Transcription
[Musik] Syalom bapak ibu seperti biasa. Mari beri salam kanan kiri muka belakang, katakan damai sejahtera bagimu. Berbagi sukacita di hari Minggu Advent keempat dengan menyalakan seluruh empat lilin kita, pertanda bahwa kita ada di penghujung perayaan masa Raya Advent. Lalu Bapak Ibu disiapkan untuk memasuki masa raya Natal.
Mari lihat teks Alkitab kita, Yesaya pasal 2 ayat 1 hingga ayatnya yang kelima. Sebelumnya saya menyampaikan kepada bapak ibu bahwa Yesaya pasal 1 dengan terang menderang menyampaikan tentang dosa dan kesalahan umat Israel, sehingga mereka dinubuatkan untuk mengalami penghukuman. Tolong lihat pasal 1 ayat 2, "Aku membesarkan anak-anak dan mengasuhnya, tetapi mereka memberontak terhadap Aku." Bahkan kalau baca ayat 10, Yesaya pasal 1, kita menemukan tentang penghukumannya. Pasal 1 ayat 21, lebih parah lagi nubuatan tentang penghukuman Israel dihancurkan dan mengalami berbagai pencobaan dalam penghukuman itu telah dinubuatkan.
Tetapi di balik berita penghukuman itu juga ada kabar sukacita. Juga ada kabar yang menyampaikan kepada Israel, mulai pasal 2 ayat 1 sampai yang kelima. Tolong lihat ayat 2, ini bicara tentang bait kedua. Ada dua jenis bait Allah waktu itu. Bait Allah yang pertama yang dibangun oleh Salomo, yang kemudian dihancurkan oleh tentara Babel tahun 587 sebelum Masehi. Lalu ketika mereka kembali dari pembuangan tahun 515 dibangun lagi, lalu diperindah oleh Herodes tahun 19 sebelum Masehi, dekat-dekat masa Yesus, itu menjadi bait Allah yang luar biasa megah. Tetapi setelah Tuhan Yesus 40 tahun kemudian, tepatnya tahun 70 Masehi, Roma masuk dan menghancurkan bait Allah ini.
Jadi ketika bicara tentang teks bait Allah pasal 2 ayat 2, itu bicara rumah Tuhan, bukan pada masa sudah ambruk itu, tapi bicara tentang keakanan. Karena bicara pada hari-hari terakhir atau Yom Yahweh, hari Tuhan, ketika kemuliaan Tuhan dinyatakan akan ada bait Allah yang akan dibangun. Apa fungsi bait Allah yang kedua? Catatan kedua, tolong lihat ayat yang ketiga. Akan menghimpunkan banyak orang, bukan saja Israel, tetapi banyak orang. Bait Allah diturunkan, kemudian segala sesuatu disatukan dari perbedaan menjadi kesatuan. Bait Allah ini, rumah Tuhan ini, membawa semua orang, siapapun dia, dari suku bangsa apapun, datang berbondong-bondong untuk menyembah Tuhan.
Catatan ketiga, hal berikut yang dinyatakan tentang bait Allah itu kita temukan pada ayat yang keempat. Bahwa di dalam bait Allah itu umat akan menerima pengajaran demi pengajaran. Ayat 3, pengajaran demi pengajaran di bait Allah itu, mereka akan mendapatkan berbagai hal ketika berhimpun, menuntun umat untuk mengerti kebenaran. Di bait Allah itu, di rumah Tuhan itu, mereka akan mendapatkan pencerahan. Bahkan di ayat 4, suasana perang, penghancuran, dan pembantaian diubah menjadi pembangunan, penyatuan, dan penumbuhan. Hal ini disimbolkan dari kalimat ayat 4. Tolong lihat, "Pedang-pedang menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas." Dari hal yang menghancurkan itu, pedang, dari hal yang membunuh itu, tombak, berubah menjadi membangun, menyatukan, dan menghidupkan. Karena pedang telah dirubah menjadi mata bajak dan tombak-tombak menjadi pisau pemangkas.
