Transcription
Nah, terkait dengan ibadah puasa. Nah, begitu dia. Ya kan? Jadi yang berpuasa itu siapa? Jangan lagi kita yang merasa puasa. Syirik itu syirik. Ya, kalau kalau diri aku, diri ego keakuan yang berpuasa itu pelanggaran. Kalau begitu sesungguhnya yang puasa itu siapa? Diri itu yang berpuasa. Begitu kita imsak sampai buka ya kesadaran kita wajib di situ. Hm. Coba dulu pahami itu kalimatnya. Sahur kita. Iya kan? Nah tengok sifat itu. Ini yang dipuasakan. Melihat dia yang puasa. Paham tu kan?
Habar-sahabat sekalian, jemaah yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa taala yang saya hormati. Bersyukur kita dengan penuh kegembiraan atas rahmat nikmat yang Allah berikan kepada kita. terutama pada malam hari ini Allah beri kita kesehatan, kesempatan untuk dapat hadir di majelis yang sederhana ini. Tentu dalam rangka mendiskusikan kajian-kajian keagamaan khususnya masalah tauhid dan tasawuf dengan harapan bertambah ilmu, bertambah pemahaman kita, meningkat kualitas dan kuantitas ibadah kita di hadapan Allah Subhanahu wa taala. Sekaligus kita dijatkan Allah sebagai hamba Allah yang syakirin yang pandai berterima kasih kepada Allah lantunan Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad kita hadiahkan kepada rohannya Rasulullah Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Allahumma sholli wasallim wabarik alaih.
Jemaah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa taala. Pada malam hari ini kita ingin lebih bisa memahami tentang kajian syahadat terkait dengan hadis Nabi. Jaddidu imanakum bisikri lailahaillallah. Coba kita kembali memperbaharui tauhid kita dengan benar-benar memahami ee tentang syahadat. Pertama yang harus kita pahami tentu kita mengenal dahulu baru menyembah. Itu kata itu kita mantapkan ya. Mengenal dulu baru menyembah. Kendati memang fakta di lapangan kebanyakan kita ini umat ini banyak menyembah dulu mengenal tidak. Jadi kenallah dulu baru kita menyembah. Dan alhamdulillah saya sampaikan bahwa kita ini adalah bagian hamba-hamba Allah yang ingin mencapai kesempurnaan terkait dengan syahadat itu.
Yang pertama, apa arti syahadat secara bahasa? Ya, syahadat itu diartikan adalah penyaksian. Ini kita tekankan betul ini ya, karena nanti di ujung kaji kita ini terkait dengan Ramadan yang mana di diri kita ini yang berpuasa dan melakukan perubahan. Jadi saya ulangi sadar itu artinya ya penyaksian bisa juga diartikan pengakuan ataupun pembenaran. Itu secara bahasa kalau ada kata penyaksian maka dalam istilah syahadat itu ada yang menyaksikan dan ada yang disaksikan. dan disaksikan itu juga adalah hal yang pasti ya, hal yang benar gitu, bukan ilusi apalagi hoak gitu ya. Jadi benar-benar kita ada yang menyaksikan, ada yang disaksikan.
Kemudian yang kedua yang harus kita rekam kajian kita malam ini, syarat-syarat syahadat itu ya. Ini saya lempar aja dulu materinya. Yang pertama kalau kita bersyahadat itu tentu berhadap-hadapan antara yang menyaksikan dengan yang disaksikan. Yang kedua berada pada satu tempat yang menyaksikan dan ini yang disaksikan itu satu tempat. Ya, jangan kita pula orang akad nikah di pelawan, kita jadi saksi di sini. Itu kan enggak satu tempat. Yang ketiga, kesaksian itu mesti pada diri. Ya, saya ulangi lagi, syarat sadar itu pertama berhadap-hadapan ya. Kemudian berada pada satu tempat yang kemudian kesaksian pada diri sendiri. Nah, penekanannya tiada sah penyaksian kalau ia tidak tahu, tidak kenal dengan yang ia saksikan. Ya, saya ulangi, tidak sah syahadat seseorang kalau ia tidak tahu, dia tidak kenal dengan yang ia saksikan. Kalau dinaikkan kalimatnya lebih tinggi lagi, tidak sah syahadat atau penyaksian kalau dia tidak tahu. Dia tidak kenal yang dia saksikan dan yang menyaksikan. Hm. Ya, itu dia. Jadi sama dengan yang pernah kita ucapkan seorang saksi dalam kasus pidana pembunuhan misalnya saksi dihadirkan, memang dia harus tahu peristiwa itu ya. Kalau tidak kesaksian dia itu adalah palsu, ya. Nah, jadi seperti itu.
