tansahun biha anfusakum.
Jadi kalian memberikan nasihat ke diri kalian menggunakan itu.
G ini maksudnya wallahu taala bawaf.
Ya, arah taubat nas itu adalah sebenarnya sama, eh meninggalkan dosa, menyesali, dan bertekad enggak ngulangi lagi.
Dan setiap ada potensi untuk ketemu sama dosa itu atau terjatuh ke dosa tersebut, kita gunakan tobat itu untuk menasihati diri kita.
Ingat, kamu sudah tobat.
Se dia sendiri diajak lagi, diajak sama teman-teman melakukan hal itu lagi, enggak cukup.
Ingat, lu sudah tobat sama Allah, jangan lakuin lagi.
Oh iya, iya benar.
Enggak, enggak, enggak, gua enggak.
Nah, kalau sudah bisa sampai titik itu, ah tobatnya nasuha.
Nanti orang biasa minum-minum gitu terus diajak lagi, lalu dia nasihati dirinya, enggak, enggak bisa.
Tapi enggak ada yang lihat nih, gitu.
Teman-teman kajian enggak ada, Allah lihat, dan aku sudah tobat.
Aku enggak gitu.
Jadi tobat yang kita gunakan untuk menasihati diri sendiri.
Jadi tobatnya itu bukan hanya sekedar ee dalam satu waktu.
Tobatnya itu bukan hanya ketika umrah, guu, atau ketika haji, atau ketika Ramadan, atau ketika iktikaf.
Tapi tobatnya itu menjadi senjata dia ke mana-mana.
Dia pergi dan dijadikan senjata untuk menasihati dirinya, untuk mengekang dirinya atau hawa nafsunya.
Kalau ingin ngerjain itu dosa lagi, habis lebaran, habis ee Ramadan, pengin dosa lagi, eh ingat malam 27, lu sudah tobat sama Allah.
Oh iya ya, benar juga, akhirnya berhenti dia.
Itu tobat yang nasuha.
Jadi tobatnya itu punya peran dalam hidup.
Recall ke apa yang sudah dilakukan, komitmen kita, gitu loh.
Jadi kalau orang tobatnya nasuha ketika 10 malam terakhir, misalnya ketika cariatul Qadar, itu akan diingat terus tuh.
Enggak, enggak, enggak.
Itu orang yang ketika umrah tobat, ketika tawaf, itu begitu pulang ke tanah air, begitu berhadapan dengan ee potensi-potensi maksiat, ingat lagi, enggak, enggak, gua sudah tobat di depan Ka'bah kepada Allah subhanahu wa taala.
Aku enggak akan ngerjain ini lagi.
Ya, tobatnya ketika wukuf di Arafah, enggak, enggak, enggak.
Kalau diingat tuh wukufnya, aku sudah lakukan ini di Wukuf, terus diingat lagi gimana detik-detik ketika dia Wukuf atau ketika dia di depan Ka'bah ketika tawaf.
Ah, enggak bisa pada saatnya iktikaf, gitu.
Ketika dia mengucap, "Allahumma innakaun tuhibbulu fa'fu Anni."
Nah, itu hampir setiap kita baca, "Allahumma innakaun fafui," ketika sebelum terakhir.
Tapi siapa di antara kita yang mengingat kalimat doa tersebut ketika pekan ini diajak maksiat?
Itu membedakan tobat nasuha atau bukan.
Kalau ngomong aja ya.
Itu makanya Ibn Qayyim dalam Madarij mengatakan, "Betapa mudahnya tobat itu dengan lisan."
Betapa mudahnya, tapi betapa sulitnya mewujudkan hakikat taubatan nasuha.
Lihat ya, bagaimana ulama mendefinisikan, tuh beda.
Maka beliau, pakar fikih nomor satu di masa [Musik] tabi'in, simpel aja, enggak ribet-ribet.
Tobat tuh kalau tobat, Anda bisa, Anda gunakan menjadi senjata mengingatkan diri Anda sendiri, gitu.
B, suami apa, suka bentak-bentak istri, marah-marah sama istrinya, terus dia tobat-tobat nasuha.
Begitu ada kondisi memancing, dia ngebentak istrinya, dia ingat, "Saya sudah tobat, enggak boleh saya begini lagi."
Ini dia ngerem.
Ketika kemarin haji, misalnya, sebelum haji, nampar istri, gitu.
Nauzubillah, akhirnya wukuf, tobat sama Allah, mau nangis, dia terus peluk istrinya.
Pas pada saat itu sudah tobat, pokoknya saya ng, eh pulang haji, ada dinamika meledak.
Begitu mau nampar, ingat, ya udah tobat, udah tobat, enggak boleh nampar istri.
Endang aja, loh, enggak boleh.
Hadirin, ini terlalu tekstual, enggak bisa begitu.
Jadi itu kalau kita tobat, kita benar, tobat itu akan ngingetin kita, ng-recall kita.
Enggak bisa.
Coba evaluasi deh, gitu.
Sama kita istigfar ba'da salat wajib, itu tuh gimana tuh kualitasnya?
Itu, oh gimana kualitas kita?
Kan kata Kalbi, "Tobat itu istigfar dengan lisan, penyesalan dalam hati, dan nahan diri."
Gitu, itu tobat, itu jamaah.
Makanya kita harus kembali ke keterangan ulama.
Kita satu lagi, saya sebutkan keterangan dari Muhammad bin Ka'ab Al-Qarzi.
Asya, "Taubat nas itu tobat yang mengumpulkan empat hal."
Empat hal.
Yang pertama, alistigfaru bilisan, beristigfar dengan lisan, hadirin.
Yang kedua, wal iql bil abdan, meninggalkan dengan badan dan diri kita.
Jadi kita tinggalkan dosa itu dengan segenap diri kita.
Itu yang kedua.
Yang ketiga, waitmilud bil janan.
Yang ketiga itu bertekad untuk meninggalkan dosa itu selama-lamanya di dalam hati kita.
Di dalam hati kita, itu ketiga.
Yang keempat, ikhwan, dan meninggalkan teman-teman yang buruk atau memberikan pengaruh buruk bagi kita.
Itu empat ini.
Yang pertama, apa? Istigfar dengan lisan.
Yang kedua, meninggalkan dengan anggota badan dan segenap diri kita.
Yang ketiga, bertekad untuk enggitu loh, jemaah.
Ini masih nytek, loh, belum hujan nasional.
Yang ketiga, apa?
Ya, tetap BJA.
Saya enggak bisa dengar ya, saya punya masalah.
Ya, mungkin saya yang punya masalah.
Jadi berapa untuk tidak mengulanginya lagi, enggak mau.
Saya enggak mau kapok-kapok, gitu.
Yang terakhir, meninggalkan teman-teman yang memberikan pengaruh buruk kepada kita.
Nah, itu.
Nah, ini tobat nasuha.
Dari sini dapat satu unsur lagi nih.
Kita dapat satu unsur bahwa pentingnya lingkungan.
Kalau mau tobat, tobat nasuha, lingkungan yang baik, lingkungan yang kondusif, khususnya orang-orang terdekat.
Betul, kita Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bisa berinteraksi dengan siapa saja, tapi yang ditekankan pergaulan tuh banyak, hadirin.
