📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Tanya Jawab Akidah Bersama Ust. Dr. Maulana La Eda, Lc., M.A

Dewan Syariah Wahdah Islamiyah1:10:46

Transcription

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil alamin, wa bihi nastainu ala umurid dunya waddin. Wasalatu wassalamu ala asrofil anbiya'i wal mursalin, wa ala alihi wa sohbihi ajma'in.

Ikhwan dan akhwat yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala. Alhamdulillah, pada malam hari ini kita kembali berjumpa di program konsultasi syariah Dewan Syariah Wahda Islamiah. Dan di mana pada malam hari ini dengan pembahasan seputar akidah dan pemikiran. Dan juga telah hadir bersama kita pemateri kita pada malam hari ini, yaitu Al Ustaz Maulana.

Sebelumnya kami sapa dulu, apa kabar Al Ustaz?

Alhamdulillah. Ya Allah, bagi antum dan akhwat yang memiliki pertanyaan seputar akidah dan pemikiran, ataupun pertanyaan seputar materi yang akan Ustaz kita sampaikan sebentar lagi, bisa langsung diketik di kolom chat di room Zoom ini. Ataupun jika ada yang ingin berbicara langsung dengan Ustaz, kita bisa angkat tangan, kemudian kami berikan izin untuk bertanya langsung kepada Ustaz kita.

Sembari kita menunggu pertanyaan yang masuk, mari kita bersama-sama menyimak dan beristifadah dari materi yang akan Ustaz kita bawakan, yaitu esensi makna nama Allah As-Syahid dan Ar-Raqib. Kepada Al Ustaz dipersilakan. Barakallahu fikum.

Jazakallah khair, Ustaz Hendri.

Bismillahirahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahillahi rabbil alamin. Alhamdulillahillazi hadana. Para hadirin hadirat sekalian yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa taala. Alhamdulillah, pada kesempatan yang berbahagia ini kita kembali mengkaji salah satu nama atau di antara nama-nama Allah subhanahu wa taala. Kali ini nama yang akan kita kaji adalah nama Allah As-Syahid dan Ar-Raqib.

Nama yang akan kita kaji adalah nama As-Syahid dan nama Allah Ar-Raqib. As-Syahid dalam wazan bahasa Arab dari wazan fa'il bermakna syahid. Makna adalah syahid. Syahid atau syahid adalah sebutan untuk orang yang menyaksikan. Kita menyaksikan sesuatu, misalnya kita menyaksikan sebuah kriminal, sebuah kejahatan, maka kita disebut sebagai as-syahid. Kalau kita menyaksikannya lebih detail, maka kita disebut sebagai as-syahid.

Jadi, as-syahid adalah yang mengetahui dan menyaksikan. Terkait dengan nama Allah subhanahu wa taala, maka pelafalan nama as-syahid kepada Allah itu bermakna zat yang tidak tersembunyi sesuatu pun darinya. Jadi, as-syahid kalau dilekatkan dengan nama Allah, maka bermakna zat yang tidak sesuatu pun bisa bersembunyi darinya, karena Dia bisa menyaksikan seluruh makhluk-Nya, baik yang besar ataupun yang kecil, baik yang tampak ataupun tersembunyi. Itu nama as-syahid jika didekatkan pada zat Allah subhanahu wa taala.

Sebagian ulama juga mengatakan bahwa nama as-syahid ini jika dilekatkan, disandarkan kepada Allah, maka juga bermakna bahwa Allah akan menjadi saksi untuk seluruh makhluk pada hari kiamat. Tapi makna yang pertama itu lebih umum, lebih global, dan lebih universal, yaitu bahwa as-syahid bila disandarkan kepada Allah, maka bermakna sebagai zat yang tidak tersembunyi baginya darinya sesuatu, baik yang kecil, yang besar, yang ringan, yang berat, yang tersembunyi, yang tampak, segala sesuatu tidak tersembunyi darinya. Itu nama atau itu makna as-syahid jika didekatkan kepada Allah subhanahu wa taala.

Misalnya kita melihat firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 98: "Afa ghairallahi abtaghi hakaman wa huwa allazi anzala ilaikumul kitaba mufassalan walladzina ataynahumul kitaba ya'lamuna annahu munazzalun mirrabbika bilhaqqi fala takunanna minal mumtarin. Ya ahliyal kitabi lima takfuruna bi ayati allahi wa antum tasyhadun." Wahai ahli kitab, kenapa kalian kafir kepada ayat-ayat Allah subhanahu wa taala, padahal Allah Maha Mengetahui, Maha Menyaksikan. Syahid Allah itu syahid, Maha Menyaksikan seluruh apa yang kalian amalkan.

Ini juga yang ada dalam surah Al-An'am misalnya: "Qul ayyu syai'in akbaru syahadatan? Qulillahi syahidun baini wa bainakum." Katakanlah, siapa yang memiliki kesaksian yang terbesar? Katakanlah, Allah-lah yang Maha Menyaksikan antara aku dan antara kalian. Jibril, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengatakan kepada kaum musyrikin bahwa yang menyaksikan segala sesuatu yang terjadi antara kita, baik yang tampak atau tersembunyi, itu adalah Allah subhanahu wa taala.

Juga dalam surah Al-Isra' disebutkan: "Qul kafa billahi syahidan baini wa bainakum." Katakanlah, cukuplah Allah menjadi saksi. Cukuplah Allah menjadi saksi. Juga banyak, banyak ayat-ayat yang lain yang mengisahkan atau yang menjelaskan bahwa makna as-syahid adalah menyaksikan, Maha Menyaksikan segala sesuatu.

Ya, Maha Menyaksikan segala sesuatu. Bahkan sebagian ulama juga menyatakan bahwa as-syahid adalah al-hadir, atau orang yang hadir. Kalau kita memaknai as-syahid sebagai al-hadir atau orang yang hadir, maka ini juga tepat bagi Allah subhanahu wa taala, karena Allah itu hadir dalam seluruh rangkaian kehidupan kita. Di setiap kehidupan kita, setiap detiknya, setiap menitnya, setiap jamnya, pasti Allah hadir. Hadir dalam artian Allah bisa mengetahui segala apa yang kita lakukan. Hadir dalam kehidupan kita ini juga bisa bermakna sebagai as-syahid.

Hal ini berkonsekuensi bahwa kita semua sebagai hamba Allah subhanahu wa taala mesti merasakan dalam diri kita bahwa Allah menyaksikan kita, baik kita ketika kita sendiri ataupun ketika kita bersama orang lain. Karena keimanan kita kepada nama-nama Allah subhanahu wa taala, kepada nama Allah As-Syahid, memang harus memunculkan dalam diri kita aplikasi dari terhadap keimanan atau dari keimanan terhadap nama tersebut.

Misalnya kita beriman bahwa Allah Al-Ghafur Maha Pengampun, maka aplikasi dari keimanan itu adalah kita menjauhi dosa. Dan kalau terjatuh ke dalam dosa, maka kita mesti memohon ampun kepada Allah subhanahu wa taala, karena Allah demikian pula. As-Syahid, kita mengetahui bahwa kita mengetahui dan meyakini bahwa Allah itu Maha Menyaksikan, Maha Mengetahui segala yang tampak dan yang gaib, yang kecil maupun yang besar, yang detail maupun yang tidak detail, itu semuanya diketahui oleh Allah.

