Transcription
[Musik] [Musik] Sekarang, baterai di posisi berapa? Oke, sekarang mobil gua, baterainya ada di posisi 78%. Terus, gua sekarang pengen coba untuk nge-charge mobilnya. Yuk!
Dua tahun lalu, Aditya Mahaputra memutuskan beralih ke kendaraan listrik. Mobil berjenis sport utility vehicle atau SUV ini ia beli dengan harga sekitar Rp 800 juta. Jadi, ini dapat dari bawaannya Hyundai. Eh, emang untuk home charging lah, gitu. Ini gampang banget, tinggal kita colokin ke [Musik] sini. Jika dibandingkan dengan rata-rata SUV sejenis berbahan bakar fosil, harga mobil Aditya ini bisa lebih tinggi hingga dua kali lipatnya. [Musik] [Musik]
Meski membeli dengan harga yang lebih mahal, namun kendaraan ini dilengkapi dengan fitur berteknologi serba digital. Drive mode, ini dia ada, ada pilihannya. Misalnya, ini yang Eko. Jadi, Eko dia bisa lebih rendah. Kalau ini normal, kalau ini yang ini Sport, jadi tarikannya lebih kencang, Mas. Merah di warna merah. Heeh, jadi dia lebih gitu, lebih, lebih smooth gitu, lebih enak banget.
Selain itu, Aditya mampu memangkas biaya operasional hingga 80% untuk mobilitas sehari-hari. Angka itu dihitung dari pembelian token listrik sebesar Rp 500.000 per bulan. Kalau gua boleh compare aja ya. Misalnya, kalau di mobil gua yang lama, ee dengan mobil, dengan mobil, mobil listrik yang gua pakai, mungkin kayak dengan bahan baku ya, dengan, sorry, dengan bahan bakar yang sama, mungkin kayak kalau mobil gue yang lama tuh sebulan itu bisa kayak Rp 2 juta sampai Rp 2 jutaan lah ya, mungkin ya, Rp 2 juta, Rp 3 juta lah, eh Rp 2 juta lah mungkin. Kalau ini tuh gua cuma Rp 500.000.
Agar kendaraan listriknya bisa melaju, dibutuhkan teknologi penyimpanan energi listrik yang biasa disebut baterai. Di dalamnya terkandung berbagai material, di antaranya adalah [Musik] nikel. Dengan tidak lagi menggunakan bahan bakar fosil, maka mobil listrik dipercaya sebagai kendaraan ramah lingkungan, sebab tidak menghasilkan emisi gas buang yang menyumbang percepatan krisis iklim. Narasi itulah yang kemudian membuat pemerintah memberikan kemudahan bagi pemilik kendaraan listrik di Indonesia. Dukungan dari pemerintah juga menurut gua bareng gitu, masif banget gitu, kayak ada subsidi-subsidi, kemudian juga kayak ee apa namanya, dibebaskan ganjil genap, pajaknya murah sekali, dan lain sebagainya. Terus, itu yang akhirnya gitu ya, akhirnya mendorong gua untuk semakin yakin bahwa, Oh I deh, kayaknya ini udah waktunya. Gua perlu pakai mobil listrik gitu. Kalau di, di compare sama mobil yang cc-nya setara dengan mobil gue yang ini, gua dengar-dengar tuh harusnya di atas mungkin Rp 8 sampai Rp 10 jutaan gitu ya, sementara gua bayar ini pajaknya cuma Rp 1,3 juta. Jauh, jauh banget.
Kemudahan Aditya dengan mobil listriknya hanyalah satu contoh dari pengguna kendaraan serupa lainnya di [Musik] Indonesia. Kemudahan juga diberikan pemerintah bagi seluruh tipe dan pabrikan kendaraan listrik yang beroperasi di… Kemudahan itu yang disampaikan pemerintah salah satunya adalah dengan penggunaan kendaraan listrik guna mempercepat laju transisi energi. Kita ingin segera melakukan transisi besar-besaran dari mobil yang menggunakan bahan bakar fosil ke mobil listrik yang ramah lingkungan. Namun, di balik kemudahan pengguna mobil listrik, ada cerita berbeda dari warga yang hidup di atas tanah mengandung nikel. Cerita yang selama ini tidak pernah dinarasikan oleh pemerintah kepada masyarakat. Allahu [Musik] Akbar.
