📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

PENTING ‼️2 Surat Penghilang Kesulitan Ekonomi #ustadzadihidayat #ceramah #terbaru

Khodijah channel47:59

Transcription

Ya Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, aku bersumpah demi semua kebahagiaan dan kenikmatan yang engkau pernah raih, seperti merasakan kenikmatan cahaya Tuhan, dan mungkin persoalan hidup yang pelik yang membuat engkau merasakan kesulitan seakan-akan merasa di suasana gelap yang gulita. Tanamkan dalam jiwamu yang paling dalam, aku tidak akan pernah meninggalkan ini. Materinya dahsyat, ya. Penting sekali, saking pentingnya ini cepat habis. Itu lagi akhir kelihatan, ya.

Baik, yuk pelan-pelan. Jadi, turunnya Surah Ad-Duha dan Surah Al-Insyirah hikmahnya satu atau fungsinya satu: memberikan petunjuk bagaimana mengatasi satu persoalan sesulit apa pun, tapi masih dapat menghadapinya dengan keadaan yang tenang. Satu surah ini atau dua surah diturunkan untuk membimbing setiap hamba menuju kepada ketenangan hati. Dua, membangun kekuatan mental sehingga dalam situasi apa pun dia tetap kuat mengatasi berbagai persoalan kehidupan.

Nanti terapannya banyak. Di bisnis ada, nanti saya turunkan contohnya. Kadang-kadang ikut tender sudah bagus, sudah menang, tapi proyeknya diambil orang. Ada yang begitu, nanti ada ayatnya, ada nanti kita turunkan. Sudah siap-siap kan ingin melamar, ternyata keduluan orang, gitu kan. Siap-siap ingin dapat ini, mau lulus, ternyata nilainya tidak seperti yang diharapkan. Muncul, ada, selalu ada. Nanti kompleksitasnya banyak, tapi dua surah ini kalau kita bisa kuasai artinya dengan baik, pahami dengan benar, maka akan ada sesuatu yang beda yang terasa dalam jiwa kita dan kesiapan mengatasi setiap persoalan dalam kehidupan.

Yuk, kita baca dulu, ya, supaya dapat keberkahannya dari dua surah ini. Saya bacakan, Anda ikuti, ya. Auzubillahim [Musik] minasyaitanirrajim. Bismillahirrahmanirrahim. Wadduha. Wallaili idza saja. Ma wadda'aka rabbuka wama qala. Walal akhiratu Khairul laka Minal Ula. Walasaufa yu'tika rabbuka fatardha. Alam yajidka yatiman fa'awa. Wa wajadaka dan fahada. Wa wajadaka [Musik] na faammal yatima Fala tanhar. Wa [Musik] ammasaila Fala tanhar. Wa [Musik] tiikaaddittibikaad.

Baik, satu surah dua. Alhamdulillah, izin saya bacakan tadi untuk diikuti supaya setidaknya kalau kita pulang dan ditanya, "Bagaimana hidupmu engkau jalani? Seperti apa engkau berinteraksi dengan Quran yang telah Aku turunkan?" Maka kita pernah menjawab, "Ya Allah, kami pernah bacakan itu." Jangan pernah kita berkehidupan sampai wafat dan tidak pernah berinteraksi dengan Quran walaupun sekadar membacanya.

Wadduha. Aku bersumpah. Setiap huruf "wau" yang berada di awal kalimat di satu surah itu makna utamanya berarti sumpah, ya. Qasam. Sumpah sering kali diartikan demi, ya. Wal Asri, demi masa. Wal Fajri, demi waktu fajar. Wallaili, demi malam. Intinya sumpah. Sebentar, pelan-pelan. Kalau Allah menyampaikan sesuatu kepada kita, yakin tidak? Saya ulang, yakin tidak? Yakin? Serius? Hah? Kalau yakin, kenapa tidak dilakukan? Ya, itu pertanyaan besar, ya.

Baik, kalau Allah menyampaikan, tidak bersumpah pun harusnya kita yakin. Tapi kalau Allah bersumpah dalam kaidah ilmu tafsir, berarti ada sesuatu yang sangat penting yang saking pentingnya akan sangat dibutuhkan oleh setiap hamba sehingga diminta setiap hamba itu fokus menyimak apa yang mau disampaikan. Bahkan saking pentingnya menyimak itu, Allah bersumpah. Jelas? Kalau teman-teman menemukan di Quran ada ayat dibuka dengan sumpah, berarti ada kasih Allah yang tinggi yang akan disampaikan di ayat itu sampai meminta kita fokus untuk menyimaknya.

Ad-Duha. Untuk memudahkan maknanya, teman-teman, kalau waktu duha itu jam berapa, ya? Oke, sebetulnya dimulai sejak matahari itu mulai naik yang memantulkan, ya, atau menyinari cahayanya itu mulai terasa lembut, ya. Kalau misalnya kita ambil 1 jam setengah setelah Subuh, sekarang Subuh 04.30 lah, taruhlah 04.30, ya. 1 jam setengah berarti jam 6 kan? Nah, itu awal duha tuh. Awal duha sampai ke pertengahan kurang lebih 09.30, jam 10.00. Akhir duha jam 11.00 sampai menjelang ke Zuhur. Awal duhanya disebut dengan syuruk namanya. Syuruk. Jadi, syuruk itu awal duha.

Kalau sudah jam 08.00, ada cahaya matahari, ya. Enak tidak ke tubuh kita itu? Nyaman tidak jam 08.00? Enak tidak kalau berjemur? Ya, jam 09.00 enak, ya. Nah, ini kata kiasan dalam bahasa Arab. Kalau kita merasakan sesuatu yang enak, nyaman, memberikan manfaat yang banyak, itu orang Arab sering memberikan kiasan dengan waktu-waktu tertentu, di antaranya duha. Jadi, kalau kita menemukan kalimat duha, jangan langsung diartikan ke waktu duhanya. Boleh jadi yang diinginkan adalah makna di balik itu, yaitu semua kenikmatan dan kenyamanan yang didapatkan.