Kalau kita sudah meyakini hal ini, maka konsekuensinya adalah kita harus, ya, kita harus mengaplikasikannya dalam kehidupan kita dengan merasakan dalam hati bahwa Allah melihat kita kapanpun, di manapun, dan dalam kondisi apapun. Sehingga ketika kita ingin beramal saleh, maka kita akan mengamalkan amal yang seindah, atau yang terindah, yang sebaik-baiknya, karena kita merasa bahwa Allah sedang melihat kita ketika beramal. Dan ketika kita berniat untuk bermaksiat, maka kita juga merasa bahwa Allah melihat kita, sehingga kita dana takut Allah melihat kita ke dalam keadaan bermaksiat kepada-Nya.

Jadi, ini merupakan konsekuensi dari makna as-syahid Allah. Di antara konsekuensi makna as-syahid yang mesti kita aplikasikan dalam kehidupan adalah bahwa kita tidak boleh bersaksi terhadap orang lain dengan persaksian palsu. Kita harus bersaksi sebagaimana adanya, sesuai hakikat. Tidak boleh kemudian menjadi saksi pada perkara-perkara yang zalim. Misalnya diajak menjadi saksi pada suatu hal, kita diajak menjadi saksi pada suatu perkara, tapi kita malah menjadi saksi untuk pihak yang salah. Ini tidak dibolehkan dalam Islam, karena ini sudah menyelisihi aplikasi dari keimanan kita kepada nama Allah As-Syahid.

Dan aplikasi yang benar adalah bahwa kita mesti menjadi seorang yang, ya, bersaksi pada kebaikan, bersaksi pada kebaikan, dan bukan bersaksi pada keburukan. Ini juga merupakan konsekuensi dari makna as-syahid.

Kemudian, as-syahid ini, para hadirin sekalian yang dimuliakan Allah, memiliki makna yang hampir sama dengan Ar-Raqib. As-Syahid ini memiliki makna yang hampir sama dengan nama Allah Ar-Raqib. As-Syahid itu adalah yang mengetahui segala sesuatu yang tidak tersembunyi darinya sesuatu pun. Itu namanya as-syahid. Tidak tersembunyi darinya sesuatu pun, baik yang besar, yang kecil, banyak, sedikit, dan sebagainya.

Sedangkan Ar-Raqib lebih detail dan lebih khusus dibandingkan daripada as-syahid. Karena Ar-Raqib ini bermakna zat yang mengetahui segala yang disembunyikan oleh hati. Zat yang bisa mengetahui segala yang disembunyikan oleh hati. Ini yang dinamakan Ar-Raqib. Kalau as-syahid tadi as-syahid lebih umum. Tapi kalau Ar-Raqib lebih khusus.

Jadi, pada dasarnya as-Sya'di sendiri mengatakan bahwa as-syahid dan Ar-Raqib ini memiliki makna yang sama. As-Syahid dengan Ar-Raqib ini memiliki makna yang sah. Meskipun dalam, ya, aplikasinya atau dalam penafsiran para ulama yang lain disebutkan bahwa Ar-Raqib ini lebih khusus, sebagaimana yang kita paparkan, bahwa Ar-Raqib ini lebih khusus pada hal-hal yang disembunyikan oleh hati.

Jadi, Ar-Raqib adalah zat yang mengetahui segala yang kita sembunyikan dalam hati kita. Itu namanya. Dan Ar-Raqib ini juga disebutkan oleh Allah dalam beberapa ayat dalam Al-Qur'an, di antaranya adalah dalam surah An-Nisa ayat pertama: "Innallaha kana alaikum raqiba." Sesungguhnya Allah Maha Mengawasi. Kalau Ar-Raqib ini diterjemahkan adalah Maha Mengawasi, Maha Mengetahui hal-hal yang detail. Itulah makna dari Ar-Raqib.

Juga disebutkan oleh Allah dalam surah Al-Ma'idah: "Wa kuntu alaihim syahidan ma kuntu fihim falamma tawaffaitani kuntu anta al-raqiba alaihim." Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka. Tetapi ketika Engkau mewafatkanku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan segala sesuatu.

Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Tidak ada yang tersembunyi darimu sedikitpun. Juga disebutkan oleh Allah dalam surah Al-Ahzab: "Wa kanallahu ala kulli syai'in raqiba." Sesungguhnya Allah mengawasi. Mengawasi dalam arti mengetahui semua hal yang tersembunyi atas sesuatu.

Jadi, Ar-Raqib ini pada dasarnya sama dengan as-syahid, tapi dia lebih, ya, lebih detail dan lebih khusus. Bahkan salah seorang ulama dari mazhab Syafi'i mengatakan, Ar-Raqib itu bermakna, kata beliau, Ar-Raqib ini bisa bermakna zat yang tidak lalai dari semua perbuatan makhluk. Semua perbuatan makhluk-Nya ada dalam pengawasan beliau, atau dia tidak lalai dari perbuatan-perbuatan tersebut.

Ibnu Katsir atau Ibnu Hajar mengatakan, Ar-Raqib itu bermakna bahwa Ar-Raqib itu bermakna zat yang memperhatikan seluruh kondisi makhluk. Pada dasarnya semua ini, baik pemaparan Ibnu Katsir atau Al-Hafizh atau yang kita paparkan tadi, pada dasarnya memiliki makna yang hampir berdekatan. Bahkan Az-Zajjaj itu menafsirkan Ar-Raqib sebagai as-syahid dan mengatakan, Ar-Raqib ya, ini merupakan makna syahid, bahwa Ar-Raqib adalah yang mengetahui, yang mengetahui atau yang menguasai segala sesuatu dan tidak tersembunyi darinya sesuatu.

Al-Alusi rahimahullah juga mengatakan, beliau mengatakan bahwa makna Ar-Raqib adalah dia senantiasa melihat hati-hati kalian dan mengetahui apa yang disembunyikan oleh hati kalian. Jadi, makna Syekh Al-Alusi rahimahullah, ini, beliau menafsirkan Ar-Raqib dengan penafsiran yang lebih detail, yang lebih detail dan lebih khusus daripada sekedar penafsiran dari makna as-syahid.

Jadi, pada dasarnya, Ar-Raqib adalah yang mengetahui hal-hal yang tersembunyi. Yang mengetahui hal-hal yang tersembunyi. Dan ini pula yang ditekankan atau yang ditegaskan oleh Ibnu Qayyim rahimahullahu taala, bahwa Allah itu adalah Maha Mengawasi, Maha Mengawasi pikiran yang ada di benak kita dan lintasan hati yang ada dalam hati-hati kita itu diketahui oleh Allah subhanahu wa taala.

