📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

'Serangan Balik' Rocky Gerung Untuk Antonius Manurung Perihal Ideologi Pancasila

VIVA.CO.ID15:52

Transcription

[Musik] [Tepuk tangan] [Musik]

Saya Anton Manurung, Anton Manurung, ketua umum dewan pimpinan pusat gerakan pembumian Pancasila.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita semua. Shalom. Om Swastiastu. Namo Buddhaya. Rahayu, rahayu, rahayu. Salam Pancasila. Salam Pancasila. Merdeka! Merdeka!

Saya memberi apresiasi luar biasa. Baru pertama saya hadir di Kongres Pancasila dan saya sedikit memaksakan diri dalam situasi terbatas harus hadir di sini dari Jakarta. Jadi, thank you. Matur suwun. Nuhun.

Dr. Agus, baik. Saya mungkin tidak bertanya, tapi ingin melakukan *disarmament* dan diskursus. Yang pertama, buat kawan Roki Gerung, 4 tahun yang lalu saya sudah menyatakan di YouTube tentang pernyataan RI Gerung. Saya prihatin. Mohon maaf pada seluruh forum, untuk kesekian kali Bapak mengatakan bahwa Pancasila bukan ideologi. Tolong, Pak. Mari kita sama-sama membaca dokumen negara. Dan tadi Bapak mengatakan, "Sori, ini forum akademik." Ya, tadi sahabat saya, Pak, Ibu juga sudah mengatakan, "Ya, mirip seperti Habib Rizik." Guyonan Bapak sebagai badut ideologi, kami hormati. *Good, very good.* Tapi ketika Bapak di forum terhormat ini mengatakan Pancasila bukan ideologi, sebagai ketua umum DPP Gerakan Pembumian Pancasila, saya menolak dan meminta orang seperti Bapak tidak bicara tentang Pancasila. Tolong, Pak, camkan. Pancasila, pidato Soekarno 1 Juni 1964. Saya membaca kalimatnya saja supaya tidak kesekian kali, Pak, di YouTube 4 tahun yang lalu saya sudah ngomong. Supaya kita tidak gelap ideologi, Bapak. Kita datang ke sini, saya hormat sekali dengan respek ini. Soekarno mengatakan, mohon kita dengarkan bersama. Mohon maaf, mohon sewu para senior, para guru besar, tokoh Pancasila. Bangsa Indonesia sejak proklamasi mempertahankan secara gigih panji-panji Pancasila dan akhirnya kita semua dapat memenangkan landasan Pancasila sebagai satu-satunya ideologi nasional progresif dalam revolusi kita. Oke, itu poin satu. Saya harus garis bawahi, Pak moderator. Baik.

Kemudian menanggapi kedua narasumber yang luar biasa, sahabat saya, saudara Erlangga, dan juga Bapak AG Dr. Saya kira persoalan bangsa ini tepat sekali diwakili dengan tema ini. Tema ini bagus. Gara-gara tema ini, saya kira Pak Prabowo harusnya memiliki sebuah kesadaran yang kuat bersama dengan pusat studi Pancasila Gadjah Mada membangun karisma Pancasila. Saya ingin mengatakan, persoalan kemerosotan moral Pancasila pada hari ini dalam tata kehidupan berbangsa bernegara karena Pancasila belum dipahami historisitasnya. Apa buat Gerakan Pembumian Pancasila? Jelas, historisitas Pancasila adalah marxisme. Sepakatkah kita bangsa Indonesia bahwa marxisme adalah historisitas Pancasila? Saya melihat seluruh kompleksitas masalah bangsa pada hari ini dalam konteks politik, ekonomi, budaya, dan lain-lain itu karena Pancasila belum bersumber sebagai sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi. Oke, ya. Soekarno mengingatkan kepada kita, kalau kedua hal ini tidak diterapkan, maka sia-sialah Pancasila menjadi ideologi bangsa dan ideologi negara.

Oke, saya rasa sudah cukup, Pak Anton Manurung. Pesannya sudah nyampai. Bagaimana agar kepada perenanyaan Mas? Mungkin yang terakhir, izin yang terakhir. Lewat forum terhormat ini, Kongres Pancasila ke-12, semoga bisa mengusulkan bahwa perlu ada dewan ideologi nasional. Perlu ada dewan ideologi nasional. Yang kedua, yang kedua, mendorong lahirnya undang-undang hari lahir Pancasila. Tidak cukup dengan Keppres 24/26. Saya kira demikian. Terima kasih. Salam Pancasila.

