📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Konsultasi Syariah Keluarga bersama Ust Dr Salahuddin Guntung

Dewan Syariah Wahdah Islamiyah1:10:24

Transcription

Ee, Majelis secara ee virtual lewat konsultasi syariah yang pada malam hari ini diamanahkan kepada saya untuk ee menjadi ee pemateri, memberikan ee sedikit faedah dan berbagi ee di antara ilmu yang Allah Subhanahu wa taala ee karuniakan. Pada ee kami, dengan ee segala keterbatasannya.

Tentu saja, ee sekali lagi kita bersyukur dan memuji pada Allah Subhanahu wa taala atas ee nikmat dan kemudahan ini di tengah ee mungkin kita ee apa berada di tempat yang seandainya harus kita ee datang bermajelis ke tempat tertentu akan kesulitan. Tetapi ee sarana ini telah memudahkan bagi kita untuk ee mendengarkan dan mendapatkan ilmu dengan begitu mudah di tempat mana saja kita berada, selama tersedia perangkat dan ee jaringan ee cukup untuk ee bisa mengakses kegiatan ini.

Baik, seperti yang disampaikan oleh ee ustaz kita, moderator kita tadi, Ustaz Amirullah, bahwa ee topik pembicaraan kita malam ini sebagai pengantar adalah ee tema atau topik yang ee sangat diperlukan oleh ee setiap ee kita, terutama orang tua dan bahkan juga yang belum menjadi orang tua, ya, yang belum menjadi ayah dan ibu. Apalagi yang sudah menjadi ayah dan ibu, ee semuanya memerlukan hal ini, yaitu ee memberi nama yang baik untuk sang buah hati, memberi nama yang baik atau memilih nama yang baik untuk anak-anak ee kita, tentu terutama anak yang baru lahir, ya.

Ee, ya, sebelum masuk, ya, sedikit sebagai ilustrasi bahwa nama itu ee memiliki banyak ee fungsi dan ee manfaat. Kalau dalam dunia ee perbukuan dan dunia akademik, ee buku itu dapat diketahui isinya secara global melalui judulnya. Ya, coba bisa bayangkan kita belum baca buku tertentu, tapi kita bisa tahu isinya secara global ketika kita membaca judulnya. Kita belum baca artikel secara tuntas, tetapi kita sudah membaca judulnya, sehingga dari judul kita bisa ee membayangkan dan setidaknya mengetahui makna global di balik daripada ee tulisan itu karena lewat judul. Nah, judul ini kalau dalam ee bahasa kita untuk ee manusia, dia adalah nama, nama bagi orang. Begitu kurang lebih ee gambarannya.

Jadi ee begitu pentingnya judul sebuah buku untuk menggambarkan isi bukunya. Kadang-kadang penulis itu berpikir cukup lama, berjam-jam, bahkan mungkin berhari-hari hingga sampai pada satu kesimpulan dan satu keputusan untuk pemberian nama karya tulisnya, bukunya, karena begitu pentingnya judul bagi sebuah buku, bagi sebuah karya ilmiah, satu artikel. Nah, ini gambarannya. Begitu pun kurang lebih nama anak-anak kita hendaknya ee kita kemudian punya perhatian untuk bisa memberikan nama yang baik bagi anak-anak kita. Jangan kiranya kita menyebabkan anak-anak kita minder, anak-anak kita menjadi malu akibat daripada kesalahan kita dalam memilih nama bagi anak-anak itu.

Mungkin kita yang sudah dewasa, sudah besar, sudah bahkan sudah orang tua, kadang-kadang mungkin di antara kita nama kita mungkin kurang bagus. Kadang-kadang kita dalam momen-momen tertentu kita akhirnya menjadi tidak percaya diri, merasa minder, mungkin dalam satu momen-momen penting kita akhirnya menjadi minder karena nama kita menurut kita setelah belajar kurang bagus maknanya. Dan itu bukan kesalahan kita sebetulnya. Itu karena kesalahan orang yang memberi nama kepada kita, karena nama ini untuk kita sendiri. Kita tidak di saat kita memberi diberi nama, kita belum punya pilihan waktu itu dan tidak bisa mengatakan ini saya suka, ini tidak suka, dan lain-lain.

Jadi kita sebagai orang tua hendaknya ee mengambil pelajaran dari situ bahwa betapa pentingnya nama, memilih nama yang baik bagi anak-anak kita, karena dia menjadi satu gambaran tentang sosok yang nanti besar dengan nama itu. Ee tadi digambarkan seperti itu juga pada sisi lain, kadang-kadang anak itu tidak menjadi tidak percaya diri atau bahkan merasa dipermalukan oleh orang lain akibat daripada kesalahan orang tua dalam memilihkan nama bagi orang tersebut.

Ee, kalau tadi melihat yang pertama, bayangkan seandainya kita berada pada satu komunitas antara muslim dan ee nonmuslim. Di komunitas itu sebagian muslim, sebagian nonmuslim. Kita masuk ke situ dan tidak mengenal mereka, belum ada yang kita kenal di antara mereka, dan kita tahu apakah ini muslim atau bukan muslim. Apa yang bisa membedakan atau bisa dijadikan sebagai indikasi bahwa orang yang kita temui, orang yang di hadapan kita, orang yang kita berinteraksi dan berkomunikasi dengannya adalah lewat, antara lain, dengan lewat namanya. Kalau namanya bisa memberikan ee gambaran bahwa dia adalah seorang muslim dari namanya, karena nama itu adalah nama yang umum dipakai oleh kaum muslimin, maka ini menjadi indikasi bahwa dia adalah muslim. Sebaliknya, seandainya ee nama itu tidak tergambar bahwa dia adalah nama ee seorang muslim, kita akan sulit mengatakan dia muslim karena ini menjadi indikasi bahwa dia nonmuslim. Walaupun ini tidak menjazam sesungguhnya, tapi ini fenomena dan gambaran sekedar memberikan ilustrasi betapa nama-nama itu sangat perlu untuk kita benar-benar selektif dan ee apa namanya, ee perlu memilih dengan baik.