Kemudian di yang keempat kita catat bahwa kedudukan sahadat itu adalah pintu gerbang. Jadi kalau ada pintu, kalau pintunya tertutup ya enggak bisa masuk. Nah, kaitannya di sini sebelum syahadat kita sesuai menurut syariat dan hakikat ya belum sampai dia ke situ. Karena digambarkan begini, kalau ada orang seorang mualaf, dia boleh salat, puasa, zakat, haji. Kalau dia berselahat, bersyahadat dulu. Kalau dia tidak bersyahadat tidak sah. Enggak boleh dia salat. Maka syahadat bagi mualaf itu cukup melafalkan asyhadu alla ilahaillallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Ya, terhenti pada lafaz sah keislamannya. Ya. Nah, itu tidak ada masalah. Tapi yang menjadi masalah adalah ee bagi kita ya yang sudah Islam dari awal ini, kita tidak boleh terhenti pada lafaz ya asyhadu alla ilallah asyhadu anna muhammadar rasulullah. Tidak boleh ya. Bolehnya itu kita harus terhenti pada makrifat, terhenti pada pe pengenalan. Artinya memang yang kita saksikan Allah itu sesudah kita saksikan ya dengan jelas terang nyata ya alamat penyaksian itu ke situ barulah syahadatnya itu sah. Nah, jadi kawan-kawan sekalian tentu ini problem ya. Kalau selama ini kita salat tidak menyaksikan [musik] itu akibat kita tidak mengenal maka kita tahu syahadat itu kalau tidak benar-benar dia saksikan salatnya enggak sah gitu. Ya, apalagi dia termasuk rukun salat yang 13. Jadi kalau kita survei, saya hampir percaya sangat sedikit sekali yang paham ketika ditanya, "Siapa yang kau saksikan?" Allah yang Allah yang mana kau saksikan? Ya. Nah, tapi ini alhamdulillah kita semua ini sudah tahu. Iya kan? Nah. yang mana kita saksikan tentu adalah keberadaan Allah Taala yang pada diri itu. Nah, jadi kalau dia tidak mengenal yang dia saksikan, jangan-jangan dia menyaksikan Tuhan yang dia ciptakan. Tuhan angan-angan namanya, Tuhan ilusi namanya. Ya, enggak tepat alamatnya.
Kemudian, kawan-kawan sekalian yang kelima, rukun Islam itu ada lima. induknya adalah syahadat. Kalau syahadatnya tidak beres, maka itu berdampak kepada salat, puasa, zakat, dan haji. Hmm. Makanya ini saya ulang-ulang balik ini nanti ada kaitannya dengan kajian kita masalah Ramadan. Nah, nah, kenapa begitu? Karena syahadat itu dia masuk ada pada salat. ada pada puasa ya, ada juga pada zakat dan haji seperti itu. Jadi kalau syahadat kita tidak paham secara tamam, secara sempurna, wah ini berdampak. Kenapa? Sekali lagi, kalau kita bicara syahadat menyaksikan Allah di dalam salat pun itu juga yang kita saksikan. Itu di level satu, di level du. Kalau kita salat menyaksikan, bukan kita yang menyaksikan ya. Ee dia yang menyaksikan dirinya sendiri gitu dia. Nah, ya. Maka ini penting sekali ini ya kajian syahadat kita pada malam hari ini. Jadi, maka dikatakan dari lima rukun Islam itu syahadat itulah induknya. Contoh di salat, disalat contohnya wakimus apa? Ikri salat itu adalah untuk mengingat Allah. Jadi kalau tak kenal kita yang kita ingat itu yang mana, ya ini jujur saja secara hakikat batal ya. Nah, seperti itu ya.