"Nama saya Anwar, Desa Sukarela Jaya. Kegiatan sehari-harinya saya berkebun, biasa juga di laut waktu musim jambu begini. Kita naik menyemprot satu minggu satu kali."
Anwar adalah masyarakat Wawoni yang mengandalkan hidup dari hasil alam, di antaranya adalah cengkeh dan jambu mete. Namun, produktivitas tanaman miliknya menurun sejak tahun 2017, ketika PT Gema Kreasi Perdana, sebuah perusahaan tambang yang memiliki izin pinjam penggunaan kawasan hutan atau IPPKH seluas sekitar 700 hektar, beroperasi di Wawoni. "Ini tapi kalau kayak gini masih bisa berbuah enggak, Pak? Ya kalau begini gak bisa berbuah lagi. Ada berapa banyak tanaman yang kena ini, Pak? Ya di sini di kebun Bap ini kan cengkeh, jambu mete, dua macam di sini. Iya, kalau panen berarti gimana hasilnya sekarang? Kalau sekarang ini kurang. Kalau tahun lalu cuma 300 kilo. Iya, sebelumnya ini ada tambang, kita dapat sampai 4 ton." "Yang mana jalur haulingnya, Pak? Yang ini." [Musik]
Pak, tanaman di lahan seluas 2 hektar miliknya terdampak. Lokasinya bersebelahan dengan jalur angkut alat berat tambang atau jalur hauling PT GKP. Jika dikonversi menjadi rupiah, penurunan hasil panen jambu mete sebanyak 3,7 ton itu setara dengan Rp 55 juta. Jumlah itu dihitung dari rata-rata nilai jual komoditas sebesar Rp 15.000 per kg. [Musik] "Kalau posisi lingkungan ya sebenarnya buruk, iya. Kenapa saya katakan buruk? Sekarang ini saja bunga-bunga jambu itu sudah dengan debu ya. Sekarang ini malahan kalau kita menot [Musik] malah… bagus tahun lalu ya, tinggal hanya tahun ini juga entah kita tidak tahu, entah jadi entah tidak juga kita tidak tahu." [Musik] [Musik]
Juga, tak hanya Anwar, warga lain juga kehilangan pendapatan akibat penyerobotan lahan yang dilakukan oleh [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] perusahaan. "Tidak tahu waktu kejadian itu jam 10 malam, baru ada telepon dari Kendari bahwa kebun Lamirin sudah tergusur sekitar jam… tadi sore toh kejadian waktu itu. Saya dengar itu, panggil teman-teman ada 16 orang, ke-17 orang itu kita na… jam 12 malam itu set.3 sudah sampai di kebun, di kebun itu sampai di situ tidak tidur sampai menunggu-menunggu sampai pagi. Ini memang sampai-sampai di situ memang sudah tergusur."
Penyerobotan tanah tak hanya dialami oleh [Tepuk tangan] Lamirin. "17 pohon saya punya, ipar 36 pohon. Sementara satu pohon 30 kilo dikena satu pohon. Sementara umurnya cengkeh 23 tahun. Nah sekarang kan 1 kilo [Musik] Rp 32.000." Jika dikonversi dengan perkiraan satu pohon menghasilkan 30 kg cengkeh dan harga jual Rp 32.000 per kg, maka Lamirin mengalami kerugian antara… juta dan Widti sekitar Rp [Musik] juta.
Ancaman kerugian ekonomi seperti ini juga menghantui 34.000 jiwa masyarakat Pulau Wawoni yang bergantung pada hasil [Musik] alam. Hal yang sama juga dialami petani di Desa Sagea, Kecamatan Weda Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku [Musik] [Tepuk tangan] Utara.