Dan ini merupakan konsekuensi dari makna Ar-Raqib. Oleh sebab itu, makna Ar-Raqib ini berkonsekuensi keyakinan kita, keimanan kita kepada Ar-Raqib berkonsekuensi untuk memperbaiki niat kita. Niat-niat kita hendaknya diniatkan pada kebaikan. Segala amalan kita, amal saleh kita, diniatkan pada kebaikan dan menjauhi niat-niat yang menjauhi niat-niat yang buruk. Karena niat-niat yang buruk itu pasti diketahui oleh Allah subhanahu wa taala, sebesar apapun kesungguhan kita untuk menyembunyikan niat-niat buruk kita, Allah pasti mengetahuinya karena Dia Ar-Raqib.

Di antara konsekuensi keimanan kita kepada Ar-Raqib adalah agar kita membersihkan hati-hati kita dari berbagai macam penyakit. Karena penyakit hati sekecil apapun Allah mengetahuinya karena Dia adalah Ar-Raqib yang mengetahui segala yang tersembunyi dalam hati. Oleh sebab itu, sudah menjadi kewajiban bagi kita semua untuk membersihkan seluruh penyakit hati kita, membersihkan hati kita dari dendam, dari amarah, dari iri hati, dari hasad, dari dengki, dari hasad, dan dari niat-niat yang buruk. Karena Allah mengetahui hal tersebut dan akan menuliskan bagi kita keburukan lantaran niat yang kita sembunyikan, niat buruk yang kita sembunyikan dalam hati.

Bahkan kalau niat buruk tersebut kita sudah tekadkan dalam hati, itu tetap ditulis oleh Allah sebagai sebuah keburukan, walaupun kita tidak melakukannya. Sebagaimana dalam hadis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang berniat buruk, berniat untuk melakukan sesuatu amalan yang buruk, maksiat, lalu dia tidak sempat melakukannya, maka Allah tetap akan menuliskan baginya satu dosa."

Jadi, konsekuensi keimanan kita kepada Allah bahwa Dia bernama Ar-Raqib, Maha Mengawasi, Maha Mengawasi dan mengetahui segala yang kita sembunyikan, adalah memperbaiki, mensucikan hati-hati kita. Apalagi dalam hadis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu anhu, riwayat Muslim: "Allah tidak melihat rupa dan harta kalian. Allah tidak melihat seberapa ganteng Anda, seberapa cantik Anda. Allah tidak melihat seberapa kaya Anda, semiskin apa diri Anda. Allah tidak melihat hal itu."

Allah sama sekali tidak melihat hal itu, karena kegantengan, kecantikan itu bukan pilihan kita. Kekayaan dan kemiskinan juga, pada dasarnya adalah rezeki yang Allah berikan kepada kita semua. Jadi, Allah sama sekali tidak melihat rupa kita. Ganteng tidak ganteng, tampan tidak tampan, cantik tidak cantik. Allah tidak melihat. Apa gunanya memiliki ketampanan tubuh, tubuh, kecantikan wajah? Apa gunanya kalau hati kita, batin kita penuh dengan kebusukan, penuh dengan penyakit-penyakit hati, penuh dengan niat-niat kemaksiatan? Itu sama sekali tidak bermanfaat, sama sekali. Itu sama sekali tidak bermanfaat, karena Allah mengetahui semua itu.

Allah tidak melihat pada rupa dan kekayaan kalian, tetapi Allah melihat pada hati dan amalan-amalan kalian. Allah melihat pada hati-hati kita. Dan itu merupakan makna dari Ar-Raqib, Maha Mengawasi dan mengetahui yang tersembunyi dalam hati. Dan Dia juga mengetahui, melihat pada amalan-amalan kita. Dan ini merupakan konsekuensi dari makna as-syahid, mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati. Sedangkan as-syahid adalah mengetahui apa yang kita amalkan secara lahir, apa yang diamalkan oleh anggota tubuh.

Jadi, kedua-duanya adalah mengetahui segala sesuatu, tidak tersembunyi darinya sesuatu pun. Tetapi as-syahid lebih pada hal-hal yang tampak. As-syahid bahwa Dia mengetahui segala yang kita lakukan secara lahir. Sedangkan Ar-Raqib mengetahui semua hal yang kita sembunyikan dalam hati kita.

Jadi, konsekuensinya adalah marilah kita memperbaiki hati kita dan memperbaiki amalan kita. Marilah kita memperbaiki hati kita dan perbaiki amalan kita. Yang kita perbaiki, yang kita perindah, jangan hanya rupa kita, jangan hanya rumah kita, jangan hanya kendaraan kita. Semua itu tidak ada gunanya sama sekali kalau seandainya hati dan amalan kita belum mendapatkan rida dan cinta Allah subhanahu wa taala.

Barakallahu fikum wa jazakumullahu khairan. Saya kira sampai di sini Ustaz Hendri. Masyaallah. Sampai di sini ini pembahasan panjang-panjang. Tidak panjang-panjang. Kesimpulannya adalah bahwa as-syahid Maha Mengetahui hal-hal yang tampak dari diri kita, sedangkan Ar-Raqib Maha Mengetahui yang kita sembunyikan dalam hati kita. Jadi, keduanya saling melengkapi. Tapi pada dasarnya, kalau kita katakan syahid itu semuanya mencakup mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi. Demikian pula Ar-Raqib. Tapi kalau keduanya disandingkan, keduanya disebutkan bersamaan, sebagaimana dalam surah Al-Ma'idah tadi, "Engkau adalah Maha Mengawasi, mengetahui, dan Engkau adalah Maha Menyaksikan segala sesuatu." Maka makna, kalau disandingkan, disebutkan bersamaan, maka as-syahid adalah mengetahui hal-hal yang lahir dari diri kita, amalan-amalan kita. Sedangkan Ar-Raqib adalah bahwa Allah Maha Mengetahui hal-hal yang tersembunyi dari hati kita. Dan ini merupakan konsekuensi dari hadis yang telah kita sebutkan tadi. Allah tidak memandang pada rupa dan harta kalian, tetapi Allah memandang pada hati dan amalan-amalan kalian.

Barakallahu fikum, Ustaz. Mungkin untuk mengefisienkan waktu, Ustaz, kita langsung saja masuk di sesi tanya jawab. Ustaz.

Bismillah. Kami izinkan kami izin baca soalnya, Ustaz. Yang pertama masuk. Bismillah. Afwan, Ustaz. Kalau kita misalnya sedang sakit dan dirawat inap, kemudian pakaian kita tidak bersih dan susah untuk mengganti baju, apakah salatnya kira-kira boleh dijamak? Dijamak dari zuhur sampai isya.

Baik, masyaallah. Ini satu pertanyaan tapi banyak ininya, banyak perincian-perinciannya. Apakah pertanyaan Anda bahwa pakaian Anda tidak bersih? Pakaian tidak bersih itu bisa bermakna dua. Bisa bermakna kotor tapi bukan najis. Itu yang pertama. Yang kedua, bisa bermakna kotor tapi, ya, yang kedua bisa bermakna bernajis.