Bertingkat-tingkat, ada yang teman kerja, teman kantor, ketemu cuma pas kerjaan doang.
Ada yang kenal nama, enggak pernah ngobrol, kenal, dan nanti kita bilang, "Itu teman gua tuh," gitu, cuman kenal nama doang.
Ada yang kenal muka, gitu loh, mukanya tahu, tapi enggak tahu namanya siapa.
Nah, yang dimaksud di sini adalah, sebagaimana sabda Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, "Mat ilir perumpamaan teman duduk."
Nah, itu teman duduk, teman nongkrong, teman yang biasa kita duduk bareng, ngobrol bareng, brainstorming bareng, tukar pikiran bareng, curhat bareng.
Itu perumpamaan teman duduk yang baik dan yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi.
Adapun penjual minyak wangi, kalau Anda bergaul sama dia, kemungkinannya, kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, berapa?
Tiga.
Yang pertama, kemungkinannya dikasih kita parfum, pakai wangi.
Kemungkinan yang kedua, Antum ta amin, kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, enggak dikasih, tapi kita beli, beli pakai wangi.
Yang ketiga, enggak dikasih, enggak beli juga, tapi selama kita ngumpulnya di tokonya wangi, apalagi dapat ada tester banyak, coba.
C khususnya orangnya lagi ke dalam, gitu, coba lagi.
Jadi wangi kita nih, itu intinya nongkrong atau duduk-duduk di tempat ee atau tempat menyai teman kita, itu bikin kita wangi.
Nah, begitu juga dengan teman duduk yang saleh yang baik, itu pasti memberikan pengaruh positif kepada kita.
Sahabat itu menarik, kata para ulama.
Ulama juga mengatakan, "Almaru ibnu biatihi."
Seseorang itu anak dari lingkungannya, terpengaruh.
Jadi itu hal yang perlu kita inian.
Nah, bergaul sama ee ee orang yang buruk, seperti bergaul sama teman pandai besi, kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, kemungkinannya dua.
Yang pertama, Anda dapat percikan apinya sehingga baju Anda bolong, rusak bajunya.
Atau yang kedua, kena aroma yang apek, aroma buruk, aroma yang enggak enaklah, apa dua.
Nah, itu real.
Ngerti enggak nih, jemaah?
Dan salah paham, ada ibu-ibu habis hadis ini datang nanya, "Ustaz, aku tuh galau. Kenapa suamiku tuh pandai besi? Apa aku minta cerai aja?"
Ya, bukan begitu, Bu.
Itu tuh perumpamaan.
Selama suami Ibu saleh, jangan minta cerai.
Cuma kan tinggal sebelum pulang atau pas pulang mandi bersih-bersih, selesai.
Itu perumpamaan pengaruh.
Nah, ada banyak orang, ah tobat, gitu loh.
Ramadan tuh sudah tobat, eh Syawal balik lagi.
Kenapa? Lingkungannya enggak baik.
Sering tuh begitu.
Orang-orang pas umrah tobat di sana, uh semangat.
Pas balik lagi, W kembali lagi ke sebelum umrah.
Kenapa? Sahabat-sahabatnya yang mempengaruhi.
Yau waktu haji mantap banget hajinya, tapi begitu pulang, balik lagi nih.
Ya, kenapa? Sahabat-sahabatnya yang mempengaruhi buruk kepada dia.
Nah, ini.
Jadi ternyata tobat itu juga harus memikirkan lingkungan, kata para ulama.
Kalau Anda ingin berhasil, apalagi lihat permintaan para ulama, kan dawamu taubah, tobat yang berkesinambungan, yang kontinu, yang konsisten, gitu loh.
Bukan tobat sudah, habis itu balik lagi, enggak.
Nah, ini berarti kita butuh lingkungan.
Jadi kenapa disebutkan menghindari teman-teman dekat yang buruk, itu sebenarnya bukan masuk ke substansi tobat, tapi masuk ke eksistensi tobat itu sendiri agar tobat itu bisa langgang.
Itu lingkungan tuh sangat penting kalau kita ingin mempertahankan tobat.
Tobat kita manusia itu lemah, benarannya sangat lemah.
Ada hal menarik dari keterangan para ulama klasik ketika bicara tentang tabiat, bicara tentang karakter, tabiat, behav.
Apa kata mereka?
Menarik deh, bahasa yang mereka gunakan.
Menarik, enggak loh, jangan asal Bapak senang.
Belum saya jelaskan, menarik-menarik ini enggak benar.
Murid kayak begini nih, pokoknya penting gurunya senang, gitu loh.
Belum dijelasin, menarik-menarik, belum dijelasin.
Saya harus hati-hati dengan hadirin sekalian.
Kata-kata mereka, "Perangai, tabiat, atau karakter itu pencuri atau pencurian."
Mencuri.
Apa maksudnya?
Maksudnya ada banyak orang ketika bergaul di sebuah lingkungan dengan karakter khusus, terlepas baik atau buruk, itu dia enggak sadar karakter dia akan ngikut ke teman-temannya.
Itu karakternya akan mengikuti lingkungannya.
Kalau lingkungannya baik, jadi baik.
Kalau buruk, jadi buruk tanpa dia sadari.
Tahu-tahu dia berubah.
Makanya sering banget kalau misalnya kita punya teman dekat, lalu sebulan, dua bulan enggak ketemu aja, dan kita dengar dia lagi main sama siapa, gitu.
Saya bilang pas ketemu lagi, kita bilang, "Lu berubah."
Enggak, gua enggak berubah, gua masih kayak yang dulu kok.
Enggak, lu berubah cara bicara, lu berubah cara bersikap, kamu berubah.
Kenapa?
Karena bergaul sama, bisa jadi enggak harus negatif.
Bisa jadi positif, tapi itu menunjukkan ulama ingin menjelaskan bahwa Anda enggak bisa cegah dari lingkungan kecuali taufik dari Allah subhanahu wa taala.
Secara umum, manusia akan terpengaruh.
Karena ini bukan jadi bicara karakter, bicara kebiasaan, bicara tabiat, bicara behavior, itu bukan deal rida sama rida.
Anda rida, Anda enggak rida, karakter Anda akan dicuri.
Itu poin.
Anda rida, Anda enggak rida, karakter Anda akan dicuri.
Tabiat Anda akan berubah tanpa Anda sadar.
Sama pencurian, kita enggak sadar handphone kita dicuri orang.
Enggak sadar kita perubahan karakter dan kebiasaan itu sering terjadi karena pencurian-pencurian sosial, hadirin.
Tanpa kita sadari, cara bicara kita berubah.
Tanpa kita sadari, dialek kita berubah.
Tanpa kita sadari, body language kita berubah.
Tanpa kita sadari, sikap kita berubah.
Itu poin.
Apa yang terjadi? Dicuri.
Dicuri oleh lingkungan.
Manusia itu lemah.
Waqal insanu ifa.
Manusia diciptakan dalam kondisi lemah.
Jadi jangan sok jago, jus kuat, J, merasa hebat, bisa.
Enggak.
Ada banyak orang yang punya prinsip lebih kuat daripada kita berubah karena lingkungan, berubah karena orang-orang terdekat.
Jadi jangan pernah remehkan.
Kalau ingin tobat, perhatikan lingkungan.
