📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Konsultasi Syariah Keluarga Tanya Jawab Bersama Ust. Awal Rifai MH

Dewan Syariah Wahdah Islamiyah56:15

Transcription

Cek cek. Masyaallah. Ahlan wasahlan kepada para peserta konsultasi Dewan Syariah. Alhamdulillah, ee pada pertemuan kali ini kita berada pada komisi Usra dan Usah. Ee silakan bagikan info kegiatan kita kepada kenalan-kenalan dan guru-guru kita agar kemudian kegiatan kita bisa lebih bermanfaat kepada yang lain. Barakallahu fikum jamian.

Dan alhamdulillah, kita mungkin menyapa Ustaz ya terlebih dahulu. Asalamualaikum, Ustaz. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Mustahid, Ustaz. Nam bismillah, jelas di suara. Nabda, iya. Alhamdulillah, Ustaz. Iya.

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah wa ala alihi wa ashabihi walah. Amma ba'd. Para pemirsa konsultasi Dewan Syariah yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa taala. Alhamdulillah pada pertemuan majelis tadabur yang ke-16, tadabur ayat-ayat keluarga dalam Al-Qur'an Alkarim. Tema kita pada malam hari ini adalah Ayah yang Menentukan. Insyaallah pemateri kita untuk tema yang telah kita sebutkan adalah Ustaz Awal Rifai, Lc, MH. Dan alhamdulillah beliau sudah berada di hadapan kita semua, ya. Tanpa memperpanjang waktu lagi, kita persilakan. Dan setelah sesi pemaparan materi terkait tema kita, insyaallah di akhir kegiatan akan ada konsultasi bersama dengan Ustaz. Kepada Ustaz kami persilakan.

Iya. Fadol, Ustaz. Iya. Ya. Syukran, Ustaz. Ee bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil alamin wasalatu wasalamu ala asrofil anbiya wal mursalin nabiyina wa qudwatina Muhammadin sallallahu alaihi wasallam. Ee hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Subhanahu wa taala. Alhamdulillah kita terus bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala ee atas ee nikmat yang Allah Subhanahu wa taala juga terus berikan kepada kita sehingga kita masih bisa melakukan ee berbagai kebaikan dalam kehidupan kita. Demikian pula salam dan selawat kepada baginda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Nabi yang kita jadikan teladan ee di kehidupan kita ee secara khusus kita jadikan teladan dalam hal-hal yang sifatnya ibadah ee kepada Allah Subhanahu wa taala.

Ee hadirin yang dimuliakan Allah Subhanahu wa taala. Tema kita seperti yang disebutkan tadi adalah ee tentang ayah ee di mana disebutkan dalam redaksi tema tersebut adalah Ayah yang Menentukan. Ee maksudnya adalah menentukan ee pilihan yang ada di hadapannya. Ee bukan berarti menentukan dalam hal ini menentukan ee sebagaimana Allah Subhanahu wa taala menetapkan. Ya, ini tentu ee bukan itu yang kita maksud. Karena ee kalau ketetapan Allah Subhanahu wa taala ee itu adalah takdir, ya. Takdir yang Allah Subhanahu wa taala telah tetapkan kepada ee semua ee hamba-hambanya, semua makhluknya yang ada di kehidupan dunia ini. Maka maksud ee menentukan ee ayah, ya, ketika seorang lelaki, seorang suami berstatus ya, berubah statusnya menjadi seorang ayah ee dengan anugerah anak yang Allah Subhanahu wa taala berikan kepadanya, maka dia ee yang menentukan. Ya, secara umum ee sudah kita bahas pada ee beberapa ayat yang telah lewat mengenai ee seorang suami atau kepemimpinan seorang suami dalam sebuah rumah tangga. Artinya memiliki tanggung jawab yang besar. Bukan hanya ee dalam hal menafkahi ee ataupun ee membimbing ya, memberikan apa yang diinginkan oleh keluarganya. Tapi lebih dari itu, yaitu menentukan arah dari ee lembaga rumah tangga yang ee dia merupakan kepalanya, ya, ketua dari lembaga rumah tangga tersebut. Ya, dialah seorang suami. Kemudian ketika Allah Subhanahu wa taala berikan ee anugerah anak, ya, sehingga statusnya berubah menjadi seorang ayah, maka di situlah ee amanah bertambah yang ee juga dipersiapkan ya tanggung jawabnya di hadapan Allah Subhanahu wa taala. Dan amanah ini adalah titipan, ya. Anak tersebut telah Allah Subhanahu wa taala titipkan untuk di ee dibawa ya, diantarkan ke mana. Nah, itulah maksud kita bahwa ayah yang ee menentukan.

Meskipun memang kalau kita juga melihat bahwa ee dalam kenyataannya dalam kehidupan kita ketika seorang suami, seorang ayah yang kemudian di antara tanggung jawabnya adalah mencari nafkah sehingga lebih banyak di luar rumah daripada istri, dan kemudian istri lah ya atau sang ibu ee yang lebih banyak berinteraksi dengan anaknya. Maka mungkin ada yang mengatakan bahwa tentu ee yang paling banyak berinteraksi ataupun berdialog dengan anak di sini adalah ibunya. Ee kita katakan bahwa ee itu betul, ya. Tapi pada fase tertentu saja, ya, khususnya pada masa-masa anak itu masih kecil, ya, karena dia kebanyakan dirawat di rumah. Ya. Dan yang mendampinginya dalam perawatan tersebut adalah ibunya. Namun ee lebih jauh dari itu, ya, ternyata ee kalau kita lihat ya, bagaimana syariat kita ee memberikan ee petunjuk ya. Ini pembahasannya khusus pada ee pendidikan anak, yaitu peran ayah ee dalam ee mendidik mendidik anaknya. Jadi ee lebih khusus pada ee pendidikan kepada anak tersebut. Jadi ee meskipun tanggung jawab seorang suami, ayah, ya, itu sangat besar dalam rumah tangga, namun pembahasan ya dalam pertemuan kita ini membahas ee tentang interaksi ayah, ya. Bagaimana dia menentukan arah dari ee kehidupan anaknya. Ya, secara khusus ya, bukan ee dalam skala besar yaitu keluarga secara umum, tapi secara khusus kepada ee kepada anaknya. Maka disebutlah ee tema tersebut Ayah yang Menentukan.