Jadi, makna pertama, pakaian Anda kotor tapi bukan najis. Misalnya bekas kotoran atau apa dan sebagainya, dan bukan najis, maka Anda bisa memakai pakaian tersebut untuk salat. Anda bisa memakai pakaian tersebut untuk salat. Adapun bila pakaian Anda bernajis, kotor dalam artian memiliki najis, ada darahnya, ada percikan darah yang banyak misalnya, ada najisnya, maka Anda tidak bisa menggunakan pakaian Anda untuk Anda tidak bisa menggunakan pakaian Anda untuk salat.

Sekarang kita melihat pada kondisi Anda. Sebetulnya hukum asal pakaian yang kotor dan pakaian yang kotor tapi non-najis dan pakaian yang bernajis ini kita bawa pada kondisi Anda yang sekarang. Kondisi Anda dalam keadaan dirawat di rumah sakit, dalam keadaan dirawat di rumah sakit. Bahwa Anda dirawat inap. Kalau Anda, akhi Luthfi, penyakit Anda tidak parah dan Anda tidak sedang diinfus, artinya biasa-biasa saja dirawat inap dan bisa salat tepat pada waktunya, bisa salat tepat pada waktunya dengan pakaian yang kotor tapi tidak bernajis, ya, Anda sekarang memakai pakaian yang tidak kotor tapi yang apa? Pakaian yang kotor tapi bukan najis. Kalau Anda bisa salat, kalau Anda bisa salat setiap salat pada waktunya, maka itu lebih bagus. Walaupun pakaian Anda kotor tapi bukan najis, salat Anda tetap sah.

Nah, tetapi kalau Anda kesulitan, antum kesulitan misalnya karena Anda diinfus misalnya, atau ada hal-hal lain yang membuat Anda susah untuk bergerak, maka pada saat itu kalau pakaian Anda kotor tapi bukan najis, Anda tetap dibolehkan untuk menjamak. Anda dibolehkan untuk menjamak antara zuhur dengan asar, dan menjamak magrib dengan isya. Tetapi ingat, karena Anda mukim, karena Anda mukim, maka Anda tidak bisa mengqasar. Anda hanya dibolehkan untuk menjamak antara zuhur dengan asar dengan salat yang sempurna. Zuhur empat rakaat, asar empat rakaat, dan dijamak dilaksanakan pada salah satu waktu di antara keduanya. Demikian pula magrib dengan isya, magrib tiga rakaat dan isya empat rakaat, dan tidak boleh diqasar karena qasar itu adalah khusus untuk orang-orang yang musafir. Qasar itu khusus untuk orang-orang yang musafir, sedangkan jamak dibolehkan bagi orang yang musafir ataupun yang non-musafir, tapi dengan syarat orang yang non-musafir menjamak salat karena adanya hal yang mendesak, seperti kondisi Anda sedang dirawat dan kesusahan untuk melaksanakan salat setiap salat pada waktunya.

Jadi, tadi saya ulangi, kalau pakaian Anda kotor tapi kotor ini bukan najis, dan Anda bisa salat setiap waktu salat pada waktunya, maka itu lebih bagus. Itu lebih bagus. Tapi kalau, maka itu sudah kewajiban, bukan lebih bagus, itu sudah kewajiban. Tapi kalau Anda kesulitan untuk salat setiap salat pada waktunya karena Anda diinfus, dilarang untuk banyak bergerak, dan sebagainya, maka Anda boleh menjamak. Anda boleh menjamak dengan pakaian kotor tadi, walau pakaian kotor yang bukan najis.

Jelas? Nah, bagaimana kalau pakaian Anda bernajis dan susah untuk menggantinya? Bagaimana kalau pakaian Anda bernajis dan susah untuk menggantinya? Maka pada saat itu adalah Anda tetap salat pada waktunya. Anda salat zuhur pada waktunya, salat asar pada waktunya, salat magrib pada waktunya, salat isya pada waktunya. Kalau kesulitan diinfus atau susah bergerak, maka silakan salat dengan pakaian najis. Enggak ada problem. Silakan salat dengan pakaian najis. Walaupun salat Anda tidak sah, walaupun tidak sah. Ketika Anda pulang ke rumah, maka wajib seluruh ketika Anda pulang ke rumah, maka wajib seluruh salat zuhur dengan niat qada, kemudian salat asar mengganti salat asar, kemudian mengganti salat magrib dan mengganti salat isya. Karena salat Anda tadi itu tidak sah hukumnya.

Tapi kenapa Ustaz saya disuruh salat padahal tidak sah? Hukumnya Anda disuruh salat demi untuk menghargai waktu-waktu salat. Anda disuruh salat demi untuk pertama, menghargai waktu-waktu salat agar tidak terlewatkan satu salat pun kecuali Anda salat, walaupun itu tidak sah. Walaupun itu tidak sah. Ketika pakaian Anda sudah suci, maka saat itulah Anda kemudian diwajibkan untuk mengganti salat-salat yang Anda lakukan dalam keadaan bernajis. Itu yang pertama. Yang kedua, kenapa salat padahal bernajis? Yang kedua adalah demi untuk kehati-hatian. Demi untuk kehati-hatian. Karena seorang muslim yang melewatkan salat wajib dosanya sangat besar di sisi Allah subhanahu wa taala. Dan kondisi Anda sekarang tidak bisa mengganti pakaian Anda yang bernajis, maka Anda salat dengan kondisi Anda.

Jadi, seorang muslim yang mendapatkan waktu salat dan waktu salat mau keluar, mau habis, sedangkan dia belum sempat untuk membersihkan diri, masih bernajis, dan sebagainya, mungkin dia tidak punya pakaian misalnya, sedangkan waktu salat akan habis, maka pada saat itu dia harus melaksanakan salat demi untuk pertama, menghargai waktu salat. Dan yang kedua, untuk mengambil kehati-hatian. Untuk mengambil kehati-hatian. Karena Allah berfirman: "Fattaqullaha mastata'tum." Bertakwalah kepada Allah semampu kalian. Maka walaupun tidak punya pakaian atau pakaian kita bernajis, maka silakan salat saja. Salat semampu kalian. Tapi ingat, untuk kehati-hatian kita harus mengganti salat tersebut di lain waktu ketika kita sudah suci. Ketika antum sudah sembuh, silakan ganti salat tersebut. Karena untuk menjaga kehati-hatian kita, jangan sampai salat yang tidak sah itu dianggap sah di sisi Allah subhanahu wa taala, sehingga kita harus membakupnya dengan qada, dengan qada salat itu di lain waktu.

Barakallahu fikum.

Barakallah fikum atas jawabannya, Ustaz. Kemudian, tafadhal.

Iya, Ustaz. Sudah sudah.

Iya, Barakallah fikum. Langsung ke pertanyaan selanjutnya, Ustaz. Bismillah. Afwan, Ustaz. Boleh minta rekomendasi kitab untuk belajar akidah bagi pemula.