Kemudian yang keenam, maka pertanyaannya kan pertanyaan klasiknya adalah apa bisa kita mengingat sesuatu yang tak kita kenal itu pasti tidak. Tidak bisa. Iya kan? Nah kita bisa mengingat sesuatu karena kita kenal. Nah alhamdulillah kan kita semua ini sudah mengenal Allah melalui tazalinya sifatnya di diri itu. Gak usah lagi kawan-kawan meragukan. Memang itulah keberadaan dia pada diri kita dengan alasan apa? Kalau tanpa dia menunjukkan dirinya, maka kita tidak akan bisa mengenal Dia. Nah, jadi sesungguhnya dia yang memperkenalkan dirinya, ya kan? Bukan kita dan kita ini enggak ada. Yang ada itu ya memang dia gitu. Nah, seperti itu ya. Nanti kita kaitkan dengan puasa supaya laakum tatakun kita gapai. Nah, bayangkan jemaah dimuliakan oleh Allah, bagi orang yang tak mengenal Allah ya, bagaimana dia mengalamatkan ibadahnya? Kepada siapa dia alamatkan ibadahnya? Salat ke mana dialamatkan, puasa ke mana dialamatkan? Nah, tentunya kalau tidak tepat alamatnya maka seperti surat yang dikirim takkan sampai. Ya, kita ini bukanlah mau orang yang merugi, ya. Jangan kita menjadi orang yang merugi. Makanya itu dikatakan di awal-awal kita mengaji awaluddin mafatullah. Di mana? Di rukun Islam lima itu awaluddinnya di syahadat. Itulah awaluddin makrifatullah, mengenal Allah. Nah, jemaah yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa taala. Jadi kita tidak terhenti pada lafaz, tapi terhenti pada sadar kita terti pada pengenalan. Nah, kalau orang syariat mengingat bersyahadat itu menyaksikan Allah itu sembilan kali dalam sehari semalam lewat ibadah salat. Zuhur dua, asar dua, magrib dua, subuh dua kan gitu ya. Isa 2. Ah, jadi sembilan kali mereka menyaksikan Allah. Tetapi kawan-kawan sekalian, betapa kajian ini adalah yang harus kita pegang. Ya, kita setiap detik menyaksikan Allah ya. Setiap detik. Kena kenapa begitu? Karena yang ada ini kan dia. Nah, ingat itu. Cuma gak bisa maha itu kan. Paham baik itu kalau lewat salat lima kali 9 kali sehari semalam ya pakai waktu. Jadi kalau kita nah syahadat diri kita ini menjadi kalimat syaha syahadat kudrat iradat ilmu, hayat sama basar ka kalam. Dan dia bertempat di jasad. Maka jasad kita ini sesungguhnya adalah tempat melihat Allah. tempat menyaksikan Allah. Nah, kan luar biasa itu kan. Cuma kita kan enggak menyadari itu. Enggak menyadari. Jadi diri kita ini duri yang suci ya, zahir dan batin. Ya, kita awal mengaji dulu kudrat di kaki, iradat di hati, ilmu di kepala, ayat di hidung sama di kuping, basar di mulut, kalam eh basar di mata, kalam di mulut. Nah, kan sudah nyata. Ah, cuma jangan pula kita merubah identitas, artinya kita mengaku-ngaku Allah gitu gak ya. Cukup kita bermakrifat ya mengenal itu diri kita ini nyata dia jadi sadar kita ketika kita melihat itu yang menyadari diri kita itu ah itulah diri kita ya.
Nah, jemaah yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa taala. Jadi itu tadi ya, apanya Allah yang kita kenal? Sifat yang ada pada diri. Mana sifat itu? Di diri kita ini baik secara jahil maupun secara ba batin. Maka diri kita itu dipastikan itulah Allah. Tapi bukan kita jadi Allah gitu dia. Nah, seperti itu memahaminya.
Nah, jemaah dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa taala. Maka kalau kita apa namanya ee kita urai ee dalam bentuk apa namanya ya itu tadi ya kudrat di kaki tapi dalam bentuk kalimat ya kita bisa katakan kuasa ee apa kita berkuasa karena diberi kuasa hakikatnya kita lemah. Kita berkehendak karena diberi Allah kehendak. Hakikatnya kita tak punya kehendak. Kita mengetahui karena diberi Allah pengetahuan. Hakikatnya diri kita adalah bodoh. Ya, kita ee hidup ya karena diberi apa? Kita mengetahui. Maksud saya karena diberi Allah pengetahuan. Hakikatnya kita bodoh. Kita hidup karena yang dihidupkan. Hakikatnya kita ini tak pernah hidup. Kita mati. Ya, kita mati. Sekali lagi kita tak pernah hidup karena yang hidup ini adalah Allah. Tapi jangan ngaku Allah. Saksikan saja, rasakan aja kalau ini adalah Al Allah. Nah, kalau sudah paham kita di situ, insyaallah itu bisa obat anti stres. Karena hidup ini bukan hidup kita, hidupnya Allah. Iya kan? Ikuti saja begitu. Kemudian kita apalagi melihat, mendengar karena diberi Allah kita bisa mendengar. Senggah kita adalah peka. Kita ditulis ya. Kita bisa melihat karena diberi Allah penglihatan. Sehingga kita melihat, kita berkata-kata karena diberi Allah kita berkata. Sesungguhnya kita