Karena hadirin yang dimuliakan Allah Subhanahu wa taala, kalau kita melihat ee bagaimana ee Al-Qur'an ya sebagai petunjuk hidup kita menyebutkan ee bagaimana peran ayah sebenarnya di dalam ee mendidik mendidik anak-anaknya tersebut. Ya, ternyata kita dapati ee bahwa dialog di dalam Al-Qur'an antara ayah dan anak itu jauh lebih banyak, ya, jauh lebih banyak daripada ee dialog antara ibu dan ibu dan anak. Ini yang sempat kita singgung tadi bahwa meskipun memang kita melihat bahwasanya ee seorang ee ibu ee yang memang dia tinggal di dalam rumah ya, lebih banyak tinggal di rumah, itu memang banyak berinteraksi dengan dengan anaknya, khususnya pada saat ya, pada pada masa-masa kecilnya. Ee namun anak ini kan akan tumbuh berkembang ya, menjadi besar, kemudian dewasa, remaja, dewasa, dan seterusnya. Nah, ee dalam ee perjalanan inilah ya, terkhusus ketika anak-anak sudah mulai masuk usia tamyiz, ya, bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, maka di saat itulah ee peran ayah ee betul-betul dibutuhkan oleh anak tersebut. Iya.

Makanya kalau kita perhatikan ayat-ayat dalam Al-Qur'an ee dialog antara ayah dan anak itu jauh lebih banyak, ya, jauh lebih banyak daripada dialog antara ee ibu dan anaknya. Ya, padahal kalau kita perhatikan kenyataannya ya, luar biasa. Ee sejak bayi itu lahir, kemudian interaksinya sangat banyak dengan ibunya karena ee bahkan diberikan ASI selama ee 2 tahun. 2 tahun lamanya. Dan dan selama 2 tahun itu seorang ibu ee dituntut untuk berinteraksi dengan anaknya, bahkan mengajaknya berdialog. Tapi lihatlah hadirin yang dimuliakan Allah Subhanahu wa taala, ee ee dialog yang ya di masa-masa kecil ini ya, kita tidak mengatakan ee apa namanya ee tidak penting, penting apalagi dalam ee proses pertumbuhan anak, tapi ee bukan itu yang bisa menentukan arah dari ee kehidupan sang anak, sang buah hati.

Makanya ee Allah gambarkan, ya, Allah isyaratkan di dalam Al-Qur'an ini. Dituliskan oleh sebuah ee oleh ee seorang mahasiswi ya di Ummul Qura menjadikan penelitiannya, penelitian e risalah magister, tesisnya ee di bidang pendidikan ya, di bidang pendidikan dan memberinya judul "Hiwarul Aba' maal Abna' fil Quranil Karim". Itu judul apa namanya? Penelitiannya, judul tesisnya. Ee "Hiwarul Ab' maal Abna' fil Quranil Karim wa Tatbiqiyah". Ee percakapan atau dialog antara bapak, ya, ayah dan anaknya di dalam Al-Qur'an dan implementasinya ee ee dan implementasinya dalam pendidikan, dalam pendidikan anak. Tentunya di disimpulkan disebutkan dalam penelitian tersebut bahwa ee dialog antara orang tua dan anak di dalam Al-Qur'an terdapat pada terdapat ada 17 ee bagian yang menyebutkan ee dialog antara orang tua dan anak. Ya. Dan dari 17 dialog tersebut, rinciannya ternyata ada 14 ee kali, ya, ditemukan Allah Subhanahu wa taala menggambarkan, mengisahkan, menginformasikan kepada kita terdapat 14 ee kali disebutkan dialog antara ayah dan dan anak, ya. Dari 17, ya, dari total 17 yang disebutkan dialog antara orang tua dan anaknya, ternyata ada 14 kali anak berdialog dengan ayahnya, ya. Dengan ibunya berapa kali? Dengan ibunya hanya dua kali saja, ya. Dan dialog ee umum, ya, artinya tidak disebutkan apakah ayah atau ibu. Dialog umum orang tua dan anak itu disebutkan sebanyak satu kali.

Maka kalau kita lihat perbandingan ini, ya, dari penelitian ini, ini mengisyaratkan, ya, kepada kita ee betapa besar, ya, ee peran ayah dalam ee menentukan arah dari kehidupan anaknya sejak sejak dia masih kecil. Dan inilah yang ee hendaknya menyadarkan kita kembali, khususnya para ee para ayah, ya, bagaimana betul-betul hadir dalam pendidikan pendidikan anaknya, dalam mendidiknya. Pendidikan di sini secara umum, ya, dan yang paling kita tekankan tentunya adalah pendidikan pengetahuan tentang agama. Bagaimana dia mengenal Allah Subhanahu wa taala, mengenal Nabinya sallallahu alaihi wasallam, dan mengenal agamanya, agama Islam. Maka sangat banyak hadirin yang sangat berbahagia.

Nah, ee dari ayat-ayat inilah ee kalau kita tentu kita tidak akan menyebutkannya satu persatu untuk kita tadaburi. Ee tapi secara umum ee dari ayat ini, boleh jadi dari ayat dari banyaknya ee dialog yang terjadi dalam Al-Qur'an antara ayah dan anaknya ini. Kemudian ee Ibnu Qayyim rahimahullahu taala dalam kitab beliau "Tuhfatul Maulud fi Ahkamil Maulud" ee menyebutkan, ya, mungkin terinspirasi dari ayat ini, ya. Ee beliau menyebutkan, "Wa akthar auladi inama jauhum qibalal aba'." Ya, perkataan ini ee meskipun ee bukan wahyu tentunya, perkataan salah seorang ulama, tapi kita meyakini bahwa ini terinspirasi dari apakah dari e Al-Qur'an ataupun ee hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ya, beliau mengatakan, "Wa akthar auladi inama jauhum qibalal aba'." Kebanyakan kerusakan anak disebabkan karena ee ayah mereka. Dan selalu hadirin yang berbahagia, kita kalau membahas tentang peran ayah, perkataan Ibnu Qayyim ini paling sering dikutip, ya, paling sering dikutip karena ee beliau menyebutkan ini bukan tanpa dasar, ya. Beliau mengatakan, "Kebanyakan anak-anak itu rusak disebabkan karena ayahnya." Artinya kan pemahaman terbaliknya, anak-anak yang berhasil itu karena juga tergantung karena ayahnya, ya. Cuma Ibnu Qayyim mengingatkan para ayah secara khusus bahwa ketika ada anak-anak yang rusak, maka kebanyakan yang ee penyebab utamanya itu disebabkan karena karena ayahnya. Kenapa? "Lahum yudayyinuhu." Ee mereka itu sebagian ya, ayah menelantarkannya dan tidak mengajarkan anak ee tersebut dengan ilmu-ilmu yang wajib untuk dia pelajari serta ilmu-ilmu yang sifatnya sunah. Mereka menyia-nyiakan anak-anak mereka di masa kecil mereka. Artinya sejak pertama, ya, sejak anak ee ini mumayyiz, bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Pada saat itu ee seorang ayah ya, tidak hadir ee dalam mendampingi arah, ya, mengawali ee apa namanya? Langkah hidup dari ee anaknya tersebut, ya.

