📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Video Learning: Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Diagnosis Ansietas

STIKES RS HUSADA16:06

Transcription

Selamat pagi anak-anak. Hari ini kita akan melanjutkan pembelajaran kita di keperawatan jiwa. Topik kita hari ini adalah tentang ansietas. Ansietas adalah kecemasan. Mungkin anak-anak sudah eh selama ini sudah pernah mendengar kata-kata ansietas, takut, khawatir, ataupun cemas.

Nah, apa sih sebetulnya pengertian dari ansietas? Ansietas adalah kondisi emosi dan pengalaman subjektif individu terhadap objek yang tidak jelas dan spesifik akibat adanya antisipasi bahaya yang memungkinkan individu melakukan tindakan untuk menghadapi ancaman. Jadi, anietas atau khawatir ini muncul pada individu atau pada pasien yang kita rawat ketika merasakan suatu ancaman di dalam dirinya.

Anietas ini terbagi menjadi berapa klasifikasi? Dari ringan, sedang, berat, sampai dengan panik. Nah, ee tahapan ini berdasarkan dari gejala yang dialami oleh pasien. Tanda dan gejala seperti merasa bingung, merasa khawatir terhadap kondisi yang dialami pasien, tidak bisa berkonsentrasi, gelisah, tegang, tidak bisa tidur, bahkan sampai pada gejala-gejala fisik yang muncul seperti merasa deg-degan, palpitasi, diaforesis, RR meningkat, nadi meningkat, tekanan darah meningkat, suara bergetar, sering berkemih ke kamar mandi, ataupun sampai dengan tidak bisa tidur dan sebagainya.

Nah, pada pasien-pasien dengan kondisi apa yang bisa mengalami ansietas? Yang pertama, pasien dengan kondisi penyakit kronis. Yang kedua, pasien yang tiba-tiba masuk ke rumah sakit lalu didiagnosa menderita suatu penyakit yang akut. Yang ketiga adalah pasien hospitalisasi. Pasien yang tadinya tidak pernah dirawat di rumah sakit, ee masuk ke rumah sakit dan dirawat. Kejadian-kejadian tersebut menimbulkan eh reaksi ansietas pada pasien, terutama pada pasien-pasien yang akan menjalankan rencana operasi.

Nah, hari ini ibu akan memprakkkan mendemonstrasikan kasus ansietas pada pasien dengan rencana operasi. Baik, kita simak videonya berikut ini ya.

"Gimana hari ini kabarnya?"

"Kurang baik."

"Aduh, kurang baik. Kenapa nih kurang baiknya?"

"Khawatir ya."

"Oke, hari ini dengan Mbak Fanda ya? Boleh sebutkan nama dan tanggal lahirnya?"

"Manda. Iya, saya eh November 1987."

"Ya, hari ini dengan Suster Dian ya, yang merawat Mbak Fanda dari jam 00 sampai dengan nanti jam 00 sore ya."

"Nah, Mbak Fanda, hari ini ada rencana persiapan untuk operasi usus buntu ya? Nanti operasinya akan dilakukan sekitar jam 10. Berarti kita ee akan persiapan untuk pagi ya. Gimana nih mau operasi perasaannya bagaimana?"

"Cemas."

"Tu cemas. Apa yang dirasakan?"

"Deg-degan sih. Saya enggak bisa tidur."

"Enggak bisa tidur kan? Baru pertama kali ya?"

"Iya. Jadi saya ee khawatir aja gagal."

"Tapi hari ini pusing enggak pagi ini? Kepalanya enggak sih?"

"Enggak ada."

"Enggak ada pusing ya? Mungkin ini karena pengalaman pertama ya."

"Nah, jadi gimana kalau kita sebelum masuk ke ruang operasi dan persiapan Mbak Fanda operasi, eh kita latihan dulu relaksasi nafas dalam supaya Mbak Fanda lebih rileks, mengurangi kecemasan."