"25 tahun sudah Mahmud Ali membuka kebun untuk menghidupi keluarganya. Mahmud menanam pala sebagai tanaman utama di kebun miliknya. Bahkan, dua dari empat anaknya meraih gelar sarjana bermodal hasil tanaman pala. Saya kawin di sini, kawin di tahun… tahun 96, bongkar kebun ini dari awal ke sini. Saya tujuan ini kan buat ini, buat hidup saya."
Namun, belakangan aktivitas industri nikel di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park atau IWIP mengubah hidupnya. Sebuah kawasan pengolahan hasil tambang nikel yang biasa disebut smelter berlokasi tak jauh dari kebun. Seiring aktivitas pertambangan, sejumlah pohon pala di kebunnya membusuk secara tiba-tiba. "Kenapa dia mati awalnya tuh? Hah, itu daunnya, ini daun, batang itu… batang hancur. Batang bukan hancur batangnya, sampai batangnya saja. Tapi ini bagaimana mati? Karena debu itu. Heeh, debu asap itu."
Di tengah kerusakan tanaman miliknya, Mahmud sempat ditawari untuk menjual tanahnya kepada perusahaan, namun ia menolak. "Kalau Bapak mau Rp 7 miliar, ambil semua. Dan tanya dia pun sertifikat saya, bilang tanah ini dia 2 hektar setengah begitu. Jadi kalau mau bayar nanti saya tanya di siapa dulu. Di atas kebetulan waktu itu saya tanya dia, dia masih kuliah. Saya tanya dia bilang, ‘Papa jangan jual lahan itu, jangan jual itu. Kalau Papa jual itu menyasalkah saya seumur hidup.’"
Pihak yang akan membeli tanah milik Pak Mahmud adalah PT First Pacific Mining. Rencana pembelian ini diduga terkait dengan aktivitas pembukaan lahan tambang di kawasan Sagea. Hal itu seiring dengan kebijakan pemerintah yang mendorong program industrialisasi nikel nasional. "Tapi yang, yang celakanya situasi di lapangannya kan justru berkebalikan begitu. Jadi warga yang menanggung seluruh deritanya, kemudian lingkungan kita juga rusak begitu. Dan saya kira tambang nikel ini kemudian jadi ee apa namanya, tiba waktunya, kemudian akan… akan selesai begitu ya, seiring dengan habisnya bahan-bahan, bahan baku nikel itu sendiri."
Saat ini, deposit nikel dunia diperkirakan mencapai 72 juta ton. Indonesia memiliki kandungan nikel lebih dari 50%-nya, disusul Australia dan Rusia sebagai tiga negara pemilik cadangan nikel terbesar dunia. Cadangan nikel sebanyak itu yang kemudian coba dimaksimalisasi oleh rezim Joko Widodo. "Kita akan… ingin membangun ekosistem besar, to end, dari hulu sampai hilir untuk mobil listrik. Mulai dari penambangan nikel, kemudian ee smelternya, refinerynya, kemudian pembangunan industri dan prekursornya, kemudian masuk ke lithium baterai, ee EV baterainya, baterai listriknya, kemudian mobilnya." Yang punya nikel itu tidak hanya Indonesia gitu ya, tapi negara-negara lain juga punya nikel. Hanya model pengelolaannya yang tidak serakah Indonesia, tidak serakah dengan elit politik yang ada di Indonesia yang dengan mudah memberikan izin-izin kepada para pelaku [Musik] industri. [Musik]
Pada akhirnya, kemudahan yang diberikan pemerintah membuka jalan bagi pertambangan nikel untuk masuk hingga ke wilayah Timur Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, hingga akhir tahun 2023, lebih dari 300 izin usaha diberikan dengan luas wilayah area konsesi mencapai 3,95 juta hektar atau setara dengan hampir 60 kali lipat luas Kota Jakarta. "Jadi ini kita ngelola negara ini eh rada ugal-ugalan gitu. Jadi itu gimik saja, itu alasan saja untuk memberikan berbagai fasilitas kepada ee eh pabrik pengolahan nikel atau smelter yang sebagian besar berasal dari Negeri Tiongkok."