Itu poin.
Perhatikan eh lingkungan dan jangan pernah meremehkan itu.
Jangan pernah meremehkan itu.
Makanya kan kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam ketika membunuh 99, mohon maaf, Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam menceritakan.
Ya, ketika pembunuh 99 plus satu nyawa itu ingin berubah dan bertanya, "Apakah saya masih bisa tobat?"
Apa kata alim tersebut?
"Siapa yang bisa mencegah Anda dengan tobat?"
Masih ingat enggak hadis tersebut, hadirin?
Ada pembunuh 99 nyawa datang ke seorang rahib yang enggak punya ilmu, tapi rajin ibadah, lalu nanya, "Saya ini mau tobat, bisa enggak? Saya tobat dosa saya banyak banget. Saya sudah bunuh 99 orang."
Lalu kata rahib tersebut, "Waduh, kebanyakan, enggak bisa."
Sudah enggak bisa, 29 enggak bisa.
Karena rahibnya ini enggak punya ilmu, tapi semangat ibadah, akhirnya fatwanya tanpa ilmu, enggak bisa.
Ya, pembunuh kan punya insting.
Ya udah, intuisinya kuat.
Kalau enggak bisa, kenapa?
Enggak, gua ngenapin aja 100.
Apalagi ini.
Sebelah kan orang gimana sih?
Perasaan, hadirin, enggak bisa tobat, Pak.
Udah, sudah berat ya, sudah, sudah sekalian aja.
Akhirnya dieksekusi, dibunuh.
Jadi 100, tapi tetap nih, hati kecil ingin berubah dan enggak srek dengan jawaban tersebut.
Akhirnya cari alim, cari ulama, benar-benar ulama.
Lalu datanglah ke ulama tersebut, lalu mengatakan, "Saya ingin bertobat, saya sudah bunuh 100 nyawa, gitu. Bisa enggak saya bertobat dengan kondisi sekotor ini?"
Alim itu mengatakan, "Siapa yang bisa mencegahmu dari tobat?"
Allahu akbar.
Siapa yang bisa menghalang-halangimu dari tobat?
Siapa yang bisa membatas-batasimu dari tobat?
Tobat bisa, Allahu gfurahim.
Oh, itu senang banget.
Tapi berhenti sampai di sini, enggak.
Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam menjelaskan kisah itu.
Sang alim memberikan catatan, "Saya minta kamu hijrah dari negeri kamu ke negeri yang lain."
Kenapa?
Dijelaskan bahwa negerimu itu banyak orang-orang buruknya, sedangkan kamu negeri yang saya maksud adalah di sana, negeri yang penduduknya itu beribadah kepada Allah.
Akhirnya hijrah, dan di tengah jalan wafat.
Akhirnya terjadi silang pendapat di antara dua malaikat, dan diukur jaraknya, ternyata lebih dekat ke tujuan, dan akhirnya dimasukkan ke dalam surga.
Alhamdulillah.
Taalhamdulillah.
Tapi poinnya adalah bahwa pembunuh 100 nyawa itu diminta untuk pindah.
Padahal secara umum, ya, orang yang sampai pada titik ngebunuh 100 nyawa itu karakternya kuat, apa enggak kuat, loh?
Tapi di sisi yang negatif.
Tapi ini bukan amatiran jago, ini orang bisa bunuh 100 nyawa.
Tapi tetap disuruh pindah.
Pindah enggak bisa, sekuat-kuat karakter, kalau tetap di lingkungan yang buruk, Anda susah istiqamah, susah mempertahankan tobat Anda.
Jadi pindah, dan ketika saran itu diikuti, itulah yang membuat dia dimasukkan ke dalam surga Allah subhanahu wa taala.
Ini menunjukkan bahwa ini sebenarnya bukan kita merasa lebih suci, bukan justru sebaliknya, kita merasa lemah.
Kita merasa lemah, bukan merasa paling suci atau lebih suci, tidak.
Walaupun sekali lagi, di sisi lain, bukan berarti putus kontak sama sekali.
Tetap didakwahin, tetap diajak, dan kalau ada kesempatan, diajak kebaikan.
Tapi lagi-lagi, hati-hati dengan ee yang terdekat dengan kita.
Karena tadi kita sampaikan bahwa pergaulan itu bertingkat-tingkat.
Jadi jaga jaraklah, gitu.
Tentukan, makanya kan kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, "Almaru Al Dini khilihi."
Seseorang itu di atas agama bukan temannya.
Khalil itu tingkatan tertinggi dalam ee relasi.
Khalil itu tingkatan terintimate antara kita dengan seseorang.
Itu Khalil.
Dan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mengatakan, "Seseorang itu di atas agama sahabat dekatnya."
Ya, bisa diartikan kekasihnya, bisa jadi orang tua, akan sangat terpengaruhi dengan orang-orang yang paling dekat.
Itu yang perlu dijaga.
Adapun menebar kebaikan dengan siapapun dan mengajak kebaikan, maka pintu terbuka luas, hadirin yang Allah muliakan.
Dan tetap ajak, bukan di ini, tapi perhatikan orang-orang terdekat ya antara kita.
Karena itu bagian dari keberlangsungan tobat-tobatan nasuhah.
Ee, hadirin Allah muliakan.
Kesimpulannya, kesimpulannya apa sih?
Mari kita simak langsung dari Ibn Qayyim rahimahullah.
Setelah Ibn Qayyim membawakan perkataan-perkataan di atas, lalu beliau memberikan kesimpulan.
Dan hadirin bisa cek dalam kitab Madarij.
Ibn Qayyim menjelaskan, "Taubat nas itu mengandung tiga hal."
Kata Ibn Qayyim, yang pertama, "An illaanawalathu."
Yang pertama mencakup seluruh dosa yang telah kita perbuat.
Jadi kalau ingin tobat, tobat nasuha, tobat itu mencakup seluruh dosa-dosa kita yang kita lakukan.
Bukan setengah-setengah.
Bukan ee, ya Allah, yang zina aja.
Ya Allah, yang khamar masih enak, bukan begitu.
Kayaknya aku belum bis lah zina.
Insyaallah lah, Insyaallah bisa, bisa, gitu.
Jadi bukan, bukan itu, tapi semuanya, gitu loh.
Itu semuanya.
Yang kedua, "Ijmaul azamidq bultihi alaiha bhaituabqahu tudun wala talaum wala intidar."
Jadi yang kedua itu punya tekad kuat dan jujur, dan tidak plin-plan, tidak maju mundur, tidak setengah-setengah, gitu.
Enggak nunggu, gitu loh.
Jadi udah semua dosa, dan benar-benar bertekad untuk enggak ngulangin lagi, gitu.
Nyesal dan enggak ngulangin lagi, itu poinnya.
Dan enggak, itu jadi enggak, enggak apa, enggak enggak maju mundur, gitu loh.
Enggak ragu-ragu.
Tapi nanti weekend gua ke mana?
Kalau begitu enggak begitu, gitu.
Jelis pokoknya, aku mau berhenti dengan ee aktivitas-aktivitas haramku.
Pokoknya aku yakin, gitu.
Jadi enggak ada keraguan.
Yang ketiga, kata beliau, "Takwha."
Tobat itu harus ikhlas dari faktor-faktor trigger-trigger yang lain.
