Transcription
Halo semuanya, kembali lagi di podcast Suara Berkelas. Hari ini, teman-teman yang mungkin punya problem dengan overthinking ya, dengan tidak produktif, aku ajak teman aku, ada Samara Fahrana. Halo, teman-teman semuanya. Makasih udah ngajak. Selamat datang. Selamat datang, Samara Fahrana, seorang Human Design Coach dan juga guru meditasi. Dan hari ini kita bakal nanya detail nih, kira-kira apa itu Human Design? Gimana caranya meditasi yang lebih praktis ya? Ya, bahkan bahkan bagi teman-teman yang di luar sana yang belum paham apa itu meditasi.
Oke, kita mulai dari pertanyaan pertama. Aku penasaran banget nih, apa itu Human Design dan gimana Human Design ngebantu seorang Samara Fahrana bisa mindfulness atau bisa ngebantu teman-teman Suara Berkelas di luar sana yang lagi overthinking atau lagi ada masalah di hari-hari mereka?
Jadi, simpelnya, Human Design itu tools. Jadi, ini adalah bagaimana kita lebih ngenalin diri sendiri, ngenalin orang lain. Jadi kayak sebuah buku manual, aku bilangnya. Atau analogi deh, misalkan kemarin aku baru beli vacum cleaner buat rumah gitu kan. Vacum cleaner itu aku ada datang buku manual, user manualnya, cara makainya kayak gimana, segala macam. Nah, anggaplah Human Design ini seperti buku manual bagaimana kita beroperasi. Beroperasi itu kayak gimana? How we make decisions yang lebih cocok buat kita. Biasanya kita pakai logika, dengerin emosi, atau intuisi. Bagaimana kita bisa mengelola pikiran, perasaan. Bagaimana cara tidur, cara makan. Bagaimana cara berada dalam lingkungan yang sehat buat kita. Itu tuh semacam ada kisi-kisi gitu.
Nah, jadi yang aku rasain pas pertama kali tahu tentang Human Design, aku belajar lebih dalam, akhirnya sharing, bikin training, reading, gitu ya. Itu aku selalu mendapatkan feedback bahwa orang ngerasa, "Dan aku pun kok relate banget ya, kayak kok ini gue banget? Kok ini sespesifik dan sedetail itu bisa memahami diri sendiri?" Jadi, aku ngelihat Human Design ini adalah cara untuk kontemplasi. Kayak pernah enggak sih, kayak Mas Bilal juga bikin buku, baca sesuatu hal, terus jadi kayak, "Oh, gue jadi belajar hal yang baru tentang diri gue." Tapi ada juga, "Oh, gue emang relate banget gitu."
Nah, setiap orang di dunia ini memiliki karakteristik masing-masing, kelebihan, kekurangan, potensi, macam-macam gitu. Dan kadang kita tuh membuat harus menjadi seperti orang lain. Gitu. Harus kayak, kalau misalkan habis kuliah, terus harus kerja kantor, terus nanti nikah. Ada jadi semacam ada ekspektasi lurus. Tapi kan semua orang beda-beda, beda-beda perjalanan, beda-beda karakteristik. Human Design ini memberikan kesempatan buat kita lebih percaya diri untuk ngambil jalurnya kita masing-masing, gitu. Nah, buat aku ini adalah part of the mindful journey juga. Jadi kita lebih berkesadaran, "Oh, gue ini kayak gimana cara ngatasin masalah, bagaimana?"
Ada studi kasus enggak orang yang dibantu oleh Samara yang lagi problemnya apa, terus pemecahan masalahnya pakai Human Design itu seperti apa?
Karena aku coaching juga nih, jadi banyak klien coaching aku itu masalahnya di karir. Jadi mereka merasa bosan dengan karirnya, frustrasi mungkin sama bosnya, mungkin lingkungannya ngerasa enggak sehat, atau merasa problemnya adalah capek untuk commute. Banyak yang sekarang kayak gitu. Capek sudah drain. Dulu atau dengan politik kantor. Jadi banyak masalah corporate yang klien-klien aku bilang, "Aku tuh enggak tahu mau ke mana lagi. Aku enggak tahu, aku mau resign atau aku stay." Jadi dalam kegalauan itu. Atau aku dalam perusahaan yang sama, lalu aku pindah bidang. Misalkan dari marketing ke sales yang agak-agak mirip, atau ke public relations, contohnya kayak gitu. Nah, ini lumayan eh common gitu masalah ini kan. Karir adalah hal yang cukup besar dalam keseharian kita dan hidup kita.
Nah, jadi dengan Human Design itu kita bisa melihat sebenarnya kemampuan orang ini cenderungnya naturally itu dari mana bagusnya gitu. Contohnya, "Oh, mungkin orang ini pintar berkomunikasi lebih daripada analitik, eh hitung-hitungan Excel, gitu contohnya." Atau ternyata dia lebih bisa empati, jadi one-on-one client facing itu akan menjadi lebih cocok dibandingkan yang kerjanya misalkan lebih banyak di depan komputer, editing IT, atau suatu hal yang bentuknya enggak banyak ketemu orang.
Nah, kasusnya adalah biasanya kita saat belum tahu diri sendiri, belum kontemplasi banyak, dan belum punya banyak pengalaman, wajar kalau kita rasanya, "Hm, kayaknya ada yang kurang cocok nih, ada yang rasanya enggak pas." Nah, dari Human Design itu kita bisa nih ngelihat, "Oke, kira-kira cocoknya di mana agar ngerasa lebih selaras." Jadi Human Design itu sangat ngebantu untuk evaluasi kerjaan kita, hidup kita, romans juga gitu ya, dan bagaimana kita bisa lebih menyelaraskan.
Karena menariknya, Human Design ini, ini menggunakan tempat tanggal waktu lahir, gitu ya?
Iya. Jadi, kalau teman-teman mau ngecek gitu ya, ini ada website yang dari aslinya Human Design. Eh, dia dibuat oleh namanya atau ditemukan oleh Ra Uru Hu. Nama aslinya Alan Robert Krakower. Dia orang Kanada. Ini di tahun '70 terjadi dan terbentuknya Human Design. Lalu dia bikin website yang free. Orang bisa nulis tanpa harus naruh email segala macam. Jadi yang dibutuhin adalah nama, eh tanggal lahir (jadi hari, bulan, dan tahun), dan kalau bisa adalah jam dan menit.
Nah, kadang nih, banyak orang yang enggak tahu jam dan menit kelahirannya. Jadi bisa cek akta kelahiran. Kalau di akta kelahiran kadang enggak ada atau enggak nemu, udah hilang, bisa tanya ke keluarga, mungkin ibu atau yang lain. Em, kalau enggak tahu juga masih plus-minus 30 menit. Atau kalau tetap enggak tahu juga bisa jam 12 siang saat mataharinya di tengah. Karena memang Human Design ini menariknya adalah perpaduan antar dua sistem yang besar gitu. Satu adalah sistem yang lebih ancient, kuno wisdom. Kedua adalah yang lebih sainsnya.