Di tempat lain, ee beliau mengatakan, masih dalam kitab yang sama, Ibnu Qayyim rahimahullahu taala mengatakan, "Wa kam mimman asqa waladahu wa ilata kabidihi fid dunya wal akhirah." Ya, betapa banyak orang yang menyengsarakan anaknya, buah hatinya di dunia dan di akhirat, ya. Kenapa? Dia melantarkannya dengan cara apa? Dia tidak perhatikan, ya, kemudian dia tidak mengajarkannya adab, serta memfasilitasinya dengan dengan syahwat, keinginan sesuai dengan hawa nafsunya. Dia menyangka bahwa dia telah memuliakan anaknya. Ini perkataan masih lanjut perkataan Ibnu Qayyim. Padahal sebenarnya dia telah eh merendahkannya. Ya, ayahnya menyangka ketika memfasilitasi eh hal-hal yang diinginkan oleh anaknya sesuai syahwatnya, sesuai keinginannya, dia menyangka bahwa dia menyayanginya, padahal sejatinya dia telah menzaliminya. Ya, "wa il fasadihi waladihi amatahu min qibalil aba'." Ya, beliau mengatakan bahwa jika kita ingin mengamati kerusakan yang terjadi pada anak-anak, maka ee kita mendapati kebanyakannya, ya, kebanyakannya disebabkan ee dari kelalaian-kelalaian ee ayahnya.

Nasihat tersebut hadirin yang dimuliakan Allah Subhanahu wa taala ee sangat ya sejalan dengan ee penelitian yang telah kita sebutkan tadi yang menyebutkan bahwa betapa banyak dialog antara ayah dan anak yang di sebutkan di dalam Al-Qur'an, yaitu sebanyak 14 kali dibandingkan ibu yang berdialog dengan anaknya hanya dua kali, ya. Artinya memang kehadiran ayah kepada anak itu sangat dibutuhkan, ya, sangat ee ee sangat dibutuhkan. Maka ee setidaknya ada tiga hal yang ee bisa kita lihat dari pesan Ibnu Qayyim tadi dalam mengingatkan para ayah bagaimana ee dialah yang ee apa namanya bisa menyebabkan rusaknya ee anak tersebut, ya. Setidaknya pada tiga hal. Yang pertama, karena tidak diperhatikan, ya, perhatiannya kepada anak itu tidak tidak maksimal. Yang kedua adalah tidak mendidik, ya, ee selain tidak diperhatikan, mungkin kebersamaannya, ya, baik secara fisik maupun secara hati, ee dengan banyak berdialog, berdiskusi, memberikan arahan, ya, pada khususnya pada hal-hal yang ee sifatnya yang berkaitan dengan agama, pada hal perkara akidah, ya. Bagaimana kita lihat dalam Al-Qur'an misalnya Luqman, ya, luar biasa mengingatkan langsung ee anaknya tentang kesyirikan. Kemudian ada Nabi Yaakub Alaihissalam yang juga ketika di akhir hayatnya menekankan kembali, ya, menanyakan kepada anak-anak keturunannya, apa yang kalian sembah ee setelah saya meninggal, dan dialog-dialog lainnya yang sangat banyak kita temukan dalam Al-Qur'an. Bagaimana ayah mengingatkan ee tentang ee tentang agama ini kepada ee anak-anak mereka, ya. Kemudian yang ketiga adalah karena ee ayah ee yang memfasilitasi ee syahwat, ya, atau hal-hal yang ee diinginkan oleh anaknya tanpa diperhatikan apakah hal ini bermanfaat atau tidak, atau ee apakah fasilitas tersebut yang disediakan oleh orang tua, ya, khususnya ayah yang memang menentukan ini dalam rumah tangga, apakah itu ee maslahatnya lebih banyak daripada mudaratnya? Apakah sudah sesuai apa yang diberikan dengan usianya, dengan mentalnya, dan seterusnya? Itu kan ayah semua yang yang menentukan, ya, dengan ee hadirnya dan dengan maksimalnya dialog yang terjadi antara ayah dan anak, maka ee harusnya seorang ayah mengetahui, ya, ketika ingin memberikan fasilitas kepada ee kepada buah hatinya, ya. Yang sampai seperti yang dikatakan Ibnu Qayyim tadi, ee seorang ayah menyangka dia telah memuliakan anaknya, namun hakikatnya dia telah menghinakan. Ya, ee atau jangan sampai dia menyangka dia telah menyayanginya, tapi hakikatnya ternyata dia menzalimi, menzalimi anaknya.

Nah, maka ee di sini menjadi hendaknya menjadi perhatian bagi kita, ee khususnya ya, para ee orang tua secara khusus, ee kepada ayah, ya, agar ee kembali ee melihat, ya, bagaimana perannya itu sangat dibutuhkan oleh ee oleh anaknya, ya. Ee ya, karena waktu yang tidak banyak, ee terakhir mungkin kita tutup dengan kisah Nabi Yusuf Alaihissalam yang Allah Subhanahu wa taala ee gambarkan di dalam ee di dalam Al-Qur'an dalam surah Yusuf, yaitu tepatnya ketika ee Nabi Yusuf Alaihissalam ini digoda oleh istri raja, ya, untuk melakukan perbuatan keji. Ee Allah Subhanahu wa taala berfirman, "Walaqad hammat bihi wa hamma biha laula roa burhana rabbih." Ya, Allah gambarkan keadaan situasi saat itu ketika wanita ini, istri sang raja, raja Mesir yang kemudian mengajak Nabi Yusuf untuk melakukan perbuatan keji. Ee kemudian, iya, eh "walaqad hammat bihi." Jadi wanita ini sudah bermaksud ya, melakukan perbuatan keji, sudah berhasrat, ya. Ee "wa hamma biha" dan juga Nabi Yusuf alaihi salam sudah ada niat, tapi "wa hamma biha laula roa burhana rabbih." Seandainya saja, ya, seandainya saja Nabi Yusuf alaihi salam tidak melihat tanda ee dari dari Tuhannya.