Selain pertambangan, Jokowi juga mendorong hilirisasi industri nikel. Pembangunan smelter dilakukan guna mengolah biji nikel menjadi produk akhir yang memiliki nilai tambah, termasuk untuk pembuatan baterai kendaraan listrik. Namun, ada harga yang harus dibayar mahal oleh warga dari ambisi hilirisasi nikel, yaitu mereka yang hidup di sekitar kawasan. Segala dampak lingkungan yang [Musik] terjadi…
"Ini adalah kawasan wisata Bokikokasi di Desa… Desa… Kecamatan Weda Utara. Tentunya Sungai Sagea ini memberikan dampak positif yang cukup signifikan di kalangan masyarakat. Mufti Ahmad berinisiatif bersama warga lainnya untuk mengelola kawasan ini. Aktivitas wisata di desa ini ikut merangsang pertumbuhan ekonomi warga. Dalam hitungan hari ada pendapatan, nah kadang dia bervariasi pendapatan ini dia tidak sama dalam sehari, nah tapi kalau hari-hari weekend seperti hari Minggu, nah itu pengunjungnya itu membludak, bahkan hitungannya itu bisa capai di angka 1000." Husda Abjan salah satunya yang sudah hampir 2 tahun belakangan membuka warung di area ini. "Kalau ramai sekitar dua juta lebih, dua juta lebih. Kalau sepi ya Rp 1 juta juga masih… ini." Mayoritas pengunjung adalah mereka yang bekerja di industri tambang nikel dan [Musik] pengolahannya. Namun, di balik ramainya pengunjung, ada ancaman di [Musik] baliknya. [Musik]
Mengeruhnya air di kawasan Sungai Sagea diduga berasal dari perusahaan tambang yang berada di kawasan hulu. "Nah jadi kalau kita mau tarik secara sejarah bahwa sungai Sagea ini ketika keruh itu mungkin cuaca hujan, tapi saat ini kalau mau dilihat kadang musim kemarau, musim… musim panas seperti ini, tapi air bisa keruh. Nah ini juga timbul satu pertanyaan. Nah maka awal-awal tadi saya sampaikan bahwa ini ada dugaan, dugaan eh eksploitasi di belakang Bokikokasi. Dalam hal ini pihak investor [Musik] pertambangan." [Musik] Setidaknya ada… izin usaha pertambangan atau IUP yang wilayah konsesinya masuk daerah aliran sungai Sagea. Totalnya mencapai lebih dari 11.000 hektar atau hampir 2/3 dari luas daerah aliran sungai Sagea. Ter… aliran sungai [Musik] Sagea. Saat ini, pertambangan-pertambangan yang ada di Halmahera Tengah telah memberi dampak buruk terhadap ekosistem. Kita telah memberi dampak buruk terhadap sungai-sungai kita. Sungai-sungai yang selama ini menjadi identitas kita. Sungai-sungai yang selama ini menyejarah di dalam diri kita sebagai orang Halmahera Tengah. Selama ini, dampak kerusakan lingkungan yang terjadi tidak ada sedikit pun kompensasi atau ganti rugi dari perusahaan. Apalagi subsidi atau insentif yang diberikan kepada warga sebagaimana yang diberikan pemerintah kepada industri nikel dan pengguna kendaraan listrik. "Bisa dibilang sungai ini… ini paling berperan vital terhadap kehidupan orang Sagea dari dulu-dulu, sebelum kami, dari leluhur kami sampai sekarang. Mungkin saat ini pemanfaatannya banyak sekali. Kenapa Kampung Sagea ini ada di… di pinggir sungai Sagea ini ya? Karena itu, karena e… orang memandang sungai ini sebagai sumber kehidupan. Air di mana-mana, sumber kehidupan kan air [Musik] toh."