Cara mengartikan ini, "Wadduha, Aku bersumpah," kata Allah, "Ya Muhammad, demi semua kenikmatan yang kau rasakan dalam hidup, seperti engkau merasakan kenikmatan cahaya duha itu." Jelas. "Wallaili idza saja." Dan Aku bersumpah, "Allail." Lail itu apa? Malam. Malam. Baik. Lail turunannya layali, jamaknya Lela Lili Lala itu malam. Jadi, kalau ada Ibu Leli, Ibu malam-malam, ya. Alail. Oke. Lail itu malam. Malam gelap tidak? Gelap. Tapi kalau gelapnya gulita, tidak ada cahayanya, gelap betul, gitu. Gelap, ya. Misalnya sedang kita dapati misalnya satu momentum padam lampu, padam semua, dan pas gerhana, gelap sekali. Nah, itu bahasa Arabnya disebut dengan saja namanya, ya. Saja. "Wallaili idza saja." Dan malam apabila telah gulita.

Zaman Nabi kan tidak ada lampu, ya. Belum ada PLN, ya, dan seterusnya. Jadi, gelapnya betul-betul gelap. Saya mau tanya sebentar. Biasanya kalau situasi gelap itu mudah tidak menemukan benda tertentu? Mudah melangkah? Mudah atau sulit? Sulit. Tidak mudah untuk dilakukan, kan? Dalam bahasa Arab, kalau kita ingin mengungkapkan satu kegamangan yang luar biasa sampai kita merasakan gelap dan sulit melangkah, bukan hanya karena tidak ada cahaya, mungkin karena ada pekerjaan tertentu yang menyulitkan, masalah tertentu yang menyulitkan sehingga merasa seakan-akan kita itu gelap. Makan tidak enak, melangkah susah. Pernah tidak merasakan situasi yang saking beratnya satu beban itu seakan-akan makan tidak mau, melangkahnya berat, ada vertigo kadang-kadang, pusing? Pernah merasakan itu? Itu bahasa Arabnya "Wallaili idza saja."

Perhatikan kalimatnya, "Ya Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, Aku bersumpah demi semua kebahagiaan dan kenikmatan yang engkau pernah raih, seperti merasakan kenikmatan cahaya Tuhan, dan mungkin persoalan hidup yang pelik yang membuat engkau merasakan kesulitan seakan-akan merasa di suasana gelap yang gulita." "Ma wadda'aka rabbuka wama qala." Tanamkan dalam jiwamu yang paling dalam, "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."

Ada suami pulang dari pekerjaan mendapati istri sedang termenung dan mengalir air matanya. Tiba-tiba suaminya datang mengatakan hangat sekali pada istrinya, di sampingnya, membelainya, dan mengatakan, "Ma, demi semua suka yang pernah kita lalui bersama dan demi duka yang mengalirkan air matamu saat ini pun, tanamkan dalam hatimu yang paling dalam, Papa akan selalu bersama Mama dalam setiap situasi." Itu kira-kira para ibu merasakan itu bagaimana perasaannya? Masa sih? Tapi itu menarik, loh. Menarik, ya.

Jadi, kalau teman-teman mengaji Surat Yusuf, di Surat Yusuf itu laki-laki diilustrasikan dengan matahari, perempuan diilustrasikan dengan rembulan, ya. "Inni ra'aitu ahada asyara kawkaban wasy-syamsa wal-qamara ra'aituhum li sajidin." Ayah, aku melihat bulan dan matahari serta 11 gemintang sujud hormat kepadaku. Jadi, matahari diartikan itu sebagai laki-laki, suami, ayah. Kenapa disebut matahari diilustrasi? Ya, matahari itu kan menyengat dengan kuat. Kalau kita menjemur, mengeringkan pakaian, melindungi. Tipikal suami itu melindungi. Ada yang ganggu istri, sengat dengan kuat. Ada air mata yang mengalir, "Hei, keringkan itu!" Sehingga tidak larut air mata mengalir di pipinya. Itu matahari.

Sebaliknya, rembulan. Rembulan itu kan enak dipandang. Bukan bulannya, ya. Bukan bulannya, kalau bulannya kan desainnya tidak sempurna. Baik, terlihat, tapi cahaya rembulannya tampil dengan indah, tampil dengan baik, enak dipandang, menenangkan, dan tidak tertukar. Jangan sampai ada istri jadi matahari, suami jadi rembulan. Jelas, ya. Dengan kekuatan bulan aku menghukummu, ya kan. Itu. Oke, tahan sampai sini. Tahan, lihat baik-baik.

Saya berhenti sampai sini dulu. Kalau di Quran ada ayat menyebutkan tidak spesifik orang yang disebutkan dan kapan kejadiannya, maka peristiwa itu akan terjadi dan dialami oleh kemungkinan generasi berbeda di setiap masa dengan tokoh berbeda, tapi perasaan yang serupa. Sebaliknya, kalau disebutkan namanya jelas identitasnya, kapan kejadiannya, maka peristiwa itu hanya akan menimpa orang tersebut dan tidak akan dialami lagi orang lain setelahnya.

Saya tanya dulu yang akhwat, yang perempuan. Kenal Maryam? Kenal. Bagus. Kenal di mana? Maryam anaknya Imran, mengandung, melahirkan, melahirkan Isa alaihissalam, Yesus. Murni tanpa disentuh laki-laki mana pun. Dan di Quran identitasnya disebutkan langsung, "Maryam binti Imran wa umma Imran." Ini menunjukkan kesan bahwa yang mengandung dan melahirkan tanpa disentuh laki-laki mana pun itu hanya Maryam anaknya Imran. Ingat, ya. Mengandung, melahirkan tanpa disentuh laki-laki mana pun, bukan mengandung, melahirkan tanpa suami. Kalau itu banyak, ya. Mengandung, melahirkan tanpa disentuh laki-laki mana pun hanya Maryam binti Imran.

