Transcription
50 kilo itu kayaknya dulu ya, seminggu itu habis gitu. Iya, paling banyak itu 1 hari itu ya, 7 ton setengah 7 ton bahan mentah. Kalau sudah matangnya itu berapa kilo ya? Mungkin susutnya itu 40%. Penolakan serial pernah, satu mobil itu enggak laku juga pernah. Kayak orang tua dulu toh. Pengiriman itu paling jauh ya cuma itu ya, dulu itu ya. Pernah ke luar negeri, tapi lewat ee reseller gitu. Saya dari usia ini ya, sudah rumah sudah. Dulu kan pernah sini cuma rumah satu, sekarang sudah ada dua kan. Halaman sudah luas sekitar 1.500. Ini. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Rianto, selaku pemilik usaha PB singkong merek Lumba-Lumba dari Magelang, yang beralamat di Desa Mejing 1, Kecamatan Candi Mulyo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Ini lagi ngupas ya, Pak? Iya iya, lagi ngupas ya. Itu yang ngupas itu? Oh, ngupas itu. Kalau ini lagi diapain ini, Pak? Lagi di pas nganu, mpotong e gagangnya. Oh, dipotong gagangnya? Dipotong gagangnya. Berarti enggak dipakai ya? Untuk apa ya? Untuk pucuk-pucuknya itu ya, Pak ya? Iya nih. Oh, nya untuk makan sapi? Makan sapi. Heeh. Jadi enggak kebuang ya, Pak ya? Tetap apa? Nanti dipakai buat pakan sapi gitu ya, Pak ya? Iya ya. Diminta orang-orang. Usahanya sekitar sudah 20 tahunan lah ini. Kan dari dulu kan usaha dari orang tua dulu kan. Saya masih sekolah, istilah itu orang tua yang megang. Terus sekarang dipegang oleh saya mulai tahun 2017. Dulu kayaknya itu belajarnya kan orang tua itu dari temannya kayaknya dulu tu dulu. Saya sambil meneruskan kan. Saya sudah sering bantu-bantu waktu itu toh. Dia dari zaman sekolah itu sudah sering bantu. Jadi kan udah tahulah teknik-tekniknya itu dari orang tua sampai sekarang. Kemun sama ya. Di samping itu karena buat ee istilahnya itu buat membantu teman atau saudara-saudara yang nganggurlah. Istilahnya buat bisa berkarya dan bekerja untuk menghidupi keluarga atau panganlah gitu. Dulu kayaknya itu dulu tuh, e Bapak itu orang tua itu merintis tuh dari pembikinan itu dari 50 kilo, terus meningkat dari 100 kilo sampai berapa kintal. Dan beberapa tahun lagi sudah 1 ton atau berapa. Terus udah sampai dulu itu sudah sampai 7 ton per hari. Itu untuk alat-alatnya di itu ada yang bikin sendiri dari orang tua itu, yang untuk alat mengajang itu belilah. Beli. H oke.
Oh, ini baru dikupas ya, Bu ya? Dikupas ya? Ini dikupas. H. Wah, ini untuk singkongnya gede-gede banget ya? Iya. Tapi ini dari mana, Bu? Ngambilnya, Bu? Apa ngambilnya dari mana? Temanggung ya, Mbak? Dari Temanggung. Temanggung. Temanggung. Ngangkrik Temanggung ya? Jauh ya berarti yang ambil ya? Ya, sama Ngangkrik. Tapi jenis singkongnya singkong apa ini, Bu? Singkong apa Lik? Jenisnya namanya opo Lik? Ada jenisnya gitu kan? Mungkin telok putih? Tel putih? Telok putih ya? Tel putih ya? Oh oh. Ini sudah pakai alatnya, sudah ada nih alatnya sudah khusus ya, Bu ya? Khusus ini biar cepat. Ini tinggal sakrak srakk, cepat. Nanti ndak nganu, ndak kelar. Tapi sehari bisa sampai berapa ton, Bu? Biasanya, Bu? Sek ton. Kadang-kadang lebih. Nggih. Kadang-kadang nggih. Kadang ng lebih. Mesti mesti toh? Oh, enggak mesti ya, Bu ya? Tapi untuk rata-ratanya biasanya setiap harinya 1 ton ya, Bu ya? Biasanya iya. K paling enggak [Musik]. Ya, terus ini kulitnya