Transcription
[musik] Lihat hadis Nabi, ya.
"Asiamu asoim. Asimu biryatillah." Berpuasalah kamu karena melihat Allah. "Waltar biraatillah." Berbuka pun kamu karena melihat Allah.
Renung-renungkanlah dulu, ya. Berpuasa karena melihat Allah. Berbuka pun mesti melihat Allah. Nah, artinya apa? Kita naik kelaslah tahun ini. Berhentilah kita memahami puasa itu tak makan, tak minum.
Maka kata Rumi lagi, "Kalau kamu tutup mulutmu, maka ada mulut lain yang terbuka." Maksudnya apa? Memang masalah puasa, masalah makan. Cuma kita 11 bulan kita memahami makan itu, puasa itu juga iya kan terhenti pada makanan, materi, materi. Nih kita stop 1 bulan. Ternyata diri kita ini kan ada unsur Tuhan.
Jadi makanan makan, eh, berhenti makan itu makan yang materi. Tapi kalau makan itu tetap makan. Tapi yang makan di sini itu adalah makanan rohani, rohani. Maka ibadah puasa tadi itu bicara rohani. Cuma itu dipahami itu dalam itu. Jadi enggak berhenti kita makan. Cuma waktu puasa itu berhenti untuk makan yang ini. Maka berilah dia makan. Apa makanannya itu? Zikir makrifat yang kita kaji itu itulah makanan rohani.
Nah, jadi kita tidak hanya tidak sekedar tak makan, tak minum yang seperti kita pahami. Sesungguhnya kita adalah tak tetap makan, tetap minum. Ya malaikat itu apa makanannya? Tasbih minumannya takdis. Jadi tetap makan kita, tapi makan ro, ro, roi. Memperbanyak zikir. Ya zikir kita apa? Kita sudah masuk pada tahapan zikir tanpa huruf, tanpa, ya sadar kita gini. Nah, apalagi kaji yang tadi. H. Cuma kalau ragu-ragu, tak usah dipakai, tapi takkan sampai. Ku bilang sampai kiamat tak sampai itu.
Makanya orang-orang tua dulu suka bilang begini, "Kalau mau jumpa sama Allah, kau harus siap jadi syirik." Kata dia, kata orang gitu. Nah, jadi kawan-kawan sekalian, kasihlah makan rohaniah kita itu dengan zikir, dengan makrifat itu. Itulah yang kita lakukan ketika kita ber, berpuasa. Ingat itu, ya.
Puasa itu bukan amalan manusia, itu bukan amalan manusia. Harus kita pahami betul-betul itu. Karena yang tahan tak makan, tak minum itu siapa. Maka pada saat kita berpuasa itu, ya pada saat kita berpuasa itu, ya lawan-lawan kita itu khayalan namanya. Memberhentikan khayalan itu dengan berzikir itu, dengan merasakan rasa ketuhanan yang diri itu, ya apalagi jalang buka ke kedai beli bukaan, kalau bisa semua dibeliin begitu. Berbuka makan dua kenyang, iya kan? Habis tarawih, duduk awak, kok banyak kaliah tadi dibeli ini, kan gitu itu. Nah, khayalan itu, itu dia muncul.
Maka selama Ramadan itu luar biasa, ya manfaatnya. Jadi jangan lagi bilang tak makan. Nah, maka kenapa ada ibadah puasa itu? Karena di diri kita ini terjadi tarik menarik. Siapa yang menarik? 11 bulan ini kita ditarik jasad kita menarik roh. Ramadan, kalau puasa kita sesungguhnya roh itu yang menarik jasad. Nah, gitu dia. Kita kan kalau mau melakukan sesuatu terkadang kan yang terjadi itu tak jadi kita lakukan karena kekuatan egonya jasad tadi menarik ruh. Di Ramadan itu, kalau kita betul-betul lakukan ibadah puasa itu, maka itulah ruh yang akan menarik jasad supaya itu terjadi lewat ibadah puasa itu. Ah, seperti itu.