Tapi kalau tidak disebutkan siapa orangnya, kapan kejadiannya, tidak detail disebutkan, ini artinya situasi itu akan dialami kembali oleh orang di masa depan dengan generasi yang berbeda, tapi substansi yang sama. Pertanyaannya, pernahkah kita mengalami situasi yang sulit sampai seakan merasa gelap? Ah, baik. Maka adab yang pertama jika mengalami situasi seberat apa pun dalam berkehidupan akan dekati Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ini awalnya, dekati Allah. Apalagi kalau ada yang mengatakan, "Ini tidak mungkin, ini tidak akan terjadi, ini tidak bisa." Kalau sudah ada tanda seperti itu, itu tanda langsung dari Allah supaya Anda diminta langsung mendekat kepada Allah dan tinggalkan semua makhluk. Karena Allah hanya akan mengabulkan langsung kepada Anda tanpa perantara siapa pun.

Itu yang terjadi pada Nabi Zakaria. "Ini tidak mungkin, ini mustahil." Maka beliau langsung memohon kepada Allah dan langsung menyebutkan, "Ya Allah, saya minta dari-Mu saja, tidak dari yang lain." Maka dikabulkan seketika. Jadi, yang pertama, jika punya kesulitan sebesar apa pun, seberat apa pun, cepat dekati Allah. Maka di situ akan dijawab langsung oleh Allah, "Ma wadda'aka rabbuka wama qala." Hambaku, sepanjang engkau mendekat kepada-Ku, maka yakinkan dalam dirimu, situasi apa pun yang kau rasakan, Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Sudah, satu paham sampai sini? Oke, pelan-pelan, ya. Saya belum bicara caranya, saya baru bicara di awal motivasinya. Dekati Allah dulu, nanti caranya didetailkan di Surah Al-Insyirah.

Teruskan, "Ma wadda'aka rabbuka wama qala. Walal akhiratu Khairul laka Minal Ula." Perhatikan, "Hei, seberat-berat bebanmu saat ini, ingat satu saat akan tuntas dan ini pun ujian. Kalau sudah meninggal, tidak ada ujian lagi. Dan nanti kehidupan yang sekarang, apa pun yang engkau pertentangkan, perdebatkan, perselisihkan, itu semua akan ditinggalkan." Jadi, ternyata Allah mengungkap hakikat kehidupan dunia. Apa pun yang diperselisihkan itu unik, ya. Orang berselisih pada yang akan ditinggalkan. Aneh tidak? Ada orang berebut makanan, ya kan, sampai berkelahi dan sebagainya. Pada akhirnya makanan yang diperebutkan itu pun akan ditinggalkan. Yang ini meninggal, itu meninggal. Jadi, memperebutkan sesuatu yang pada akhirnya akan berakhir.

Kata Allah, Allah sampaikan, jika Anda mengalami situasi sesuatu yang mungkin membuat berat, tanamkan pada jiwa kita, "Hei, yang aku kejar-kejar ini boleh jadi aku akan tinggalkan juga. Kenapa aku harus menangisi dan larut pada sesuatu yang tidak abadi?" Maka Allah hibur kita dengan mengatakan, "Kamu tenangkan diri dulu. Semua yang kamu pikirkan sampai membuat kamu berat begini, pada akhirnya kamu tinggalkan. Dan yang abadi itu akhirat." "Walal akhiratu Khairul laka Minal Ula." Dua, pelan-pelan. Sikapi setiap masalah dengan proporsional. Jangan terlalu larut dalam sesuatu. Dapat job satu, ingin dahsyat, siap, kontraknya besar, tiba-tiba hilang. Dipikirin. Anda memikirkan itu pun tidak akan balik. Proporsional saja dulu, ya. Nanti caranya akan turun nanti di Al-Insyirah.

Tenangkan diri dulu. Prasangka baik kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Boleh jadi apa yang Allah ingin berikan sebagai pendahuluan sekarang belum sampai kepada kita karena Allah menyiapkan yang lebih baik di balik itu. Kita belum tahu ada apa di balik itu sehingga kita tidak dapatkan itu. Sehingga kemudian Allah katakan, "Walal akhiratu Khairul laka Minal Ula." Teruskan pelan-pelan. Orang yang punya sikap seperti ini itu cenderung lebih dekat mendapatkan rida Allah dibandingkan dengan orang-orang yang larut dalam kesulitan. Orang yang move on dengan setiap persoalan dalam kehidupan, cepat berpikir secara proporsional, tidak menggantungkan hidupnya pada persoalan tertentu sehingga membuat dia menjadi beban, itu lebih mendekatkan dirinya kepada rida Allah dibandingkan dengan orang yang meratapi persoalan hidupnya.

Ya, pelan-pelan. Jadi, spiritnya kalau punya masalah apa pun, jangan dilarutin terus, tidak usah diratapi. Cepat move on, berpikir lagi, rencanakan lagi. Nanti detailnya ada di Al-Insyirah. Tapi poin besarnya, janji Allah mengatakan, kalau Anda bisa move on, proporsional, maka yang dijanjikan oleh Allah di situ, Allah percepat datangnya rida Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kalau rida Allah sudah datang, maka akan dua yang diberikan: pertama kali ketenangan di dalam jiwa, dan yang kedua kemampuan untuk berikhtiar lebih baik mencapai apa yang diinginkan.

Satu, kalau rida Allah sudah diberikan pada seorang hamba, yang pertama diberikan ketenangan dalam jiwa. Bukan dunianya dulu, bukan apa yang Anda ingin harapkan dulu. Ingin sesuatu, ya. Ingin materi, ingin kedudukan, ingin lulus anaknya ujian, kan. Tiba-tiba terjadi sesuatu, diratapin. Alih-alih meratap, alih-alih membuat status, alih-alih menyulitkan diri, kata Allah, "Terima dulu, proporsional. Setelah itu, dekatkan diri kepada Allah. Turun rida Allah." Begitu turun, yang pertama diberikan ketenangan kepada hati. Tenang dulu. Kalau sudah tenang, nanti dibimbing menyelesaikan apa yang sedang dihadapi itu. Itu poin yang ketiga.

