Transcription
[muzik] [muzik] Shalom, salam sejahtera di dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus. Puji Tuhan kita boleh berjumpa kembali dalam program pendalaman Alkitab melalui pelajaran sekolah sabat bersama dengan kami Cornelius Media.
Kita sudah tiba di pelajaran yang kelapan dengan tema memiliki iman. Saya Pendeta Edward Tali Wongso bersama dengan Pendeta Felix Gosal dan Pendeta Widodo Purwanto akan menolong dalam pendalaman Alkitab kita pada kesempatan ini. Kami tetap mengingatkan mari mempelajari pelajaran sekolah sabat di tempat kita masing-masing.
Sebelum kita masuk lebih dalam, mari kita tunduk kepala dan kita berdoa. Bapa Tuhan kami, Allah yang maha baik, terima kasih untuk kasih setia-Mu, terima kasih untuk kebaikan-Mu. Sekarang kami mahu belajar bagaimana kami dapat memiliki iman yang sejati. Bukalah hati dan fikiran kami. Di dalam nama Yesus kami sudah berdoa. Amin.
Ada empat bahagian dalam program ini. Yang pertama, kita melihat dasar Alkitabiah. Yang kedua kita cuba menggali makna dari ayat hafalan. Yang ketiga, pokok fikiran yang muncul dari pelajaran hari per hari. Dan di bahagian akhir kita tiba kepada aplikasi.
Mari kita lihat dasar Alkitabiah. Markus 8 ayat 11 sampai 12. Orang Farisi meminta tanda dari syurga untuk mencubai Yesus. Tetapi Yesus menegur ketidakpercayaan mereka dan menolak memberikan tanda kepada generasi yang keras hati.
Matius 15 ayat 21 sampai 28. Perempuan Kanaan menunjukkan iman dan kerendahan hati yang besar ketika memohon kesembuhan bagi anaknya. Kerana ketekunan dan imannya, Yesus mengabulkan permohonannya.
Lukas 7 ayat 1 sampai 10. Perwira Romawi percaya bahawa Yesus cukup berkata saja untuk menyembuhkan hambanya dan Yesus memuji imannya.
Efesus 2 ayat 8. Keselamatan adalah anugerah Allah yang diterima melalui iman, bukan hasil usaha atau jasa manusia.
Ibrani 11. Pasal ini menunjukkan bahawa iman adalah dasar pengharapan dan keyakinan kepada Allah. Dan ini dinyatakan melalui ketaatan para tokoh iman walaupun mereka belum melihat penggenapannya.
Wahyu 14 ayat 12. Umat Allah pada akhir zaman digambarkan sebagai orang-orang yang tekun memegang perintah Allah dan iman kepada Yesus. Kesetiaan dan ketahanan iman menjadi ciri dari umat Tuhan yang sejati.
Selanjutnya kita melihat pengertian judul memiliki iman. Pertanyaan yang sangat mendasar, apa itu iman? Iman adalah kepercayaan dan ketergantungan penuh kepada Allah berdasarkan firman dan janji-Nya walaupun belum melihat hasil secara nyata.
Ibrani 11 ayat 1 menyatakan bahawa iman itu adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Dalam pelajaran sepanjang pekan ini, iman itu bukan sekadar perasaan atau fikiran positif. Tetapi hubungan yang hidup dengan Allah dan ini dinyatakan dengan percaya, berharap dan taat kepada-Nya.
Adakah iman itu bertumbuh atau langsung sempurna? Jawabannya, iman itu bertumbuh secara bertahap. Ada tokoh-tokoh Alkitab seperti Abraham, perempuan Kanaan, perwira Roma menunjukkan ada proses belajar percaya kepada Allah melalui pengalaman hidup mereka. Jadi iman itu diperkuat melalui doa, melalui baca firman Tuhan dan juga melalui ujian dan ketaatan sehari-hari. Kerana itu iman bukan sesuatu yang langsung sempurna sejak awal, tidak. melainkan berkembang melalui hubungan yang terus-menerus dengan Kristus.
Adakah ada yang disebut iman yang mati? Jawabannya ada. Iman yang mati adalah iman yang hanya berupa pengakuan di mulut, tetapi tidak menghasilkan kehidupan yang berubah dan ketaatan kepada Allah. Nah, pelajaran pekan ini menekankan bahawa iman yang sejati selalu berkaitan dengan hubungan yang hidup dengan Tuhan yang diwujudkan dalam kesetiaan. Wahyu 14 ayat 12 menggambarkan umat Tuhan sebagai mereka yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus. Jadi, iman yang tidak menghasilkan kesetiaan itu adalah iman yang kosong atau iman yang mati.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana mengetahui bila seseorang memiliki iman yang hidup? Iman yang hidup itu nampak atau terlihat dari yang pertama ketekunan percaya walaupun keadaan sulit. Yang kedua, kehidupan berdoa yang terus-menerus. Yang ketiga, taat kepada firman Tuhan. Yang keempat memiliki pengharapan kepada kedatangan Kristus. Yang kelima, selalu bersandar kepada Allah bukan pada kekuatan sendiri. Ini adalah tanda orang yang memiliki iman. Lalu kemudian kesetiaan di dalam pencobaan.
Adakah mungkin manusia biasa seperti saudara dan saya, tetapi memiliki iman Yesus? Jawabannya adalah ya. Itu sangat mungkin. Wahyu 14 ayat 12 berbicara tentang umat akhir zaman yang memiliki iman kepada Yesus atau iman Yesus. Ini berarti orang percaya dapat memiliki iman yang berasal dari hubungan dengan Kristus dan meneladani cara percaya serta taat Yesus kepada Bapa-Nya.
Ellen White di dalam Gospel Workers halaman 260 mengulas tentang apa arti iman yang sejati. Dia katakan, "Iman bukanlah sekadar perasaan. Iman sejati sama sekali tidak berkaitan dengan presumsi. Hanya orang yang memiliki iman sejati yang terlindung dari presumsi. Sebab presumsi adalah imitasi iman yang diciptakan syaitan. Iman mengklaim janji-janji Allah dan menghasilkan buah-buah dalam ketaatan. Presumsi juga mengklaim janji-janji itu, tetapi menggunakannya sebagaimana yang dilakukan oleh syaitan untuk membenarkan pelanggaran. Iman seharusnya telah menuntun nenek moyang kita, Adam dan Hawa untuk mempercayai kasih Allah dan menaati perintah-perintah-Nya. Tetapi kesombongan menuntun mereka untuk melanggar hukum-Nya dengan keyakinan bahawa kasih-Nya yang besar akan menyelamatkan mereka dari konsekuensi dosa mereka."
