Transcription
Ya, oke, Teman-teman. Jadi, seperti yang sudah dijanjikan, gua bakal bikin video yang ditujukan untuk, hopefully, dosen-dosen DKV di kampus-kampus di Indonesia yang, em, gua percaya dengan intensi baik membawa atau nge-push AI eh untuk digunakan oleh mahasiswa-mahasiswanya. Oke. Eh, dan gua akan menjelaskan beberapa argumen kenapa gua pikir itu bukan ide yang bagus. At least untuk teach awal seorang studen atau murid atau mahasiswa dalam masa dia belajar dan bagaimana hal itu dapat berdampak buruk dan bahkan sangat detrimental terhadap pertumbuhan seorang calon praktisi nantinya, ya kan?
Sebelum gua masuk ke videonya, gua mau ngomong dulu, ee, kalau misalnya dosen-dosen ada yang nonton ini, ee, saya, ee, juga dulu mahasiswa DKV dan tujuan saya bikin video ini bukan untuk menjatuhkan atau bukan untuk apa ya, istilahnya kelahi gitu loh. Tujuan saya buat video ini adalah untuk bikin memantik diskusi. Mungkin dengan adanya video ini kita bisa diskusi juga, ada kolom komentar dan DM saya terbuka gitu. Tapi intinya karena banyak dari mereka tuh gelisah. Jujur aja, dengan maraknya penggunaan AI di kampus-kampus, ketika soal etics dan soal legalnya tuh belum jelas dan potensi displacement atau eh disrupsi pekerjaannya sangat tinggi. Jadi, bisa dipahami kenapa mahasiswa-mahasiswa itu banyak yang takut, banyak yang panik, dan banyak yang khawatir, ya. Jadi, ya, semoga video ini bisa sedikit mengeleviate hal itu dan mungkin bisa jadi pertimbangan untuk Bapak Ibu dosen sekali lagi. Oke, jadi kita mulai. Eh, ada beberapa argumen. Tapi sebelum kita masuk, kayaknya gua perlu cerita soal credentials gua dulu. Kenapa gua bikin video ini dan gua merasa bisa berkontribusi pada topik ini? Karena gua sudah bekerja di industri ini sejak, ee, belum selama itu sebenarnya. Gua baru profesional bekerja itu 2018 di studio yang namanya Polar Engine di Yogyakarta sebagai ilustrator waktu itu. Gua di situ 2 tahun, kita sempat ngerjain proyek eh Riot League of Legends yang Runtera. Lalu setelah itu gua keluar dan gua kerja di One Pixel Brush di perusahaan yang sekarang, sekarang udah 4 tahun lebih dan posisi gua sebagai konsep artis dan art director. Jadi, di situ gua udah pernah ngerjain project seperti Blue Beetle-nya DC Comics, filmnya ya, yang Sholo Marid-nya itu eh aktornya. Gua pernah juga ngerjain game Back for Blood, kalau kalian tahu yang gamer. Eh, gua juga ikut ngerjain konsep buat Off the Grid video game. Dan gua pernah terlibat juga di video klip eh sebagai konsep artis CPL XBTS yang My Universe. Pernah terlibat juga di Megan Stallion X2 Lipa yang Swedish Pi sebagai artor di departemen konsep art perusahaan kita, One Pixel Brush. Dan gua juga pernah terlibat eh di banyak produksi lain yang masih NDA atau di-cancel, because you know how how it goes, you know how Hollywood goes. Tapi supaya kita sama-sama paham kalau gua bicara dari tempat yang bisa dipertanggungjawabkan. Oke, jadi pertama, eh kenapa adaptasi AI di kampus-kampus desain komunikasi visual atau seni rupa atau grafic desain tuh hal yang menurut gua lumayan gagabah dan lumayan apa ya, lumayan reckless sebenarnya?
