📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Tadabbur Permisalan al-Qur’an dalam Surah al-Baqarah ayat 26 - Ust. Rahmat Badani, Lc., M.A.

WahdahTV1:12:36

Transcription

[Musik] Bismillahirohmanirohim [Musik] al-amin [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Musik] Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa mencurahkan rahmatnya kepada kita semua. Alhamdulillah, sangat bahagia pada malam hari ini kembali kita bisa hadir menyimak live streaming channel dakwah kesayangan kita, yaitu Wahdah TV, dalam program Konsultasi Syariah bersama Dewan Syariah Wahda Islamiyah. Kali ini Anda bisa berkonsultasi seputar pembahasan umum dan kontemporer. Dan juga alhamdulillah telah hadir bersama kita di studio Ustadz kita, narasumber dari Dewan Syariah, Ustadz Rahmat Badani, LC, MA, hafidzahullah. Mari kita siapa beliau terlebih dahulu. Assalamualaikum.

Baiklah, bagi pemirsa yang ingin bertanya, bisa melalui pesan WhatsApp pada nomor 0823 444 5116 yang tertera di layar kaca Anda, atau pada kolom komentar di YouTube yang Anda saksikan. Nah, adapun tema yang diangkat pada malam hari ini yaitu tadabur permasalahan Alquran pada surah Al-Baqarah ayat 26. Ya, tidak berlama-lama, langsung kita berikan kepada Ustadz kita untuk menyampaikan materi pengantarnya. Rahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Waalaikumsalam. Alhamdulillah, kita bersyukur kehadirat Allah oleh karena limpahan karunia kenikmatan yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala masih terus berikan kepada kita semua. Sehingga sekian banyak aktivitas kegiatan keseharian yang kita lakukan, mudah-mudahan itu semua kita lakukan dan kita kerjakan dalam rangka mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Shalawat dan salam semoga senantiasa terhaturkan kepada Baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, suri tauladan, contoh, dan panutan yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala utus sebagai rahmatan lil alamin.

Yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tema kita pada kesempatan malam hari ini Insya Allah, sebagaimana disebutkan tadi, tentang tadabur salah satu permisalan yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala angkat dan sebutkan di dalam ayat-ayat Alquran, lebih tepatnya dalam Quran surah Al-Baqarah ayat 26. Para pemirsa mungkin bisa melihat dan menyimak firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala tersebut, baik itu melalui mushafnya langsung atau melalui smartphone masing-masing, di mana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Audzubillahiminasyaitonirrojim. Innallaha laa yastahilman..." Ayat ini diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala sehubungan dengan beberapa sikap dari umat manusia tatkala Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman ayat-ayat permisalan yang disebutkan di dalam beberapa tempat pada Alquran.

Namun sebelum kita jelaskan lebih jauh, kita ingin mengetahui terlebih dahulu bahwa ayat-ayat yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala turunkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memiliki bentuk dan ragam yang bermacam-macam. Kita semuanya tahu bahwasanya Alquran itu sebagaimana dijelaskan oleh ulama kita, bisa kita bagi sesuai dengan tema dan pembahasan yang disebutkan di dalam ayat-ayat tersebut ke dalam tiga bagian. Sepertiganya itu berbicara tentang persoalan keyakinan, persoalan akidah, atau persoalan ushuluddin, hal-hal yang mendasar di dalam agama kita. Kemudian sepertiganya lagi berbicara tentang persoalan ibadah. Kemudian sepertiganya lagi berbicara tentang tentang hukum, baik itu hukum yang sifatnya pribadi-pribadi kita masing-masing ataupun yang berkaitan dengan orang yang lain, seperti misalnya hukum-hukum muamalah dan seterusnya.

Kemudian kalau kita lihat juga ayat-ayat Alquran, kita dapati sebagian besar ayat-ayatnya, bahkan bisa dikatakan sepertiga dari ayat-ayat Alquran itu mengangkat kisah-kisah umat terdahulu. Ya, dan berbagi macam bentuk-bentuk ayat-ayat yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala turunkan kepada Baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Nah, di antara ayat-ayat tersebut atau di antara format dan ragam ayat-ayat yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala turunkan di dalam Alquran, ada yang dikenal dengan istilah ayat-ayat permisalan atau ayat-ayat perumpamaan.

Nah, kalau kita melihat ternyata di dalam bahasa Arab itu sendiri, atau orang-orang Arab itu sendiri di masa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, bahkan sebelum diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, permisalan dan perumpamaan itu adalah satu corak atau satu penggunaan bahasa yang indah, yang mana orang-orang Arab memang sudah mengenal dan sudah mengetahui serta mereka sangat akrab dengan yang disebut sebagai "al-amsal" atau permisalan dan perumpamaan di dalam bahasa mereka.

Kita tahu bahwasanya setiap nabi dan rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka mereka itu diutus sesuai dengan apa yang menjadi atau hal yang mendominasi dalam kehidupan mereka. Sebagai contoh misalnya, Nabi Musa Alaihissalam diutus oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala membawa mukjizat berubahnya tongkat beliau menjadi ular, karena memang yang mendominasi dalam kehidupan bangsa Mesir pada saat itu adalah ilmu sihir mereka yang sangat kuat. Kemudian mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi Isa Alaihissalam adalah beliau mampu menyembuhkan orang-orang yang sakit, orang-orang yang buta, orang-orang yang lumpuh, ya, kemudian bahkan beliau bisa menghidupkan orang yang sudah mati, orang yang sudah meninggal dunia. Tentu saja itu semua adalah mukjizat dan atas izin dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kenapa? Karena memang yang mendominasi orang-orang Bani Israil di masa Nabi Isa Alaihi Salam adalah kemajuan ilmu-ilmu kedokteran mereka atau ilmu perawatan pengobatan dan sebagainya.

Nah, di masa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam diutus di tengah-tengah manusia, meskipun sebagian mereka disebut sebagai kaum yang ummiyyin, orang-orang yang tidak bisa baca, tidak bisa menulis, termasuk nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Namun, sebagian besar di antara mereka adalah orang-orang yang terpelajar, orang-orang yang terdidik, orang-orang yang bisa membaca menulis, orang-orang yang bahkan sangat hebat dalam persoalan syair-syair. Bahasa mereka sangat hebat dalam ungkapan-ungkapan, peribahasa-peribahasa, permisalan dan perumpamaan yang mereka gunakan. Makanya ketika Allah Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan ayat-ayat permisalan di dalam Alquran ini, ini menjadi pelajaran bagi orang-orang kafir Quraisy. Mengapa? Karena mereka mengetahui permisalan-pemisalan itu, mereka memahami permasalahan-permasalahan itu, dan mereka tahu betul bagaimana cara menyusun dan bagaimana mereka membuat permisalan itu. Namun, ketika turun permisalan dari dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada Nabi Muhammad dan disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, ternyata ini justru menjadi sebab kekufuran mereka terhadap ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Nah, kenapa penulisan sekalian? Karena orang-orang tersebut adalah orang-orang yang paham dalam persoalan bahasa Arab, orang-orang yang memang sudah hafal mati dengan persoalan permisalan. Akan tetapi, ketika datang permisalan ya menjelaskan tentang ayat-ayat yang atau menjelaskan tentang fakta-fakta yang belum pernah mereka ketahui, kemudian dibungkus dan diramu dengan permisalan yang Allah sebutkan dalam Alquran, maka ini menjadi sesuatu yang berat untuk mereka terima. Padahal mereka adalah orang-orang yang hidup, keseharian mereka mereka bersyair, keseharian mereka mereka sampaikan bermisalan perumpamaan dan seterusnya. Justru ketika ayat Alquran itu turun kepada umat manusia menjelaskan tentang persoalan yang paling dekat dalam kehidupan mereka dan paling akrab dalam kehidupan mereka, maka ini menjadi hujjatun balighah atas mereka. Ini menjadi hujjah yang sangat nyata di dalam kehidupan mereka. Ketika mereka mengetahui persoalan tersebut, ketika mereka hafal mati dengan apa yang disebutkan dalam ayat membaca Alquran itu, lantas mereka mendustakannya, maka semakin besar hujjah Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas diri mereka dalam kehidupan dunia dan akhirat. Kenapa? Karena mereka sudah tahu betul tentang persoalan tersebut.