"Karena kan kita mau masuk ke ruang operasi juga, pasien itu harus tenang ya, harus berkurang cemasnya gitu. Gimana Mbak Fanda mau?"

"Baik."

"Ya, duduk di sini ya."

"Nah, eh kalau suster boleh tahu, eh apa yang menyebabkan eh Mbak Fanda khawatir?"

"Kan karena ini baru pertama kali saya Mas Buang operasi."

"Heh."

"Dan itu saya juga kurang tahu apakah saya akan dibius ee total, saya bisa tidur sehingga saya enggak bisa merasakan apa-apa atau saya bisa merasakan kesakitan saat operasinya itu."

"Oke, oke. Baik, kalau untuk yang masalah bius ya, nanti eh dokter anestesi sebelum nanti Mbak Fanda masuk ke ruang OKA pasti akan datang untuk menjelaskan hal tersebut ya. Nanti Mbak Fanda bisa bertanya terkait dengan eh bagaimana proses pembiusan dan lain-lain ya. Kalau di catatan di sini rencananya Mbak Fanda akan dibius total ya, jadi akan ditidurkan gitu ya."

"Eh, Mbak Fanda, nanti eh tenang saja. Mbak Fanda di pada saat proses operasi itu dokter anestesi akan selalu mendampingi Mbak Fanda gitu sampai dengan bangun. Nah, nanti setelah bangun itu masih di ruang operasi, masuk ke ruang rawat lagi ke sini, kita jemput pada saat Mbak Fanda sudah sadar."

"Nah, untuk kejadian-kejadian kan banyak ya Mbak Fanda, sepasien-pasien sebelum Mbak Fanda sudah melakukan operasi ini dan alhamdulillah ee semua pasien berjalan dengan lancar. Nah, semoga ee Mbak Fanda juga operasinya berjalan dengan lancar gitu ya."

"Heeh."

"Nah, selain proses pembiusan, apa yang menjadi khawatir?"

"Apa ya? Takut gagal."

"Takut gagal. Baik. Apalagi Mbak?"

"Apa ya? Ee takut nanti efeknya sakit ya pasti ya."

"Heeh."

"Sakit banget kan habis B itu."

"Oh iya, ya betul sekali Mbak Fanda. Jadi memang e kalau operasi ini untuk angka kegagalannya cukup rendah ya Mbak Fanda. Jadi, eh semoga dokter bisa melakukan tindakan operasi dengan baik. Lalu setelah operasi pun nanti mungkin ada rasa sakit ya, betul kata Mbak Fanda, agak sedikit tidak nyaman. Tapi nanti kita akan berikan terapi-terapi medikasi, obat-obatan untuk mengurangi rasa sakit yang Mbak Fanda rasakan."

"G."

"Nah, e mungkin masih merasakan kekhawatiran gitu ya. Nah, sekarang saya mau mengajarkan melatih Mbak Fanda. Suster Dian akan mengajarkan tentang ini, eh relaksasi nafas dalam."

"Nah, ini ya namanya teknik relaksasi nafas dalam. Nah, ini untuk merilekskan tubuh kita. Nah, ya. Pengertiannya apa sih?"

"Nah, relaksasi nafas dalam ini adalah suatu cara yang digunakan untuk dapat menurunkan rasa cemas dan merelaksasikan ketegangan otot. Nah, Mbak Fanda merasakan enggak kalau cemas tegang, jadi tegang ototnya gitu sampai merasakan ya ee ototnya jadi tegang."

"Nah, dengan relaksasi ini setelah dilatih diharapkan nanti pasien bisa lebih tenang, bisa lebih rileks."

"Nah, yang kedua manfaatnya tuh apa sih? Meningkatkan konsentrasi. Mungkin kemarin Mbak Fanda karena memikirkan ee operasi jadi enggak konsen. Mengurangi rasa nyeri. Nanti pada saat setelah operasi masih bisa digunakan teknik ini. Perubahan posisi tubuh ee santai, jadi posisinya jadi santai enggak tegang lagi. Mengurangi cemas, khawatir, dan gelisah."