Pelan-pelan, empat. Kita masuk ke detail sekarang. Perhatikan baik-baik, ini yang paling menarik. "Alam yajidka yatiman." Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, "Bukankah dulu engkau yatim? Punya banyak masalah, Aku selesaikan juga. Ayahmu meninggal sebelum lahir, ada ibu, ibu meninggal, ada kakek, kakek meninggal, ada paman, ya kan. Ada teman yang menemani Sayyidah Khadijah, teman yang setia, semua kebutuhan tersedia." Artinya, Pak, perhatikan baik-baik. Kalau Anda punya masalah sekarang, jangan sampai melupakan yang dulu-dulu pun pernah tuntas Allah selesaikan. Jadi, kalau sekarang sedang punya persoalan, jangan sampai satu masalah ini membuat Anda kehilangan harapan dan kehidupan, sementara Anda sadar dulu pun banyak masalah kok selesai juga. Kenapa dengan yang satu ini kita harus jatuh?

Sekarang usia berapa? 20, 30, 40, 50. Sekarang usia 50 tahun, ada masalah baru 5 menit datang, sudah merasa jatuh. Yang 50 tahun ke belakang yang banyak selesai itu kita nilai atau tidak? Maka kata Allah, "Seperti yang dulu pernah Aku selesaikan ribuan masalah itu, yang sekarang pun mudah Aku tuntaskan." Jelas? Nah, secara psikologi, orang-orang yang selalu bertindak seperti itu itu akan selalu punya harapan lebih tinggi untuk menyelesaikan persoalannya. Kalau sedang punya masalah, pikirkan yang dulu juga selesai, masa yang sekarang tidak selesai? Itu prinsipnya secara psikologis demikian. Jelas, ya.

Muhammad, dulu engkau pernah mengalami, melihat masyarakatmu banyak berbuat yang tidak baik. Aku berikan petunjuk. Kuncinya "fahada" di situ. Orang yang punya motivasi kuat dan keyakinan untuk bisa menyelesaikan persoalannya, maka dia akan lebih cepat mendapatkan petunjuk Allah untuk mendapatkan solusi terbaik. Ada sini, saya agak cepat, ya, mohon izin. Bahkan, maaf, bukan sekadar selesai. Kalau perlu, saya bikin kaya, kata Allah. "Ail." Itu kalau ilmu, ilmunya luas. Kalau harta, hartanya banyak. Kalau kedudukan, kedudukannya tinggi. "Hei, engkau yang sedang mengejar kedudukan, Aku tahan sebentar karena ada yang tidak bagus untukmu di sini. Tapi kalau kamu terima, Aku angkat itu lebih daripada apa yang kamu harapkan. Kamu inginnya bintang dua, Aku naikkan sampai bintang empat kalau perlu sekalian."

"Hei, kamu yang ingin kampus di sini, Aku tahan. Bahasa kamu tidak lulus, kamu nangis, kamu mengadu, kamu datang pada orang tuamu. Orang tua mulai protes, mulai curhat macam-macam. Terima dulu. Mungkin di sini ada yang tidak baik, seperti doa ibumu yang sering memohon, 'Ya Allah, jangan sampai anakku berbuat yang salah, jangan sampai terjebak narkoba, jangan sampai terbawa tawuran.' Di sini ada yang kurang tepat untukmu. Kalau kamu rida, kamu terima, kamu proporsional, bahkan Aku pindahkan ke kampus yang lebih baik yang tidak kamu bayangkan sebelumnya." Jadi, orang-orang yang selalu menerima apa yang Allah ujikan dan rida dengan itu, maka Allah akan angkat derajatnya bahkan melebihi ekspektasi dirinya. Paham?

Kalau sudah seperti itu, maka lihat ujung ayatnya. Lihat ujung ayatnya. "Hei, maka jangan pelit berbagi kepada orang lain. Share. Kalau sudah sukses, share, berbagi. Bukan hanya materi, bagi ilmunya, ya. Bagi kebahagiaannya. Jangan sampai nunggu orang minta. Kalau lihat ada kawan yang butuh, sekarang Anda sukses, tapi boleh jadi kesuksesan Anda itu tangganya dari teman-teman Anda. Kalau sudah teraih ke atas, lihat lagi anak tangganya ke bawah. Ajak teman, jangan ditunggu minta. Ajak, bawa dia, berikan peluang. Jangan sampai dia minta, apalagi Anda bentak-bentak, 'Aku kan yang dulu bantu kamu.' Jangan sampai keluar kata-kata itu. 'Kamu bisa naik di atas karena aku kan yang dulu bantu kamu. Kamu bisa jadi pemeran utama karena aku yang rekomendasikan, karena aku yang dorong kamu,' misal. Jangan sampai keluar kata-kata itu, apalagi langsung keluar, 'Tidak, ini karena ilmuku saja,' misalnya."

Kalau itu bisa dilakukan dengan baik, lihat ujungnya, "Wa Amma binikmati rabbika fahaddits." Maka semua nikmat yang dirasakan akan mudah untuk diimplementasikan dan disyukuri. Jadi, semua nikmat itu bukan cuma dirasakan. Jadi, membagi semua nikmat itu adalah rasa terbaik untuk menikmatinya. Maaf, ya. Anda kalau punya makanan, dimakan sendiri dengan dibagi sama-sama, kira-kira rasa nyamannya yang pertama atau yang kedua? Kedua. Makan sendiri, enaknya sendiri, kan? Tapi ketika ada teman berbagi dan tahu, "Oh, enak, ya, nyaman, ya." Ada kebahagiaan, ada ngobrol, ada tertawa, ada kebersamaan. Itulah inti nikmat yang sesungguhnya.

"Wa Amma binikmati rabbika." Ternyata masalah yang diberikan bukan ingin memberikan beban, tapi ujungnya, endingnya, supaya Anda bisa mendapatkan nikmat berkualitas yang bisa dibagi. Lihat Surah Ad-Duha tuh. Jangan cuma lihat awalnya, lihat ujungnya. Ternyata ketika seseorang mendapat masalah seberat apa pun, itu bukan ingin membebani, tapi ingin meningkatkan kualitas hidupnya supaya mendapatkan nikmat yang lebih besar dan merasakan nikmatnya itu dengan berbagi. Itu poin.

