Transcription
[Musik] A'udzu billahi minasy syaithanir rajim. Bismillahirrahmanirrahim. [Musik] Wa unzilata tuninu billahi waahidi ma rasuliha ul minhum waqnaakum. [Musik] maal qidin. [Musik] him fahum la yafqohun lakinirasul. [Musik] Baik. Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah. [Musik] Alhamdulillah. Ashadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah. Wa ashadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli wasallim ala sayidina Muhammadin wa ala alihi wa sohbihi ajma'in waman tabiahum bi ihsanin ila yaumiddin. Amma ba'd.
Para pemirsa Wahda TV dan pemirsa Konsultasi Syariah di mana pun Anda berada, yang insyaallah kita semuanya dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa taala. Alhamdulillah, ya, senang sekali kita dapat berjumpa kembali dalam program kesayangan kita, yaitu program Konsultasi Syariah bersama Dewan Syariah Wahda Islamiyah.
Baik, para pemirsa di mana pun Anda berada, Anda dapat berkonsultasi bersama kami terkait dengan tema hari ini, yaitu permasalahan umum dan permasalahan-permasalahan kontemporer. Insyaallah kita akan dibersamai oleh narasumber kita pada malam hari ini, yaitu Al Ustaz Rahmat Badani, LC, MA, hafidahullahu taala.
Baik, mari kita sapa terlebih dahulu beliau. Assalamualaikum, Ustaz.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ustaz. Alhamdulillah.
Alhamdulillah. Semoga kita semua, saya, Ustaz, dan seluruh pemirsa yang menonton pada malam hari ini, kita semua selalu diberikan kesehatan dan perlindungan dari Allah Subhanahu wa taala. Amin ya rabbal alamin.
Baik, para pemirsa Wahda TV rahimakumullah. Anda dapat melayangkan pertanyaan Anda melalui pesan WhatsApp yang kemudian nomornya tertera pada layar, ataupun juga bisa langsung di kolom komentar kanal YouTube yang sedang kita saksikan saat ini.
Baik, kami menunggu pertanyaan Anda. Dan sembari kita menunggu, marilah kita mendengarkan secara seksama materi pengantar yang akan dibawakan oleh narasumber kita yang bertemakan "Makam Al-Qur'an dalam Kehidupan Seorang Muslim". Langsung saja saya persilakan kepada Al Ustaz untuk menyampaikan kepada kita semua. Tafadhal, Ustaz.
Barakallahu fikum. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil alamin. Wa bihi nasta'inu ala umurid dunya waddin. Ashadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah. Wa ashadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli wasallim ala Nabina Muhammad wa ala alihi wa sohbihi waman wala. Wala haula wala quwwata illa billah.
Alhamdulillah, pemirsa Wahda TV yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala. Kita banyak bersyukur kepada Allah atas limpahan karunia dan kenikmatan, nikmat kesehatan dan kesempatan kepada kita semua. Mudah-mudahan ini menjadi pertanda kebaikan yang Allah Subhanahu wa taala curahkan dan karuniakan kepada kita, yaitu tatkala kita dapat memanfaatkan waktu-waktu yang Allah berikan kepada kita dengan nikmat-nikmat tersebut, kita bisa mengubahnya menjadi taqarrub dan upaya pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa taala dengan berbagai macam bentuk ibadah dan ketaatan.
Selawat dan salam semoga senantiasa terhaturkan kepada Baginda Rasulullah Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, kepada seluruh keluarga, para sahabat, dan kita semua serta orang-orang yang konsisten sampai hari kiamat.
Pemirsa Wahda TV yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala yang berbahagia. Hari ini kita akan mengangkat penjelasan singkat terkait makamatul Qur'an di dalam kehidupan seorang muslim. Salah satu di antara sebab kemuliaan umat Islam yang Allah Subhanahu wa taala karuniakan kepada kita semua bahwa Allah Subhanahu wa taala menurunkan Al-Qur'an di tengah kita. Allah Subhanahu wa taala mengaruniakan kitab yang paling mulia, mukjizat yang paling agung yang Allah Subhanahu wa taala berikan kepada Baginda Rasulullah Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, yaitu ayat-ayat Al-Qur'an, kitabullah yang Allah Subhanahu wa taala sampaikan kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.
Al-Qur'an, ketika dia bersinggungan dengan segala sesuatu, maka apapun akan menjadi mulia karena Al-Qur'an. Karena kemuliaan yang Allah Subhanahu wa taala berikan melalui Al-Qur'an. Malaikat yang paling mulia adalah Jibril, yang Allah tugaskan untuk menyampaikan wahyu, menjadi mulia karena kemuliaan Al-Qur'an. Manusia yang paling mulia adalah nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, menjadi manusia yang termulia karena kepada beliaulah Al-Qur'an diturunkan. Tempat yang paling mulia adalah Makkah dan Madinah karena di dua tempat inilah Al-Qur'an diturunkan.
Amalan yang paling mulia adalah mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya, karena amalan tersebut bersinggungan langsung dengan Al-Qur'an. Bulan yang paling mulia adalah bulan Ramadan karena di dalamnya diturunkan Al-Qur'an. Kemudian malam yang paling mulia adalah malam Lailatul Qadar, malam kemuliaan karena di dalamnya diturunkan Al-Qur'an.
Makanya umat yang paling mulia dari seluruh umat manusia yang Allah Subhanahu wa taala telah ciptakan adalah umat yang diturunkan di dalamnya Al-Qur'an. Oleh karenanya, statement yang tadi kita sampaikan di awal itu tidak berlebihan ketika kita mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa taala memuliakan umat ini, memuliakan umat Islam, memuliakan umat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam karena Allah Subhanahu wa taala menurunkan Al-Qur'an di tengah-tengah mereka.
Di dalam sebuah hadis yang sahih diriwayatkan oleh Umar bin Khattab radhiallahu taala anhu, beliau mengatakan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Sesungguhnya dengan Al-Qur'an, dengan kitab ini, Allah Subhanahu wa taala mengangkat dan memuliakan sebagian manusia, dan karena Al-Qur'an dan kitab ini juga Allah Subhanahu wa taala merendahkan dan menghinakan sebagian manusia lainnya."
Dalam hadis yang lain Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya agama ini, ayat-ayat Allah Subhanahu wa taala, apa yang didakwahkan oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam ini akan sampai kepada seluruh tempat, selama di tempat itu ada siang ataupun malam, baik itu dengan kemuliaan mereka yang menerima Al-Qur'an, atau dengan kemuliaan mereka-mereka, atau dengan kehinaan orang-orang yang menolak Al-Qur'an."
Olehnya, para pemirsa yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala, Al-Qur'an di antara keutamaan dan kemuliaan yang Allah Subhanahu wa taala turunkan melalui Al-Qur'an ini, bahwa Allah Subhanahu wa taala memuliakan umat Islam. Allah Subhanahu wa taala mengangkat derajat umat Islam melebihi derajat dari umat-umat yang sebelumnya.
Kalau kita ingin melihat potret kemuliaan yang Allah Subhanahu wa taala berikan kepada Baginda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam sebagai orang yang diturunkan kepadanya Al-Qur'an, maka kita bisa mendapatkan dalam sirah perjalanan kehidupan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Ada banyak kejadian, ada banyak peristiwa, ada banyak potret di mana Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam mendapatkan kemuliaan dan ketenangan, kehidupan, kekhusyukan, tumakninah, justru melalui ayat-ayat Allah Subhanahu wa taala.
Kita tahu Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam menghadapi begitu banyak masalah, menghadapi begitu banyak ujian cobaan. Bahkan berdasarkan hadis, Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Asaddun nasi balaan al-anbiya', tsummal amsalu fal amsalu." Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang datang setelah mereka dari kalangan siddiqin, was syuhada', was shalihiin, dan seterusnya.