Makanya kenapa Allah Subhanahu Wa Ta'ala melaknat sebagian orang-orang Yahudi yang tidak beriman kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam? Karena mereka tahu Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah seorang nabi dan rasul, telah diberitakan kepada mereka dalam Kitab Taurat, dalam kitab Injil. Ketika datang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai nabi dan rasul di tengah-tengah mereka di kota Madinah, dan mereka tetap mendustakan nabi, meskipun mereka paling akrab dengan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dibandingkan orang-orang Aus dan Khazraj, penduduk kota asli kota Madinah, maka menjadi sangat besar dan menjadi sangat kuat hujjah Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas diri-diri mereka. Karena mereka kenal Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Bahkan dalam ayat Alquran disebutkan, mereka lebih mengenal ciri Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dibandingkan ciri anak-anak mereka sendiri. Karena mereka membaca ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Kitab Taurat, mereka baca ayat-ayat Allah di dalam Kitab Injil yang menjelaskan bagaimana ciri-ciri nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Mari kita kembali ke dalam permisalan yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebutkan di dalam Alquran. Ternyata kita temukan Alquran memuat sekian banyak permisalan dan perumpamaan yang ingin menjelaskan kepada kita begitu banyak hikmah dan pelajaran yang seharusnya kita mampu mentadaburi ayat-ayat permisalan tersebut. Makanya salah seorang sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pernah mengatakan, diriwayatkan dalam sebuah atsar, bahwa setiap kali beliau membaca salah satu di antara firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang berbicara tentang fungsi permisalan itu di dalam Alquran, maka beliau langsung menangis. Ketika ditanya kepada beliau, "Kenapa Anda menangis wahai Abu Hurairah?" Maka beliau mengatakan, "Saya menangis karena saya merasa khawatir setiap kali saya membaca satu permisalan perumpamaan di dalam ayat Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Alquran, lantas saya tidak memahami makna kandungan dan bagaimana mentadaburi ayat tersebut, maka saya menangis karena firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam ayat yang lain, bahwasanya orang-orang yang ketika membaca ayat-ayat permisalan itu kemudian dia tidak memahami kandungannya, maka itu menjadi sebuah pelajaran bagi dirinya bahwasanya orang tersebut adalah orang yang jauh dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan tidak kenal dengan ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta'ala."

Kenapa? Karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengatakan, "Tidak ada orang yang mengetahui ayat-ayat permisalan itu, tidak ada orang yang memahami kandungan ayat-ayat permasalahan itu, kecuali mereka itu adalah orang-orang yang berilmu." Makanya sahabat itu menangis ketika dia membaca satu ayat permisalan di dalam Alquran, dia membaca ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta'ala tersebut, lantas dia tidak memahami apa kandungannya, apa maksudnya, kenapa Allah Subhanahu Wa Ta'ala mendatangkan permisalan ini, apa hikmahnya, bagaimana saya mentadaburinya, bagaimana saya bisa mengambil ilmu pengetahuan dari ayat permisalan ini? Kalau ada orang yang gagal memahami kandungan ayat permisalan itu, maka itu berarti dia adalah orang yang belum dikaruniakan ilmu pengetahuan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Ada banyak tentu saja permisalan yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebutkan dalam Alquran. Kalau kita lihat dari awal mushaf atau dari awal Alquran, maka kita akan langsung bertemu dengan permisalan yang paling pertama yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala hujjah bagi orang-orang beriman adalah permisalan tentang orang-orang munafik. Permisalan tentang orang-orang munafik, di mana Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengatakan, "Matalluhum ka masalil..." Permisalan orang-orang munafik itu adalah permisalan orang-orang yang telah menghidupkan menyalakan sebuah api, lalu kemudian api itu memberikan penerangan di sekelilingnya, lantas Allah Subhanahu Wa Ta'ala memadamkan cahaya api tersebut, dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala membiarkan mereka berada di dalam kegelapan. Nah, ini permisalan pertama yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebutkan di dalam Alquran, sesuai dengan urut-urutan ayat-ayat Alquran yang kita temukan dalam mushaf saat ini.

Ketika Allah Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan ayat-ayat permisalan, maka kita bisa melihat ada banyak bentuk permisalan itu. Ya, diantaranya ada permisalan yang disebut sebagai "al-amtsal al-musarrah", ada permisalan yang secara sore, secara jelas memang menyebutkan kata-kata permisalan seperti firman Allah yang tadi kita sebutkan, "Matalluhum ka masalul..." dan seterusnya. Ada juga permisalan "al-amtsal al-kamina", permisalan yang memang tidak secara langsung secara tekstual menyebutkan kata permisalan di dalamnya, namun bisa dijadikan atau bisa dipahami bahwa itu adalah sebuah ungkapan permisalan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kemudian ada juga yang disebut sebagai "al-amtsal al-mursalat", permisalan yang sebenarnya kalau kita baca ayat-ayat tersebut, ayat-ayat Alquran itu sebenarnya dia bukanlah permisalan, akan tetapi bisa dianggap sebagai sebuah sebagai sebuah permisalan di dalam bahasa Arab.

Nah, kalau kita melihat ternyata di antara ayat-ayat permisalan yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebutkan di dalam Alquran, terkadang Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengangkat permisalan dengan hewan-hewan yang telah diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sebagai contoh misalnya, di dalam riwayat sehubungan dengan surah Al-Baqarah ayat 26 yang tadi kita sudah bacakan atau materi yang kita sampaikan pada kesempatan kali ini, sebelum ayat ini turun, pemirsa sekalian, ternyata ada ayat-ayat permisalan dengan beberapa ekor hewan yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala gunakan untuk menjadi permisalan dalam Alquran. Dan ayat-ayat permisalan itu justru didustakan oleh tiga jenis manusia. Yang pertama adalah orang-orang kafir, orang-orang musyrik. Yang kedua adalah orang-orang munafik. Dan yang ketiga adalah orang-orang Yahudi.

Nah, ternyata tiga kelompok manusia yang kafir kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala ini mendustakan ayat-ayat permisalan yang turun menjelaskan tentang perihal keadaan dan kondisi mereka dalam kehidupan dunia ini, di mana Allah menyamakan kondisi mereka seperti hewan-hewan tersebut. Nah, sebagai contoh misalnya, orang-orang musyrik yang melakukan kesyirikan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, menyembah kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala, itu dijelaskan permisalannya. Silakan kita buka dalam surah Al-Hajj ayat 73. Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengatakan, "Ya ayyuhan nasu, dharaba matsalun..." Sekalian manusia, telah dibuat permisalan, telah diberikan permisalan, maka dengarkanlah dengan seksama permisalan tersebut. "Innalladzina tabuna min dunillahi asyaya'..." Kata Allah Subhanahu Wa Ta'ala, "Sesungguhnya sesembahan-sesembahan yang kalian sembah wahai orang-orang musyrik, sesembahan-sembahan tersebut tidak akan mungkin bisa menciptakan atau mendatangkan atau membuat seekor lalat, meskipun mereka bersatu padu, meskipun sesembahan-sembahan itu adalah Uzza dan semua sama, Tuhan berhala-berhala yang disembah oleh orang-orang musyrik. Kalaupun mereka bersatu padu, saling tolong-menolong, tidak bisa mereka menciptakan seekor lalat sekalipun. Kalau seandainya ada seekor lalat yang hinggap di sebuah berhala yang mereka sembah, itu kemudian lalat itu mengambil sesuatu dari berhala itu, maka mereka tidak akan mungkin bisa mengembalikan apa yang diambil oleh seekor lalat itu dikembalikan kepada berhala tersebut. Tidak akan bisa." "Dho'ufath thalibul mad'u." Nah, ini permisalan Allah Subhanahu Wa Ta'ala buat untuk menjelaskan keadaan orang-orang musyrik yang menyembah kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dimisalkan dengan keadaan seekor lalat.