Karena satu, seperti yang udah gua sebutin di video sebelumnya, di episode pertama, yaitu edukasi itu sebenarnya kan harusnya dia menjadi ruang aman untuk eksperimen, untuk gagal, dan untuk belajar. Dan poin utama menurut gua ini, gua enggak ngomong dengan expert education manapun, tapi menurut hemat saya, poinnya adalah untuk struggling, berjuang untuk gagal, dan untuk iterasi dan lalu dikembangkan. Iterasi itu apa bahasa Indonesia? Iterasi itu perubahan atau apa sih? Gua, silakan dicari aja di KBPI, iterasi. Jadi, poinnya adalah gagal, berjuang, iterasi, dan dari situ kita mengembangkan atau improvement, ya. Jadi, bukan saatnya ketika kita masih belajar itu kita khawatir dengan seberapa cepat kita mengerjakan suatu tugas, seberapa murah kita mengerjakan suatu tugas, atau seberapa efektif kita mengerjakan suatu tugas. Karena poinnya belajar itu bukan untuk efektif, cepat, atau murah atau gimana. Kita sedang belajar. Kita bukan sedang ingin menaikkan harga saham untuk shareholder. Paham ya? Jadi, di sini, di sini yang fokusnya agak lumayan menurut gua agak bergeser, karena kalau misalnya kita dari sekarang udah fokus efisiensi, efisiensi, kita akan kehilangan kesempatan yang kesempatan belajar yang kita dapatkan kalau kita around, kita full around. Jadi, ketika dia lulus, dia akan menjadi manusia atau profesional yang lebih matang. Karena precisely dia enggak fokus untuk bagaimana dapetin nilai paling tinggi aja. Karena dia fokus bagaimana membangun dirinya sebagai manusia gitu loh, sebagai profesional. Jadi, gua enggak maong, enggak ngomongin jurusan lain, tapi khusus DKV dan seni rupa, ya. Nah, jadi kayak apa ya, belajar soal komposisi, color theory, lighting, proportion, dan storytelling before worrying about efficiency gitu. Sebelum lu khawatir dengan efisiensi. Dan menurut gua, pengajar atau sekolah yang bagus itu harusnya menegakkan disiplin melalui media-media yang sulit dan menantang gitu. Contohnya gimana? C, jadi kalau di Art Center, di salah satu sekolah seni, entertainment, desain paling baik di Amerika, paling mahal juga kayaknya itu. Gua enggak tahu masih apa sekarang. Masih masih apa enggak sekarang. Cuman menurut beberapa orang yang pernah kuliah di situ, ketika lu belajar mata kuliah melukis itu lu enggak langsung dikasih cat minyak, karena cat minyak lu bisa blending kan dengan, dan blending itu kan membuat ilusi kalau painting lu lebih bagus kan, sebenarnya enggak kan? Nah, instead of langsung dikasih cat minyak, lu dikasih gua. Kenapa gua? Karena gua itu less forgiving gitu. Dia lu salah dikit aja susah gitu. Jadi, semua goresan kuas itu harus dipikirkan. Nah, kenapa enggak langsung minyak? Kenapa guas yang sulit yang harus dipikirkan dulu? Ya, precisely karena lu enggak mau studen ini membangun habit yang jelek dengan dimudahkannya menggunakan cat minyak. Jadi, dengan medium yang sulit ini dia akan terbiasa memikirkan setiap langkahnya gitu ya. Jadi setiap stroke yang lu lakukan itu jadi lu mikir. Beda dengan kalau misalnya lu dengan medium lain, mulainya gitu ya.
Mengintroduce AI, kita enggak ngomongin masalah etics, legal, dan lain-lain ya. Again, itu bisa jadi video sendiri. Tapi menurut gua, dosen-dosen kalian mungkin yang nonton, dosen-dosen Anda-Anda juga pasti maksudnya baik kan ke mahasiswa kan? Kalau misalnya mahasiswa ini harus disiapkan dengan tantangan ke depan, tapi menurut gua mengadaptasi ini secara masif dan cepat itu bukan strategi yang bagus. Boleh lu kasih tahu supaya tahu aja kalau ada ini. Karena agak kurang bertanggung jawab juga kalau misalnya kita punya hal yang mengancam, merubah industri yang akan mereka masuki itu, tapi kita enggak kasih tahu. Itu enggak bertanggung jawab menurut gua. Tapi enggak bertanggung jawab juga kalau misalnya kita mengadopsi dan memasukkan itu ke dalam ke dalam kurikulum dan kayak nyodorin itu tanpa mikir panjang atau memikirkan secara fundamental nih, apa sih yang lagi kita lakukan gitu. Jadi, dua-duanya ini reckless sebenarnya ya.