Bilal, jadi yang ancient kuno ini tuh ada Cakra, ada astrologi baratnya, ada dari ilmu Cina kuno namanya I Ching, ada juga namanya Kabbalah Tree of Life, gitu kan. Terus, eh dari sainsnya itu juga ada fisika kuantum, ada biokimia. Jadi saat mereka digabungkan, banyak klien aku yang zaman sekarang yang kita sangat corporate, kita juga sangat logis, itu lebih bisa mencerna Human Design. Rasanya tuh terstruktur, rapi, kayak, "Ya, emang bukan ramalan." Karena data dimasukin ke software, menunjukkan gambar, lalu saat kita ngobrol diinterpretasi. Kayak, "Tipe kamu energinya kayak gimana?"
Jadi saat sudah tahu tipe energi mereka, bisa ngerasa lebih selaras. Nah, keselarasan itu tuh bisa dilihat dari tipe. Jadi ada lima tipe Human Design in general, gitu ya. Ada yang Manifestor. Manifestor itu kalau selaras, dia merasa tenang. Oke, tenang. Kedua, ada yang namanya Generator. Kayak aku. Aku Generator. Kalau selaras itu merasa kepuasan (satisfaction). Lalu yang ketiga, gabungan dua ini namanya Manifesting Generator. Oke. Ada gabungannya. Iya. Jadi kayak subtipenya Generator ini merasa, jadi digabung tadi, tenang dan rasa puas. Ada lagi yang Projector. Dia ini merasa pahit atau getir kalau misalkan enggak selaras. Dan kalau selarasnya, dia merasa sukses, kayak nyaman. Lalu yang kelima, ada yang paling rare, Reflector. Tu 1% bayangin. Ada 1% populasinya di dunia ini. Mereka kalau merasa selaras adalah merasa pleasantly surprise, kayak dengan kebahagiaan dan keterbukaan. Dan enggak punya banyak ekspektasi.
Nah, ini jadi bisa ada apa ya, cara mengevaluasi gitu. Agak terana sampai ke aku. Menarik banget kategorinya lumayan banyak. Tapi kalau Samara sendiri tuh, boleh jujur, masuk ke kategori mana?
Boleh aku Generator. Oke. Kenapa? Karena dari tempat tanggal waktu lahirnya langsung keluar Generator. Gitu. Jadi yang dilihat adalah cakranya. Oke. Jadi cakra, mungkin teman-teman yang open untuk meditasi atau yoga, ya. Cakra itu pusat energi yang ada di tubuh kita, yaitu dekat organ-organ kita. Gitu. Nah, kalau kita belajar meditasi, mungkin familiarnya dengan tujuh cakra. Tapi di Human Design dikembangkan menjadi. Nah, ini yang nanti bisa kita obrolin. Ngarep ke mengelola pikiran, mengelola emosi. Karena cakra kita, walaupun semua manusia ada, tapi beda-beda kategorinya. Gitu. Kategori itu maksudnya mungkin aku tipe Generator adalah yang namanya sakral cakra itu sangat aktif. Gitu. Jadi aku punya banyak energi buat kreativitas, buat membuat hal baru, bikin project baru, sesuai passion. Jadi mungkin teman-teman yang Generator juga tertarik sama hal-hal yang kayak gitu. Nanti itu beda kasusnya lagi sama si empat tipe yang lain. Mereka punya sebuah apa ya, susunan kategori cakra yang berbeda dari tempat tanggal waktu lahirnya, sehingga karakteristik mereka juga bisa sedikit berbeda.
Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?
Th- Oh, sorry. JovianArchive.com.
JovianArchive.com. Iya. Jadi kalau dieja, J-O-V-I-A-N-A-R-C-H-I-V-E.com.
JovianArchive.com. Oke. Jadi teman-teman, JovianArchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.
Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat. Ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu orang yang bercerai? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?
Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai sebetulnya. Gitu. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia gitu kan. Jadi memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain atau perselingkuhan dan lain sebagainya. Macam-macam.
Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect gitu ya, ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya gitu.
Jadi mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua atau sebagai keluarga." Gitu. Misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi semuanya tentang pola. Jadi pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini itu semacam ada apa ya, spektrumnya. Gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa belak-belakan yang jadi enggak sehat cara mengatasi masalahnya.
Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu. Kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu. Dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah. Masih menikah gitu ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus eh pengin suaminya dibacain gitu. Terus bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus dia merasa sangat terhenyuh gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini. Enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.
Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain. "Gue jadi ngerti, oh cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya kan gitu tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi kalau kita lahir, tempat tanggal waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti gitu. Jadi saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah cerai terus kayak gini." Gitu. Jadi Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya. Gitu.
Hmm, mungkin dari poin suami tadi, dia juga enggak bisa mengekspresikan apa yang dia rasain gitu ke istrinya. Tapi dia bisa ekspresiin ke orang lain, apa ke coach misalnya. Dan aku juga pernah kepikiran ya, manusia kan biasanya selalu mengejar emosi atau perasaan positif ya. Kayak kita kejar bahagia di percintaan, di karir, di barang. Bahkan kita kejar bahagiabahagianya. Tapi kita selalu menghindari yang namanya emosi negatif. Kayak sedih, kita enggak mau sedih. Ada fase, kita takut, ya kita enggak mau takut. Padahal kalau di kacamata aku, ada fase di mana kayak emosi negatif tadi bikin aku tuh berkembang, Git. Ada fase di mana aku kayak gagal, itu bikin aku semangat. Nah, dari kacamata Human Design lagi ya, aku penasaran gimana, apakah Human Design itu bisa membantu kita bukan lari dari emosi negatif, tapi menghadapi emosi negatif?
Ada banget. Jadi aku baru ditanya kemarin ada eh client reading gitu kan, kayak ditanya, "Gimana dampaknya Human Design ini buat eh Kak Samara?" Dia bilang gitu. "Terus bagaimana cara ngatasin frustrasi?" Karena itu kan adalah saat aku lagi enggak selaras sebagai Generator. Dan teman-teman Generator yang lain. Terus aku bilang, secara jujur ya, membantu sih, tapi juga membuat aku semakin peka saat aku frustrasi. Gitu. Menarik ya, Mas Bilal. Karena karena kita jadi tahu hal-hal yang enggak selaras yang awalnya mungkin dibawa enggak begitu difokusin dan enggak disadarkan sebelum tahu Human Design. Aku tuh malah jadi lebih, "Ah, yang ini bikin frustrasi. Ini jadi bikin frustrasi." Tapi itu malah jadi informasi, ya enggak sih? Kayak, "Oke, gua ngerasa sedih. Oke, gua ngerasa frustrasi. There's something not working with what's happening." Gitu. Kayak di karir atau di relasi, gitu contohnya. Terus kita mau apain tuh informasinya? Kita mau, ya udah terima aja. Atau kita, kita mau tadi fly apa flight? Kayak menghindar. Atau kita mau do something good from it. Something yang empowering, yang productive, yang sehat buat kita, sehat buat orang lain. Jadi malah menurutku semakin kita punya data pola emosi kita yang lebih lengkap, lebih jernih, tahu alasannya kenapa, kesempatan kita berkembang tuh malah jadi lebih besar. Gitu.