Sama juga ketika Allah Subhanahu Wa Ta'ala menjelaskan salah satu ayat di dalam surah Al-Ankabut, permisalan orang-orang musyrik yang beribadah kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu permisalan karena seperti seekor laba-laba yang membuat sarang mereka, ya, jaring laba-laba itu, dan sesungguhnya rumah yang paling lemah itu adalah rumahnya rumahnya laba-laba. Nah, ini permisalan juga Allah Subhanahu Wa Ta'ala buat tentang keadaan orang-orang musyrik yang beribadah kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Nah, sama juga dengan orang-orang Yahudi, sama juga dengan apa namanya dengan orang-orang munafik. Ya, mereka itu mendengarkan ayat-ayat permisalan dibacakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, dan permisalan itu mengangkat beberapa ekor hewan-hewan yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala sudah ciptakan di dalam Alquran sendiri, selain laba-laba, selain lalat, juga ada permisalan di mana Allah mengangkat permisalan dengan seekor anjing misalnya. Ya, ini sehubungan dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala tentang kisahnya Bal'am, salah seorang pengikut Nabi Musa Alaihissalam yang Allah karuniakan ilmu dan hikmah berasal bersumber dari kitab Taurat, diajarkan oleh Allah, bahkan orang ini sudah dinobatkan sebagai salah seorang alim ulama-nya Bani Israil, tapi justru dia lebih condong untuk mengikuti hawa nafsunya dan dia meninggalkan ilmu serta hikmah yang telah diajarkan kepadanya, dan dia lebih cenderung untuk mendapatkan bagian dunia yang banyak dalam kehidupannya. Maka Allah binasakan dia bersama Firaun.

Kemudian ada juga permisalan yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala angkat dengan seekor seekor khimar, ya, seekor keledai. Nah, ini permisalan untuk orang-orang Yahudi dari kalangan Bani Israil yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala karuniakan kepada mereka Kitab Taurat, lantas mereka tidak mengamalkan isi Kitab Taurat itu. Ya, mereka itu tidak ubahnya, tidak tidak bedanya, tidak tidak berbeda dengan apa karena himariyah milu asfaro, seperti Islam, seperti seekor keledai yang oleh majikannya itu diperintah untuk mengangkat apa memikul buku-buku yang sangat banyak. Tidak akan pernah kita melihat ada seekor keledai mengambil pelajaran membaca buku-buku yang di yang dipikulnya itu, karena namanya keledai, ya, makhluk ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, hewan yang tidak bisa berbuat sama seperti apa yang dilakukan oleh manusia.

Nah, itu permisalan. Ketika permisalan-pemisalan ini diturunkan oleh Allah dan permisalannya itu mengangkat beberapa hewan ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka orang-orang kafir, orang-orang munafik, orang-orang Yahudi serempak mendustakan ayat-ayat tersebut. Ya, makanya Allah katakan di dalam ayat surah Al-Baqarah ayat 26 ini, "Wa ammalladzina kafaru..." "Dan adapun orang-orang kafir," ya, "maka mereka mengatakan, 'Apa yang diinginkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan permisalan ini?'" Ini perkataan nya orang-orang kafir, pemirsa sekalian. Diabadikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kata ulama tafsir, bukan berarti mereka ingin bertanya kepada Nabi Muhammad, "Wahai Muhammad, wahai Rasulullah, apa yang diinginkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan permisalan yang seperti ini?" Tidak. Justru kata ulama kita, mereka mengatakan perkataan ini, "Apa yang diinginkan oleh Tuhanmu? Apa yang diinginkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan permisalan yang seperti ini?" Sebagai bentuk pengingkaran mereka terhadap ayat-ayat permisalan itu, dan pengingkaran mereka itu disampaikan dalam bentuk kalimat takjub seperti ini, seakan-akan mereka tidak habis pikir dan tidak percaya, bagaimana mungkin Tuhannya Muhammad membuat permisalan dan dimasukkan ke dalam ke dalam ayat-ayat Alquran itu. Mereka tidak percaya itu.

Kalau orang-orang Yahudi, penulisan sekalian, mereka mengatakan, "Allahumma subhanallahu..." Orang-orang Yahudi mengatakan, "Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak pernah menurunkan ayat-ayat yang semisal seperti ini di dalam Kitab Taurat dan di dalam Kitab Injil." Ya, jadi kalau orang-orang Yahudi itu mereka bandingkan antara ayat-ayat permisalan yang ada di dalam Alquran dengan ayat-ayat yang diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Kitab Taurat dan di dalam Kitab Injil, karena memang mereka membaca Kitab Taurat dan Injil, makanya mereka bandingkan, "Oh, dalam Kitab Taurat tidak ada ayat permasalahan, dalam kitab Injil tidak ada ayat permasalahan." Nah, sedangkan Muhammad mengaku ayat permisalannya turun dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka mereka dustakannya.

Adapun orang-orang munafik, nah, ini orang-orang munafik memang kurang ajar sikap mereka. Apa kata mereka? "Allah azallu wa a'dzamu min an judroba lahu bi misli hadzihil masalah." Kata orang-orang munafik, "Ya, mereka mengaku bahwa ya Muhammad ini ketika dia membacakan ayat-ayat permisalan, sebenarnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu lebih agung, lebih mulia dibandingkan kita buat-buat permisalan untuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala." Ini perkataan orang-orang munafik. Dan selalu perkataan orang-orang munafik itu mereka menyampaikan perkataan-perkataan yang indah, mereka menyampaikan perkataan-perkataan yang seakan-akan itu menunjukkan kesucian hati mereka, menunjukkan keikhlasan hati mereka, dan seterusnya, padahal mereka menginginkan apa? Keselamatan jiwa dan diri mereka dari apa-apa yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala ancam dengannya.

Nah, makanya di dalam sebuah kisah, pemirsa sekalian, ini mohon maaf, istri trot atau keluar dari materi sedikit. Ketika Nabi Muhammad mengajak para sahabatnya untuk melakukan peperangan, peperangan Tabuk, peperangan yang salah satu peperangan yang paling berat, selain karena kondisi para sahabat pada saat itu di musim panas dan perjalanan yang sangat jauh, termasuk juga kondisi keadaan para sahabat yang pada saat itu apa namanya belum mendapatkan penghidupan yang lebih layak pada saat itu, sehingga Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam minta kepada para sahabat untuk masing-masing berinfak, bersedekah, ya, agar kemudian peperangan Tabuk ini bisa dilakukan. Siapa yang dilawan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam? Siapa yang akan dilawan oleh Nabi Muhammad dalam Perang Tabuk adalah bangsa Romawi, orang-orang Romawi yang menurut informasi sampai kepada telinga Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, orang-orang Romawi dari negeri Syam sudah mengumpulkan bala tentara mereka ratusan ribu orang untuk memerangi Nabi Muhammad di kota Madinah. Maka Nabi keluar bersama para sahabat. Tahu, pemirsa sekalian, apa yang dikatakan oleh sebagian orang-orang munafik kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam? Mereka mengatakan, "Wala taftinni, janganlah engkau wahai Muhammad memberikan fitnah untuk agama saya." Kenapa? Dalam tafsir itu disebutkan, orang-orang sebagian orang munafik, khususnya anak-anak muda dari kalangan kaum munafikin, itu menyampaikan, "Ya Rasulullah, wahai Muhammad, saya khawatir dengan keimanan saya kalau seandainya saya ikut bersama Anda dalam peperangan Tabuk yang dilawan ini adalah orang-orang Romawi, dan Anda tahu sendiri orang-orang Romawi itu istri-istri mereka, anak-anak gadis mereka itu orang-orang yang cantik semuanya, maka saya khawatir kalau saya ikut bersama Anda dalam peperangan Tabuk, maka saya khawatir nanti pandangan saya itu nanti agama saya itu terfitnah saya, akhirnya tidak istiqomah lagi saya, akhirnya dan seterusnya dan seterusnya. Maka jangan jangan berikan ujian bagi keimanan saya dengan membawa saya ikut serta dalam peperangan tersebut." Sebenarnya tujuannya orang munafik seperti ini tidak mau ikut dalam peperangan Tabuk. Sebenarnya tapi mereka mencari-cari alasan. "Jangan fitnah agama saya, jangan bawa ikut-ikut, jangan bawa serta saya dalam peperangan Tabuk, saya khawatir dengan agama saya karena saya nanti terfitnah dengan wanita-wanita orang Romawi dan seterusnya." Ah, ini perbuatan orang-orang munafik seperti itu. Sampai dalam permisalan itu juga mereka mengatakan, Allah itu lebih mulia, lebih agung ketimbang Muhammad membuat-buat permisalan untuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala, padahal itu turun langsung dari dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Nah, oleh karena itu, ketika ketika tiga kelompok manusia ini telah mendustakan ayat-ayat permisalan tersebut, maka Allah turunkan firman-Nya di dalam surah Al-Baqarah ayat yang ke-26. Apa kata Allah Subhanahu Wa Ta'ala? "Innallaha laa yastahilma..." "Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak pernah terhalangi untuk memberikan permisalan, tidak pernah terhalangi dengan rasa malu untuk memberikan permisalan, walaupun itu permisalan dengan seekor nyamuk atau yang lebih dari itu." Nah, kalau kita lihat memang para ulama kita ya, ketika sebelum kita jelaskan makna daripada kita baca ayat selanjutnya atau apa namanya penggalan ayat yang berikutnya, apa kata Allah? "Adapun orang-orang beriman, maka terhadap ayat-ayat permisalan di dalam Alquran, mereka mengatakan, 'Ya, sesungguhnya ini adalah kebenaran yang datang dari Tuhan kami.'" "Sedangkan orang-orang kafir, maka mereka mengatakan seperti apa yang tadi kita jelaskan, 'Madza aradallahu...' 'Apa yang diinginkan oleh Tuhan dengan permisalan yang seperti ini?'"