Nah, ini tema kita malam ini. Di buku ini oleh penulis Syekh Mustofa Al-Adawi membuat Taufik ikhtiarus min hasanin lifli, memilihkan nama yang baik bagi anak kecil, bagi bayi. Dan beliau memberikan pengantar bahwa ini di antara hak anak atas orang tuanya, kewajiban seorang orang tua kepada anaknya memberikan nama, memilihkan nama yang baik. Lalu kata beliau, "Hendaknya jangan seorang orang tua memberi nama untuk anaknya yang pada akhirnya anaknya menjadi minder, menjadi ee berat dengan nama itu. Sebagaimana juga tidak boleh seseorang memberi lakab gelar kepada orang lain, orang tua memberi gelar kepada anaknya atau orang lainnya dengan gelar yang tidak bagus yang akhirnya yang diberi gelar ini merasa merasa dilecehkan, merasa dihinakan, merasa di ee rendahkan oleh sesamanya."

Jadi ee ini hal yang perlu diperhatikan. Makanya di dalam syariat agama ini oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam benar-benar ee mempraktikkan itu. Memilih nama-nama yang baik untuk anak-anaknya dan untuk para sahabat. Bahkan tidak tanggung-tanggung nama ee orang-orang yang sudah masuk Islam yang dipandang oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam namanya kurang bagus, beliau menggantinya langsung atau mengusulkan untuk diganti dengan nama yang lebih bagus. Karena seperti tadi, nama ini menjadi tanda, menjadi identitas bagi seseorang dan menggambarkan ee bisa menggambarkan karakter minimal karakter umum dari pemilik nama. Dan hendaknya nama ini tidak menjadi ee sumber ee penghinaan atau sebab dihinangkannya pemilik dari nama tersebut.

Karena itu oleh penulis Syekh Mustfa Anudwi mengatakan, "Berilah nama dengan nama yang baik. Bal sammihi bismin thyibin jamil. Berilah nama yang baik, nama yang indah, nama yang cantik di antara nama-nama kaum muslimin." Karena sesungguhnya sekalipun ini bersifat doa, bersifat harapan ee dan bukan jazam, tidak bersifat pasti, tetapi nama yang baik, setidaknya itu kita berharap menjadi gambaran karakter daripada anak yang kita beri nama yang baik tersebut. Walaupun kenyataannya juga ee tidak ee tidak selamanya ee bahwa pemilik nama yang baik itu orangnya pasti baik. Namun ee harapannya bahwa dengan nama yang baik itu pemilik nama itu juga menjadi ee orang yang baik sifat dan karakternya.

Ee, bahkan di dalam ee beberapa hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam, Nabi sendiri karena ee bertafaul istilahnya ee apa ber ee harap dengan baik dari sebuah nama ee muncul hal-hal yang baik. Dalam Sahih Muslim diceritakan oleh Anas Ibnu Malik radhiallahu taala anhu bahwa Nabi sallallahu alaihi wasallam pernah dalam satu ketika dalam ee suatu ketika beliau bermimpi bahwa dirinya seakan berada di rumah Ukhba Ibnu Rafi. Syahidnya di sini ee Nabi mengatakan kaanna fi dari Uqbah Ibnu Rafi'. Perhatikan Rafi. Rafi artinya yang tinggi, yang meninggikan. Fautina birutabin min rutab ibn thb. Lalu Nabi menceritakan bahwa di rumah itu seakan beliau ee di persembahkan kepadanya, disuguhkan kepadanya kurma kurma rutab, kurma basa dari jenis kurma Ibnu Thab. Jadi beliau berada di rumah Uqba Ibnu Rafi, nama seorang ee tokoh atau seorang sahabat. Lalu kemudian disuguhkan padanya kurma yang ee termasuk kurma yang elit, kurma yang bagus, kurma basa dari jenis Ibnu Ibnu Rutab Ibnu e Thab. Lalu kata Nabi sallallahu alaihi wasallam setelah melihat itu, beliau menakwilkan mimpi itu dan mengatakan, "Arifatu lana fid dunya wal aqibatu fil akhirah wainana qad." Jadi dari nama itu dan dari apa yang beliau lihat, beliau ee mentakwil mimpi ini dan mengatakan bahwa kelak kita akan memperoleh kesuksesan dan kemenangan di dunia, kejayaan di dunia. Arifatu lana fidunya. Karena beliau berada di rumah Ibnu Rafi tadi, Uqbah Ibnu Rafi. Rafi artinya tinggi, jaya. Maka beliau mengatakan, "Arifatu lana fid dunya walqibatu fil akhirah." Kebaikan yang apa? Akibat yang baik akan diperoleh di akhirat. Dan wainana qad dan bahwa agama kita sungguh telah ee sukses dan baik. Syahidnya bahwa Nabi sallallahu alaihi wasallam akhirnya menakwilkan mimpinya dan bertafaul dengan nama yang ee merupakan pemilik rumah yang dirasakan di dalam mimpi itu. Nah, ini ee syahidnya.

Pada kesempatan lain, Nabi sallallahu alaihi wasallam ee pernah di datangi oleh seorang seseorang. Lalu Nabi sallallahu alaihi wasallam bertanya kepadanya, "Masmuk, siapa namamu?" Lalu orang itu menyampaikan namanya dan dengan bangga dia sebutkan namanya Hazan. Hazan bi azzal e zan ya hazan hazan artinya sedih ya dari kata alhuzun, orang yang selalu sedih. Lalu kata Nabi sallallahu alaihi wasallam jadi beliau berusaha untuk mengganti namanya tapi orang itu tidak mau diganti namanya katakan anta sahal ya namamu atau Anda atau namamu itu sahal. Sahal artinya mudah ee lembut ya. Lalu orang itu ya merasa tidak ee apa namanya merasa pede dan tidak perlu mengganti namanya. Dan dengan bangga dia katakan kepada Nabi, "Lairisman sammani abi." Saya tidak akan mengganti nama yang telah diberikan oleh ayahku kepadaku. Lalu kemudian orang ini di masa tabiin diceritakan oleh Ibnu Musayyib bahwa orang ini sepeninggal Nabi sallallahu alaihi wasallam masih saja selalu merasakan kesedihan. Kesedihan pada dirinya dan keturunannya. Nah, syahidnya ini adalah pengaruh daripada nama yang ee dalam tanda petik buruk itu berpengaruh kepada nasib. Ya, walaupun ini tentu tidak bersifat ee pasti, tetapi ini di antara ee indikasi-indikasi betapa penamaan itu perlu benar-benar kita selektif, memilih nama yang baik dan menghindari nama yang yang buruk.