Iya. Tapi tergantung lagi sama kapasitas, menurutku. Jadi kapasitas orang mungkin di momen itu eh lagi enggak banyak masalah untuk masalahnya enggak terlalu gede, jadi punya energi buat mengembangkan diri. Tapi aku juga menyadari bahwa kalau orang yang punya banyak tanggungan, kapasitas, dan dia lagi penuh, dia butuh pertolongan. Mungkin dan mungkin dia enggak sadarin bagaimana emosi itu mempengaruhi orang lain. Nah, ini mungkin yang tadi ke pertanyaan sebelumnya atau sharing sebelumnya yang lama-lama jadi kayak kasus perceraian. Nah, kalau misalkan kita bisa lebih apa ya, mindful sama energi kita. Kita kayak handphone deh, gitu. Atau ini iPad. Kita jadi mindful sama persentase atau kapasitas baterainya. Tapi ke diri sendiri, kita pernah enggak sih kayak gitu untuk emosi? Jadi misalkan aku kalau nanya ke klienku, "Oke, kamu lagi ngerasa lebih ke puas atau lebih ke frustrasi?" Oke. Contoh frustrasi. "Oke, frustrasi dari 1 sampai 10, kamu frustrasinya berapa?" Se- "Oh, cukup tinggi ya ngerasain frustrasinya di mana?" Mas, mungkin kerasa, "Oh, di kepala aku pusing, panas. Oh, di dada aku sakit, di punggung aku pegal, leher tegang, perut sakit." Ah, atau, "Uh, tangan dingin, keringetan, kaki enggak enak." Jadi, oke, itu data point. Ya udah. Em, terus kita lihat masalahnya, kita lihat Human Design-nya, diskusi coaching. Gitu. Oke, lama-lama dia bisa turun itu angkanya.
Nah, jadi kalau kita merasakan emosi negatif, menurutku itu adalah hal yang positif juga atau hal yang sebenarnya netral, ya. Kalau bahasa mindfulness. Cuman memang untuk banyak orang pada umumnya, kita tidak diajarkan untuk memahami emosi kita dari kecil. Aku pun juga kayak gitu. Jadi di kasus orang tuaku yang bercerai, jadinya aku lebih paham emosi tuh dari kecil gitu. Jadi lebih sensitif, lebih empatis. Dan walaupun sebenarnya kuliahnya enggak ada hubungannya sama psikologi, aku dulu ekonomi manajemen. Terus eh ada permasalahan mental health sendiri. Gitu. Jadi aku lebih bisa empowered. Dan akhirnya udah berapa tahun ini ya, alhamdulillah syukurlah bisa sharing tentang mental health, meditasi, Human Design. Bisa bantuin orang lain. Dan kebanyakan klienku jauh lebih tua lah dari aku. Gitu. Jadi eh walaupun aku muda, aku dulu sempat insecure, "Gue bisa enggak sih bantuin orang?" Kayak, "Gue siapa?" Tapi ternyata kalau kita ada ilmu bermanfaat dan niat baik, ada sampai kayak klien aku umur 60 tahun itu punya emosi yang marah, frustrasi itu yang sudah bertahun-tahun itu bisa diproses perlahan-lahan. Salah satunya dengan Human Design dan meditasi, gitu.
Jadi, ya, kalau teman-teman ngerasain emosi negatif, disadarin. Mungkin mau diproses, eh di jurnal, diomongin kalau punya teman curhat. Dan punya teman curhat yang ada kapasitas dengerin gitu ya, kadang lega. Atau sama mental health professional, ada psikolog, psikiater, konselor, gitu. Jadi yang lebih objektif dan emang bisa membantu navigasi kita juga. Kalau ada emosi negatif itu, oke.
Selain Human Design, kan Samara juga guru meditasi ya. Seberapa sering Samara meditasi? Dan eh, boleh enggak share ke kita, ke teman-teman Suara Berkelas di sini, praktis meditasi untuk orang awam?
Jadi, kalau meditasi, aku pagi dan malam. Tapi sebenarnya meditasi bisa kapan aja. Karena kita punya miskonsepsi. Dan aku paham hal itu, gitu ya. Kalau meditasi tuh harus duduk diam, matanya merem, gitu kan. Terus pakai yoga. Harus pakai yoga mat, harus di Bali, mungkin harus harus pakai essential oil atau kristal atau apa. Tapi meditasi kan sebenarnya kita sadar aja, gitu. Kita sadar kita lagi ngomong, sadar lagi di ruangan ini. Atau teman-teman sadar lagi dengerin atau lagi nonton podcast ini. Gitu. Tapi memang butuh latihan. Gitu. Jadi latihan itu yang aku bilang kadang meditasi ada yang formal, ada informal. Nah, yang formal itu mungkin sehari pagi 10 menit, malam 10 menit. Gitu. Sesingkat itu aja. Nyalain timer atau pakai aplikasi. Terus eh melatih nafas itu sih sebenarnya paling gampang.
Cuman memang setiap orang punya teknik meditasi yang beda-beda. H. Pernah dengar orang yang lebih visual, ada yang lebih auditory, ada yang lebih kinestetik, kayak cara belajarnya gitu. Jadi meditasi yang misalkan orang bisa akses itu nafas. Ya, teman-teman yang sadar tarik nafas, menghembuskan nafas. Mungkin sadar tubuhnya bergerak dengan nafasnya, ya. Gitu. Mungkin dada, mungkin perutnya. Mungkin teman-teman yang awalnya enggak sadar nafas, karena aku ngomong gini, jadi kayak, "Oh iya, gua jadi perhatiin nafas gue, ya?" Gitu. Suara nafas. Semua. Iya, suara nafasnya. Yang awalnya, "Oke, pendek nih." Terus kayak, "Iya, gua dari tadi nahan napas ya? Gua kayak mau lebih rileks aja nih." Gitu.
Jadi satu, menghitung nafas itu teknik yang paling gampang buat pemula. Jadi kayak misalkan, tarik nafas, hitung satu. Hembuskan nafas, nafas, hitung dua. Tarik nafas, hitung tiga. Hembuskan nafas, hitung empat. Nah, itu diterusin aja. Tekniknya banyak. Dan eh, itu satu ya, satu contoh. Perlu, perlu tutup mata enggak? Enggak mesti. Enggak mesti. Tapi kalau menutup mata memang membantu mengurangi stimulasi visual yang mendistraksi, gitu. Jadi buat teman-teman yang emang visual, mungkin prefernya ngelihatin satu hal. Gitu. Kalau di yoga kita sebutnya kayak satu spesifik yang dilihatin biar kita enggak jatuh. Gitu. Nah, jadi, misalkan di sini aku ngelihat ada hitam-hitam atau ada mic aku. Jadi aku fokus aja ngelihatin mic ini, gitu. Atau kalau ada lawan bicara, fokus ngelihatin matanya, gitu. Itu juga bisa bentuk meditasi.