digemanain ini, Bu? Dikasih anu, sapi, lembu sama kambing? Sama kambing ya? Iya. Jadi kepakai semua ya, Bu ya? Pakai semua. Minta orang. Minta orang. Dulu kalau masih yang yang dulu kan kayaknya itu, setahu saya itu ya, yang buat cuma 50 kiloan itu cuma pakai alat manual dulu. Orang tua pakai alat manual. Alat bakarnya ya pakai kayu. Sampai sekarang masih pakai kayu. Tapi kan ee cara penggorengannya tu dikit itu, wojo atau apa itu, masih kecil. Masih kecil ya. Dulu itu saya kan sering jual beli mobil itu. Contohnya kayak gitu. Kita sampai sekarang ya masih, tapi dikit-dikit. Dulu juga pernah dibelikan showroom sama orang tua itu untuk jual beli mobil. Terus buat cucian, buat salon mobil interior dan sebagainya. Tapi kok ini orang tua sudah gak ada, almarhum. Terus saya agak berhenti ke dunia mobil dan meneruskan usaha orang tua gitu. Saya meneruskan, tapi kan memang enggak sebanyak dulu waktu orang tua. Sekarang yang istilah cuma dikit-dikit, tapi lah berjalan gitu aja lah. Alhamdulillah gitu, buat hidup cukuplah gitu. Saya yakin karena dari dulu pemberian orang tua seperti saya kan juga usaha lain-lainnya itu kan ee apa itu ya namanya itu dari hasil tripping saya yang saya tahu orang tua itu tadi kan. Ah, ini usaha sekarang ini sampingannya dulu kok dari usaha tripping. Ah, sekarang tak fokus neruskan aja ini. Oh, ini langsung dicuci ya, Bu ya? Iya, dicuci. Oh, lah ini pakai air bersih, Bu? Nyucinya? Nah, ini Mang sini dicaruh sini. Iya, Mang. Dior sini lagi. Sekarang oh, langsung dilap-lap kay gini ya, Bu ya? Ngih. Itu biar gak ada tanahnya toh. H. Dibilas? Oh, ini dibilas ya, Bu ya? Iya. Enggak kotor toh? Nanti enggak bersih. Tapi ini dibilas berapa kali, Bu? Biasanya, Bu? Cuma sekali. Cuma sekali ya? Sekali ya. Tapi sekali sudah bersih banget ya, Bu? Sudah bersih. Jadi ini ditaruh di kosok. Hm. Padahal ini cuma pakai air bersih biasa ya, Bu ya? Tapi langsung bersih ya, Bu ya? Ah, iya. Nih ini pakai air pegunungan berti ini bersih ini. H. Ini aja. Ini gede-gede. Setelah ini persisnya diapain nih, Bu? Setelah ini diik dirasang, dipotong ya, Bu ya? Giih. Potong di sana. Oke.
Awal pemasaran itu orang tua itu pakai motor dulu. Pakai motor terus ke pasar-pasar terdekat, terus warung-warung. Orang tua itu perjuangannya gitu, saya yang saya lihat itu. Nah, kemudian terus cari pekerja, jelas beli sales apa itu. Terus lagi melonjak ke luar kota gitu. Sedikit demi sedikit orderan semakin banyak. Nah, sudah sampai hampir ke Jawa Barat itu pernah. Terus sampai ke agen grosiran itu dibawa ke luar negeri juga pernah. Itu yang kartonan itu, yang beraneka macam rasa seperti balado. Tapi sekarang kan sudah berhenti. Cuma bikin yang original aja. Terus cuma pasar-pasar lokal sini aja gitu. Penolakan serial pernah, satu mobil itu enggak laku juga pernah. Kayak orang tua dulu toh. Itu kenapa, Mas ya? Karena kan barang masih baru terus gitu. Tapi rasanya gimana, Mas pas ditolak ya? Kita tetap ya, jangan putus asa lah. Enggak apa-apa, memang perjuangan gitu tah. Kalau orang tangga-tangga sekitar bagus itu bisa ee menambah istilah ini, orang-orang yang pada nganggur pada bisa bekerja seperti ibu-ibu. Enggak harus kerja keluar kan? Bisa. Alhamdulillah mendukunglah bembelinya itu. Kalau menurut saya itu, tripping itu kok kalangan bawah