📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

JANGAN OVERSHARING || 5 HAL INI CUKUP DISIMPAN SENDIRI SAJA

Abdi Suardin11:19

Transcription

[Musik] Halo semuanya.

Kadang itu kita lupa bahwa tidak semua orang yang tersenyum pada kita itu punya niat yang hangat untuk menerima semua cerita kita. Dan tidak semua telinga yang mendengarkan kita itu benar-benar siap untuk menjaga semua rahasia kita. Dunia saat ini itu mendorong kita itu untuk terus berbagi. Apalagi dengan adanya media sosial yang bikin kita terbiasa untuk membuka hidup seluas-luasnya tanpa filter, tanpa jeda, tanpa pertimbangan apapun. Padahal dalam hidup ini sebenarnya ada hal yang jauh lebih aman kalau kita simpan hal tersebut. Bukan untuk mencoba membohongi dunia ya, tapi untuk menjaga diri kita.

Ada sebuah quote yang saya suka gitu. "Be selective with your energy. Not everyone deserve to know your deeply." Dan saya setuju banget tidak semua orang harus tahu sampai dalam-dalamnya kita gitu. Kita juga punya hak penuh untuk memilih siapa yang boleh masuk di lingkaran terdalam hidup kita dan siapa yang tidak boleh masuk ke ruang tersebut. Oversharing itu itu seperti membuka pintu rumah kita lebar-lebar dan kita biarkan tamu-tamu yang kita tidak ketahui masuk yang tamu tersebut belum tentu menghargai semua barang yang ada di rumah kita. Dan ketika mereka masuk tuh mereka merusak dan mereka pergi saja. Yang tersisa cuman apa? yang tersisa hanyalah kita sendirian ngerapiin lagi semua serpihan yang sudah berantakan tadi.

Makanya hari ini kita akan bahas enam hal penting yang harusnya kita cukup simpan sendiri. Bukan untuk mencoba menjadi misterius, tapi untuk menjaga sebuah ruang aman dalam diri kita, menjaga harga diri kita, dan yang paling penting menjaga kesehatan mental kita.

Yang pertama perjuangan kita. Tidak semua orang harus tahu jalan terjal yang kita hadapi. Kita boleh terlihat capek, kita boleh terlihat kuat, tapi tidak semua orang perlu tahu seberapa berat langkah kita untuk menjalani hari per hari kita. Karena faktanya 75% orang itu cuman penasaran, bukan peduli. Dan yang 25% sisanya ya belum tentu siap menolong kita. Kalau Mahatma Gandhi bilang perjuangan itu adalah sebuah hal yang sakral. Jadi kadang lebih aman kalau kita pelan-pelan menghadapinya tanpa harus kita umumkan semua rasa sakitnya. Sebagian orang akan bertepuk tangan pada saat kita sukses, tapi mereka akan hilang pada saat kita jatuh. Dan ingat, kamu tidak perlu menjelaskan proses itu kepada semua orang. Karena orang-orang itu hanya tertarik dengan hasil. Biarkan kerja kerasmu yang bicara. Biarkan waktu yang membuktikan. Biarkan kesunyian yang membentukmu sehingga kamu menjadi orang yang kuat. Karena pada akhirnya dunia hanya melihat apa yang kamu capai, bukan apa yang kamu tanggung.

Yang kedua, masa lalumu. Tidak semua orang perlu tahu dari mana kamu berasal, dari mana kamu datang. Masa lalu itu kayak buku yang sudah lama. Kita boleh belajar lagi buku itu. Kita boleh membaca ulang buku itu dengan tujuan untuk belajar. Tapi kita tidak wajib memperlihatkan buku itu kepada semua orang. Ya, memang kadang kita merasa itu harus jujur kepada semua orang supaya bisa diterima. Padahal yang namanya masa lalu ya sudah selesai. Kamu tidak punya kewajiban untuk membuka luka lama hanya untuk membuat orang lain mengerti. Ada orang yang pasti memaafkanmu, ada orang yang pasti menilaimu. Dan pasti ada orang yang memakai masa lalumu itu sebuah senjata untuk menyerangmu balik apabila kalian berseberangan. Makanya harus bijak untuk memilih siapa yang boleh membaca bab-bab di buku lama kita itu. Dalam hidup itu kita tidak perlu dikenal karena masa lalu kita. Kita bisa dikenal jadi apa kita sekarang atau jadi siapa kita di masa yang akan datang. Tidak semua hal-hal menyakitkan di masa lalu itu harus diumumkan. Ada luka masa lalu yang lebih sehat apabila luka tersebut sembuh secara diam-diam.

Yang ketiga, mimpi dan harapanmu. Tidak semua orang mampu untuk memahami besarnya langkahmu sekarang. Ya, kamu pasti pernah merasa kalau ketika kamu cerita mimpi kamu itu bukannya didukung malah diragukan. Padahal kamu itu cuman pengin untuk didengar. Tapi "dream don't need exposure. They need protection." Mimpi itu tidak butuh kita sebarluaskan. Mimpi itu butuh perlindungan. Mimpi itu kayak bibit. Kalau kita tanam di tanah yang salah, bibit itu tidak akan tumbuh. Dan kadang kalau kita cerita pada orang yang salah, lalu mereka meragukan kita, mengkerdilkan kita tanpa sadar, energi paling besar yang kita punya itu akan pergi juga, yaitu apa? Keyakinan. Banyak orang itu tidak yakin pada dirinya dan tidak yakin pada mimpinya. Jadi dia mau orang lain juga sama seperti dia. Ada orang yang hidup terus dalam ketakutan dan dia ingin menularkan ketakutan dia itu kepada orang-orang yang punya ambisi. Ada juga orang yang tidak tahan lihat kita bertumbuh dan tanpa sadar dia itu menahan kita itu lewat kalimat-kalimat kecil yang ngeruntuhin semangat kita loh. Jadi jaga mimpi kita. Cerita pada orang yang benar. Kita harus cerita pada orang-orang yang siap mendengarkan kita, bukan ngeremehin kita, siap mendukung kita, bukan menyepelekan kita. Itulah alasannya kenapa mimpi itu harus disimpan, bukan diumumkan. Setelah kita simpan, kita wujudkan mimpi tersebut.

