Transcription
Anak ini akan menjalani hukuman gantung. Jadi, kakek ini memasukkan sebuah peluru ke dalam mulut si anak dan memintanya untuk tidak menelannya. Karena jika peluru itu diletakkan di posisi yang tepat, dia mungkin masih bisa menghirup sedikit udara dan bertahan hidup.
Kakek itu memberinya satu-satunya kesempatan untuk hidup dengan satu permintaan jika anak itu selamat, dia harus membalaskan dendam untuk semuanya.
Saat sang kakek dibawa ke tiang gantungan, si anak menemukan pintu kandangnya terbuka. Ia melarikan diri diam-diam saat tak ada yang melihat. Tapi bukannya kabur, ia justru berlari langsung menuju Algojo, menjatuhkannya dari kuda dengan sekuat tenaga lalu mencabut belati dari tubuhnya. Dengan amarah membara, anak itu menggoreskan luka dalam di wajah Algojo itu membuat tanda luka saat mereka akan bertemu lagi.
Tak lama kemudian, anak itu juga dikirim ke tiang gantungan. Di detik-detik terakhir eksekusinya, ia berteriak histeris. Para tentara mengira dia sudah tak bernyawa. Satu persatu mereka meninggalkan tempat itu. Namun ketika beberapa warga desa datang untuk mengambil jenazahnya, mereka terkejut melihat anak itu masih bernapas. Ia memuntahkan peluru yang sejak tadi ada di mulutnya.
20 tahun kemudian, anak itu masih hidup. Ia telah tumbuh menjadi pria yang kuat dan akhirnya ia menemukan algojo itu.