Transcription
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, ya Allah, wahdahula syarikalah, muhammadan abduhu Rasulullah.
Penaklukan kota daerah masih daerah negeri Syam yang tidak jauh-jauh dari Baitul Maqdis.
Ya, baik. Adapun peristiwa penaklukan kota Haji Nadi, di sini kita akan bicarakan tentang kehebatan sahabat yang mulia itu, Amr bin Al-As radhiyallahu ta'ala anhu.
Beliau menuju daerah Jenadain, ya, dengan pasukannya. Di sebelah kanan adalah anaknya, Abdullah, sahabat juga. [Musik]
Kemudian bersamanya juga Syurohbil bin Hasanah. Maka berangkatlah mereka menuju kota Ramlah, dan mereka mendapati ini semua daerah dekat-dekat Palestina.
Merah di bawahnya ada Yerusalem, Yerusalem tempatnya Baitul Maqdis dekat situ.
Kemudian ternyata dia mendapat di daerah Ramlah pada pasukan Romawi yang dipimpin oleh seorang bernama Al-Artobun, ya, dikenal dengan Ade Harum, yaitu orang yang panglima paling cerdas dari Romawi, orang paling pintar dan paling keras permusuhannya.
Ya, dia telah meletakkan pasukan besar di Ramlah dan juga dia telah menetapkan pasukan di Elia, dua pasukan.
Maka akhirnya mengirim surat kepada Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, mengabarkan bahwasanya ada dua pasukan besar diletakkan oleh Artobun di daerah Ramlah dan juga di daerah Elia.
Maka akhirnya Umar menulis suatu perkataan yang terkenal. Beliau berkata, "Qodramaina Artobun al-A'raf."
Kami telah memanah, atau punya Romawi dengan Artobunnya, maknanya orang cerdas, orang hebat.
Ya, maksudnya dia adalah seorang panglima paling cerdas dari kalangan Romawi.
Maka Umar mengatakan, "Tenang, saya akan kirim orang paling cerdas juga dari Arab," yaitu siapa? Umar radhiyallahu anhu, salah satu dari Duhatul Arab, dijuluki dengan Dahiyatul Arab, yaitu cerdasnya orang Arab.
Dan sebenarnya menyebutkan Duhatul Arab arba'ah, orang-orang terkenal cerdas, ahli siasat, ahli politik, empat orang di antaranya adalah Amrullah, di antaranya adalah Ammar bin As radhiyallahu ta'ala.
Cerdas, oleh karenanya ketika beliau masih musyrik di zaman Jahiliyah, maka beliaulah yang dikirim oleh Abu Jahal CS untuk pergi ke Raja Najasyi, An-Najasyi di Habasyah, untuk merayu An-Najasyi agar An-Najasyi memulangkan kaum Muslimin.
Karena kita tahu sebagian kaum Muslimin berhijrah ke negeri Habasyah karena tekanan dan intimidasi yang sangat kuat di Mekah.
Mereka harus pergi ke negeri Habasyah, di antaranya adalah keluarganya dan banyak kaum Muslimin di sana.
Maka akhirnya kaum musyrikin ingin mengusir, membalikkan mereka, sehingga mereka pun mengirim dua orang, yaitu Abdullah dan satunya adalah radhiyallahu ta'ala anhu.
Dan akhirnya, Alhamdulillah, yang menjadi juru bicara untuk berbicara dengan kerajaan untuk merayu Raja agar memulangkan kaum Muslimin, namun dia tidak berhasil.
Karena bagaimana kita dalam sirah, ternyata bin Abi Thalib kemudian membaca surat Maryam di hadapan Najasyi, dan Najasyi akhirnya lebih condong kepada Jafar bin Abi Thalib.
Yang ingin saya sampaikan bahwasanya yang dikirim adalah siapa? Amr bin As radhiyallahu anhu, karena dia orang cerdas yang bisa berbicara dengan baik di hadapan Raja An-Najasyi.
Maka kecerdasan Amr bin Al-As diakui oleh Umar bin Khattab radhiyallahu anhu ketika Amr mengabarkan bahwasanya ada panglima Ortobun yang hebat, ya, sulit dihadapi, yang ahli dalam siasat.
Maka Umar menjawab, "Kami akan memanah, atau ya, kami akan mentargetkan orang Arab."
Maka berangkatlah lanjut menuju ke Ajnadin atau daerah dekat daerah Ramlah untuk menyerang.
Tetapi melihat perkaranya sulit karena yang dihadapi adalah tokoh Romawi yang sangat hebat.
Maka dia tidak ridho kalau mengirim, karena terjadi apa namanya perundingan.
Ya sudah jadi perundingan, ya, maka dia tidak puas kalau mengutus orang lain untuk bertemu dengan Artobun, sang jagoan ini, sang pendekar orang Romawi.
Dan orang Romawi sudah mendengar tentang sudah menaklukkan beberapa kota di Syam, ya, karena Amrullah sudah dikirim oleh Abu Bakar yang sejak zaman Abu Bakar untuk ke negeri Syam.
Sebagaimana kita bahas ketika Ahmad bin As menjadi, apa namanya, tugas di kota Oman.