Artinya pada saat kita apa, kita tinggalkan, kita menyesal, dan kita bertekad untuk tidak mengulangi lagi, itu murni karena takut kepada Allah dan mencintai Allah subhanahu wa taala melebihi yang lain.
Dan mengharapkan apa yang Allah janjikan dan takut akan ancaman Allah subhanahu wa taala.
Itu tujuan, itu alasannya.
Lanatubu jahihi, kata Ibn Qayyim, bukan seperti orang yang meninggalkan dosa dan maksiat, tapi karena untuk menjaga kedudukannya di masyarakat.
Jahihi waurmatihi waibihi warasati, untuk menjaga kedudukan di masyarakat, menjaga marwahnya di tengah masyarakat, menjaga posisinya, jabatannya, bukan itu semua.
Atau menjaga powernya, menjaga hartanya, atau tetap punya nama baik di tengah-tengah masyarakat agar pujian tetap mengalir ke dirinya.
Bukan juga karena takut dicela dan dibully oleh masyarakat dan lain seterusnya.
Karena ada orang, dia enggak mau, dia tinggalkan dosanya bukan karena takut karena Allah, tapi karena urusan dunia.
Itu bukan taubat.
Walaupun dia berhenti total, tapi bisa jadi dosanya masih ada di dalam diri dia.
Contoh misalnya, orang berhenti ee zina.
Kenapa?
Karena takut kena penyakit kelamin yang parah.
Sudah, duu berhenti.
Atau ada orang yang berhenti selingkuh karena takut rumah tangganya bubar.
Gitu, pas dia lagi, nauzubillah, ada orang lagi cekin, eh, kok sama anak tetangganya yang lagi staycation di hotel yang sama.
Eh, Om, asalamualaikum, Om, apa kabar?
Gitu loh, kok Tante mukanya berubah, gitu.
Aduh, gitu, enggak pol ini.
Terus udah, gua berhenti deh, enggak mau lagi selingkuh, nanti rumah tanggaku hancur.
Jadi dia lebih takut sama tuh anak kecil dibanding takut sama Rabbnya subhanahu wa taala.
Itu bukan taubat.
Itu bukan taubat.
Atau dia takut tentang ee, takut sama rumah tangganya, atau takut sama mertua, mertua galak misalnya.
Udah, dar, berhenti.
Itu bukan tobat.
Tobat itu takutnya tu sek k Allah subhanahu wa taala.
Takutnya kepada Allah subhanahu wa taala.
Karena ini penting, banyak orang itu berhenti, tapi ternyata bukan tobat.
Coba kita evaluasi, kita ini berhenti, kenapa?
Nah, untuk ikatan tobat harus karena Allah tabaraka wa taala.
Itulah kira-kira ee keterangan taubat nasuh yang dijelaskan oleh para ulama kita.
Dan saya ambil dari kitab Madarij Salikin karya Ibnul Qayyim rahimahullahu taala.
Magrib, menit lagi tib.
Itu kira-kira taubat nasuha, jemaah.
Nah, kita lanjutkan ya.
Sebagai seorang muslim, sebagai penuntut ilmu, kita diminta untuk melakukan tobat bukan hanya satu kali, dua kali, hadirin.
Makanya bahasanya Ibn Jamaah, "Dawamut Taubah," konsisten dalam tobat, terus-menerus dalam tobat.
Dan itu juga bukan bahasa Ibn Jamaah rahimahullah.
Itu juga bahasa Ibn Qayyim rahimahullahu taala.
Beliau mengatakan, "Tobat itu kedudukannya di awal, di tengah, dan di akhir."
Maksudnya apa?
Hamba itu enggak boleh berpisah dengan pertaubatan, dan dia harus terus bertobat, bertobat, bertobat sampai dia wafat.
Kalau dia pergi ke sebuah tempat atau ke destinasi lain atau ke negeri lain, maka tobat ikut bersama dirinya.
Enggak boleh ditinggal.
Liburan akhir tahun ini, misalnya, hadirin, ke Jogja, tobat harus ikut.
Ke Bandung, tobat harus ikut.
Ke Lombok, tobat harus ikut.
Kelompok diajak, enggak.
Kemarin, sudah aku bawa sih, loh.
Terus, ya, aku nginap hotel ini, aku suruh dia nginap hotel lain, enggak bisa.
Jadi sengaja dia maksiat di hotel itu, enggak bisa.
Dia harus nginap di kamar yang sama, kira-kira gitu.
Nih, biar masuk nih dalam diri kita.
Jadi tobat itu harus nempel sama kita.
Kalau enggak, aduh, harus ikut.
Harus ikut.
Dan bukan hanya liburan di sini.
Kita lagi buka smartphone kita, itu tobat harus ada lagi.
Browsing, tobat harus ada.
Harus ada.
Kalau enggak, apalagi sih kita.
Kita tahu, kita enggak niat.
Kita enggak niat ngelihat keluar, tuh banyak istigfar.
Sudah ingat sama Allah subhanahu wa taala.
Sekarang kita bisa bebas di mana aja.
Nauzubillah, nauzubillah, hadirin.
Tobat itu awal seorang hamba dan akhir seorang hamba.
Waiyah, namun kebutuhan kita terhadap tobat yang paling darurat itu adalah di akhir kita.
Sebelum ul maut, sebelum pinta tobat ditutup.
Tapi kebutuhan kita tap tobat di awal pun juga enggak kalah urnya.
Kita butuh tobat kapanpun, di manaun.
Itu penting.
Ini keterangan Ibn Qayyim, mind blowing, hadirin sekalian.
Luar biasa.
Dan ini ternyata salah satu kelemahan banyak kita selama ini.
Ini yang membuat kita tergelincir, terjatuh terus.
Ini kita lupa bawa tobat kita.
Lupa bawa dia ke mana pun kita berada.
Kita lupa istigfar.
Kita lupa kembalikan kepada Rabbul Alamin.
Kita lupa ingat azab Allah, khususnya ketika kita sedang sendiri atau lakukan perjalanan atau pergi ke sana ke sana, dan seterusnya.
Akhirnya terjadi apa yang terjadi.
Kalau itu masa lalu kita, sekarang kita perbaiki.
Jangan putus asa, tetap optimis.
Siapa yang bersih dari dosa?
Jadi tobat adalah kewajiban seumur hidup, jemaah.
Seumur hidup, kewajiban seumur hidup.
Enggak bisa dipisahkan.
Dan ini yang membedakan siapa penuntut ilmu sejati dan yang bukan.
Siapa menuntut ilmu sejati dan yang tidak.
Ini di poin ini, penuntut ilmu sejati itu senantiasa bersama tobat.
Makanya dawamut taubah ini panjang keterangannya.
Ini salah satu kelemahan kita.
Harus banyak minta pertolong kepada Allah subhanahu wa taala.
G dan bukan hanya sama-sama, bukan hanya pergi sendirian aja.
Pergi bareng keluarga atau lagi bareng istri, kan gitu, hadirin.
Tobat gitu, lagi bareng istri, tobat, istigfar.
Hadirin, mungkin itu tadi.
Kenapa kita banyak ribut segala macam?
Karena kita lupa istigfar ketika barang-barang istri, ya enggak?