Di satu kesempatan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ee pernah menyampaikan analisa tentang nama-nama kabilah dan bagaimana beliau bertafaul. Bertafaul dengan nama yang baik. Beliau menyebutkan ya di antara kabilah Arab yang terkenal ada namanya kabilah Aslam, suku Aslam, suku Gifar dan suku Usayyah. Ini tiga suku yang secara makna dianalisa oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam dan dikatakan aslam salamahallahu. Jadi nama kabilah Aslam ini adalah kabilah yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa taala. Salamah Allah wagifar garfarallahu laha dan suku gifar semoga Allah mengampuninya. Jadi gifar dikatakan oleh Nabi gfarallahu laha. Jadi kata giifar di ee doakan oleh Nabi dan dikatakan gfarallahu laha wa usayya. Usayya secara bahasa artinya bermaksiat. Maka Nabi mengatakan, "Wa usayya asatillaha wa rasulah." Usayyah ini kabilah usayah, suku Usayyah ini adalah ee pemaksiat kepada Allah dan Rasulullah. Jadi ee senang ee suka bermaksiat pada Allah dan Rasulullah. Ee kita tahu dalam peristiwa ee perjanjian Hudaibiyah di saat ee datang delegasi dari kafir Quraisy. Delegasi itu dipimpin oleh Sahal. Maka begitu dilihat oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam, Nabi sallallahu alaihi wasallam ee bertafaul dan mengatakan, "Qad sahulallah qad sahula lakum min amrikum." Ya, sungguh urusan kamu, persoalan kamu, krisis kamu saat ini sudah mudah, sudah dimudahkan. Itu karena beliau bertafaul dengan nama yang baik ketika Sahl yang datang mewakili kafir Quraisy di saat terjadi perjanjian ee Hudaibiyah di masa itu.

Nah, contoh-contoh ini dalam sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam menggambarkan betapa nama-nama itu berpengaruh dan ee Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kita juga tahu secara ee praktiknya dalam sirah nabawiyah seringkali nama-nama itu diganti oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Na yang dipandang kurang bagus diganti untuk mewujudkan ee tadi bahwa pemberian nama selain dia sebagai identitas, sebagai tanda juga sekaligus mengandung unsur doa dan harapan. Doa dan harapan.

Oleh karena itu, oleh penulis ee buku ini, Syekh Mustfa Al-Adawi juga mengatakan bahwa seseorang memang seharusnya benar-benar selektif di dalam memilih nama untuk anak-anaknya dan memilih nama dari nama-nama orang-orang yang memiliki jasa yang baik, dari nama orang-orang yang saleh, dan semaksimal mungkin menghindari nama-nama dari nama-nama orang yang fasik, apalagi nama orang yang kafir. Ini ee penulis buku ini sangat menekankan betapa perlunya seorang tua menghindari pemberian nama hanya karena nama itu semata-mata terkenal dengan ee hal-hal yang bukan karena kesalehannya, mungkin karena ee seorang penyanyi, seorang bintang film ee dan ee ee prest lainnya yang oleh sebagian orang dipandang sebagai sebuah sebuah kelebihan. Tetapi ee hal ini kalau bukan dari nama-nama yang saleh itu semua akan ee menjadi bemerang ee baginya dan bagi anak-anaknya nantinya.