Terakhir Bapak Ibu, tolong lihat ayat yang kelima. Proses yang dibicarakan tadi, bahwa akan berubah, terjadi pendamaian, akan ada pengajaran di situ, bangsa-bangsa akan berkumpul menjadi teladan. Rumah Tuhan itu, suasana Sion berubah total, bahkan tidak ada lagi perang. Hanya mungkin terjadi, tolong lihat ayat yang kelima, "Apabila umat berjalan di dalam terang Tuhan." Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang Tuhan. Bapak Ibu pernah dengar lagu ini, "Shalom" hamba dasar? Lagu itu muncul di Yesaya pasal 2 ayat yang kelima. Mari jalan dalam terang Tuhan. "Shalom" itu berarti parade, berjalan bersama, berjalan dalam terang Tuhan.
Semua yang saya sebutkan tadi, perubahan demi perubahan itu, hanya mungkin terjadi jika umat kemudian berpaling, melihat Tuhan, lalu mengekor, berjalan pada apa yang Tuhan mau. Perubahan-perubahan yang signifikan itu terjadi dari penghukuman menjadi pemulihan, bersedia berjalan dalam terang Tuhan. Saya kira demikian firman Tuhan ditafsirkan bagi kita. Nah, bagaimana saudara dan saya membawa firman Tuhan ini dalam kehidupan beriman kita?
Bapak Ibu kekasih dalam Tuhan, tolong melihat satu Korintus 3:16. Satu Korintus 3:16, agar kita memahami pengertian bait Allah atau rumah Tuhan yang sampai sekarang masih puing-puing dan masih reruntuhan. Lalu bait Allah model apa yang dimaksud? Satu Korintus 3:16, "Tidak tahukah kamu bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa roh Allah diam di dalam kamu?" Kamu di sini mau bicara jemaat, kamu di sini mau bicara umat Tuhan. Bahwa umat Tuhan, pribadi lepas pribadi maupun kelompok, adalah bait Allah itu sendiri. Dalam pemahaman iman, bahwa reruntuhan-reruntuhan itu dibangun dan menjadi bait Allah, tidak bicara tentang gedung, tidak bicara tentang bangunan, tapi bait Allah yang dimaksud adalah orang percaya yang menyembah Allah.
Maka ini menjadi menarik ketika Tuhan berkata pemulihan terjadi ketika semua bangsa berkumpul, ketika semua bangsa menyembah Tuhan, mengalami pengajaran-pengajaran di dalamnya, dan kemudian mata pedang itu jadi mata bajak dan tombak itu menjadi pisau pemangkas. Ini membicarakan soal gereja Tuhan, ini bicara soal kumpulan orang percaya, ini tidak bicara tentang gedung. Maka hal pertama untuk saudara bawa pulang adalah, Bapak Ibu dan saya dipanggil untuk kiranya persekutuan ini, gereja Tuhan ini, menjadi tempat di mana perjumpaan dalam kepelbagaian terjadi di situ. Haruslah tidak ada perselisihan, kalaupun ada di minimalisir di situ, tidak ada berbagai upaya untuk menjatuhkan, tapi sebaliknya untuk membangun. Tidak ada peperangan, justru ada kedamaian. Gereja Tuhan harusnya menjadi simbol bait Allah yang baru, tempat di mana sukacita dan damai sejahtera terjadi.
Jadi kalau di gereja masih ada gontok-gontokan, ndak ada di Piniel. Toh di gereja lain, nanti kalau di gereja lain saya bilang juga, nggak ada di gereja ini, di gereja lain. Seharusnya kita menjadi teladan yang luar biasa dalam satu persekutuan. Di hari Minggu ke-4, hari perdamaian ini, lilin perdamaian sudah kita nyalakan. Itu harusnya dimulai dari gereja, bahwa gereja mampu untuk mengubah peperangan menjadi perdamaian di dalamnya. Gereja menjadi kesaksian, banyak orang berbondong-bondong untuk menyaksikan apa yang Tuhan karyakan sesuai tema hari ini. Gereja menjadi teladan bagi banyak orang, bahasa Alkitab tadi, bagi bangsa-bangsa. Tetapi gereja akan gagal melakukannya jika kemudian lilin keempat ini tidak menjadi terang dalam kehidupan gereja, yaitu lilin perdamaian.