Ah, ini kalau sampai sini kita paham dan kita beri nama misalnya dengan fikih ujian. Jadi, kalau desain ujian ini sistematikanya kita pahami, maka tidak ada alasan untuk mengeluhkan persoalan. Jadi, melihat masalah itu bukan sebagai beban, pada akhirnya melihatnya sebagai tangga untuk mencapai kebahagiaan. Jelas sampai sini? Baik. Kalau sudah seperti ini, ingin punya masalah atau tidak? Ingin punya masalah tidak? Tidak. Ingat, ya. Jadi, kalau anak pulang bawa masalah, dilihatnya jangan beban. "Oh, Allah ingin menaikkan kualitas pada anak saya yang dengan itu menjadikan ia mendapatkan nikmat yang belum pernah didapati."

Kalau rumah tangga sedang ada masalah, jangan banyak diperseterukan, tapi direnungkan sejenak. "Oh, Allah ingin meningkatkan kualitas rumah tangga ini sehingga kita bisa mendapatkan nikmat yang tidak pernah didapati sebelumnya." Makanya nikmat berumah tangga itu yang terbesar selalu bertambah ketika menyelesaikan masalah. Silakan cek, kalau sedang ada masalah, berseteru kan? Tapi setelah selesai kan jadi lebih nikmat, ya? Ya, lebih senang lagi, lebih cair lagi, lebih bahagia lagi, lebih mendukung lagi. Ternyata ada nilai-nilai kebaikan yang tersimpan yang belum disadari sepenuhnya.

Pertanyaannya, kadang-kadang mudah diucapkan, tapi tidak mudah mempraktikkan. Bagaimana itu semua bisa ditempuh dengan baik sehingga ketika mengalaminya kita bisa tenang menghadapinya? Maka turunlah Surah Al-Insyirah. Saya cepat, teman-teman. Ini apa, ya? Baik, pelan-pelan sedikit. Kira-kira volumenya besar, kecil? Kecil, ya. Baik. Kalau saya bandingkan dengan gayung, volumenya besar mana? Gayung, ya. Baik. Kalau ini saya perlebar, perlebar, perlebar, perlebar sehingga bisa memasukkan apa pun ke dalamnya, itu bahasa Arabnya disebut insyirah. Melapangkan sesuatu sehingga terlihat lapang, sehingga memudahkan setiap hal masuk ke dalamnya. Itu insyirah namanya.

Surah ini diberi nama dengan Surah Al-Insyirah yang berarti sesuatu yang lapang, yang tenang, yang nyaman, yang diharapkan dengan keadaan hati yang lapang, nyaman, tenang itu segala persoalan yang dihadapi dalam kehidupan akan mudah diterima dan tidak berdampak besar dalam menyikapinya. Maka bagaimana kemudian Allah memberikan turunan-turunan petunjuk supaya apa yang diharapkan ini bisa tercapai?

Satu, izin mengilustrasikan. Saya kasih cerita sebentar. Ada seorang anak muda, kisah ini sangat viral, hampir setiap kita bisa mendapatinya. Datang kepada seorang kakek tua di sisi danau yang jernih sekali airnya. Dia berkeluh kesah tentang persoalannya. Dia katakan, "Saya punya masalah begini, begini, begini, berat sekali terasa, ya." Kakek itu kemudian permisi. Dia hanya membawa dua genggam garam. Kemudian beliau bawa satu gelas. Ilustrasinya seperti ini. Dimasukkanlah kemudian garam itu ke gelas itu. Lalu diambil satu gelas air yang jernih tadi dengan garam segenggam. Kata beliau, "Minum." Pemuda itu mengatakan, "Wah, asin." "Minum saja dulu." Lalu ketika diminum, langsung dia tumpahkan, dia muntahkan. "Asin," katanya.

Lalu setelah itu, kakek yang tadi melepaskan segenggam sisanya, dilempar ke danau tadi yang luas. Lalu diambil lagi dengan gelas yang sama. "Sekarang minum. Bagaimana rasanya?" "Segar, enak, nyaman." "Itulah hatimu. Kalau hatimu sempit sesempit gelas ini, maka masalah sekecil apa pun akan selalu menghadirkan kesulitan seperti engkau menelan garam tadi. Tapi kalau hatimu luas, sebesar apa pun masalah tidak akan pernah berdampak pada dirimu kecuali engkau mampu menyusun rencana untuk mengatasinya." Kelapangan hati yang membuat diri kita mampu menerima persoalan apa pun itu yang disebut dengan insyirah. Makanya dulu tahun 90-an ada sinetron "Hati Seluas Samudra," gitu, ya. Saya pernah tahu itu. Sama anaknya diapa-apain juga masih, ya, menerima, gitu. Dulu siapa, ya? Jeremy Thomas dan lain-lain, ya. Saya kira ada itu, ya. Saya kira itu, ya. Saya pernah lihat sejenak, ya. Saya jarang-jarang nonton-nonton itu, pernah, pernah lihat saja.

Saya senang riset, tentang riset. Jadi, kalau riset itu ada riset dakwah, ada riset materi. Misalnya teman-teman yang musik itu, ya. Saya tidak ee apa, tidak terlalu dekat dengan musik karena saya di Quran, gitu. Tapi untuk mengetahui hukum musik itu bagaimana, saya riset sampai ke notasi. Saya tahu C, D, F, G, A, B, C, G, A, B, C, D, Fis, G, D, Fis, G, A, B, Cis, D, A, B, Cis, D, Eis, Gis, A, Eis, Gis, A, B, Cis, Dis, E, gitu kan, ya. Tapi kalau diminta piano, gitar, saya tidak bisa, ya. Tapi untuk menentukan hukum, nah kita bisa paham, gitu. Misalnya, boleh tidak baca Quran pakai langgam Jawa, gitu kan. Hukumnya apa? Nanti dari teori itu muncul, ya. Paham, ya. Oke, balik sini.