Nah, ternyata tujuannya pemirsa sekalian, Allah menurunkan permisalan-pemisalannya dalam ayat Alquran, "Yudhillu bihi katsiran wa yahdi bihi katsiran." "Allah Subhanahu Wa Ta'ala berkehendak, berkeinginan untuk menyesatkan sebagian umat manusia, dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala berkeinginan untuk memberikan hidayah bagi sebagian manusia yang lainnya." Kemudian kata Allah, "Wa maa yudhillu bihi illal fasikin." "Dan tidak ada orang-orang yang disesatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan ayat-ayat permisalan, kecuali mereka itu adalah orang-orang orang-orang yang fasik di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala."

Nah, pemirsa sekalian, Allah Subhanahu Wa Ta'ala di dalam ayat ini memberikan permisalan dengan seekor nyamuk. Pertanyaannya, kenapa Allah memberikan permisalan dengan dengan seekor nyamuk? Kenapa Allah tidak memberikan permisalan dengan hewan yang lain, misalnya? Kenapa harus nyamuk? Kan itu pertanyaannya untuk mentadaburi ayat ini, penulisan sekalian, kan itu pertanyaannya. Kenapa Allah mendatangkan permisalan dengan seekor nyamuk? Kenapa bukan dengan seekor kalajengking, misalnya, atau dengan seekor apa namanya, seekor serigala, atau seekor singa, macan tutul, dan sebagainya? Kenapa justru dengan seekor seekor nyamuk?

Nah, sebelum kita lebih jauh menjelaskannya, ternyata para ulama kita sudah menjelaskan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengatakan, "Allah tidak pernah merasa malu untuk memberikan permisalan dengan seekor nyamuk." Karena memang ayat-ayat yang didustakan oleh orang-orang munafik, orang musyrik, dan orang Yahudi itu memang mengangkat permisalan-pemisalan dengan hewan-hewan yang lebih besar dari nyamuk. Kalau kita lihat, ada anjing, kemudian ada keledai, punya adalah laba-laba, kemudian ada apa lagi? Kemudian ada lalat. Ini semua hewan-hewan yang memang kalau kita lihat dari postur badan mereka itu memang lebih besar dari dari nyamuk. Makanya Allah mau sampaikan kepada kita, mau sampaikan kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat permisalan ini, seakan-akan Allah mau katakan, "Kalau kalian mendustakan ayat-ayat dengan permisalan dengan hewan-hewan tersebut, maka ini saya datangkan ini ayat yang berisi permisalan dengan seekor hewan yang lebih kecil dari hewan-hewan tersebut, lebih kecil dari anjing, lebih kecil dari keledai, lebih kecil dari lalat, lebih kecil dari nyamuk, lebih kecil dari laba-laba. Ini nyamuk ini hewan yang jauh lebih kecil." Makanya kata Allah Subhanahu Wa Ta'ala, "Allah tidak malu untuk memberikan permintaan dengan seekor nyamuk atau yang lebih dari itu." Kata ulama kita, "Atau yang lebih besar dari itu." Artinya, kalau nyamuk saja Allah tidak merasa segan, Allah tidak merasa malu memberikan permisalan dengan seekor nyamuk, maka yang lebih besar dari itu pun juga tidak akan merasa malu. Karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak akan pernah merasa malu untuk menyampaikan yang namanya kebenaran. Dan itu sudah disebutkan dalam ayat yang lain.

Namun, sebagian ulama lain mengatakan, memang ini ulama tafsir membuka ya pintunya ya, karena memang ilmu pengetahuan selalu berkembang. Ya, jadi ilmu itu selalu berkembang terus. Makanya di zaman dahulu mungkin ya, di zaman Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, mungkin mereka mengira bahwa nyamuk itu adalah makhluk yang makhluk yang paling kecil. Nyamuk itu. Padahal ternyata setelah ilmu pengetahuan berkembang sampai dengan saat ini, ternyata kita tahu ada sekian banyak makhluk yang diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang bentuk postur tubuhnya jauh lebih kecil dari seekor nyamuk. Makanya kata ulama kita, "Innallaha laa yastahil an yadriba bi matsalin ma ba'uudatan fa ma fawqaha." Atau yang lebih kecil sekalipun. Lebih kecil dari nyamuk. Allah Subhanahu Wa Ta'ala mendatangkan permisalan dengan dengan yang seperti itu. Hanya saja memang karena ilmu pengetahuan belum berkembang di masa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, maka memang yang diberikan permisalan adalah seekor nyamuk, ya, bukan makhluk-makhluk yang memang belum diketahui di masa itu, supaya apa? Supaya Nabi Muhammad dan para sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam serta umat manusia tetap bisa mengambil pelajaran dari makhluk yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala jadikan sebagai permisalan di dalam di dalam ayat ini.

Nah, sekarang pemirsa sekalian, kembali sebagai penutup materi pengantar kita ini, pertanyaan tadaburnya, kenapa Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengambil nyamuk sebagai sebagai permisalan? Oh, ternyata setelah kita teliti, setelah diteliti oleh para ilmuwan, nyamuk itu Subhanallah, penciptaan nyamuk saja itu sudah sangat luar biasa sekali. Makanya setelah diteliti, manusia itu cuman punya satu mulut. Nyamuk itu punya enam mulut. Maka saya tidak bisa bayangkan kalau ibu-ibu biasanya mereka bergosip, ya, itu kan ributnya minta ampun. Saya tidak bisa bayangkan kalau nyamuk itu berkumpul 10 orang saja, kemudian 10 nyamuk saja, kemudian 10 nyamuk ini bergosip, 10 kali 6, masing-masing 60 mulut itu yang berbicara. Karena ternyata memang penelitian membuktikan bahwa nyamuk itu punya enam mulut. Empat itu dalam bentuk pisau yang digunakan untuk menyobek-nyobek kulit mangsanya. Kemudian dua itu fungsinya seperti seperti pipet, ya, fungsinya seperti pipet itu untuk apa? Untuk menghisap darah manusia atau menghisap darah hewan yang yang dia apa yang dia mangsa. Kemudian nyamuk itu matanya enam. Ya, kemudian kepakan sayapnya ternyata untuk hitungan 1 detik itu bisa sampai 200-400 kali kepakan sayap. Sama seperti lalat. Lalat itu per detiknya, kalau manusia itu per detik misalnya dia bisa menjentikkan jarinya seperti ini, maka lalat itu atau nyamuk bisa menggerakkan sayapnya sebanyak 200 sampai 400 kali itu hitungan per detik. Ya, makanya kalau kita tangkap nyamuk kan sulit ya, karena memang mereka itu lihat, dia bisa menghindar ke sana kemari.

Kemudian yang lebih hebat lagi, sistem ya, sistem tubuhnya nyamuk itu Subhanallah. Kalau manusia itu punya sistem paru-paru yang luar biasa, ternyata sistem paru-parunya apa namanya, rongga-rongga perut dari nyamuk itu ternyata lebih lebih luar biasa lagi, padahal dia adalah makhluk yang sangat kecil. Sekarang ilmu teknologi baru saja mengetahui bagaimana cara supaya kita darah yang diambil dari manusia itu tidak langsung membeku. Karena darah itu, kenapa kalau kita ingin darah kita ingin diambil menjadi sampel darah itu harus dimasukkan dalam sebuah teknologi? Tidak bisa kalau darah itu dikeluarkan. Setelah dikeluarkan darah itu dengan menggunakan spuit, darah itu bisa langsung membeku. Dan darah itu, darah manusia, kalau sudah membeku, maka tidak bisa lagi di apa-apakan, ya, tidak bisa lagi untuk diteliti hemoglobinnya berapa, kemudian darah putihnya berapa, dan seterusnya, dan seterusnya, untuk mengetahui adakah virus, bakteri yang ada dalam tubuh kita. Makanya dimasukkan dia dalam spuit, kemudian dimasukkan dalam tabung kecil, tabung kecil dimasukkan dalam tabung lagi, tabung lagi dimasukkan dalam pendingin. Itu sistem yang ditemukan oleh manusia untuk membekukan darah. Ketika darah itu dibutuhkan untuk sebuah penelitian, maka darah itu dikeluarkan dari tabung itu, lalu kemudian dimasukkan ke dalam sistem lagi untuk mencairkan darah itu. Kan begitu. Akhirnya setelah dibekukan dan dicairkan, baru darah itu bisa dipergunakan dan seakan-akan darah itu baru dikeluarkan dari tubuh manusia.