Ee hal yang juga disebutkan oleh beliau di sini bahwa nama yang diberikan oleh orang tua untuk anaknya itu juga sekaligus menjadi cermin bagi orang yang mendengar dan membaca nama itu tentang siapa sesungguhnya sosok orang tua dari anak yang diberi nama tersebut. Karena pemilihan nama yang baik bagi anak itu artinya menggambarkan bahwa orang tua dari anak tersebut adalah orang yang paham, orang yang mengerti, orang yang memiliki cita-cita yang baik atau ee secara langsung dia tergambar bahwa dia adalah orang yang saleh. Karena tentu tidak akan dipilihkan nama yang saleh kecuali dari orang-orang yang saleh, orang yang baik pula. Karena itu ee tidak hanya sebetulnya nama yang baik ini tidak hanya sebetulnya unwan identitas bagi anak yang ee diberi nama tersebut, tetapi juga menjadi cerminan bagi orang lain tentang siapa sesungguhnya orang tua dari anak tersebut. Dan karena itu juga masih Bismillahirrahmanirrahim. Sekalian mohon maaf karena jaringan yang kurang baik. Ee sempat terputus. Kita coba sapa dulu Ustaz. Kita apakah masih ada? Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz. Ya, nampaknya jaringan yang agak bermasalah. Ee para pemirsa sekalian, kami juga sempat bermasalah tadi. Ee kita nantikan saat kita kembali bergabung ee pada malam hari ini. Coba hubung Para pemirsa e kita belum tersambung kembali bersama kita. Kita nantikan insyaallah ee Ustaz kita kembali bergabung di malam hari ini. Silakan dikirimkan pertanyaannya. Ee pulah di malam hari ini. Insyaallah kita akan bacakan pada sesi konsultasi ee di sesi kedua. Barakallahu fikum. Ee asalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Baik, Ustaz, silakan Ustaz. Di perangkat saya rupanya saya tidak sadar kalau terkeluar. Sebentar saya penahi lagi sedikit. Ustaz Okay. Ee sembari menunggu Ustaz kita siap, ya. Kami sampaikan kembali kepada para peserta sekalian bahwa ee silakan mengirimkan pertanyaan Anda di malam hari ini di kolom komentar live Zoom kita. Insyaallah, Ustaz. Kita sedang mengatur ee perangkatnya kembali. Nampaknya tadi bermasalah, ya. Dan Ustaz tidak sadar, ya, kalau Zoom-nya sudah keluar. Baik. Ee suara jelas dengan kedengaran dengan baik. Alhamdulillah jelas. Perangkatnya terpaksa diganti dan karena waktu, ya, kita lanjut saja. Tadi pembahasan saya mohon maaf ini bisa diberikan sedikit di mana terputus. Saya benar tidak sadar tadi di mana terputus ee pembahasannya. Nama yang baik, Ustaz. Heeh. Nama yang baik. Ee jadi ee oke di nama yang baik. Ee jadi tadi saya tadi Ustaz nama I ee iya nama yang tadi ee Ustaz mengutip perkataan di buku nama yang diberikan oleh orang tua sekaligus menjadi cermin bagi sang anak. Oh, sudah jauh sekali saya bicara panjang rupanya setelahnya alulihan. Jadi ee nama ee, ya, Nabi sallallahu alaihi wasallam ee selain beliau menceritakan bahwa para nabi dahulu atau orang-orang saleh terdahulu itu mengambil nama para nabi mereka dan orang-orang saleh mereka untuk anak-anak mereka. Oleh penulis diceritakan bahwa ee dan ini menjadi isyarat juga diisyaratkan di hadis ee Muslim tadi bahwa ee salah seorang sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam itu pernah mendatangi atau berkunjung ke Najran. Najran ini dihuni oleh orang-orang Nasra, yaitu hadis almughirah bin Sy'bah. Lalu mereka bertanya kepada Mughirah bin Sy'bah, sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam. Mereka katakan bahwa kalian itu membaca ayat dan membaca firman Allah, "Ya ukhta Harun." Ini dalam surah Maryam, kan? Ya ukhta Harun maana abukin umuki bagya. Syahidnya bahwa Maryam di sini dipanggil dengan ukhtu Harud. Itu berarti bahwa beliau Maryam adalah saudara dari saudari daripada Harun. Lalu tentu saja kita kenal dalam Al-Qur'an bahwa Harun itu adalah saudara daripada Nabi Musa. Lalu mereka katakan kepada ee almughirah bin Sybah, bagaimana bisa terjadi itu? Kapan ee bertemuannya sementara Harun dengan ee yang merupakan saudara Isa, eh saudara Musa, sangat ee apa Harun dan yang merupakan saudara Musa itu sangat berjauhan masa waktunya dengan Maryam. Lalu kemudian hal itu ditanyakan atau diceritakan oleh almughirah bin Sybah kepada Nabi dan Nabi mengatakan, "Innahum yusamuna biambiya qblahum." Jadi mereka dahulu itu menamakan anak-anak mereka dari nama para nabi dan orang-orang saleh mereka. Nah, ini juga dipraktikkan oleh Nabi sendiri secara langsung. Beliau menamakan putra beliau yang wafat sebelum dewasa dengan nama Ibrahim. Diambil dari nama kakek beliau Ibrahim alaihialatu wasalam. Nah, ini contoh di antara ee nama yang ee bisa menjadi pilihan, yaitu memilih nama dari nama para nabi dan rasul ee dan orang-orang saleh pada umumnya. Seperti juga menjadi sunah orang-orang terdahulu sebelum ee umat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Dan oleh Rasulullah sendiri mempraktikkan hal tersebut.

Juga di antara pilihan lain adalah memberi nama anak-anak itu dari nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang ditambahi ditambahi di depannya dengan abdun untuk laki-laki atau amah untuk wanita. Karena Nabi sallallahu alaihi wasallam menyebutkan bahwa nama yang paling dicintai oleh Allah itu adalah Abdullah dan Abdurrahman. Jadi Abdullah dan Abdurrahman. Abdullah tentu dari nama Allah, lafzul jalalah Allah, dan Abdurrahman dari nama nama Allah Arrahman. Hanya saja tentu karena nama ini adalah nama yang spesifik bagi Allah, tidak boleh nama ini kemudian di ee pelintir dan ee hanya mencukupkan dengan ee nama Rahman saja, tanpa menyebutkan abdun di depannya, karena ini termasuk di antara nama yang spesifik bagi Allah Subhanahu wa taala. Syahidnya bahwa nama di antara pilihan nama itu adalah nama-nama Allah Subhanahu wa taala. Nah, ini ee di antaranya ee juga Nabi sendiri selain menggunakan nama atau menamakan anak beliau dengan nama ee para sahabat ee maaf nama ee para nabi, beliau sendiri meminta kepada umatnya untuk kemudian menjadikan pilihan nama itu adalah nama sendiri. Nama beliau. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari, beliau katakan, "Tasammu bismi." Silakan memberi nama, mengambil nama dengan namaku. Silakan mengambil namaku sebagai nama kalian. Tetapi walau bikunati, jangan kamu berkuniah dengan kuniahku. Kalau kita mengambil nama beliau sebagai nama kita atau nama anak kita, hendaknya dihindari penggunaan kunniah dengan kunniah ras kunniah yang dipakai oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Beliau kunnianya adalah Abul Qasim. Maka ee kalau kita sudah mengambil nama beliau, maka tidak lagi menggunakan kuniahnya. Tapi kalau kita bukan nama beliau yang kita pakai dan kita ingin mengambil kuniahnya, tidak mengapa, karena tidak menggabungkan antara penggunaan nama beliau dengan nama ee ee tersebut. Jadi dengan kuliah tersebut.

Eee hadirin dan hadirat sekalian yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala. Ini di antara hal-hal yang ee penting untuk ee kita perhatikan bahwa nama seperti disebutkan tadi adalah identitas. Kemudian pilihan-pilihan nama antara lain adalah nama para nabi dan rasul, nama orang-orang saleh, dan juga yang termasuk nama yang paling indah dan paling bagus adalah nama-nama Allah Subhanahu wa taala dengan catatan bahwa di saat kita memilih nama-nama Allah Subhanahu wa taala menjadi nama anak-anak kita, hendaknya menambahkan ee apa? Abdun di depannya atau amah untuk anak perempuan di depannya, sehingga kita katakan amatullah, amaturrahman kalau untuk wanita atau Abdullah dan Abdurrahman untuk ee yang laki-laki. Ee ini beberapa hal yang ee penting.

Kemudian ee hal yang ee harus kemudian dihindari bahwa kita di dalam pemilihan nama hendaknya juga menghindari nama-nama yang terlarang untuk anak-anak kita. Ee nama-nama yang terlarang, baik larangannya berupa larangan yang tegas yang diharamkan atau nama-nama yang dimakruhkan. Ee nama-nama yang diharamkan atau yang dimakruhkan ini kembali kepada beberapa hal. Ee bisa kita menggunakan pendekatan ee kaidah yang perlu dihindari dalam ee nama karena bisa masuk dalam kategori nama yang diharamkan atau nama yang terlarang.

Yang pertama adalah ee tidak menggunakan takbid kepada selain Allah. Nama yang ee tidak ada penghambaan kepada selain Allah Subhanahu wa taala. Karena nama yang menggunakan penghambaan kepada selain Allah itu dilarang seperti abdur Rasul, Abdun Nabi, Abdul Husain. Ini adalah penghambaan kepada selain Allah Subhanahu wa taala yang terlarang. Dan kita tidak boleh ee beralasan bahwa Nabi sendiri kakeknya ee dikenal dan nama kakek beliau adalah Abdul Muthalib. Abdul Muthalib ini adalah nama takbid kepada selain Allah, almuthalib atau kalau contoh lainnya adalah Abdul Uzza dan lain-lain. Ini adalah penamaan yang tidak dibenarkan. Adapun penamaan atau Nabi menyebutkan bahwa ana ibnu Abdul Muthalib itu bukan sebagai takrir tetapi minabil khabar. Jadi tidak dijadikan alasan. Intinya bahwa menghindari nama yang mengindikasikan penghambaan kepada selain Allah Subhanahu wa taala itu benar-benar dihindari. Karena ini terlarang seperti Abdur Rasul, Abdun Nabi, Abdul Husain dan Abdul Hasan dan lain-lain. Apalagi ee takbid kepada ee berhala-berhala. Itu yang pertama.

Yang kedua, menghindari nama yang spesifik. Ee merupakan nama Allah Subhanahu wa taala. Jadi nama-nama Allah itu ee mohon maaf ini ee pembahasannya di tentang alasmaus sifat, nama-nama dan sifat-sifat Allah. Tetapi kaitannya dengan penamaan. Nama-nama Allah itu ada yang nama istilahnya al-asmaul khas billah, nama-nama yang spesifik bagi Allah. Dan ada nama-nama yang musytarak, nama-nama yang terpakai untuk Allah dan untuk selain Allah Subhanahu wa taala. Tidak menjadi spesifik bagi Allah. Nah, kedua jenis nama ini idealnya tentu menggunakan takbid di depannya. Abdurrahman, Abdullah atau nama yang musytarak. Nama ee Abdullah dan Abdurrahman. Nama Allah dan Ar-Rahman ini termasuk di antara nama-nama yang spesifik bagi Allah. Adapun nama-nama yang musytarak seperti Alaziz. Alaziz ini adalah nama yang musytarak. Assami albashir ini nama Allah tetapi juga terpakai dipakai sebagai nama untuk selain Allah. Nah, nama yang musytarak itu boleh dipakai untuk selain Allah dan ee tentu kalau menggunakan abdun di depannya itu sangat bagus. Tapi seandainya pun tidak dibaringi dengan abdun di depannya maka tidak terlarang. Tidak terlarang. Yang terlarang kalau nama itu nama spesifik bagi Allah lalu tidak dibaringi dengan abdun atau amah di depannya. Nah, sehingga ketika seseorang bernama Abdurrahman atau Abdullah tidak boleh disingkat namanya dipanggil ya Rahman, ya Allah. Apalagi ya Allah, jelas sekali tidak diperkenankan karena itu nama spesifik bagi Allah. Sementara nama-nama yang musytarak, nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang terpakai untuk Allah dan selain Allah, boleh seseorang memanggilnya tanpa disertai abdun di depannya. Walaupun seandainya ee walaupun tentu yang lebih ideal adalah memanggilnya dan menamakannya secara lengkap dengan Abdun. Abdul Aziz ini yang paling ideal. Tapi seandainya dipanggil ya Aziz boleh. Abdus Sami dipanggil ya sami. Abdul Bashir dipanggil ya bashir. Karena dalam Al-Qur'an sendiri assami albasir itu dipakai untuk manusia. Dalam surah Alinsan dikatakan samp dikatakan lalu kami jadikan dia sebagai orang yang mampu mendengar dan mampu melihat. Ini manusia. Jadi assami dan Albasir di ayat itu di awal surah Al-Insan adalah manusia. Maka oleh ulama dikatakan ini nama yang musytarak bukan spesifik bagi Allah. Sehingga seandainya ada orang bernama Abdus Sami dan Abdul Bashir lalu dipanggil ya sami ya Bashir itu tidak mengapa. Seperti juga Alaziz. Alaziz nama Allah Subhanahu wa taala. Tetapi kalau kita menyingkatnya dan memanggil ya Aziz, orang yang dah bernamanya Abdul Aziz lalu dipanggil Aziz itu boleh. Tapi Ar-Rahman ketika dipanggil namanya Abdurrahman lalu disingkat ya Rahman ini tidak dibenarkan. Intinya bahwa tidak boleh menggunakan nama yang spesifik bagi Allah Subhanahu wa taala kecuali dengan menggunakan abdun atau ama di depannya.

Lalu yang ketiga yang tidak diperkenankan adalah nama yang maknanya tidak bagus, maknanya buruk ya. Maknanya buruk secara bahasa ini. Ee di masa Nabi sallallahu alaihi wasallam seringkali beliau mengganti nama orang yang dipandang namanya buruk. Dan tadi sudah disebutkan contoh kasus ada seseorang datang kepada Nabi tanya, "Siapa namamu?" Dia katakan Hazan. Lalu Nabi awalnya ingin menggantinya dengan Sahal, tapi dia tidak berkenan untuk menggantinya. Lalu pengaruhnya setelah itu diceritakan oleh ee Ibnu Musayyab. bahwa orang itu dan keturunannya selalu saja dirundung dengan kesedihan. Jadi ee hindari nama yang buruk maknanya. Kalau dalam bahasa Arab misalkan seperti harb yang selalu berperang murah. Ini nama ee buruk juga murah itu artinya pahit ee hazan ya selalu sedih. Ah, begitu juga dengan nama-nama yang ini.

Kemudian yang keempat adalah nama-nama yang tidak memiliki arti yang baik, tidak diketahui apa artinya, baik atau buruk. Ini juga harus dihindari. Saya pribadi kalau kita untuk kita masyarakat Sulawesi Selatan. Saya sampai sekarang bertanya-tanya apa artinya anak kecil itu biasa disebut kalau laki-laki dipanggil ee baco. Kalau Makassar Makassar bakso ee mungkin kalau dalam bahasa Bugis besik. Ini saya bertanya-tanya sebetulnya apa artinya? Apakah maknanya bagus atau tidak? Ini hal-hal yang seperti ini kita patut bertanya. Jadi pertama-tama ketika kita memilih nama, pilih nama yang memiliki arti yang bagus. Selain dari ee nama-nama jelas nama para nabi, jelas nama orang saleh dan apalagi nama-nama Allah. Tapi seandainya pun di luar daripada itu ee tapi maknanya bagus, indah secara bahasa dan secara syari apalagi, maka ini bisa menjadi pilihan. Jadi harus dihindari nama yang tidak jelas artinya, jelas maknanya. Apalagi kalau jelas maknanya buruk ee sama dengan yang ketiga tadi.

Kemudian di antara hal yang perlu dihindari dalam pemberian nama adalah nama yang bisa menjadi tazkiah ee untuk pribadi. Sehingga orang yang diberi nama itu kelak nanti menjadi apa? Riskan. Karena namanya mengandung tazkiah bagi dirinya. Walaupun mungkin menjadi doa dari orang tua untuk anaknya, tetapi dikhawatirkan itu menjadi tazkiah bagi dirinya. Seperti misalkan ada ee apa? Karena Allah Subhanahu wa taala melarang kita mentazkiah diri kita. W tuqu anfusakum. Janganlah kamu mentazkiah diri kamu sendiri. Ee di masa Nabi sallallahu alaihi wasallam ada orang bernama Barra. Bar artinya orang yang bar, orang yang apa istilahnya? Orang yang taat. Nah, ini nama-nama secara ee makna bisa bermakna doa, tapi sekaligus pada sisi lain ini bisa mengandung tazkiah. Padahal ee kita dilarang untuk mentazkiah diri sendiri.

Nah, ini ee ikhwan dan akhwat sekalian. Waktunya sudah habis ya. Sudah hampir habis. Ee hal-hal yang penting dalam pemberian nama dan sekali lagi bahwa nama ini adalah merupakan identitas sehingga benar-benar kita perlu memilih nama yang paling tepat untuk anak-anak kita. Ada satu hal yang ee bagi saya pribadi memandangnya sebagai satu hal yang juga perlu kita perhatikan dalam pemilihan nama. Kita di Indonesia dan ee mungkin di Sulawesi Selatan termasuk di antaranya yang paling ee lumrah nama-nama itu seringkali panjang sekali sampai satu orang anak itu diberi nama bertingkat sampai tiga atau empat namanya dan satu pun di antara nama itu tidak meng apa bukan bagian daripada nama ayahnya sehingga ee orang itu seakan dinasabkan kepada selain ayahnya. Padahal satu di antara ee maqasidus syariah adalah penjagaan nasab. Oleh karena itu, di antara hal yang penting diperhatikan, sebaiknya nama itu tidak usah terlalu panjang untuk anak kita, tetapi sebaiknya nama itu diparalelkan dengan nama ayahnya, nama abinya, supaya nama itu akan terjaga terus. Dan ini kelebihannya ee orang Arab. dan terpelihara. Bahkan di pra Islam di masa jahiliah itu terjaga nasabnya karena teknis mereka dalam pemilihan nama tidak panjang-panjang tetapi selalu dia diparalelkan dengan nama ayahnya. Makanya nama Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam terjaga itu karena memang terbiasa menghafal nasab dan juga ee sudah dinamakan dengan nama itu. Jadi ee nama cukup pendek, satu suku kata saja, satu kata maaf, tetapi juga diikutkan nama ayahnya sebagai nasabnya supaya nanti ee akan terbawa ke bawah ke anak-anak kita. Nah, ini ee tambahan sedikit dari saya dari apa yang disajikan oleh penulis kitab ini. Ee intinya ee seperti tadi bahwa perlu selektif dalam memilih nama. Ada beberapa ee teknis atau pilihan-pilihan ee nama yang bisa kita jadikan sebagai ee ukuran dalam memilih nama. Wallahu taala alam waam. Mohon maaf ee terlalu panjang dan tadi terputus secara tidak saya sadar bahwa terputus. Demikian, Ustaz.

Baik, Ustaz. Masyaallah syukran wajakallah khairan kepada Ustaz kita atas materi pengantarnya di malam hari ini. Ee banyak sekali faedah yang bisa kita ambil ya dari penjelasan terkait dengan ee nama untuk senang buah hati, ya. Ustaz tadi sudah jelaskan dengan detail dan ee qadarallah tadi ada sedikit ee masalah sehingga waktunya sempat terpotong dan ustaz juga sudah menjelaskan mungkin namun terpotong qadarullah ee tidak mengapa jemaah sekalian ee pemira sekalian semoga kita mengambil banyak faedah dari apa yang Ustaz sampaikan tadi. Baik, Ustaz. Eh, ini ada beberapa pertanyaan, Ustaz. Kita ee bacakan insyaallah. Ee pertama dari saudari Mahyul Hanifan. Ustaz, bagaimana dengan penamaan ee nama malaikat kepada ee anak kita? Contoh dinamakan Jibril, ya. I, Ustaz. Ee ini termasuk nama yang dihindari, ya. Jadi penamaan Jibril kalau tidak salah Syekh Bakar Abu Zaid juga ee mengingatkan itu bahwa ee nama-nama malaikat, ya, itu hendaknya dihindari penggunaan ee namanya. Ee itu yang saya ingat dari ee kalau tidak salah Syekh Bakar Abu Zaid ee menyebutkan di antara ee yang harus hindari, bahkan termasuk kalau tidak salah masuk di dalam kitab beliau di Mujam Almanahil Lafiah, penamaan anak bagi anak kita dengan nama para malaikat. Wallahuam. Dipahami oleh saudari dari penanya tadi. Kita lanjutkan, ya. Ada pertanyaan dari dari Darmati. Afan ustaz nama anak kami adalah Yuda. Bagaimana menurut ustaz dengan nama ini? Apakah harus kami ganti? Yuda. Ustaz namanya Yuda namanya. Saya baru dengarkan namanya. Ee tapi kalau apa namanya ee ini kalau tidak salah ya dari nama ee Latin, ya. Kalau orang yang membahasa sejarah, nama ini disebut ee sebagai salah satu di antara hawari Nabi Isa alaihialatu wasalam yang ee akhirnya kemudian diserupakan oleh Allah Subhanahu wa taala dengan Isa alaihialatu wasalam yang disalib oleh orang-orang Yahudi di saat Isa dikepung oleh orang-orang Yahudi. Di secara histori ini ee nama kurang bagus sebetulnya di di sejarahnya. Jadi Yudas Ibnu Ishayuti ee yang disalib oleh orang-orang Yahudi. Ee saya tidak tahu dari segi maknanya apakah ada makna lain dalam bahasa kita. Tetapi kalau dilihat dari perspektif tadi ee ini ee tentu seandainya masih ada pilihan-pilihan ee dipilihkan nama yang lebih bagus. Ee secara ee kalau di negeri kita, saya tidak tahu detailnya perubahan nama, tetapi saya kira ada peluang ketika ingin mengubah nama ee melalui ee proses di pengadilan kalau tidak salah. Setidaknya itu tercatat dalam ee proses perubahan nama. Itu menjadi pilihan-pilihan kalau kita ingin mewujudkan nama yang lebih bagus dan lebih ini. Atau paling tidak kalau seandainya itu ee sulit secara formal diubah, maka penamaan sehari-hari setidaknya itu yang kemudian kita ubah. Ya, kalau pun masih sulit, apalagi kalau dia sudah punya keluarga, anaknya sudah besar, apalagi sudah punya anak, maka bisa setidaknya menggunakan kunniah paling minimal. Karena kalau kunniah itu ee tidak harus menghilangkan nama aslinya dan dengan itu akan menjadi lebih dikenal. Ee kalau di kalangan orang-orang yang sudah dalam tanda petik istilahnya hijrah ee ada yang disebut dengan nama asli dan nama hijrah. Ini juga bisa menjadi pilihan ee di antara pilihan-pilihan yang ada. Secara formal tidak berganti, tetapi penggunaan sehari-hari sudah berganti dengan ee cara tadi. Jadi, ee saran saya bisa menjadikan pilihan itu, pilihan itu. Tapi kalau memang anaknya masih kecil, belum keluar ee ijazah SD-nya misalkan, ah itu masih ada peluang untuk diganti di aktenya. Jadi, ganti akte kemudian nanti ijazahnya akan mengikuti akta yang baru. Itu saran, Bu, ya. Silakan. Wallahuam.

Baik, Ustaz. Barakallah fikum, Ustaz, atas jawabannya. Semoga dipahami oleh penanya. N mungkin tiga pertanyaan lagi, Ustaz, ya. Karena e semangatnya pemirsa ini bertanya dan Ustaz, kita juga mau istirahat ee bisa dijawab singkat-singkat, Ustaz. Ya, ini tadi ada pertanyaan, Ustaz. Ee kebanyakan disinggung tentang laki-laki nih, Ustaz. Ada pertanyaan, "Bagaimana nama yang baik untuk bayi perempuan, Ustaz? Perempuan untuk bayi ee perempuan ee tadi, ya, karena para nabi dan rasul laki-laki berarti otomatis tidak berlaku untuk perempuan-perempuannya. Tapi saya kira banyak yang salihat, ya, wanita-wanita salihat di dalam Al-Qur'an antaranya adalah Maryam, kemudian Asia, ya ee dan nama-nama sahabiat yang tentu mereka semua adalah nama-nama orang salehat sehingga bisa menjadi pilihan ee juga secara ee bahasa, ya ee nama-nama yang secara bahasa maknanya bagus. Ya, kalau terlepas daripada misalnya contohnya begini. Contohnya begini. Kalau kita menganalisa secara bahasa saja, ya, nama-nama ee sahabiah misalkan Aisyah. Aisyah tentu pertama beliau adalah kalau sekarang kan kita kenal Aisyah sebagai ee istri Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Tapi sebelum menjadi istri beliau kan nama itu diberikan oleh Abu Bakar sebagai ayahnya. Tapi ee sebelum menjadi istri Nabi dan menjadi seorang salhah yang sangat ee berjasa dan sangat berilmu, kita menganalisanya dari segi bahasa. Maknanya memang sangat bagus. Aisyah artinya yang hidup, ya, yang hidup. Jadi ee seperti juga amirah. Amirah ee bentuk muannas daripada amir. Amir artinya juga yang berumur atau yang panjang umurnya. Jadi seperti itu. Ee intinya tadi sudah ada tawabit bahwa nama yang bagus itu selain nama orang-orang saleh, para nabi kalau laki-laki. Tapi karena tidak ada perempuan menjadi nabi, maka salihat, wanita-wanita salihat, ya, juga menggunakan nama-nama Allah Subhanahu wa taala tetapi menambahkan amah di depannya. Amah artinya hamba. Jadi sama dengan abdun, ya, abdun mudzakarnya. Kemudian untuk anak wanita menggunakan nama amah. Jadi dikatakan misalkan amatullah, amaturrahman dan nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang lainnya lalu menggunakan amah di depannya. Lalu yang ee pilihan nama yang lain adalah dari segi makna. Makna itu sangat ee indah, bagus, dan bisa bermakna ee doa, ya. Seperti misalkan ee zakiah, ya. Ee suci dan makna-makna yang ee lainnya. Itu singkatnya, Bu. Lanjut. Silakan.

Baik. Insyaallah. Syukuran, Ustaz. Semoga dipahami oleh saudari penanya. Berikutnya, Ustaz. Ini dari saudara saudara Mahyuddin Hanif bertanya dengan orang yang sudah meninggal. Ustaz, bagaimana dengan nama neneknya? Ee namanya Kanudo. Dari orang tuanya diberikan tapi sudah meninggal. Apakah ee tapi ini tertulis di batu nisannya? Bagaimana, Ustaz? Ya kayaknya sudah ya lewat, ya. Silakan, Ustaz. Ee baik. Jadi untuk orang yang sudah meninggal kita tidak ee dituntut lagi untuk menggantinya dengan nama yang lain. Dan ee tentu ya tilka ummatun qad khalat laha ma kasabat wakum ma kasabtum. Jadi ya seperti itu pada akhirnya seperti halnya juga dengan nama-nama keluarga Nabi yang sudah wafat. Tadi saya sudah singgung sedikit disyaratkan bahwa nama Abdul Muthalib itu kalau dari segi secara syari sebetulnya nama yang tidak ee syari dan tidak dibenarkan karena ini adalah takbid kepada selain Allah, adalah penghambaan kepada selain Allah. Abdul Muthalib, hamba almuthaib. Padahal seorang hamba tidak dibenarkan menghamba kepada selain Allah. Harusnya Abdullah. Tapi dalam ee satu momen Nabi sallallahu alaihi wasallam dengan sengaja beliau menyebutkan namanya waana Ibnu Abdul Muthalib dan saya kata Nabi adalah keturunan Abdul Muthalib. Berarti beliau ee masih tetap mengikrar dan menyebutkan nama Abdul Muthalib dan tidak menggantinya karena sudah wafat. Seandainya masih hidup maka beliau akan ganti setelah beliau diangkat menjadi rasul dan ee sudah masuk Islam. Seandainya masuk Islam juga, ya. Tapi karena dia tidak ee dia disedap, maka dia tidak mengganti. Maka demikian halnya dengan keluarga kita, orang tua kita, kakek, nenek kita, dan siapapun yang sudah wafat tidak ada tuntunan untuk kita menggantikan namanya. Sudah terlalu, sudah berlalu. Ini ee hal berkenaan dengan sudah wafat, ya. Baik, Ustaz. Terakhir mungkin Ustaz, ya, mohon maaf para pemirsa karena sudah terlalu lewat, ya. Terakhir kita bacakan pertanyaan dari ee yang telah masuk ee ini ada dari Suniati Nrekang. Ustaz, bagaimana dengan penamaan seorang anak namanya Muhammad Akbar tapi kesehariannya dipanggil Akbar? Apakah ini ee bertentangan? Ustaz, silakan, Ustaz. Ee iya ee dari kalau kalau kasus yang ditanyakan tidak ada masalah. Muhammad Akbar, ya, ini namanya murakab, ya. Kalau memang namanya dua dari dua suku kata ini, dua kata ini Muhammad dengan Akbar ee dipanggil hari-hari akbar tidak ada masalah. Maknanya juga tidak ada yang ee terlarang, bahkan namanya juga bagus. Akbar artinya yang lebih besar. Ee hanya saja ee tentu ee seperti yang saya tadi isyaratkan bahwa ee penggunaan nama atau pemilihan nama menurut saya ini tentu bisa ee menjadi pandangan pribadi tapi saya melihatnya pada sisi ini bahwa ee nama-nama itu tidak perlu panjang. Seperti yang saya jelaskan terakhir tadi bahwa tidak perlu e panjang, cukup satu kata tetapi nanti kalau mau nama itu panjang karena kadang-kadang juga nama itu kalau terlalu pendek juga ee kadang-kadang kurang bagus, ya. Kalau kita misalkan ee di apa istilahnya berkas-berkas ee kadang-kadang tidak simetris nama itu kalau terlalu pendek juga terlalu panjang juga kurang bagus. Jadi ee cukup satu kata, satu kata tapi diikutkan nama ayahnya. Apalagi kalau nama ayahnya juga nama yang bagus. Jadi itu menjadi indah. Menjadi indah. Saya pribadi ee diberi nama ayah saya dengan Salahuddin. Ayah saya namanya Guntung. Saya pribadi tidak tahu apa artinya. Tapi karena itu sudah nama orang tua saya, maka itu ikut di nama saya, di data-data saya ikut. Dan begitu juga dengan kakek saya. Ee saya tidak merasa risi dengan itu. Karena saya dengan itu akhirnya ingin menelanamkan kepada anak-anak saya bahwa ini adalah nasab Anda. Jadi secara tidak langsung mereka tahu nasabnya. Ee ini kelemahan kita karena kita tidak beri nama anak-anak kita dengan ee mengikutkan nasabnya. Akhirnya nasabnya tidak ketahuan. Nah, ini kelemahan. Padahal salah satu di antara maqasidus syariah adalah penjagaan nasab. Jadi salah satu untuk bisa menghafal nasab itu adalah dengan nama itu ter ee apa? Terkam dalam nama anak-anak kita. Wallahuam. Ee kesimpulannya untuk nama tadi Muhammad Akbar boleh dipanggil Akbar boleh dipanggil Muhammad, ya salah satunya atau dua-duanya. Allahu Taala alam. Iya.

Baik, baik. Barakallah fikum Ustaz wa jazakumullah khairan. Ee masih banyak pertanyaan tapi kami mohon maaf kepada para pemirsa karena keterbatasan waktu kita ee sudah lewat sekitar 15 menit, ya, dan kita juga tentunya ee butuh istirahat dan para pemirsa juga, ya, sudah ee kita masuk sudah jam 10. lewat ee kami mohon maaf ee atas keterbatasannya. Insyaallah ee masih bisa diajukan di konsultasi yang berikutnya pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab biillahi taala, ya, atau ya sebenarnya Dewan Syariah memiliki situs, ya. Para pemirsa yang mau bertanya lewat situs Dewan Syariah bisa mengakses www.dewansyariah.com. Barakallahu fikum. Ee kita ucapkan jazakullah khairan kepada Ustaz kita atas materi dan kebersamaannya telah menjawab pertanyaan pemirsa. Semoga apa yang telah ustaz sampaikan menjadi pemberat timbangan amal kebaikan beliau di akhirat kelak. Dan terima kasih atas segala partisipasi dari para pemirsa semua. Saya cukupkan konsultasi syariah kita di malam hari ini. Mari kita menutupnya dengan membaca doa kafaratul majelis. Subhanakallah wabihamdik asadua ilahailla anta astagfirubik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Um.