Ada yang auditory. Emang sukanya dengerin musik, dengerin singing bowl, dengerin apa. Ting. Kita sadar aja. Oke, aku lagi dengerin musik. Terus pasti aku pun sampai sekarang udah latihan meditasi bertahun-tahun, terdistraksi si fix. Kayak, "Oke, pikiran gua ke mana-mana." Oke, "Gua udah mikirin yang lain nih." Oke, oke, oke. Nah, kita tinggal sebenarnya latihannya tuh balik lagi ke poin fokus utamanya. H. Gitu. Kayak, "Oh, ya, gua tadi udah mikirin nanti habis ini gua siang makan apa ya?" Kalau gua lagi di sini, oke, balik lagi nafas. Balik lagi lihat. Balik lagi dengerin suara AC, apa apa gitu.
Jadi teknik ini saat dilakukan lumayan rutin, kita akan ngerasain emosi kita lebih jernih. Gitu. Kayak, "Oh, iya nih, gua udah kerasa mau marah." "Oh, iya nih, gua udah mau sedih, mau nangis." Gitu. Tuh, "Oh, ya, nih, gua udah ngerasa ada kecewa." Nah, jadi semakin kita mengobservasi itu, meregulasi emosi negatif tadi juga jadi lebih mudah. Karena nafas itu sangat terhubung dengan emosi. I. Kalau emosinya lagi marah, nafas jadi pendek, deg-degan. Kalau lebih hah, lebih tenang, ya bisa lebih rileks, gitu. Jadi itu sih hal yang mungkin bisa ngebantu teman-teman meditasi yang awam banget. Ya, mungkin teman-teman yang tinggal di Jakarta, terus nyetir macet, kan daripada kayak marah-marah atau scrolling. Tutup mata. Jangan tutup mata, nanti nabrak. Hati-hati. Lagi macet lagi macet lagi macet. Estimasi di map itu merah itu 1 jam ya. Saya macet ya. Iya. Enggak apa-apa. Tutup mata kalau daripada buka mata kan lihat orang emosi kan. Iya. Mungkin bisa mata, tarik nafas, buang. Ya. Rileksin pundak gitu kan. Stres kalau misalkan kita jadi em yang di belakang gitu, lagi dianterin gitu kan sama orang, kita lebih aman lah untuk tutup mata. Kalau misalkan yang lagi driving, mungkin sadar nafas aja. Atau mengalihkan penglihatannya ke hal yang lebih apa ya, positif. Mungkin ada pohon hijau-hijau. Terus kayak, "Hah, oke, enggak usah marah sama yang nyalip ini." Gitu. Misalkan. Atau kayak pada ngetitin suaranya berisik, bising, macet, telat. Gitu. Jadi ngerasain, "Oh, ya, aku mulai ngerasa emosi ini nih di tubuh." Oke, nafas, rileks, santai. Afirmasi mungkin. Itu bisa bisa salah tempat kalau misalnya kita lagi ke restoran gitu ya. Kita ke restoran, terus makanan kita sudahud 1 jam enggak nyampai. Terus kita tanya. Kecium aroma makanan orang jadi makin emosi. Iya, benar. Itu baru kejadian sama aku mungkin beberapa minggu yang lalu. Gitu. Kayak, "Ini bukan makanan gue, bukan makanan gue." Terus kayak meditasi mindful sama rasa perut. Iya.
Tadi kita udah ngomongin meditasi. Dan aku pernah ketemu sama teman-teman aku yang mereka meditasi juga. Tapi ada fase mereka bilang, kadang emosi mereka tuh tiba-tiba meledak. Karena luapan dari masalah lain. Misalnya tiba-tiba Bilal ketemu sama Samara. I. Bilal orangnya tipe yang emosian kayak tadi. Padahal cuma Samara singgung jok apa, tiba-tiba meledak. Padahal Bilal karena ada masalah lain yang Bilal bawa seperti itu. Apakah Human Design atau meditasi punya cara efektif untuk kita tidak mengumpulkan atau memendam banyak masalah tiba-tiba meledak?
Jadi bisa jadi meledak itu di fase ketika orang yang kita lemparkan ledakannya justru dia juga punya masalah kan, enggak cuma kita doang punya masalah. Gitu. Benar, benar. Ngerti, ngerti banget. Gua pernah ngalamin gitu juga. Gitu. Em, kalau dari Human Design sendiri kan tadi cetakan kita gitu, manual. Kalau teman-teman udah buka nih Human Design-nya masing-masing, mungkin dapat gambar gitu kan. Nah, ini boleh teknis ya, gua jawab. Boleh, boleh, boleh. Pasti. Nah, jadi kalau misalkan gambarnya itu banyak warna putih, itu ada yang bentuknya kayak segitiga atau apa. Itu tuh biasanya kita lebih sensitif dan lebih nyerap orangnya. Semakin banyak warna putih, semakin nyerap. Jadi kadang kita bisa aja nangkap stresnya orang lain. Enggak jadi kayak kita serumah sama orang, orangnya tuh stres atau di kantor deh, di kantor bosnya stres, apa kolegnya stres, terus kita jadi kayak, "Aduh, kok gua juga jadi enggak enak ya hawanya?" Kayak, "Aduh, dia e mukanya lagi enggak enak, moodnya lagi enggak enak, kok gua bawa pulang masih masih kesel ya?" Misalkan kayak gitu. Biasanya dari contoh ya, kayak dari kantor masalah bawa ke rumah, ke suami istri. Atau dari suami istri masalah rumah ke bawa ke kantor. Padahal padahal kan enggak relasi. Tapi enggak ada batasan antara dua itu. Nah, jadi kalau misalkan warnanya banyak yang putih, itu penting untuk memiliki batasan sebenarnya. Satu itu dulu. Batasan antara, "Oh, gue lagi enggak mau nyerap energi orang ini nih. Gue coba distraksiin atau fokusin ke hal yang lain aja." Atau kalau ada yang enggak enak, "Gue masukin kuping kanan, keluar kuping kiri." Contohnya. Nah, dibalik, kalau misalkan banyak yang lebih berwarna gitu ya. Kalau banyak lebih berwarna tuh energinya lebih banyak dari diri sendiri. Jadi itu perbedaan utamanya. Kalau dia kayak gelas atau kayak spons yang bisa nyerap dan bisa menampung dari luar. Kalau dia ada warnanya, dia itu lebih dari dalam diri sendiri kayak baterai gitu contohnya. Dia akan mengaktifkan.
Nah, ini nyambungnya gimana kalau misalkan kita lagi punya banyak eh masalah orang sekitar punya banyak masalah. Batasan itu kita bisa bilang, "Oke, gue lagi butuh break." Gitu. "Oke, gue lagi enggak bisa ng-push kerja gue terlalu banyak." Atau paling sering dengerin curhat orang. Kalau misalkan kita lagi banyak masalah sendiri. Ada teman curhat, enggak minta izin, terus langsung nyerocos aja masalahnya dia. Kayak, "Aduh, gue ah rew." Terus, "Jangan diisi lagi." Gitu. Jadi kita ada batasan kayak, "Sorry, gue lagi enggak bisa secara emosional menampung cerita lo sekarang. Boleh enggak kita ngobrolnya besok atau kapan?" Gitu. Ada rescheduling. H. Jadi pertama, kita punya cara beda-beda untuk menampung informasi dan emosi itu dulu dari Human Design-nya.