Kalau kita lihat juga di antara para nabi Allah Subhanahu wa taala dan rasul-rasul Allah Subhanahu wa taala, maka tidak ada orang, tidak ada nabi dan rasul yang melebihi kemuliaan nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Itu berarti ketika para nabi itu adalah orang-orang yang paling berat ujiannya, dan orang yang paling mulia dari para nabi itu adalah nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, berarti beliau berada di urutan yang paling pertama, orang yang paling berat ujian dan cobaannya yang Allah Subhanahu wa taala berikan kepada seluruh umat manusia.
Namun, di dalam hadis yang lain, Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mengatakan, "Seorang hamba itu diuji oleh Allah sesuai dengan kadar keimanannya. Kalau di dalam keimanan terdapat kekuatan, maka Allah akan uji dengan ujian yang berat. Kalau pada keimanannya terdapat kelemahan, maka Allah juga akan memberikan ujian kepadanya sesuai dengan kadar keimanan yang dia miliki."
Olehnya, nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam banyak menghadapi momen-momen berat, momen-momen yang menyakitkan, kezaliman, kepayahan, keletihan yang dirasakan oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dari perbuatan orang-orang kafir Quraisy, dari perbuatan orang-orang kufar, dari perbuatan orang-orang musyrik, dari perbuatan orang-orang munafik, orang-orang Yahudi, dan sebagainya.
Namun, dari seluruh potret kehidupan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, maka di antara kejadian yang terberat, sebagaimana diceritakan oleh Syekh Ali Tantawi rahimahullah taala dalam kitab beliau, bahwasanya momen yang terberat yang dihadapi oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam adalah ketika beliau terjebak bersembunyi bersama Abu Bakar As-Shiddiq radhiallahu taala anhu di dalam gua Tsur dalam peristiwa hijrah yang sangat terkenal.
Kita tahu, selama tiga hari tiga malam Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam terjebak bersembunyi dalam gua Tsur, tidak bisa keluar dan tidak bisa ke mana-mana, karena Abu Jahal dan para sahabat-sahabat dan kawan-kawannya telah memerintahkan kepada 50 orang pemuda dari semua kabilah Arab di masa itu yang ada di dalam kota Makkah untuk membunuh nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Sampai kata Syekh Ali Tantawi, mereka ingin melakukan perbuatan kriminalitas yang terbesar yang pernah terjadi di sepanjang sejarah kehidupan manusia, yaitu an yuktala Rasulul Huda Sallallahu Alaihi Wasallam, yaitu terbunuhnya Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.
Jika saja Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam tidak ditenangkan dan tidak ditolong oleh Allah Subhanahu wa taala, maka boleh jadi perjalanan kehidupan Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam akan berbeda pada hari itu juga. Namun, kita bisa bayangkan bagaimana Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dengan begitu penuh elegan dan ketenangan di dalam hati beliau, beliau menenangkan sahabat terbaik beliau, sahabat terdekat beliau, yaitu Abu Bakar As-Shiddiq radhiallahu taala anhu.
Ketika Abu Bakar As-Shiddiq mengatakan, "Ya Rasulullah, kalau seandainya salah seorang dari 50 pemuda itu yang telah berada berdiri di depan pintu gua ini, seandainya salah seorang di antara mereka ada yang mengintip atau menoleh ke tempat kedua kakinya berjejak, niscaya dia pasti akan melihat kita." Karena memang posisi dari gua Tsur itu berada sedikit agak ke bawah, ya, sehingga orang yang berada berdiri di hadapan gua Tsur pasti akan melihat keberadaan Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam dan Abu Bakar As-Shiddiq dalam gua tersebut.
Kalau seandainya mereka melihat dan menoleh ke tempat kaki mereka. Namun, demikianlah seperti itu perlindungan dari Allah Subhanahu wa taala. Dengan penuh kecemasan Abu Bakar As-Shiddiq kepada keselamatan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, Nabi Muhammad dengan penuh ketenangan beliau menenangkan sahabatnya dan mengatakan, "Ya Abu Bakrin, wahai Abu Bakar, persangkaanmu wahai Abu Bakar terhadap dua orang, sedangkan yang ketiga dari mereka adalah Allah Subhanahu wa taala. La tahzan, innallaha ma'ana. Makna, jangan engkau merasa bersedih, merasa khawatir, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala bersama kita."
Bayangkan, pemirsa sekalian, Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam dalam keadaan terjepit, tidak ada lagi tempat untuk melarikan diri. Di hadapan mereka adalah mulut gua, dan di luar mulut gua itu adalah 50 pemuda dengan pedang terhunus, siap menyembelih nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Di belakang dan di samping mereka, di samping nabi kita Sallallahu Alaihi Wasallam, dan di belakang Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam adalah gua, ya, adalah bebatuan yang tidak mungkin nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam secara akal logika tidak akan mungkin bisa menembus bebatuan tersebut, illa ayya'sya Allah.
Oleh karenanya, dalam keadaan momen seperti itu, momen terjebak seperti itu, dan tidak bisa ke mana-mana, Allah Subhanahu wa taala menurunkan ketenangan kepada nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam di dalam gua bersama Abu Bakar As-Shiddiq selama tiga hari tiga malam, bersama hewan-hewan buas, bersama hewan-hewan yang berbahaya, hewan-hewan berbisa. Namun, nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam ditenangkan oleh Allah Subhanahu wa taala. Dan ketenangan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa taala ini bersumber, berasal dari Al-Qur'an.
Olehnya, pemirsa yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala, ketika kita melihat ayat-ayat Al-Qur'an yang Allah Subhanahu wa taala turunkan kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, dan bagaimana Al-Qur'an membahasakan makam, kedudukan Al-Qur'an itu sendiri kepada umat manusia, kepada seorang muslim, dan bagaimana sikap kita, sikap seorang muslim terhadap Al-Qur'an, sikap seorang muslim, seorang mukmin kepada ayat-ayat Allah Subhanahu wa taala, inilah yang seharusnya kita pahami dengan sebaik-baiknya.
Bahwa sikap kita sebagai seorang muslim terhadap Al-Qur'an seharusnya sebagaimana sikap Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam terhadap Al-Qur'an. Nah, yang menjadi pertanyaan, bagaimana sikap nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam terhadap Al-Qur'an? Kalau kita lihat, Allah Subhanahu wa taala sebenarnya telah menggambarkan dengan penggambaran yang sangat gamblang, dengan penjelasan yang sangat gamblang, bagaimana sikap seorang muslim yang sebenarnya terhadap kedudukan Al-Qur'an dalam kehidupan ini.
Yang pertama, pemirsa sekalian, di dalam surah Al-Baqarah ayat yang kedua, Allah Subhanahu wa taala mengatakan, "Dzalikal kitabu la raiba fiih, hudan lil muttaqin." Ayat ini sangat sering kita dengarkan, ayat ini sangat sering kita baca, ayat yang sangat masyhur, bahkan sebagian besar di antara pemirsa sekalian telah menghafalkan ayat ini. Allah mengatakan, "Kitab itu, Al-Qur'an itu, adalah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa."
Nah, sekarang yang menjadi pertanyaan, ketika Allah Subhanahu wa taala menjelaskan bahwa Al-Qur'an itu adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, sekarang yang menjadi pertanyaan yang setiap kita sebenarnya harus menjawab pertanyaan ini. Saya dan para pemirsa sekalian saat ini juga harus menjawab pertanyaan ini. Ketika Allah Subhanahu wa taala menjelaskan salah satu di antara makam Al-Qur'an dalam kehidupan seorang muslim bahwa dia adalah "hudan lil muttaqin", dia adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, seberapa besar kebutuhan kita terhadap Al-Qur'an?