Saya katakan tadi, a kharjiah, aun sabitah, wujud am, wujud, eh, apa namanya? Muhid. Kesimpulannya tadi itu, ya tidak usah lagi kita melihat, eh, sifat gitu, tapi ternyata dari tubuh kasar, jasad, roh, sifat, zat. Nah, maka dengan iktikad tadi lihatlah diri kita inilah zat atau wujud, wujud Allah Taala itu. Maka dengan itulah kita berpuasa. Hm.
Ya, jemaah yang dimuliakan Allah. Kita 12, ya, 11 jam, 12 jam kita puasa. Sudah benar enggak ya puasa kita? Persoalannya begini. 1 Ramadan itu kan bukan dari jam 5.00 subuh sampai jam 6.00 kan sampai berapa jam itu? 1 hari itu kan 24, ya. Misalnya 1 Ramadan berarti kan 12 atau 24 jam? 24. 24, ya. Satu hari semalam, ya. Kita berpuasa berapa jam? 11.00. Katakanlah kita sahur jam 5.00, ya, buka jam 6.00, gitu, berarti jam 7.00 masih Ramadan, enggak? Hah? Masih, ya? Jam 8.00, 9.00, 10.00, 11.00, 12.00, 1.00 sampai jam 6.00 lagi balik. Itu kan masih Ramadan itu, kan. Kira-kira sudah terdidik enggak kita dari jam 5.00 pagi sampai jam 6.00 tadi habis berbuka, sikap kita tetap gaya puasa tadi, gitu? Itu tanda-tandanya itu.
Makanya Nabi itu ada puasa wisal. Wisal itu bukan risal, ya. Wisal itu bahasa Arab itu apa namanya? Melanjutkan terjemahnya meneruskan. Nabi itu dia berbuka puasa, habis itu dia puasa lagi sampai sahur nanti dia buka lagi. Ini sumbernya. Tetapi puasa wisal itu kata Rasulullah, ini khusus untuk aku, ya. Dan ini tidak dipertontonkan Rasulullah karena takut dia ini menjadi wajib untuk umatnya. Nah, gitu dia. Nah, artinya kan orang-orang tertentu seperti itu. Makanya saya katakan tadi, 1 Ramadan itu bukan puasa itu bukan waktu jam 5.00 pagi tadi habis imsak buka jam 6.00 atau jam 7.00. Malamnya itu pun Ramadan, ya. Cuma kan kita lupa memahami itu, kan. Oh, begitu buka pula, ya sudah diprogram itu, kan. Aku nanti buka pertama the manis. Wah, nanti pakai ini. Itulah khayal itu. Itulah khayal itu. Itulah yang bisa memberhentikan. Eh, puasa itulah yang bisa memberhentikan itu. Maka itu Rumi katakan itu bagaikan kuda liar.
Nah, tengok kan apa yang kita makan kan itulah fakta diri kita kan. Ini secara fisik misalnya kalau kita makan vitamin ini, itu, ini kan nampak di tubuh, kan. Iya kan? Nah, kita lupa kalau diri kita ini punya unsur ruh. Dia pun perlu makan. Maka makanannya zikir. Jadi apa yang dimakannya itu zikir itu. Maka itulah keberadaan dirinya. Paham tu kan? Masih bahasanya itu yang agak-agak ilmiah dikitlah, ya kan. Nah, seperti itu.
Makanya ada istilah wirid dan wirid, eh, apa namanya itu? Ada istilah wirid itu kan mengamalkan sesuatu jadi warid. Misalnya gini ya, kalau kita makan ini kan itu nampak di diri. Kalau makanan rohaniah tadi dengan berzikir, iya kan? Zikir itu terus-menerus kita senandungkan itu wirid, maka seakan sudah jazam dia, maka dia menjadi warid. Yang kita amalkan itu ya menjadi makanan rohani itu kalau zikir dia. Maka itulah diri kita.
[musik]