Perhatikan baik-baik. Satu, saya agak cepat ini ditafsir langsung turun yang pertama. Tahan sampai sini dulu ayat saya mulai dari ayat kedua dan ketiga. Perhatikan baik-baik. Artinya apa? Artinya satu beban yang diletakkan di pundak yang berpengaruh kepada semua bagian tubuh kita. Pernah melakukan atau melihat yang angkat beban, ya? Beban kan semakin berat diangkat semakin terasa ke bagian-bagian tubuh, ya, semuanya. Nah, itu namanya wizr. Beban yang dipikul yang berat sekali sampai semua merasa. Makanya jadi satu ungkapan dengan mengatakan, "Dia sedang memikul beban yang sangat berat sampai kepalanya pusing, tidur tidak nyaman, miring kanan, miring kiri." Itu namanya wizr.

Ada satu masa dalam hidup setiap hamba merasakan satu persoalan yang seakan-akan beban berat yang dipikul sampai merasa kesulitan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Siapa pun itu. Jujur, ya. Setiap kita tanyakan pada diri sendiri, setiap kita yang ada di sini, saya yakin pasti pernah atau bahkan akan mengalami satu peristiwa yang merasakan beban berat sampai seakan-akan ujung kepala sampai ujung kaki merasakan sakitnya. Ada yang sudah mengalami atau bahkan nanti akan ada yang melalui. Perhatikan baik-baik.

Teruskan ayatnya, "Warofa'na." Perhatikan, kalau ada yang sedang merasakan itu, yakinlah kata Allah, pada saat itu sesungguhnya Allah sedang mengangkat derajatnya dan meningkatkan kualitas hidupnya untuk mencapai sesuatu yang istimewa yang belum pernah diraihnya. Dari sini kita buat persamaan: ujian berbanding lurus dengan harapan, berbanding terurus dengan solusi. Nanti pada akhirnya fokus lulus di sini. Insyaallah setiap persoalan akan lebih mudah untuk diatasi.

Ujian seberat apa pun yang sedang kita alami tidak akan pernah diberikan kepada kita oleh Allah kecuali ternyata hikmahnya untuk mengabulkan harapan-harapan besar yang sebetulnya kita mintakan. Jujur, ya. Setiap kita kan sering punya permohonan, ya. Sering berdoa, ya. "Ya Allah, minta ini, minta itu, minta ini, minta itu," gitu kan. Nah, cara Allah mengabulkan harapan kita itu yang pertama jalurnya lewat ujian. Karena semua kesuksesan itu desain dasarnya adalah melewati ujian. Coba anak-anak kita yang sedang sekolah itu, apa mungkin diwisuda dengan penuh kebahagiaan kalau tidak mengalami ujian? Hah? Lewat ujian dulu kan? Dia belajar dulu, ujian dulu, ngatasin soal dulu, lulus, baru wisuda. Apakah mungkin akan dapat IPK 4 yang diharapkan kalau tidak mengalami ujian? Belajar dulu, ya kan. Ada waktu sempat dia bangun malam, siang, dan seterusnya. Belajar, keringat, dan sebagainya, baru bahagia kan? Dan ternyata belajar itu untuk diwisuda. Sebab kalau kita tidak belajar, mustahil dapat wisuda. Kalau tidak lewat ujian, mustahil dapat ijazah. Karena ternyata harapan itu hukum dasarnya dalam berkehidupan bisa diraih dengan melewati ujian. Ini poinnya.

Jadi, mohon kalau sedang mengalami sebuah peristiwa dan kita harus menghadapi itu, coba renungkan, sebetulnya pernah berdoa apa sampai kita mengalami itu? Sehingga dengan jalan itulah sebetulnya Allah ingin mengabulkan harapan yang dulu pernah kita mintakan. Jelas? Oke, satu. Yuk, turunkan rumusnya pelan-pelan. Quran Surah ke-2 Ayat 286. Ini ke sini dulu, baru nanti kita balik lagi. Dua, Al-Baqarah Ayat 286. "La yukallifullahu nafsan illa wus'aha." Tahan sampai sini.

Lihat baik-baik. Hukum yang pertama. Hukum pertama, Allah tidak mungkin menguji seorang hamba di luar batas kemampuannya. Jadi, kaidah yang pertama tadi, kalau kita sedang diuji, sebetulnya ada harapan dan doa yang pernah kita mohonkan dan Allah ingin mengabulkan itu. Jalan pertama adalah ujian. Tapi adilnya Allah, tidak akan pernah kita diuji kecuali sesuai dengan kemampuan kita. Jadi, kalau tidak mampu, tidak mungkin diberikan ujian. Ingat, ya. Kalau tidak mampu, tidak mungkin diberikan ujian. Artinya, harapan yang kita mohonkan pun akan sesuai dengan kemampuan kita. Jadi, kalau kita minta sesuatu, tidak mungkin bisa menggunakannya, tidak akan dikasih.

Nah, balik ke sini. Balik ke sini untuk memberikan ketenangan kepada hati kita. Kalau sedang menerima persoalan, setelah kita mengatakan, "Oh, ini mungkin ada harapan yang ingin saya dapatkan, jalannya lewat sini." Untuk memberikan ketenangan kepada hati, begitu persoalannya tiba, langsung katakan pada diri kita, "Saya pasti bisa menjalaninya. Mustahil saya diuji kalau tidak mampu menjalaninya." Itu bahasa singkatnya. Dengar, ya. Kalau ingin mudah menyelesaikan persoalan, kata Quran, setiap ada ujian, langsung katakan pada hati kita, "Insyaallah bisa. Tidak mungkin saya diuji kalau saya tidak sanggup." Jelas? Dan tanamkan itu pada hati yang paling dalam. Ini tidak mudah kalau cuma disimpan di pikiran, jadi beban. Tapi kalau Anda tanamkan dalam hati, seberat apa pun masalahnya, "Pasti saya sanggup, pasti saya bisa."