Tahu, pemirsa sekalian, ternyata sistem mencairkan dan membekukan darah sudah sejak awal penciptaan nyamuk sudah ada dalam dirinya. Subhanallah. Ternyata nyamuk, tubuh nyamuk itu Subhanallah, ketika dia menghisap darah manusia itu, dia bisa membekukan dalam tubuhnya. Dan ketika dia membutuhkan darah itu menjadi asupan dirinya, dia bisa mencairkan kembali darah itu untuk menjadi asupan dirinya. Itu baru diketahui manusia, baru diketahui manusia. Ternyata sudah ada sejak awal penciptaan tubuhnya nyamuk itu. Nah, dari sisi dari itu, dari sisi duniawiyah, manfaat dari sisi duniawi, kenapa Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengambil nyamuk sebagai permisalan dalam ayat ini? Dari sisi ukhrawinya, ini ada penjelasan lebih hebat lagi. Kenapa nyamuk dijadikan permisalan? Kalau kita lihat ya, tiga ayat setelahnya, ayat yang berikutnya dan dua ayat setelahnya itu berbicara tentang kehidupan dunia. Allah katakan apa? "Alladzina yakhuduna al-dunya bil akhirah." Ya, dan merusak dalam kehidupan dunia ini. Dua ayat setelahnya, pemirsa sekalian, bisa kita lihat di dalam firman Allah, "Walladzi khalaqa lakum ma fil ardhi jami'an." Dua ayat ini, dua ayat setelah ayat permisalan dengan nyamuk ini, datang menjelaskan tentang kehidupan-kehidupan dunia. Makanya Allah angkat permisalan dengan seekor nyamuk dalam ayat yang ke-20. Mau menjelaskan kepada kita bahwa jangan sampai hidup Anda, wahai orang-orang beriman, sama seperti hidupnya nyamuk. Bagaimana itu hidupnya nyamuk? Hidupnya dramatis, penulisan sekalian. Kenapa? Semakin kenyang itu nyamuk, semakin dekat kematian. Kalau dia hinggap di badan kita dan dia tidak sadar dia hisap ini darah terlalu banyak, semakin berat tubuhnya, semakin berat dia melupakan saya, semakin dia berat mengepakkan sayapnya, semakin lambat dia terbang, semakin lambat dia terbang, semakin mudah dia dibunuh. Gitu ya.

Nah, makanya ini menjadi pelajaran bagi kita. Kenapa Allah memberikan permisalan dengan seekor nyamuk? Supaya manusia ini jangan seperti nyamuk dalam kehidupan dunia. Hiduplah secara proporsional. Ketika Allah memberikan izin kepada kita mengambil manfaat dalam kehidupan dunia ini, jangan merusak dunia. Ambil manfaat dengan sebaik-baiknya, dan jadikan dunia ini sebagai jembatan untuk kita mendapatkan kehidupan akhirat. Harusnya seperti itu kehidupan manusia itu. Jangan seperti seekor nyamuk. Terlalu banyak, terlalu kenyang dengan kehidupan dunia tanpa dia rasa dan tanpa dia sadari, ketika datang ajal menjemput, maka dia tidak punya lagi bagian apa-apa di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kecuali azab yang pedih dalam kehidupan dalam kehidupan akhirat. Nah, ini pelajaran. Saya rasa mudah-mudahan Allah bukakan bagi kita semuanya kemampuan, kesanggupan untuk mentadaburi ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, khususnya pemirsa sekalian, ayat-ayat yang berisi permisalan dan perumpamaan yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala angkat di dalam Alquran.

Ada Allah. Alhamdulillahirobbil alamin. Masya Allah atas materinya yang sangat bermanfaat. Baik, untuk sahabat Wahdah yang ingin bertanya, bisa berkonsultasi melalui pesan WhatsApp di nomor 0823 4445116 atau juga di kolom komentar, kolom komentar YouTube yang Anda saksikan. Itu ada pertanyaan masuk. "Saya pernah membaca hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang membolehkan seorang laki-laki untuk melihat wanita yang ingin dinikahinya. Pertanyaan saya, apa saja yang dibolehkan untuk dilihat? Apakah boleh melihat semua rambut dan kepalanya?"

Bismillah. Sholatu Wassalamu ala Rasulillah. Jadi yang dibolehkan dalam hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam termasuk juga telapak tangannya. Karena ini mesti kita luruskan ya, karena terkadang sebagian kaum muslimin tidak bisa membedakan antara aurat, aurat shalat, dan aurat nadzor. Syafi'i dijelaskan itu berbeda. Jadi aurat wanita itu terbagi dua. Ada aurat shalat, dan ada aurat aurat nadzor. Aurat shalat itu adalah seluruh badan wanita kecuali wajah dan telapak tangan. Kan seperti itu. Artinya, wajah dan telapak tangannya itu harus harus nampak, tidak boleh tertutup ketika dia mengerjakan ibadah salat. Tapi aurat nadzor, maka wanita itu semuanya aurat. Wajahnya dan seterusnya. Makanya kalau ada yang mengatakan cadar itu adalah budaya, salah itu. Karena cadar kita bisa buka dalam buku-buku para ulama kita, buku-buku madzhab Syafi'i itu disebutkan, sebagian ada yang mengatakan hukumnya sunnah, sebagai ada yang mengatakan hukumnya wajib, malah dan seterusnya. Makanya dalam hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ketika ada salah seorang sahabat meminang atau mengkhitbah seorang wanita, maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam perintahkan kepada sahabat tersebut, "Apa kamu sudah melihatnya?" Artinya, melihat wajahnya, termasuk juga melihat telapak tangannya. Adapun kalau dia ingin mengetahui yang lebih dari itu, maka dia bisa meminta kepada ibunya ya, artinya ibunya sang laki-laki ini ya, untuk melihat seandainya misalnya sang mempelai wanita ini, misalnya calon mempelai wanita ini mengatakan, "Saya punya cacat di bagian belakang saya misalnya," maka yang dibolehkan diizinkan untuk melihat itu bukan laki-laki itu ya, tapi yang diizinkan adalah apa? Adalah sang ibu, ibu dari sang laki-laki tersebut, untuk kemudian dia melihat aurat tersebut. Wallahu Ta'ala.

Jawabannya. Pertanyaan selanjutnya datang dari video YouTube atas nama Siti Nurma. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apakah betul Ustadz, salat kita tidak sah kalau cadar kita ikut ke tempat sujud, apalagi kalau cadarnya pakai resleting, resleting samping ini?"

Sebagaimana yang tadi kita sebutkan ya, bahwasanya aurat wanita itu di dalam ibadah salat adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangannya. Artinya, wajah ini memang harus nampak, kecuali apabila dia khawatir ada orang ajnabi, laki-laki, yang melintas dan seterusnya, maka dibolehkan bagi dia untuk sekedar menutupnya sesaat itu saja, dan tidak boleh menutupnya terus-menerus. Sehingga apa? Sehingga perbuatan kalau dikhawatirkan cadar itu, apalagi cadar resleting, gitu ya, dia itu memenuhi ke apa namanya itu, nanti tertutup ketika sujud dan seterusnya, maka sebaiknya itu dihindari. Dan kita salat di tempat yang lebih aman, jauh dari pandangan laki-laki. Namun terkadang ini sulit juga memang ketika kita sedang ada acara misalnya tabligh akbar di masjid dan seterusnya, ramai. Maka sedapat mungkin kita menjauh dari pandangan laki-laki ajnabi untuk kita mengerjakan ibadah salat dengan sebagaimana yang sebenarnya. Kalaupun seandainya ada laki-laki yang melintas, maka boleh bagi kita untuk menutupnya sekadar dia melintas, setelah itu kita buka kembali. Wallahu a'lam.