Kita tiba pada ayat hafalan Ibrani 11 ayat 1. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
Nah, mari kita lihat apa konteks dan latar belakang ayat ini. Nah, yang pertama pada saat surat Ibrani ditulis, ada banyak orang percaya berlatar belakang Yahudi. Mereka tinggal di Yerusalem dan masih sangat bersemangat mempertahankan hukum upacara. Kita boleh lihat itu dalam Kisah Para Rasul pasal 21. Mereka masih merayakan hari raya, mempersembahkan korban haiwan dan bergantung pada bait suci yang ada pada saat itu. Mereka belum sepenuhnya memahami bahawa semua ritual itu bersifat sementara dan sudah digenapi dalam Kristus. Konteks Ibrani 11 adalah keperluan mendesak untuk membuka mata rohani mereka. bahawa iman sejati tidak lagi berpusat pada bayangan, iaitu ritual-ritual yang ada pada saat itu, tetapi pada realiti, iaitu Kristus yang ada di syurga.
Kemudian yang kedua, jemaat Kristian Yahudi saat itu tampak tidak menyedari bahawa ada bencana yang akan segera menimpa mereka. Yerusalem dan Bait Suci akan dihancurkan oleh Romawi. Jika iman mereka masih berakar pada bangunan fizikal dan ritual yang ada di dalamnya, maka kehancuran bait suci akan juga menghancurkan iman mereka. Ibrani 11 hadir sebagai sauh di tengah krisis yang akan datang dengan menunjukkan para pahlawan yang beriman kepada janji Allah yang tidak terlihat.
Kemudian yang ketiga, secara struktur Ibrani 11 tidak berdiri sendiri. Pasal sebelumnya iaitu pasal 10 diakhiri dengan peringatan serius. Kita boleh baca di dalam ayat 36. Di sana dikatakan, "Kamu memerlukan ketekunan supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu." Lalu pasal sesudahnya iaitu pasal 11 di sana di ayat 1 memberikan definisi dari iman itu dan ayat 4 sampai 38 memberikan contoh-contoh konkrit dari iman itu dalam pengalaman tokoh-tokoh Alkitab seperti Nuh, Musa, Abraham dan lain sebagainya. Dan setelah pasal 11, kita masuk kepada pasal 12 di sana ayat 1 sampai 3 mengajak pembaca untuk berlari dengan tekun dalam perlumbaan yang diwajibkan bagi kita dengan mata yang tertuju kepada Kristus.
Jadi, Ibrani 11 di sini berfungsi sebagai jambatan antara peringatan yang ada di dalam pasal 10 dan ajakan yang ada di dalam pasal 12. Ibrani 11 memberikan bukti sejarah bahawa iman yang didefinisikan di ayat 1 atau ayat hafalan kita ini benar-benar bekerja dalam kehidupan orang-orang percaya sepanjang sejarah perjanjian lama. Seventh-day Adventist Bible Commentary jilid 7 halaman 389 mengatakan, "Sudah saatnya mata orang Kristian Yahudi dibukakan terhadap realiti syurgawi ketika bait suci mereka dihancurkan, mereka perlu memiliki iman yang berlandaskan sesuatu yang pasti dan teguh dan yang tidak akan gagal." Jika fikiran mereka dapat diarahkan kepada imam besar syurgawi dan tempat kudus serta kepada korban yang lebih baik daripada lembu dan kambing, mereka tidak akan gentar ketika bangunan duniawi semata lenyap.
Nah, mari kita lihat pengertian ayat hafalan kita. Apa artinya dasar dan bukti di dalam ayat ini? Dan apa artinya sesuatu yang kita harapkan dan sesuatu yang tidak kita lihat? Nah, mari kita lihat pertama-tama pengertian dasar dan bukti. Nah, kata dasar atau hipostasis ini secara harfiah berarti berdiri di bawah. Ini sama seperti fondasi gedung atau dalam konteks hukum zaman itu berarti sijil kepemilikan atau akta jaminan. Jadi iman di sini bukan sekadar berharap semoga itu terjadi, tetapi memiliki sijil. Artinya di sini adalah memiliki kepastian legal bahawa apa yang Tuhan janjikan itu sudah menjadi milik kita meskipun belum kita nikmati secara fizikal.
Sehubungan dengan ini, Seventh-day Adventist Bible Commentary jilid 7 halaman 471 mengatakan bahawa hipostasis digunakan dalam papirus kuno sebagai dokumen hukum yang digunakan seseorang untuk membuktikan kepemilikan propertinya. Dokumen-dokumen tersebut bukanlah properti itu sendiri, tetapi memberikan bukti keberadaannya dan haknya atas properti tersebut. Oleh kerana itu, hipostasis di sini dapat diertikan sebagai akta kepemilikan. Iman adalah akta kepemilikan. Dengan iman, orang Kristian menganggap dirinya sudah memiliki apa yang telah dijanjikan kepada-Nya.
Mari kita lanjut. Apa bukti? Apa artinya bukti dalam ayat ini? Nah, bukti ini muncul dalam kata elegchos. Kata ini berarti pembuktian keyakinan yang kuat atau alat ukur. Sehubungan dengan ini, komentar Advent mengatakan iman tidak boleh disamakan dengan sikap mudah percaya. Kerana iman diperkuat sampai batas tertentu oleh bukti.
Kemudian mari kita lanjut. Apa pengertian sesuatu yang diharapkan dan sesuatu yang tidak dilihat? Nah, sesuatu yang diharapkan ini merujuk pada janji-janji Allah yang penggenapannya masih di masa depan atau bersifat eskatologis. Jadi, kita berharap bukan dalam arti ragu-ragu, tetapi dalam arti menantikan dengan pasti sesuatu yang sudah dijanjikan, yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sedangkan sesuatu yang tidak dilihat ini merujuk pada kebenaran-kebenaran rohani yang nyata adanya. Tetapi tidak dapat kita lihat atau tidak dapat kita tangkap oleh indra fizikal kita. Itu termasuk keberadaan Allah pada saat ini, kasih-Nya yang kita rasakan saat ini, pengampunan dosa yang kita rasakan, penyertaan Roh Kudus. Oleh kerana itu, dalam konteks ini sesuatu yang tidak dilihat ini merujuk pada janji-janji Allah yang belum tergenapi secara fizikal. Ini menunjukkan bahawa iman Kristian itu bersifat eskatologis, mengarah ke depan. Kita hidup hari ini berdasarkan kepastian masa depan yang telah dijanjikan Allah.
Jadi secara sederhana Ibrani pasal 11 ayat 1 ini mengajarkan bahawa iman itu adalah jambatan yang menghubungkan apa yang diharapkan dengan sesuatu yang tidak kelihatan saat ini. Jadi itu sementara merujuk kepada janji di masa depan. Harapan kepada janji di masa depan yang tidak kelihatan dengan apa yang kita hadapi saat itu. Iaitu kehidupan kita saat ini. Bagaimana kita melihat kasih Allah, iman Allah. dan lain sebagainya. Iman membuat janji masa depan terasa pasti sekarang dan membuat realiti rohani terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dan inilah yang memungkinkan para pahlawan iman di dalam Ibrani pasal 11. Mereka bertindak berani kerana mereka melihat Dia yang tak kelihatan dan hidup hari ini. Seolah-olah janji itu sudah terjadi hari ini.