adalah bisu. Kita tak berkehendak, bodoh, mati, peka, buta, bisu. Ya, itu berarti kita ditunjuk diartikan kita itu dalam kondisi kosong. Yang kita kosong, yang kosong itulah kita. Yang tiada inilah kita yang tiada yang ada ini. Nah, pasang itu di kalb, di hati yang paling dalam. Ini adalah keberadaan Allah. gitu dia ya. Maka kalau dirombak kalimat ini menjadi kalimat apa? Kuasamu itu kata Allah. Kalau tadi kan kita ini kata Allah apa? Kuasamu itu, itu kudratku itu aku. Kata Allah. Nah, tiada yang lain. Kehendakmu itu, itu sifat iradatku. itu adalah aku. Tiada yang lain itu adalah aku. Kemudian dipertegas lagi, pengetahuan yang kau miliki itu, itu sifat alimku itu aku. Ah kemudian kata Allah lagi, hidupmu itu sifat hayatku itu adalah aku. Tiada yang lain. Kalau sudah katanya tiada yang lain, berarti dialah itu. Ya. Kemudian pendengaranmu itu sifat samaku itu juga aku basarmu. Ya, mendengar basar melihat itu sifat basarku itu adalah aku. Ya, kau berkata-kata itu sifat kalamku itu adalah aku. Tiada yang lain. Nah, jadi jelas kan tiada yang lain itu adalah a aku. Ya, masuklah syair kita ya kan. supaya duduk dia. Engkau wujud di dalam kudratku. Engkau wujud di dalam iradatku. Engkau wujud di dalam ilmuku. Engkau wujud di dalam hayatku. Engkau wujud di dalam syakku. Engkau wujud di dalam kalamku. Engkau wujud di dalam sama ya. dalam basar, di dalam kalam, engkau wujud di dalam kalamku. Dia terhimpun pada kalimah lailahaillallah. Lailahaillallah. Laqadirun illallah. Kita tak punya kuasa terkecuali Allah. Jadi Allah tidak tersembunyi lagi gitu. Nah, cuma kita tak berani memutuskan. Karena apa? Karena itu tadi kita lebih dahulu mengenal diri identitas kita ya. Nah, belakangan baru kita tahulah Tuhan aku tak ada. Yang ada ini kau ya Allah. Nah, di dalam syahadat itu di dalam ibadah ya dari rukun Islam itu inilah dia pandanglah itu yang beribadah. Kalau tubuh jasad ini la haula wala quwwata illa billah gak ada daya upayanya, maka hiduplah dengan diri yang itu. Di situ tidak ada kesusahan ya. Jadi jangan kita melihat diri kita, menempatkan diri kita pada jasad, rugi. Tapi tempatkanlah diri kita ini sesungguhnya adalah diri sifat itulah diri kita. Ya, kenapa? Itulah pancaran kepada Allah Taala kepada kita.
Nah, jemaah yang dimuliakan oleh Allah ya. Kalau kalau enggak ragu-ragu dikencengin aja syairnya. Gak usah lagi pakai engkau wujud. Tapi katakan saja Allah wujud. Ya, di dalam kudratku Allah wujud di dalam iradatku. Allah wujud di dalam ilmuku sampai kepada kalam tadi. Jadi Allah yang wujud. Kita ini gaib ya. Haram kita mengatakan kalau kita ini punya wujud. Kita enggak wujud. Kita enggak ada. Ya, itu harus ditekankan dan tempatnya itu di hati. Kita enggak pernah ada. Yang ada itu si kudrat, si rodat ya. Makanya itu dikatakan dalam hadis itu, al insaniru. Manusia itu rahasiaku. Aku rahasia manusia, rahasia diriku, sifatku dan sifatku itu tiada yang lain itu aku. Nah, ini jelas-jelas tegas-tegas ini harus kita ulang supaya kita ini tahu diri ya. dengan mengenal tadi kita tahu diri gitu dia. [musik] [musik]
Nah, jadi cara pengamalannya bagaimana? Dengan kesadaran itu tadilah sadari itu diriku. Nah, satu contoh ya supaya bisa mengambil tamsil. Nah, diri sejati kita itu walaupun akal kita mengatakan tak mungkin dia hafal Quran, tapi itu kan pendustaan. Tentu diri sejati itu hafal Quran. Contoh surah Fatihah ya hafal ya. Yang punya kalam itu siapa? Dia gitu ya. Allah. Kenapa dia? Kemudian yang membaca Fatihah itu kalam siapa? Kalam dia coba praktiknya. Kalau begitu ketika kita baca Fatihah, kesadaran kita kalam itu lafaz kalam itu surah Fatihah itu kalam dia yang mengucapkan kalam dia. Kalau begitu pernah kita membaca Fatihah? Tidak. Coba praktikkan ini. Sadari ayat itu adalah kalam dia. Dia sendiri mengatakan bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahiabbilamin. Tugas kita menyaksikan ya. Tidak usah kita ikut di dalam berzikir itu begitu. Lailahaillah. Lailahaillah. Kalam itu memang dia dia yang ngucapin. Kita nyaksikan aja. Nah, coba ini kawan-kawan didalami ini kalimat yang ini ya. Nah, selawat itu sudah apa? E ayat itu sudah ada di diri. Nah, dia sendiri lewat kalamnya, lisan kita ya lewat lisan kita dia sendiri yang ngomong. Nah, kalau sudah dipahami itu begitulah seterusnya menggunakan sifat-sifat yang yang lain yang melihat ini ya itu dia kita enggak ada. Jadi jangan dicampuri apa yang mau dilihatnya gitu.