Jadi ee para ulama kita, ya, para ulama tafsir ketika menyebutkan ee atau menjelaskan ee ayat ini, ya, bagaimana kemudian Nabi Yusuf Alaihissalam bisa terhindar dari ee godaan ya, wanita ee istri sang raja tersebut. Itu karena Nabi Yusuf Alaihissalam melihat tanda ee dari di antara tanda-tanda yang diperlihatkan kepadanya dari Allah Subhanahu wa taala. Tidak sedikit ya, ulama tafsir kita yang menyebutkan di antara maknanya, ya, misalnya dalam tafsir Ibnu Katsir, dalam tafsir Adwaul Bayan, bahwanya ee di antara penjelasan atau makna apa yang dilihat oleh Nabi Yusuf Alaihissalam itu beliau melihat ayahnya, ya, beliau melihat beliau melihat ee ayahnya, ya, Yaakub Alaihissalam, melihat ayahnya sambil menggigit ee jari jemarinya, ya, ee dan menegurnya seolah-olah menegur, ya, bahwa ee jangan lakukan perbuatan itu, ya, jangan lakukan ee perbuatan tersebut, ee dan memanggil-manggil nama ee Nabi Yusuf Alaihissalam, ya. Dan banyak ee di antara ee riwayat-riwayat yang lain yang menjelaskan tersebut dalam buku-buku tafsir ee para ulama kita. Intinya bahwa ee bagaimana ya, sosok ayah ini hadir dalam keadaan yang seperti itu. Ee ini yang ingin dijelaskan, ya. Ini yang ingin kita jelaskan bahwa para ulama ketika menafsirkan ayat ini, ya, bahwa tanda yang dilihat Nabi Yusuf Alaihissalam yang kemudian ee membuatnya terhindar dari perbuatan keji tersebut. Ya, di antara tanda atau di antara makna ee yang disebutkan oleh para ulama kita adalah dia melihat ee sosok ayahnya menegurnya. Artinya hadirin yang sangat berbahagia, memang ee nilai ayah dalam diri Nabi Yusuf Alaihissalam saat itu betul-betul membekas dan terasa, ya. Ee artinya kehadiran ayah ketika Nabi Yusuf Alaihissalam bersama dengan Nabi Yaakub Alaihissalam itu betul-betul terasa dan betul-betul maksimal, ya, dengan nasihat-nasihat yang indah yang sering disampaikan, ee wejangan dari ayah kepada anaknya, sehingga pada saat yang dibutuhkan Allah perlihatkan tanda-tanda tersebut, ya, menyelamatkan, menyelamatkan Nabi Yusuf Alaihissalam dari dari perbuatan keji.

Maka ee sekali lagi, cukuplah ee apa namanya, penelitian yang telah kita sebutkan tadi, ya. Ee Al-Qur'an menyebutkan ee 14 tempat, ya, ada dialog antara ayah dan anak ee dibandingkan dengan ibu hanya dua kali disebutkan. Ee kemudian perkataan Ibnu Qayyim, ya, salah seorang ulama yang ee kita tidak ragu dengan keilmuannya, ee juga menekankan, ya, betapa ee kebanyakan anak itu rusak disebabkan karena ee ayahnya, ya. Sebaliknya, tentu kebanyakan anak yang sukses juga itu juga disebabkan karena peran ayah yang maksimal. Makanya kita kalau mendengar melihat ee seorang pemuda yang kemudian sukses dalam bidang tertentu, ya, yang kita banggakan adalah, oh, itu anaknya siapa ya, ayahnya siapa, dan seterusnya. Demikian pula kalau ada anak yang ee rusak, ya, yang ikut rusak juga adalah orang tuanya, ya, dan yang paling utama, paling sering disebut adalah ee adalah bapaknya.

Maka ee inilah hadirin yang sama berbahagia, ketika kita ee membaca Al-Qur'an dan ee terdapat dialog-dialog yang seperti ini, coba kita berhenti sejenak melihat ee makna yang dalam yang Allah Subhanahu wa taala ingin sampaikan bahwa ee inilah ee sebenarnya ee petunjuknya, ya, bagaimana ee kita dalam memaksimalkan masa depan sang anak ini, ya. Ini mulai dari kecil, ee dengan apa namanya, ee menjadi ayah yang betul-betul hadir, ya. Bukan hanya secara fisik saja, ee tapi juga hadir dalam mendampingi, ya, pertumbuhan, dalam pendidikannya, dalam pengajarannya tentang akidah, kemudian fikih, akhlak, ya, agama ini secara secara umum. Saya kira demikian ee sebagai pengantar. Ee materi tentang ini sangat, ya, sungguh sangat luar biasa dan sangat panjang tentunya, apalagi ingin membahas ayat-ayat yang ee kita sebutkan tadi. Ee ini sangat layak untuk kita mentadaburi, ya, ayat-ayat tersebut, ya, sebagaimana kita melihat Allah Subhanahu wa taala gambarkan, ya, ee peran maksimal ee seorang ayah, ya, kepada anaknya dalam ee mendidik dan ee mendampingi, ya, perkembangannya hingga ee besar dan ee dewasa nantinya. Barakallah fikum. Saya kira demikian. Ee kita kembalikan kepada host kita. Ee barakallahu fikum.

Masyaallah. Alhamdulillah. Ya, itulah tadi materi pengantar ee terkait bagaimana peran seorang ayah terhadap ya anak-anaknya, ya. Ternyata dari sisi interaksi sebenarnya ayah itu sangat dibutuhkan pada anak-anaknya. Hanya saja realitasnya, Ustaz. Apalagi di zaman kita ee kalau dilihat ya, itu seperti peran ayah yang sering berkomunikasi kepada sang anak itu sudah mulai pudar, Ustaz. Dan kebanyakan ee peran-peran itu digantikan oleh Ibu, khusus untuk zaman-zaman kita ini, Ustaz. Masyaallah, barakallah fikum, Ustaz, atas penjelasannya. Ee tibalah kita masuk pada sesi tanya jawab. Silakan bagi para peserta yang memiliki pertanyaan untuk menuliskan di kolom chat atau juga, ya, bisa raise hand untuk bertanya dengan Ustaz dan, ya, kami izinkan jika memungkinkan.