Sekarang kita masuk pada pokok pembahasan. Berikan saja saya suatu tanda. Apa latar belakang topik? Berikan saja saya satu tanda. Dan apa tanda yang dimaksud? Latar belakang topik ini adalah kecenderungan manusia untuk meminta bukti nyata sebelum mahu percaya kepada Allah. Pada zaman Alkitab, banyak orang berfikir bahawa jika mereka melihat mukjizat besar, maka mereka akan memiliki iman. Namun kenyataannya meskipun bangsa Israel melihat laut merah terbelah, manna turun dari langit dan banyak mukjizat lainnya, mereka tetap sering meragukan Allah. Jadi, tanda yang dimaksud dalam konteks pelajaran hari Minggu adalah bukti yang dapat dilihat atau dirasakan yang diminta manusia untuk meyakinkan diri bahawa Allah benar-benar ada, berkuasa atau bahawa Yesus adalah Mesias dan anak Allah.
Nah, dalam Alkitab tanda sering berupa tindakan ajaib atau mukjizat yang menunjukkan kuasa Allah. Contoh tanda dalam Alkitab antara lain Laut Merah Terbelah Keluaran pasal 14, Manna turun dari langit Keluaran pasal 16. Tiang awan dan tiang api yang menuntun Israel. Keluaran 13 ayat 21 dan 22. Dan Yesus menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang mati. Api turun dari langit pada zaman Elia di Gunung Karmel menurut satu Raja-raja pasal 18 dan lain sebagainya.
Adakah bila tanda diberikan secara automatik seseorang akan percaya? Saudaraku, ada beberapa contoh dalam Alkitab. Baik Perjanjian Lama mahupun Perjanjian Baru. Pernyataan kuasa supranatural Allah tidak serta-merta membuat seseorang percaya atau memiliki iman kepada Allah. Firaun melihat tanda namun tidak percaya. Izebel mengalaminya namun tetap menolak untuk percaya. Seventh-day Adventist Bible Commentary jilid 5 halaman 397 sampai 398 menggambarkan bahawa para pemimpin Yahudi, orang-orang Farisi juga Herodes meminta Yesus menunjukkan tanda. Namun dikatakan, "Tidak seorang pun dari mereka yang merespon secara positif terhadap berbagai mukjizat yang Yesus lakukan. Setiap bukti keilahian-Nya hanya membuat mereka semakin bertekad untuk membungkam-Nya. Hingga akhirnya kebangkitan Lazarus dari kematian justru membuat mereka melipatgandakan usaha mereka untuk menyingkirkan Yesus."
Dalam Markus 8 ayat 11 dan 12, orang Farisi meminta tanda. Tapi dikatakan di halaman 398 bahawa seandainya tanda itu diberikan, mereka tetap tidak akan menerimanya dan percaya. Mengapa mereka tidak mahu percaya? Jawabannya ialah kerana mereka telah mengeraskan hati mereka sehingga mereka tidak mahu percaya bukti-bukti yang nyata tentang otoriti dan keilahian Kristus. Mereka sebenarnya tidak percaya pada firman Allah. Dikatakan bahawa alasan utama mengapa ahli Taurat dan orang Farisi menolak menerima Kristus adalah kerana mereka sebenarnya tidak menerima kitab suci Perjanjian Lama yang bersaksi tentang Yesus. Dan hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan dalam Yohanes 5 ayat 45 sampai 47. Orang Farisi meminta tanda dengan motivasi yang salah, iaitu hanya untuk mencuba Yesus, bukan untuk percaya kepada-Nya. Mereka telah melihat cukup banyak mukjizat, tetapi hati mereka tetap menolak terang itu.
Alfa Omega jilid 6 halaman 12 katakan bahawa setiap mukjizat yang diadakan oleh Kristus menjadi suatu tanda keilahian-Nya. Ia sedang melakukan pekerjaan yang sama yang telah dinubuatkan tentang Mesias. Tetapi bagi orang Farisi, perbuatan kemurahan ini merupakan suatu penghinaan yang pasti. Mukjizat-mukjizat-Nya merupakan suatu celaan bagi mereka. Kerana sebenarnya mereka penuh dengan kesombongan dan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tidak memiliki belas kasihan terhadap penderitaan orang lain.
Sekarang bagaimana dengan kita? Adakah kita juga meminta tanda sebelum percaya? Alfa Omega jilid 6 halaman 12 kembali katakan, "Bila pekabaran kebenaran disampaikan pada zaman kita, banyak orang akan berseru sama seperti orang Yahudi, tunjukkanlah kepada kami suatu tanda. Perbuatlah bagi kami suatu mukjizat." Mengapa demikian? Kerana permintaan tanda sering muncul kerana hati manusia lebih mudah percaya kepada apa yang dilihat daripada kepada firman Allah. Dan hal ini bukanlah iman. Sebab menurut Ibrani 11 ayat 1, iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Itulah sebabnya Alfa Omega jilid 6 halaman 13 katakan bahawa mereka yang menghendaki suatu tanda dari Yesus telah mengeraskan hati dalam kurang iman sehingga mereka tidak melihat peta Allah dalam tabiat-Nya. Mereka tidak mahu percaya bahawa tugas-Nya merupakan kegenapan dari kitab suci.
Mengapa generasi kita sebenarnya memiliki lebih banyak alasan untuk percaya dibandingkan generasi zaman Alkitab? Bangsa Israel, saudaraku, tidak memiliki seluruh Alkitab seperti kita. Mereka belum melihat penggenapan banyak nubuatan mesianik. Sebaliknya, kita hidup dengan keuntungan rohani yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Kerana kita memiliki Alkitab yang lengkap, sejarah penggenapan nubuat dalam kehidupan umat Allah, dan kesaksian ribuan tahun pekerjaan Allah yang dahsyat.
Steps to Christ halaman 105 dan 106. Allah tidak pernah meminta kita untuk percaya tanpa memberikan bukti yang cukup sebagai dasar iman kita. Keberadaan-Nya, karakter-Nya, kebenaran firman-Nya, semuanya dibuktikan oleh kesaksian yang dapat diterima oleh akal budi kita. Dan kesaksian ini tersedia dalam jumlah yang melimpah. Kita tidak memiliki alasan untuk meragukan firman Allah hanya kerana kita tidak dapat memahami misteri-misteri kehendak-Nya.
Nah, sekarang mengapa mendasarkan iman atas tanda atau mukjizat berbahaya dan apa yang kita perlu serta perlu lakukan untuk percaya. Mendasarkan iman atas tanda atau mukjizat itu berbahaya. Kerana yang pertama tanda tidak selalu menghasilkan iman yang sejati kepada Allah dan tidak selalu membangun hubungan yang dekat dengan-Nya. bahkan justru sering mengarah pada sifat kurang percaya, pamer, dan kesombongan. Contohnya apa yang terjadi pada Petrus ketika dia berjalan di atas air menurut Matius 14 ayat 22 sampai 33.