Baik. Ini saya lihat ini waliul Akbar. Masyaallah. Akidah belajar ya, mempelajari akidah bagi pemula. Tentunya mempelajari akidah. Akidah ini bisa dikategorikan pada dua jenis, ya, atau penuntut ilmu. Akidah ini bisa dikategorikan pada dua jenis. Pertama, penuntut ilmu yang benar-benar penuntut ilmu. Misalnya teman-teman yang belajar di STIBA, itu penuntut ilmu. Fokus untuk menuntut ilmu. Fokus untuk menuntut ilmu. Maka buku yang mereka harus pelajari dalam bidang akidah juga ditentukan. Kedua, penuntut ilmu yang bukan seperti di STIBA. Dia penuntut ilmu, tapi tidak seintens, tidak sefokus para penuntut ilmu yang di STIBA. Misalnya, ikhwan-ikhwan misalnya yang belajar di kajian biasa, di majelis kajian biasa. Buku keduanya berbeda.

Buku keduanya berbeda. Kalau para penuntut ilmu yang belajar, yang fokus belajar, fokus menuntut ilmu, maka mereka, ya, bagi pemula, mereka harus mempelajari beberapa buku akidah. Yang pertama adalah Al-Usul Al-Arba'ah. Yang pertama adalah buku akidah Al-Usul Al-Arba'ah dengan syarahnya tentunya. Syarahnya siapa pun insyaallah bisa bisa dipakai. Kemudian yang kedua, Matan Akidatuna wa Manhajuna. Matan Akidatuna wa Manhajuna, yang merupakan buku ajar dalam buku ajar akidah dalam internal Wahdah Islamiah. Ini juga perlu untuk dipelajari. Dan sekarang buku-buku Matan Akidatuna ini jadi diktat untuk fakultas, untuk Fakultas Ilmu Hadis di Makassar. Ini juga merupakan buku yang bagus untuk pelajar, walaupun syarahnya sampai sekarang belum kelar. Subhanallah. Dan kita syarahnya ini mungkin kita agendakan selesai Ramadan, insyaallah.

Jadi, yang pertama, Al-Usul Al-Arba'ah karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Yang kedua, Matan Akidatuna wa Manhajuna. Kemudian yang ketiga adalah buku Usul Al-Iman karya Syekh Ibnu Utsaimin. Karya Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullahu taala. Ini. Kemudian selanjutnya adalah Kitab Tauhid karya Muhammad bin Abdul Wahab dan Al-Wasithiyah karya Ibnu Taimiyah. Itu untuk yang mutakhasis atau yang spesialis dalam menuntut, yang fokus dalam menuntut.

Kemudian untuk yang belajar akidahnya cuma di kajian-kajian biasa, belajar akidahnya cuma di kajian-kajian biasa, maka buku yang paling bagus juga untuk mereka baca adalah pertama, Al-Usul As-Salasah. Juga Al-Usul As-Salasah itu umum. Al-Usul As-Salasah. Kemudian Usul Al-Iman karya Syekh Muhammad bin Utsaimin. Usul Al-Iman karya Syekh Muhammad bin Al-Utsaimin rahimahullahu taala. Lalu kemudian, ya, buku-buku secara umum buku-buku Syekh Muhammad Ibnu Utsaimin. Buku-buku akidah beliau itu sangat direkomendasikan buat untuk, ya, buat para penuntut ilmu yang ada di majelis-majelis ini, karena bahasa beliau sangat mudah, yang mudah dipahami oleh seluruh kalangan.

Barakallahu fikum. Dan buku yang paling bagus untuk dijadikan sebagai pemula adalah Al-Aqidah Al-Muyassarah. Buku Al-Aqidah Al-Muyassarah karya Syekh Ahmad Al-Qadi. Karya Syekh Ahmad Al-Qadi, murid senior Syekh Ibnu Utsaimin sekaligus temannya Syekh Abdullah Az-Zaidani. Namanya Al-Aqidah Al-Muyassarah. Buku ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Buku ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Tersebar di internet, ya, pdf-nya. Dan saya sendiri yang menjadi editor untuk buku tersebut.

Barakallahu fikum, Ustaz Hendri. Ya, mungkin berpindah pada mungkin tambahan sedikit pertanyaan. Sampai kapan batas seseorang bisa belajar mandiri? Maksudnya belajar agama secara mandiri tanpa seorang guru, Ustaz.

Tib. Sampai kapan belajar mandiri? Tidak ada batasannya. Tidak ada batasannya. Yang penting kita sambil belajar mandiri, sambil belajar pada seorang guru. Jadi, belajar mandiri dan belajar pada seorang guru seharusnya harus berjalan beriringan. Tidak boleh Anda belajar pada seorang guru, lalu kemudian pulang ke rumah cuma tidur-tidur, tidak belajar mandiri. Itu problem. Kebanyakan kita semua sekarang, problem kita para penuntut ilmu zaman sekarang itu rajinnya cuma pergi ke majelis taklim, rajinnya cuma pergi kuliah agama, pulang ke rumah cuma tidur-tidur dan tidak belajar mandiri. Itu problem. Makanya ilmu kita tidak berkembang. Kenapa tidak berkembang? Karena kita tidak belajar mandiri. Kita hanya datang kepada majelis Syekh. Itu pun kalau bawa buku catatan, alhamdulillah. Kadang tidak bawa buku catatan. Akhirnya kalau tidak bawa buku catatan, catatan yang tersisa dari kajiannya cuma 1% dari seluruh kajian yang dibawakan oleh Ustaz kita, oleh Syekh. Cuma 1% yang tersisa di otak kita karena kita tidak bawa. Belum lagi kalau kita pulang ke rumah hanya santai-santai, tidak mau belajar mandiri. Ini problem.

Jadi, para ikhwan dan akhwat sekalian, para hadirin dan hadirat sekalian, mulai sekarang kita harus mengubah cara belajar kita. Kalau kita hadir di kajian, simak kajian YouTube, ambil catatan, sambil mencatat. Kemudian catatan tersebut jangan disimpan rapi di buku kita. Jangan dibuang. Catatan tersebut dijaga, kemudian dibaca berulang-ulang. Kalau kita lakukan seperti ini, maka itu sangat membantu kita memperbanyak belajar mandiri dengan membaca, mendengarkan ceramah-ceramah YouTube.

Jadi, belajar Syekh dan belajar mandiri ini harus berjalan beriringan. Tidak boleh Anda belajar sama Syekh, baru kemudian tidak belajar mandiri. Pulang ke rumah cuma santai-santai. Ini tidak dibolehkan. Ini kelalaian yang sangat besar. Sebaliknya, tidak boleh Anda belajar mandiri, kemudian tidak mau belajar sama Syekh. Tidak mau hadir kajian taklim dan sebagainya. Ini juga problem. Orang yang cuma belajar mandiri dan meninggalkan majelis ilmu, majelis penting, meninggalkan Ustaz. Orang seperti ini kesalahannya akan lebih banyak daripada kebenaran. Oleh sebab itu, harus berjalan beriringan. Kalau berjalan beriringan, belajar mandiri di rumah, murajaah, banyak membaca, banyak mendengarkan YouTube, kemudian rajin di majelis taklim, kalau keduanya beriringan, saya yakin Anda akan menjadi orang yang berilmu. Saya yakin Anda akan menjadi orang yang berilmu. Karena orang yang berilmu itu bukan orang yang hanya datang kajian lalu pulang santai. Itu tidak akan berilmu. Itu tidak akan berilmu. Oleh sebab itu, keduanya beriringan. Sampai kapan belajar sama Syekh? Sampai meninggal. Sampai meninggal. Karena saya juga, subhanallah, saya mendapati guru-guru saya juga masih belajar pada gurunya. Bayangkan Syekh Hamid Akram. Syekh Hamid Akram yang sudah berumur 55 tahun, sedikit lagi 60 tahun, itu masih belajar lagi kepada gurunya. Kepada gurunya. Kita ini siapa ini? Cuma mu'allim.