"Nah, poin nomor 3, 4 ini yang kita eh tujuan kita melatih eh relaksasi nafas dalam. Nah, bermanfaat jika perasaan lelah dan tidak enak badan. Jadi banyak manfaat yang bisa diambil ketika kita latihan e relaksasi nafas dalam."

"Sebelumnya pernah gak melatih relaksasi nafas dalam?"

"Belum pernah."

"Oh, belum pernah ya? Nah, berarti ini yang pertama kali ya."

"Nah, ini tadi tujuannya ya, Mbak. Mengurangi kecemasan, merilekan tubuh, mengurangi ketegangan otot, memberikan perasaan yang tenang, dan mengurangi rasa. Jadi ini setelah operasi pun masih bisa digunakan. Tangannya."

"Nah, caranya ini nanti kita akan praktikkan bersama. Yang pertama adalah ketika melakukan relaksasi nafas dalam, kita harus posisi yang senyaman mungkin. Nah, kebetulan Mbak Fanda posisinya semi fowler nih, agak tinggi ya, eh badannya. Nah, berbaring dengan bantal di bawah kepala serta lutut. Jadi ada bantal di sini. Tapi kalau dengan posisi seperti ini sudah nyaman, sudah rileks, ini sudah baik."

"Nah, kalau dengan posisi gini gimana Mbak Fanda? Sudah nyaman belum?"

"Enak sih."

"Sudah enak ya? Kalau kurang tinggi atau ketinggian nanti suster akan turunkan tempat tidurnya."

"Sudah enak, sudah cukup ya segini ya."

"Nah, atau bisa dilakukan dengan duduk di kursi. Nah, kalau Mbak Fanda mengerjakan seperti ini ya, boleh saja."

"Nah, lalu setelah kita memberikan posisi yang nyaman ya. Nah, ini tadi ya posisi yang nyaman. Lalu lingkungan juga yang nyaman, harus tenang ya, tidak berisik ya. Nah, kalau di sini kan di rumah sakit kebetulan Mbak Fanda sendiri ya di ruangan ini, jadi e tenang gitu ya. Lalu ini ambil bantal ya untuk alas kepala bila nyeri. Pejamkan mata dan lemaskan tubuh. Jadi sebelum kita tarik, merilekan badan kita."

"Setelah itu apa yang dilakukan? Tarik nafas lewat hidung ya. Nah, tarik nafas melalui hidung ini punya Mbak Fanda. Lalu kemudian ditahan 3 sampai 4 detik. Jadi ditahan sebentar, baru dibuang ya. Dibuangnya lewat, enggak lewat hidung lagi Mbak Fanda. Lalu nafas dikeluarkan lewat mulut. Nah, dengan mulutnya itu menguncup, mencucu gitu ya. Lalu dilakukan sambil mengeluarkan. Pada saat kita tarik nafas, kita pikirkan hal membuat kita khawatir. Kita hembuskan semua perasaan yang membuat khawatir bersama hembusan nafas. Jadi diharapkan dengan merelaksasikan nafas dalam ini Mbak Fanda bisa membuang semua pikiran-pikiran atau perasaan-perasaan khawatir dan menjadi lebih tenang dan bisa mengganti dengan pikiran yang positif. Misal, oh banyak kok pasien yang berhasil, oh banyak kok pasien yang sudah dioperasi berhasil, pasti saya operasinya juga berhasil gitu. Jadi setelah ee dibuang nafasnya itu dengan memikirkan hal-hal yang baru, hal-hal yang positif ya, mengganti pikiran yang tadi membuat Mbak Fanda khawatir."

