Transcription
Di suatu daerah bernama Endelio, hiduplah dua bersaudara yatim piatu, Sukolio Bobby dan Nombi. Karena miskin, mereka tidak punya tempat tinggal dan hidupnya selalu dihina oleh masyarakat. Untuk makan, kedua anak lelaki dan perempuan itu harus meminta belas kasihan dari orang lain.
Suatu ketika, daerah Ende terkena bencana kemarau. "Ndi, pasti ada orang banyak," [Musik] terus sambil mencari keberuntungan hidup. Tiba-tiba di perjalanan, bertemulah mereka dengan seorang janda.
"Ini ambil, makasih banyak." Janda pun kembali ke rumahnya, dan terlihat suasana Bobby dan Nobi senang dan menikmati makanan dari janda. Akan tetapi, tiba-tiba datanglah dua pemuda desa yang tamak.
[Musik] "Sekarang," [Musik] [Musik] [Musik] "Tuhan Hikmat bekerja, minta kerja!" [Tepuk tangan] "nya." [Musik]
Selama beberapa hari di balai desa, karena merasa tidak bersalah dan tidak dapat melakukan pembelaan diri, Bobby dan Nombi hanya bisa mencucurkan air mata. [Musik]
Ternyata, cucuran air mata mereka yang jatuh di tanah menumbuhkan tanaman seperti ilalang. Semua yang hadir pun heran, lalu bergegas meninggalkan bumi dan umbi. Beberapa hari kemudian, ternyata tumbuhan itu menghasilkan biji-bijian. Pemuda-pemuda pun membawa biji-bijian itu ke ketua adat. [Musik] [Musik] "Mata jadi tumbuhan," [Musik] "yang ini tua."
Adapun meminta bantuan ke Bulog untuk mengamati tanaman tersebut. [Musik] Sampai sekarang, beras dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur, dan Bulog hadir untuk menolong masyarakat lewat penyaluran beras. "Oleh ini berarti ini berat premium," mungkin.
Jadi, demikianlah persembahan drama ini. Pare cerita rakyat dari Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. [Musik]