Yang keempat, titik lemah kita. Tidak semua orang perlu tahu hal-hal apa yang bikin kita rapuh. Salah satu kesalahan terbesar manusia adalah mengira bahwa semua orang itu dapat dipercaya. Padahal dunia tidak sesederhana itu, Bro. Ada orang yang merangkul pada saat kita lemah. Tapi ada juga orang yang memakai kelemahan itu untuk menjatuhkan kita. "Never give someone the weapon to destroy you." Jangan berikan senjata kepada orang lain untuk menghancurkan kita. Titik lemah adalah bagian yang paling sensitif, paling gampang diserang, dan paling sering dipakai di salah tempat. Kamu boleh jujur, kamu boleh terbuka, tapi yang enggak sembarangan juga. Ruangan aman kita itu tidak semua orang pantas memasukinya. Kadang ya kita terlalu cepat bercerita, terlalu cepat percaya sama orang, terlalu cepat merasa dekat. Padahal kedekatan emosional itu butuh waktu. Bukan cuman sekedar kita ngobrol malam terus besoknya sudah dekat secara emosional. Enggak seperti itu. Kesetiaan itu dibuktikan dengan tindakan, bukan dengan kata-kata manis. Jadi, jagalah titik lemahmu seperti kamu menjaga kunci rumahmu. Karena sekali kunci rumah itu hilang, kamu akan sibuk sekali untuk memperbaikinya.

Yang kelima, pendapatmu. Tidak semua opinimu harus kamu umumkan pada dunia. Sekarang ini semua orang punya panggung, sosial media bikin kita merasa itu harus bersuara segalanya gitu. Tapi gini ya, tidak semua opini kita itu harus diucapin. Tidak semua pikiran kita itu harus diposting. Kadang diam jauh lebih elegan daripada debat yang penuh emosi, daripada debat kusir yang enggak tahu juntrungannya hasilnya seperti apa. Banyak masalah terjadi bukan karena niat buruk, tapi karena terlalu cepat berbicara, terlalu cepat ingin didengar, terlalu cepat berespon. Padahal tidak semua orang siap mendengarkan pendapat kita dengan bijak walaupun pendapat itu benar. Ada yang tersinggung, ada yang salah paham, ada yang memelintir, ada yang membesar-besarkan. Belajarlah untuk menjaga jarak antara pikiran dan ucapan. Jadi, ada delay dari apa yang kita pikirkan dan apa yang kita ucapkan dan kita ketik. Jangan apa yang kita pikirkan langsung kita ketik atau kita ucapin. Karena apa yang kita simpan itu seringki lebih melindungi hidup kita daripada apa yang kita sampaikan.

Yang keenam, pengorbanan kita. Tidak semua orang perlu tahu seberapa keras kita berjuang terhadap sesuatu. Pengorbanan itu bukan untuk diumumkan kok. Karena ketika kita sering bercerita tentang pengorbanan kita, lama-lama kita terlihat seperti menagih rasa terima kasih dari dunia. Dan dunia tidak bekerja seperti itu. "You don't need to tell a people how hard you're working. Your result will introduce you." Biarkan usahamu yang bicara, biarkan waktu yang menjelaskan, biarkan proses yang menyentuh hati orang lain tanpa kamu harus bercerita. Kadang kamu akan merasa capek, merasa tidak dihargai, dan merasa tidak dianggap. Tapi percayalah orang-orang yang benar-benar tulus itu akan melihat pengorbananmu tanpa kamu harus menjelaskan semuanya. Dan orang yang tidak menghargai ya dia tidak akan peduli sekalipun kamu teriak-teriak. Jadi simpan semua pengorbananmu dalam hati. Karena yang paling penting bukan siapa yang tahu, tapi siapa yang akhirnya bermanfaat dalam semua perjuanganmu.

Jadi, tidak semua orang pantas tahu isi hidupmu. Tidak semua orang pantas masuk dalam ruang terdalam di hatimu. Belajar menyaring, belajar menjaga diri, belajar berkata, "Sor, bagian hidup saya yang itu tidak untuk semua orang." Karena hidup tidak butuh banyak penonton. Hidup hanya butuh beberapa orang yang benar-benar bertepuk tangan lebih keras walaupun dia cuman sedikit. Privacy is power. Ketika kamu berhenti oversharing, kamu mulai menemukan rasa tenang. Ketika kamu mulai menjaga ruang amanmu, kamu akan merasa hidupmu itu akan jauh lebih ringan. Dan ketika kamu tidak lagi membiarkan sembarangan orang untuk masuk ke duniamu, kamu akan mulai merasakan kebebasan emosional yang lebih besar. Hidupmu itu bukan konsumsi publik. Cerita yang kamu simpan itu bukan kelemahan. Itu merupakan sebuah kekuatan dan kedewasaan. Dan pada akhirnya yang paling penting bukan siapa yang tahu tentang dirimu, tapi siapa yang benar-benar peduli terhadap dirimu. Terima kasih, semoga bermanfaat.

[Musik]