Ketika dari satu sisi Allah Subhanahu wa taala menjelaskan bahwa Al-Qur'an kepada umat manusia, Al-Qur'an kepada orang-orang bertakwa, orang-orang beriman, kepada setiap muslim, Al-Qur'an itu adalah petunjuk untuk mereka. Sekarang, ketika Al-Qur'an adalah petunjuk bagi umat manusia, yang menjadi pertanyaan, seberapa besar kebutuhan kita terhadap Al-Qur'an? Ya, Al-Qur'an tidak membutuhkan kita, pemirsa sekalian. Al-Qur'an tidak membutuhkan umat manusia. Al-Qur'an tidak membutuhkan siapapun. Yang membutuhkan itu adalah manusia-manusia itu, kita-kita ini yang butuh kepada ayat-ayat Allah Subhanahu wa taala.
Sekarang, tidak ada di antara satu orang pun dari seluruh umat Islam yang akan mengatakan, "Saya tidak butuh Al-Qur'an," kecuali mereka orang-orang yang membangkang kepada petunjuk Allah Subhanahu wa taala. Setiap kita, setiap muslim, setiap mukmin, akan mengatakan ketika ditanyakan, "Apakah Anda butuh kepada Al-Qur'an?" maka setiap kita akan mengatakan, "Betul, saya butuh kepada Al-Qur'an." Namun, itu disebut sebagai lisanul maqali, itu disebut sebagai perkataan semata, ucapan dan ungkapan semata.
Adapun lisanul hal, apa yang terjadi dalam kehidupan kita, dalam keseharian kita, itu ternyata bertolak belakang dengan apa yang kita sampaikan ketika kita mengatakan, "Saya butuh kepada Al-Qur'an." Namun, kehidupan kita, keseharian kita, ternyata menunjukkan kita tidak butuh kepada Al-Qur'an. Betapa banyak umat manusia, umat Islam hari ini, pemirsa sekalian, kebutuhan mereka terhadap Al-Qur'an. Ketika salah seorang di antara mereka ada yang menikah, ketika di antara mereka ada yang menikah, sibuk mereka membuka Al-Qur'an, mencari mana kira-kira ayat-ayat Al-Qur'an yang berbicara tentang masalah pernikahan. Ketika di antara mereka ada yang dikaruniakan anak, sibuk mereka mencari mana di antara ayat-ayat Al-Qur'an yang berbicara tentang karunia anak. Ketika di antara mereka ada yang diwafatkan oleh Allah, mereka sibuk mencari mana di antara ayat-ayat Al-Qur'an yang berbicara tentang kematian.
Namun, mereka lupa ketika Allah Subhanahu wa taala menurunkan karunia yang lainnya, ketika Allah memberikan ujian yang lainnya, ketika Allah Subhanahu wa taala memberikan episode demi episode dalam kehidupannya. Seharusnya episode-episode kehidupan itu dilalui bersama Al-Qur'an. Keseharian seharusnya bersama dengan Al-Qur'an. Kebutuhan kita terhadap Al-Qur'an seharusnya nampak dalam kehidupan kita, pekerjaan kita, hidup kita bersama anak-anak, bersama keluarga, bersama sahabat-sahabat, bersama atasan, pimpinan, bawahan, dan sebagainya. Seharusnya selalu dalam bingkai penjelasan-penjelasan Al-Qur'an.
Ini yang pertama. Yang kedua, Al-Qur'an juga menjelaskan tentang makamnya dalam kehidupan seorang muslim. Dalam surah Al-Muzzammil, Allah mengatakan pada ayat yang kelima, "Inna sanulqi alayka qawlan tsaqila." Sesungguhnya kami, Allah, akan menurunkan kepadamu, menyampaikan kepadamu wahai Muhammad, mengaruniakan kepadamu perkataan yang sangat berat. Para ulama kita berbeda pendapat, apa makna di ayat ini. Di antara mereka ada yang mengatakan proses turunnya Al-Qur'an itu yang berat. Ada juga yang mengatakan pengamalan terhadap Al-Qur'an itu yang berat. Dan ada pula yang mengatakan pertanggungjawaban terhadap Al-Qur'an itulah yang berat.
Namun, apapun pandangan dari para ulama kita ini, pemirsa sekalian, kita bisa mengambil pelajaran bahwa ketika dari sisi Al-Qur'an, Al-Qur'an itu memiliki makam yang berat bagi umat manusia, khususnya bagi umat Islam, maka yang menjadi pertanyaan bagi masing-masing kita adalah, seberapa besar kekuatan yang telah kita siapkan untuk menanggung Al-Qur'an itu? Karena kalau kita tidak siapkan kekuatan yang besar untuk menerima Al-Qur'an, untuk menanggung Al-Qur'an, untuk mengamalkan Al-Qur'an, dan bertanggung jawab terhadap Al-Qur'an, maka kita akan tersingkir. Allah Subhanahu wa taala tidak akan memberikan kemuliaan Al-Qur'an kepada kita dalam kehidupan kita, karena kita tidak mempersiapkan kekuatan untuk menanggung dan menerima semua konsekuensi yang Allah Subhanahu wa taala berikan ketika diturunkannya Al-Qur'an.
Bayangkan, pemirsa sekalian, Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam ketika mendengarkan, "Sesungguhnya kami akan menurunkan perkataan yang sangat berat." Satu sisi saja, pemirsa sekalian, ketika Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam ditanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana proses turunnya wahyu kepada Anda?" Maka Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam terkadang beliau mengatakan, "Terkadang Al-Qur'an datang kepada saya, Jibril alaihissalam datang membacakan ayat Al-Qur'an kepada saya dalam postur manusia lelaki biasa." Kemudian kata Nabi, "Yang paling terberat itu adalah ketika Al-Qur'an datang Jibril." Dalam hadis Bukhari, kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, "Seperti bunyi gemerincing lonceng yang didengarkan oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam." Dalam beberapa riwayat dalam hadis Bukhari itu, terkadang Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam sampai pingsan. Ketika beliau sudah siuman dari pingsannya, Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bisa memahami apa yang Allah berikan kepada beliau.
Dalam riwayat Aisyah yang lainnya dikatakan, "Ketika Nabi mendengarkan bunyi gemerincing lonceng itu, padahal itu adalah waktu, momennya musim dingin, namun keringat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam justru berkucuran keluar dari tubuh beliau karena begitu beratnya ya proses turunnya wahyu Al-Qur'an kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam itu." Bayangkan, pemirsa sekalian, kalau seandainya Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam tidak menyiapkan kekuatan untuk menerima Al-Qur'an itu, sanggupkah Al-Qur'an turun kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam sampai kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam kalau seandainya Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam tidak menyiapkan kekuatan yang besar untuk menerima Al-Qur'an? Apalagi kalau kita berbicara tentang pengamalan Al-Qur'an, oh, itu lebih berat lagi, pemirsa sekalian.
Oleh karenanya, Allah melalui ayat surah Al-Muzzammil ayat 5 ini ingin memberikan penjelasan, penekanan kepada kita untuk mari kita mempersiapkan kekuatan yang sanggup kita persiapkan. Makanya dalam ayat yang lain Allah katakan, "Wa a'iddu lahum mastata'tum min quwwah." Untuk menghadapi musuh-musuh Islam, maka persiapkan kekuatan yang bisa disiapkan. Salah satu di antara kekuatan yang paling kita butuhkan, pemirsa sekalian, adalah quwwatul azimah, selain kekuatan iman tentu saja, ya. Maka kita membutuhkan quwwatul azimah, kemauan keras, keinginan keras, ya, untuk mengamalkan Al-Qur'an, mendakwahkan Al-Qur'an, bertanggung jawab terhadap Al-Qur'an.
Dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wa taala mengatakan, "Innal Quran yahdi lirabbi as-qam." Dalam surah Al-Isra', Allah berfirman ayat yang ke-9, "Sesungguhnya Al-Qur'an ini akan memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih baik." Ternyata Al-Qur'an, salah satu di antara makam Al-Qur'an dalam kehidupan seorang muslim, seorang manusia, bahwa Al-Qur'an itu akan memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih baik.