Pertanyaan selanjutnya datang dari via WhatsApp atas nama Saleh. "Apakah seorang muslim itu memiliki keyakinan Jabariyah bersandar pada takdir tanpa ikhtiar?"

Keyakinan Jabariyah ini adalah keyakinan yang menyimpang, salah satu di antara keyakinan yang menyimpang dari keyakinan Ahlussunnah Wal Jamaah. Ada dua keyakinan yang ada, tiga keyakinan tentu saja. Yang pertama adalah keyakinan Ahlussunnah Wal Jamaah, kemudian keyakinan Al-Jabriyah, kemudian keyakinan Al-Qadariyah. Apa maksudnya Qadariyah dan Jabariyah? Qadariyah itu menafikan qadar, mereka tidak percaya dengan adanya takdir Allah, dan setiap manusia berbuat sesuai dengan kehendak dan kemauan masing-masing. Kemudian ada juga keyakinan yang bersebelahan, berseberangan, keyakinan Jabariyah. Jabriyah ini diambil dari kata "al-jabar". "Al-jabar" itu artinya paksaan. Jadi manusia ini, orang-orang yang punya keyakinan Jabariyah ini meyakini bahwa manusia itu ibaratnya robot. Jadi robot itu kan dimainkan. Ya, sama seperti itu. Jadi manusia tidak punya tidak punya kemauan, tidak punya keinginan untuk berbuat apa yang mereka inginkan, dan semua yang dilakukan oleh manusia itu adalah atas ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Yang mana yang benar? Pemirsa sekalian, yang benar adalah Ahlussunnah Wal Jamaah. Bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala punya keinginan dan manusia juga memiliki keinginan. Artinya, Allah Subhanahu Wa Ta'ala punya keinginan dan kemauan, dan Allah mengaruniakan keinginan dan kemauan untuk kepada manusia. Namun, setelah terjadi kemauan dan keinginan itu, maka semuanya tetap terjadi sesuai dengan ilmunya Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Makanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu mengetahui apa yang belum terjadi, dan apa yang akan terjadi, dan Allah juga mengetahui kalau seandainya itu terjadi sebuah peristiwa itu terjadi, maka bagaimana proses terjadinya itu juga diketahui oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Jadi itu keyakinan kita Ahlussunnah Wal Jamaah. Jadi kita punya Allah karuniakan kepada kita keinginan, kemauan. Namun keinginan dan kemauan kita itu tentu saja akan selaras sesuai dengan takdir yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala sudah gariskan untuk untuk kita.

Atas nama Syafaat datang dari via WhatsApp juga. Dia meminta penjelasan pandangan Islam mengenai qada dan qadar.

Yang pertama, dia adalah salah satu di antara rukun iman yang enam, ya, beriman kepada takdir Allah yang baik dan dan yang buruk. Meskipun dikatakan sebagai takdir yang baik dan buruk ini dalam pandangan manusia, karena semua takdir Allah Subhanahu Wa Ta'ala pasti baik. Semua takdir dan ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala pasti pasti baik. Namun dalam pandangan kita sebagai manusia biasa, pandangan yang terbatas, terbatas ilmu dan pengetahuan, maka termasuk hikmah yang diingkari oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka kita melihat sebagian takdir itu adalah ada yang baik, dan sebagian juga ada yang ada yang buruk.

Nah, iya, qada dan qadar ini adalah ketetapan yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala tetapkan 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan langit dan bumi. Nah, persoalannya terkadang, terkadang orang sebenarnya ini masalah qada dan qadar ini masalah yang berat ya, dan salah satu persoalan yang sering diangkat dan terkadang menjadi masalah di tengah masyarakat, khususnya umat Islam, adalah ketika kita telah berbuat baik, lantas Allah menakdirkan kita sebagai penghuni neraka, atau sebaliknya, ada orang yang jahat sekali dalam kehidupannya, ternyata Allah takdirkan dia sebagai penghuni penghuni surga. Nah, itu mungkin orang akan mengatakan, "Mana letak keadilan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan ketetapan dan takdir tersebut?" Nah, ini sebenarnya sudah dijelaskan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ketika Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam selesai menyelenggarakan jenazah salah seorang sahabat. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan, "Tidak ada seorang pun di antara kalian di antara kita umat manusia, ila wa qod kutiba lahuma qodarun, kecuali Allah sudah tetapkan baginya tempatnya di dalam surga atau tempatnya dalam neraka." Maka salah seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja terhadap ketetapan Allah itu?" Artinya, kalau memang kita dicatat sebagai penghuni surga, ya sudah, enggak usah beramal, nanti pasti akan ketemu dengan jalannya menuju surga. Kalau memang dicatat sebagai penghuni neraka, ndak usah capek-capek beribadah saja terhadap ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Maka apa kata Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam? "Tetaplah beramal, karena setiap orang pasti akan dimudahkan untuk ketemu dengan tujuan Allah menciptakan dirinya. Kalau memang diciptakan untuk menjadi penghuni menjadi orang yang berbahagia, maka akan dimudahkan mengamalkan amalan orang-orang yang berbahagia. Tapi memang kalau memang diciptakan sebagai orang yang sengsara, maka memang akan dimudahkan untuk mengamalkan." Makanya sekarang tinggal introspeksi diri lah, tinggal bercermin pada diri masing-masing. Selama hidup kita ini, kita dimudahkan untuk apa? Dimudahkan beribadah atau dimudahkan bermaksiat? Kalau dimudahkan beribadah, maka itu mudah-mudahan menjadi pertanda bahwa kita akan masuk surga. Kalau dimudahkan untuk berbuat dosa, maka itu harus berhati-hati, jangan sampai itu pertanda bahwa kita akan masuk ke dalam neraka Allah. Meskipun pintu taubat senantiasa senantiasa terbuka.

Selanjutnya pertanyaan [Musik] datang dari via WhatsApp atas nama Daniel. "Tolong jelaskan kenapa cerita-cerita yang ada pada kitab Alquran hanya terjadi di wilayah Asia Timur Tengah saja? Pantaskah kitab agama ini digunakan oleh seluruh umat dunia?"

Kalau memang betul ya, bahwasanya kisah-kisah yang disebutkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu di dalam Alquran memang kisah-kisah sejarah, sejarah masa lalu. Meskipun juga disebutkan ya, ada kisah-kisah, ada sejarah-sejarah atau kisah-kisah yang apa namanya, bukan dia adalah kisah, namun tidak bisa dikatakan sebagai sejarah, karena dia kejadian peristiwa yang nanti di masa yang akan datang. Apa contohnya? Kisah-kisah tentang tanda-tanda hari kiamat. Nah, itu kan kisah cerita Allah Subhanahu Wa Ta'ala ceritakan kepada kita, bagaimana kalau langit itu terbelah, kalau gunung-gunung itu dihempaskan dalam surah Al-Qariah disebutkan itu kan kisah cerita. Tapi kisah dan cerita ini belum pernah terjadi sebelumnya, nanti terjadi di akhir zaman.

Kemudian kalau dikatakan kenapa kebanyakan kisah-kisahnya itu apa namanya dikisahkan, ini terjadi di kebanyakan memang ya, dia mengatakan hanya terjadi di wilayah Asia ini, tidak benar. Kalau dikatakan kenapa kisah-kisah yang diangkat dalam Alquran itu terjadinya itu di wilayah Asia Tengah Timur Tengah, ini tidak benar. Kenapa? Karena ya, coba buka, kisahnya Nabi siapa? Kisahnya Iskandar Zulkarnain disebutkan dalam surah Al-Kahfi di akhir surah Al-Kahfi. Siapa itu Iskandar Zulkarnain? Iskandar Zulkarnain adalah seorang raja di masa Nabi Ibrahim Alaihissalam yang menguasai daerah timur dan barat, dan dia punya kesenangan, dia punya kebiasaan untuk berkunjung, melakukan safar, perjalanan ke daerah timur dan ke daerah barat. Itu disebutkan dalam surah Al-Kahfi. Silakan buka, Daniel. Silakan buka di dalam surah Al-Kahfi di bagian akhir diceritakan tentang kisah Iskandar Zulkarnain, salah seorang raja, Iskandar Agung namanya, yang telah menaklukkan daerah timur dan barat dunia. Nah, di seorang raja yang sangat masyhur di masanya, di zaman Nabi Ibrahim Alaihissalam, menaklukkan daerah timur dan barat. Dan kemudian ketika dia pergi ke daerah barat, dia bertemu dengan umat manusia di sana, dan pergi ke daerah timur, bertemu dengan sekelompok manusia yang mengeluh tentang keberadaan Ya'juj dan Ma'juj. Nah, makanya kalau dikatakan kenapa cuman di daerah Asia Timur Tengah saja, ini buktinya Iskandar diceritakan kisah Iskandar Zulkarnain.

