Transcription
Loh katanya bulan Ramadan itu dibuka pintu surga, ditutup pintu neraka, dibelenggu setan-setan, kok banyak maksiat. Itu kan keadaan dunianya. Puasa lebih khusus lagi, jadi khasashul khash. Jadi di sini dalam puasanya itu sudah tidak lagi mau cari pahala, nggak ada kaitannya dengan itu. Tapi sebenarnya nar itu terjemahnya tidak neraka. Neraka itu kan bahasa Jawa. Nar itu terjemahnya itu api. Jadi kalau segala hal yang negatif sudah dibakar, sudah jadi abu, merasa dia di dalam kehidupan yang tenang, puasa, nyaman. Meskipun bekerja, dia tidak merasa kesulitan. Jadi 5 perkara yang kalau itu tetap kita lakukan, bisa membatalkan puasa dalam tanda petik, membatalkan spiritualnya puasa. Orang yang puasanya itu batal secara rohani, itu kalau dia selamat berjumpa kembali di Rumah Kajian Hakekat.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Rahayu.
Sebelumnya sudah saya sampaikan bahwa puasa Ramadan ini memiliki tujuan yaitu agar kita bisa menjadi orang yang bertakwa seperti yang disebutkan di dalam Surat Al-Baqarah ayat 183. Nah, perlu kita ketahui kalau di dalam kehidupan ini kita selalu berbuat baik, maka kan menjadi orang bertakwa itu bukan hanya sekedar berbuat baik, tapi berbuat baik itu adalah sudah menjadi syarat. Kemudian dengan kata bertakwa itu kita ada koridornya, jangan sampai kita masuk ke jalan yang penuh maksiat, jalan yang penuh ke negatifan, jalan yang penuh ke zaliman, nah ini supaya kita terhindar.
Nah oleh karena itu dalam rangkaian ayat di dalam Surat Al-Baqarah itu, rangkaianya itu dari 183, 184, 185, dan 186. Nah sebenarnya ada sampai 187, tapi itu nanti kita bahas ketika 10 hari terakhir, di bulan Ramadan itu ada menyangkut Iqtikaf, jadi itu nanti 10 hari yang terakhir.
Nah, kalau di dalam Surat Al-Baqarah ayat 185, di situ kan dikatakan barang siapa menyaksikan, jadi sahidah menyaksikan bulan itu, itu ada yang menerjemahkan barang siapa yang hadir di bulan itu, maksudnya orang itu ada di bulan Ramadan itu, maka itu langsung menjalankan puasa Ramadan.
Sebelumnya juga sudah saya beritahukan bahwa pada mulanya, bulan Ramadan itu memang pada bulan yang panas, yang terik, dan itu dulunya di jazirah Arab itu ya, kira-kira antara bulan Juli, Agustus setiap tahunnya. Malah menurut sebagian ahli, tidak setiap Juli, Agustus pas Ramadan itu ada kewajiban berpuasa, tetapi ketika kondisi full moon-nya, jadi full moon itu artinya purnamanya itu merah, jadi kan kita tahu kan ada bulan purnama merah yang disebut blood moon, ada bulan purnama itu yang disebut blue moon, nah kalau blood moon itu kenapa harus puasa supaya kita tidak mudah emosi, supaya kita bisa menahan diri.
Lalu di dalam surat Al-Baqarah ayat 186 itu, nah disitu disebutkan, disitu disebutkan barang siapa bertanya, katakan Muhammad barang siapa bertanya kepada mu tentang aku, maka Nabi diminta menjawab, inni korib, aku ini dekat, jadi sebenarnya orang yang puasa, kalau puasanya itu memang benar ya puasanya itu, itu Tuhan dan manusia yang melakukan puasa itu dekat, makanya inni korib, dan barang siapa yang berdoa, yang memohon kepada aku, disitu ayat itu menyebutkan aku akan penuhi, jadi aku akan penuhi, dapat dibayangkan kan kalau orang puasa itu sebenarnya, kalau memang benar doanya itu terkabul, makanya di ayat itu disebutkan oleh karena itu penuhi aku, nah penuhi aku itu artinya kesadaran hidup kita itu full, hanya berisi kesadaran ilahiyah, jadi disitu, jadi bukan penuhi aku itu sekedar ragawi, menjalankan perintahnya ragawi, kemudian menjauhi, larangannya ragawi, tidak lahir batin itu hanya karena Allah semata, jadi itu disebutkan di dalam surat Al-Baqarah, surat 2 ayat 186.