Tinggalkan keduanya. Antara belajar mandiri dan belajar sama Syekh. Kalau dalam belajar mandiri kita memiliki banyak masalah yang sulit, maka saat itulah kita harus banyak bertanya kepada guru-guru kita yang lebih alim.

Barakallahu fikum.

Tib. Ustaz. Syukran jawabannya, Ustaz. Ee selanjutnya, Ustaz. Bismillah. Apakah mempercayai pamali atau sesuatu yang dapat membawa sial termasuk syirik kecil?

Baik. Pembawa sial atau hal yang menyebabkan kesialan itu bisa benar dan bisa salah. Maksiat misalnya, maksiat itu 100% bisa membawa pada kesialan. Anda melihat orang yang berjudi, Anda mengatakan itu pamali. Itu betul. Berjudi itu pamali, bisa membawa kesialan Anda. Anda melihat orang yang tidak berbakti pada orang tuanya, mengatakan itu pamali, bisa membawa kesialan. Itu sebuah itu benar. Yang namanya kesalahan dan dosa itu adalah faktor kesialan.

Tapi ada juga pamali yang tidak benar. Ada juga ada juga sumber atau sesuatu yang diklaim sebagai sumber kesialan tapi tidak benar. Tapi tidak benar. Nah, inilah yang dikategorikan sebagai sebuah kesalahan. Bisa pamali yang atau pamali yang tidak benar ini bisa hanya berupa dosa biasa, dan bisa juga berupa syirik kecil. Keyakinan kita pada sesuatu bahwa ini bisa membawa kesialan, bisa berupa dosa biasa dan bisa berupa syirik kecil.

Dosa biasa, misalnya kita salah dalam menilai. Kita salah dalam menilai. Misalnya Anda melihat anak kecil salat di saf pertama. Allah mengatakan, "Pamali anak kecil harus di belakang." Itu tidak bisa seperti itu. Keyakinan Anda pada hal tersebut adalah sebuah dosa, karena anak kecil berhak. Apalagi yang sudah mumayiz, 7 tahun, 8 tahun, memang berhak untuk mendapatkan saf pertama, selama ia yang pertama kali mendapatkan. Ketika Anda mengatakan, "Wahai anak kecil, pamali kalau Anda berada di saf pertama," maka itu Anda melakukan sebuah dosa. Anda melakukan sebuah sebuah dosa.

Adapun terkait dengan pamali yang bersifat kesyirikan kecil, maka ini juga ada dalam keyakinan-keyakinan masyarakat. Ada dalam keyakinan-keyakinan masyarakat. Misalnya mendengar suara burung hantu pada malam hari. Subhanallah. Mengatakan ini burung hantu, ini burung hantu penyebab kesialan. Ini masuk dalam syirik kecil, karena sudah berkaitan dengan metafisika, berkaitan dengan hal-hal yang gaib. Ini burung hantu datang dengan membawa setan. Juga masuk dalam kategori.

Pertanyaan selanjutnya, Ustaz. Bismillah. Dari Nur Sodrina, Ustaz. Izin bertanya, bagaimana hukumnya jalan santai atau pawai keliling lingkungan perumahan, kompleks sekolah SD, dalam rangka anak-anak SD menyambut bulan Ramadan?

Baik. Jalan santai dalam, ya, untuk keliling demi menyambut bulan Ramadan, tidak ada problem, insyaallah. Ada problem, selama kegiatannya bermanfaat. Selama dalam keliling tersebut dijelaskan tentang keutamaan Ramadan, dijelaskan tentang komitmen bagi anak-anak SD bulan Ramadan dengan zikir, dengan baca Quran, dengan tadarus Al-Qur'an dan sebagainya. Saya kira tidak ada problem, insyaallah ta'ala.

Barakallahu fikum. Asal jangan dianggap memiliki keutamaan khusus, ya, pawai keliling. Ya, jangan dianggap memiliki keutamaan khusus. Tidak boleh. Cukup kita pawai keliling sebagai tanda bahwa kita akan memasuki Ramadan. Dan juga agar anak-anak diberikan edukasi, diberikan edukasi tentang amalan-amalan Ramadan, juga komitmen mereka agar bisa ikut serta dalam melatih diri mereka dalam ibadah-ibadah Ramadan, salat malam, kemudian puasa, kemudian zikir, tadarus Al-Qur'an, sedekah, dan amalan-amalan lain.

Barakallahu fikum. Selanjutnya, Ustaz. Bismillah. Apakah jika kita waswas secara berlebihan itu tidak boleh? Dan apakah waswas itu akan dihisab juga? Mohon penjelasannya, Ustaz.

Baik. Waswas itu kan gangguan dari setan. Waswas itu gangguan dari setan. Oleh sebab itu, kalau sudah merasa waswas, hendaknya memohon perlindungan kepada Allah subhanahu wa taala dengan membawa, dengan membaca dua qul. Qul a'udzu birabbil falaq dan qul a'udzu birabbin nas. Terutama kalau sudah merasa waswas. "Saya waswas sudah sudah sangat berlebihan." Maka baca surah Annas. Kenapa surah Annas? Karena surah Annas itu adalah surah yang berisi perlindungan dari gangguan setan yang tersembunyi. Sedangkan surah Al-Falaq berisi perlindungan kepada Allah dari gangguan setan yang tampak atau lahiriah.

Jadi, surah Al-Falaq berisi perlindungan kepada Allah dari gangguan setan yang lahiriah, yaitu Al-Falaq. Sedangkan Annas berisi perlindungan kepada Allah dari gangguan setan yang bersifat batiniah, bersifat tersembunyi. Maka banyak-banyak kemudian beristigfar kepada Allah dan beristia'dah padanya ketika kita merasa waswas. Dan waswas itu tidak boleh berlebihan. Waswas tidak boleh berlebihan. Kalau berlebihan, maka itu bisa saja menjadi sebuah dosa. Pertama, bisa menjadi sebuah dosa, dan akan sangat mengganggu diri kita. Ada orang yang salatnya, takbiratul ihramnya sampai 10 kali karena waswas. Itu problem. Itu problem. Dia, "Allahu Akbar." Merasa, "Oh, tadi saya belum berniat." Dia ulangi. "Allahu Akbar." "Tadi niat saya belum masih setengah." Itu ada teman-teman yang seperti itu. 10 kali, 20 kali takbiratul ihramnya diulang-ulang. Itu sudah waswas dan merupakan gangguan dari gangguan dari setan.