Oke, terima kasih. Ada banyak pertanyaan yang sifatnya, saya carikan istilah ya, cemas dengan keterangan saya tuh. Kenapa takut mengatakan bahwa Bung Karno mengumpulkan, mengkompilasi pikiran-pikiran dunia lalu dituangkan dalam lima sila? Tadi saya katakan, itu tidak asli Indonesia. Demokrasi tidak asli Indonesia. Yang dimaksudkan Bung Karno itu adalah pergaulan dunia yang dihidupkan oleh kompetisi, oleh persaingan pikiran. Kita, negara kita basisnya feodal kan, bukan asli Indonesia kan, sampai sekarang masih feodal tuh. Jadi ide demokrasi itu, sebut aja ide sila keempat itu adalah hasil adaptasi Soekarno untuk dijadikan pegangan, bukan ideologi. Itu demokrasi itu bukan ideologi. Jadi kalau sila keempat ada, ada demokrasi, lalu dianggap Pancasila itu ideologi, ya itu langsung bertentangan. Demokrasi itu membuka peluang untuk semua ideologi bersaing. Itu dasarnya.

Pak Manurung tadi, boleh nggak Pancasila dijadikan ideologi? Boleh, tetapi akan ada negara otoriter. Tidak boleh ada persaingan pikiran. Padahal Pancasila itu diskursif sifatnya. Tadi saya terangkan bahwa Bung Karno menyebut falsafah, dia menyebut ideologi, tapi bukan *official ideology* dari negara. Kan nggak pernah ada keputusan MPR bahwa Pancasila itu ideologi negara tuh. Karena berbahaya. Negara yang berideologi itu cuman dua: fasisme dan komunisme. Mau nggak ada semacam tuntunan berideologi sehingga baju mesti sama, konsumsi mesti sama, itu parfum mesti sama kan? Itu bertentangan dengan kemajemukan kita, bangsa ini.

Manurung, nah kalau misalnya mau dinyatakan sebagai ideologi, ada problem teoritis juga. Ideologi itu mesti koheren, nggak boleh retak. Sila pertama itu Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila keempat itu demokrasi. Kemajemukan boleh nggak orang tidak memakai hak untuk beragama? Konstitusi itu mengatakan agama adalah hak, bukan kewajiban. Agama menjadi kewajiban ketika sila pertama itu didalilkan di dalam versi syariat Islam. Kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Itu sudah dihilangkan karena dianggap itu nanti akan ada problem ke depan itu. Jadi memang Pancasila itu bukan ideologi. Bukan saya tidak menginginkan, tapi dua hal. Saya mau terangkan, tidak diresmikan di dalam undang-undang. Itu adalah wacana. Kata ideologi di situ dalam pengertian, oh itu pandangan hidup. Karena itu sering bukan bilang *Weltanschauung* dalam bahasa Jerman atau bilang *fondement* dalam bahasa Prancis tuh. Jadi tidak ada yang stabil di dalam pemaknaan Pancasila itu posisinya begitu. Yang kedua, memang tidak digali dari bumi Indonesia. Apalagi dalam bahasa Sansekerta. Anda baca di Bung Karno itu mengkoleksi bacaan Jerman, Prancis, Inggris, tapi dia nggak bisa berbahasa Sansekerta kan. Dasarnya begitu tuh. Jadi kenikmatan kita untuk membayangkan ada semacam tuntunan. Oke, tetapi tuntunan itu tidak boleh diresmikan sebagai ideologi negara. Itu maksud saya tuh. Karena lebih berbahaya akibatnya. Demokrasi di negara mana pun tidak ada demokrasi yang ada ideologi. Karena itu bertentangan di dalam prinsip. Apalagi kalau disebutkan mesti ada satu *official ideology* dan orang akan tuntut ideologi itu mesti agama. Ya udah, habis negara ini.

Jadi juga tadi teman yang bicara pertama, bahwa nanti dulu, nggak usah, Pak. Nanti diskusinya di panel di yang ke... Kasih kesempatan untuk ngomong dulu. Silakan, Bang.

Oke, saya lanjut ya. Saya bedakan tadi. Karena itu saya sebutkan sangat mungkin kita akan bertengkar di sini karena forum ini bukan forum ilmiah. Ada aktivis di sini. [Tepuk tangan] Oke, saya oke ya. Supaya sekatan kaki. Saya mengajar teori ideologi di Departemen Filsafat UI selama 15 tahun tuh. Saya ulangi ya. Masalahnya ada. Bayangkan bahwa dalil kita adalah persatuan Indonesia. Boleh nggak dia dibungkus secara ideologi? Tidak bisa. Karena persatuan itu datang dari ontologi kemajemukan dari awal negeri ini majemuk. Oleh karena itu diperlukan persatuan. Jangan dibalik, demi persatuan tidak boleh ada kemajemukan. Itu bahayanya berpikir secara ideologis. Dapat nggak poin itu? Tentu Anda marah karena kok nggak ada, nggak ada panduan. Apalagi bikin dewan ideologi. Hitler bikin itu. Hitler meresmikan dewan ideologi namanya fasisme dan diatur. Anda hanya boleh kawin dengan ras yang sama. Itu aturan ideologi ketat sekali itu.