Kemudian ada hadis yang di riwayatkan oleh Ibn Abi Dunya dan Al-Khatib, walaupun hadis ini oleh para alim ulama dianggap lemah, hadis yang lemah, oleh para alim ulama dianggap hadis yang lemah, namun karena isinya itu baik untuk orang menjalankan puasa Ramadan, maka disitu akhirnya diterima, jadi lemah tapi kok isinya ini bagus, akhirnya diterima, disitu yang dikatakan dalam hadisnya itu, Wa huwa syahrun awwaluhu rahmah, wa awsathuhu maghfirah, nah lalu di tengahnya itu ampunan Tuhan, kemudian wa akhiruhu dan akhirnya itu dikatakan dibebaskan, Jadi ‘itqun minannar..jadi dibebaskan dari neraka, jadi ini sebenarnya hadis ini, akhirnya dipahami selama satu bulan orang itu berpuasa, dibagi tiga priode, jadi priode yang pertama itu untuk melatih diri, supaya di dalam hidupnya itu mendapatkan limpahan rahmat, di dalam hidupnya itu, rahmat itu apa sih, pikiran menjadi tenang, hidup menjadi terasa damai, kan kasih sayang, tapi kasih sayang dalam implementasinya itu adalah hal-hal yang membuat perasaan nyaman, tenang, damai, nah kalau selama sepuluh hari itu sudah terlatih di situ, berarti puasanya juga ditingkatkan lahir dan batinnya, jadi lahir dan batinnya itu ditingkatkan, jadi secara batin ya memang puasa, jadi istilahnya itu tidak punya perasaan kecewa, sakit hati, benci, dan sebagainya itu sudah tidak ada, jadi disini, kalau kita lihat, orang terus akhirnya mendapatkan ampunan, jadi itu tadi wa awsathuhu maghfirah, jadi artinya, di tengah bulan Ramadan yaitu hari ke-11 sampai hari ke-20, itu isi ampunan, ampunan itu apa, ampunan itu artinya, orang mendapatkan penutupan tentang kelemahan atau kesalahan-kesalahan, atau yang disebut dosa-dosa itu, tidak lagi bisa membawa konsekuensi hukuman karena sudah ditutupi, jadi kata magfirah itu dari kata Ghafara, Ghafara itu sebenarnya artinya itu menutupi atau melindungi sebenarnya, maka orang kita terus menerjemahkannya dengan ampunan, kemudian juga disebutkan bahwa, di dalam kehidupan yang sudah menjalankan puasa 10 hari pertama dan 10 hari kedua yang semakin intens itu, membuat dia dikatakan itqun minannar.. jadi dibebaskan dari neraka, tapi sebenarnya nar itu terjemahnya tidak neraka, neraka itu kan bahasa Jawa, nar itu terjemahnya itu api, artinya terbebas dari istilahnya itu panasnya kehidupan, maksudnya itu terbebas dari rasa yang tidak tenang, penderitaan, itu panasnya kehidupan, jadi terbebas dari itu.
Jadi kalau dihitung di situ, kalau mengikuti metode orang Jawa makanya puasa itu 30 hari, karena 10 hari, 10 hari, 10 hari, 30 hari, tetapi sekarang ini karena ini sudah masuk perhitungan yaitu tadi, ada yang mempertahankan sistem Hisab, ada yang mempertahankan sistem melihat hilal, maka di situ akhirnya bisa puasa itu 29 hari atau 30 hari. Jadi seperti itu, jadi kalau kelompok yang menganggap melihat hilal dan terus mendung terus, istilahnya digenapkan jadi 30 hari. Ini adalah semua itu proses perjalanan dan terjadinya perbedaan di antara ulama-ulama Islam, jadi di situ.