Hadirin, karena tobat itu tadi.
Apa kata para ulama?
Jar, apa?
Imsaku bil badan, kemampuan menahan.
Kan kemampuan menahan, menahan ego, menahan emosi, menahan, apa namanya, amarah.
Itu kan tobat.
Simpel aja, hadirin sekalian.
Ini sudah pada nikah-nikah kan?
Sekali lagi, salah satu fenomena di antara kita, tahu apa sih?
Kita itu lebih mudah menahan emosi, menahan marah, jika berhadapan dengan istri orang.
Iya, itu masalahnya.
Kalau ngapinisi sendiri, oh beda.
Sudah, tapi kalau istri orang, Masyaallah, bijak benar.
Enggak, ibu-ibu?
Oh, benar tuh, Masyaallah.
Nah, kenapa kita enggak bisa nahan diri di hadapan istri?
Kita lupa tobat.
Kita ini loh, lupa tobat, lupa.
Tobat kepada Rabbal Alamin.
Beda dengan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.
Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dalam hadis Muslim, "Ya, wahai manusia, bertobatlah kepada Allah."
Allah, inni laubuai, demi Allah, aku bertobat setiap hari lebih daripada 70 kali.
Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, maka tenang bisa ngejaga segala macam.
Kita lupa.
Ini pelajaran bagi kita, ini mahal, hadirin sekalian.
Kita lanjutkan bada salat.
Wasalam Muhammad.
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillah, alhamdulillah, wasatualam, rasulullah.
Ina naub il, eh kita lanjutkan.
Eh sejenak apa yang dikatakan oleh Ibn Qayyim dalam Madarij.
Setelah beliau mengatakan bahwa tobat hiya bidayatul abdi wa hayatu.
Tobat itu adalah awal dari seorang hamba dan akhir dari seorang hamba.
Beliau membawakan sebuah ayat di dalam Al-Quranul Karim, dalam surah An-Nur ayat 31.
Ketika Allah subhanahu wa taala berfirman, "Tua'llahi jaman di di akhir ayat tersebut."
Ee, ayat tersebut panjang, dimulai dari wilminat AB dan seterusnya.
Di akhir ayat tersebut, Allah berfirman, [Musik]
Dan bertobatlah kepada Allah kalian semua, wahai orang-orang beriman, agar kalian beruntung.
Lalu An-Nur ayat 31, semoga sudah [Musik] dicatat.
Dan bertobatlah kepada Allah semua kalian, wahai orang-orang beriman, agar kalian beruntung.
Lalu Ibn Qayyim rahimah mengatakan, "Il ayiratin Madaniah."
Ayat ini masuk dalam kategori surat Madaniyah setelah hijrah.
Ai, W jihadiim.
Dalam ayat ini, Allah mengajak bicara atau menyampaikan pesannya kepada ahli iman dan orang-orang terbaik dari makhluk-Nya agar mereka bertobat kepada Allah subhanahu wa taala setelah iman mereka.
Karena itu pesannya, Ibn Qayyim, ini ayat-ayat Madaniyah, artinya setelah hijrah.
Artinya perintah bertobat itu setelah berbagai macam performa apik, performa hebat para sahabat setelah mereka beriman.
Dan mereka mempertahankan iman yang begitu luar biasa, kota Makkah selama 13 tahun.
Lalu mereka berhijrah.
Lalu bagaimana mereka mempertahankan iman mereka di Perang Badar, di Uhud, dan berbagai macam kesempatan.
Lalu setelah itu mereka disuruh bertobat, hadirin.
Setelah performa yang begitu mencengangkan, begitu luar biasa.
Ini bukan setelah mereka bermaksiat.
Atau ayat ini turun bukan karena mereka lalai, tapi setelah mereka beriman.
Setelah mereka bersabar di atas iman mereka, setelah Bilal disiksa, direndahkan.
Bagaimana dijatuhkan dan seterusnya.
S para duafa itu dizalimi setelah Abu Bakar as-Siddiq dan orang-orang kaya bersabar ketika meninggalkan seluruh hartanya di saat mereka berhijrah ke kota Madinah.
Wahijratihim dan setelah mereka berhijrah.
Wah jihadihim, setelah mereka berjihad.
Setelah itu mereka disuruh bertobat.
"Wataubu ilallahi Jamian ayyuhal Mukminun."
Dan bertobatlah kepada Allah semua kalian tanpa terkecuali, wahai orang-orang beriman.
Banyak di antara kita lupa bahwa atau berpikir keliru bahwa tobatnya adalah pada saat di awal hijrah saja.
Tapi sekarang enggak perlu, karena saya sudah ke masjid, saya sudah ngaji, saya sudah kenal sama Ustaz, saya sudah kenal sama beberapa orang Saleh, saya sudah umrah, saya pernah haji, saya sudah infak, saya rutin ngasih ke masjid, saya donatur A, saya donatur B, berarti saya enggak perlu tobat.
Tidak.
"Wataubu ilallahi Jamian."
Dan bertobatlah kepada Allah.
Kalau para sahabat saja disuruh bertobat, apalagi kita.
Kalau para sahabat setelah hijrah disuruh bertobat, apalagi kita.
Apabila para sahabat setelah berjihad disuruh bertobat, apalagi kita.
Apa yang pernah kita korbankan?
Apabila para sahabat, apabila para sahabat setelah mengabarkan dan kehilangan seluruh hartanya di jalan Allah disuruh bertobat, apalagi kita.
Ini perah yang sangat penting, perintah yang tidak diduga sebelumnya bagi banyak pihak.
Karena bisa jadi sebagian kita berpikir, "Saya sudah melakukan, harusnya dapat reward, harusnya dipuji dong, disuruh bertobat."
Dan inilah sesuai dengan dan karena itulah mengatakan, "Ag pentutm."
Lalu bertobat, penuntut ilmu, loh, bukan ahli maksiat, bukan orang yang mengerjakan berbagai macam kemungkaran dan dosa.
Ini buku untuk penuntut ilmu.
"Dawamu Taubah."
Penuntut ilmu, kalau mau berhasil, harus senantiasa bertobat kepada Allah.
Bertobat kepada Allah, bertobat kepada Allah.
Dan kita ingat lagi definisi tobat, bagaimana kita harus banyak istigfar kepada Rabbal Alamin.
Dan itulah kunci para ulama kita.
Mak diriwayatkan Abu Hanifah ketika menghadapi sebuah masalah, lalu beliau kesulitan memecahkan masalah tersebut.
Apa yang beliau lakukan?
Beliau katakan, "Ini tidaklah terjadi kecuali lizan bin janaituhu."
Kata beliau, "Ini karena dosa saya."
Maka beliau istigfar, beliau ambil wudu, beliau salat, lalu minta petunjuk dan minta dibukakan oleh Allah sampai Allah kasih Fatah dan beliau bisa menyelesaikan perkara tersebut.
Itu para ulama.
Kalau itu Al Imam Abu Hanifah, satu dari empat imam mazhab.
Lalu bagaimana dengan kita?
Kita harus banyak bertobat, hadirin sekalian.
Karakter penuntut ilmu adalah senantiasa bertobat, bertobat, dan bertobat.
Dan ingat, apa sih tobat?