Nah, jemaah yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa taala. Jadi kalau kita bergerak sadari dia yang bergerak itu kita enggak ada di situ. Tinggalkan. Nah, terkait dengan ibadah puasa. Nah, begitu dia. Ya kan? Jadi yang berpuasa itu siapa? Jangan lagi kita yang merasa puasa. Syirik itu syirik. Ya, kalau kalau diri aku diri ego keakuan yang berpuasa itu pelanggaran. Kalau begitu sesungguhnya yang puasa itu siapa? Diri itu yang berpuasa. Begitu kita imsak sampai buka ya, kesadaran kita wajib di situ. H coba dulu pahami itu kalimatnya. Sahur kita. Iya kan? Nah tengok sifat itu. Ini yang dipuasakan. Melihat dia yang puasa. Paham tu? Kan? Nah seperti itu. Jangan lagi kita lari dari diri itu. Kenapa? Jasad ini enggak bisa apa-apa. Jasad ini la ha lawala. Itulah baru namanya beribadah karena Al puasa karena Allah. Itu itu yang dipuasakan ya. Berhenti kita berpuasa itu terikat dengan makan dan minum. Oh kita lucu pula seperti yang saya bilang kemarin. Habis salat subuh dia pergi belanja memikirkan makan. Tapi silakanlah. Tapi ketika kita belanja itu lihat juga diri itu yang berpuasa. Saya yakin kita tidak pernah lakukan itu. Ya, maka tahun ini ibadah puasa kita kita rubah lah gitu. Iya kan? Diri itu yang puasa berhenti di situ aja. Iya kan? Nah ini harus ada penegasan. Makanya coba lihat apa katanya. Asim biryatillah wal ab biryatillah. Berpuasalah kamu karena melihat Allah. Berbuka juga harus melihat Allah. Nah, itu hanya dua kegembiraan orang yang berpuasa. Pertama ketika berbuka. Yang kedua adalah ketika liqa arabbi bertemu dengan Allah. Asumu biryatillah. Puasa karena melihat Allah, berbuka arus juga melihat Allah. Kira-kira sampai sini bisa kita pahami itu kan. Jadi yang berpuasa itu jangan lagi yang sudah lama gitu loh. Dimodiplah sikit kalau bahasa ininya diri itu papi yang puasa. Dan itulah yang kita saksikan. Iya, itu kita saktian dalam puasa itu e cuma kan teorinya mudah. praktiknya. Kenapa? Karena masih ada diri tandingan. Tapi kalau mutlak kita memutuskan aku tak ada yang ada dia. Enggak ada dia. Nah, inilah nanti yang menjatangkan ala bizikrillahi tunmainul ketenangan. Itu yang puasa tu dia apalagi kita sudah tahu asal diri kita pun dia kan. Nah, seperti itu ya. Jangan lagi kita yang merasa kita ber puasa. Wujudzabun. Wujudmu itu dosa besar. Kok kelim-kelim pula dia yang puasa. Nah, ini harus kita iniin.
Kemudian coba kita lihat lagi hadis Nabi apa katanya. Asomuli wa ana ajajbi. Puasa kamu itu untuk aku. Kata Allah. Kalau menurut syariatnya dan aku yang membalasnya. Iya kan? Dalam segi tauhid terjemah itu enggak benar gitu. Masa pula Allah bilang asaumuli wa ana ajabi. Puasa kamu untuk aku. Kok puasa aja untuk dia? Salat itu untuk siapa? Iya kan? Dan kemudian kesalahannya di mana? Apa dia butuh amal kita? Kalau begitu kondisinya berarti kalau kita enggak puasa dia rugi. Iya kan? Kalau puasa kita dia untung karena untuk dia. Bukan itu maknanya. Maka rubah itu asamu li maksudnya apa? Puasa kamu itu untuk menuju aku. Setelah kamu sampai kepadaku sudah aku dirikulah balasannya. Nah, maksudnya apa? sampainya dari teori tadi yang puasa itu siapa kan menuju ke dia kan. Nah, maka selama 30 hari kita latihan itu ya maka insyaallah hadiahnya diriku kata Allah. Nah, seperti itu artinya apa? Allah akan menyempurnakan kehidupan ini. Iya kan? sanggup kira-kira kita enggak ya puasa itu nengok itu. Tapi bukan berarti tasahur ya syariat jalan juga cuma diri itu harus yang mendominasi. Nah puasa itu dia mata puasa, kuping puasa. Karena puasanya gimana? Bukan berarti pakai kacamata hitam ditutupin ya. Sadar kita yang yang melihatnya dalam puasa tuh ini saya saya saya katakan sebagai kita satu majelis berpuasa itu itulah mata mulut itu dipuasakan. Walaupun kadang-kadang faktanya sulit ya karena memang setan pun dibelenggu hanya tangan sama kaki diikat mata mulut enggak gitu. Ah, itulah puasa kita kan mirip kayak itu tadi ya kita belenggu gitu ya.