Kemudian ada hadis dari Imam Bukhori, hadis nomor 3277 dan hadis juga yang ditulis oleh Muslim, nomor 1079. Di situ dikatakan, idha jaha roma dhona, jadi apabila bulan Ramadan itu datang, futihat abu wabul jannah, maka dibukalah pintu jannah, yang biasa diterjemahkan pintu surga, walaupun pada berbagai kesempatan yang telah saya berikan, jannah itu artinya adalah kebun, dan itu selalu konsisten kalau kita membaca terjemahannya itu bukan ke dalam bahasa Indonesia, tapi ke dalam bahasa Inggris. Jannah selalu diterjemahkan dengan garden, itu kalau berbahasa Inggris. Mengapa tidak diterjemahkan surga, surga itu bahasa Inggrisnya heaven, dan heaven itu di langit, kalau kebun itu di bumi, makanya kalau Al-Quran mengatakan, tajarimin takti hal-anhar, jadi fi janati naim tajarimin takti hal-anhar, jadi di jannah, di taman, di kebun yang penuh kenikmatan, dan mengalirlah sungai-sungai di bawahnya. Nah itu benar.
Nah, dalam hadis itu diteruskan, diteruskan dengan pernyataan wahulikot abwabunar, dan ditutup pintu-pintu nar, yang tadi diterjemahkan pintu-pintu neraka, jadi ditutup. Apa artinya? Kalau orang itu puasanya benar, ya merasa ada di dalam kebun yang penuh kenikmatan, dan dia terjauh dari merasa menderita kelaparan dan sebagainya. Tadi pada bagian pertama kan sudah saya sampaikan, berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa, kecuali hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga. Nah, di sini kita harus bisa memahami.
Terus kemudian dilanjutkan ditutup oleh hadis itu, wasuwidat syaiton. Jadi maka dibelenggulah setan-setan itu. Maka sering orang bertanya, loh katanya bulan Ramadan itu dibuka pintu syurga, ditutup pintu neraka, dibelenggulah setan-setan, kok banyak maksiat. Itu kan keadaan dunianya. Jadi pernyataan idhaja'a Ramadan itu bagi pelaksana yang terpanggil untuk menjalankan puasa Ramadan. Artinya dia berusaha membakar. Ya kan, kan Ramadan tadi itu terik, panas, membakar. Membakar segala hal yang negatif di dalam dirinya. Jadi kalau segala hal yang negatif sudah dibakar, sudah jadi abu, ya merasa dia di dalam kehidupan yang tenang, puasa, nyaman. Meskipun bekerja di tempat yang kurang enak pun, dia tidak merasa kesulitan. Nah ini penting.
Nah itu tadi semua tetap berkaitan dengan puasanya orang awam. Untuk orang-orang yang berpuasa secara khusus, nah ini lain lagi. Jadi kalau oleh orang-orang yang berpuasa khusus itu, jadi orang-orang yang berpuasa khusus itu adalah selalu berusaha menjauhkan dari 5 perkara. Jadi 5 perkara yang kalau itu tetap kita lakukan bisa membatalkan puasa dalam tanda petik, membatalkan spiritualnya puasa. Dan ini juga kita harus pahami dengan baik. Karena hadis ini juga diriwetkan oleh Ad-Dailami. Jadi diriwayatkan. Di dalam hadis itu dikatakan bahwa orang yang apa ini, puasanya itu batal secara ruhani, itu kalau dia selama bulan Ramadan tadi berbohong. Jadi Al-Khazib itu berbohong. Kemudian dikatakan di situ, yang keduanya adalah disebut walribah. Jadi artinya, suka ngerasani atau membicarakan kejelekan orang. Nah itu dianggap menggugurkan atau membatalkan spiritualitasnya puasa. Nah yang ketiga, orang itu istilahnya melakukan sesuatu yang melakukan sumpah palsu. Jadi disitu. Nah jadi disini kita harus bisa memahami dengan baik.