sampai kalangan atas itu rata-rata pada suka. Suka ya, Mas ya? Iya. Jadi semua kalangan ya, Mas ya? Iya. Keripik sejenis keripik-keripik itu kan kalangan bawah atas tuh semua itu kayak saya lihat tuh pada suka gitu. Itu pakai apa, Bu? Yang buat apa namanya itu? Bagor nih? Bagor ya? Bekas bagor? Bekas bagor ya? Bagor ini bagor bawang-bawang. Hmm. H. Kasap ini toh. H. Biar ini apa? Kotornya cepat ini ya? Cepat hilang. Cepat. Iya. Tanyain langsung. Gedenya kayak gini bersih banget nih. Ini disiram lagi. Biar lagi disiram lagi ya? Nanti nanti masukin sini lagi atau disiram sinah, Bu? Di sini aja. Sini aja sudah. Oh, di sini aja. Merintis itu sekitar 3 tahun 4 tahun dulu orang tua itu pelakunya. Iya. Pernah hampir sudah berhenti lama itu, putus asa. Tapi bangkit lagi. 50 kilo itu kayaknya dulu ya, seminggu itu habis baru gituah ya. Paling banyak itu 1 hari itu ya, 7 ton setengah 7 ton bahan mentah. Kalau udah matangnya itu berapa kilo ya? Mungkin susutnya itu 40%. Ya, enggak nyangkalah dulu kan bante bikinan itu kan makanan kampung ya. Apa bisa nanti? Nanti segede ini kan enggak nyangka ya. Tapi kan kita berusaha sambil berdoalah. Istilahnya kan Allah, istilahnya Tuhan memberi jalanlah setiap orang yang mau usaha gitu ya. Alhamdulillah kita syukuri aja ya. Kita harus semakin pekerjaan kita itu dicintai, insyaallah semakin kita menghasilkan dan semakin kita maju gitu. Kalau kita enggak sama usahanya ada sudah enggak mencintai kan istilahnya ya. Benar benar benar itu ya, gak Mas? Kira-kira betul gak produknya itu? Kalau dulu itu varian yang, tapi sekarang itu yang saya kerja untuk saat ini cuma original aja. Yang dulu banyak ada balado, pedas manis sama itu jagung bakar. Tiga itu dulu. Dulu juga pernah bikin seperti talas, gerbek pisang, e singkong yang warna ungu itu. Oke. Ini langsung proses e motong-motong ya, Mas? Iya. Ini motong-motong ini pakai alat ya? Alat mesin? Mesin ya? Ini mestinya pakai listrik atau listrik? Oh, listrik ya? Iya. Oh, ini cuma didorong-dorong aja ya, Mas ya? Iya. Tapi ini kalau bel tahu ini alatnya dulu bikin sendiri apa ee beli? Beli. Oh, beli ya? Iya. Ini matanya berapa, Mas? Apa mata pisaunya ini? Tiga. Tiga. Oh, pakai tiga ya? Bisa dietting enggak untuk kecepalannya? Bisa. Bisa ya? Nah. Oh, ini jadinya kayak gini ya? Nah, ini Guys, jadinya tipis-tipis banget ini. Nah, ini bertambah ya, jadinya ya? Iya. Ini setelah ini langsung prosesnya apa ini, Mas? Penggorengan. Penggorengan ya. Oke. Kalau buat teman-teman aja yang mau nyobain atau mau jadi reseller atau mau belajar bisa datang ke sini atau bisa kontak nomor WA saya 081 73646492 atau bisa datang langsung ke lokasi ee di Google Map juga ada namanya Tripping Singkong Lumba-Lumba Magelang. Pengiriman itu paling jauh ya cuma itu ya, dulu itu ya. Pernah ke luar negeri, tapi lewat ee reseller gitu. Lewat istilahnya apa itu ya? Grosir. Grosir ya? Iya. Saya kirim ke grosir di sana. Dipak lagi kartoni dan bawa ke luar negeri. Iya, sampai Belanda kayak itu kan. Kalau keripik singkong itu awetnya itu tergantung kemasan. Kalau insyaallah kemasan rapat itu ya bisa 2 bulan 3 bulan. Tapi kalau kemasannya itu bocor atau gimana mungkin 1 minggu aja udah melempu gitu. Dulu itu awal-awal itu cuma satu keluarga kayaknya. Satu keluarga tambah tetangga itu