Nah, jemaah yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa taala memang sulit memang karena lawan-lawan kita kan dalam diri sendiri. Yang aku pernah baca begitu Allah ciptakan hawa nafsu itu, itu kan terjadi dialog dengan nafsu. Setelah diciptakan kata Allah, "Man ana waman man anta." Siapa saya? Siapa engkau? Wah, hawa nafsu itu menjawabnya apa? Anta-anta ana badal. Betul. Iya kan? Kemudian apa? Dibakar dia 700 tahun dibakar sampai gosong. Iya kan? Ditanya lagi dia ya w nafsu man anta w man an waman anta? Tetap jawabannya nantang. Iya kan? Anak-anak antar-antar. Wah, itu itu iblis apa? Hawa nafsu. Ya, sudah capek dibakar, gosok, direndam sampai kisut itu ya. Begitu diinikan ratusan tahun ditanya lagi, "Man anta waman ana?" Siapa engkau? Siapa aku? Lawan lagi iblis itu jawabnya sama saja. Antah-tah anak-anak. Kan hebat kali engkau-engkau akui aku gitu. Yang terakhir enggak dikasih makan hawa nafsu itu. Itu kelemahannya. Enggak dikasih makan, enggak dikasih minum barulah di ditanya, ya kan. Man ana waman anta. Wah baru jawabannya sempurna. Iya kan? Apa sempurnanya? Dibilang hawa nafsu itu e anta rbuk wa an abti. Kau Tuhanku dan aku adalah hambamu gitu. Dia rupanya pengaruh enggak makan enggak minum itu ya barulah baru dia lemah baru dia ini. Iya kan? Nah makanya Rasulullah pun dalam kehidupan sehari-hari kita lihat teori makannya dia makannya sedikit. Kalau kita bertambah kalimatnya, sedikit-sedikit makan sambil pakai pantun ituuk keluduk enggak hujan-hujan. Duduk-duduk kok enggak makan-makan. Iya kan? Itu dia. Masyaallah. Hai Tuhan. Jadi seperti itu ca dimuliakan oleh Allah. Nah jadi puasa itu untuk aku maksudnya tadi itu ya.
Nah. Nah, memang ada lima cara Allah memuliakan sesuatu. Satu, bulan Ramadan itu mulia karena Allah mengisbatkan dirinya. Contohnya apa? Mengisbatkan diri itu sampai Ramadan itu dimuliakan. Begitu ya. Allah mengisbatkan dirinya dengan cara contohnya ee dia dia nyatakan dirinya di situ. Ada dirinya di situ. Contoh misalnya Ka'bah. Ka'bah itu mulia karena ada kata Ka'bah Baitullah. Ah mulia dia. Karena Allah nyata disertakannya di situ. Al-Qur'an mulia karena disebut kala kalamullah. Iya kan? Muhammad itu mulia karena apa? Ada kalimat di ujung Rasulullah. Nah, jadi mulia karena adanya Allah menampakkan gitu dirinya di situ. Di situlah mulianya Ro Ramadan. Jadi kalau Ramadan mulia bukan karena Ramadannya kita ini kadang-kadang itu kan memuliakan Ramadan itu makhluk tapi dia mulia karena di muliakan Allah. Maka tetaplah kita memandang kemuliaan Ramadan itu bukan kepada Ramadannya, tapi kepada Allahnya, gitu. Paham tu ya? Nah, seperti itu. Ee yang kedua, ibadah Ramadan itu juga mulia itu dikarenakan kita lama beserta Allah di Ramadan itu ya. Puasa kan dari jam berapa itu ya? Jam .00 malah katakan imsak. Iya kan? N bisa kita puasa itu 12 jam, 13 jam. Bahkan ada negara itu sampai 17 jam, 18 jam dan ada juga negara yang makan waktu 76 jam yang puasa. Yang normal itu Indonesia. Iya kan? Nah, maknanya apa? kita lama beserta Allah berpuasa itu. Nah, bagaimana dengan kaji syahadat tadi? Iya kan? Nah, kalau puasa 12 jam ketika Allah mentazallikan, menampakkan dirinya melalui sifatnya di diri kita ya yang mau kita ambil feedback-nya, kebalikannya, rasakanlah diri kita ini bukan yang terhina tapi diri kita adalah yang mu mulia. Karena apa? Karena Allah di sini, gitu loh ya. Kalau puasa hanya 13 jam ya kalau salat kan sebentar itu ya. Kalau kita salat sendiri ada 10 menit. Aku rasa diskonnya banyak itu. Iya kan? Lihat situasilah ya. Kadang-kadang hanya wajib-wajibnya aja Fatihah aja tup tap tup tap kan gitu ya. Lumayanlah itu bisa barkod. Iya kan? Jadi kita puasa bulan yang mulia, kita puasa itu mulia karena lama beserta Allah. Ya, kita berdasarkan ayat wafi anfusikum apa tumsirun. Nah, sudah sadar kita ini berarti kan wow kita pun sesungguhnya dengan kesadaran kajian kita ini adalah makhluk yang mu mulia semulia-mulianya. Kalau kita melihat diri yang itu diri kita ya baru mulia. Kalau tidak enggak juga itu.