Baik, pertanyaan pertama yang masuk dari ee chat QNA. Afwan, Ustaz. Allahu a'lam. 8 bulan yang lalu baru terbongkar suami saya melakukan maksiat zina dengan beberapa wanita, padahal dalam kesehariannya seperti orang saleh. Saat suami sudah minta maaf dan mau bertobat, tetapi pada kenyataannya tetap bermudah-mudahan dalam interaksi dengan nonmahram. Banyak saya sekarang di pesantren. Kesehariannya susah mengikuti pelajaran dan kehidupannya di pesantren. Apakah berdosa, Ustaz? Saya minta cerai demi menyelamatkan anak-anak saya, ya, dan saya karena takut dengan efek dosa yang dilakukan oleh sang suami dan dalam keseharian suami, ee beliau sangat menyayangi anaknya dan dia tetap berusaha dalam membiayai anaknya. Syukran, Ustaz.

Iya. Ini baik ee bismillah alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah. Ee tidak terlalu terkait dengan materi kita, tetapi ee yang mungkin terikat di sini adalah pengaruh ee dosa atau pengaruh amalan orang tua kepada anaknya. Ee disebutkan, ya, disebutkan dalam sebuah riwayat, ya. Ada yang mengatakan Said bin Zubair, sebagian mengatakan Said bin Musayyib, dan ee sebagian lain mengatakan bahwa riwayat ini ee sanadnya lemah. Tapi ee sering juga disebutkan ee bahwa Said bin Zubair rahimahullahu taala, salah seorang tabiin, pernah mengatakan bahwa "Inni la azidu fi sholati min ajli ibni." Ya. Atau dalam sebagian redaksi ee disebutkan bahwa beliau berkata kepada anaknya langsung, ya, "Inni min ajli." Artinya adalah sesungguhnya saya betul-betul ee menambah salat saya. Artinya banyak melaksanakan salat ee selain salat wajib, ya, banyak mengerjakan salat-salat sunah. Untuk siapa? Untuk anaknya. Maksudnya untuk ee kesalehan dan ee kesuksesan ee anaknya. Maka dari pernyataan itu ee didapat kita pahami bahwa memang ada kaitan antara amalan orang tua, ya, amalan orang tua dan ee perilaku ataupun masa depan anak kita, ya. Sehingga ee sebagai orang tua, ya, ini umum ayah ataupun ibu, tapi secara khusus bagi para ayah, bagaimana ee ee berusaha maksimal dalam mengerjakan amalan saleh, ya, untuk ee kebaikan anaknya, itu ada pengaruhnya. Dan yang terpenting adalah ee doa, sebenarnya, ya, itu yang paling penting dan telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam, misalnya dalam Al-Qur'an banyak ee doa-doa beliau ee yang diabadikan di dalam Al-Qur'an. Ee ee demikian pula sebaliknya, ya, ketika kebaikan ee orang tua, kesalehan orang tua itu bisa berpengaruh kepada anaknya, demikian pula sebaliknya. Keburukan pun demikian. Maka yang ditanyakan tadi, ya, ketika muncul kekhawatiran itu, ee apakah ee boleh baginya apa namanya, berpisah, ya, dengan apa yang disebutkan tadi, ee karena bermudah-mudahan dalam melakukan dosa. Maka ini sebaiknya di ee apa namanya? Disampaikan langsung, ya, dikonsultasikan langsung ke ee konselor keluarga, ee supaya tergambar secara ee secara lengkap ya, permasalahan yang dihadapi. Kalau yang seperti ini, ee ya, kita kadang-kadang sulit ya, memberikan solusi, ee apalagi ini terkait dengan rumah tangga, ya, antara bertahan dan berpisah itu perkara yang sangat besar, sehingga tidak mudah untuk kita memutuskan, ya. Maka sebaiknya memang ee konsultasi langsung kepada konselor yang kita kenal, ya, ustaz ataupun para ulama yang kita kenal yang pakar dalam hal ini, ee mudah-mudahan bisa diberikan petunjuk, ya, yang ee yang terbaik. Wallahualam bishawab. Jazakumullah khair, Ustaz. Semoga jawaban yang telah disampaikan bisa ee jelas bagi penanya. Ee bab. Barakallahu fikum. Kami buka untuk yang mau raise hand, ya. Kami masih menunggu bagi yang ingin bertanya secara langsung, ya. Kita masih di chat room, Ustaz. Ee ya, ini namanya F. Izin bertanya, Ustaz. Bagaimana bersikap ketika di sekolah saat waktu salat dan mengatur siswa untuk berdiri di saf pertama, ee dan guru berada di belakang bersama dengan siswa yang lain untuk menghindari adanya siswa yang main-main saat salat? Mohon nasihatnya, Ustazah. Nah, ini para murid di saf pertama dan gurunya berada di saf kedua, Ustaz, sambil mengontrol. Iya.

Ini mungkin biasa ya di sekolah-sekolah tingkat dasar yang mungkin ee masih ee apa namanya, kita kadang mengalami kesulitan dalam ee memberikan arahan kepada anak-anak yang cenderung memang usianya ee yang seperti itu. Ee tidak mengapa, ya, tidak mengapa ee kita melakukan hal tersebut ee untuk ee demi kenyamanan dan kekhusyukan tentunya, tetapi ee sebaiknya ini tidak terus-menerus ee juga, ya. Artinya mungkin di awal-awal dan biasanya mungkin kan tidak semua ee siswa juga yang seperti itu, tapi ee hanya yang kecil-kecil saja yang masih belia, mungkin kelas 1, kelas. Tapi pada umumnya kalau sudah dibiasakan, ee akhirnya anak-anak ini pun meskipun mungkin mereka diam ee bukan karena khusyuk salat tapi karena hanya takut pada gurunya, ee biasanya ke depannya tidak ee sudah sudah bisa tenang, ya. Dan kami saksikan sendiri, ya, kami saksikan sendiri pernah dan beberapa kali salat bersama anak-anak ee dengan usia SD, ee sebelum takbiratul ihram, masyaallah, memang luar biasa gaduhnya. Tapi setelah itu ee sudah mulai, sudah mulai tenang. Jadi, apa yang dilakukan tidak mengapa, tapi sebaiknya tidak begitu terus, ya. Mungkin di beberapa di awal-awal ini saja ee apa namanya, untuk ee memberitahukan bahwa ee khususnya yang kecil-kecil ini, ya, kita kalau salat itu tidak ee tidak ribut, ya. Harusnya diam, tenang, ee supaya yang lain bisa khusyuk, ya, bisa tenang di dalam salatnya. Wallahuam.