Dan argumen kedua, biarkan apa ya, gua berikan analogi ya. Jadi, eh bayangkan lu adalah seorang murid dari seorang pembuat jam tangan yang sangat ahli, pembuat jam tangan terbaik di kota gitu. Dan si master watchmaker, si guru lu ini udah spending berdekade-dekade cuma belajar bikin jam tangan mekanik gitu loh, dan dia udah paham semua komponen jam tangan dan bisa bikin dari nol, saking jagonya ya, gear pair-nya, balance wheel-nya, dan berkat knowledge ini ya, dia punya kemampuan untuk bikin jam-jam dengan bentuk yang aneh-aneh, dengan fungsi yang aneh-aneh, dan dia bisa ngambil mekanik jam itu dan bikin hal lain yang bukan jam gitu, misalnya bikin bikin automaton pakai mekanik jam gitu. Dia bisa mengambil ini dan berinovasi dan nge-push itu, saking pahamnya ya, dia tahu apa yang bisa dikurangin, apa yang bisa ditambahin, apa yang bisa diefisiensikan gitu, karena dia sudah tahu luar dalam, dia bisa berinovasi. Nah, sekarang sebagai murid ya, yang mungkin lu baru belajar setahun lalu, datang orang baru ke kota, "Hei, kita sekarang punya mesin untuk membuat mekanik jam tanpa perlu kamu pikirin. Kamu tinggal suruh aja nanti dia akan kasih lima alternatif. Kamu bisa pilih ya. Dan wah ini breakthrough dong, ini terobosan gitu. Wah, kita enggak perlu lagi nih pusing-pusing mikirin mekaniknya sekarang. Watch making is accessible now. Proses pembuatan jam sekarang sangat accessible gitu. Ini good news mungkin kan? Tapi setelah itu lu menyadari kalau misalnya output mesin ini enggak konsisten, dia memberikan lu mekanik yang sangat intricate dan berjalan, tapi lu harus nyuruh dia berkali-kali untuk bisa ngeluarin mekanik yang lu mau ya. Dan tanpa pengetahuan bagaimana cara bikin jam dari nol, lu enggak bisa ngebenerin output yang dia bikin nih dari mesin ini. Misalnya mesin ini bikin output A ya, output A ini sebenarnya udah udah dekat dengan visi lu gitu loh, udah dekat banget nih. Tinggal dibenerin dikit udah sesuai visi lu. Tapi lu enggak bisa karena lu enggak punya knowledge untuk bikin jam dari nol-nya gitu ya. Paham ya? Dan ketika lu mencoba berinovasi dan nge-push si hasil dari mesin ini, lu nabrak tembok karena lu enggak paham mekanik di balik bagian-bagian yang sudah digenerate ini gitu. Ini kenapa ada per ini di sini, kenapa ada besi ini di sini, ini buat apa itu lu enggak paham. Jadi, lu enggak bisa nge-push dan lu enggak bisa benerin ya. Dan misalnya keadaan dibalik sekarang, guru lu, si master watchmaker ini yang punya mesin ini, yang udah paham watchmaking luar dalam, proses membuat jam. Kalau dia yang pakai, karena dia sudah paham luar dalam ini, dia jadi kayak punya karyawan yang bikinin buat dia aja gitu loh. Dia tinggal nyuruh visinya sebagai seorang jam tangan master untuk eh kamu bikinin bagian ini nanti yang bagian ininya saya aja gitu. Jadinya seperti itu. Tapi ketika lu enggak punya knowledge ini, jadi kayak orang buta menuntun orang buta gitu loh ya. Jadi, efeknya berbeda untuk orang yang belum initiated. Efeknya akan membuat kagum secara sesaat, namun dia nabrak tembok. Tapi untuk orang yang sudah punya fundamental dan sudah punya necessary knowledge ini akan jadi rocket fuel. Ini akan jadi bahan bakar roket dan produktivitasnya akan meningkat tajam gitu ya. Itulah kenapa di argumen pertama gua sangat memfokuskan ke eksperimentasi dan lain-lain dan memahami secara fundamental. Karena you know, semoga analogi ini tuh bisa tersampaikan ya.