Alfa Omega jilid 6 halaman 12. Kristus tidak mengadakan mukjizat atas permintaan orang Farisi. Ia tidak mengadakan mukjizat di padang belantara sebagai jawapan terhadap sindiran syaitan. Ia tidak memberikan kepada kita kuasa untuk membuktikan diri atau memuaskan tuntutan sifat kurang percaya dan kesombongan kita.
Yang kedua, ada kemungkinan jatuh dalam tipu daya syaitan. Maranatha halaman 207 katakan, "Musuh sedang bersiap untuk menipu seluruh dunia dengan kuasa mukjizatnya. Ia akan menyamar sebagai malaikat-malaikat terang, bahkan menyamar sebagai Yesus Kristus." Kita memerlukan tuntunan Allah melalui Roh Kudus. Alfa Omega jilid 6 halaman 13. Dalam memasyhurkan sabda Allah, tanda yang harus ditunjukkan sekarang dan senantiasa ialah hadirnya Roh Kudus untuk menjadikan sabda itu suatu kuasa yang membaharui bagi mereka yang mendengarnya. Inilah saksi Allah di hadapan dunia mengenai tugas ilahi Anak-Nya. Dan oleh pertolongan Roh Kudus kita percaya akan firman-Nya dan iman kita bertumbuh kepada Kristus. Alfa Omega jilid 6 halaman 12. Bukti tertinggi bahawa Ia datang dari Allah ialah bahawa kehidupan-Nya menyatakan tabiat Allah. Dan kehidupan seperti itu merupakan yang terbesar dari segala mukjizat.
Baik, terima kasih pendeta. Berikutnya kita melihat Yesus melihat iman mereka. Bagaimana Yesus menilai iman orang-orang yang datang kepada-Nya dalam beberapa ayat. Contohnya Markus 4 ayat 40, Matius 15 ayat 21 sampai 28 dan juga Lukas 7 ayat 1 sampai 10. Mari kita lihat satu demi satu.
Yang pertama, murid-murid dalam Markus 4 ayat 40, Alkitab mengatakan mereka takut ketika badai datang. Lalu Yesus berkata, "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" Ya, ini menunjukkan bahawa iman murid-murid masih lemah meskipun mereka pada waktu itu sudah bersama dengan Yesus.
Selanjutnya, perempuan Kanaan di dalam Matius 15 ayat 21 sampai 28, Ia tetap memohon meskipun tampaknya ditolak. Ia menunjukkan kerendahan hati dan ketekunan-Nya untuk mencari Yesus. Dan Yesus katakan, "Hai ibu besar imanmu." Yesus melihat dan memuji iman dari perempuan ini.
Kemudian ada juga perwira dalam Lukas 7 ayat 1 sampai 10. Perwira ini percaya bahawa Yesus cukup memberi perintah dari jauh untuk menyembuhkan hambanya. Dan Yesus takjub atas iman dari orang kafir ini. Dia katakan, "Iman sebesar ini tidak pernah aku jumpai." bahkan di antara orang Israel sekalipun.
Lalu selanjutnya ada seorang ayah dalam Markus 9 ayat 24. Dia mengakui bahawa imannya masih bercampur dengan keraguan. Dia katakan, "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini." Yesus melihat bukan hanya perkataan seseorang, tetapi kondisi iman di dalam hati mereka diperhatikan dan dilihat oleh Yesus.
Apa yang diajarkan Alkitab tentang hubungan atau korelasi antara iman, keraguan, dan juga tindakan Allah dalam hidup manusia. Yang pertama, iman adalah dasar hubungan dengan Allah. Tanpa iman tidak mungkin ada orang yang berkenan kepada Allah. Ibrani 11 ayat 6. Iman berarti percaya pada karakter dan kuasa Allah.
Yang kedua, iman itu tidak selalu sempurna. Murid-murid punya iman tapi iman yang kecil. Ayah dalam Markus 9 tadi punya iman tapi bercampur dengan keraguan. Tetapi Yesus tetap bekerja menolong dan menghargai mereka.
Ini yang berikut. Yesus itu memperhatikan iman kita. Mukjizat seringkali dikaitkan dengan respons iman seseorang. Kadang mukjizat juga diberikan untuk memperkuat iman kita. Di sini kita belajar bahawa Allah tidak menolak orang yang datang dengan iman yang lemah, tapi jujur dan tidak berpura-pura.
Di sini kita lihat ada peranan antara akal sehat dan juga iman. Allah menciptakan manusia dengan kemampuan berfikir. Dia mengundang dialog untuk mencari hikmat dan pengertian. Contohnya Allah berdialog dengan Abraham, dengan Musa, bahkan juga dengan Ayub. Artinya Tuhan tidak mahu kita beriman secara buta, tapi Dia mahu kita menggunakan semua kuasa kemampuan berfikir kita untuk mempercayai Dia. Namun demikian, ada titik di mana manusia tidak dapat memahami seluruh rencana Allah. Nah, pada titik ini iman mengambil peranan untuk mempercayai Allah yang tidak terbatas. Iman Kristian adalah kepercayaan yang masuk akal kepada Allah yang setia. Bahkan ketika manusia belum memahami semuanya sepenuhnya.
Bagaimana kita dapat membangun iman yang kuat ketika kita menghadapi keraguan atau situasi hidup yang sulit? Ada beberapa cara. Yang pertama datang kepada Yesus dengan jujur seperti ayah di dalam Markus 9 tadi. Yang kedua, isi fikiran kita dengan firman Tuhan. Oleh kerana Roma 10 ayat 17 mengatakan iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus. Yang ketiga, ingat pengalaman bersama Allah di masa lalu. Kalau kita ingat pertolongan Tuhan di masa lalu, itu memperkuat iman kita masa kini. Yang selanjutnya yang keempat tidak memelihara keraguan. Mengapa keraguan itu kalau ada pada kita, kita bawa kepada Tuhan bukan dipelihara. Kerana keraguan dapat menghalangi kita untuk memiliki iman yang sejati.
Berbicara tentang Yesus mengetahui iman kita, Ellen White mengatakan dalam Faith I Live By halaman 122, dia kepala pasukan Roma memiliki keyakinan pada kata-kata Kristus yang hanya diucapkan untuk memulihkan hambanya. Ketika Yesus mendengarnya, Dia takjub. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Aku belum pernah menemukan iman yang begitu besar. Tidak. Bahkan tidak di antara orang Israel. Di sini ada seorang pria yang tidak mengaku orang Israel, yang tidak memiliki kesempatan yang telah diterima Israel secara berlimpah, yang dalam iman dan penghargaan kepada Kristus jauh di depan bangsa Israel yang telah dijadikan Tuhan sebagai gudang kebenaran yang paling suci dan berharga. Yesus tahu dan Yesus melihat perwira ini justru imannya membuat Yesus takjub.