Yang kemudian jemaah dimuliakan oleh Allah. Yang ketiga, kalau kita berpuasa itu mesti berak akhlaklah. Apa akhlak akhlak kita terhadap Allah? Dalam konteks berpuasa jangan kita merasa kita berpuasa. Itu akhlak. Ya, saya ulangi lagi. Berpuasa itu dengan akhlak Allah maknanya adalah jangan merasa kita yang berpuasa, tapi pandang dan iktikadlah kita yang berpuasa itu adalah sifat itu dan sifat itulah keberadaan Allah Subhanahu wa taala. Yang keempat itu kita mulia adalah berpuasa itu sedikit riah. Ibadah yang sedikit rianya itu. Apalagi bagi orang yang makrifah ngaji. Kenapa sedikit riah? Bagaimana kita untuk ri ber puasa. Tapi kalau orang yang merasa dia yang berpuasa, dia yang bersedekah, iya kan? Pasti rianya ada itu. Iya kan? Ee jadi kita sedikit ee ee rianya itu pun sangat tipis. Kalau kita sadar yang berpuasa ini bukan aku kok ngapain aku ria gitu loh. Bersedekah ini ngapa ri ini harta titipan kok gitu, ya kan sedikit rianya. Yang kelima, yang terakhir ibadah puasa itu yang tidak bisa dicontoh oleh orang-orang musyrik. Ya, maksud saya begini ya, di agama lain ada puasa. Ada ya, Tetapi puasa mereka itu sebatas yang kita pahami waktu kita kelas 1. Mereka hanya tidak makan, tidak, tidak minum. Tidak ada kesadaran kalau yang berpuasa itu adalah diri seja diri sejati.
Nah, insyaallah jemaah dimuliakan oleh Allah ya terkait dengan sikap kita menyambut Ramadan mampihakuli Ramadanahu aliron barang siapa bergembira ya dia mengatakan kata paroha sedangkan bahasa Arab itu ada tiga itu ee arti gembira itu masyhur. Satu satu lagi saya lupa itu saya paroha artinya berbeda. Kegembiraan dimaksud hadis itu bukan kegembiraan fisik. Contohnya 3 hari lagi mau Ramadan kita undang keyboard 3 hari 3 malam joget-joget gitu ya. Ya sama juga seperti ibu-ibu ini saya lihat mau Ramadan mereka itu satu perwidan melancong ke berasagi gitu-gitu. Bukan kegembiraan itu yang dimaksud Nabi, tapi ada kegembiraan batin. Ya, maknanya apa? Ketika kita melihat ya asumu biryatillah. Kalau mau puasa lihat Allah wal juga biryatillah. Nah, ini kegembiraan ini maka saya memastikan ya kegembiraan batin itu akan lahir ya pada diri kita menyambut Ramadan juga bergembira itu bukan karena mau punggahan. Iya kan? Nah, waktu punggahan itu gembira ya. Waktu makannya ya senang. Tapi ukurlah keberhasilan ibadah Ramadan kita adalah sundingkan gembiranya seperti apa persentasenya waktu menyambut Ramadan dibandingkan dengan di akhir Ramadan. Ya, mana lebih senang kita? Iya kan? Kalau saya rasa kalau kita jujur-jujur menjawabnya lebih senanglah menyambut Aidil Fitri. Iya kan? Gembira senang. Nah, tapi bagi kita yang nanti terlatih melihat diri sejati yang berpuasa, di situlah kita nanti di akhir Ramadan itu kerinduan itu akan terjadi. Nah, makanya Rasulullah katakan la takamu umati Ramadan. Barang siapa yang mengetahui apa yang terkandung di Ramadan. Nah, inilah harta karun yang hilang dari kita umat Islam, ya. Model puasa kita masih puasa yang mengandung najis. Di mana mungkin kalau ego aku yang dikatakan Allah itu adalah najis, ibadah itu membawa paripurna, membawa kebaikan kepada kita. Ya, itu tidak akan terjadi.