Istigfar dengan lisan, lalu bertekad atau meninggalkan dosa-dosa.
Terus evaluasi.
Apa dosa yang masih kita kerjakan?
Tinggalkan.
Apa yang masih tersisa?
Tinggalkan.
Apa yang mungkin baru Ana kita lengah?
Tinggalkan.
Terus demikian, k Bani Adam KH.
Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan.
Lalu annadamadamah nadam, atau penyesalan adalah inti dari pertobatan.
Kita harus menyesal atas dosa-dosa yang kita lakukan, kemungkaran yang kita kerjakan, dosa-dosa yang kita perbuat.
Dan itu kehidupan penuntut ilmu.
Jadi bayangin, hadirin sekalian, ya.
Kalau kita bisa menerapkan konsep ini, betapa indahnya dunia ilmu.
Karena masing-masing kita itu sibuk menyesali dosa-dosanya.
Bukan merasa diri suci, bukan ngeremin orang, bukan menganggap orang bodoh semua kecuali kita.
Tapi justru kita senantiasa dididik oleh para ulama untuk mengembalikan ke diri sendiri.
Bahkan itu tadi, salah satu karakter penuntut ilmu adalah senantiasa tobat.
Bidaya wa hayatu.
Dan itu praktik Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, tuntunan kita.
Sallallahu Alaihi Wasallam, kudwah kita.
Sallallahu Alaihi Wasallam, bagaimana beliau mengatakan, "Inni laatubu ilaihi f yaumi akar min sab marah."
Demi Allah, aku bertobat setiap hari di atas 70 kali.
Lihat bagaimana beliau sangat konsern terhadap dirinya.
Kalau setiap kita fokus pada diri masing-masing, lalu men-support saudaranya untuk kebaikan, jadi fokus kepada saudara secara positif, bukan secara negatif dan menjatuhkan dan sebagainya.
Betapa luar biasanya kemajuan diri kita dan perbaikan diri kita dari waktu ke waktu.
Kalau setiap kita menerapkan ini, tobat dikit-dikit, tobat dikit-dikit, tobat, berarti kan pada saat kita tobat, kita evaluasi diri kita, tinggalkan kesalahan yang ternyata saya salah selama ini.
Karena betul, mungkin kita bertobat pada saat awal hijrah kita, tapi ingatkan, ingat bahwa dulu pada saat ilmu kita enggak seperti sekarang.
Dan kesadaran kita terhadap kesalahan itu bergantung dengan ilmu kita.
Ketika kita enggak tahu ilmunya, kita enggak sadar bahwa itu salah.
Kapan kita tahu itu salah?
Pada saat kita tahu ilmunya.
Dan ilmu kita pada saat tobat pertama kali itu jauh di bawah ilmu kita pada hari ini.
Dulu kita enggak, enggak apa, bacaan kita belum sebanyak sekarang.
Lalu buku yang kita baca belum sebanyak kajian yang kita ikuti, belum sebanyak sekarang.
Maka sangat terbuka kemungkinan, bah, ada dosa-dosa yang dulu waktu kita tobat langsung sambil nangis-nangis, itu kita pada saat itu berpikir sebagian dosa-dosa itu bukan dosa.
Dan sekarang kita baru, "Wih, ternyata itu dosa."
Ya, maka tobat harus setiap saat.
Karena sekali lagi, salah satu alasannya di antaranya tadi, ada banyak alasan sebenarnya.
Di antaranya alasannya karena kita pasti buat kesalahan lagi, kesalahan lagi, kesalahan lagi, kesalahan lagi.
Dan yang kedua, tadi, ilmu kita terus berkembang.
Dan perkembangan ilmu kita akan mempengaruhi kesadaran kita terhadap performa kita sebelumnya.
Ketika kita, contoh simpel, ketika kita enggak pernah belajar bab wudu, kita enggak akan sadar kesalahan beberapa kesalahan dalam wudu kita.
Baru setelah kita belajar bab wudu secara khatam, "Oh, ternyata wudu saya salah."
Maka kita bertobat, beristigfar kepada Allah subhanahu wa taala.
Lalu masuk dari bab wudu, masuk bab salat.
Ketika kita enggak pernah belajar bab salat, kita berpikir salat kita baik-baik aja.
Salat saya fine-fine aja.
Kenapa?
Karena enggak pernah belajar bab itu.
Lalu ketika kita belajar bab salat, ternyata ada yang salah di sini, ada salah di situ.
Maka kita beristigfar dan bertobat kepada Allah subhanahu wa taala.
Kita enggak pernah belajar eh apa pembahasan tentang tauhid.
Kita pikir tauhid kita paling tinggi, sudah sempurna, segala macam.
Begitu belajar kitab tauhid atau belajar ilmu tentang akidah, "Oh, ternyata ini enggak boleh."
Ternyata enggak boleh mengatakan, "E Masyaallah, wasan terserah ini terserah Allah."
Lalu Anda e, ini terserah Allah, dan Anda enggak boleh bilang, dan Anda kita harus mengatakan, "Lalu tmma."
Lalu enggak boleh disejajarkan, dan itu bagian dari syirik kecil.
Ternyata saya melakukan syirik kecil, astagfirullah, ubu ilaih, dan tobat-tobatan nasuh.
Dan begitulah kehidupan, dan begitulah kehidupan penuntut ilmu.
Maka kita tetap, kita harus jadi life learner, terus menjadi pembelajar sejati.
Kenapa?
Karena begitulah manusia itu berkembang.
Enggak bisa sekaligus jumumlatan, kata para ulama.
Barang siapa yang mengambil ilmu sekaligus, maka akan hilang sekaligus.
Tapi ilmu diambil dengan berjalannya siang dan malam.
Pertahanan e sedikit-sedikit, sedikit-sedikit, lalu menjadi bukit.
Selalu demikian.
Dan itu menunjukkan bahwa kesadaran kita terhadap kesalahan kita pun akan berkembang terus.
Akan berkembang sebagaimana berkembangnya ilmu kita.
Sebagaimana ketika ilmu kita stuck, maka kesadaran kita terhadap kesalahan kita pun stuck.
Makanya kan ketika kita berhenti belajar, di situlah malah pangka terjadi.
Karena kita tidak akan mengevaluasi diri kita, enggak akan mengaudit diri kita.
Ada atau kalaupun kita mengevaluasi diri dan mengaudit diri kita, ilmu atau perangkat yang kita gunakan berhenti.
Karena kita belajarnya berhenti, maka otomatis tools-nya enggak nambah.
Begitu perangkatnya enggak nambah, maka otomatis kita tidak akan berkembang.
Dan beberapa kesalahan kita tidak akan tersingkap.
Karena sekali lagi, kesalahan-kesalahan kita akan tersingkap, itu sangat dipengaruhi oleh seberapa dalam ilmu kita.
Maka di sinilah pentingnya tobat-tobatan nasuh setiap saat.
Karena setiap saat kita belajar, setiap saat ilmu kita bertambah, dan setiap saat pasti ada kesalahan masa lalu maupun sekarang yang baru tersingkap.
Walaupun mungkin kita pertama kali hijrah 10 tahun yang lalu, tapi ternyata kita baru sadar kesalahan kita yang 20 tahun lalu pada hari ini.
Kenapa?
Masuk babnya hari ini, gitu.