Tak hanya warga Sagea, eksplorasi tambang juga berdampak pada masyarakat adat Ohang Sanyawa. Upaya yang bisa mereka lakukan hanya mengadang alat berat masuk ke pedalaman hutan Halmahera tempat mereka hidup. Novenia Ambuea, warga Minam Wasile Selatan, Halmahera Timur, adalah salah satu perempuan yang masih memiliki kekerabatan dengan Ohang Sanyawa. Sudah beberapa tahun belakangan Novenia ikut dalam aktivitas perlindungan Ohang Sanyawa dari ancaman tambang. "Ini memang sangat berdampak buruk untuk Ohang Sanyawa, di mana mereka kehilangan wilayah jelajah mereka, wilayah di mana mereka tempat berburu, meramu. Dan itu ee kalau mau dilihat dari video itu, mereka memberikan sinyal-sinyal, memang tanda bahwa ini wilayah hutan kami, ini wilayah di mana kami… kami hidup, kami berburu di sini, kami meramu di sini. Jadi tolonglah stop, jangan lagi masuk ke wilayah ini, karena tinggal wilayah itu yang… yang saat ini yang mereka bisa… bisa hidup untuk bisa ee apa namanya, bisa berburu di wilayah itu. Karena wilayah-wilayah yang lain itu sudah tidak bisa [Musik] lagi akibat aktivitas tambang dan industri nikel."
Tutupan hutan di wilayah Maluku Utara berkurang lebih dari 270.000 hektar sejak tahun 2001 hingga [Musik] 2022. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Musik] Hilangnya hutan di sebagian Halmahera adalah konsekuensi dari aktivitas pertambangan. Sementara deforestasi tidak hanya terjadi di Halmahera. Dalam 20 tahun terakhir, setidaknya 300.000 hektar lebih hutan berubah menjadi wilayah konsesi nikel. Luas ini setara dengan 5 kali luas Provinsi DKI Jakarta. "Kemudian kekhawatiran berikutnya dibukanya hutan itu yang… antara pertambangan mineral ini dengan deforestasi yang sebenarnya kontradiktif dengan ee target pengurangan emisi dalam konteks transisi energi begitu ya. Ee hutan kalau dibuka ya kita bicara daya dukung yang akan berkurang. Entah untuk fungsi penyimpanan air atau kemudian untuk fungsi keanekaragaman hayati. Belum kita bicara manusia atau masyarakat yang bergantung kepadanya."
Kendaraan listrik yang hari ini Anda gunakan di jalan-jalan, harus Anda ingat bahwa ada darah rakyat di baliknya. Ada tanah warga yang dicaplok, ada warga yang dipenjara, ada wilayah tangkap nelayan yang dirusak. Di balik kendaraan listrik yang dibangga-banggakan oleh publik Jakarta, publik Surabaya, publik Bandung, Jogja, dan segala macamnya, di tengah dampak lingkungan yang dirasakan warga, pemerintah justru memberikan berbagai insentif dan subsidi. Hal itu dilakukan guna menyerap hilirisasi industri nikel. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] nikel. "Tinggal 13 tahun, tapi dihujani fasilitas, bebas pajak sampai 20 tahun. Saking mata gelapnya tuh apa saja, mau apa lagi saya kasih ini. Apun kamu kalian saya kasih…"
Jika pada tahun 2019 hanya terjual lebih dari 800 unit, jumlah penjualannya meningkat hingga nyaris 30 kali lipat di awal semester 2023. Sehingga, kalau publik menganggap bahwa saya harus membeli kendaraan listrik karena itu dianggap saya berkontribusi untuk mengatasi emisi, saya kira Anda sedang tersesat begitu ya, karena Anda menghitungnya ketika kendaraan listrik… kendaraan listrikmu operasional. Anda mesti melihat realitasnya, Anda mesti melihat seluruh rantai prosesnya yang notabene hilirisasi tadi. [Musik] Kuncinya, setidaknya ada empat konsorsium multinasional, didominasi perusahaan asal Tiongkok yang menjadi pemain besar pertambangan dan industri nikel tanah air. [Musik] [Musik] "Jadi hilirisasi Indonesia di bidang pernikelan untuk mendukung industrialisasi di China. Jadi memang diniatkan semester-semester China ini untuk menjual atau membawa hampir seluruh produknya ke China."