Nah, jemaah yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa taala, jadi pahami syahadat dengan baik, dengan paham sepaham-pahamnya. dengan level 1 sampai level 3 itu ya pada akhirnya itulah kita bawa di dalam beribadah rukun Islam itu. Bahkan di luar kehidupan tetap kita bersyahadat ya. Ah cuma syahadat tanpa lafaz kita langsung yang melihat nikah gitu. Nah, makanya syahadat bukan sembilan kali, tetapi syahadat itu seumur hidup. Ya, terkait dengan Ramadan ya. Kalau sudah kita melihat diri itu berpuasa ya, maka insyaallah secara syariat berpuasa itu adalah mengatur ya merubah kebiasaan kita. dilatih bangun sahur bangun cepat ya jadwal makan diatur ya kan digolehkan istirahat sebentar apa katanya anamus ee ibadah iya kan diatur cuma kalau kita jujur-jujur sakitnya puasa itu adalah dikarenakan perubahan itu. Artinya apa? Karena 11 bulan kita lebih cenderung hidup ini mengatur sendiri. Iya kan? Makan lontong ya, pergi sekejap ngopi ya tiada hari. Jadi ee kita sesungguhnya Ramadan itu adalah diajari untuk apa namanya mengikuti perubahan-perubahan dalam artian kalimatnya gini. Kalau dibuat kalimat dahulukan kehendak Allah, belakangkan kehendak nafsu. Itulah yang harus kita tempah. Maka kawan-kawan sekalian ya, jangan hanya berdagang. Tiap bulan ada evaluasi, uang masuk, uang keluar ya, berapa untung, berapa rugi. Maka setiap hari kita muhasabah, setiap kita berpuasa itu sejauh mana hari ini aku bertahan menyaksikan diriku. diri yang itulah yang berpuasa ya. Jadi jangan kita lupakan itu ya supaya kita bisa menikmati karena itu sama dengan alam zikrillahiul qulub sama dengan orang berzikir kepada Allah mendapat ketenangan. Ya, saya rasa itu nanti memang juga kawan-kawan kita mau evaluasinya. Nampak sekalilah bahwa nanti waktu di Ramadan hidup kita ini memang sesuka kita tuh nampak nanti itu. Tapi jangan melihat ke orang, melihat ke diri aja ya karena merubah kebiasaan. Akhirnya Ramadan ee itu memang 30 hari tapi beramadan itu 11 bulan ya. 30 hari latihan Syawal. Itulah start Ramadan yang sesungguhnya. Bisa enggak kita mengaplikasikan kebiasaan di Ramadan di Aidul Fitri? Iya kan? Karena ending daripada Ramadan itu adalah Idul Fitri. Apa arti Idul Fitri? Kembali suci. Berarti hari ini kita masih dalam kondisi kotor. Mau tahu kita bersih, ikutilah program yang ada di Ramadan. Bangun jam .00 jangan tepat waktu. Karena kalau nanti agak jam 5. kesiangan. Nah, dilatih kita 29 hari, dilatih kita 30 hari. Tapi kadang-kadang latihan itu banyak yang gagal. Maunya di Idul Fitri kita tetap bangun jam jam .00. Kita biasakan memang sahurnya jam segitu, gak ada sarapan lagi jam jam .00, jam .00. Iya kan? Ikutilah pola hidup selama Ramadan itu. Nah, itulah dia lailatul qadar. Ini perubahan yang lebih baik dari kebodohan menjadi terang benderang. Ya. Nah, mudah-mudahan Allah memberi kita paham dan bisa ini kita ee praktikkan ya. Pertama tadi dudukkan syahadat yang sebenar-benarnya. Karena itu pintu gerbang kita masuk ke dalam salat, ke dalam puasa, zakat, dan haji. Ya, nanti lewat diskusi dipersilakan. Saya rasa itu aja materi kita. Sekian dan demikian. Mohon maaf lahir dan batin. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Nauzubillahisami alim. Bismillahirahmanirahimamakiram yaakalam ya anzillana ilkmah hidayah wasalam ya mujibilin ya munzilal munzilin ya akramal akramin birahmatika yaahimum Ya Allah yaalamin. Allahumma yaubatik yaabbal alamin. Allahumma ya hayyu ya qayyum ya hayyu ya qayyum ya hayyu ya qayyum ya fattahu ya razzaq ya fattahu ya razzaq ya fattahu ya razzaq akhisna ya Allahumma ya Allah riz jadwalir allahum marhum aktiamaihamdulillahamb [musik]