Nah, ketiga, gua mau kasih beberapa anekdot sebagai eh art director dan konsep artis. Jadi, kalau di kantor sebenarnya gua enggak terlibat dengan proses hiring, tapi bos gua selalu ngirimin potensial-potensial anak-anak baru yang bisa direkrut ke kami. Art director waktu itu ada tiga orang ya, dan kami bisa kasih pendapat gitu, dan wah portfolio ini jago-jago gitu, bagus-bagus. Tapi ketika di-hire itu jarang yang bisa, ketika dia dimasukkan ke dalam situasi pekerjaan asli, jarang yang deliver dari 20 mungkin 5 aja gitu. Kenapa itu? Jadi, karena kalau di konsep art itu kan sekarang kita sudah moving ke 3D ya, banyak banget ya penggunaan 3D dan 3D itu seperti yang kalian tahu, banyak banget lu bisa beli aset, lu bisa download aset secara gratis dan lain-lain. Dan yang gagal ini biasanya portfolionya sangat cantik, cinematic, polished, everything you know, you would hire this guy gitu kan? Tapi ketika dia dihadapkan dengan situasi pekerjaan asli, dia enggak bisa deliver. Kenapa? Karena portfolio yang cantik-cantik ini tuh didasarkan pada aset-aset yang dia beli gitu. Jadi, kalau dan jadinya dia bekerja di dalam kungkungan aset itu. Kalau misalnya aset itu adalah temanya posta apokaliptik Uni Soviet, maka itulah tema yang dia buat gitu, dan dia enggak bisa keluar dari situ. Oke, bangunan ini kelihatan bagus kalau lu taruh di tengah komposisi, tapi lu enggak tahu apa yang bikin bangunan ini bagus. Lu cuma tahu kalau ini bagus dan lu taruh gitu ya. Dan karena mereka enggak terbiasa untuk nge-build sesuatu dari nol dengan cara yang sulit dan enggak paham fundamentalnya, karena mereka langsung skip pakai 3D tanpa belajar gambar. Ya, gua ulangi. Mereka skip pakai 3D langsung. Enggak pernah belajar gambar, enggak pernah belajar desain, enggak pernah belajar sketching dan lain-lain. Langsung bikin portfolio yang shiny, di-hire. Ketika dapat job, gagal. Itu karena mereka enggak punya fundamentality. Dan ketika diberikan pekerjaan, situasi di pekerjaan itu enggak seterkontrol kalau lu bikin personal work gitu. Kalau lu bikin personal work, lu bisa bebas bikin apa aja yang lu mau. Tapi pekerjaan biasanya mengharuskan seseorang untuk membuat sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Khususnya di konsep art ya, karena kita kan fokusnya desain. Nah, apa yang terjadi kalau misalnya enggak ada aset yang bisa lu beli, enggak ada aset yang bisa lu download untuk buat sesuatu yang supaya bisa lu memuaskan klien untuk tugas ini gitu? Apa yang terjadi kalau lu punya fundamental? Lu bisa bikin dari nol atau lu bisa beli aset dan lu modifikasi supaya sesuai dengan kemauan lu. Karena lu tahu kenapa aset ini bekerja, kenapa aset ini bagus dan lu bisa break down dan rebuild lagi dan dengan apa ya, nilai estetik yang relatif sama gitu atau lebih baik ya, kalau lu punya fundamental. Kalau lu enggak punya, lu bingung sendiri. Jadi, ketika mereka ditugaskan untuk mendesain sesuatu yang baru yang belum ada, mereka struggling karena prosesnya mereka selalu relying on existing assets dan existing tools. Oke. Dan AI ini menurut gua versi ultimate dari masalah ini, karena bukan hanya aset, semua prosesnya diotomatisasi. Lu tinggal ngetik dan lu terceraikan dengan proses yang harusnya membuat lu tuh berkembang sebagai praktisi dan sebagai manusia gitu loh. Oke, kita bisa bicara kalau misalnya lu sudah jadi praktisi, lu akan