Pada tahun 2020, Tiongkok menjadi negara utama tujuan ekspor nikel Indonesia, disusul kemudian Jepang, Korea Selatan, Malaysia, dan Norwegia. Nah, nilai tambahnya si… siapa yang menikmati? Oke, oke. Pertama adalah pengusaha… pengusaha dapat laba ya kan, pengusaha. Hampir semua dari China ya, labanya lari ke China hampir semua. Kemudian, kedua, modalnya awal-awalnya ya tidak ada bank dari Indonesia yang membiayai proyek ini. Semua banknya dari China. Bank memberikan pinjaman ke smelter ini dan bank memperoleh bunga. Bunganya 100%, hampir 100% lah ya. Ada barangkali sedikit gitu dari bank di Indonesia. Lari ke China semua. Kemudian, teknologinya dari China. Nah, kalau teknologi kan kita bayar patennya 100% ke [Musik] China.
Pendapatan negara dari nikel meningkat pesat dalam 5 tahun terakhir, terutama dari hasil ekspor produk turunan. Bahkan, klaim dari Presiden Joko Widodo, nilai ekspor nikel mencapai lebih dari Rp 1000 triliun. Struktur atau bagian yang masuk ke Indonesia… Kalau Pak Jokowi mengatakan itu 50%-nya dinikmati oleh Indonesia, saya katakan 10%-nya lari keluar. Sehingga tidak heran kemudian ketika BPS pada ee pertengahan tahun kemarin ini ee mengeluarkan data bahwa tingkat kemiskinan di wilayah sentra nikel justru naik. Dia tidak… tidak berdampak pada kesejahteraan bagi warga yang ada di sekitar kawasan industri. Namun, di balik nilai ekspor nikel, angka kemiskinan di lima provinsi penghasil nikel justru mengalami peningkatan. Padahal tingkat pertumbuhan sektor pertambangan bergerak [Musik] naik setelah segala kemudahan yang diberikan pemerintah untuk aktivitas pertambangan. Kebijakan yang diputuskan hanya dari Jakarta dan ruang hidup masyarakat menjadi rusak. Inilah jenis nikel yang dihasilkan serta peruntukannya. [Musik] [Musik] "Jadi, hari ini secara global sebetulnya ee hanya sekitar 3% saja nikel kita itu diolah, itu disuplai untuk ee baterai kendaraan listrik begitu ya. Sebagian besar masih diperuntukkan untuk stainless steel, untuk baja tahan karat dan segala macamnya. Sehingga saya kira publik mesti paham bahwa kendaraan listrik yang hari ini Anda gunakan di jalan-jalan itu belum tentu datang dari nikel Indonesia."
Jika nikel yang dihasilkan bukan untuk transisi energi, maka untuk kepentingan siapa? Eksplorasi yang didorong pemerintah, bagian dari oligarki itu ya, bagian dari rent seeker itu. Kemudian ngurus ke pekerja-pekerjanya kan ada jasa segala macam. Nah itu ada yang anak Gubernur, ada yang macam-macam begitulah. Kalau Anda lihat komposisinya, mantan pejabat, mantan Jenderal gitu-gitu atau mantan… Tob… Toba Grup maksud saya gitu ya. Jadi kelihatan sekali kok. Ah, itulah mereka punya kepentingan yang sama dan kebetulan lebih nyaman berbisnis di Indonesia dengan cara-cara seperti itu. Karena demokrasi kita kan makin merosot. Jadi dalam hal ini ini sebetulnya pure bisnis begitu ya, dia enggak terlalu terkait dengan urusan bagaimana mengatasi krisis [Musik] iklim. "Umur berapa ini? Umurnya 30-an, 30-an." [Musik]