Maka Allah menulis kepada Umar As radhiyallahu anhu, "Apakah kau ingin di sana atau aku mendapatkan engkau di posisi yang lebih baik untuk akhiratmu?
Yang mau di situ saja atau mau saya tempatkan di pos yang lebih baik untuk akhiratmu?
Tapi kalau lebih suka di sana, ya, sebagai pengumpul zakat atau jiziyah di Oman, maka silahkan."
Kalau di sana, kemudian langsung menjawab dengan perkataan yang ini, mengatakan, "Sesungguhnya adalah aku hanyalah anak panah dari anak-anak panah yang ada, dan engkau adalah pemanahnya, wahai Abu Bakar.
Letakkanlah aku di manapun yang kau suka."
Maka sejak itu Abu Bakar kemudian melengserkan dia dari Oman, kemudian ditugaskan untuk berperang di negeri-negeri Syam.
Ya, maka dia sudah menaklukkan beberapa kota-kota kecil negeri Syam, sehingga namanya terkenal oleh Ortobun.
Ortobun sudah kenal dia, namanya Trail, tapi Ortobun tidak pernah ketemu dengan siapa.
Nah, ini ingin ada perundingan sebelum berperang.
Maka Amr bin Al-As tidak mungkin orang lain, dia ingin sendiri yang bertemu dengan saya.
Waktu mungkin orang pintar terkenal ini, dah ya, turun, yaitu orang cerdiknya orang Romawi.
Maka Alhamdulillah pun berlaga sebagai seorang utusan.
Dia pakai baju seperti baju utusan, kemudian dia masuk menuju sebagai wakil dari siapa? Amr bin Al-As.
Padahal dialog diskusi di antara mereka membicarakan ketika terjadi bencana.
Ini, ini Amr ketahuan, ini bukan orang lain bisa menandingi, mengimbangi pembicaraan.
Enggak sembarang orang bisa berbicara seperti ini.
Ini kayaknya akan berbalas kata, dia ini adalah sendiri atau orang yang paling dipercayai oleh Artobun.
Artinya kalau dia ngomong pasti ikut.
Saya rasa yang harus saya lakukan, saya bunuh dia.
Kalau saya bisa bunuh dia, ini paling membuat mereka jengkel, ya.
Dan ini ide yang bahaya dari Ortobun, karena dalam kode etik, kalau utusan tidak boleh dibunuh, delegasi tidak boleh dibunuh.
Sampai sekarang, tapi kapan lagi kesempatan membunuh pemimpin mereka?
Udah pokoknya, dia pengen bunuh.
Kalau sudah dibunuh, pemimpin kaum Muslimin akan mental, mereka akan jatuh pengaruh terhadap pasukan.
Kalau ada Ortobun meminta terbunuh oleh para sahabat dalam Perang Uhud ketika Rasulullah SAW terluka, tersebar isu bahwasanya Rasulullah SAW telah Inna Muhammad.
Yang akhirnya tidak mau berperang, mental mereka jatuh gara-gara mendengar pimpinan mereka gugur.
Kalau dan waktu pun tahu akan hal tersebut, maka kesempatan dia untuk membunuh Amr bin Al-As ini, maka dia pun memanggil anak buahnya, penjaganya.
Dia bisik, bahasa Romawi [tertawa].
Intinya dibilang, "Bunuh dia, nanti dia keluar, engkau bunuh di sana."
Tunggu dia, bunuh dia.
Amr ya sadar, ini kayaknya bunuh saya.
Waduh, di jadi Amr ingin masuk situ, ingin lihat situasi kondisinya, dia itu kayak apa sih, karena dia akan masuk di lokasi mereka.
Masuk pelan-pelan sambil lihat-lihat sana, lihat ini, karena merangin mereka susah.
Jadi dia harus tahu persis lokasi mereka dan bagaimana posisi pasukan mereka.
Makanya dia tidak tenang.
Kalau mengutus orang lain, dia ingin datang sendiri.
Tapi qadarullah ketahuan, ketahuan di sinilah pintarnya Amr bin Al-As.
Maka pun sadar bahwa ini orang yang membunuh saya, maka segera dia berkata, "Itu sang pemimpin, kau sudah dengar pembicaraan aku, dan aku sudah melihat pembicaraan."
[Musik]
"Sesungguhnya aku salah satu dari 10 orang yang diutus Umar untuk kami lihat bagaimana dilakukan oleh si Ammar ini.
Ya, saya cuma satu dari 10 orang.
Saya senang dengan pembicaraanmu.
Bagaimana kalau saya ajak mereka semua ke sini, 10 orang tersebut, kita dengar pembicaraanmu biar lebih mantap.
Terus kita lihat bagaimana pendapat kami 10 orang tetap tentang ide-ide mu."
Ataupun [tertawa] panggil orang, eh, bilang yang tadi, "Jangan dulu bunuh ya, jangan bunuh, biar dia pulang mau bawa 10 orang ke sini."
[Musik]
Intinya, artinya pergilah berbelas.
Kemudian sampai dia ke pasukannya, maka dia pun selamat.
Akhirnya [Musik] maka setelah itu Amr pun ya bangkit, kemudian lakukan peperangan yang dahsyat, dan akhirnya Ortobun pun kabur, ataupun pun apa, kabur ke media, kabur ke Baitul Maqdis.