Apakah akan dihisab? Ya, tergantung pada orang, tergantung pada faktor waswasnya. Kalau faktor waswasnya berasal dari dirinya sendiri, dia tidak berusaha untuk menolak waswas dari setan, maka itu akan dihisab. Tapi kalau waswas ini sudah menjadi penyakit dirinya yang dia tidak bisa lawan, maka semoga Allah memberikan maaf kepadanya. Semoga Allah memberikan maaf kepadanya. Barakallahu fikum. Ini problem ini, seputar materi atau dan lain-lain.

Ya, Ustaz. Selanjutnya, Ustaz. Bismillah. Izin bertanya, Ustaz. Kita sudah mendapatkan ilmu bahwa Allah Maha Menyaksikan dan mengawasi. Pertanyaannya, apakah dosa-dosa kita yang sudah kita sesali di masa lalu dan kita sudah bertobat darinya, itu dapat terhapus dari catatan amal buruk kita dan ia tidak ditampakkan di hari kiamat kelak?

Baik, barakallahu fikum. Ini pertanyaan yang bagus. Baik, amalan-amalan maksiat yang kita telah lakukan pada masa lalu, lalu kita bertobat dengan tobat yang sungguh-sungguh kepada Allah subhanahu wa taala, apakah dosa kita tersebut memang benar-benar sudah dihapus oleh Allah dari catatan amalan kita dan tidak akan lagi ditampakkan oleh Allah? Ini tergantung pada kesungguhan kita dalam memohon ampun kepada Allah subhanahu wa taala.

Ada orang yang diampuni oleh Allah subhanahu wa taala dalam bentuk diampuni dosanya, tapi catatan keburukannya tetap catatan keburukan yang tidak dihapus. Tetapi Allah sudah ampuni. Dan ada juga orang yang Allah ampuni sekaligus semua catatan keburukannya dihapus oleh Allah. Dan ini merupakan perbedaan antara al-maghfirah dengan al-'afwu. Al-maghfirah dengan al-'afwu.

Al-'afwu itu, al-'afwu itu Allah mengampuni kita sekaligus menghapus semua catatan keburukan kita dari buku amalan kita. Itu namanya al-'afwu. Sedangkan al-maghfirah belum tentu. Al-maghfirah itu dari kata ghafr, ghafr itu adalah menutupi. Jadi, catatan amalan keburukan kita Allah tutupi, tapi belum tentu dihapus. Tapi belum tentu dihapus. Oleh sebab itu, marilah kita sama-sama semua memohon maghfirah dan al-'afwu dari Allah subhanahu wa taala dengan sungguh-sungguh.

Kalau ada orang yang sungguh-sungguh untuk meminta, bertobat kepada Allah, kesungguhannya sangat luar biasa, maka insyaallah Allah akan menutup dosanya dan menghapus catatan amal keburukannya dari buku amalnya dan tidak akan lagi ditampakkan pada hari kiamat, insyaallah. Tapi kalau yang tobatnya juga biasa-biasa saja, tobatnya, maka mungkin Allah, mungkin Allah hanya menutupi dosa tersebut dan dia tidak menghapusnya dari catatan amalan. Kalau Allah tidak menghapusnya dari catatan amalan, maka Allah tetap akan menyebutkan, menyebutkan dosa-dosa tersebut kepada diri kita ketika kita bertemu dengan Allah. Tetapi Allah tidak akan tampakkan kepada seluruh makhluk, karena yang namanya ampunan itu, maghfirah itu adalah Allah menutup dosa kita.

Jadi, al-maghfirah artinya Allahu al-ghub. Maghfirah itu artinya Allah menutup dosa kita agar tidak diketahui oleh seorang pun sekaligus memberikan kita ampun. Sedangkan al-'afwu, Allah tidak hanya menutup dosa kita, tapi langsung menghapus semua jejak dosa kita.

Barakallahu fikum.

Pertanyaan selanjutnya, bismillah. Mohon arahannya, Ustaz, buku yang baik untuk dipelajari bagi pemula dalam menuntut ilmu ini. Dalam menuntut ilmu ini bisa dibagi tadi seperti tadi, penuntut ilmu yang fokus menuntut ilmu, seperti yang masuk di STIBA. Kalau mau belajar di saya, kita ajar, siap menerima di akademik, insyaallah. Beliau staf akademik di STIBA. Iya. Jadi, buku yang baik untuk dipelajari bagi pemula dalam menuntut ilmu. Kalau Anda belajarnya fokus untuk belajar, baik, belajar fokus belajar, maka bukunya sangatlah banyak. Bukunya sangatlah banyak dari buku akidah, buku fikih, dan sebagainya. Buku fikih, buku Ushul Fikih, buku hadis, ilmu hadis, dan sebagainya.

Tapi secara umum, ya, bagi penuntut ilmu yang serius untuk menuntut ilmu, yang pertama, mempelajari buku fikih ringkas. Mempelajari buku fikih ringkas itu yang pertama. Buku-buku fikih ringkas. Kalau dalam mazhab Syafi'i, Matan Abi Syuja, misalnya, enggak ada problem. Dan dalam hadis, hendaknya mempelajari syarah Al-Arba'in An-Nawawiyah. Dalam hadis, hendaknya mempelajari syarah Al-Arba'in An-Nawawiyah.

Baik. Dalam pelajaran akidah, hendaknya mempelajari Mujmal Ushul, apa namanya, Al-Usul, Mujmal Al-Usul Syekh Nasir Al-Aql. Atau bukunya Syekh Al-Utsaimin, Al-Usul, syarah Al-Usul Al-Arba'ah. Dan Usul Al-Iman, syarah Al-Usul, syarah Usul Al-Iman. Itu secara umum. Barakallahu fikum.

Ini pertanyaan masih ada beberapa dan waktu sudah mau habis. Apa mau dilanjut secara ringkas? Saya yang pertama, bagaimana hukum rumah kita yang dikontrak untuk usaha dan di rumahnya ada menjual rokok? Sama dengan kita menyewakan rumah dan rumah tersebut orangnya melakukan kemaksiatan di dalamnya. Kita tidak kita tidak berdosa, insyaallah, karena bukan itu yang merupakan perjanjian kita dengan orang dengan penyewa. Jadi, kalau kita punya rumah dikontrak dan dia di dalamnya menjual rokok dan menjual-menjual yang lain-lain, itu sudah di luar tanggung jawab kita. Sama dengan kita menyewakan rumah kepada orang lain, lalu orang tersebut di dalam rumah tersebut dia melakukan sebuah kemaksiatan. Itu bukan tanggung jawab, bukan tanggung jawab kita. Barakallahu fikum.

Tib. Ustaz. Selanjutnya, Ustaz. Eh, ini masih berhubungan dengan pertanyaan tentang pawai tadi, Ustaz. Eh, bagaimana dengan pawai takbiran dengan membawa obor, Ustaz? Maksudnya pawai menyambut bulan Ramadan.

Membawa obor. Kalau dengan obor, ya, ini juga bisa dikhawatirkan bisa menyerupai pawai-pawainya non-muslim. Bisa menyerupai pawai-pawai Olimpiade, bisa menyerupai pawai-pawai yang dilakukan oleh non-muslim. Jadi, kalau mau pawai, hendaknya tidak perlu membawa obor dan tidak perlu malam hari. Ya, tidak perlu membawa obor dan tidak perlu malam hari.