Nah, kalau misalkan dari meditasinya adalah, "Oke, bagaimana kita bisa peeling the onion?" Aku bilangnya. Gitu. Karena emosi itu tuh banyak lapisannya. Gitu. Kadang di depannya marah. "Aduh, gua ke-trigger nih, gua jengkel, gua kesal." Tapi sebenarnya dalamnya adalah ngerasa kecewa. Terus ternyata dilihat lagi, ternyata dalamnya sedih. Gitu. Dan ini butuh courage, menurut aku. Kayak, apa ya, keinginan untuk menyelam diri sendiri yang rasa enggak enak itu tuh banyak. Sekarang yang mulai aware, apalagi sejak pandemi, karena punya banyak waktu untuk ngenalin diri sendiri, memproses emosi. Dan layer-layer emosi itu tuh juga ada layer-layer yang mungkin datangnya dari orang tua kita atau dari cara kita dibesarkan.
Jadi ini hal yang aku baru ingat, belum bahas tadi, bahwa Human Design itu tuh ngitung dua poin. Jadi satu adalah saat kita lahir, yang dari itu tempat tanggal waktu lahir. Satu lagi adalah 88 hari atau 3 bulan sebelum lahir. Jadi kita masih di kandungan ibu itu kita udah dicetak sama karakteristik leluhur kita. Gila, enggak? Jadi misalkan aku kalau disebah mamaku, "Aku mukanya mirip." Mungkin Mas Bilal sama orang tuanya, sama keluarganya, mukanya juga mirip. Nah, tapi enggak cuman physical appearances aja yang kita mirip. Tapi kita tuh punya karakteristik yang akan diberikan oleh orang tua kita. Gitu. Mungkin orang tuanya memang biasa sabar, jadi sabar. Mungkin ada yang pemarah, jadi pemarah. Gitu. Jadi semacam ada nature-nya. Gitu. Nah, saat kita tahu itu, kita jadi lebih bisa menavigasi nih. "Oh, mungkin ya karena aku ada bawaan dari orang tuaku, aku bisa memaafkan orang tua aku dulu seperti itu. Akses informasi dan cara meregulasi emosinya masih eh belum sebanyak sekarang." Gitu.
Jadi bisa melihat di balik trigger tadi, tiba-tiba marah ke orang lain, kenapa sih gue marah? Kayak, "Ini ngingetin gue ke masalah apa?" Atau ada hal lain yang seperti apa? Jadi di meditasi, kalau teman-teman ingin ada yang namanya kayak contoh yang sering banyak eh di YouTube, inner child healing. Gitu. Jadi eh melihat, mengupas mungkin kejadian di masa lalu yang sudah jatuhnya ke alam bawah sadar. Mungkin kita masih kecil, mungkin bahkan kita dalam kandungan ibu. Gitu. Terus kita balik ke momen itu. Dan ini mungkin kalau teman-teman baru pertama kali sendiri, mungkin agak bisa overwhelm. Karena kayak, "Wah, banyak emosi yang dirasain." Mungkin nangis, mungkin marah. Terus kalau bisa sama eh coach, guru, komunitas, sama orang lain dipandu, ini akan lebih eh baik kali ya hasilnya, lebih efektif gitu.
Nah, setelah kita sudah layer-layer ke bagian hal yang nge-trigger, mungkin kita bisa semacam memaafkan. Antara kejadian itu, memaafkan orang lain yang terpengaruh dalam trigger itu. Nah, misalkan kan kalau dari cerita aku sendiri ya, berkaca di aku. Aku punya pola dulu yang mulai diproses adalah ngerasa jealous. Jealous. Alhamdulillah sekarang sudah nikah, jadi sudah enggak usah terlalu banyak jealous-nya. Gitu. Cuman ya memang ternyata dari mana sih pola jealous ini? Gitu. Oh, ternyata dulu pas masih pacaran yang awal-awal ada sebuah kejadian yang enggak enakin yang enggak pernah aku proses, enggak pernah aku secara aktif dimaafin orangnya. Kayak didiemin aja gitu. H. Jadi ke-trigger kalau misalkan ada suatu kejadian yang mirip-mirip kayak kejadian itu. Wah, reaksinya tuh kayak kayak kesel banget, nangis banget. Gitu.
Nah, meditasi menjadi salah satu hal yang ngebantu aku untuk memproses kejadian itu. Karena kan udah ngapain ngobrol sama mantan? Gitu. Kayak ngapain nge-WA mantan? Kayak, "Oh, gue kesal sama lo berapa tahun yang lalu karena ini dan gue akhirnya jadi jealous." Kayak gitu kan, enggak. Jadi semacam visualisasi, merasakan di hati, kayak mulai di-let go, dilepasin, diproses. Jadi enggak mempengaruhi hal-hal yang penting dalam kehidupan sekarang dan ke depannya. Gitu. Jadi kita lebih ringan. Biasanya orang yang gampang ke-trigger tuh ya sebenarnya dia punya banyak beban kali ya. Dia banyak beban, banyak tanggung jawab eh yang dia enggak letakin gitu, enggak diproses. Jadi kayak, "Aduh, rasanya kayak udah pengin dibuang aja nih semuanya." Tapi enggak tahu gimana caranya. Jadi meditasi bisa ngebantu secara praktis. Human Design bisa memetakan cara mengelola di awal masalahnya atau kemungkinan masalahnya yang berpola itu di mana. Contoh kayak aku, ternyata rasa judgment. Sebenarnya jealous itu dari rasa judgment buat aku. Aku nge-judge apa yang baik atau tidak. Nah, itu ternyata ada di Human Design aku. Dan di alam bawah sadar yang terhitung dari 3 bulan sebelum aku lahir. Oh, jadi ternyata jealous ini mungkin juga dari leluhur aku. Gitu. Jadi semacam ada pengertian.
Menarik ya, karena banyak masalah orang-orang yang aku temui itu karena mereka masih hidup di masa lalunya ya. Mereka mencemaskan juga masa depannya. Gitu. Mereka lagi enggak ada di sini nih, fisiknya di sini, tapi pikirannya di mana-mana. Kayak analogi yang tadi Samara jelasin. Kalau mungkin semua orang ada masalah, tapi ada orang yang masalahnya ditumpuk di belakang nih. Dia tetap jalan. 5 kilo, 10 kilo, 12 kilo. Tapi ada juga orang yang masalahnya juga lebih berat. 50 kilo, tapi udah ditumpuk nih 10 kilo, dipindah 20 kilo, diturunin. Nah, mungkin metode yang Human Design pakai, meditasi pakai, itu bisa bikin kita menempatkan dulu beban tersebut. Iya. Sehingga kita bisa let go aja. Iya. Iya.