dua tripping. Ya, jujur aja kalau tripping lomba-lomba itu memang ada dua yang itu yang ada yang di Pemalang itu. Tapi di Pemalang itu saya lihat di Google itu mulai kan 200023 [Musik]. Kalau Bapak ini saya merintis itu kalau wisata itu dimulai dari 1999. Jadi kan banyak ada orang ya tu. Ah, itu nembak merek lomba-lomba ke Malang. Padahal pembikinan itu [Musik] lebih pertama sini. Tapi dulu itu salahnya orang tua itu enggak langsung dihak Pak Ten gitu. Tapi gak masalah gitu kan masalah kan kita enggak istilahnya bukan ciplak lah. Oh, ini ada yang manual ya, Mas ya? Ada. Ada yang Hmm h yang manual kan yang pakai mesin enggak muat kan masuknya ke manual? Oh, ini yang gede-gede ya? Ukuran diameternya gede-gede ya? Kan masuknya ke manual. Hm. Karena di mesin enggak cukup ya, Pak ya? Kalau di mesin enggak cukup mungkin bisa hancur lah. Hm. Bisa hancur. Jadi ini manual guys. Iya. Nah, ini jadinya lebar-lebar banget nih. Iya. Tedis-pedis. Tapi ini ya, kadang ada yang patah apa jadi dua gitu ya? Sigar namanya. Iya. Yang besar kan gini banyak yang. Oh, ini gede ya? Karena gede ya? Iya. Kalau yang di mesin kan enggak masuk. Enggak masuk. Jadinya harus pakai ini manual ya. Oke. Sekarang dulu sudah hampir ada 60 dulu waktu Bapak itu masalah ada COVID itu kan usaha pada istilahnya gratis turunlah. Menurun. Sekarang cuma sekitar 17-an. Tapi alhamdulillah lah itu sudah kami syukuri aja gitu. Kayak itu dulu ya. Sudah pernah dicak sekotelo gak yo iso jadi gawe istilah itu menghasilkan uang banyak gitu itu ya? Bahasa bahasanya gitulah. Bahasane Jawa kan ndak yo iso jadi duit. M bahan dari ketela tapi kan ya enggak tahu tah. Tergantung kita niat ya toh? Jangankan itu kan termasuk makanan kayak dari sampah aja bisa toh? Tergantung kita yang ngolah gitu kan. Ah, kalau saya kan cuek aja. Biarkan aja orang. Biarkan ada biarkan orang menggonggong itu gak memang ada toh? Gak apa-apa lah gitu. Kita jalani aja lah yang penting nanti kan tahu prosesnya. Tahu T baru orang kita kan itu sebagai motivasi malah. Iya toh? Enggak usah dimasukkan lah dalam hati itu. Pernah ada enggak orang yang menuduh pakai pangaris gitu, Mas? Kalau dulu kan ya ada kayak gitu ya. Pernah dengar-dengar ya. Itu tetangga apa? Tapi enggak. Saya cuma Allah yang tahulah gitu tah. Wah, ini langsung proses penggorengan ya, Pak ya? Iya. Penggorengan. Woh. Langsung empat tampah ya, Pak ya? Ya. Nah, kalau sudah gitu dikasih bumbu? Oh, bumbunya di sini ya? Ya. Ini bumbunya asin aja, Pak? Apa bumbunya? Asin aja? Gurih ya? Asin iya. Gurih. Hm. Ini gorengnya berapa lama, Pak ini, Pak ya? Enggak mesti kok ya. Tergantung pengapiannya itu. Api besar itu agak cepat. Jadi feeling aja ya, Pak ya? I. Oh, ini sambil diopikopyok-kopyok ya? Dikopyok-kopyok gini biar enggak kempel ini. Tapi 5 menit ada enggak, Pak ini? Kira-kira gimana? 