Pernah lihat dulu ada acara 90-an, "Benteng Hatori"? Oke. Tak kan artinya kan bisa jawab, ya. Tahu Ninja mendaki gunung lewati lembah? Tahu, ya. Songoku, Songohan, apa? Tahu Songoku Kameha Polo? Itu yang nulisnya Su Watanabe, saya tahu itu. Benteng Hatori, bentengi. Balik lagi, ya. Benteng Takeshi, ya. Puncaknya kan main pakai itu kan, pakai tank dan sebagainya. Tapi pernah tidak, pernah ingat tidak satu episodenya itu begitu akan bertarung kan selalu ada motivator di sampingnya itu mengatakan, "Ayo, kamu bisa, kamu bisa, kamu bisa," gitu kan, ya. Dia tidak mengaji Quran tuh. Kita punya ayatnya. Pernah tidak buka lagi, ya, dulu, ya. Oke.

Korea kenapa bisa menyusul Jepang? Salah satunya waktu Jepang itu maju, setiap di Korea itu ditanamkan dari mulai anak-anak TK-nya, "Kita lebih harus daripada Jepang, harus lebih daripada Jepang, harus lebih daripada Jepang." Sejak anak-anaknya TK, sejak anak-anaknya TK itu ditanamkan betul, "Kita bisa, kita bisa." Dari TK. Sehingga ketika di sana bikin Honda, sini Hyundai. Hyundai kan dibacanya "Hai," ya kan. Sana Honda, sini "Hai," gitu. Jadi, apa pun yang dibuat Jepang, Korea harus lebih unggul. Itu ditanamkan dari awal. Bisa, bisa, bisa. Kita itu sekarang punya ayatnya. Jadi, kalau sedang punya masalah seberat apa pun, katakan pada diri kita, "Masyaallah, bisa. Tidak mungkin diuji kalau tidak sama bisa. Insyaallah bisa." Kenapa? "Mah bisa." Jelas? Oke, sudah di situ.

Teruskan, lanjutkan. "Fa'inna ma'al 'usri yusra." Teruskan. Nah, ini poin terbesarnya. "Yusra." Fa huruf yang menunjukkan sesuatu berlangsung dengan cepat. "Inna" di ilmu nahwunya berbunyi begini, di gramatikal bahasa Arab, "Harfbin waidin tibul isma." Paham [Musik] tidak? "Inna" huruf yang digunakan untuk menguatkan informasi agar ditancapkan ke dalam hati sekuat-kuatnya dan jangan pernah ragu. Jadi, kalau orang Arab nancapkan tongkat begini dan kuat tidak goyah, itu namanya "Inna" ini. Jadi, kalau ada di Quran dibuka informasinya dengan "Inna," maksudnya begini, "Hei, tancapkan informasi dalam hatimu dengan kuat. Jangan pernah ragu. Yakinkan pada dirimu apa yang harus diyakinkan."

"Ma'al 'usri yusra." Sama dengan "yusrun." Lari ke sini. Oke. Apa artinya? "Asun." Sulit. Oke. Sulit itu ada dua, ada 'abun, ada 'arun. Kalau kesulitan yang relatif, kata si A sulit, si B mudah, itu 'abun namanya. Contoh, kata si Fulan, "Bahasa Jepang susah." Padahal kata yang lain, "Tidak." Saya ke Jepang, anak-anak kecil begini bisa bahasa Jepang, gitu kan. Bagka mudah, gitu. King mudah. Anak-anak kecil bagi mereka mudah, bagi kita belum tentu. Itu relatif. Tapi kalau kesulitan yang sifatnya mutlak, semua orang mengatakan sulit. Maaf, bawa mobil sulit atau mudah? Bukan mengendarai, ya. Bawa mobil, bawa sulit, ya? Sulit, ya. Baik, sepakat sulit semuanya. Nah, itu dalam bahasa Arab dikenal dengan 'usrun. Kesulitan yang semua sepakat bahwa itu susah, sulit, semua sepakat. Dan ketika ada orang bicara, "Aku, aku sedang punya masalah begini," semua mengatakan, "Wah, itu tidak mudah, itu tidak mudah." Itu 'usrun namanya.

Lawannya, lawannya kemudahan yang relatif disebut sahlun. Tapi kemudahan yang semua sepakat bahwa itu mudah, itu yusrun namanya. Mengangkat spidol, semua mengatakan mudah, ringan. Itu yusrun namanya. Perhatikan, Allah tidak memasangkan sh'bun dengan sahlun, tapi memasangkan 'usrun dengan yusrun. Orang-orang yang punya keyakinan kuat setiap persoalan itu akan selesai dan dia mengatakan pada dirinya, "Aku bisa melewatinya," maka perhatikan kalimatnya, kata Quran, "Inna ma'al 'usri yusra." Sesulit apa pun masalah yang sedang dia alami, maka Allah akan datangkan solusi semudah-mudahnya yang bisa dia nikmati. Dengan kata lain, kalau kita bawa ke bahasa psikologi, kalau sedang menghadapi persoalan seberat apa pun, selain kita mengatakan, "Ini pasti bisa saya lalui, saya insyaallah sanggup mengatasinya," katakan pada diri kita, "Ini pasti selesai, pasti ada solusinya, pasti mudah." Katakan. Walaupun memang solusinya belum datang, tapi tenangkan pada diri kita dengan mengatakan, "Inna ma'al 'usri yusra." Bahasa psikologinya, katakan pada diri kita, "Ini pasti selesai, tidak mungkin tidak selesai, pasti ada solusinya, pasti mudah." Itu lebih memberikan harapan pada diri kita untuk menuntaskan persoalan dibandingkan dengan meratapinya. Jelas?