Saya, saya salah.
Ada banyak orang tua sadar atau menyadari dia salah didik anaknya di usia 1, 2, 3 tahun pada hari ini, yang pada hari ini cucunya sudah 15.
Gitu.
Jadi bukan anaknya lagi, cucunya 15, sudah masuk ke end 3, dan dia baru sadar sekarang, "Wah, dia salah didik."
Kenapa?
Dia baru sadar sekarang, dia baru belajar sekarang.
Maka dia tobat-tobatan nasuha.
Betul, dia sudah hijrah, dia sudah tobat dari 10 tahun yang lalu, tapi waktu dia tobat 10 tahun lalu, dia enggak pernah kepikiran bahwa cara didik saya ke anak-anak di 0 sampai 5 tahun itu salah.
Dipikir itu baik-baik aja, kenapa?
Karena pada saat awal dia hijrah, dia belum belajar.
Ini bisa dimengerti, enggak, hadirin?
Ini menunjukkan bahwa dawamu taubah, senantiasa bertobat kepada Allah subhanahu wa taala.
Itu bukan sekedar retorika, itu real setiap saat.
Selama kita terus belajar, itu akan tersingkap, tersingkap, tersingkap.
Ternyata Anda salah di sini, ternyata Anda salah di sini, ternyata Anda salah di sini, ternyata Anda salah di sini.
Itu yang dulu.
Belum lagi kesalahan kita yang sekarang.
Oke, kita ikut kajian, tapi siapa yang jamin pemahaman kita sesuai yang diinginkan oleh guru-guru kita?
Atau sesuai yang diinginkan oleh Pak di kitabnya?
Berapa persen yang bisa cross-check ke gurunya?
Misalnya, Ustaz tadi, Ustaz mengatakan begini, begini, begini, ya benar enggak?
Peman saya bahwa kesimpulannya bla bla bla bla bla bla sampai sini salah.
Oh, salah.
Jadi yang benar gimana?
Paling benar, oh ternyata itu maksudnya.
Iya, berapa persen yang bisa crosek begitu, hadirin?
Sebagaimana dulu kita belajar fisika, padahal depan gurunya, depan mata kita, salah tuh ngerjain ujian.
Berapa banyak pengalaman kita belajar biologi, gurunya depan mata kita datang terus setiap saat salah kita.
Begitu juga dengan ini.
Jadi ada banyak hal yang harus terus dievaluasi.
Dan itu menunjukkan perintah untuk senantiasa bertobat, perintah yang sangat logis.
Sangat real, karena kita banyak kesalahan.
Lalu yang kedua, kalaupun kita mengerjakan ibadah, ibadah kita enggak sempurna.
Banyak masalah, banyak masalah tentang kekhusyukan, tentang amalan hati, tentang keikhlasan, dan seterusnya.
Dan itu fatal.
Terus, apakah dan yang perlu kita pikirkan juga, sudah selaraskah antara ilmu dan amal kita?
Sudah selaraskah antara ilmu dan amal kita?
Atau justru sebaliknya, semakin ngaji, semakin gap itu semakin besar antara ilmu dan amal kita?
Bisa jawab, hadirin Allah muliakan?
Nah, enggak ada perasaan bersalahkah dalam hati ini?
Kalau enggak ada perasaan bersalah, sekeras itukah hati kita?
Dan kalau sekeras itu hati kita, pantaskah kita dinamakan penuntut ilmu?
Padahal kita tahu ciri-ciri penuntut ilmu adalah hati-hatinya itu lembut.
Hati-hatinya itu mudah tersentuh dan mudah mengakui kesalahan diri.
Dan lagi-lagi, mudah bertobat.
Karena udwah hasanahnya Sallallahu Alaihi Wasallam itu bertobat lebih dari 70 kali, bahkan 100 kali dalam riwayat.
Ini yang perlu kita inikan.
Bayangkan kalau kita punya pola seperti ini, betapa fokusnya kita ke diri kita sendiri.
Dan betapa fokusnya kita dalam memperbaiki diri sendiri.
Betapa fokusnya kita dalam mengaudit kesalahan kita sendiri.
Dan betapa fokusnya kita dalam memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut.
Dan hasilnya luar biasa.
Karena banyak orang kajian hijrah setelah 5 tahun, 10 tahun merasa enggak ada kemajuan sama sekali.
Dan itu bukan perasaan, itu real.
Dan jawabannya karena lupa tobat kepada Allah subhanahu wa taala.
Karena tobat bukan lisan, hadirin.
Begitu kita bertobat, itu semua sistem Tuh aktif dan berjalan.
Itu tadi, sistem audit, audit diri sendiri, itu berjalan.
Dengan diaudit, kita jadi tahu kesalahan kita.
Dengan diaudit, kita bisa tinggalkan kesalahan kita tersebut.
Dengan diaudit, kita bisa perbaiki kesalahan itu.
Dengan kita tinggalkan dan kita perbaiki, kita menjadi lebih baik lagi.
Itu trickle down effect-nya ke mana-mana, dampaknya itu ke mana-mana.
Dan sebaliknya, begitu kita lupa tobat, mati semuanya.
Dan begitu mati, staknan.
Dan begitu staknan, aduh, ke mana-mana kita digerogoti dosa-dosa kita sendiri.
Kan dosa itu kan ngerusak.
Lalu yang kedua, kita merasa suci.
Kita merasa selalu jadi apa, seseorang yang sempurna.
Karena kita enggak pernah evaluasi diri.
Dan itu membuat kita ujub.
Nanti habis ujub, kita sombong.
Dan akhirnya hijrah atau kajian kita hanya membuat kita masuk neraka.
Allah subhanahu wa taala, nauzubillah, nauzubillah.
Ini menjadi poin.
Jadi sekali lagi, jemaah yang Allah muliakan, ini yang harus kita tanamkan.
Makanya da tobah, tobat harus terus diulang, terus diulang.
Perbanyak istigfar, perbanyak istigfar, perbanyak istigfar kepada Rabbal Alamin.
Karena dosa-dosa kita sangat banyak, jemaah.
Dan berhijrahnya kita bukan berarti kita berhenti dari dosa.
Baik dosa yang sebelumnya maupun dosa baru yang terjadi.
Coba renungkan ya.
Ee, sekali lagi, mungkin apa?
Dulu waktu kita belum ber-hijrah, misalnya dosa kita, sebagian orang tuh dosanya zina, dosanya minum khamar, dosanya judi, dosanya segala macam.
Tapi dan dia enggak kepikiran, "Ri, karena dia tahu memang saya enggak ibadah."
Gimana, Ri, gitu loh, saya enggak ibadah.
Dan seterusnya, atau misalnya, saya tap.
Begitu dia hijrah, baru muncul itu potensi dosa yang bernama riya.
Karena dulu dia tahu, "Ya, gua salat, tapi apa yang mau dibanggain dari salat gua? Aku ini, saya."
Begitu, apa potensi-potensi itu?
Atau misalnya, dulu dia enggak pernah pun, dia enggak punya ter, dia enggak pernah terbesit riya ketika baca Quran.
Karena begitu dia baca Quran, orang-orang tutup kuping, hadirin, jelek banget bacaannya.