Kita tiba pada pembahasan mengenai iman bukanlah perasaan. Nah, mengapa Yesus menggunakan analogi biji sesawi sebagai iman? Bukankah kita harus memiliki iman yang besar, bukan iman yang kecil? Nah, saudara-saudaraku yang terkasih, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan mengenai hal ini. Yang pertama, kuasa iman itu terletak pada objek iman itu sendiri, bukan pada besarnya iman. Yesus menggunakan biji sesawi, iaitu biji yang terkecil yang dikenal oleh orang Yahudi saat itu untuk mengajarkan bahawa kuasa doa dan mukjizat itu tidak bergantung pada seberapa besar iman kita, tetapi pada siapa iman kita ditujukan. Iman sebesar biji sesawi yang ditunjukkan kepada Allah yang maha kuasa jauh lebih berkuasa daripada iman sebesar gunung yang ditujukan kepada diri sendiri atau kepada kekuatan lain. Dan analogi ini membebaskan kita dari tekanan untuk merasa cukup beriman. Kita tidak perlu menunggu sampai iman kita hebat baru Tuhan boleh menggunakan kita. Iman kecil yang tulus yang bersandar pada Kristus sudah cukup bagi Tuhan untuk melakukan perkara besar bagi kita.
Kemudian yang kedua, iman yang kecil dapat dan harus bertumbuh. Nah, analogi biji sesawi di sini juga mengandung makna pertumbuhan. Di dalam Matius pasal 13, Yesus sendiri membandingkan kerajaan syurga dengan biji sesawi yang tumbuh menjadi pohon besar. Demikian pula iman. Ia dimulai dari titik kecil saat pertama kali kita percaya, tetapi melalui pemuridan, pengalaman, penyertaan Roh Kudus, maka iman itu seharusnya bertumbuh semakin kuat dan berbuah. Jadi, Yesus tidak menekankan sesuatu yang kecil di sini. Biji sesawi. Bukan sebagai keadaan final dari iman itu, tetapi menunjukkan bahawa iman yang memiliki atau iman yang kecil itu memiliki potensi untuk bertumbuh dan menghasilkan dampak yang luar biasa jika dipelihara dengan benar.
Kemudian yang ketiga, jika Yesus hanya menerima iman sebesar gunung, maka kebanyakan orang akan putus asa. Tetapi dengan memakai analogi biji sesawi, Yesus menunjukkan bahawa iman yang menyelamatkan dan berkuasa itu dapat diakses oleh siapa saja. Orang sederhana, orang yang baru bertobat, orang yang merasa lemah, semua boleh. Dan ini adalah kabar baik. Kita tidak perlu menjadi pendeta untuk memiliki iman yang berkenan kepada Tuhan. Oleh kerana itu, kita boleh mulai dari mana kita berada dengan apa yang kita punya, kita dapat beriman kepada Yesus.
Nah, saudara-saudaraku yang terkasih, di dalam buku In Heavenly Places halaman 116 di sana dikatakan bukan besarnya iman, melainkan ketulusan imanlah yang diterima oleh Allah. Nah, mungkin kita bertanya, adakah iman adalah pemberian atau iman adalah respon manusia? Nah, saudara-saudaraku yang terkasih, yang pertama secara teologis iman itu adalah pemberian Allah, tetapi iman membutuhkan respon manusia. Efesus pasal 2 ayat 8 berkata, "Sebab kerana kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah." Ayat ini jelas bahawa iman itu adalah pemberian. Ada kemampuan. Di dalam ayat ini menunjukkan bahawa kemampuan untuk beriman itu adalah anugerah pemberian dari Allah. Tetapi anugerah ini tidak membuat manusia itu seperti robot atau pasif. Allah melalui Roh Kudus menarik dan menerangi hati manusia. Yohanes 6 ayat 44. Tetapi manusia harus secara sukarela merespon dengan percaya dan menyerahkan diri.
Kemudian yang kedua, Allah lebih dahulu mengasihi 1 Yohanes 4 ayat 19 menarik kita dengan kasih-Nya Yeremia 31 ayat 3 dan memberikan Roh Kudus untuk menerangi kita. Tetapi kita harus mendengar suara-Nya dan membuka pintu Wahyu pasal 3 ayat 20. Iman adalah langkah kaki kita menanggapi panggilan-Nya dan tanpa panggilan-Nya kita tidak dapat bergerak. Tanpa respon kita panggilan itu tidak menghasilkan persekutuan.
Kemudian yang ketiga, penting untuk membezakan antara iman sebagai karya dan iman sebagai sarana. Jadi iman itu bukanlah pekerjaan baik yang kita persembahkan kepada Tuhan untuk membeli keselamatan. Iman lebih seperti tangan kosong yang terbuka untuk menerima hadiah. Dan tangan itu sendiri tidak berusaha atau tidak berjasa. Ia hanya menerima. Demikian pula iman. Iman itu adalah sarana. Itu adalah alat yang dipakai Roh Kudus untuk menghubungkan kita dengan Kristus. Kita dibenarkan oleh iman. Roma 5 ayat 1. Bukan kerana iman itu sendiri mulia, tetapi kerana iman itu menghubungkan kita dengan Kristus yang mulia. Jadi, iman adalah respon yang memungkinkan yang dimungkinkan oleh anugerah. Di dalam Patriarchs and Prophets halaman 431 dikatakan iman adalah karunia Allah, tetapi kekuatan untuk menggunakannya adalah milik kita. Iman adalah tangan yang dengannya jiwa meraih tawaran rahmat dan belas kasihan ilahi.
Kita datang pada pokok pembahasan contoh-contoh iman. Dalam konteks pelajaran sekolah sabat, apa yang dimaksud dengan contoh-contoh iman? Contoh-contoh iman adalah kehidupan nyata orang-orang yang mempercayai Allah, mentaati firman-Nya, dan tetap setia kepada-Nya meskipun menghadapi kesulitan, ketidakpastian, penderitaan, bahkan kematian. Contoh-contoh ini terutama ditemukan dalam Alkitab khususnya dalam Ibrani 11 yang sering disebut sebagai saksi-saksi iman.
Mengapa hal ini penting? Melalui contoh-contoh iman kita diajar bahawa hidup bersama Allah memerlukan iman kerana kita tidak selalu melihat jawapan doa masa depan atau rencana Allah secara jelas. Kerana itu kita perlu belajar percaya kepada-Nya. Rasul Paulus katakan dalam 2 Korintus 5 ayat 7, "Sebab hidup kami ini adalah hidup kerana percaya, bukan kerana melihat."
Nah, apa definisi iman? Ibrani 11 ayat 1. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Mengapa iman penting? Iman adalah fondasi utama dalam hubungan manusia dengan Allah. Kerana iman memungkinkan manusia mempercayai Allah meskipun tidak melihat-Nya secara langsung. Dalam Alkitab, iman bukan sekadar persetujuan intelektual, tetapi penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah dan janji-janji-Nya. Ibrani 11 ayat 6. "Tetapi tanpa iman, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barang siapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahawa Allah ada dan bahawa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia." Selain itu, iman sangat berhubungan dengan keselamatan. Efesus 2 ayat yang ke-8. "Sebab kerana kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman." Dalam buku Education halaman 253, Pena Inspirasi katakan, "Iman adalah percaya kepada Allah, percaya bahawa Ia mengasihi kita dan mengetahui apa yang terbaik bagi kita."