Jadi aku pernah dengar cerita, enggak dengar sih, lebih ke baca. Jadi em, ini bukunya Mas Ali Zainal Abidin, "Uncover Your Unique Purpose." Gitu. Dan di buku itu ada cerita, aku enggak enggak ingat penulis dan buku yang dia refer di dalam buku itu tentang kalau kita semua itu kayak truk sampah, dia bilang kayak gitu. Oke. Jadi, eh kalau misalkan kita truk sampah itu, mungkin kita ada masalah-masalah kayak tadi sih, beban-beban, mungkin kayak batu atau kayak sampah atau masalah-masalah masa lalu itu enggak diletakkan, enggak dibuang, atau gimana. Jadi kalau misalkan ada yang ke-trigger dan ah penuh, kita kayak menumpahkan sampah atau masalah ke orang yang enggak ada relasinya sama masalah intinya, gitu. Jadi eh semakin kita lebih sering membuang tadi, membersihkan si truk sampahnya ini, kita secara eh energi pun itu bisa lebih selaras. Jadinya lebih bersih. Gitu.
Nah, Human Design tuh esensinya adalah energi. Kayak mungkin Mas Bilal ngerasain kalau ketemu orang, kayak, "Ah, dia hawanya enak." "Gua pengin kenalan sama dia." "Mungkin gua mau ajak ngobrol." "Mungkin jadi buat podcast." "Mungkin pas ketemu orang ya, kok kayaknya enggak enak ya?" Kayak, "Kenapa ya?" Kayak ada feeling aja. Enggak, kita upload. Enggak kita upload. Kalau bisa datang nih, wah tiba-tiba marah. Gitu kan. Ya udah, podcast lanjutin, tapi enggak kita upload ya. Oh, iya.
Jadi maksudnya eh itu bisa kejadian orang tuh bisa sensitif gitu. Jadi enggak ketemu orang, enggak cuman dari ngobrolnya, tapi hawanya. Nah, Human Design tuh ngebantu bersihin energi kita juga. Yang sesimpel kayak, "Gua ngerasa lebih banyak frustrasi apa gua mau lebih banyak ngerasa puas?" "Gua mau lebih banyak ngerasa marah apa gua mau lebih banyak ngerasa tenang?" Gitu. Nah, orang juga pick up on those things gitu. Apa yang Kak Samara lakukan agar bisa menghadapi overthinking? Karena aku di usia 24 tahun overthinking terus setiap hari.
Iya. Overthinking ini bagus. Ini pertanyaan yang aku juga tanya ke diri sendiri. Karena aku eh termasuk yang banyak berpikir gitu. Overthinking itu atau emosi atau pikiran itu semuanya adalah energi. Kalau udah over, artinya harus diproses. Gitu. Prosesnya bisa macam-macam. Ini secara general, terus aku kasih tips dari Human Design-nya ya. Prosesnya bisa dengan diomongin, bisa dengan aksi, take action, bisa dibikin to-do list, bisa di jurnal, bisa dinyanyikan, atau bawa olahraga. Jadi kalau ada overthinking, udah bagus itu disadari. Lalu habis itu mau diapain isi pikirannya? Kalau dari kacamata meditasi dan mindfulness, ya udah diperhatikan aja. Dianggap kayak eh awan yang selalu berganti, pikiran yang selalu berganti. Tapi masalahnya kalau misalkan kita emang enggak meditasi, kita belum di tahap perjalanan itu, pikiran itu tuh mesti dikeluarkan. Aku suka eh tulisan ini namanya Brain Dumping. Ya udah. Jadi apapun yang lagi dipikirkan, tulis aja. Kalau ada ide, tulis. Oh, gua ada ide ini, gua ada ini, tulis aja. Karena otak kita itu bukan eh buat menyimpan informasi yang terlalu banyak. Semua ada kapasitas kayak memori HP gitu. Kalau foto kebanyakan, memorinya udah mau habis, ya juga nge-hang. Sama juga kalau kita overthinking, kapasitas pikiran yang melebihi daripada seharusnya, kitanya juga nge-hang-nya adalah sering lupa, pusing, sakit perut, susah tidur, gitu. Susah tidur tuh suatu hal yang sering aku alami dan orang lain alami, gitu.
Ini ke teknis Human Design-nya ya, biar sangat spesifik. Jadi em, teman-teman boleh nih ngelihat eh chart-nya gitu ya. Aku mau lihatin atau eh fokus ketiga yang di paling atas. Oke. Jadi yang tiga paling atas itu ada yang kayak segitiga ini. Ada namanya Head atau Crown Chakra-nya. Oke. Terus ada segitiga yang ngadap gini, kayak di sini, itu namanya Third Eye atau Ajna Chakra-nya. Terus ada ada kotak di sini, ini namanya Throat atau Throat Chakra. Nah, biasanya kalau teman-teman perhatiin itu ada yang aku bilang tadi, ada warna putih atau ada warnanya. Jadi ada dua kategori gitu ya.
Jadi kalau misalkan yang overthinking, biasanya kalau yang segitiga di atasnya warna putih, itu kita bisa nyerap masalahnya orang lain atau pikirannya orang lain. Jadi ada kecenderungan kita pengin nyelesaiin masalah orang gitu. Jadi masalahnya suami istri, masalahnya eh kolega atau bos, gitu. Kayak, "Aduh, kok gua jadi kepikiran ya?" Karena dia ngomongin, karena tadi energinya nyerep. Bukan cuma itu. Masalahnya artis sama anaknya artis juga biasanya orang ributin. TikTok. Benar. Netizen gitu kan. Semua kayak lagi heboh. Kayak, kayak pas lagi ngescroll sosmed atau lagi buka YouTube, terus dengar informasi ini, "Gua jadi mikir, iya ya, gimana cara ngatasin masalah itu?" Gitu. Nah, tapi kita ada kapasitasnya.
Jadi tipsnya adalah punya batasan untuk tidak mengambil banyak informasi. Mas, atau dicurhatin. Pas ah penuh, pokoknya dikeluarin dulu. Kayak, "Oke, pikiran ini, masalah ini bukan punya gue." Kalau let's say dia berwarna, oh artinya dia dari dalam diri sendiri. Akan sering banyak berpikir. Intelijen. Dan dua-duanya intelijen, pasti. Cuman dengan cara yang berbeda. Nah, jadi akan butuh outlet untuk ngeluarin pikirannya tadi. Jurnaling, apa-apa segala macam. Atau ngomong. Gitu.