5 menit ada enggak? Enggak ada. Enggak ada. Ada. Pindah itu asepnya sudah hilang. Nah, itu sudah matang. Oh, sudah matang. Oh, ini langsung berubah ya, Pak ya? Langsung kelihatan ya? Iya. Bentar ya. Oke siap. Ini tak ambil. Nah, ini. Iya. Woh, langsung matang ya, Pak ya? Ini ya? Iya. Langsung matang. Enggak ada 5 menit. Langsung matang ya? Oh, ini langsung dipindah ya, Pak ya? Gimana? Langsung ditiriskan ya? Iya. Oh, langsung taruh sini ya? H. Jadi cuma ya paling 1 menit ya, Pak ya? Enggak ada ya? Enggak ada toh? Enggak ada 2 menit lah. Ini kira-kira 2 menit lah sudah matang ya? Iya. Tapi kalau pengapiane nganu loh panase baik gitu nek panase kurang ya agak lama sedikit. Oke. Kendala yang sering dialami ii mungkin kadang ee karyawan itu kadang kan belum tentu masuk semua. Kadang kurang. Tapi ya kalau kalau semua masuk mungkin saya enggak bantu. Tapi kalau karyawan agak kurang apa mungkin saya bisa bantu gitu aja. Gitu aja. Mong. Kendalanya cuma itu. Lek bahan baku selai singkong apa itu gak ada kendala. Pasti ada sama mungkin ya pemasaran kakak ih bulan ini kok agak menurun, sepi. Itu kan wajar toh namanya orang jualan kan ada ramai ada sepi gitu kan. Titik-titik terendah juga sudah pernah kayak gitu. Tapi kan dulu kan lek masal kayak di bidang ini kayaknya belum. Tapi kan saya dulu itu pernah ee istilahnya itu bukan ngerjain yang kayak dripping apa produksi tapi kan usaha yang lain ya. Usaha yang lain itu pernah berdik rendah. Ah, nah ini akhirnya saya masuk ke tripping. Untuk kuncinya untuk bertani ya yang penting kan kita cintai produk kita. Cintai pekerjaan kita itu aja. Sama mungkin kualitas harus dijaga. Mungkin barang itu harus kalau bisa itu tetap konsekuen enggak berubah gitulah. Rasa barang, warna dan sebagainya itu enggak berubah gitu. Enggak berubah. Prinsip hidup ya samalah seperti jenengan coba. Yang penting kan penting baiklah ya. Yang penting itu kan semuanya berjalan lancar itu cukup aja itu ya. Oke. Nah, ini bumbunya ya, Pak ya? Iya. Ini bumbunya. Nah, ini kalau boleh tahu nih bumbunya bahannya apa aja ini, Pak? Sebentar sebentar ya. I. Oke. Itu garam? Oh, ini garam ya? Garam. H. Terus ada bumbu masak tuh micin? Oh, micin sama bawang ya, Pak ya? Iya. Bawang. H. Terus dicampur pakai air ya? Iya. Pakai air. Oke. Cuma itu hubungnya cuma itu aja ya, Pak ya? Iya. Nah, ini kan tadi kan sudah ngelihat prosesnya dari awal ya, Mas ya? Sampai selesai. Nah, nanti kalau ada teman-teman yang meniru gimana, Mas? Oh, gak apa-apa. Wah, mau ke sini mau belajar pun saya beritahu kan rezeki orang itu enggak sama. Usaha bisa sama, tapi rezeki seseorang itu sudah diatur. Enggak mungkin sama lah. Enggak mungkin tertukar gitu. Jadi enggak khawatir. Kalau adaak khawatir gak apa-apa. Mau belajar mau apa bisa. Yang selalu bikin semangat apa ini, Mas ya? Mungkin kan kita mungkin sebagai orang tua kan untuk semangat kan mungkin ke anak-anak sudah besar bagaimana kan? Ibarat mau minta apa sudah bisa. Orang tua mau sekolah bisa. Itu kan yang bikin semangat itu kan harapan usaha ke depannya. Semoga aja tetap masih berjalan dan tetap sukses gitu aja lah. Saya dari usaha ini ya, sudah rumah sudah. Dulu kan pernah sini cuma rumah. Rumah satu sekarang sudah ada dua kan. Halaman sudah luas sekitar 1.500. Ini rumah saya sama halaman ini. Kan di pabrik juga dulu kan pembikinan cuma di dapur. Sekarang sudah beli tanah itu di pabriknya itu sekitar luasnya 1.300 dan juga bisa ya beli kendaraan beli dan bisa menyekolahkan anak gitu. Pesan-pesan buat motivasi? Kita tetap jalani aja usaha biarpun kita usaha kita tolak tetap kita jalani aja. Sama jangan menyerahlah. Sekian dari saya. Semoga video ini bermanfaat. Terima kasih untuk semuanya. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.