Sekarang bagaimana tokoh-tokoh dalam Ibrani 11 menunjukkan bahawa iman adalah tindakan bukan sekadar perasaan. Tokoh-tokoh dalam Ibrani 11 menunjukkan bahawa iman selalu menghasilkan tindakan yang nyata. Mereka tidak hanya percaya di hati, tetapi juga taat kepada Allah meskipun menghadapi risiko penderitaan atau ketidakpastian.
Nuh. Contoh iman yang menunjukkan ketaatan. Ibrani 11 ayat 7. "Kerana iman maka Nuh dengan taat mempersiapkan bahtera." Nuh belum pernah melihat air bah, tetapi ia tetap membangun bahtera kerana ia taat kepada perintah Allah.
Yang kedua, contohnya Abraham. Contoh iman yang berserah. Ibrani 11 ayat yang ke-8. "Kerana iman Abraham taat lalu berangkat tanpa mengetahui tempat yang ia tujui." Abraham meninggalkan zona nyaman kerana percaya pada pimpinan Allah. Dia berserah sepenuhnya.
Yang ketiga, Musa. Contoh iman yang menyatakan kesetiaan. Ibrani 11 ayat 25. "Ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah." Musa meninggalkan kemewahan Mesir demi kesetiaan kepada Allah. Dalam buku Patriarchs and Prophets halaman 153 di sana dikatakan iman yang sejati dinyatakan melalui perbuatan dan Steps to Christ halaman 60 ketaatan adalah buah dari iman. Yakobus 2 ayat 17 dan 26. "Demikian juga halnya dengan iman. Jika iman itu tidak disertai dengan perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati. Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati."
Adakah bila kita beriman berarti tidak ada keraguan lagi? Alkitab menunjukkan bahawa orang-orang percaya boleh mengalami keraguan, tetapi Allah tidak menolak orang yang datang kepada-Nya dengan iman yang lemah. Sebab iman itu bertumbuh melalui hubungan yang terus-menerus dengan Allah. Steps to Christ halaman 105. "Allah tidak pernah menghilangkan kemungkinan keraguan. Iman kita harus bertumpu pada bukti, bukan pada demonstrasi. Mereka yang ingin ragu akan memiliki kesempatan untuk melakukannya. Sementara mereka yang benar-benar ingin mengetahui kebenaran akan menemukan banyak bukti untuk menopang iman mereka termasuk keberadaan kita dan alam semesta sesuai dengan Mazmur 19 ayat 1 dan 2 dan 139 ayat yang ke-14." Steps to Christ halaman 9. "Alam dan wahyu sama-sama menyaksikan kasih Allah." Dan dalam buku The Ministry of Healing halaman 411 dikatakan setiap bunga, pohon dan sinar matahari semuanya berbicara tentang pencipta iaitu Allah.
Sekarang bagaimana cara praktis menguatkan iman saat kita mengalami keraguan? Yang pertama berdoa meminta hikmat dan kekuatan Allah. Markus 9 ayat yang ke-24. "Tolonglah aku yang tidak percaya ini, ya Tuhan." Yang kedua, mendengarkan dan mempelajari firman-Nya. "Iman timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh firman Kristus." Roma 10 ayat yang ke-17. Dan yang ketiga, tetap berjalan bersama dengan Allah. "Hidup kami ini adalah hidup kerana percaya, bukan kerana melihat." 2 Korintus 5 ayat yang ke-7. Dan yang keempat, mengizinkan Roh Kudus memimpin. Sebab Yohanes 16 ayat 13 katakan, "Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran." Dalam Barnes' Notes on the Bible dikatakan, "Keraguan tidak selalu berarti tidak memiliki iman. Seringkali itu adalah pergumulan menuju iman yang lebih matang atau lebih dewasa."
Sekarang bukankah mereka yang merupakan contoh iman justru mengalami penderitaan di dunia ini? Bagaimana kita harus mengikuti mereka? Apa keuntungan yang didapatkan? Benar bahawa para pahlawan iman mengalami penderitaan di dunia ini, tapi mereka memiliki jaminan dari Allah akan sesuatu yang lebih berharga, iaitu kehidupan kekal di dunia yang baru. Ibrani 11 ayat 36 sampai 40. "Ada pula yang diejek dan didera, bahkan yang dibelenggu dan dipenjarakan. Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang. Mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan, dan siksaan. Dunia ini tidak layak bagi mereka. Mereka mengembara di padang gurun dan di pegunungan dalam gua-gua dan celah-celah gunung. Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu. Sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik."
Ibrani 11 ayat 13 dan 16. "Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui bahawa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik, iaitu satu tanah air syurgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka kerana Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka." Lift Him Up halaman 328. "Para pahlawan iman itu memiliki janji warisan yang nilainya jauh melebihi segala kekayaan duniawi. Warisan yang akan memuaskan kerinduan jiwa. Mereka mungkin tidak dikenal dan tidak diakui oleh dunia, tetapi mereka tercatat sebagai warga kerajaan syurga. Kemuliaan yang agung, kemuliaan yang abadi dan kekal akan menjadi upah akhir bagi mereka yang telah Allah jadikan ahli waris segala sesuatu."
Selanjutnya kita melihat tema iman Yesus. Menurut Wahyu 14 ayat 12, apa ciri utama umat Allah pada akhir zaman dan bagaimana Yesus menunjukkan iman-Nya dalam Matius 26 ayat 36 sampai 42. Ciri umat Allah pada akhir zaman menurut Wahyu 14 ayat 12 ada dua, iaitu memelihara perintah-perintah Allah dan yang kedua memiliki iman Yesus. Mari kita lihat bagaimana itu iman Yesus. Kita lihat iman Yesus pada waktu Dia di Taman Getsemani. Yesus mengalami tekanan dan penderitaan yang sangat berat. Ia berdoa agar cawan penderitaan ini berlalu sekiranya mungkin. Tetapi Dia tetap berkata, "Jangan seperti yang Aku kehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." Dari kata-kata Yesus ini kita belajar tentang sikap Yesus. Yang pertama Dia taat sepenuhnya kepada Bapa. Yang kedua, Dia percaya kepada kehendak Allah meskipun harus melalui penderitaan dan juga salib. Makna praktisnya iman Yesus bukan sekadar percaya secara intelektual, tetapi kesetiaan secara total kepada Allah.