Teruskan. Kalau masih ragu, kata Allah, katakan lagi sekali lagi sampai hati kita merasa nyaman. Jadi, kalau sedang punya persoalan seberat apa pun, tanamkan pada diri kita, "Pasti selesai. Belum nampak, insyaallah pasti selesai. Tidak mungkin diuji kalau tidak ada solusi." Itu lebih memberikan harapan. Setelah itu, mitigasi masalahnya. Petakan persoalannya. Tuliskan, "Ini masalahnya apa? Rumah tangga? Apa saja?" Misalnya, dia ada suami, ada istri, ini ada anak-anak. Masalah ada di mana? Kadang-kadang menangnya jadi kusut karena satu-satu tidak segera diselesaikan. Maka kata Al-Quran, "Fa'idza faraghta." Satu-satu mitigasi dulu. Satu masalah di sini, lihat di suami, lihat di istri. Kalau pekerjaan, masalahnya apa? Sebelum bercabang ke mana-mana, petakan. Apakah rekanannya? Apakah relasinya? Apakah kemampuannya? Apakah manajerialnya? Apakah marketingnya? Mitigasi, kotaki semua. Selesaikan satu-satu.

Setelah itu, apa yang dilakukan? "Wa ila rabbika farghab." Tawakal sepenuhnya kepada Allah untuk menentukan hasilnya. Tawakal itu yang paling mahal. Anda kalau tidak punya kepasrahan, stres karena selalu memikirkan apa yang mau dikerjakan dan selalu orientasi pada hasil. Kita punya tawakal. Kalau kita mampu menyerahkan sesuatu, gini. Di sini ada orang yang paling jago misalnya main basket. Ada pertandingan basket. Begitu dibuka, "Sudah, tim musyawarah, serahkan saja pada si Fulan." Kan dia yang paling jago, ya. Bukankah dengan menyerahkan itu bukan hanya kita berikan sebuah tugas kan, tapi dengan itu ada kelapangan tersendiri kan? "Ah, yakinlah, sukses ini paling hebat." Pernah ada perasaan begitu?

Sekarang siapa yang paling mampu menguasai? Siapa yang paling hebat menyelesaikan segala hal? Siapa yang punya segalanya? Bukankah Allah? Orang-orang yang punya tingkat tawakal yang tinggi, maka satu, dia akan lebih stabil keadaan mentalnya dan tidak akan pernah gelisah dengan kekecewaan. Tidak ada kecewa. Karena tawakal itu kalau sudah kepasrahan, pasti menerima hasil. Kalau sudah tawakal, terserah Allah tetapkan apa saja. Mau dapat sekarang, dapat besok, dapat nanti. Puncak yang paling tinggi, "Hei, tugasmu hanya berikhtiar semampu yang bisa dilakukan. Selanjutnya, biarkan Allah menetapkan apa yang menjadi bagian dari maslahat kehidupan kita."

Saya tutup. Cara Allah menjawab harapan kita ada tiga: satu, memberi langsung apa yang kita mintakan; dua, menunda itu sampai kita siap menerimanya; tiga, mengganti apa yang kita inginkan dengan apa yang kita butuhkan. Saya ulang, ya. Satu, memberi langsung apa yang kita mohonkan. Misal, "Ya Allah, saya ingin A." Misalnya, anak saya ingin ke ITB. Tapi tidak mungkin tiba-tiba langsung masuk ITB kan? Pasti lewat ini dulu kan? Ada ujian dulu, ikut tes, dan seterusnya, diterima sesuai.

Dua, kadang menunda sesuatu sampai dia sanggup menjalaninya. Anda punya anak usia 5 tahun, ingin diberikan motor. Anda mampu untuk memberi motor, dikasih tidak? Tidak. Sampai dia sanggup mengendarai motor, baru Anda berikan. Terkadang ada yang kita minta sekarang tidak didapati sekarang, tapi ternyata tahun depan kita dapat. Kita harus sadar bahwa anugerah yang kita dapatkan tahun depan itu sebetulnya adalah hasil doa kita di tahun ini. Pernah dengar tidak kisah viral nabi itu berdoa baru dikabulkan setahun setengah, setahun 6 bulan? Padahal itu nabi, loh. Kiblat pertama kita ke mana? Palestina kan? Baitul Maqdis kan? Nabi berdoa, mohon terus, nengok ke langit. Al-Baqarah Ayat 144. Minta, minta, minta. Jawabannya turun setelah setahun setengah, setahun 6 bulan. Ada yang mengatakan di tafsir setahun 8 bulan. Baru dikabulkan setelah setahun setengah. Padahal kurang saleh apa nabi? Nabinya siap, mungkin umatnya yang belum siap. Nabinya siap, tapi ada tantangan di masyarakat yang tidak mudah yang mungkin bisa meruntuhkan dakwah. Baru dikabulkan setahun setengah ketika semua umatnya sudah bisa siap menerima itu.

Boleh jadi apa yang diminta orang tua sekarang, terkabulnya mungkin belasan, puluhan tahun pada anaknya yang nomor sekian. Tahu Imam Syafi'i? Imam Syafi'i itu kan nama aslinya Muhammad. Bapaknya Idris. Kakek yang ke atas yang ketiga namanya Syafi'i. Kenapa disebut Imam Syafi'i? Dinisbatkan pada kakek yang ke atasnya. Ternyata kakeknya ini seorang ulama besar, saleh, memohon kepada Allah setiap di keturunannya ada yang bisa menggantikan, lebih saleh, lebih baik lagi. Ternyata yang didapatkan bukan dari anaknya, tapi generasi keturunan yang kesekian.

Anda belum sekarang bisa hafal Quran misalnya, Anda bermohon, berdoa. Boleh jadi yang hafal mungkin bukan di anak, bisa di cucu, bisa di bagian keluarga yang lain. Maka terkadang tawakal itu tidak hanya memberikan hasil yang cepat, tapi memberikan keindahan yang terasa tertunda, tapi melengkapi kebahagiaan yang dirasakan. Penutupnya, boleh jadi minta ke ITB, diterimanya di Unpad. Minta motor, dapatnya mobil. Kalau itu senang luar biasa. Minta mobil, dapatnya motor, gitu kan. Ternyata kadang-kadang di yang terakhir, saya tutup, Allah mengabulkan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.