Kalau di Manado itu mereka akan sebut "baku peyem", itu di Makassar bilang "baku bombe". Orang Ambon bilang apa ya? Biasanya di Hari Natal Kristus lah, baru cipika-cipiki terjadi. Bapak Ibu bisa bayangkan kalau kemudian nanti Natalan baru orang bersalam-salaman untuk bermaaf-maafan, berapa lama mereka baku bombe dan marahan? Berapa lama gereja gagal menjadi bait Allah untuk kesaksian bagi banyak orang ketika lilin keempat, lilin perdamaian dinyalakan? Saya kira Bapak Ibu mulai koreksi diri. Siapakah di antara mereka yang duduk di sini maupun yang tidak duduk di sini? Siapakah mereka yang di kota Palembang maupun yang di luar kota Palembang yang sudah hampir setahun tidak kusapa karena ada sekat di hatiku? Relasi dan hubunganku tidak baik karena ada sesuatu yang menjanggal di hati. Hari ini putuskanlah engkau menyalakan lilin keempat di hatimu sebagai simbol teladan bait Allah. Mestinya begitu.
Saudara yang Kristen sejati adalah saudara yang mampu melepaskan pengampunan. Saudara yang Kristen sejati, saudara yang mampu memaafkan dan bahkan meminta maaf, walaupun sebenarnya mereka yang salah. Itu bait Allah yang menjadi teladan. Itu pengajaran-pengajaran di bait Allah atau gereja Tuhan ini untuk dikaryakan dan dilakukan.
Yang kedua, hari ini kita memberi 22 yang GPIB rayakan dalam ibadah syukur di hari ini. Dan kalau bapak ibu melihat beberapa ibu-ibu menggunakan busana yang tidak biasa, ada yang menggunakan kebaya. Kayaknya nggak dapat info yang lainnya. Yang lain bukan kebaya, yang lain mungkin tidak dapat info. Biasanya tahun-tahun kemarin sebelum pandemi, anak-anak kita akan mengantar satu angka bunga kepada mama-mamanya sebagai tanda syukur. Tadi di luar saya bilang ke Ibu Ana, belum terjadi ibadah syukur dalam rangka hari ayah karena saya seorang ayah. Masih terus Hari Ibu tanggal 22 Desember. Padahal kalau tidak salah, 12 September September adalah hari ayah nasional. Kalau tidak salah September atau November. Dan tanggal berapa Juni itu hari ayah internasional. Kami punya loh hari ayah internasional dan hari ayah nasional. Kenapa hari ibu yang disyukuri? Karena ibu diminta Tuhan menjadi teladan. Mama-mama, tolong dengar ini, yang kelak mengubah pedang menjadi mata bajak dan tombak menjadi pisau pemangkas, membangun karakter anak di rumah untuk menjadi teladan bagi gereja terkecil yaitu keluarga. Di hari ibu ini, firman Tuhan mau ditujukan kepada ibu-ibu. Mohon maaf bapak-bapak, bawa ibu-ibu dipanggil Tuhan untuk karya gemilang. Kiranya anak-anakmu kelak menjadi mata bajak dan pisau pemangkas yang menghidupkan, yang menggemburkan, yang menumbuhkan. Ibu-ibu dipanggil untuk itu.
Mau tutup firman Tuhan ini mau katakan begini, "Tetapi seorang ibu akan gagal melaksanakan peran teladan itu untuk membangun gereja kecil yakni keluarga, tempat berhimpun, kepelbagaian, pengajaran, dan menumbuhkan serta menghidupkan mata bajak tadi dan pisau pemangkas, apabila seorang ayah gagal mendampinginya." Asik, akhirnya nyambung untuk bertemu dengan kata ayah. Saya mau katakan, mau tutup firman Tuhan ini, "Di balik air susu seorang ibu yang membesarkan anaknya, sudah pasti ada peran keringat seorang ayah yang menopang untuk masa depan. Di balik lembutnya hati seorang ibu yang menampung tiap isak tangis anaknya, ada ketegaran hati bapaknya untuk tidak mundur agar menyiapkan masa depan anak-anaknya."
Apa yang saya katakan, seorang ibu akan dapat melaksanakan peran gemilang ketika partnernya yaitu seorang ayah juga melaksanakan pendampingan yang tepat untuk menghadirkan bait Allah kecil dalam keluarga. Saya mau tutup untuk mengatakan, karena itu selamat hari ibu. Anak-anak ada banyak di atas, selamat mengasihi ibumu, namun jangan lupa menghormati ayahmu. Tuhan berkati Bapak Ibu. Amin.