"Nah, ini dilakukan minimal bisa sampai dengan tiga kali atau Mbak Fanda sampai dengan eh rasa cemasnya berkurang, bisa lebih rileks. Atau Mbak Fanda bisa juga melakukan tarik nafas dalam sambil berdoa."

"Ya, itu juga bisa eh dilakukan. Nah, sekarang kita akan mencoba ya Mbak Fanda ya. Nah, eh Mencoba ini suster, Mbak Fanda melihat suster terlebih dahulu, baru nanti Mbak Fanda bisa melakukan ya. Jadi duduk yang nyaman. Nah, kalau sini ya duduknya nyaman, tangannya di bahu. Lalu kita tarik nafas dalam lewat hidung."

"[Tepuk tangan] Tarik nafas lewat hidung, keluarkan lewat mulut sambil memikirkan hal-hal yang baik yang positif. Ketika membuang ee nafas, sehingga pikiran yang negatif tadi ya kekhawatiran itu berganti menjadi pikiran yang positif gitu ya, Mbak Fanda ya."

"Saya ulangi sekali lagi ya, Mbak Fanda ya."

"Nah, kurang lebih seperti itu, Mbak Fanda. Eh, sudah bisa mempraktikkan sekarang."

"Nah, sekarang Mbak Fanda, eh apakah posisinya sudah nyaman?"

"Sudah cukup."

"Sudah nyaman ya? Kita akan latih tiga kali ya."

"Nah, sekarang Mbak Fanda, silakan melakukan."

"Gimana perasaannya Mbak Fanda setelah melakukan tarik nafas dalam dan mengeluarkan hal-hal yang ditakuti dan diganti dengan pemikiran yang positif?"

"Lumayan enak."

"Lumayan enak ya? Jadi hari ini kita sudah melatih ee tarik nafas dalam."

"Perasaannya lebih tenang sekarang."

"Iya."

"Badannya lebih leh rileks."

"Gimana ya? Lumayan enakkan ini tu."

"Iya."

"Nah, ini bisa dilakukan Mbak Fanda sambil kita misalnya nanti di ruang OKA ya, di ruang operasi. Mbak Fanda menunggu giliran masuk, Mbak Fanda bisa melakukan hal ini supaya Mbak Fanda juga tetap rileks, tetap tenang menghadapi operasi dan yakin operasinya akan berhasil gitu ya."

"Nah, sebelum suster tinggal, boleh eh dilakukan satu kali lagi tiga kali tarik nafas dan buang nafas."

"Bagus sekali ya. Jadi nanti eh suster akan kembali lagi ke sini untuk persiapan Mbak Fanda mandi, ganti baju, ganti pakaian untuk masuk ke ruang OKA. Eh, sementara e Mbak Fanda boleh istirahat terlebih dahulu. Nanti suster akan balik lagi. Jika ada perlu, Mbak Fanda bisa pencet bel yang ada di kanan Mbak Fanda."

"Eh, suster permisi terlebih dahulu. Eh, harus yakin bisa ee sembuh ya operasinya berjalan dengan lancar ya."

"Ya, baik."

"Suster tinggal dulu ya."

"Iya, baik."

Baik, itu adalah video bagaimana memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami ansietas, terutama pada pasien yang akan melakukan tindakan operasi. Nah, jadi apa saja yang bisa dilakukan? Yang pertama adalah mengkaji apa yang menjadi penyebab pasien mengalami ansietas atau kecemasan. Yang kedua adalah memberikan lingkungan yang nyaman pada pasien. Dan yang ketiga adalah melatih pasien dengan manajemen ansietas, salah satunya yaitu dengan melatih relaksasi nafas dalam.

Nah, bukan hanya bisa melalui relaksasi nafas dalam saja, ada tindakan-tindakan lain yang bisa dilakukan seperti hipnosis lima jari, masase, dan sebagainya. Baik, baik. Selamat belajar. Selamat mencoba dengan teman kalian bermain peran untuk melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan ansietas. Selamat belajar. Selamat pagi. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.