Kemudian juga ada kisah-kisah yang lain, kisah para umat terdahulu atau nabi-nabi Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang terdahulu, yang notabenenya Anda tidak semuanya tinggal daerah timur, daerah Timur Tengah. Ada yang tinggal daerah Madyan, ada yang tinggal di daerah apa namanya, kaum apa namanya, kaum Nabi Nuh Alaihissalam, kemudian termasuk juga kisahnya Nabi Adam Alaihissalam. Kisah Nabi Adam Alaihissalam itu kisah sejarah, dan diceritakan ketika Allah Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan Nabi Adam Alaihissalam, ya, selama puluhan tahun Nabi Adam Alaihissalam berkeliling, berkeliling dunia. Nah, itu berarti tidak benar kalau dikatakan kenapa Alquran hanya mengisahkan kisah-kisah daerah Timur Tengah saja. Nah, itu tidaklah benar.

Atas nama Naim. Nah, ini agak sampai sekarang saya masih tidak percaya dengan kisah-kisah yang disampaikan ajaran Islam terkait dengan Ya'juj dan Ma'juj. Jika benar itu ada, jika benar itu ada, setidaknya manusia saat ini sudah mengetahui lokasi tembok yang diceritakan. Bagaimana Anda bisa menjelaskan?

Sebagian ulama memang menyebutkan bahwa tembok Ya'juj dan Ma'juj yang dibangun oleh Iskandar Zulkarnain itu adalah tembok yang gaib. Itu disebutkan oleh sebagian ulama, dan disebutkan, silakan kita bisa rujuk dalam kitab Fathul Bari karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani. Memang beliau menyebutkan pandangan sebagian ulama. Ada beberapa pandangan sebenarnya. Sebagian mengatakan, pandangan sebagian mengatakan bahwa tembok Ya'juj dan Ma'juj ini di sebuah daerah yang belum pernah ada orang yang sampai ke sana. Itu yang pertama. Yang kedua adalah dia temboknya sudah maju sini, itu berada di bawah tanah. Itu pandangan sebagian ulama. Kemudian pandangan yang lainnya, tembok Ya'juj dan Ma'juj ini ada di atas permukaan darat, di atas permukaan apa namanya, di dataran. Tapi memang dia adalah tembok yang di masa saat ini memang digaibkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, tidak ada orang yang bisa melihatnya. Nanti ketika datang zamannya, ketika datang masanya Ya'juj dan Ma'juj itu diizinkan oleh Allah untuk keluar, barulah kemudian tembok itu dinampakkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan mereka itu dari seluruh penjuru tembok itu mereka turun sangat cepat untuk apa? Untuk menyerang umat manusia. Jadi persoalan Ya'juj dan Ma'juj, ketika kita mengatakan bahwa ketika Anda mengatakan saya tidak percaya dan tidak beriman dengan Ya'juj dan Ma'juj.

Kenapa? Karena eee bagaimana caranya kita buktikan eh apa namanya itu ada? Kalau seandainya apa namanya, kalau seandainya betul itu ada, kenapa temboknya tidak bisa, tidak bisa dilihat? Ini saya bisa balas Anda dengan mengatakan, apakah Anda beriman dengan peristiwa Isra dan Mi'raj? Kalau Anda mengatakan saya tidak, Anda tidak percaya dengan, Anda tidak pernah melihat bagaimana itu peristiwa itu, berarti Anda sudah kafir ya. Kenapa? Karena kisah Isra dan Mi'raj diceritakan dalam Alquran surah Al Isra. Kisah Yajuj diceritakan dalam surah Al-Kahfi. Kalau Anda tidak percaya dengan peristiwa Ya'juj dan Makjuj dan disebutkan dalam surah Al-Kahfi, itu berarti Anda sudah kafir kepada satu ayat Allah Subhanahu wa ta'ala. Hati-hati ini. Kalau tidak percaya ya, sesuatu itu tidak mesti itu ada dan nampak di hadapan kita baru kita percayai. Makanya juga disebut sebagai apa? Sebagai iman. Iman itu yang bermain adalah akal dan dan hati. Terkadang iman itu akal kita itu tidak sampai ke sana, makanya yang sampai ke sana adalah hati kita, kepercayaan kita. Makanya kalau Anda tidak percaya, saya tidak percaya, misalnya Anda katakan, "Saya tidak percaya Yakjuj dan Makjuj." Kenapa? Karena temboknya sekarang. Bagaimana ini ya? Tidak ada, belum ada yang membuktikan. Apakah memang semua manusia sudah pernah melakukan perjalanan ke seluruh dunia ini ya? Apakah memang sudah ada pernah manusia yang masuk menyelam ke dalam kedalaman lautan yang terdalam dan mereka bisa melihat apa yang ada di dalam lautan? Kan tidak ada. Ada orang yang seperti itu? Kapal yang kemarin saja kan, kapal api itu yang mau mencari bangkai-bangkai kapal Titanic itu di hari tenggelamnya kapal Titanic itu, ketika dia dimasukkan dengan alat yang canggih, meledak di dalam laut. Sekarang Anda mengatakan, "Saya tidak beriman dengan ini dan itu." Kemudian, "Kenapa?" "Karena saya belum pernah lihat." Memangnya Anda sudah pernah melihat alam semesta ini secara keseluruhan? Kan belum pernah. Makanya jangan sampai kita mengaku, "Saya tidak beriman karena belum melihatnya," karena iman itu permainannya di dalam hati kita, dalam kepercayaan kita, bukan dalam indera kita.

Wallahu Alaihi Wasallam. Eee, dia sedikit bercerita, "Saya seorang yang dulunya beragama Kristen, namun saat saya SMA sering mendengar dialog keagamaan dan saya rasa tiap-tiap argumen yang dikeluarkan Islam terkait ketuhanan sangat bisa masuk dalam logika saya. Namun, saya ingin memulai, ya, dia ingin memulai mengenal Islam. Namun, saya sering terjadi orang Islam terlihat lebih angkuh katanya daripada teman-teman saya di Kristen. Akhirnya saya lebih memilih untuk tidak memilih agama apapun. Bisakah Anda menjelaskan mengapa orang-orang memiliki sifat seperti itu?"

Toyib. Yang pertama, kita kalau kita ingin jujur, setiap agama memiliki dua sisi manusia yang seperti ini. Anda kalau memang Anda mengatakan bahwa, "Saya melihat orang-orang Islam itu kebanyakannya orang-orang angkuh. Ya, saya melihat orang-orang Kristen, mohon maaf, saya melihat orang-orang Kristen itu lebih akrab, lebih baik, dan seterusnya, dan lebih santun dan sebagainya." Itu karena yang Anda lihat adalah orang-orang yang hidup di sekitar Anda. Coba kita pergi ke daerah yang lain, ke tempat yang lain. Coba kita pergi ke belahan bumi yang lain, kita ketemu dengan orang yang lain. Silakan kita bertemu dengan orang-orang tersebut. Kita akan selalu melihat di setiap agama-agama apapun itu, setiap agama pasti ada orang yang baik, ada orang yang orang yang jahat, ada orang yang rendah hati, dan ada orang yang angkuh, ada orang yang dermawan, dan ada orang yang pelit, ada orang kikir, dan seterusnya. Selalu ada yang seperti itu. Kenapa? Karena di manapun itu selalu terjadi perseteruan antara kebaikan dan dan kesalahan. Selalu terjadi perseteruan antara kebenaran dan ke dan kebatilan. Nah, kalau Anda ingin mencari kebenaran, Anda ingin beragama dengan agama yang benar, maka jangan Anda pernah beragama dari dari orang-orang yang memeluk agama Islam atau dari orang-orang yang memeluk agama tersebut. Jangan. Justru beragamalah dari sumber-sumber kitabnya. Kalau Anda mau beragama Kristen, lantas kemudian Anda mengatakan, "Oh, saya mau beragama Kristen. Bagaimana caranya? Saya belajar dari dari orang-orang tertentu." Itu keliru. Harusnya Anda belajar langsung dari dari kitabnya, karena kitabnya ada. Anda mau belajar Islam, kemudian Anda mau belajar dari perbuatan orang, dan ada orang yang melakukan ini, ada orang yang melakukan itu, ada yang melakukan salat seperti dan seterusnya, Anda pusing sendiri. Harusnya belajar langsung. Bagaimana belajar langsung? Buka Alquran, kemudian buka hadis-hadis nabi. Tentu saja tetap dengan bimbingan seorang ulama yang terpercaya. Jangan juga terlalu berani, ya, "Saya mau belajar langsung otodidak, belajar buka kitab, buka Alquran langsung." Ya, bisa bisa tersesat nanti. Harus memiliki dasar-dasar terlebih dahulu dan terlebih dahulu bertanya kepada orang yang ahli, bertanya kepada alim ulama yang terpercaya keilmuan dan ketakwaannya. Lalu kemudian setelah itu Anda bisa belajar sendiri, Anda bisa baca kitab dan seterusnya dan seterusnya.