fokus ke efisiensi dan lu menggunakan AI dan ketika masalah AI legalnya sudah clear, mungkin lu akan pakai. It's ok, it's a job. Ini pekerjaan ya, ini bukan belajar. Tapi kalau kalau masih belajar, sekali lagi menurut gua enggak enggak bijak kalau kita harus menggunakan AI proses pembelajaran. Apalagi gua lihat satu tweet, ada dosen yang ee gambar mahasiswanya dimasukin ke AI untuk dipoles, lalu ditunjukin dan dibilang ini lebih bagus. Menurut gua, tanpa mengecilkan si dosen itu, pengajar yang baik ya harusnya enggak enggak fokus apa namanya ya, menggunakan tool dan menunjukkan bagaimana tool ini bisa mengembangkannya, tapi fokus ke memberitahu si mahasiswa ini, bagaimana kamu dengan daya otakmu bisa mengembangkan ini gitu loh. Betul. Ini gampang. Kalian bisa belajar AI dalam 2 jam. Banyak video di luar sana. Bayar dolar sebulan, tinggal ngetik keluar apa yang mau dipelajarin gitu loh. Itu mah gampang ya kan?
Nah, yang terakhir, ee enggak terakhir sih sebenarnya, ee gua mau eh address juga counter argumennya. Mungkin ya kalian nonton ini ya atau dosen punya kontra argumen. Tapi kan AI, kalau misalnya proses yang manualnya itu sudah dilewati, misalnya proses sulit, membosankannya kita skip, kita fokus ke bisa fokus ke proses kreatif itu, bikin ide gitu ya. Oke, itu benar, kalau misalnya proses yang membosankan yang sudah di- atau membosankan dalam tanda kutip yang sudah diotomatisasi oleh AI itu kita ambil atau kita skip, kita bisa fokus ke desain ya. Itu ada benarnya. Tapi untuk bisa mendesain dengan baik bukanlah Anda, bukankah Anda harus punya fundamental dulu gitu loh. Argumen ini hanya bekerja, hanya cocok bila dikatakan oleh praktisi. Argumen ini tidak cocok bila dikatakan oleh seorang yang sedang mengajar calon-calon praktisi gitu ya. Karena creative problem solving itu datang dari keterbatasan. You know, struggle leads to innovation. The progress of iteration, redrawing, revisiting, refining adalah yang membuat desainer-desainer yang kuat. Dan every designer worth their sold, you know, semua designer yang benar-benar jago yang dengar ini pasti akan setuju dengan gua kalau proses desain yang baik itu bukan nge-skip proses teknikal ya, tapi proses iterasinya justru yang paling yang paling fundamental itu dan lu enggak bisa menginterasi dengan baik tanpa kemampuan teknis yang memadai. Oke, jadi AI generated work itu hanya sebagus knowledge usernya, seperti senapan gitu. Lu mau punya AK47, kalau enggak bisa ngeker juga enggak kena gitu loh. Dan sekali lagi gua mau tekankan, gua enggak bicara soal ethics dan legal, karena itu bisa jadi video sendiri. Tapi menurut gua, tanpa kita bicara itu pun, menurut gua argumennya tidak cukup kuat untuk kita memasukkan serta-merta AI ke dalam kurikulum karena itu kesannya FOMO. Dan gua mau masuk ke poin selanjutnya, yaitu ini bukan proses adaptasi yang baik ya. Dan gua paham kenapa ee kurikulum AI dan lain-lain dimasukkan ke dalam kampus. Karena ini untuk adaptasi kan, mungkin kan? Iya, gua setuju mungkin kita harus beradaptasi gitu dan kita enggak bisa berdiam diri ketika ada sesuatu yang bisa merubah industri kita luar dalam. Tapi menurut gua, ee kalau misalnya adaptasi hanya kita artikan sebagai kita menggunakan hal baru ini secepatnya, itu agak sempit. Adaptasi itu bisa berarti memeriksa ee hal baru ini dan mencari tahu apa sih intinya, apa sih artinya