Maka setelah itu kita bahas tentang seorang yang sudah berumur ketika itu.
Ya, kita tahu bagaimana gelas sangat benci terhadap Islamnya, dan dia baru masuk Islam pada tahun 8 Hijriyah.
Beliau lahir sekitar 47 tahun sebelum hijrah.
Kemudian beliau masuk Islam 8 Hijriyah, berarti masuk Islam umur berapa itu? 55.
8 Hijriyah, kemudian ini peperangan sekitar tahun 15 Hijriyah, berarti 55 + berapa? Tambah 8 lagi, ya, 8 + 7 + 7, berarti umurnya sekitar berapa? 60, 62.
Tapi kuat dalam bertempur.
Perkataan yang menarik, dia berkata, "Itu Nih, aku melihat tidak seorang pun yang paling benci kepada Rasulullah seperti aku.
Aku ini orang yang paling benci sama Muhammad sallallahu alaihi wasallam, dan cita-citaku yang paling aku inginkan, aku bisa bunuh Muhammad.
Berharap punya kesempatan untuk membunuh Muhammad, lalu aku bunuh dia.
Itu yang paling aku inginkan, itu aku cintai, cita-citaku yang tertinggi, membunuh Muhammad, karena ini orang yang pernah aku benci.
Kalau saya meninggal ketika itu, keinginan seperti itu, tentu saya masuk ke neraka jahanam.
Islam, ketika Allah masuk Islam dalam hatiku, akupun mendatangi Nabi SAW, kemudian aku berkata, "Obsut, Ya Minaka, bentanganmu, aku akan membaiatmu pada suatu hari."
Kemudian Rasulullah membentangkan tangan kanannya.
Tidak jadi, tidak jadi membaiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Maka Rasulullah berkata, "Malah, kenapa kau tidak baik?"
Maka Rasulullah SAW amal berkata, "Saya ingin punya syarat untuk membayar engkau."
Kalau punya syarat, apa wahai Ammar?
Ali, aku berkata, "Agar aku diampuni dosa-dosaku."
Banyak dosanya, banyak, ya, juru bicaranya Abu Jahal, kemudian cita-citanya bunuh Nabi, orang paling dibenci oleh Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
Maka saya tidak membayar kecuali saya pastikan dosa-dosa diampuni.
Maka Rasulullah SAW berkata, "Ini pastikan dulu."
Maka Rasulullah mengatakan, "Tidak, kau tahu wahai Amr, bahwasanya Islam menghapuskan dosa-dosa sebelumnya.
Hijrah akan menghapuskan dosa-dosa sebelumnya, dan haji menghapuskan dosa-dosa sebelumnya."
Ini jadikanlah para ulama, bahwasanya haji, siapa yang haji mabruk, dosa-dosa semua terhapus, sebagaimana orang baru masuk Islam.
Kemudian dia berkata bahwa karena ahlun-aba ilahaimin Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.
Setelah itu tidak ada seorang pun yang paling aku cintai seperti siapa? Rasulullah.
Bayangkan, dari paling benci menjadi paling cinta.
Tidak ada orang yang paling agung di depan mataku, tidak ada yang paling kagum seperti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Maka aku tidak mampu melihat Nabi lama-lama karena mengagungkan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.
[Musik]
Karena Rasulullah sangat agung di hadapannya, tidak pernah lihat puas melihat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.
Pengagunganku kepada Nabi, aku berharap aku masuk apa? Surga.
Inilah sang pahlawan yang menaklukan kota Mesir radhiyallahu ta'ala.
Dan benar, ketika dia masuk Islam tahun 8 Hijriyah, maka setelah itu beberapa bulan kemudian Rasulullah, dia masuk di bulan Safar pun, dua bulan kemudian Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, sebagaimana pernah saya sampaikan, menugaskan dia menjadi panglima perang.
Perang Zatus Salafil, itu suatu kampung yang diperangi karena ibunya dari suku tersebut memilih dia untuk menjadi pemimpin.
Jadi pemimpin, dan anak buahnya ada kaum Muhajirin, kaum Anshar.
Ini baru masuk Islam berapa bulan, baru mualaf, sudah jadi apa? Pemimpin perang.
Ya, sampai kemudian Rasulullah panggil dia, "Wahai Amr, saya ingin kau jadi pemimpin, dan saya ingin kau dapat ghonimah."
Kata dia, "Rasulullah, saya masuk Islam bukan cari ghonimah."
Kata Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, "Wahai Amr, nikmal Saleh, apa namanya, harta yang terbaik adalah milik seorang yang sholeh."
Rasulullah perhatian sama dia.
Itulah kemudian setelah dia perang, kemudian dia junub, kemudian dia tayamum, kemudian dia salat.
Di belakang dia ada Muhajirin, kaum Anshar, dan dia tidak peduli, "Saya jadi imam," katanya.
Pokoknya Abu Bakar semuanya makmum, saya jadi imam.
Ketika Rasulullah kirim pasukan tambahan, mereka ingin salat, "Jadi sendiri, kalian diutus oleh Nabi sebagai pasukan bantuan untukku, salat di belakangku."
Baru mualaf [tertawa], orang terkenal ketika di masa Jahiliyah, dan mereka juga nurut dia salat dalam kondisi junub.
Maka dilaporkan, "Ya Rasulullah, Ammar itu salat dalam kondisi apa? Junub."
"Bener, Amar," kata dia, "Ya dingin, Ya Rasulullah."
Ya, kemudian, "Bukankah Allah berfirman [Musik] dihafal ayat juga, ya, jangan kau bunuh diri kalian.
Sesungguhnya Allah sayang kepadamu."
Maka Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam tertawa.
Ya, ketika itu dia merasa Nabi sangat sayang sama dia karena begitu perhatian.
Ada yang protes, "Nabi Bella, Nabi syukurnya jadi pemimpin."
Maka dia mulai bertanya, itulah hadis yang masyhur, "Nasi ilaika Rasulullah, siapa orang yang paling kau cintai?"
Rasulullah harapannya, dia bilang, "Kamu, Aisyah."
"Laki-laki Rasulullah, ayahnya."
Kemudian, "Siapa ya Rasulullah? Umar."
Kemudian, "Siapa Rasulullah dari Jalan?"
Kemudian ini, kemudian ini, kemudian ini.
Ya udahlah, saya enggak berani, saya khawatir saya yang paling terakhir disebut.
Seorang yang Dahiyatul Arab, cerdasnya orang Arab.
Makanya ketika terjadi di masa pertikaian antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah, Ali bin Abi Thalib mengirim Al-Hakam dari sisi wakil dari sisi Ali bin Abi Thalib adalah Abu Musa Asy'ari radhiyallahu anhu, dan dari sisi Muawiyah siapa? Amr bin Al-As.
Datang dalam hadis yang shahih dari Allah bin Malik, "Desa perkara sebelum datang hari kiamat."
Ini antara tanda-tanda hari kiamat yang pertama, kata Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, "Alamatnya diriku."
Yang kedua, ketika ditabuk, Rasulullah mengucapkan hal ini, mengabarkan hal ini.
Tabuk pada tahun berapa? Sembilan Hijriah.
Dan Baitul Maqdis taklukan tahun tanggal 15 atau 16 Hijriyah, yaitu sekitar 6 tahun atau 7 tahun kemudian.
Di antara tanda hari kiamat adalah Fathu Baitul Maqdis.
Baitul Maqdis akan ditaklukan oleh kaum Muslimin, dan akhirnya ditaklukan di masa Umar bin Khattab radhiyallahu ta'ala anhu.
Para sahabat yakin dengan hal itu, bahwasanya bagaimana kisah menaklukkan Baitul Maqdis kita bacakan dari Ibnu Jarir.
Intinya, Abu Ubaidah ketika berhasil menaklukkan Damaskus, maka dia pun mengirim surat kepada ahlu Ilya, yaitu Yerusalem atau Baitul Maqdis, untuk masuk Islam.
Kalau enggak, untuk mereka tidak mau nurut, mereka tidak mau masuk Islam dan tidak mau juga bayar.
Kalau tidak mau dua-duanya, maka tidak ada pilihan kecuali berperang.
Maka beliau pun berangkat menuju ke sana untuk mengepung Baitul Maqdis.
Ini ada beberapa riwayat tentang hal ini.
Ya, hadir mengatakan bahwasanya yang mengepung betul setelah dari karena kemudian menyusul Ortobun, kemudian mengepung Baitul.
Akan tetapi ternyata alot ketika menaklukkan Baitul Maqdis karena Baitul Maqdis, ya, posisinya bagus untuk pertahanan.
Kemudian situ pegunungan, ya, ya, sehingga bentuknya seakan-akan seperti benteng.
Kemudian di situ banyak makanan dan yang lainnya, ya.
Maka Amr bin Al-As kemudian mengirim surat kepada Khalifah, yaitu Umar bin Khattab radhiyallahu ta'ala anhu, ya, untuk segera datang ke Syam langsung karena ini urusannya berat.
Kemudian dia berkata, "Ini [Musik] aku menghadapi perang yang sulit, ya, maka kami menunggu apa keputusanmu."
Maka ketika itu Umar bin Khattab radhiyallahu anhu pun segera menuju ke negeri Syam.
Ini pendapat, ya, salah satu pendapat bahwasanya kesulitan kemungkinan berkumpul kaum Muslimin.
Ya, baik Abu Bakar kemudian Amr bin Al-As berusaha untuk mengepung Baitul Maqdis, dan mereka kesulitan dalam mengepung Baitul Maqdis.
Dalam versi yang lain, ya, bahwasanya Abu Ubaidah berhasil mengepung Baitul Maqdis, ya, kemudian mereka menjadi repot menghadapi kepungan tersebut.
Akhirnya mereka menyerah dan mereka minta perdamaian, minta perdamaian, dan akhirnya mereka mempersyaratkan, "Kami mau damai itu mubazir dengan syarat yang datang adalah Umar bin Khattab radhiyallahu ta'ala anhu."
Sini ada dua versi.
Kalau kita baca riwayat, ada riwayat ketika terjadi Solo, datanglah Abu Ubaidah bin Jarrah.
Kemudian mereka berkata, "Bukan kau yang menaklukkan Baitul Maqdis. Kenapa kami dapati dalam buku-buku kami sifat-sifat yang menemukan Baitul Majelis bukan seperti sifat-sifatmu?"
Kemudian Amr juga datang, "Ndak, kau juga tidak bisa mau apa, mau mengadakan perjanjian."
Kata mereka, "Tidak bisa, Khalid juga tidak bisa. Sifat-sifat kalian tidak terdapat dalam Baitul Maqdis, tidak terdapat dalam apa? Injil dan Taurat."
Tidak dapat Injil dan Taurat, seakan-akan mereka punya ilmu.
Ada kabar bahwasanya yang akan melakukan Baitul Maqdis adalah seorang yang memiliki sifat-sifat tertentu.
Bahkan sebagai riwayat ketika Khalid ingin menaklukkan, mereka pergi dulu, "Pergilah engkau ke Kai Syariah," karena kota Kaiseria dalam buku kami, "Dia ditaklukan sebelum Baitul Maqdis."
Belum sana dulu, taklukan yang dulu baru kemari.
Mereka punya ilmu, punya ilmu tentang hal tersebut, yang mungkin sudah, yang sudah sekarang sudah tidak ada, tapi mungkin ketika itu ada lembaran-lembaran di tangan mereka.
Sehingga mereka tahu bahwasanya menaklukan Baitul Maqdis bukanlah Khalid, bukanlah bukan pula Abu Ubaidah bin Jarrah.
Tiga-tiga ini bukan, bahkan nas meriwayat, mereka mengatakan yang akan menaklukan negeri Syam seorang namanya cuma tiga huruf, tiga huruf, yaitu Umar bin Ash, ini Amr, 4 huruf, Khalid, 4 huruf, Joko alif lam, dan Abu Ubaidah lebih panjang lagi.
Tapi intinya ini bukan semua, atau sifat-sifat fisik, ini bukan Umar bin Khattab.
Ini pendapat mereka mengatakan, "Kalian tidak bisa karena tidak sesuai dengan apa yang ilmu yang kami dapatkan."
Pendapat kedua, mereka mengatakan bahwasanya yang harus menaklukkan Baitul Majelis bukan orang biasa, tidak bisa engkau atau dia, ndak, harus pimpin kalian langsung.
Karena Baitul Maqdis tempat yang mulia ditaklukan oleh orang yang mulia.
Maka Abu Ubaidah tidak pantas untuk menaklukkan Baitul Maqdis.
Kami ingin Khalifah kalian, Umar bin Khattab radhiyallahu ta'ala anhu.
Ini salah satu pendapat yang disebut oleh Ibnu Katsir dalam situlah.
Kemudian Abu Ubaidah ngirim surat kepada Umar.
Mereka mau salat, yaitu mau damai, maksudnya damai, maksudnya, tapi dengan syarat engkau yang datang.
Maka Umar bin Khattab ketika itu masih di Madinah, kemudian dia pun diskusi, diskusi sama sahabat-sahabat, di antaranya disebut sama Utsman dan sama Ali bin Abi Thalib.
Maka Utsman berkata, "Dan ini kebiasaan para sahabat di antara mereka, kata Allah kepada Nabi, bermusyawarah lah dengan mereka dalam urusan."
Dan di antara orang yang paling suka bermusyawarah adalah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.
Selama tidak ada wahyu, Nabi selalu ingin musyawarah, karena musyawarah tersebut akan muncul ide-ide yang terbaik.
Ada sisi-sisi yang mungkin tidak diketahui oleh sang pemimpin, diketuai oleh yang lain.
Dan sebagaimana kita kalau baca sirah Nabi, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bermusyawarah dalam Perang Badar, dalam Perang Uhud, dalam Perang Khanda, dalam peperangan bermusyawarah ingin tahu pendapat yang terbaik untuk menghadapi musuh.
Selama tidak ada wahyu, kalau ada wahyu tidak pakai musyawarah.
Seperti Hudaibiyah, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam tidak bermusyawarah, ya pulang, sebagaimana pernah kita sampaikan.
Maka akhirnya Utsman bin Affan, kata Utsman bin Affan, "Tidak usah kau pergi ke sana, tidak usah pergi ke negeri Syam."
Kenapa? "Liakuna, kalau kau tidak hadir, ini lebih menghinakan mereka."
Ya, mereka mau betul maksi, taklukan dengan mentang-mentang harus orang pembesar.
Tidak perlu, kirim aja anak buah, ngapain kau ke sana?
Biar mereka lebih hina, lebih rendah.
Ya, ini pendapat Utsman bin Affan dapat intinya untuk kemaslahatan.
Jadi biar mereka tidak mentang-mentang yang menaklukkan, tapi Ali bin Abi Thalib punya pendapat lain, mengatakan, "Berangkat ke sana, ya, agar liakunahum, agar meringankan kaum Muslimin tatkala mengepung Baitul Maqdis."
Kenapa? Karena Baitul Maqdis Islam tidak sama seperti di Jazirah.
Di Mekah tidak ada salju, di Madinah tidak ada salju dingin, tapi di Syam dinginnya parah dan ada salju.
Jadi semakin mereka lama di sana semakin berat.
Ya udahlah, biar cepat selesai, seakan Ali bin Abdul mengatakan macam-macam biaya.
Kemudian akhirnya pahawa maqalah Ali, maka Umar bin Khattab lebih condong pada pendapat Ali bin Abi Thalib.
Tidak tidak cocok dengan pendapat Utsman bin Affan.
Ini menunjukkan bahwasanya bagaimana kedekatan Ali dengan siapa? Umar bin Khattab radhiyallahu ta'ala anhu.
Maka akhirnya beliau pun berangkat, ya, dengan pasukan kecil, ya.
Kemudian beliau Madinah, Ali bin Abi Thalibnya menjadi pemimpin pengganti beliau di menilai Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu.
Kemudian beliau berjalan di depannya ada Al-Abbas bin Abdul Muthalib di bagian depan.
Kemudian beliau sampai di negeri Syam.
Sebelum sampai negeri Syam, maka beliau menulis surat kepada pemimpin untuk bertemu dengan beliau di sebuah tempat.
Ketika datang, ya, dengan penuh kesederhanaan, dengan penuh kesederhanaan, ya, disebutkan para pemimpin menunggu.
Ada awan, para pemimpin ada Yazid bin Abu Sufyan.
Maka tatkala sudah dekat, apa disebutnya, tiba-tiba ada makhluk seperti mungkin danau kecil di situ ada air, ada lumpur, ya.
Maka Umar bin Khattab radhiyallahu ta'ala anhu pun fana.
Maka dia pun turun dari untanya, maka dia penuh, kemudian melepaskan dua sendalnya atau hufnya.
Paham? Sampai kemudian beliau pegang kedua sendalnya, kemudian sambil memegang untanya, dan beliau turun ke danau kecil tersebut untuk bertemu dengan para sahabat.
Maka beliau pun menuntun untanya sampai melewati danau kecil tersebut.
Ya, maka Abu Ubaidah ketika melihat tersebut, beliau berkata, "Yauma aziman, orang-orang para pendeta lagi melihat engkau datang, terus engkau seperti itu dengan penuh kesederhanaan, turun, kemudian lewati.
Nggak perlu begitu, maksudnya udah naik aja di atas ini atau di atas kuda melewati, itu kan bisa, tidak harus apa? Turun atau suruh orang pegang sendalmu."
Jadi Umar melakukan perbuatan yang sangat sederhana, agak marah sambil dia memukulkan tangannya ke dada Abu Ubaidah.
Dia mengatakan, "Kau ini ingatkan, wahai kalian, dulu adalah orang yang paling hina sebelum ada Islam.
Orang yang paling rendah, kalian dulu sebelum Islam, paling rendah, paling hina, orang yang paling sedikit, dulu Islam, dan Allah muliakan kalian dengan apa? Islam."
[Musik]
Maka Allah akan menghinakan kalian, yaitu seakan-akan kamu mengatakan tidak ada masalah, ini apa salahnya, tidak usah cari pengakuan dari apa? Orang-orang pendeta tersebut, enggak perlu.
Enggak perlu dengan tegas mengatakan tersebut kepada Abu Ubaidah.
Sebut dalam riwayat, ya, ketika Umar bertemu dengan Abu Ubaidah, Abu Ubaidah ingin mencium tangan Umar, juga ingin mencium siapa? Abu Ubaidah.
Sampai akhirnya saling menahan, saling menahan, kemudian akhirnya Umar pun ketemu dengan orang-orang untuk melakukan perjanjian.
Ya, maka datanglah Ahlul Quds, mereka datang menemui Umar di suatu tempat namanya Al-Jabiyah.
Kemudian Umar pun setuju dengan berdamai dengan mereka, ya, kemudian menjadikan Palestina menjadi dua.
Ya, satu di areal Ahlu Ilya, yaitu yang tinggal di Baitul Maqdis, dan satunya lagi yang tinggal di daerah Ramlah.
Jadi dua kelompok yang masing-masing bayar kepada kaum-kaum Muslimin.
Maka masuklah Umar bin Khattab radhiyallahu ta'ala anhu untuk menerima kunci-kunci dari Baitul Maqdis atau dari Ahlul Ilya, bahwasanya semuanya sekarang ditaklukan oleh kaum Muslimin.
Dan Umar kemudian menulis bahasa Indonesia artinya, yaitu surat perjanjian, ya, surat perjanjian, ya, piagam Baitul Maqdis.
Maka di antara isinya, ya, beliau berkata, "Bismillahirrahmanirrahim."
[Musik]
"Abdullah Umar Amirul Mukminin, inilah perjanjian yang diberikan oleh hamba Allah, Umar bin Khattab kepada penduduk negeri Elia, yaitu Negeri Yerusalem, Baitul Maqdis, berupa keamanan, ya, yaitu keamanan terhadap diri mereka, keamanan terhadap harta mereka, dan keamanan terhadap gereja-gereja mereka dan salib-salib mereka."
Ya, artinya Umar melarang untuk merusak itu semua, yang ada di biarin aja, namun tidak ditambah-tambah lagi.