Jadi sekali lagi, kita boleh anggap bahwa Bung Karno berhasil membaca kecenderungan dunia dan dia ambil saripatinya. Itu bahkan dia rumuskan. Kalau nggak tiga, satu gotong royong. Gimana ada ideologi gotong royong? Jadi kita mesti lihat asan Bung Karno atau kecerdikan Bung Karno untuk menaturalisasi ideologi-ideologi dunia. Nah, itu gampangnya istilah naturalisasi lagi. Keren sekali hari ini. Iya, naturalisasi. Dasarnya kan kita baca. Kalau saya bikin tafsir, dari mana Bung Karno punya ide tentang keadilan sosial? Dia membaca marxisme. Dari mana Bung Karno punya pengetahuan tentang nasionalisme? Sila pertama, dia pasti baca Immanuel Kant tentang *universalism*. Dia baca banyak yang dia baca. Dari mana dia baca kemanusiaan? Yang dia pas baca, kerakyatan. Jadi Bung membaca banyak literatur. Nah, kita tidak mau membaca dan hanya mengupayakan sesuatu yang sudah final. Itu yang paling jengkel. Seminar tentang Pancasila tuh. Temanya apa? Pancasila sudah final. Sudah final, ngapain didiskusikan kan dungu. [Tepuk tangan] namanya.

Jadi saya menginginkan ada panduan bernegara, ada semacam moral kompas. Yang kebetulan paling bagus adalah Pancasila. Udah, saya terima itu. Tetapi mempersoalkan Pancasila ideologi, oke. Itu akan ada debat panjang. Saya menulis, sudah pernah menulis panjang lebar apa majalah Prisma, apa soal-soal begituan. Jadi silakan baca. Jadi referensi kita terhadap ideologi itu bahkan masuk sampai pada pemeriksaan psikoanalisis. Saya mesti kasih lakon di situ. Saya kasih *alare*, saya kasih macam-macam tuh supaya terlihat itu ideologi. Dan itu tidak mungkin satu waktu. Mungkin ada orang yang berpikir, ya lebih baik Pancasila itu dibiarkan terbuka daripada ditutup sebagai asas tunggal. Itu yang dilakukan oleh Pak Harto. Pancasila ditutup dalam versi Soehartoisme. Itu dasarnya. Di negara-negara Afrika juga banyak mencari *root*, mencari akar. Apa sebetulnya akarnya? Macam-macam tuh. Ada yang Mobutuisme karena waktu itu Mobutu Sese Seko adalah pemimpin apa Zaire itu. Jadi terlihat bahwa kita punya semacam kecenderungan untuk mencari sesuatu.

Nah, saya terangkan sedikit teorinya. Setiap kita, setiap manusia itu mengalami keretakan *self*, keretakan jati diri itu. Kenapa dia retak? Karena saya akan mencari figur di atas saya, sementara saya dikejar oleh figur di bawah saya. Retak saya tuh. Saya nggak tahu orientasinya ke mana itu. Jadi biarkan kita hidup di dalam keretakan itu. Nah, keretakan itu kan semacam kutukan bahwa kita manusia, maka kita retak, *self* kita retak, *fragile*. Jadi itu dasarnya. Jadi sekali lagi, dalam demokrasi, di dalam republik, *common good* itu tidak boleh dibasiskan pada satu ideologi. Itu dasarnya. Nah, itu yang menyebabkan ada persaingan pikiran. Itu yang menyebabkan kita terbuka untuk berargumentasi. Itu kita pakai bahasa dan boleh aja pakai tekanan-tekanan, nggak marah. Boleh, tetapi kita balik pada akal sehat lagi tuh, bahwa semua yang didalilkan itu harus diperhatikan logikanya.

Jadi saya kira itu. Dan saya percaya bahwa teman-teman akan merumuskan kembali percakapan ini supaya kita bawa pada forum-forum yang lebih luas tuh. Yang penting bagi saya ada transaksi argumen di sini, bukan kita produksi sentimen. Dan saya percaya kalau kita keluar dari sini dalam 2 hari ini akan ada bekal pengetahuan di kepala kita sehingga IQ bangsa ini bisa ditingkatkan oleh pertemuan hari ini. [Musik] Oke, bahkan saya bisa pastikan kalau jumlah IQ di ruangan ini kita kumpulkan, ditambah yang ada di Senayan, masih ada kembalian di sini. Terima kasih.