Pertanyaan sebelum terakhir ini dari Malik. "Saya ingin menanyakan berkaitan dengan dalil bentuk bumi yang katanya dihamparkan. Apa pendapat Anda?"

Memang disebutkan oleh sebagian ulama kita bahwa bumi ini ada dua pendapat. Ada yang mengatakan bumi ini bulat, dan ada yang mengatakan bumi ini datar. Dalil ulama yang, dalil orang-orang yang mengatakan bahwa bumi ini dihamparkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengatakan ayatnya, "Dan kami menjadikan bumi ini," kata-kata itu dalam Alquran. Apa maknanya? Habitat Allah menjadikan bumi itu dihamparkan. Dihamparkan. Makanya sebagian ulama mengatakan, "Oh, kalau begitu berdasarkan ayat ini, eee bumi itu berarti ee flat, bumi itu berarti datar." Itu berarti datar. Kenapa? Karena tidak ada sesuatu yang dihamparkan kecuali dia datar. Nah, dia di hamparan seperti itu. Eee ulama yang lainnya mengatakan bahwa bumi itu bulat. Itu mengatakan bahwa bisa kita gabungkan antara dalil-dalil yang mengatakan bahwasanya bumi itu datar dan bumi itu dan bumi itu bulat. Bagaimana caranya? Dalil yang mengatakan bahwa bumi itu datar, seperti yang tadi kita sebutkan, itu dipahami bahwa datar dari datar. Maksudnya di sini adalah datar bagi orang yang berada di atasnya. Artinya, apa? Artinya, ketika seseorang itu berada di atas bumi ini, maka dia melihat bumi itu datar. Ya. Tapi kalau seseorang itu sudah keluar dari bumi ini, menjauh dari bumi ini, maka akan kelihatan bumi itu, bumi itu bulat. Begitu. Makanya terkadang kalau kita melihat sebuah lukisan, kita mengatakan, "Oh, saya tidak bisa ini lukisan apa, lukisan jelek sekali." Kenapa? Karena Anda terlalu dekat melihat lukisan itu. Coba mundur sedikit. Nah, ketika mundur sedikit, baru kelihatan, "Oh, ternyata gambar pemandangan, ternyata gambar ini dan gambar itu." Nah, makanya ketika kita melihat dari sisi dekat, memang bumi itu kelihatannya dihamparkan, kelihatannya flat, kelihatannya datar. Tapi kalau kita sudah keluar, seperti orang yang berada di atas pesawat, misalnya. Pesawat itu kan tidak terbang datar. Dia terbang, eh, apa namanya, mengikuti radar yang menuntun dia. Jadi, sudah ada radar, sudah ada sistem navigasi. Pesawat itu tidak terbang datar, karena kalau dia terbang datar, sebenarnya dia akan keluar dari bumi. Dia akan terbang sesuai dengan navigasi itu. Navigasi. Dia terbang meliuk-liuk dan seterusnya sampai ke tempat tujuannya.

Allahu Akbar. Jika ada seseorang yang hendak menunaikan haji fardhu untuk pertama kali, sementara dia memiliki putra yang sudah memasuki usia pernikahan, sedangkan orang tersebut memiliki biaya hanya cukup untuk haji atau menikahkan putranya. Dalam kondisi seperti ini, yang mana lebih utama?

Dari sisi kita bisa melihat dari beberapa sisi. Yang pertama, dari sisi apa namanya, kemampuan seseorang untuk menyempurnakan rukun Islamnya. Tentu dia punya kewajiban. Kalau dia punya sudah punya harta untuk apa namanya, untuk menekan kewajiban ibadah haji, maka dia wajib mengerjakan ibadah haji itu. Kenapa? Karena meskipun harus dilihat juga ya, dari sisi kemampuannya, dari sisi, karena apa makna al-istithaa' bagi orang yang seorang muslim untuk mengerjakan ibadah haji, bukan hanya mampu untuk membiayai perjalanannya saja, tidak. Tapi makna di situ juga maknanya adalah aman dari sisi perjalanan juga, mampu memiliki harta untuk ditinggal ditinggalkan untuk keluarganya. Karena kan dia akan pergi selama 40 hari ini kan, 40 hari. Kalau seandainya uangnya pas-pasan, 50 juta itu dia bawa semuanya, istri dan anaknya mau makan makan apa? Maka harus ada di sini maknanya adalah ada nafkah yang dia tinggalkan untuk untuk istri dan anak-anaknya. Nah, sekarang yang dipersoalkan ini adalah, "Saya mau pergi haji sudah wajib haji, sedangkan putra saya ini juga mau mau menikah." Nah, ini tentu saja kalau kita lihat dari persoalan, apa persoalan seorang itu wajib mendahulukan kewajiban dirinya sendiri. Nah, itu ya. Makanya ada kaidah yang mengatakan, "Tidak ada, apa namanya, tidak ada keutamaan untuk mendahulukan orang lain dalam persoalan ibadah." Artinya, kalau kita berbicara tentang masalah ibadah, maka yang harus didahulukan adalah diri diri sendiri. Tidak boleh mendahulukan orang lain untuk mengerjakannya. Kalau kita punya kemampuan untuk melakukan ibadah itu, maka kita yang mengerjakan ibadah tersebut, bukan mendahulukan orang lain untuk mengerjakannya.

Namun, kalau kita melihat tentu saja ada maslahat yang lain dengan pernikahan anak kita. Kalau kita tahu bahwa anak kita ini itu sudah wajib untuk menikah, karena kan menikah itu sama seperti hukum ahkam taklifi yang lima itu berlaku dalam pernikahan. Terkadang ada orang yang hukumnya mubah untuk menikah, kadang ada yang sunnah, kadang ada yang wajib, ada yang ada yang makruh, ada yang ada yang haram. Nah, ini penanya tinggal melihat kondisi anaknya seperti apa. Kalau kondisi anaknya dia wajib untuk menikah, kalau tidak menikah dia terjatuh dalam perbuatan zina, kalau dia tidak menikah maka dia akan berbahaya dalam kehidupannya dan seterusnya. Artinya wajib anaknya itu menikah. Maka dari sisi ini mungkin dia bisa apa namanya, berupaya untuk mendahulukan, eh, keadaan anaknya itu. Ya. Dan adapun untuk apa, untuk menyelamatkan agama anaknya, tentu saja daripada dia terjatuh dalam perbuatan kemaksiatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, bahkan telah dosa besar, maka dia nikahkan anaknya. Yang tersisa dari harta haji, apa namanya, harta yang dia siapkan untuk haji itu, dia banyak berdoa kepada Allah, mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, diniatkan juga ya, diniatkan juga, mudah-mudahan dengan membantu anak saya menikah ini, mudah-mudahan rezeki saya dilapangkan dan seterusnya, bisa menggabungkan dua dua kebaikan ini.

Masya Allah. Jazakumullah Khair atas materi yang diberikan. Sangat bermanfaat tentunya. Dan [Musik] eee sebenarnya kita masih ingin berlama-lama sama, cuman karena waktu membatasi. Jadi, eee mudah-mudahan eee kita dimudahkan dan diberikan kesempatan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk bertemu di lain waktu. Kita tutup dengan membaca al-Fatihah majelis. Subhanallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik]