Transcription
Manusia itu, dia akan diceritakan. Dia akan menjadi pembicaraan orang setelahnya. "Oh, dia itu dulu baik." "Oh, dia dulu orangnya jahat." Maka jadilah kamu pembicaraan yang baik bagi orang-orang yang menghafalkan trek recordmu. Maka kita ini hidup sedang membikin sejarah.
Jadi ibu-ibu, kalau bermuamalah, berinteraksi, berhubungan dengan orang, namanya dititi. Jadi maksudnya apa? Orang itu nanti sudah hafal, "Oh, ini ke sini pasti mau pinjam duit ya." "Oh, ini ke sini mau ngerumpi ini." Nah, itu temanmu yang hafal kebiasaanmu itu. Maka jadilah kamu sebagai apa? Sebagai pembicaraan yang baik. Jangan yang dihafalkan itu jeleknya. Maka buatlah sejarah yang baik.
[Musik] yarah walit yar. Jadi kalau orang itu melakukan sekecil apapun kebaikan, maka dia yarah, dia akan mendapatkan, dia akan memanen. Nah, sebaliknya wam yal misqatin syarah. Begitu juga kalau dia melakukan perbuatan sekecil apapun, kalau itu keburukan, tetap dia juga yang akan memanen. Itu keadilan yang Allah Subhanahu wa taala tetapkan.
Nah, karena itu penting di sini kita ini sebagai seorang muslim itu memiliki pandangan ke depan, ya. Jadi, kenapa ibu-ibu sekalian yang dimuliakan Allah, kita sudah tahu bahwa hidup di dunia ini tidak selamanya, ya. Kemudian setelah kita hidup di dunia ini, kita akan tinggalkan semua. Dan masa depan yang hakiki itu sebenarnya adalah akhirat. Tapi sekali lagi, banyak yang kemudian jalannya itu enggak lurus. Nanti kita akan jelaskan apa yang menyebabkan jalan kita ini enggak lurus.
Kemudian yang kedua, ibu-ibu sekalian, kita juga harus punya misi hidup, ya. Orang mukmin itu misi hidupnya apa? Di dalam Al-Qur'an Allah menyatakan, "Wama khalaqtul jinna wal insa illa liya'budun." Itu misi. Dan aku kata Allah tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. Ibadah itu apa? Ibadah itu adalah memberikan pengabdian. Kita itu sebenarnya hidup ini, dan kita sendiri ini disebut sebagai abdun. Abdun itu apa? Abdun itu kalau dalam bahasa kasarnya itu bisa kita sebut budak. Jadi kita ini adalah hamba. Ya, kita ini adalah hamba Allah.
Nah, kalau kita ini menjadi hambanya Allah, berarti kan mestinya hidup kita itu ya terserah Allah, kan begitu ya, Bu, ya? Itu namanya "wama khalaqtul jinna wal insa illa liya'budun." Makanya Allah menggunakan kata ya'budun dari kata abida ya'badu. Ya abida ya'badu. Jadi abida ya'budu itu artinya apa? Bahwa ibadah itu adalah bentuk penghambaan. Ya. Jadi ibadah itu adalah bentuk penghambaan. Kita itu menghambakan diri kita hanya kepada Allah. Nah, ini itu misi hidup kita, ya.
Nah, karena itu hidup kita itu sebenarnya adalah untuk ibadah dalam arti seluas-luasnya. Ibadah itu jangan disempitkan, Bu. Misalnya salat, zakat, puasa, haji. Bukan hanya itu, ya. Ibadah itu luas sekali. Luas sekali. Pokoknya catat ini ya, "ismun jamiun lima yuhibbuhullahu waardoahu." Itu makna ibadah. Ya sudah dicatat, "ismun jamiun," ibadah itu adalah sebutan untuk jami' semua perkara. "Ismun jamiun lima yuhibbhullah," apa saja yang Allah sukai. "Wa ardaahu," dan Allah ridai. Jadi, apa saja yang Allah sukai, apa saja yang Allah ridai itu namanya ibadah. Dan karena itu luas, baik itu berupa qaul (ucapan), fi'lan (perbuatan), atau perkataan, itu semuanya ibadah, gitu loh.
Salat itu berupa qaul wa fi'lan, perbuatan dan juga perkataan. Kita zakat, ya di situ ada qaul, ada fi'lan, termasuk juga malan (harta). Kita puasa, kita haji, itu semuanya termasuk qaul au fi'lan au amalan, dan itu diridai oleh Allah. Nah, selain itu apa? Banyak. Banyak sekali, ya. Sekarang ibu-ibu datang di sini ini termasuk perbuatan, ya. Itu perbuatan yang diridai oleh Allah. Nanti misalnya kalau ini kan duduknya nih, bagaimana jalannya dari rumah ke sini itu juga dihitung ibadah. Kemudian ketika kita nanti misalnya di rumah masak, merebus air, buatkan kopi untuk suaminya, ya, atau misalnya apa itu semuanya kalau masuk dalam kategori "lima yuhibbullah wa ardaahu," apa yang Allah sukai dan apa yang Allah ridai, maka itu termasuk ibadah. Mengajar, ya, atau mungkin bekerja yang kalau Allah sukai, Allah ridai, maka itu juga ibadah. Di jalan-jalan kemudian menemukan sesuatu, entah itu paku, entah itu apa, diambil, itu termasuk "yuhibbullah wa ardaahu," apa yang Allah sukai, apa yang Allah ridai, itu termasuk ibadah. Ketemu orang senyum, Allah suka, Allah rida, ibadah, ya. Bahkan itu disebutkan dalam hadis Nabi.
Jadi pendek kata, banyak sekali perbuatan atau perkataan yang Allah sukai, Allah ridai, dan itu termasuk ibadah. Itu hidup kita seluas-luasnya untuk itu, ya. Nah, ini kemudian ibu-ibu sekalian, orang mukmin itu ketika dia dilahirkan, apa sebenarnya maksudnya Allah melahirkan kita? Maksudnya Allah menciptakan kita. Kita ini dilahirkan untuk berkhidmat, mengabdi. Untuk siapa? Untuk Allah. Ya. Dengan apa? Menggunakan seluruh nikmat yang Allah berikan kepada kita ini untuk melakukan ketaatan. Itu bentuk khidmat.
Jadi, misalnya begini, ibu-ibu dikasih mata. Dipakai apa, Bu, matanya, ya? Apakah matanya dipakai untuk ketaatan atau maksiat? Itu tergantung kita. Ketika kita menggunakan mata kita untuk melakukan ketaatan, berarti kita menggunakan mata kita untuk khidmat. Telinga dikasih telinga untuk apa, Bu? Dikasih tangan untuk apa? Dikasih kaki untuk apa? Dikasih fisik yang sehat untuk apa? Itu semuanya.
Jadi, kalau bahasanya itu ulama itu ya mengatakan, "Badanuka madiyatun," ya. "Badanuka madiyatuka." Badanmu itu, tubuhmu itu adalah madiyah, itu adalah kendaraanmu. Artinya, kita bisa gunakan badan kita untuk apa saja. Mata kita mau pakai apa, terserah kita. Telinga kita mau pakai apa, terserah kita. Tangan kita mau pakai apa, terserah kita. Kaki kita mau pakai apa, terserah kita. Itu kendaraan kita, ya. Itu semuanya adalah kendaraan kita.
Nah, kita diberi kendaraan oleh Allah, diberi semuanya tadi itu. Kalau kita gunakan untuk melakukan ketaatan, itu namanya syukur. Ya, gitu loh, ya. Itu namanya syukur. Maka ketika kita diberi harta, misalnya ini contoh, ya. Kita ini sekarang makan, minum, istirahat, menjaga kesehatan, ya, termasuk mencari ilmu, bekerja. Itu bukan hanya untuk senang-senang, ya, kan? Bukan untuk senang-senang. Senang-senang bukan tidak boleh. Boleh, Bu. Karena Rasulullah membolehkan. Apa kata Nabi? "Rawihu sa'atan fa sa'ah." Silakan kamu ya bersenang-senang sebentar, tapi jangan terus-terusan. Satu hari 24 jam itu isinya nongkrong terus di depan TV. Satu hari 24 jam itu main HP terus. Satu hari 24 jam itu enggak ngapa-ngapain. Pokoknya itu ya, itu tidak boleh. Boleh kalau itu hanya sebentar.
Karena apa? Tujuan utama kita menggunakan mata kita, menggunakan telinga kita, menggunakan otak kita, menggunakan kesehatan kita, menggunakan tangan kita, menggunakan badan kita, untuk apa? Untuk berkhidmat kepada Allah. Nah, itu itu yang harus dicatat. Untuk apa? Berkhidmat kepada Allah. Bahwa di dalam berkhidmat tadi perlu istirahat. Jadi, misalnya begini, kita duduk terus kan enggak mungkin sampai. Kan berdiri, berdiri terus juga enggak mungkin sampai. Kita perlu istirahat. Jadi, sebenarnya kita ini diperintahkan untuk hidup yang boleh kita katakan seimbang, ya. Jalan, ya duduk, ya berdiri, ya olahraga, ya rekreasi, refreshing. Itu harus seimbang. Tapi tujuannya bukan untuk itu. Tujuannya untuk apa? Supaya kita ini punya fisik yang fresh, punya badan yang segar, supaya apa? Bisa dipakai ibadah. Gitu.
Jadi, kalau tujuannya untuk senang-senang tadi salah. Salah dikasih mata ya untuk senang-senang tok. Dikasih telinga untuk senang-senang tok. Dikasih mulut untuk senang-senang tok. Dikasih tangan, dikasih kaki untuk senang-senang tok. Jadi setiap hari itu nanti rapornya dugem terus, ya kan? Rapornya begitu, ya. Tahu, Bu, dugem, Bu? Tahu, ya. Ya, dugem itu dunia gemerlap. Ah, isinya ya sekarang kan lagi ramai sound horek, ya kan. Nah, ternyata sound horek itu bukan hanya soundnya yang bikin horek, tapi juga jogetnya bikin horek, ya kan. Makanya ya. Nah, itu.
Nah, jadi, ibu-ibu sekalian yang dimuliakan Allah, itu kita itu disuruh jaga kesehatan, suruh makan yang cukup, suruh istirahat yang cukup, ya. Kemudian kalau kita punya kesempatan, cari ilmu, cari ilmu. Tujuannya apa? Tujuannya agar kita bisa berkhidmat, gitu loh, ya. Untuk apa? Untuk Allah, untuk Rasul, untuk Islam, untuk umat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Itu tujuannya. Jadi, kalau kita ini sehat bukan untuk senang-senang tok, tapi gunakan kesehatan tadi itu untuk khidmat kepada Allah. Nah, gitu loh.
Nah, ini ya. Jadi tubuh dan apapun yang dianugerahkan itu adalah kendaraan yang harus dimanfaatkan untuk misi ini. Misi apa? Khidmat, gitu loh. Jadi kita ini hidup bukan untuk hidup, tapi hidup ini ada visinya tadi, yaitu untuk tujuan setelah hidup. Karena hidup itu adalah mazra'atul akhirah. Kita ini sedang menanam sekarang itu, ya. Nah, ini.
Nah, kemudian ibu-ibu sekalian yang dimuliakan oleh Allah, sekarang apa tujuan hidup kita? Nah, ini. Nah, maka ada tiga pertanyaan ini yang ibu-ibu harus pahami dulu. Pertama, dari mana dia sebelum hidup? Kemudian, untuk apa dia hidup? Dan mau ke mana setelah hidup di dunia ini? Ini tiga pertanyaan. Bahasa Arabnya, "min aina, lima, ila aina." Dari mana, untuk apa, mau ke mana?
Dari mana kita ini, ibu-ibu sekalian? Manusia, alam, dan kehidupan ini semuanya itu makhluk Allah. Nah, Allah yang menciptakan dan mengurus semuanya. Jadi, kita ini makhluknya Allah, ya toh? Kita ini makhluknya Allah semua. Untuk apa Allah menciptakan ini? Manusia diciptakan oleh Allah untuk beribadah. Dengan caranya bagaimana? Terikat kepada seluruh perintah dan larangan Allah. Atau dengan kata lain, kita ini terikat dengan syariat Allah. Makanya Allah nurunkan agama. Kemudian Allah itu nurunkan kitab suci. Allah itu nurunkan rasul. Tujuannya apa? Untuk mengajari.
Sekarang Rasul tidak ada. Tugas untuk mengajari umat itu siapa yang memikul? Ya ulama. Ya, ya ustaz, ustazah itu yang bertugas untuk mengajari umat, gitu ya. Supaya mereka ini mendapatkan hidayah, mendapatkan taufik, mendapatkan petunjuk dari Allah. Nah, itu kalau ustaz enggak mau ngajari, ulama enggak mau ngajari, nanti mereka punya tanggung jawab di hadapan Allah. Nanti ada orang yang misalnya berzina, dihukum oleh Allah, dia komplain, "Saya berzina karena saya enggak pernah diberitahu bahwa zina itu haram." Ya, padahal sudah tahu zina itu haram. Mana ada orang enggak tahu zina haram, ya kan? Nah, tapi itu alasan manusia, Bu. Makanya nanti di hadapan Allah itu ada. Makanya ulama itu sampai membahas begini, ya. Jadi ada hukum itu, ini saking pintarnya manusia itu ketika nanti ditanya oleh Allah. Makanya sampai dalam Al-Qur'an Allah mengatakan, "Rusulan mubasyirina wa mundzirina li'alla yakuna linasi 'alallahi hujjatun ba'dar rusul." Jadi rasul itu diutus oleh Allah, "rusulan mubasyirina wa mundzirina," untuk memberikan kabar gembira, untuk memberikan peringatan, supaya manusia tidak punya alasan di hadapan Allah. Karena manusia ini banyak alasan. Supaya manusia tidak punya alasan lagi setelah diutusnya rasul.
Jadi ibaratnya Allah mengutus rasul, Allah nurunkan kitab, itu menjadi kalau dalam bahasa Arabnya itu nanti disebut dalilul iskat. Dalil, bukti yang bisa menutup mulut mereka, mengunci mulut mereka, sehingga mereka enggak bisa berkutik, gitu. Karena manusia ini masyaallah, banyak alasan, ya. Nah, ini.
Nah, para ulama kemudian menjelaskan begini. Kalau nanti ada orang dia melakukan perbuatan, perbuatan itu salah, terus dia bilang, "Saya tidak tahu," maka harus dicek, Bu, ya. Harus dicek apakah perbuatan ini termasuk perbuatan yang tidak makruf. Artinya populer. Contoh misalnya zina. Zina itu haram. Apakah orang itu enggak ngerti kalau zina itu haram? Zina itu haram itu perkara yang sudah makruf. Enggak ada orang yang enggak tahu. Karena hukumnya dari dulu sampai sekarang itu orang sudah tahu. Maka kalau nanti ada orang berzina terus dia bilang, "Saya tidak tahu kalau zina itu enggak boleh." Ah, itu enggak diterima. Alasan begitu enggak diterima. Kenapa? Karena itu termasuk perkara yang makruf. Salat ditanya, "Kenapa kamu enggak salat?" "Enggak tahu kalau salat itu wajib." Itu enggak bisa diterima. Kenapa? Karena salat itu termasuk perkara yang makruf.
Terus, apa kira-kira orang itu melakukan pelanggaran yang pelanggaran itu orang itu enggak tahu, terus diterima alasannya? Ya, misalnya hukum-hukum yang dulu orang belum pernah membahas, ya. Contoh misalnya, ya, ada kalau di dalam kitab "An-Nidham al-Iqtisad" itu dibahas hukum saham. Ulama dulu belum ada yang membahas itu. Lalu kemudian ada orang terlanjur punya saham, jual beli saham, terus ditanya, "Kamu tahu enggak hukumnya?" "Enggak tahu." Ah, itu masih bisa diterima. Itu pun kalau dia bukan ulama. Kalau dia ulama, maka ketidaktahuan dia itu tidak bisa diterima. Nah, gitu.
Ini menunjukkan betapa Allah itu sudah menyiapkan perangkatnya tadi. Islam diturunkan dengan Al-Qur'annya, dengan Rasulnya untuk mengajari. Kemudian setelah itu Rasulullah wafat, dilanjutkan oleh para sahabat, para tabiin, kemudian ya atba' tabiin, para ulama-ulama seterusnya. Sehingga dengan begitu tidak ada alasan lagi orang mengatakan tidak tahu, tidak tahu. Jadi kita dakwah, kita mengajar begini itu juga untuk menggugurkan kewajiban kita di hadapan Allah supaya nanti enggak ada yang protes, "Saya enggak tahu karena dulu enggak diajari." Nah, enggak ada yang begitu, ya. Kalau sudah kita ajari kemudian enggak tahu, salahnya sendiri waktu pengajian enggak datang, ya. Nah, gitu, ya. Atau salahnya sendiri waktu ngaji ngantuk. [Tertawa] Salahnya sendiri, ya kan? Bukan jalannya mengajar, ya. Soal mengajar enak enggak enak itu urusan lain, ya. Ah, ini itu kemudian, ya.
Kemudian, mau ke mana kita ini setelah kita di dunia ini? Jawabannya, setelah kita hidup di dunia ini, manusia itu akan mati. Dan setelah itu dia akan dibangkitkan oleh Allah, dimintai pertanggungjawaban terhadap seluruh perbuatan di dunia. Nah, itu tadi, ya. Nah, gambarnya kira-kira begini, Bu. Lihat, ya, posisi kita sekarang di mana ini, ya. Kalau kita lihat posisi kita sekarang ini di sini, alam, manusia, dan kehidupan itu di sini, ya. Jadi, kita ini sekarang posisinya di sini. Nah, kemudian Allah itu adalah pencipta sebelum kita ada. Jadi, Allah itu di sini merupakan pencipta sebelum alam, manusia, dan kehidupan ini ada. Jadi, kalau tadi pertanyaannya "min aina," dari mana kita ini? Jawabannya, kita ini adalah makhluknya Allah. Karena Allah yang menciptakan alam, manusia, dan kehidupan ini.