Sekarang, pemirsa sekalian, apa yang menjadi pertanyaan bagi kita masing-masing? Bahwa setiap kita seharusnya bertanya, "Seberapa besar keyakinan kita terhadap Al-Qur'an ini? Seberapa besar keyakinan kita bahwa Al-Qur'an ini akan memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih baik?" Ya, seberapa besar keyakinan kita bahwa ketika saya beriman kepada Al-Qur'an, ketika saya percaya dan mengamalkan Al-Qur'an, maka apa yang saya amalkan dan kesudahan yang akan terjadi itulah yang terbaik.
Mohon maaf, hari ini, jemaah pemirsa sekalian, sebagian orang, sebagian umat manusia, bahkan sebagian saudara-saudara kita umat Islam, mengira bahwa mereka yang telah mengkhatamkan Al-Qur'an, mereka yang telah menyelesaikan hafalan mereka dengan Al-Qur'annya, dan seterusnya. Di antara mereka ada yang menganggap bahwasanya Al-Qur'an itu tidak akan memberikan apa-apa dari bagian duniawi. Tidak akan... sebagian di antara mereka mengatakan, "Mau menjadi apa para huffazhul Qur'an itu? Mau menjadi imam saja? Mau menjadi tukang ngaji saja? Mau menjadi juri saja dalam MTQ, dalam lomba-lomba Musabaqah Tilawatil Qur'an? Atau mau menjadi guru TKPA di masjid-masjid kecil dan sebagainya?" Karena apa yang nampak dalam kehidupan kita, memang itulah faktanya, pemirsa sekalian, itulah faktanya.
Namun, sebagian orang mengira bahwa apa yang dilakukan oleh para huffazhul Qur'an, para penghafal Al-Qur'an, mereka yang senantiasa hidup bersama Al-Qur'an, adalah sebuah kehinaan. Ya, mereka, mereka sangat jauh dari firman Allah Subhanahu wa taala surah Al-Isra' ayat yang ke-9, "Innal Quran yahdi lirabbi as-qam." Sesungguhnya Al-Qur'an ini akan memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus, yang lebih baik. Ya, dan kebaikan itu tentu saja adalah apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa taala. Percuma kita mendapatkan bagian dunia yang banyak kalau justru Allah Subhanahu wa taala hilang dari kehidupan kita. Percuma kita menjadi orang yang kaya raya, miliarder, dan seterusnya, kalau ternyata hati kita kosong, kering, dan kerontang dari ayat-ayat Allah dan dari kemuliaan Allah Subhanahu wa taala.
Yang terakhir, pemirsa sekalian, makam Al-Qur'an dalam kehidupan seorang muslim, sebagaimana firman Allah dalam surah Ar-Ra'd ayat yang ke-31, "Walau anna qur'anan suyyirat bihil jibalu, qutti'at bihil ardu, wa kallamat bihil mauta, billahil amru jamia'." Kata Allah Subhanahu wa taala, "Kalau seandainya ada kitab yang diturunkan dari langit yang mampu menggoncang gunung-gunung yang ada, yang mampu membelah bumi menjadi dua, yang mampu membuat mayat-mayat yang telah meninggal itu kembali berbicara kepada umat manusia, maka yang mampu melakukan itu adalah satu-satunya Al-Qur'an."
Apa pelajarannya, pemirsa sekalian? Ternyata salah satu di antara sebab kemuliaan seseorang akan menjadi mulia melalui kemuliaan Al-Qur'an ketika orang itu memiliki kepercayaan bahwa Al-Qur'an, melalui ayat-ayat Allah Subhanahu wa taala ini, Allah Subhanahu wa taala akan memberikan keajaiban demi keajaiban dalam kehidupan seorang muslim. Pertanyaannya adalah, sanggupkah kita dan maukah kita menerima keajaiban-keajaiban itu? Sebagaimana berbagai macam keajaiban yang telah terjadi dalam kehidupan nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, itu juga bisa terjadi dalam kehidupan kita dalam bentuk yang berbeda, tentu saja dalam potret yang berbeda. Namun, hal-hal yang ajaib, hal-hal yang di luar daripada nalar kita, bisa saja terjadi jika Allah Subhanahu wa taala berkehendak.
Dan ahlusunnah wal jamaah memiliki keyakinan persoalan karamah. Allah Subhanahu wa taala Maha mampu, Maha Kuasa untuk memperjalankan hal-hal yang terjadi di luar daripada kebiasaan. Apa yang terjadi di alam semesta ini, dan ini yang disebut sebagai karamah Allah Subhanahu wa taala memuliakan para orang-orang yang dekat dengan Allah Subhanahu wa taala, para auliyaullahi wasathuhu, orang-orang dekat dengan Allah Subhanahu wa taala, yaitu mereka-mereka yang mendalami Al-Qur'an, dekat dengan Al-Qur'an, hidup bersama Al-Qur'an, menolong Al-Qur'an, membaktikan hidup mereka untuk kemuliaan Al-Qur'an, keagungan Al-Qur'an, maka Allah Subhanahu wa taala akan memberikan keajaiban demi keajaiban di dalam kehidupannya.
Oleh karenanya, ini adalah makamat yang Allah Subhanahu wa taala jelaskan dalam Al-Qur'an tentang Al-Qur'an itu sendiri dalam kehidupan seorang manusia, seorang muslim. Maka menjadi kewajiban kita semua untuk mari kita rujuk kembali, lihat kembali kepada ayat-ayat Allah, khususnya apa yang telah kita sebutkan dari ayat-ayat ini, pemirsa sekalian, untuk kita mari kita tadaburi lebih baik lagi, ya, untuk kita dalami lebih baik lagi ayat-ayat ini, untuk kita lihat dan kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Mudah-mudahan kita menjadi orang-orang yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa taala melalui kemuliaan Al-Qur'an. Innahu huwa.
Baik, Ustaz. Eh, Masyaallah sekali, Ustaz, atas pemaparan materi pengantar yang Ustaz sampaikan tadi. Sangat menarik tentunya dikarenakan ternyata Al-Qur'an menyebutkan makamatnya sendiri di dalam ayat-ayat yang mulianya. Dan Ustaz telah menjelaskan kita kepada kita tadi dengan sangat rinci, dengan sangat mendalam tentunya.
Baik, tapi Ustaz, mungkin ada, eh, saya mewakili beberapa orang-orang awam dari kalangan kaum muslimin di luar sana yang kemudian menanyakan hadis yang Ustaz tadi bawakan yang berbunyi, "Innallaha yarfa'u bihadal kitab qawman wa yadha'u bihi akhara." Di sana kan disebutkan bahwasanya, "Sesungguhnya Allah akan memuliakan suatu kaum dengan kitab ini, yaitu untuk Al-Qur'an, dan menghinakan yang lain." Namun, kalau kita melihat fakta yang terjadi pada hari ini, ya, kenapa seakan-akan, eh, banyak dari negeri kaum muslimin yang kemudian mereka mempunyai Al-Qur'an, akan tetapi kita melihat kehidupan mereka, ya, ataupun kemudian bagaimana peradaban mereka itu kemudian di bawah dari peradaban orang-orang kufar, orang-orang barat, yang nota bene tidak ada Al-Qur'an di situ, mereka baik. Sehingga timbul pertanyaan dari orang awam, apakah hadisnya yang salah, atau kemudian mungkin ada kaum muslimin yang tidak melakukannya sehingga kemuliaan itu tidak bisa diraih? Tolong penjelasannya, Ustaz.
Bismillah. Alhamdulillah wasalatu wassalamu ala Rasulillah. Amma ba'd.
Jadi, persoalan kemuliaan atau dimuliakannya seseorang dengan Al-Qur'an, tentu saja kita harus melihat dari sudut pandang apa yang Allah Subhanahu wa taala inginkan. Itu satu poin dulu. Bahwasanya ketika hadis ini menyampaikan bahwa Allah Subhanahu wa taala memuliakan orang-orang dengan Al-Qur'an, maka kemuliaan yang dimaksud di sini, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an, "Walillahil 'izzatu wa li rasulihi wa lil mu'minin." Kemuliaan itu di sisi Allah dan untuk rasul-Nya serta orang-orang beriman. Yang dimaksud dengan kemuliaan di sini adalah kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wa taala, dan bukanlah yang dimaksud kemuliaan di sini adalah kemuliaan dari sudut pandang manusia.
Ya, makanya dalam ayat yang lain Allah katakan, "Tu'izzu man tasya' wa tudzillu man tasya'." Manusia bisa berpandang bahwa berkembangnya peradaban adalah salah satu bentuk kemuliaan. Namun, apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa taala itulah barometer yang tepat. Ketika manusia menganggap berkembangnya peradaban adalah bentuk kemuliaan yang didapatkan oleh manusia, namun ketika peradaban itu dibangun di atas kekufuran kepada Allah Subhanahu wa taala, maka itu bukanlah kemuliaan, bahkan itu adalah salah satu bentuk cara-caranya Allah Subhanahu wa taala.
Kalau kita lihat seperti yang tadi digambarkan, ya, bahwa sebagian daerah, daerah dan negara-negara kaum muslimin yang justru mereka dekat hidup bersama Al-Qur'an, justru tidak berkembang. Akan tetapi, peradaban berkembang itu justru dimiliki oleh orang-orang kafir yang tidak tahu dengan Al-Qur'an dan seterusnya. Nah, kita justru bisa mengatakan bahwa ini, justru ini salah satu bagian dari cara Allah Subhanahu wa taala memuliakan mereka. Itu maksudnya memuliakan saudara-saudara kita umat Islam yang EE hidup bersama Al-Qur'an. Maksudnya bagaimana?
Ketika Allah Subhanahu wa taala memberikan, memberikan karunia kecerdasan, akal, dan sebagainya kepada orang-orang kafir, yang akhirnya melalui tangan-tangan mereka penemuan-penemuan itu ditemukan, seperti, apa namanya, seperti lampu dan sebagainya, internet dan seterusnya, termasuk handphone dan sebagainya. Ini mereka justru ini merupakan kemuliaan yang Allah Subhanahu wa taala ingin sampaikan kepada umat Islam, ya, bahwasanya, kan kita tahu bahwa Allah Subhanahu wa taala mengatakan, "Ardhil jamiah," dialah Allah yang menciptakan apapun yang ada di alam semesta ini untuk umat manusia.
Nah, ketika Allah Subhanahu wa taala menjadikan orang-orang kafir itu sibuk membangun peradaban dunia, mereka sibuk membangun peradaban dunia, setiap hari mereka melakukan penelitian, melakukan ini, dan menguras keringat masing-masing untuk menciptakan peradaban yang lebih tinggi. Umat Islam justru lebih fokus dengan lebih fokus dengan agama mereka. Mereka bisa tetap dekat dengan Allah Subhanahu wa taala, bisa tetap mengamalkan syariat Islam tanpa disibukkan dengan peradaban dan perkembangan dunia ini.
Oleh karenanya, ini adalah salah satu bentuk istidraj yang Allah Subhanahu wa taala berikan kepada mereka, mereka-mereka yang kafir kepada Allah Subhanahu wa taala, disibukkan dengan topeng untuk membangun dunia ini, membangun dunia ini, akhirnya mereka lalai dari agama mereka, mereka lalai untuk mencari siapa sebenarnya Tuhan yang sebenarnya. Nah, bahkan sebagian di antara mereka ada yang mempercayai tidak adanya sistem ketuhanan karena mereka sibuk dengan amalan mereka.
Saudara-saudara kita yang di Jepang hari ini, kan, sampai, jangankan persoalan mau menyembah kepada Tuhan dan sebagainya, sebagian di antara mereka ada yang tidak mau menikah, kan, ya, tidak mau berkeluarga supaya supaya bisa fokus mendapatkan harta dunia, fokus mendapatkan prestis dan sebagainya, mendapatkan jabatan, harta, dan sebagainya. Ini salah satu bentuk hukuman yang Allah Subhanahu wa taala berikan kepada orang-orang yang lalai dari kehidupan dunia ini untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala.
Dan di saat yang sama, umat Islam yang kelihatannya rendahan, biasa-biasa saja, mereka sibuk mempelajari Al-Qur'an, sibuk mempelajari Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan sebagainya. Namun, maslahat dan manfaat duniawi yang telah diperoleh oleh orang-orang kafir itu tetap sampai kepada mereka, meskipun tidak sebagaimana apa yang telah dicapai oleh mereka. Maka itu alasannya kenapa? Karena Allah tidak mau menggantikan kebaikan yang sudah ada dalam hati mereka, diganti dengan dunia. Ah, itu salah satu jawaban. Mudah-mudahan itu jawaban yang paling pas ya, berkaitan dengan hadis-hadis nabi, begitu juga dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang serupa dengannya sehubungan dengan fakta yang terjadi di tengah-tengah manusia. Wallahu a'lam.
Baik, Ustaz. Jadi intinya, kemuliaan yang dimaksud dalam hadis tadi adalah standarnya dari Allah Subhanahu wa taala, Ustaz, ya, bukan hanya sekedar standar materi duniawi, namun tentunya lebih daripada itu semua. Baik.
Sekali lagi kami himbaukan kepada para pemirsa Wahda TV di mana pun Anda berada, Anda dapat melayangkan pertanyaan Anda melalui e-WhatsApp atau pesan WhatsApp melalui nomor yang tertera di layar Anda, atau kemudian juga bisa langsung di kolom komentar kanal YouTube live streaming yang Anda saksikan saat ini.
Eh, oh iya, Ustaz, sudah ada masuk pertanyaan dari WA, ya. Bunyinya pertanyaannya sebagai berikut: "Mengapa Al-Qur'an tidak bisa berdiri sendiri dan butuh bantuan hadis? Lalu mengapa umat Islam seringkali mencelah kitab Injil, sedangkan dia kitab yang tanpa bantuan hadis pendukung? Mohon jawaban."
Bab. Yang pertama, bahwasanya di perkataan salah seorang ulama kita disebutkan, "Al-Qur'anu ila as-sunnati ahwaju minas-sunnati ilal Qur'an." Jadi, memang dikatakan bahwa Al-Qur'an itu memiliki kebutuhan terhadap sunah, dan tidak sebaliknya. Karena apa? Memang fungsi hadis, fungsi sunah, itu fungsi hadis Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam adalah untuk menjelaskan Al-Qur'an.
Al-Qur'an, kalau ditanya kenapa Al-Qur'an membutuhkan hadis, membutuhkan sunah sebagai penjelasan? Yang pertama, jawaban yang pertama, karena Al-Qur'an itu adalah kitab yang paling terakhir. Tidak ada lagi kitab yang diturunkan oleh Allah setelahnya. Dan kitab ini diturunkan oleh Allah 1400 tahun yang lalu. Ya, dan kita tidak tahu sampai berapa tahun lagi kita akan hidup, dan berapa abad lagi dunia ini akan bertahan sampai Allah Subhanahu wa taala menegakkan hari kiamat. Makanya ayat-ayat Al-Qur'an yang Allah turunkan kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam tidak hanya berbicara tentang apa yang terjadi di masa beliau dan apa yang terkenal di Jazirah Arab di masa itu. Namun, Al-Qur'an ini akan dipergunakan sampai dengan tegaknya hari kiamat.
Dan kita tahu perkembangan demi perkembangan, kemunduran juga telah terjadi, perkembangan terus terjadi, dan seterusnya. Maka Al-Qur'an diturunkan oleh Allah Subhanahu wa taala dengan bahasa yang universal, yang umum, agar kemudian setiap mereka yang ingin mengamalkan Al-Qur'an bisa mengamalkan Al-Qur'an. Nah, berbeda dengan kitab-kitab yang terdahulu, seperti misalnya kitab Injil, kitab Taurat, kitab Zabur, suhuf Ibrahim, dan sebagainya. Itu adalah kitab-kitab yang bahasanya memang tidak membutuhkan seperti yang ditanyakan tadi. Injil itu tidak.