alat ini gitu ketika dia muncul. Jadi, haruskah kita mengadaptasi atau haruskah kita ngelihat ke belakang dan ngelihat apa yang dilakukan alat ini atau apa yang enggak bisa dilakukan alat ini? Itu fundamental gitu loh. Jadi, adaptasi itu enggak harus selalu pakai. Adaptasi itu bisa juga menyiapkan mahasiswa karena nanti besok proses ini akan kekip. Alih-alih menggunakan AI di ruang kelas, buat kurikulum fundamental yang lebih kuat, cari pengajar yang lebih baik, belajar cara mengajar fundamental yang lebih baik supaya ketika mereka keluar ke industri dengan AI mereka punya knowledge yang cukup untuk tidak di-replace. Karena again, kalau kalian bilang ini hanya tool, maka itu menurut gua argumen yang kuat ya. Sama dengan tool lain. Kayak ada alasan kenapa banyak banget artis dari dekade-dekade yang lalu sampai sekarang masih kerja dan mereka cepat banget belajar tool baru. Dan ketika mereka belajar tool baru hasilnya langsung bagus ya, karena mereka udah punya fundamentalnya. Tool mah tool aja gitu. Jadi, again poinnya, AI itu berevolusi terlalu cepat dan hal yang lu pelajarin sekarang besok udah bisa enggak relevan lagi. Jadi, enggak ada gunanya untuk lu masukin kurikulum sekarang gitu ya. Dan belajar AI itu cepat, enggak butuh satu semester, 2 jam aja nonton video aja. Dan sekolah harusnya fokus ke doubling down fundamental, membangun substansi dari karya-karya mahasiswanya supaya bisa bersaing dengan proses yang semakin diotomatisasi. Ini harus diakui juga, banyak pendidik juga enggak tahu apa yang mereka ajarin gitu loh. Meaning, banyak pendidik yang tidak memahami secara fundamental field yang mereka ajar dan itu menurut gua masalah yang sangat besar. Tapi banyak juga pendidik-pendidik hebat, kayak dosen gua dulu, Pak Wandah, Bu Nina, itu menurut gua dosen yang salah satu, salah dua sih dosen yang paling berkontribusi di ee kehidupan kampus gua waktu itu dan ke proses belajar mengajarnya gitu. Jadi shoutout to Bu Nina dan Pak Wada, mereka suami istri BTW ya.
Jadi, ee kesimpulannya, ee apakah AI musuh? Netral. AI mah netralnya, enggak punya moral dia mah ya kan? Eh, tapi misuse-nya atau penyalahgunaannya di edukasi desain itu vinenya menurut gua. Dan jika murid-murid atau siswa-siswa tidak diajarkan fundamental dulu, AI hanya akan memproduksi generasi desainer atau ilustrator atau seniman yang hanya bisa menggunakan alat tapi enggak paham cara memasukkan substansi dalam karyanya. Dan masa depan desain itu bukan secara buta mengejar teknologi, tapi masa depan desain itu adalah dan has been mastering the core principles. Apa ya, menguasai prinsip-prinsip utama yang nantinya akan membiarkan artis untuk menggunakan alat apapun pada zaman apapun, termasuk AI dengan keahlian yang benar-benar mumpuni. Ya, jadi menurut gua, mari kita ambil langkah ke belakang dan kita pikir ulang sebenarnya cara kita menyiapkan murid kita atau mahasiswa kita untuk mengadaptasi terhadap ini tuh apakah harus seperti ini? Menurut gua enggak. Menurut gua kita harus mundur dan instead of ngejar sesuatu yang enggak bisa dikejar yang cepat banget bergeraknya, kita harusnya belajar sesuatu yang selalu akan relevan, yaitu pengetahuan fundamental dan penguasaan. Oke, jadi itu aja buat video ini. Eh, semoga poin-poin gua tersampaikan dengan baik dan gua enggak terlalu banyak rambling. Dan sampai jumpa di video selanjutnya. Hi.