Masyaallah. Syukran, Ustaz, atas jawabannya, semoga bisa dipahami. Baik, pertanyaan berikutnya, Ustaz, dari hamba Allah. Ini sebelum masuk ke pertanyaan, Ustaz, sedikit curhat dulu, Ustaz. Ee saya seorang anak perempuan yang sangat ingin melanjutkan pujian. Ada banyak cita-cita yang ingin saya simpan dan saya ingin belajar lebih tinggi agar bisa bermanfaat untuk orang lain dan juga untuk orang tua saya, terutama ayah. Namun sampai saat ini saya belum bisa berkuliah karena kondisi finansial keluarga yang belum memungkinkan. Saya tahu ayah telah berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan kami dan saya tidak ingin menambah beban pikirannya. Karena itu saya memilih untuk bekerja membantu diri sendiri sambil terus berdoa agar suatu saat Allah memberi jalan bagi saya untuk melanjutkan pendidikan. Meski dalam hati masih ada keinginan yang belum tercapai, saya tetap berusaha berbakti, menghormati, menyayangi ayah saya sebagaimana mestinya. Pertanyaannya, Ustaz, ee bagaimana cara terbaik seorang anak, ya, menjaga hati agar tetap ikhlas dan berlapang dada ketika keinginan yang baik belum bisa diwujudkan karena keadaan orang tuanya, khususnya bagi sang ayah tadi, Ustaz? Jazakumullah khair.

Masyaallah. Ee ee bagaimana cara terbaik ee untuk menjaga hati ikhlas dan menerima ee kenyataan, ee artinya belum bisa mencapai ee cita-cita yang diinginkan. Ee tentunya kita ee menerima ini semua sebagai ketetapan Allah Subhanahu wa taala, ya. Dan kelihatannya dari pertanyaan, ya, ee ini sudah ee dilewati dengan ikhlas, ya. Alhamdulillah dipertahankan, ee dan sambil berusaha seperti yang disebutkan tadi. Dan memang dalam hal ini yang paling ditekankan, yaitu ee iman kita, ya, kepada ketetapan Allah Subhanahu wa taala. Bahwa semua yang kita ee lewati ini keadaan kita, ya. Dan setiap orang tidak mengapa dibolehkan untuk bercita-cita, ya, khususnya ee bercita-cita pada kebaikan, melanjutkan pendidikan, dan seterusnya, itu sah-sah saja, ya. Dan itu adalah ujian ketika yang diinginkan itu tidak tercapai. Ya, kita meyakini bahwa itu adalah e takdir Allah Subhanahu wa taala. Dan tidaklah Allah Subhanahu wa taala menakdirkan, ya, sesuatu kepada hambanya kecuali itu yang ee terbaik, ya, di sisi Allah Subhanahu wa taala. Wallahuam.

Masyaallah. Jazakumullah khair, Ustaz. Semoga bisa dipahami bagi saudari penanya. Kemudian dari saudara Muhammad Idris, izin bertanya, bagaimana kalau ada suami tidak menafkahi istrinya, sudah tidak menghargai istrinya lagi? Izin minta pencerahannya, Ustaz.

Iya. Ee artinya dia telah melakukan kesalahan, ya, dan dosa, ya, karena tidak melakukan kewajiban. Ee ini jika dilakukan tanpa sebab yang syar'i, ya, artinya ee dia melakukannya karena memang lalai saja sehingga tidak menafkahi. Ee seperti yang kita ketahui bahwa menafkahi istri adalah kewajiban suami. Sehingga ketika itu tidak dilakukan, maka dia jatuh dalam ee dosa, ya, di sisi Allah Subhanahu wa taala. Kemudian jika tidak menghargainya, ee ini pun ee bentuk ee muamalah yang tidak baik kepada istri. Padahal kita diperintahkan untuk "ishiru bil ma'ruf" ya, "wa'ashiruhunna bil ma'ruf". Dan pergaulilah, ya, perlakukanlah ee istri-istri kalian dengan cara yang baik. Sementara tidak menghargai adalah perlakuan yang tidak baik, ya. Makanya dia adalah satu kesalahan yang harusnya tidak terjadi dalam ee sebuah ee rumah tangga. Wallahuam.

Baik. Masyaallah. Jazakumullah khair, Ustaz. Semoga bisa dipahami. Ee kami masih membuka jika ada yang ingin bertanya secara langsung, bisa raise hand. Kita izinkan ya, bertanya secara langsung ke Ustaz, ya. Mungkin ada penjelasan yang tidak bisa diketik. Baik. Ee pertanyaan berikutnya, ini dari hamba Allah, Ustaz. Ee ini mungkin deskripsinya agak panjang juga, Ustaz. Jadi ada banyak masalah sekarang ya, terjadi mengenai seorang suami, Ustaz, yang gampang sekali bilang cerai kepada istrinya karena ada wanita lain. Ee dia mudah menceraikan istrinya di mulutnya, ya, karena sudah ada wanita lain yang dia suka. Setelah itu dia tinggalkan istrinya dengan alasan sudah ditalak, ya, tiga di mulutnya. Nah, Ustaz, yang menjadi masalah banyak para istri di zaman sekarang yang dicerai mulut dan ditinggalkan karena suami berdalih sudah cerai. Begitu enaknya laki-laki, Ustaz. Segampang itukah putus tali pernikahan? Hanya karena suami menceraikan istri gara-gara suami ada perempuan lain? Apakah Allah mensahkan kata talak dengan penyebab suami selingkuh, Ustaz? Dan akhirnya ee akan banyak jadi janda, ya, jika seperti itu, dan tidak ada perempuan yang selamat dari kata-kata cerai di mulut, ya, kalau suaminya modelnya seperti itu, ya, kurang lebih seperti itu, Ustaz, ya. Apakah sah ya, kalau sang suami menceraikan dengan kata-kata dan karena perselingkuhan, Ustaz?