Meskipun saya ingin koreksi, ya, kita tidak mencela Injil. Kalau dikatakan kenapa Islam selalu mencela Injil, mohon maaf, kita tidak mencela Injil. Hanya saja kita mengatakan bahwa mereka-mereka, para ulama yang tidak bertanggung jawab terhadap orisinalitasnya Injil, ya, meskipun itu juga tidak ditanggung oleh Allah Subhanahu wa taala. Satu-satunya kitab yang ditanggung dan dijamin orisinalitasnya adalah kitab Al-Qur'an ini. "Inna nahnu nazzalnal qur'ana wa inna lahul hafidhun." Makanya, karena kitab Injil itu diturunkan kepada sekelompok manusia, kepada kaum Bani Israil, kaumnya Nabi Isa alaihissalam. Kitab Zabur diberikan kepada Nabi Daud dan Nabi Sulaiman kepada kaum Bani Israil. Kitab Taurat juga diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa kepada kaum Bani Israil. Suhuf Ibrahim diberikan oleh Allah kepada Ibrahim untuk kaum beliau, orang-orang Babilon, dan seterusnya. Makanya penjelasan-penjelasan yang ada di dalam kitab-kitab terdahulu itu lebih rinci di dalamnya. Makanya tidak membutuhkan hadis, tidak membutuhkan penjelasan para nabi, karena memang ya kitab ini diturunkan kepada umat tersebut dan tidak akan dipertahankan sampai hari kiamat.
Nah, makanya kenapa Al-Qur'an membutuhkan hadis, membutuhkan sunah sebagai penjelasan? Karena Al-Qur'an akan dipergunakan dan dia akan terus ada, dijaga oleh Allah sampai dengan tegaknya hari kiamat. Oleh karenanya, Allah mengutus Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam dan memberikan apa yang semisal dengan Al-Qur'an. "Al-inzhir," itu dalam hadis yang dihasankan oleh para ulama kita, "bahwa atau disahihkan oleh para ulama kita, sesungguhnya Allah telah mengaruniakan kepada saya Al-Qur'an dan yang semisal dengannya." Apa yang semisal itu adalah hadis-hadis, sunah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam untuk menjelaskan ayat-ayat Al-Qur'an itu. Makanya kebutuhan Al-Qur'an terhadap sunah itu sangat besar, ya, itu sangat besar. Dan sangat merugi dan pasti akan tersesat orang-orang yang mencoba memahami Al-Qur'an tanpa mempergunakan sunah Nabi atau hadis Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Apalagi mau mengamalkan syariat Islam dengan menggunakan Al-Qur'an saja, ah, itu jelas pasti akan keliru dari apa yang diajarkan oleh nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Wallahu a'lam.
Baik, pertanyaan selanjutnya juga dari WA, Ustaz, dari pesan WhatsApp. Eh, pertanyaannya berikut, yakni, "Mengapa umat Islam seringkali mengatakan kalau kitab-kitab selain Al-Qur'an telah diubah-ubah? Mengapa mereka begitu yakin atas hal tersebut? Tapi kadang jika diminta membuktikan, dia tidak mampu. Lalu mengapa ia percaya kalau Al-Qur'an pun sama seperti yang dikatakan nabi mereka?" Bab.
Yang pertama, bahwasanya kita melihat ya, dalam sejarah tarikhut tasyri', tarikh tasyri' itu artinya sejarah pensyariatan, dimulai dari sejak zaman Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam sampai dengan wafatnya Nabi Muhammad, dan perkembangan syariat atau pensyariatan serta syariat Islam ini, itu dijelaskan di dalam kitab-kitab para ulama kita, termasuk sejarah-sejarah turunnya wahyu kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam di masa beliau, kemudian penulisan Al-Qur'an, termasuk juga orang-orang yang ditugaskan untuk menulis Al-Qur'an itu, semuanya dalam agama kita, dalam agama Islam, adalah sesuatu yang jelas, ya. Riwayat-riwayatnya jelas, hadis-hadisnya jelas. Ya, bahkan kita bisa menyebutkan nama-nama orang-orang yang meriwayatkan dan menulis Al-Qur'an itu, di antaranya Zaid bin Tsabit, di antaranya adalah, eh, siapa, Ubay bin Ka'ab, Ali bin Abi Thalib radhiallahu taala anhum ajmain. Orang-orang ini.
Sekarang, kalau tadi ada pertanyaan, "Bagaimana caranya membuktikan bahwa apa yang dibacakan oleh Nabi Muhammad itu Sallallahu Alaihi Wasallam itu adalah apa yang ada di dalam mushaf Al-Qur'an saat ini?" Nah, sekarang saya mau katakan, eh, para ulama kita ketika ditanya, "Dari mana Anda bisa mendapatkan ilmu yang lebih yang sangat luas ini?" Dan bagaimana caranya Anda meyakini bahwa ini adalah ilmu yang benar? Maka beliau mengatakan, mereka mengatakan, "Cara untuk membuktikannya adalah ketika engkau bertanya kepada saya tentang sebuah masalah, saya berikan jawabannya, dan engkau bertanya kepada ratusan ulama yang lainnya, dan mereka akan memberikan jawaban yang sama atau yang serupa." Itu menunjukkan bahwasanya agama ini adalah agama Islam adalah agama yang dijaga oleh Allah Subhanahu wa taala.
Kemudian, kembali kepada pertanyaan yang pertama, kenapa Al-Qur'an kita, kenapa umat Islam meyakini bahwa kitab-kitab terdahulu itu telah diubah-ubah, telah diubah? Yang pertama, kita lihat dari ayat Al-Qur'an sendiri itu menjelaskan bahwasanya, eh, orang-orang, eh, apa, orang-orang Yahudi, punya kebiasaan untuk merubah, eh, kitab mereka, ya, sesuai dengan hawa nafsu mereka. Di antara mereka ada yang disuap dan seterusnya. Dan ini terbukti dalam sejarah pada masa nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Kemudian, hal yang kedua, bahwasanya bukan hanya ayat-ayat Al-Qur'an saja yang membuktikannya atau yang menjelaskannya, sampai secara fakta dan realita pun juga sama seperti itu.
Sekarang, kalau kita ingin bertanya, kitab Injil yang ada di masa Nabi Isa alaihissalam, sanggupkah saudara-saudara kita dari umat Nasrani, umat Kristiani, mendatangkan kitab Injil dan apa namanya, dan mengklaim bahwa inilah kitab Injil yang ada di masa Nabi Isa alaihissalam? Ya, padahal sekian banyak bukti-bukti yang menjelaskan berbagai macam versi yang datang berkenaan dengan kitab-kitab Injil tersebut. Ya, ada Injil versi King Richard, ada Injil versi ini, versi ini, dan seterusnya. Dan ketika kita rujuk kepada ayat-ayat dan pasal-pasal di dalamnya pun juga memiliki perbedaan-perbedaan antara satu versi dengan versi yang lain.
Sekarang, kalau kita ingin rujuk dan melihat Al-Qur'an dengan berbagai macam bentuk tulisan dan seterusnya, silakan kita ingin rujuk, dan kita ingin bandingkan antara satu versi dengan versi yang lain. Kita tidak punya versi yang seb, kita hanya punya satu versi saja. Ya, kita hanya punya satu versi saja, meskipun dari cara pembacaannya itu ada yang berbeda, ya, ada yang berbeda, akan tetapi maknanya tidak berbeda. Nah, itu disebut sebagai qiraat. Dan dalam agama Islam, Al-Qur'an itu dibaca dengan 10 qiraat yang disepakati oleh, eh, para ulama kita. Wallahu a'lam.
