📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

ANGKA DI ATAS KEPALA

Sahabat Film2:56

Transcription

Dengan semangat, seorang ibu menyuapi anaknya karena semakin bergizi makanan yang masuk. Angka misterius di atas kepala sang anak terus naik.

Ternyata sebelumnya secara tiba-tiba sang ibu mendapati dirinya memiliki kemampuan istimewa. Ia bisa melihat nilai ujian setiap orang di atas kepala mereka. Melihat potensi besar dari kekuatan itu, ia bertekad menjadikan anaknya siswa terbaik. Tak butuh waktu lama, anak itu berhasil menembus peringkat 10 besar dalam ujian simulasi. Para guru memujinya, teman-teman mengaguminya, dan sang ibu mulai membayangkan anaknya sebagai juara nasional Bintang Harapan masa depan.

Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Meski sang anak terus mengerjakan soal demi soal, nilainya tetap berhenti di angka 556, tidak bergerak naik sedikit pun. Anak itu kehilangan semangat dan kembali ke kamarnya. Memainkan gitar untuk menenangkan pikiran. Tapi anehnya, setiap kali jarinya menyentuh senar gitar, angka di atas kepalanya langsung menurun. Begitu gitarnya diletakkan, angka itu berhenti. Saat itulah sang anak menyadari cintanya terhadap musik menjadi hambatan dalam mencapai nilai akademik tinggi.

Dengan hati berat, ia berusaha menghancurkan gitarnya sendiri, namun tak sanggup. Akhirnya sang ibu yang memecahkannya untuknya, ajaibnya, nilainya langsung melonjak pesat setelah itu. Merasa bersemangat. Anak itu mulai membuang semua benda berbau musik, poster, kaset, instrumen, semuanya dihancurkan. Sang ibu hanya bisa menyaksikan dalam diam. Hatinya diliputi keraguan. Apakah yang dilakukannya benar?

Keesokan harinya, ia melihat anak tetangganya jatuh dari tangga karena belajar terlalu keras. Bayangan buruk muncul dalam benaknya. Ia membayangkan anaknya sendiri jatuh sakit karena stres belajar. Ia pun buru-buru pulang ke rumah. Tapi saat tiba, ia malah mendapati anaknya sedang mencukur rambut. "Apa yang kamu lakukan?" tanyanya terkejut. Anaknya menjawab, "Aku yakin kalau aku botak, aku bisa jadi lebih pintar."

Sang ibu yang hatinya makin dilanda penyesalan menarik anaknya keluar rumah. Mereka pergi ke warung dan ia membelikan sate serta ayam goreng kesukaan anaknya. Namun, tak ada senyum dari sang anak. Nafsu makannya hilang. Sang ibu mulai sadar semua tekanan dan tuntutan itu membuat putranya kehilangan jati dirinya. Ia bukan lagi anak yang dulu senang bermain gitar dan tertawa bahagia.

Hari berikutnya, saat sang anak memimpin teman-teman sekelas menyampaikan janji menjelang ujian besar, tiba-tiba ia mendengar musik dari kejauhan. Melodinya tak asing. Itu lagu ciptaannya sendiri. Anak itu spontan berlari ke aula sekolah bersama teman-temannya. Di sana, di atas panggung kecil, teman-teman B lamanya sedang tampil. Sang ibu tersenyum. Ia tahu dari teman-teman anaknya bahwa satu-satunya mimpi sang anak adalah menyanyikan lagunya sendiri di hadapan teman sekelasnya. Hari ini sang ibu mewujudkan impian itu.

Sang anak bertanya dengan mata berbinar, "Ibu, bolehkah aku main gitar lagi?" Melihat angka di atas kepala anaknya perlahan turun, sang ibu tak lagi peduli. Ia mengangguk dan menjawab, "Lembut, "Tentu saja boleh dan maafkan ibu karena terlalu memaksamu."

Kisah ini adalah cerminan dari banyak orang tua di luar sana. Mereka ingin anak-anaknya sukses, membanggakan, dan punya masa depan gemilang, tapi seringkiali lupa yang lebih penting dari semua itu adalah kebahagiaan sang anak. Jangan biarkan masa muda mereka yang seharusnya penuh warna malah terkubur demi angka kelulusan. Yeah.