Selanjutnya, Ustaz. Eh, bismillah. Bagaimana hukumnya orang yang sering bernazar?

Subhanallah. Nazar hukumnya makruh. Nazar hukumnya makruh. Kenapa makruh? Karena nazar itu adalah mewajibkan sesuatu yang tidak wajib bagi diri kita. Allah itu menyukai, Allah itu senang suka memberikan keringanan kepada diri kita. Allah itu selalu memberikan keringanan kepada diri kita. Nah, ketika kita memberatkan diri kita dengan bernazar, maka itu artinya menyelisihi keinginan Allah pada diri kita, karena Allah menginginkan keringanan, kemudahan bagi diri kita. Tetapi kita ternyata menginginkan beban, sesuatu yang bukan wajib kita wajibkan pada diri kita. Karena itu, para ulama mengatakan itu hukumnya makruh. Itu hukumnya makruh.

Tetapi kalau seandainya memang ada hal yang sangat penting untuk dinazarkan, maka ya, silakan bernazar. Ya, silakan bernazar. Dan kalau sudah tercapai, maka hendaknya berusaha untuk mewujudkan nazar tersebut. Tapi kebanyakan bernazar ini hukumnya sangat makruh. Bahkan dalam suatu hadis, "Innama yastakshirun an-nazar." Rasulullah mengatakan, "Nazar ini hanyalah, atau nazar ini seringkali diucapkan oleh orang-orang yang bakhil, yang kikir." Kenapa orang kikir? Karena dia mau beribadah kalau Allah memberikannya, merealisasikan kalau Allah mewujudkan apa yang dia nazarkan. "Ya Allah, kalau Engkau selamatkan saya, luluskan saya, saya akan berpuasa." Dia itu. Itu artinya dari segi kalkulasi kita itu sudah namanya kikir. Itu namanya kikir. Karena Anda tidak mau, karena Anda mau puasa dengan syarat Allah memberikan Anda kelulusan. Itu kikir namanya. Kalau mau beribadah, beribadah saja. Berpuasa saja, tidak usah bernazar.

Dan tapi kalau sudah bernazar, maka enggak ada problem. Ya, silakan nazarnya di diwujudkan. Karena Allah mencintai orang-orang yang mewujudkan nazarnya. Allah memuji orang-orang yang memenuhi nazar. Tetapi untuk memulai nazar, hendaknya banyak berpikir, karena itu merupakan sebuah hal yang makruh. Sebuah hal yang dimakruhkan dalam Islam. Belum lagi karena memperberat diri kita sendiri. Allah, sebagai gantinya, banyak-banyak saja berdoa dan tidak perlu bernazar. Banyak-banyak berdoa dan tidak perlu bernazar. Banyak-banyak berdoa di akhir malam, dalam sujud, meminta doa kepada orang-orang yang saleh, kepada para ustaz-ustaz yang saleh. Itu semuanya merupakan usaha kita. Dan kalau bisa menjauhi nazar, barakallahu fikum.

Baik, Ustaz. Dua pertanyaan terakhir, Ustaz. Yang pertama, eh, apa perbedaan antara al-'afwu dan afwan?

Baik. Semuanya, al-'afwu dan afwan memiliki makna yang sama. Tapi yang pertama, afwan, ain, fa, wau, dengan dua dengan tanwin. Afwan. Kemudian al-'afwu, dimasuki oleh alif lam, sehingga wau terakhir tidak bertanwin dan dikasih dammah. Al-'afwu. Keduanya sama saja. Ketika Anda, apa namanya, ketika ada orang mengatakan kepada Anda, "Syukron," maka Anda bisa menjawab, "Afwan," dan bisa menjawab, "Al-'afwu." Bisa menjawab afwan dan bisa menjawab al-'afwu. Keduanya memiliki makna yang sama.

Ee, memiliki makna yang sama dalam artian, al-'afwu di sini bisa bermakna maafkan atas segala jenis kekurangan. Dia mengatakan, "Terima kasih." Anda kemudian menjawab, "Al-'afwu," artinya Anda seakan-akan mengatakan kepadanya, "Sama-sama," dan saya mohon maaf kalau ada kekurangan dalam pelayanan saya atau dalam bantuan saya. Barakallahu fikum.

Yang terakhir, Ustaz. Bismillah. Mohon izin bertanya, Ustaz. Kiat untuk menasihati istri agar tidak sering main HP terus.

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ini problem ini, subhanallah. Menasihati istri agar tidak sering main HP terus. Bagaimana cara menasihatinya? Ya, intinya adalah bahwa dinasihati seperti biasa. Tanyakan kepada konselor atau konsultan-konsultan dengan ini. Ya, saya juga kurang paham. Kalau menasihati anak-anak, bisa. Tapi kalau menasihati istri, Allahu a'lam.

Ada lagi satu pertanyaan yang masuk. Mau dijawab juga?

Iya, bismillah. Bagaimana hukumnya ketika orang tua menjalankan puasa duluan, tapi kami sebagai anak ikut pemerintah? Bagaimana? Apakah itu tidak mengganggu ibadah kita?

Iya, tidak mengganggu, insyaallah ta'ala. Silakan membiarkan orang tua dengan keyakinannya, dengan pendapatnya, dengan pandangannya. Tapi kita sebagai anak juga memiliki pilihan bahwa mengikuti pemerintah dalam menentukan awal puasa dan akhir puasa adalah hal yang dianjurkan. Hal yang sangat dianjurkan. Dan itu merupakan pendapat yang benar dalam mazhab Syafi'i saja. Dalam mazhab Syafi'i, itu menentukan awal Ramadan dengan keputusan pemerintah, keputusan pengadilan. Keputusan pengadilan. Kalau sekarang kita keputusan Kementerian Agama. Dan itu merupakan hal yang mesti dilakukan. Kenapa? Karena kalau setiap rakyat menentukan awal puasa sendiri, bisa kacau. Muhammadiyah menentukan sendiri, kemudian yang lain-lain menentukan sendiri, bisa kacau dunia kalau seandainya setiap yayasan, setiap ormas menentukan hari puasa, awal puasa sendiri.

Oleh sebab itu, mengikuti pemerintah merupakan hal yang sangat bijak dan merupakan pendapat yang paling benar dalam persoalan dalam persoalan ini. Maka biarkan saja orang tua kita berpuasa sesuai dengan pendapatnya, dan kita sebagai anak tetap menghargai itu walaupun berbeda dengan orang tua kita. Barakallahu fikum.

Baik, Ustaz. Kami ucapkan jazakallah khair atas materi malam hari ini dan juga jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang masuk. Eh, mungkin kita langsung tutup saja, Ustaz, untuk sesi konsultasi syariah pada malam hari ini. Mari kita tutup dengan doa kafaratul majelis.

Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.

Barakallahu fikum. Wa jazakumullahu khairan. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Barakallahu fikum. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Masyaallah. Barakallahu fikum.