Baik, Ustaz. Jadi mungkin saya simpulkan dari jawaban ini, keterangan bahwasanya isi kitab-kitab selain Al-Qur'an itu telah dijelaskan dalam Al-Qur'an sendiri bahwasanya dia sudah ditahrif atau sudah diselewengkan, sudah diubah-ubah, dan juga dari perlakuan umat Kristen sendiri ada beberapa versi yang kemudian dijadikan sebagai rujukan Injil pada hari ini. Baik.
Para pemirsa Wahda TV di mana pun Anda berada, eh, telah masuk kepada kami, eh, pertanyaan dari pesan WhatsApp lagi, ya. Di sini disebutkan, "Tolong Ustaz yakinkan saya, bagaimana bisa Nabi Muhammad bisa menyebarkan dalil-dalil dalam Al-Qur'an, sedangkan dia sendiri tidak mampu membaca? Tidak meyakinkan." Bab.
Nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, sebagaimana hadis yang tadi kita sampaikan, Nabi mengatakan, "Ketahuilah, sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala telah mengaruniakan kepadaku Al-Qur'an dan yang semisal dengannya." Para ulama kita menjelaskan, yang dimaksud dengan apa yang semisal dengan Al-Qur'an ini adalah hadis-hadis Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Nah, hadis-hadis Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam inilah yang kemudian yang kemudian disabdakan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam untuk menjelaskan ayat-ayat, ayat-ayat Al-Qur'an tersebut.
Nah, eh, sekarang kenapa nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam kita yakini bahwa beliau memiliki kemampuan untuk menjelaskan ayat Al-Qur'an itu? Di dalam Al-Qur'an surah An-Najm, Allah mengatakan, "Wa ma yanthiqu 'anil hawa, in huwa illa wahyun yuha." Dan tidaklah Nabi Muhammad itu menyampaikan sesuatu berdasarkan hawa nafsunya. Apa yang disampaikan, diucapkan oleh beliau itu adalah wahyu yang Allah Subhanahu wa taala berikan kepada beliau. Ah, oleh karenanya, apa yang dijelaskan oleh nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.
Ketika ditanyakan, "Apa dan bagaimana caranya membuktikan bahwa Nabi Muhammad itu punya kemampuan untuk menjelaskan Al-Qur'an?" Maka jawabannya, pemirsa sekalian, kita bisa melihat dari sekian banyak hadis-hadis Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Tidak ada satu pun hadis Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam yang bertolak belakang antara yang satu dengan yang lain, sebagaimana Al-Qur'an tidak ada satu pun ayat Al-Qur'an yang bertolak belakang antara yang satu dengan yang lainnya.
Nah, ini sebagai bukti. Dan para penanya, mungkin para pemirsa sekalian, silakan kalau seandainya ingin menerima tantangan ini. Coba datangkan satu ayat Al-Qur'an yang berkontradiksi antara yang satu dengan yang dengan yang lainnya, ataupun satu hadis yang sahih dari Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam yang berkontradiksi antara satu hadis dengan hadis yang lainnya. Itu adalah hadis yang sahih. Kalau dia hadisnya lemah, kan tidak, tentu tidak diamalkan dan tidak dijadikan sebagai hujah. Kalau dia adalah hadis yang lemah, maka datangkan hadis itu.
Dan carikan hadis yang sepadan dengannya, dan kedua-duanya berkontradiksi antara yang satu dengan dengan yang lainnya. Ah, mungkin ada yang mengatakan, "Ustaz, bukankah di sana ada pembahasan ta'arudul adillah?" Memang betul, memang ada hadis-hadis, ada dalil-dalil yang kelihatannya dia bertolak belakang antara yang satu dengan dengan yang lainnya. Namun, para ulama kita menjelaskan bahwa kemungkinan bertolak belakangnya ayat-ayat atau dalil-dalil tersebut, hadis-hadis tersebut, itu dari sisi pemahaman kita yang belum sampai. Itu dari satu sisi. Dari sisi yang lain, bahwa terjadi, semacam kontradiksi antara satu dalil dengan dalil yang lainnya. Namun, kita bisa mentaufik atau menggabungkan antara dua dalil tersebut. Dan inilah yang dilakukan oleh para ulama kita ketika mereka bertemu dengan dalil-dalil atau hadis-hadis yang kelihatannya kontradiksi, maka ketika dipahami dengan seksama, maka dapat dijelaskan dan dikompromikan antara satu dalil dengan dalil dengan dalil yang lain.
Makanya, nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam dikaruniakan oleh Allah kemampuan untuk menjelaskan ayat-ayat Al-Qur'an. Dan memang fungsi para nabi dan rasul itu adalah menjelaskan, menjelaskan ayat-ayat yang Allah turunkan kepada mereka. Bukan hanya nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Tidak sampai saudara-saudara kita orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan umat-umat terdahulu memiliki keyakinan yang sama bahwasanya para nabi mereka, para nabi-nabi tersebut, para rasul-rasul tersebut diturunkan kepada mereka wahyu kitab-kitab Allah Subhanahu wa taala dan diizinkan oleh Allah Subhanahu wa taala untuk menjelaskan kepada kepada umat manusia. Wallahu a'lam.
Baik, Masyaallah, Ustaz. Ya, setelah saya dengar penjelasan dari Ustaz, malah barangkali bisa lebih meyakinkan kita. Nabi Muhammad itu tidak mengarang-ngarang apa yang beliau sampaikan. Karena kalau memang diyakini Nabi Muhammad adalah seorang yang buta huruf, Al-Qur'an, ya, terus bagaimana caranya beliau mampu membuat, apa, bagaimana caranya Nabi Muhammad mampu untuk kemudian menyusun Al-Qur'an itu sampai 30 juz, dan kemudian bahasanya yang bahasa tingkat tinggi, iyaitu, Ustaz, ya.
Baik, eh, kemudian kita beralih ke pertanyaan berikutnya, juga dari pesan WhatsApp. Eh, di sini disebutkan, "Jika kita mengimami salat, apakah boleh ayat yang dibaca tidak selesai sampai akhir ayatnya, lalu takbir, Ustaz?"
Bab. Di dalam mazhab Abu Hanifah, itu tidak boleh. Di dalam mazhab Imam Abu Hanifah, dalam mazhab as-Syafi'i, itu tidak boleh. Jadi, kalau kita mengimami, misalnya salat Magrib, kemudian kita baca surah An-Naba', di ayat yang per- di rakaat pertama, maka harus diselesaikan dari ayat pertama sampai ayat yang ke-40. Itu dalam mazhab Abu Hanifah. Dalam mazhab ulama yang lain, maka itu boleh. Jumhur, mayoritas ulama kita, boleh. Kita membaca surah-surah pendek, misalnya selesai. Atau kita membaca surah-surah yang cukup panjang, dan kita memotongnya, itu boleh.
Mungkin maksudnya gini, Ustaz, eh, satu ayat, kemudian tidak selesai ayat tersebut. Misalkan di Al-Bayyinah, "Innalladzina kafaru min ahlil kitabi," Allahu Akbar. Ah, kalau yang seperti itu, tidak boleh. Tidak boleh, Ustaz. Kalau yang seperti itu, tidak diperbolehkan. Jadi, ada dua yang tidak diperbolehkan. Yang pertama, memotong-motong ayat itu, jadi ayatnya tidak selesai sampai akhir, kemudian dia rukuk, maka itu tidak diperbolehkan. Dia wajib menyempurnakan ayatnya. Atau kah misalnya, dia memilih-milih ayat Al-Qur'an, ya, misalnya dia baca lima ayat pertama dari surah Al-Baqarah, kemudian dia pindah lima ayat pertama dari surah Ali Imran, kemudian dia pindah lima ayat dalam satu rakaat, maka ini, eh, apa namanya, kecuali dalam kondisi terdesak, ya, seperti misalnya seorang yang membaca ayat Al-Qur'an, kemudian dia lupa dengan sambungannya, dan dia berpindah kepada ayat yang lain, itu boleh.