Tapi begitu dia belajar selama 4 tahun, fokus talaki, hadirin, orang dengar kayak Imam Masjidil Haram.
Lalu apakah itu enggak menyerang keikhlasan?
Apakah sekali lagi kondisi dia dalam menjaga keikhlasan sama ketika orang tutup kuping ketika membaca mendengar bacaannya kan berbeda.
Artinya poin yang ingin saya sampaikan apa?
Setelah kita hijrah, jangan lupa loh ada beberapa potensi-potensi dosa besar yang dulu enggak kepikiran, sekarang muncul.
Itu poin.
Dulu enggak pernah kepikiran, jadi jangan berpikir bahwa ketika kita hijrah, kita belajar, otomatis potensi dosa itu akan hilang.
Tidak.
Potensi dosa itu bisa jadi lahir yang dulu enggak pernah kita pikirkan.
Oleh karena itu, hendaknya kita bertakwa kepada Allah subhanahu wa taala.
Kata Stibi, "Apa hubuh cinta popularitas adalah sifat buruk yang paling terakhir keluar dari diri orang Saleh."
Itu mengerikan.
Jangan pernah merasa aman.
Dan caranya gimana?
Perbanyak tobat, tobat, tobat.
Anas Sua, minta sama Allah subhanahu wa taala agar Allah ampuni dosa kita, jangan azab kita, dan seterusnya.
Dan apa ee berusaha tinggalkan, lalu menyesal.
Kok jatwal lagi, kok jatwal lagi, kok jatwal lagi.
Ini adalah pola penuntut ilmu yang harus menjadi bagian dari hidupnya.
Sebagaimana yang tidak bat di mana pun dia berada, tobat harus ada di mana pun dia pergi.
Tobat harus ikut.
Dia ketemu istrinya, tobat harus ada.
Dia ketemu anak-anak, tobat harus ada.
Dia ketemu mertua, tobat harus ada.
Dia ketemu orang tua, tobat harus ada.
Hadirin sekalian, beda loh kita.
Kalau berhadapan dengan orang dalam kondisi merasa bersalah, kita enggak akan ngotot.
Dan kita lebih mudah dalam menahan emosi.
Iya enggak sih?
Kalau sekali lagi, ketika kita tahu kita punya andil salah dalam kasus ini, kapan kita ngotot sih, jemaah?
Kapan kita benar-benar, apa namanya, suara tinggi, keras-kerasan, segala macam, ketika kita merasa ini bukan salah aku, ini bukan salah saya, ini salah Anda.
Tapi kalau kita tahu, "Oke, dia salah, tapi saya juga salah," atau bisa jadi bagian kesalahan saya lebih besar daripada dia, itu kita akan lebih tenang, akan lebih kalem, lebih oke-oke.
Ya, oke, kita cari solusi.
Itu apa?
Pematik agar kita punya perasaan itu tobat, hadirin.
Karena dengan tobat, kita merasa salah.
Orang kalau enggak merasa salah, enggak akan tobat.
Karena inti tobat tadi apa?
Tobat intinya adalah meninggalkan dosa, menyesali, dan bertekad enggak mau ngulangi lagi.
Merasa bersalah itu tobat.
Jadi ini sangat efektif dalam menyelesaikan banyak masalah rumah tangga, menyelesaikan konflik dengan istri, konflik dengan suami, konflik dengan anak-anak.
Hanya membuat yang membuat konflik itu deadlock.
Bukan besar atau kecilnya masalah, tapi seringkali ketika dua-duanya ngotot, merasa benar.
Dua-duanya merasa benar, enggak, akhirnya deadlock.
Masalah sebesar apapun, kalau diselesaikan, kalau orang punya niat baik dan mau tawadu, dan semua mengembalikan ke dirinya masing-masing, insyaallah clear.
Apa kata Allah tentang masalah konflik dalam surat An-Nisa 35?
Kata Allah, "Kalau dua pihak dengan niat ikhlas ingin islah, Allah akan kasih taufik untuk Islam."
Jadi deadlock itu bukan berkaitan dengan pelik atau tidaknya konflik.
Dead itu mentok, kartu mati itu atau jalan buntu itu tidak ada niat.
Itu poinnya, bukan pelik masalah.
Sekecil apapun, kalau dua pihak atau salah pihak enggak ada niat menyelesaikan, enggak akan selesai.
Masalah sepelik apapun, kalau dua-duanya niat menyelesaikan, dan salah satunya adalah dua-duanya bertobat.
Lalu ketika D bertbat, dua-duanya merasa bersalah.
Ketika dua-dua merasa bersalah, dua-duanya enggak ngotot, nyerang yang lain, dan lebih mengembalikan pada dirinya sendiri, lalu cari jalan tengah, selesai masalah.
Hadirin, ini konsep ini luar biasa.
Dan dampaknya ke mana-mana.
Ini bukan sebuah ibadah independen yang harus dikerjakan di planet tertentu dan enggak ada kaitannya dengan kehidupan keseharian kita.
Tidak.
Ini ibadah masuk dan meresap ke seluruh dimensi kehidupan kita.
Cuman kita enggak amalkan, atau ada yang mengamalkan baru dengan lisan dan enggak sadar.
Bagaimana dampak besarnya dalam kehidupannya?
Ini luar biasa, jemaah.
Sangat luar biasa.
Kalau kita menerapkan pertobatan sebagai bagian dari gaya hidup kita dan pola hidup kita.
Kalau penuntut ilmu lifestyle-nya salah satunya adalah tobat, itu luar biasa.
Itu luar biasa.
Dan dampaknya ke mana-mana.
Dan itu beberapa contoh yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini.
Jadi ini menunjukkan betapa Maha berilmunya Rabb kita subhanahu wa taala yang memberikan K.
Dan lalu berikutnya, lihat bagaimana hebatnya para ulama kita dalam mengikuti Al-Qur'an dan sunnah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, lalu mendidik umat, gitu loh.
Dan dari sini juga kita tahu betapa rentan dan ringkihnya kita.
Dan betapa rentan konfliknya kita kalau kita tidak mengamalkan konsep ini.
Ka, itu tadi.
Kalau begitu orang sudah lupa bertobat, maka dia akan merasa diri paling sempurna, paling hebat, paling jago, seterusnya.
Kalau satu orang, satu orang merasa gitu, sudah nyebelin.
Kalau dua orang, lalu dua orang itu konflik, enggak selesai-selesai, hadirin, akan berkepanjangan.
Jadi ini yang perlu kita tanamkan bersama-sama.
Waktu sudah habis, dan semoga kita bisa lanjutkan di pertemuan yang akan datang, bnillahi taala.
Dan bertobatlah kepada Allah kita semua, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.
Subhanakahill an, alhamdulillah, wa barakatuh.
[Musik]
[Musik]
[Musik]
Lembaran yang tak nampak nilainya, potongan yang tak terbesit manfaatnya, diolah dipadukan dengan penuh asa dan pengorbanan.
Hal-hal kecil menjadi kian bermakna, kian berharga, penuh peluang amal selanjutnya.
Inilah karya besar yang kita ikhtiarkan bersama, sebuah dedikasi untuk para pembawa lentera ilmu.
Semoga dijadikan olehnya satu amalan yang menuai limpahan maslahat.
[Musik]
[Musik]