Ee baik. Dalam bab talak, ya, ketika suami mengucapkan kalimat talak atau cerai dengan kalimat yang jelas, ya, maknanya, misalnya kalimat cerai dalam bahasa kita, ee ataupun menggunakan kalimat talak, maka jatuh ee talak tersebut secara hukum syar'i, apapun sebabnya. Apakah sebab wanita lain atau sebab apapun motivasinya, apapun sebabnya, ya, bukan hanya karena sebab ee selingkuh atau apa, tapi jika itu telah diucapkan ee kalimat sharih, ya, kalimat yang jelas maknanya, yaitu ee kata cerai atau kata talak, maka ee dalam hukum syariat kita sudah ee jatuh talak. Ee akan tetapi persoalannya kita ini di Indonesia, ee itu tidak dianggap kalau belum diputuskan di pengadilan, ya. Sehingga ee yang seperti ini sulit, ya, ee kita ee apakah jatuh talaknya atau tidak. Kalau hukum syariat, ya, ee jatuh, ya. Cuma ee kita di sini kan ee ada pencatatan, ya, kemudian harusnya ditetapkan di pengadilan, ya. Maka biasanya dari sana ee ee terbitlah akta cerai. Nah, dari situlah baru sah, ya, kalau di aturan, ya, di di negara kita. Tapi kalau berbicara tentang hukum syariat, ee selama suami mengucapkan kalimat talak dengan kalimat yang ee gamblang, ya, ee berbeda kalau mungkin mengucapkan ee kata dengan menggunakan kata-kata pisah. Kata-kata pisah ini belum di belum gamblang, belum belum jelas maknanya. Bisa jadi berpisah, ya, berpisah tempat saja. Tapi kalau menggunakan kata cerai atau talak, maka sudah jatuh. Ya, itu dalam ee hukum syariat, ya. Tapi kembali lagi, ya, sekali lagi ee kita terikat aturan yang ee biasanya diputuskan di ee di pengadilan, ya. Dan ee nasihatnya di sini bagi para suami hendaknya tidak ee bermudah-mudahan. Dalam hal ini, ee apalagi dilatar belakangi dengan ee suatu yang berbawa maksiat, ya, ee selingkuh, ya, ee komunikasi ataupun melakukan ee hubungan dengan ee wanita selain istri yang sah, maka ini tidak dibenarkan di dalam ee syariat kita. Wallahuam.

Insyaallah. Syukran, Ustaz, atas jawaban yang kami sampaikan. Semoga bisa dipahami oleh saudari penanya. Ee tibalah kita lanjut ke pertanyaan berikutnya, Ustaz. Ee izin, Ustaz, apakah ada rekomendasi amalan untuk seorang ayah agar dosa-dosanya terdahulu ee agar Allah Subhanahu wa taala ridai dan mengampuninya? Dan apakah dalam Islam berlaku hukum karma yang tidak baik nanti ke anak atau keluarga? Bagaimana ayah bisa menjadi inspirasi yang baik untuk anak jika anak laki-laki jauh dari rumah seperti pesantren di luar daerah? Ya, karena komunikasi dan bertemu langsung pasti kurang itu, Ustaz. Masyaallah. Kayaknya tiga pertanyaan ini, ya, yang pertama. Iya, kayaknya ini tiga, Ustaz. Yang pertama, ya, tiga dalam satu, Ustaz. Iya.

Nih, ee rekomendasi amalan untuk ee seorang ayah agar dosa-dosanya ee Allah ridai dan ampuni. Ini bukan cuma ayah, semua kaum muslimin, ya. Siapapun kita ee adalah mencari atau berusaha bagaimana agar dosa-dosa kita diampuni oleh Allah Subhanahu wa taala yang lewat. Yaitu dengan tobat, tentunya, dengan ee dengan tobat dan memperbanyak amalan saleh, ya. Eh, karena amalan saleh ini bisa menghapuskan dosa-dosa, ya. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Ikutilah ee perbuatan dosa dengan kebaikan. Niscaya kebaikan itu menghapuskan dosa tersebut." Itu kalau dosa kecil, ya. Tapi kalau dosa besar, maka mesti tobat dengan tobat yang ee tobat nasuha. Yaitu memohon, ya, ee kepada Allah Subhanahu wa taala, ya, meminta ampun khusus, ya, dosa tersebut. Itu yang pertama, ee memperbanyak amalan saleh ini menghapus dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar, syirik, sihir, durhaka pada orang tua, ya, dan ee juga dosa-dosa besar lainnya, maka ini butuh ee tobat-tobat nasuha. Dan kalau berkaitan dengan hak orang lain, maka ee perlu ee keridaan dari orang tersebut. Ee yang kedua, apakah berlaku hukum karma? Khususnya kaitannya dengan pembahasan kita, ya, ee pendidikan orang tua dan anak. Ee ini disebutkan oleh para ulama kita. Bahkan disebutkan ee ee kalau tidak salah masih dalam kitab Ibnu Qayyim, ee yang kita sebutkan tadi, ee seolah-olah anak itu mengatakan, ya, seolah-olah anak itu mengatakan ini bagi anak yang tidak maksimal pendidikannya oleh ee orang tuanya. Maka seakan-akan anak ini mengatakan, "Engkau wahai orang tua, telah mendurhakai saya di waktu saya kecil, maka saya mendurhakai engkau dikala saya besar." Nah, seperti itu kurang lebih maknanya. Makanya ee istilah yang banyak kita dengar, ya, sering kita dengar adalah ee anak durhaka, ya. Sehingga yang minta maaf itu adalah anak, ya. Pada momen-momen tertentu, misalnya seorang anak dituntut untuk ee memohon maaf kepada orang tuanya karena yang banyak ee melakukan kesalahan, durhaka, tidak taat, dan tidak patuh kepada orang tuanya. Dan itu ada memang dalam kehidupan kita. Namun kita lupa bahwa ternyata kadang-kadang orang tua juga durhaka sama anaknya. Gimana modelnya? Yaitu orang tua yang tidak mendidik anaknya dengan pendidikan yang baik, melalaikan melalaikan pendidikannya, tidak mengajarkannya, tidak membimbingnya, bahkan ee memfasilitasinya dengan hal yang melalaikan. Ya, seperti yang ee kita ee nukil tadi dari perkataan Ibnu Qayyim rahimahullahu taala. Jadi, bisa saja seperti itu, ya. Ee ada orang tua yang ee ketika anaknya besar, oh, ini anak kok susah diatur, seolah seperti menjadi anak yang, ya, durhaka, ya, tidak taat sama orang tuanya. Coba introspeksi diri, ya. Boleh jadi kita dulu di waktu kecil tidak maksimal dalam mendidik anak kita, ya. Karena anak yang ee dididik sejak kecil, ya, dan dapat memahami agama ini dengan baik, maka ini adalah ciri-ciri anak yang saleh, yang tentu di antara ciri anak yang saleh adalah mendoakan orang tuanya. Sebagaimana disebutkan dalam hadis bahwa tiga amalan yang tidak putus setelah seorang seorang meninggal, salah satunya adalah "waladun shalih yad'u lah." Ya, anak saleh yang mendoakannya. Artinya syarat ee atau anak yang mendoakan orang tuanya setelah orang tuanya meninggal itu adalah anak yang saleh, ya, yang paham tentang ee agama ini, dan itu harusnya didapatkan dari orang tuanya terlebih dahulu sebelum dia mendapatkannya dari orang lain. Ya, jadi bisa saja berlaku hukum karma dalam hal ini. Yang ketiga, ee bagaimana mengaksimalkan pendidikan kalau kita ee memang artinya faktanya dan harus ee terpisah jarak, misalnya. Nah, ini ada contoh, misal ee contoh sebenarnya dalam ulama salaf kita, yaitu Umar bin Abdul Aziz, ya. Ini masyaallah yang ee biasa disebut ee khalifah kelima, ya, dalam kepemimpinan Islam zaman Bani Umayyah. Umar bin Abdul Aziz ini adalah putra dari Abdul Aziz bin Marwan, ya, yang mana kita ketahui ya, singkatnya intinya keduanya tidak banyak tinggal bersama. Akan tetapi ee Abdul Aziz bin Marwan, ya, beliau yang di Mesir, kemudian anaknya di Madinah, bagaimana bisa maksimal pendidikannya, ya. Yang yang dilakukan adalah ketika memang seperti ini bahwa yang pertama, bisa kita ee titipkan anak kita kepada kepada orang yang layak, ya, kepada orang yang layak, dan tentu yang paling potensi kita ee titipi adalah istri kita. Ketika memang harus bisa jarak karena sesuatu pekerjaan, misalnya, maka kita titip pada ee orang yang layak. Dan itu yang dilakukan oleh Abdul Aziz bin Marwan. Ya. Kemudian yang bisa kita lakukan juga adalah ee membekali atau memberikan memilihkan guru, meskipun kita ee kontrol dari jauh, ya. Memberikan guru yang berperan sebagai ayah dan guru sekaligus kepada anak kita. Jadi kita yang atur semua itu, ya. Kita menafkahi gurunya, ya, untuk mendidik anak kita. Kemudian ee ee memaksimalkan, ya, apalagi di zaman kita sekarang ini, masyaallah, ya, kecanggihan alat komunikasi bisa kita maksimalkan, ya. Kalau dahulu, ya, di zaman Abdul Aziz bin Marwan dan anaknya Umar bin Abdul Aziz ini, ya, mungkin tidak bisa video call, tidak bisa telepon-telepon kayak kita sekarang. Kita sekarang masyaallah, ya, bisa ee komunikasi, dan di saat itulah kita hadirkan diri kita, meskipun secara fisik ee tidak bertemu, tapi ee peran, ya, sosok ayah tetap ee di hendaknya dimaksimalkan untuk ee perkembangan anak kita, ya. Wallahualam.