[mendengus] Umat Allah di akhir zaman bukan hanya memegang kebenaran doktrin, tetapi juga memiliki kualiti iman yang sama seperti yang ditunjukkan oleh Yesus. Pertanyaan selanjutnya, apa arti iman Yesus secara teologis dan mengapa baik hukum dan Injil harus berjalan bersama-sama? Mari kita lihat arti iman Yesus. Iman Yesus dapat dipahami sebagai yang pertama iman kepada Yesus atau yang kedua iman yang dimiliki Yesus iaitu kesetiaan dan kepercayaan-Nya kepada Bapa. Artinya apa? Yesus itu adalah teladan iman yang sempurna. Ia tetap taat bahkan sampai mati di kayu salib. Filipi 2 ayat 8. Dari kisah ini kita belajar apa itu pembenaran oleh iman. Artinya keselamatan diperoleh melalui kasih karunia dan iman kepada Kristus bukan usaha manusia.
Bagaimana itu iman Yesus dalam hidup orang percaya? Nah, Yesus tinggal di dalam hati orang percaya melalui kuasa Allah Roh Kudus. Artinya apa? orang percaya menerima iman-Nya sebagai anugerah. Ini menjawab tuduhan bahawa gereja Advent hanya menekankan hukum. Sama sekali tidak. Wahyu 14 ayat 12 menunjukkan bahawa hukum dan iman itu berjalan bersama-sama. Kita menolak faham legalisme yang artinya ketaatan itu bukan cara kita memperoleh keselamatan, tetapi itu adalah buah dari hubungan iman kita dengan Kristus.
Bagaimana kita dapat memiliki dan mempraktikkan iman Yesus dalam kehidupan kita sehari-hari? Yang pertama, kita jadikan Yesus sebagai pusat hidup kita. Kita memiliki hubungan yang peribadi dengan Dia setiap hari. Kita mengutamakan doa dan pembelajaran firman. Yang kedua, kita belajar percaya walaupun di tengah-tengah kesulitan. Seperti Yesus di Taman Getsemani tetap percaya walaupun menghadapi penderitaan. Yang ketiga, menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Allah. Kita harus belajar untuk berkata, "Jadilah kehendak-Mu. Jangan memaksakan kehendak kita sendiri. Lalu kemudian mempraktikkan ketaatan. Memelihara perintah Allah sebagai respon kasih kepada-Nya. Meminta supaya Yesus memberikan kepada kita iman. Ada beberapa praktik nyata yang perlu kita lakukan supaya iman kita menjadi seperti Yesus. Yang pertama, berdoa pada saat iman kita terasa lemah. Yang kedua, ingat kesetiaan Allah di masa lalu. Dan yang ketiga, tetap setia walau kita belum melihat hasilnya secara langsung. Iman Yesus bertumbuh ketika kita hidup dekat dengan Kristus dan membiarkan kehidupan-Nya bekerja di dalam hati kita hari lepas hari.
Ellen White dalam Testimonies for the Church jilid 3 halaman 446 dan 457 mengulas tentang iman sejati dari umat Allah di akhir zaman. Dia katakan Allah sedang memimpin suatu umat dan menegakkan mereka di atas landasan iman yang agung, iaitu perintah-perintah Allah dan kesaksian Yesus. Ia telah memberikan kepada umat-Nya rangkaian kebenaran Alkitab yang lurus, jelas, dan saling terkait. Kebenaran ini berasal dari syurga dan telah dicari layaknya harta yang tersembunyi. Kemenangan yang diraih Yesus di padang gurun adalah jaminan bagimu dan kemenangan yang dapat kamu raih melalui nama-Nya. Harapan dan keselamatanmu yang satu-satunya adalah dengan mengalahkan sebagaimana Kristus telah mengalahkan. Demikianlah pengharapan umat Tuhan di akhir zaman. Mereka dapat bertahan. Mereka dapat mengalahkan syaitan apabila mereka memiliki iman Yesus.
Kita tiba pada pendalaman. Jika kita sudah dibenarkan oleh iman, mengapa kita perlu lagi melalui proses pengudusan? Adakah pembenaran saja tidak cukup? Nah, saudara-saudara, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Yang pertama, pembenaran dan pengudusan adalah dua sisi dari satu poin keselamatan. Pembenaran atau justification itu adalah tindakan Allah yang menyatakan kita tidak bersalah di hadapan-Nya kerana iman kepada Yesus. Dan ini adalah perubahan status hukum dari yang terhukum menjadi diterima. Dan ini terjadi sekali saat kita percaya Roma pasal 5 ayat 1. Nah, sedangkan pengudusan atau sanctification ini adalah proses yang mengubah karakter kita menjadi serupa dengan Kristus. Ini adalah perubahan sifat dan perilaku yang berlangsung seumur hidup. 1 Tesalonika 5 ayat 23 di dalam buku Sanctification halaman 10 mengatakan bahawa pengudusan bukanlah pekerjaan sesaat. Itu adalah proses. Setelah kita dibenarkan, kita perlu proses dalam kehidupan kita.
Kemudian yang kedua, iman yang sejati selalu menghasilkan buah. Yakobus pasal 2 ayat 17 berkata, "Iman jika tidak disertai perbuatan pada hakikatnya adalah mati." Nah, pembenaran oleh iman itu bukan berarti kita bisa pasif dan terus hidup dalam dosa. Nah, justru sebaliknya iman yang menyelamatkan itu adalah iman yang hidup yang secara alami menghasilkan buah pertobatan dan juga kekudusan. Kita tidak berjuang untuk dikuduskan agar diselamatkan, tetapi kita berjuang untuk dikuduskan kerana kita sudah diselamatkan. Pengudusan adalah bukti syukur dan respon cinta kepada Allah yang telah membenarkan kita.
Nah, mungkin kita bertanya, apa hubungan puasa dengan iman? Bagaimana dengan orang yang tidak mampu berpuasa oleh kerana alasan kesihatan? Nah, saudara-saudara, puasa itu adalah latihan spiritual yang memperkuat otot iman kita. Puasa itu bukan cara untuk membeli perhatian Tuhan atau menambah poin keselamatan. Puasa adalah disiplin rohani yang membantu kita melatih ketergantungan total kepada Allah. Saat kita menahan kebutuhan fizikal, entah itu makanan, kita diingatkan bahawa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Matius 4 ayat 4. Secara teologis, puasa mengosongkan ruang bagi ego dan keinginan daging sehingga Roh Kudus dapat mengisi dan menguatkan iman kita. Iman seperti otot jika dilatih dengan disiplin seperti puasa itu akan menjadi lebih kuat dan kita dapat selalu mengandalkan Tuhan.
Kemudian kita harus mengerti bahawa prinsip di balik puasa itu adalah penyangkalan diri dan fokus kepada Allah. Jadi inti dari puasa itu bukan sekadar tidak makan, tetapi ada penyangkalan diri di sana. Ada fokus kepada Allah, self denial dan God focus. Dan puasa ini mengajarkan kita untuk berkata tidak pada keinginan diri agar kita boleh berkata ya pada kehendak Tuhan. Dan ini selaras dengan ajaran Yesus. Matius 16 ayat 24. "Setiap orang yang mahu mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya." Jadi, hubungan puasa dan iman adalah puasa adalah sarana praktis untuk melatih iman agar lebih murni, lebih fokus, dan lebih bergantung pada Allah, bukan pada kenyamanan diri sendiri.