Terus misalkan kita next ke yang Ajna, yang segitiga di bawahnya ini adalah cara kita berpikir. Kalau misalkan yang warna putih, dia akan lebih open-minded, bisa ngelihat perspektif banyak orang. Tapi juga jadi bisa empati dengan masalah orang. Jadi ini lebih spesifik ke opini. Kalau misalkan eh dia yang ada warnanya, dia bisa berpikir dan memberikan ide lebih kayak ngasih solusi. Gitu. Jadi kalau yang overthinking-nya punya ininya berwarna, yang Ajna atau kedua, ya udah, apa solusinya dari masalah itu? Berpikirlah. Gitu. Atau diskusi sama orang. Kalau misalkan eh dia yang warnanya putih, bisa juga diskusi sama orang, tapi lebih kepada nanya pendapat. Gitu. Jadi bedanya satu source-nya adalah mungkin dari diri sendiri yang berwarna. Kalau misalkan dia yang warna putih, ajak ngobrol teman, "Eh, gue lagi ada masalah ini, hal ada opini enggak?" Atau ngomong mental health professional. Jadi kayak banyak dapat serapannya tuh positif gitu dari orang lain.
Lalu yang ketiga, yang Throat atau tenggorokan, cara kita komunikasi. Ada korelasi. Kalau dia berwarna, dia lebih suka dengan suara. Jadi dia lebih suka nyanyi, curhat, em, apalagi ya, mengekspresikan diri sendiri. Kalau misalkan dia warnanya putih, mungkin dia lebih inwards energinya. Jadi kayak, "Ya udah, gue malas sih curhatin ke orang. Gue juga capek ngomong sama orang." Gitu. Ya udah, gue nulis aja, jurnaling. E, atau gue lebih ke arah memproses overthinking itu dengan fokus ke tubuh. Jadi kayak olahraga. Gitu. Jadi kan habis olahraga tuh emosinya atau energinya kan in motion. Gitu. Makanya namanya emotion. Jadi digerakin. Gitu. Jadi enggak bisa diam aja. Itu tipsnya. Menarik itu daging banget sih. Itu kalau bisa kita cut viral. Oke.
Aku mau ke pertanyaan kedua dari tnh RR unders. Kak Samara kasih tips dong, gimana caranya biar dapat jodoh yang sesuai? Asik. Oke, didoain dulu ya, semoga kakaknya mendapatkan jodoh yang rros. Nah, kalau dari Human Design, again, semuanya itu energi. Pernah dengar Law of Attraction kan? Yes. Iya. Jadi kita akan menarik orang-orang yang energinya sesuai. Jadi kalau udah tahu Human Design-mu gitu, tadi misalkan eh Generator, MG, Manifesting Generator, Manifestor, Projector, Reflector. Kita ada dua emosi utama yang dari tadi sudah disebut-sebut terus gitu. Nah, kalau kita lebih ngerti diri sendiri dan fokus ke frekuensi emosi yang lebih selaras, mungkin kita enggak bisa bahagia 100% gitu, tapi mungkin bisa untuk lebih, ya, lebih cenderung lebih banyak emosi dan energi yang positif dibandingkan yang negatif. Karena sebenarnya tipe itu berdasarkan aura, t, Mas. Jadi kayak aura energi yang orang lain mungkin ada yang bisa lihat, mungkin enggak. Itu bisa ngerasain. Gitu. Jadi dengan energi, emosi, pikiran diri sendiri, kalau kita lebih puas, misalkan, lebih tenang, kita ngerasa lebih sukses, kita tuh membuat aura orang mau datang ke kita, mau kenalan. Dan pas sudah kenalan juga jadi lebih enak diskusinya, lebih open. Dan tadi kan kita juga ngomongin tentang menaruh beban, menaruh sampah, tidak berada terlalu banyak di masa lalu, memproses emosi, masalah-masalah dengan biasanya ada orang hubungan yang orang tua gitu. Iya. Gitu. Ya, itu akan sangat biasanya berpengaruh sama relasi kita. Gitu. Nah, jadi kalau kita sudah mau proses, oke dulu ada luka batin sama sama ibu, ada luka batin sama bapak. Itu biasanya ada hubungannya ke romance, bagaimana kita melihat cinta. Atau kalau enggak, ibu, bapak, primary caregiver. Ini yang teorinya namanya attachment theory. Pernah dengar enggak? Enggak tahu. Jadi attachment theory itu, eh, aku bukan psikolog ya, jadi aku ngasih tahu dari dari awal disclaimer. Eh, kalau attachment theory ini adalah ada orang yang tipenya berhubungan sama bagaimana dia dibesarkan. Jadi kalau orang tuanya atau primary caregiver-nya selalu memberikan eh rasa sayang dengan konsisten, dia akan merasa secure dalam hubungannya romansa. Kalau misalkan orang tuanya suka enggak ada gitu, em, kadang ada kadang enggak ada, namanya dia jadi anxious style. Jadi dia sama orang.
Tua sama pasangannya mungkin tipe yang jales ini kayak aku gitu. Nah, terus kalau misalkan benar-benar enggak ada kayak mungkin ditinggal meninggal atau merasa tidak ada kedekatan emosi dengan primary caregiver, jadi avoidant. Jadi pas berelasi tuh kayak takut disakiti gitu. Jadi mendingan jauh-jauh dulu berjarak.
Kalau kita udah tahu attachment style kita ini, kita juga bisa lebih memahami, oke, saat gua ketemu orang gimana baiknya gitu. Apalagi kalau yang anxious, oke, gua harus lebih bisa percaya bahwa dia akan ada, percaya bahwa dia enggak ke mana-mana atau enggak selingkuh atau apa. Kalau misalkan yang avoidant, oke, gua harus lebih punya usaha untuk berkomunikasi, menunjukkan love language, rasa sayang atau apa.
Nah, jadi itu bertahap ya, kayak hal yang menurutku bisa menarik juga. Dan kayaknya ada kuisnya deh kalau dicoba di Google, kayak attachment style quiz gitu. Oke, nah itu mungkin teman-teman bisa cari. Cari kan pasti nyari sekarang kan, attachment style quiz. Iya, jadi semoga dari mengenal diri sendiri, mengelola energi, mengelola emosi, tahu attachment style-nya, akan permudah untuk ketemu dengan jodohnya di waktu dan tempat yang pas dalam hidupnya. Amin, amin.
Karena banyak teman-teman aku ya, apalagi yang cewek, itu mereka berharapnya jodoh itu kayak turun dari langit gitu. Kayak tiba-tiba nih aku ke pantai gitu ya, hah, aku harus cantik nih, entar ketemu jodoh. Tapi kan itu kan mindset mindset aku ketika masih SD SMP. Tapi sekarang kan enggak semudah itu ya. Karena bisa jadi ada orang yang kayak hobinya lari. Iya, kayak dia dandan tuh untuk lari, berharap jodohnya itu sip lari juga. Kalau itu masih relevan ya.
Dan untuk pengenalan kan prosesnya panjang ya. Iya, benar. Banyak orang kayak enggak enggak mikir ke sana gitu. Tapi ini lanjutin pernyataan dari Samara tadi, sopan enggak sih kalau kita misalnya sudah tahu attachment style tadi, kita nanya ke calon pacar atau PDKT kita, kalau latar belakang orang tua kamu, hubungan orang tua kamu dengan kamu tuh seperti apa sih? Apakah kita bisa ambil kesimpulan dari mungkin dia dengan orang tuanya tuh kayak enggak ada orang tuanya, terus kita bisa menyimpulkan, wah, ini orangnya anxious banget. Bisa enggak sih kayak gitu?