Nah kemudian juga yang bisa membatalkan rohaninya puasa itu adalah memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan seksual sehingga bangkit yang namanya itu syahwatnya. Nah ini juga dianggap bisa membatalkan. Nah jadi di sini kita harus hati-hati. Jadi bohong nggak boleh menggunjing orang itu juga tidak boleh. Bersumpah palsu juga tidak boleh. Memperhatikan sesuatu yang bisa menimbulkan apa ini. Hal-hal yang bersifat syahwat juga tidak boleh. Lalu bisa melakukan hal-hal yang zalim, yang negatif juga tidak boleh. Jadi ini semua harus kita bisa perhatikan. Jadi istilahnya itu di dalam hati kita ini betul-betul dijaga. Dijaga tidak sampai timbul hal-hal yang negatif tadi.
Nah bagi orang yang puasa lebih khusus lagi. Jadi kososul kos. Nah disini orang itu sudah namanya berpuasa. Berpuasa kan tadi mencegah diri, menahan diri. Ramadan itu membakar ya. Jadi artinya membakar apapun yang tidak berkaitan dengan puasa itu sendiri. Jadi istilahnya di dalam hatinya itu hanya teringat akan kebenaran dan kebesaran Allah itu sendiri. Jadi disini dalam puasanya itu sudah tidak lagi mau cari pahala. Tidak ada kaitannya dengan itu. Sudah tidak kepikiran lagi menjauhi dosa. Karena sudah tadi yang secara puasa khusus saja sudah menjauhi. Jadi disini. Apalagi ini sudah puasa paling khusus. Sehingga istilahnya benar-benar berpuasa. Lillahi ta'allah. Tidak ada pikiran-pikiran lain.
Oleh karena itu mengapa kalau puasa itu orang-orang di Jawa ini tidak merasa keberatan kalau puasa itu. Karena memang dari zaman dulu khususnya orang-orang Jawa kuno itu memang rajin berpuasa itu. Jadi dia tidak segan-segan kalau diajak puasa itu. Jadi karena apa? Karena paling tidak itu dengan puasa yang baik. Itu metabolisme tubuh itu seperti mesin yang lagi diperbaiki, lagi turun mesin, sehingga nanti bisa berguna lebih baik lagi. Karena Lillahi ta'allah membiasakan diri dengan baik, jadi harapan yang dikatakan dalam surat 183, ayat 183 surat Al-Baqarah, betul-betul tercapai apa yang dinamakan. La'al lakum tat takuhun. Jadi agar menjadi orang yang bertakwa. Jadi namanya menjadi orang yang bertakwa tentunya bisa hidup dengan tenang, dengan baik, dan bisa juga memotivasi dirinya untuk bekerja lebih baik, bekerja lebih cermat, bekerja lebih kuat, tapi tanpa terasa tertekan apapun.
Nah demikianlah bagian kedua dari puasa Ramadan ini dan kita harapkan hal yang sederhana ini bisa kita lakukan dengan baik, bisa kita amalkan dengan baik, sehingga tahun ini puasa kita menjadi lebih baik, tidak lagi puasa mengejar kebutuhan-kebutuhan yang selama ini malah terbalik. Kalau orang di bulan Ramadan, kebutuhan makanya menjadi meningkat, kebutuhan untuk beli itu menjadi lebih tinggi, tapi sekarang bisa digunakan dengan sebaik-baiknya, dan sebagian dari penghasilan yang semula digunakan untuk makan lebih banyak, minum lebih mewah, bisa dipakai untuk membantu kalangan yang lemah, fakir miskin, kalau memang sudah waktunya bisa dikeluarkan sebagai zakat, ya dizakati. Demikian mudah-mudahan apa yang saya sampaikan ini sangat bermanfaat, bukan hanya bermanfaat, tapi sangat bermanfaat, dan saya mengucapkan terima kasih kepada Anda semua, dan bila masih ada kurangnya, saya mohon maaf, segian, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.