Bangunan apa? Gereja, ya, yang sudah rusak tidak diperbaiki, yang ada dibiarin aja.
Yang ada di biarin aja, ya, kemudian jatuh, dan mereka tidak dipaksa atas agama mereka.
Yang masih Islam silakan, yang berada di atas agama tidak dipaksa, minum, dan tidak seorang pun yang diberi mudharat terhadapnya.
Yaskun bi ilyama, tapi tidak ada seorang Yahudi pun yang boleh tinggal di situ.
Kalau nggak salahnya permintaan mereka sendiri, permintaan apa? Permintaan Ahlul Ilya, mereka tidak mau ada seorang Yahudi pun yang tinggal bersama mereka.
Karena terjadi apa namanya permusuhan kencang di antara mereka, dan orang Yahudi selalu bergabung dengan Persia untuk menekan kaum Nasrani Romawi.
Ya, mereka condong kepada versi, makanya mereka bersyaratkan, "Kami tidak ingin ada seorang Yahudi pun yang tinggal di Baitul Maqdis."
Kita tahu Baitul Maqdis adalah tempat suci bagi semua, baik Yahudi maupun kaum Muslimin.
Maka kemudian Umar berkata, "Siapa yang ingin jadi penduduk India, ingin tinggal di sini, bayarnya.
Yang pingin pergi, gabung dengan Romawi, silakan."
Umar kasih persyaratan dengan sekarang, "Pengin pergi, padahal sudah dikepung semua."
Artinya kalau Umar pembunuh mereka, suruh pasukan mereka, boleh-boleh saja, karena mereka.
Tapi Umar dengan tenang, "Yang mau tinggal di sini, tapi bayar sebagai bentuk kedudukan, silakan.
Yang pingin pergi, kabur menuju Romawi, silahkan."
Ya, sampai mereka pergi ke tempat yang aman.
Yang ingin tetap tinggal di sini, tetap tinggal, silakan, duduk di sini.
Kalau ingin pergi sama Romawi, silahkan.
Yang sudah dari luar, pingin tinggal di sini, silahkan.
Intinya, kemudian Umar dalam sebagai riwayat menyebutkan beberapa jiziyah terhadap mereka, dibeda-bedakan.
Yang orang kaya sekian dalam setahun, kalau nggak salah ada yang di Madinah, ada yang tiga dinar, ada yang tidak perlu bayar apa jiziyah.
Tidak bisa meratakan, tidak di sana ratakan.
Dan ini adalah bentuk ketundukan.
Setelah itu mereka bebas tinggal di situ, beribadah dengan ibadah mereka, gereja mereka tidak diganggu, salib-salib yang tidak dibiarin aja, ya, dibolehkan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu ta'ala.
Dengan syarat mereka, dan saya pernah sampaikan bahwasanya bukan kalau kita kaum Muslimin tak bayar namanya bayar zakat.
Ya, terkadang bisa jadi seorang kaya di antara kita bayar zakat lebih banyak daripada dinar yang mereka keluarkan.
Daripada yang mereka keluarkan, jadi jangan bilang ini aturan, ya, ini aturan menzalimi, tidak menzalimi.
Kalian punya kewajiban, orang Islam juga punya apa? Kewajiban.
Sama-sama yang tidak mampu juga, ya, enggak usah bayar, ada aturannya, tidak pukul rata, beda-beda.
Orang kaum Muslimin pun zakat penelitian tidak pukul rata, beda.
Orang yang punya harta banyak bayar zakat, dan seterusnya.
Kemudian Umar tanda tangan, Umar bin Khattab, "Syahida alazalik."
Maka yang menjadi saksi adalah Khalid bin Walid, Abdurrahman bin Auf, ya Allah yang nulis dan ikut hadir.
Abdullah, tahun 15 Hijriyah atau 636 Masehi.
Ketika Umar sedang menulis perjanjian tersebut, tiba-tiba datang waktu salat.
Maka datanglah salah satu pendeta atau salah satu pembesar Yerusalem berkata, "Wahai Umar, salatlah di sini."
Gereja namanya gereja Al-Qiyamah, tapi Umar tidak mau.
Umar beralasan, "Saya tidak mau salat di sini."
Umar beralasan juga berkata, "Salat tidak mau, saya kalau salat di sini, gereja kalian bisa jadi dikuasai oleh kaum Muslimin.
Mereka akan berdalih, Umar pernah salat, ini kita juga boleh salat di sini."
"Nggak usah lah, saya nggak mau salat di situ."
Dan yang tadi kabur dari Haji Nadine pergi ke Elia, akhirnya kabur lagi, pergi ke Mesir.
Nanti Amr bin Al-As pun kejar dia sampai dia kabur lagi, akhirnya dia mati.
Tapi nanti belakangan ceritanya disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah.
Ketika tiba waktu salat subuh, ya, salat subuh, besok keesokan harinya, keesokan harinya salat subuh.
Maka akhirnya Umar bin Khattab pun masuk ke Masjidil Aqsa.
Disebutkan ketika beliau masuk di Masjidil Aqsa, setelah tadi, setelah perjanjian, beliau masuk ke Masjidil Aqsa.