Menurut aku malah bagus dikomunikasikan dan ditanya daripada asumsi. Iya. Jadi kalau sudah tanya kan akhirnya jadi kayak, oh, apa itu teorinya? Ayo kita pelajarin bareng, ayo kita lebih tahu bareng. Dan kalau misalkan kita tipenya yang berbeda, kita jadi tahu gimana cara mengatasinya. Contoh kayak kitanya yang anxious, oh, tapi dianya avoidant. Wah, jadi susah nih gitu kan. Kayak gue takut dia bakal enggak ada, dia tipenya yang mau cabut aja atau kayak super santai enggak menunjukkan emosi atau cintanya. Tapi kalau dia tahu, oh ya, dia memang seperti itu.
Nah, ini kan sama juga sama human design. Bedanya yang love language ini spesifik ke love dan dia mengisi sendiri kan sesuai dengan kondisi kita, ngisi kuisnya. Kalau human design kan di tempat tanggal waktu lahir. Jadi sebenarnya enggak berubah gitu ya. Sama juga konsepnya kalau kita saling tahu human design calon pasangan dan dengan izinnya mereka ya, kayak aku mau ngenalin kamu dari perspektif human design, kita cocoknya di mana, potensi konfliknya di mana, dan dari potensi konflik itu cara mengatasi konfliknya gimana. Nah, itu kan ngebantu proses pengenalan juga. Jadi pengenalan enggak pas pacaran aja, pas mencari jodohnya, pas nikah juga kan pasti ada proses pengenalan lagi. Iya.
Oke, menarik. Pertanyaan terakhir ya, dari Yasir Lalang. Kak, ini berat nih, Kak. Saya baru putus hari ini. Kasihan. Iya, karena kesalahan saya. Heeh. Dan itu sudah berjalan hubungan kita sudah berjalan 2 tahun. Gimana cara aku bisa move on?
Take your time, enggak sih? Iya, take your time. Hari ini banget nih, langsung ke berkelas. Iya, iya, cocok. Artinya itu sudah selaras. Kalau misalkan baru putus itu kan ada banyak biasanya rasa duka atau rasa kehilangan. Mungkin biasanya sering ada yang chat selamat pagi, good morning, atau sebelum tidur, gitu, gitu. Terus tiba-tiba jadi enggak ada. Itu kan butuh penyesuaian. Dan di proses penyesuaian ini mungkin adalah tadi, kalau ada emosi negatif yang kita bahas, jadi ngenalin diri sendiri lagi. Mungkin kita bisa lebih healing luka-luka lama atau kontemplasi aja. Kayak putusnya kenapa, kan kita enggak tahu ya, cuman jadi lebih observasi. Oh, salah gue di mana, kurang pasnya di mana, lalu apa pelajarannya kalau mau buat hubungan ke depannya, gitu, sama orang yang sama, balikan, atau sama orang lain, gitu ya.
Tapi menurutku kalau lagi baru putus, kita tuh ada pengin rush the process. Kayak gua ngerasa sedih, kecewa, marah, tapi gua benar-benar enggak nyaman sama perasaan ini, gua pengin cepat-cepat selesai. Gua cari distraksi. Distraksinya bisa sehat, bisa enggak. Gitu. Bisa dengar lagu bernadia katanya. Iya. Gitu. Nah, jadi caranya adalah ya take your time sebenarnya. Take your time. Be kind to yourself. Kayak baik sama diri sendiri. Walaupun tadi dia bilang kayak karena salah dia ya, ya. Jadi mungkin kalau dia mungkin bisa memaafkan dirinya sendiri. Bisa juga untuk mengkontemplasi, oke, bagaimana caranya aku bisa, paling tidak, energi yang enggak terlalu jatuh banget. Karena biasanya kalau putus, ada orang yang depresi, ada yang segala macam gitu. Apa hal-hal yang bisa paling tidak membuat netral? Menyadari, mendistraksi, ketemu teman, punya apa ya, interest atau komunitas. Terus ya lama-lama dia bisa mungkin enggak setrigger itu. Tapi take your time lagi sih. Don't rush the process.
Orang maunya tuh langsung buru-buru move on. Kalau bisa hari ini putus, besok ketemu wanita lain misalnya. Kayak iya. Atau ada juga orang yang sebenarnya dia takut di fase dia bakal kesepian. Kan karena tadi rutinitasnya selamat pagi, selamat malam, sudah makan belum, gitu-gitu kan. Tapi ada fase di mana dia enggak lagi dengan kekasihnya. Ya, dia bakal takut fase kesepian, takut fase dia mau dekatin orang ada penolakan. Harus mulai dari nol. Kadang orang enggak mau mulai lagi ya. Iya.
Suruh nonton ini episode Mas Aji yang kemarin. Iya, mungkin itu bisa juga nonton fullnya episode Mas Aji. Keren nih ada di sini dikar. Iya. Mungkin dari aku ya, pertanyaan terakhir ya. Ini biasanya aku bakal tanyain ke teman-teman sih. I best advice untuk anak 20-an versi Samara. Wow. Best advice buat anak umur 20-an. Dirasain dulu. Kalau aku ngomong ke aku diri sendiri yang 20-an adalah, don't worry. Itu yang enggak usah khawatir. Kayaknya aku di di umur 20-an dan banyak teman-teman yang di umur 20-an tuh terlalu jauh khawatirnya. Dan kadang kalau dipikirin sekarang, khawatirnya mungkin enggak sebegitu penting atau sebesar itu. Iya. Gitu. Ee, tapi dulu kelihatannya gede dan wajar gitu. Karena ya itu adalah masalah-masalah yang kita pahami. Contoh masalah di kampus, masalah baru masuk kantor, ditanyain kapan nikah, mungkin sudah nikah, kapan punya anak, Kak. Banyak pertanyaan itu. Tapi memahami bahwa it will all be fine. Dan kalau it's not fine, it will be a lesson. He. Gitu. Itu yang mungkin hal yang kalau kita ngobrol ke teman ada masalah, ya mungkin kita bukan bermaksud untuk membuat masalahnya kecil. Jadi meminimalis problemnya, enggak. Bukan bilang kayak, ya udahlah, lu enggak usah pikirin itu, ya udahlah bukan masalah. Cuman kita punya kecenderungan untuk membesar-besarkan hal yang enggak perlu sebesar itu. Jadinya jadi melihat masalah yang terjadi depan mata kita aja. Jangan yang terlalu jauh ke depan, jangan terlalu jauh masalah orang lain. Tapi ya fokus ke diri sendiri, ngenalin diri sendiri. Kalau human design salah satu yang teman-teman tertarik, bisa dari situ. Kalau yang lain bisa juga gitu. Bisa dari meditasi, bisa dari Myers-Briggs, gitu, MBTI, atau dari kenalan ngobrol sama orang. Tapi don't worry, don't worry. We suffer more in imagination than in reality. Thank you, Samara. Thank you. Terima kasih teman-teman sudah nonton. Don't worry.