Kemudian yang berikut, puasa itu bukan ritual. Bagi orang yang tidak dapat berpuasa secara fizikal, Allah melihat hati bukan sekadar melihat tindakan luar. Bagi mereka yang tidak mampu berpuasa oleh kerana alasan kesihatan misalnya mereka mungkin menderita maag atau mungkin diabetes atau mungkin ibu hamil usia lanjut dan lain sebagainya, maka prinsip penyangkalan diri dan fokus Allah itu tetap dapat diterapkan dalam bentuk lain. Nah, puasa dalam bentuk lain itu boleh berupa puasa media. Menahan diri dari menatal media sosial untuk lebih banyak berdoa, merenung, fokus kepada Tuhan. Kita juga boleh melakukan puasa hiburan mengurangi waktu menonton, bermain untuk membaca Alkitab dan melayani sesama. Ada juga puasa mengurangi makanan tertentu atau puasa menahan diri dari belanja yang tidak perlu dan lain sebagainya. Jadi intinya di sini adalah bagaimana kita boleh menahan diri kita dan boleh fokus kepada Tuhan di dalam sebuah hubungan. di dalam Celebration of Discipline halaman 45 sampai halaman 50 di sana ada ide yang mengatakan bahawa puasa adalah disiplin yang membebaskan kita dari perbudakan keinginan fizikal. Puasa yang alkitabiah selalu berpusat pada Kristus dan dilakukan dengan sukacita, bukan sebagai beban hukum. Bagi yang tidak mampu berpuasa makanan, prinsip penyangkalan diri dapat diterapkan dalam area lain.
Saudaraku, sebagai penutup dan aplikasi dari apa yang kita pelajari dan diskusikan bersama, bagaimana agar kita memiliki iman dan menumbuhkannya. Sekali lagi saudaraku, "iman timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh firman Kristus." Roma 10 ayat 17. Jadi, iman bertumbuh ketika seseorang membaca, mendengar, mempelajari, dan merenungkan firman Tuhan setiap hari. Education halaman 191. "Tidak ada sesuatu yang lebih dihitung untuk menguatkan iman selain mempelajari Alkitab dengan tekun." Nah, penerapan praktisnya adalah membaca Alkitab setiap hari, menghafalkan janji-janji firman Tuhan, mendengarkan khutbah dan pelajaran Alkitab, serta merenungkan firman Tuhan dalam doa-doa kita. Steps to Christ halaman 51. "Jangan menunggu sampai engkau merasa layak untuk percaya. Percayalah kepada Allah kerana firman-Nya."
Nah, iman bertumbuh juga melalui doa dan hubungan yang akrab dengan Tuhan. Doa membuka hubungan peribadi dengan Allah. Ketika doa dijawab, pengalaman bersama Tuhan akan memperkuat iman kita. Steps to Christ halaman 94. "Doa adalah kunci di tangan iman untuk membuka gudang syurga." Iman juga bertumbuh melalui pengalaman bersama dengan Tuhan. Ketika doa terasa tidak dijawab, iman kita sedang diuji. Dan saat kita boleh melewati ujian itu, iman kita akan semakin bertumbuh. Testimonies for the Church jilid 5 halaman 578. "Iman bertambah kuat melalui konflik dan keraguan." Dan dikatakan di dalam Mazmur 34 ayat 9, "Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan itu." Life Sketches halaman 196. "Kita tidak mempunyai alasan untuk takut akan masa depan kecuali jika kita melupakan cara Tuhan memimpin kita di masa lalu." Pada akhirnya iman bertumbuh melalui ketaatan. Ketika seseorang taat kepada Tuhan, meskipun belum melihat hasilnya, imannya semakin dikuatkan.
Sekarang mengapa memiliki iman itu penting khususnya bagi kita di akhir zaman ini. Kita hidup di zaman yang penuh dengan ketidakpastian, krisis moral, ketakutan, tekanan ekonomi, peperangan, bencana alam, dan kemerosotan rohani. Dalam keadaan seperti ini, iman menjadi kebutuhan utama bagi kita orang percaya untuk tetap percaya kepada Allah dan memiliki hubungan yang nyata dekat dengan-Nya. Banyak orang kehilangan harapan kerana hanya bergantung pada keadaan dunia. Tetapi iman membuat kita tetap tenang kerana percaya bahawa Tuhan memegang kendali akan segala sesuatu. The Great Controversy halaman 593. "Dalam krisis terakhir sejarah dunia, hanya mereka yang memiliki iman yang hidup kepada Allah yang akan tetap berdiri teguh."
Nah, apa tanda kita memiliki iman? Iman sejati selalu menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan seseorang. Iman yang hidup menghasilkan perubahan karakter. Sebab Christ Object Lessons halaman 97 katakan "ketika Kristus tinggal di dalam hati tabiat akan diubahkan." Seventh-day Adventist Bible Commentary jilid 7 halaman 521. "Iman tanpa buah perbuatan Kristian hanyalah iman sekadar nama saja tanpa prinsip hidup yang mengendalikan tindakan hati." Halaman 5 "tanpa perbuatan iman yang sejati itu tidak ada. Penerimaan intelektual dan pengakuan iman mungkin ada tanpa perbuatan baik. Tetapi bukanlah iman yang hidup yang turut bekerja sama dengan rencana Allah untuk pemulihan manusia. Anggota gereja yang hanya sekadar nama tanpa kesaksian peribadi yang mencerminkan pelayanan Kristus bagi mereka pada dasarnya hanyalah mayat." Itulah sebabnya Yesus katakan dalam Yohanes 14 ayat 15, "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku." Mari saudaraku kita berdoa agar kita memiliki iman yang aktif, hidup dan bertumbuh dalam.
Hubungan kita dengan Allah melalui Yesus Kristus dan Roh Kudus yang nyata melalui fikiran, perkataan, dan perbuatan kita sehari-hari sehingga pada akhirnya kita didapati memiliki iman dan setia dan akan dibawa masuk ke dalam kerajaan syurga untuk hidup yang kekal yang telah Allah janjikan.
Mari kita tunduk kepala dan berdoa.
Bapa kekal, Allah kami yang bertahta di syurga, kami bersyukur memiliki Allah yang baik dan setia seperti Engkau. Engkau tidak pernah tinggalkan dan biarkan kami. Saat ini Engkau beri kami kesempatan untuk kembali belajar dari firman-Mu. Kami memerlukan kuasa Roh Kudus menuntun kami ya Tuhan kepada pengertian yang benar akan kehendak-Mu dan menolong kami supaya kami mampu mempraktikkan apa yang kami pelajari di dalam kehidupan kami berjalan bersama dengan Engkau sehingga kami boleh memiliki iman yang nyata, aktif dan hidup yang dapat menuntun kehidupan kami diubahkan sesuai dengan kehendak-Mu. Terpujilah Engkau Tuhan. Ampuni kami dari dosa kami. Berkatilah kami semua. Dalam nama Tuhan Yesus kami sudah berdoa. Amin.
[Muzik]