Masyaallah. Jazakumullah khair, Ustaz, atas jawabannya. Ee kemudian pertanyaan dari ee Ummu Balqis, Ustaz. Ust, bagaimana dengan seorang ayah atau suami? Mungkin yang penting sudah salat, puasa Ramadan, selalu berbuat baik ke sesama. Apakah hal ini bisa dikatakan mampu menolong keluarganya dari api neraka, Ustaz?

Ee kita, ya, semua kaum muslimin secara umum hendaknya tidak mencukupkan diri dengan ee apa yang disebutkan tadi, atau secara singkat ee melaksanakan rukun Islam, ya, syahadat, kemudian ibadah, ee empat rukun Islam lebihnya, ee salat, puasa, zakat, ee haji. Iya. Ee tentu kita tetap perlu belajar, ya, tetap perlu ee belajar dan menuntut ilmu, ya. Karena dari situlah kita bisa memaknai dengan baik rukun Islam kita, memaknai dengan baik rukun iman kita. Dan dari situ pulalah kita bisa, ya, dengan belajar kita bisa melindungi diri kita sendiri, ya, dan juga keluarga kita dari api neraka yang merupakan kewajiban bagi kepala rumah tangga. Besarkan firman Allah Subhanahu wa taala, "Ya ayyuhalladzina amanu anfusakum." Wahai orang-orang yang beriman, jaga diri kalian dari api neraka, ya, dan juga ee juga ee keluarga kalian. Maka ini semua tidak cukup kalau kita hanya ee beramal saja, ya. Dan dan seperti yang kita ketahui bahwa amalan itu harus didasari dengan ilmu, sehingga tidak bisa dipisahkan, ya, antara amalan kita ini dengan belajar. Mesti kita ee mesti kita belajar, ya, tentang bagaimana memaksimalkan rukun Islam, rukun iman, ya, dan melindungi diri kita, serta melindungi diri kita dan keluarga kita dari api neraka. Wallahuam.

Masyaallah. Syukran, Ustaz, atas jawabannya. Kemudian dari saudara saudari Nopi, Ustaz, ee titipan pertanyaan, Ustaz. Apakah berdosa seorang ayah yang tidak mau menjadi wali nikah anak kandungnya dengan alasan kekhawatiran menanggung dosa ke depannya, takut anaknya bercerai? Dan lain-lain. Sehingga anaknya nikah tapi diwakilkan dengan wali nikah. Baik, Ustaz. Ee ini apakah ayahnya berdosa, Ustaz?

Iya. Wallahuam, ya. Apakah ada kaitannya ketika dia menjadi wali nikah? Ee kemudian mungkin merasa dirinya ee apa? Mungkin merasa dirinya ahli maksiat sehingga bisa berpengaruh pada pernikahan putrinya ketika dia yang langsung menjadi wali nikah. Ya, wallahuam. Saya tidak tahu apakah ada kaitannya atau tidak, tapi yang jelasnya nikahnya sah, ya. Terlebih lagi ee ketika ayahnya ini memang mengizinkan untuk diwakilkan, ya, untuk melakukan akad pernikahan tersebut, ataupun dosanya. Wallahuam, ya.

Tib. Masyaallah. Jazakumullah khair, Ustaz. Tib, Ustaz. Ini berhubung kita sudah di jam 21.28, 28. Ee sisa 2 menit sebenarnya, tetapi mumpung pertanyaan juga sudah tidak ada yang masuk di chat room dan mungkin ini akhir kegiatan kita, Ustaz. Barakallah fikum. Kami ucapkan syukran, Ustaz, atas kesempatannya telah menjadi pemateri pada malam hari ini dan membersamai para pemirsa. Dan barakallah fikum bagi para pemirsa yang telah mengikuti kegiatan kita sampai akhir. Kita cukupkan kegiatan kita dengan doa kafaratul majelis. Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta wa astagfiruka wa atubu ilaik. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.