Ada yang mengatakan, "Umar, begitu dia mengatakan, 'Lebih baik Allahumma Labbaik, Alhamdulillah.'"
Besoknya, kemudian tadi di salat tahiyatul masjid.
Kemudian besoknya beliau salat subuh, beliau baca surat, rakaat pertama surat Shad, panjang suratnya.
Di antara isi surat ada kisah Nabi Daud dan Nabi apa? Sulaiman dan Baitul Maqdis terkait dengan Nabi Daud dan Nabi.
Kemudian rakaat kedua beliau baca surat Bani Israil, Al-Isra, juga sangat panjang.
Salat di situ tentang namanya juga surat Bani Israil, surat Bani, kisah Isra Mi'raj Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, yang Nabi Mikraj dari Baitul Maqdis.
Baitul Maqdis.
Kemudian beliau datang ke sahrah, yaitu batu, batu yang disucikan oleh orang-orang Yahudi, yang dianggap kiblat oleh orang Yahudi.
Ini bidah yang mereka lakukan, mereka kalau beribadah menghadap sahrah.
Ya, yang sekarang dibangun di atasnya masjid yang ada kuning itu, namanya Masjid Sakra.
Itu ada, itu kiblatnya orang-orang Yahudi.
Maka Abdullah berkasih tahu, itulah Tempat ambil Akbar, adalah seorang yang di zaman Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, dia Yahudi, kemudian dia masuk Islam.
Setelah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam wafat, ada yang mengatakan ini umat Islam di zaman Khalifah Umar bin Khattab, tapi dia Yahudi, dan dia mendapati zamannya Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.
Dia masuk Islam belakangan.
Maka kata-kata bin Akbar Al-Akbar, ya, Umar bikin aja masjid di belakang sahroh, di belakang batu.
Maka Umar mengatakan, "Tidak, kalau kau bikin masjid di belakang sini, tanda pelebaran masjid kita akan menghadap apa? Batu."
Kalau sudah menghadap batu seperti orang-orang Yahudi yang menganggap batu tersebut sebagai kiblat, ya, tetapi apa namanya, beliau membikin, beliau ingin salat bukan di situ.
Atau mohon maaf, mereka tidak salat di belakang Bab salat setelah apa? Setelah batu.
Di mana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam salat di Baitul Maqdis atau di Masjid Aqsa.
[Musik]
Kemudian Umar bin Khattab radiallahu anhu menghilangkan pasir-pasir atau kotoran-kotoran yang ada di, disebutkan dahulu orang Romawi, orang-orang Romawi tidak suka dengan batu tersebut.
Karena itu adalah kiblatnya orang Yahudi, sampai mereka buang sampah di situ.
Mereka buang sampah di situ, membuang kain pembersih yang sudah membersihkan haid, buang di situ.
Karena jengkel dengan apa? Orang Yahudi, karena orang Yahudi dulu juga bikin seperti itu.
Orang Yahudi juga melakukan perbuatan yang sama, suatu areal namanya Al-Kumamah.
Jadi itu menurut orang Yahudi, mereka telah menyalip Nabi Isa di situ.
Tempat itu, tempat disalibnya Nabi Isa, sehingga mereka buang sampah juga di situ untuk menghinakan orang-orang.
Karena mereka anggap Isa adalah anak zina, bukan nabi.
Maka setelah mereka salib, padahal bukan nabi yang disalib, ya, tidak pernah membunuh Nabi Isa.
Mereka tidak pernah menjadi Nabi Isa, tapi ada orang yang disamakan dengan Nabi Isa, tidak pernah yakin membunuh Nabi Isa.
Allah angkat Nabi Isa, ada orang yang diserupakan nabi yang dibunuh.
Tempat salib tersebut, mereka juga buang sampah di situ.
Ketika orang Yahudi berkuasa, maka orang Nasrani jengkel, kiblat mereka dikotorin oleh mereka.
Inilah apa namanya kisah penaklukan Baitul Maqdis.
Dan akhirnya setelah itu Baitul Maqdis dikuasai oleh kaum Muslimin, kemudian bergantian para pemimpinnya dari kaum Muslimin dan orang-orang Nasrani.
Kemudian disikapi dengan sangat baik, sebagaimana dari zaman Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, tidak dizalimi dan yang lainnya dengan kelembutan.
Sampai akhirnya terjadi perang salib, orang Nasrani dari Eropa pun datang, kemudian menaklukkan Baitul Maqdis pada tahun 493 Hijriyah.
Berapa tahun setelahnya? Tahun 15 sampai 1993, berarti 480-an lebih tahun kemudian, 480-an, 470, ya, sekian.
Ya, kemudian tahun, kemudian Baitul Maqdis dikuasai oleh orang-orang, kemudian akhirnya tahun 583, Salahuddin Al-Ayyubi, kemudian menaklukan lagi Baitul Maqdis.
Dan sekarang di tangan siapa? Tangan Yahudi.
Baik, demikian saja yang bisa disampaikan.
Insyaallah pada pertemuan berikutnya kita akan bahas tentang penaklukan kota Mesir oleh Amr bin Al-As radhiyallahu ta'ala anhu.
Demikian saja kajian kita, Insyaallah kita lanjutkan pada kesempatan berikutnya.