Baik, saya kira jelas ya jawaban dari Ustaz. Eh, kemudian pertanyaan berikutnya, masih dari pesan WhatsApp. Eh, di sini disebutkan, "Panjang sekali teksnya, mungkin saya bisa ringkas. Apakah boleh bagi seorang muslim memilih surah favorit yang ia sukai, dan mengkhususkan membacanya ketika salat, Ustaz, maupun juga di luar salat, misalkan surah Al-Waqiah dan yang lain?"
Iya, jadi memilih surah-surah tertentu sebagai surah favorit dalam ibadah salat ini diperbolehkan. Dan sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari sahabat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, suatu ketika ada sahabatnya, dan boleh-boleh saja. Yang rakaat pertama dia baca Al-Bayyinah, rakaat yang kedua Al-Ikhlas. Kapan salat Isya nanti sebentar? Begitu juga itu sah-sah saja, dan itu normal, normal.
Namun, yang lebih kuat, dan ini yang menjadi sebab kenapa para sahabat itu mengingkari perbuatan sahabat ini, karena di setiap rakaat sebelum dia rukuk, dia baca surah Al-Ikhlas. Ah, jadi contoh misalnya, rakaat pertama dia baca surah Al-Bayyinah, kemudian setelah selesai surah Al-Bayyinah, dia baca Al-Ikhlas. Rakaat kedua, dia baca misalnya surah, eh, Quraisy, misalnya, atau Al-Kafirun. Setelah selesai surah Al-Kafirun, dia baca Al-Ikhlas lagi. Ah, ini yang diingkari oleh para sahabat. Akhirnya dilaporkan kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, "Ya Rasulullah, sahabat ini seperti ini, begini, dan seterusnya." Maka ditanyakan sama Nabi, "Kenapa kamu lakukan itu?" Beliau mengatakan, "Ya Rasulullah, dalam..."
Surah al-ikhlas itu terdapat pengagungan yang luar biasa kepada Allah, dan saya cinta membaca Surah al-ikhlas ini. Karena rasa cinta saya kepada Allah subhanahu wa taala, maka pada saat itu juga turun firman dari Allah subhanahu wa taala, wahyu dari Allah subhanahu wa taala, "Wahai Muhammad, sampaikan kepada hambaku bahwa sebagaimana dia mencintai Surah al-ikhlas, maka saya juga telah mencintai hamba itu." Makanya dalam riwayat yang lain dikatakan, "Hubbuka laha uhubuka laha jannah." Jadi, cintamu kepada Surah al-ikhlas ini dan pengamalanmu seperti itu, itu yang memasukkan kamu ke dalam surga.
Jadi, sah-sah saja boleh-boleh saja untuk menjadikan surah-surah tertentu sebagai surah andalan kita, istilahnya. Kemudian yang kedua, bagaimana kalau kita baca surah-surah itu di luar salat? Itu boleh. Ini yang disebut sebagai wirid. Nah, ini disebut sebagai wirid. Jadi, wirid itu beda dengan zikir. Zikir itu memang ada riwayatnya. Nah, maka ini disebut sebagai sebagai zikir Azkar. Nah, tapi kalau wirid aurat, wirid itu diambil dari ayat-ayat Al-Qur'an, kemudian itu yang kita kita gunakan, kita amalkan, kita perbanyak dibaca di dalam kesempatan-kesempatan ketika kita beristirahat, duduk, dan sebagainya. Itu boleh, Ustaz. Itu boleh, boleh.
Baik, sekiranya jelas ya para pemirsa Wahda TV di mana pun Anda berada. Barangkali pertanyaan terakhir, Ustaz. Masih dalam pesan WhatsApp, bunyi pertanyaannya sebagai berikut: "Apa yang menyebabkan kita jarang membaca Al-Qur'an, padahal sebenarnya ada keinginan membacanya, Ustaz?"
Tib. Jarangnya kita berinteraksi atau membaca Al-Qur'an, tentu saja ini bagian daripada talau setan atau permainan setan. Setan yang bermain kepada kita yang akhirnya kita menganggap bahwa membaca Al-Qur'an itu menghabiskan waktu, atau memang karena kita telah jauh dari ibadah dan ketaatan kepada Allah subhanahu wa taala, sehingga membaca Al-Qur'an yang merupakan amalan yang sangat mudah, akhirnya kita merasa berat. Merasa berat karena kita tidak terbiasa dengan hal tersebut dan tidak mau mengupayakan diri kita untuk membiasakan membaca Al-Qur'an. Sehingga, Al-Qur'an, membaca Al-Qur'an adalah kebiasaan. Tentu saja dia adalah kebiasaan, sebagaimana kita sering bermain HP, dan itu menjadi kebiasaan sehari-hari kita setiap saat kita membuka WhatsApp dan sebagainya. Sama juga kita bisa melakukan membaca Al-Qur'an setiap saat, kapanpun dan di manapun kita berada di tempat-tempat yang suci. Kalau kita sudah punya kebiasaan dengan hal tersebut. Makanya, salah satu hal yang paling menghambat untuk kita selalu dekat dengan Al-Qur'an adalah karena hati kita yang kotor. Nah, itu yang paling utama saja dan permainan setan dalam kehidupan kita. Makanya banyak-banyak istigfar kepada Allah subhanahu wa taala dan meminta, berdoa kepada Allah untuk didekatkan dengan Al-Qur'an dan menjadi mereka yang mulia karena Al-Qur'an. Wallahu a'lam.
Baik, Ustaz. Di antara banyak kemaksiatan, kan, hal sebab yang paling besar membuat hati kita kotor itu apa kira-kira, Ustaz?
Yang paling Sebenarnya ada dua sebenarnya yang membuat hati kita tertutup dari jalan kebenaran. Yang pertama adalah syubhat, dan yang kedua adalah syahwat. Hanya saja, kalau kita berbicara tentang hati kotor, maka itu lebih dekat kepada persoalan syahwat. Persoalan syahwat. Dan syahwat ini bukan sebagian orang menganggap bahwa syahwat itu artinya yang dekat-dekat nyerempet dengan dengan persoalan perzinahan dan sebagainya. Padahal sebenarnya syahwat itu banyak sebenarnya, bukan hanya persoalan persoalan perzinahan dan seterusnya. Tidak. Bahkan kalau kita lihat dalam kitab Madaiju, dalam kitab Mukhtasar Minhajil Qasidin, dijelaskan di dalamnya oleh Imam Al-Ghazali, karena ini adalah ringkasan dari kitab Ihya Ulumiddin, Imam Al-Ghazali sebenarnya menjelaskan bahwasanya syahwat manusia itu sangat banyak. Bukan hanya syahwat untuk berhubungan badan, tidak. Syahwat terhadap makanan, syahwat terhadap minuman, syahwat terhadap popularitas, syahwat terhadap harta, syahwat terhadap dunia secara umum. Dan sangat banyak sekali syahwat yang dimiliki oleh seorang manusia terhadap kehidupan dunia ini. Dan itulah yang sangat banyak mengotori hati kita. Wallahu a'lam.
Baik, para pemirsa di mana pun Anda berada, alhamdulillah beberapa pertanyaan sudah narasumber jawab dengan luar biasa, dengan penjelasan yang mendalam. Dan alhamdulillah kita sedang berada di akhir acara kita pada program Konsultasi Syariah bersama Dewan Syariah Wahdah Islamiyah. Dan saya mewakili kru mengucapkan banyak terima kasih, Ustaz. Syukran lakum wa jazakumullah khairan atas sharing dan kemudian penyampaian ilmunya pada malam hari ini. Dan juga saya sampaikan kepada para pemirsa Wahda TV untuk bisa menonton kembali program kesayangan kita ini dalam episode-episode berikutnya yang tentunya menghadirkan narasumber-narasumber dari asatidah yang masyaallah dalam keilmuannya. Baik, Barakallah fikum sekali lagi saya mewakili kru, terima kasih dan mohon maaf atas segala kekurangan yang ada. Mari kita tutup dengan doa kafaratul majelis. Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
[Musik]