Tidak hanya Allah menciptakan alam, manusia, dan kehidupan, Bu. Allah itu juga menurunkan syariat. Allah juga mengutus rasul. Kenapa Allah menurunkan syariat? Allah juga mengutus rasul? Kalau enggak ada syariat, nanti kita ini hidup enggak ada aturan. Betul tidak? Makanya Allah turunkan aturan. Syariat itu aturan. Nah, bahwa kemudian sudah ada syariat, enggak mau ngambil syariatnya Allah, urusan lain itu. Misalnya dia ngambil syariatnya ya yang dibuat oleh manusia. Nah, ya ada ya sekarang itu banyak gitu ya. Kita kalahkan syariatnya Allah, kemudian akhirnya mengambil syariat manusia. Nah, jadi kita sekarang di sini posisinya di mana? Allah sudah menurunkan syariat, Allah mengutus rasul untuk menjelaskan "liyubayina linasi ma nuzzila ilaihim." Itu tugas rasul, agar kamu Muhammad, "tubayina linas," menjelaskan kepada umat manusia "ma nuzzila ilaihim," apa yang diturunkan kepada mereka. Al-Qur'an sudah diturunkan. Nabi tugasnya menjelaskan. Penjelasan Nabi itu bisa berupa kata-kata, bisa berupa perbuatan, bisa berupa diam. Itu penjelasan Rasulullah, ya. Makanya kemudian ketika Ibunda Aisyah itu ditanya, "Ya, bagaimana akhlak Rasulullah?" "Wa kana khuluquhul Quran." Akhlaknya Nabi itu adalah Al-Qur'an. Jadi, Nabi itu sebenarnya adalah Al-Qur'an yang hidup. Kita itu kalau baca Al-Qur'an enggak bisa membayangkan seperti apa. Begitu Rasulullah diutus, Rasulullah itu menghidupkan Al-Qur'an sehingga kita bisa melihat kalau orang itu disuruh jujur, jujur itu kayak apa? Rasulullah ngasih contoh, ya. Kalau misalnya orang itu belajar tentang ketaatan, ketaatan itu seperti apa, Rasulullah ngasih contoh. Nah, ya. Makanya Allah kemudian mengatakan, "Laqad kana lakum fi rasulillahi uswatun hasanah." Jadi Rasulullah itu merupakan uswatun hasanah bagi kita. "Liman kana yarjullaha wal yawmal akhir." Bagi orang yang menginginkan Allah dan orang yang menginginkan hari akhirnya selamat. Nah, itu.
Nah, kemudian setelah kita ini, ya, posisinya di sini, nanti kita akan mati. Kemudian setelah mati, kita akan dibangkitkan pada hari kiamat ini. Ini proses penciptaan ini kebangkitan. Nah, ada apa di hari kiamat? Yang jelas, manusia akan dimintai pertanggungjawaban. Ya, ini manusia akan dimintai pertanggungjawaban. Nah, pertanyaannya kemudian, manusia itu nanti ketika diminta pertanggungjawaban itu kan kemungkinannya, kalau kita bikin pertanggungjawaban itu kan ada yang diterima, ada yang ditolak, ya kan? Ada yang diterima, ada yang ditolak. Diterima. Bagaimana pertanggungjawaban kita diterima kalau pertanggungjawaban kita itu sesuai dengan syariatnya Allah? Makanya Nabi mengatakan begini, "Man 'amila 'amalan laisa 'alaihi amruna fahuwa raddun." Siapa yang melakukan amal yang amal itu tidak mengikuti tuntunanku, tidak mengikuti syariatku, maka amal itu ditolak. Berarti pertanggungjawabannya tidak diterima oleh Allah. Kenapa pertanggungjawabannya tidak diterima oleh Allah? Karena enggak sesuai dengan tuntunan ya yang telah diturunkan oleh Allah, yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Maka ditolak. Bayangkan, Bu, kita ini sudah melakukan amal capek-capek gitu ya. Begitu nanti nerima catatan, catatan kita itu merah semua. Catatan kita itu akhirnya enggak ada. Ya, tolak semua. Pengin, Bu? Pengin enggak, Bu?
Ada satu cerita, Bu. Ya, ini cerita seorang perempuan yang bernama Sayidah Zubaidah. Tahu siapa Sayidah Zubaidah, Bu? Sayidah Zubaidah ini adalah istri Harun Ar-Rasyid. Tahu Harun Ar-Rasyid, Bu? Harun Ar-Rasyid itu adalah khalifah Abbasiyah. Ibu-ibu sudah pernah umrah? Iya, ada yang sudah pernah, ada yang belum. Ini wajah-wajahnya. Jadi, kalau ibu-ibu pernah umrah itu masih bisa melihat jejak peninggalan dari Sayidah Zubaidah. Di mana, Bu? Peninggalan Sayidah Zubaidah itu kalau kita habis dari Arafah, ya, kemudian kita kembali lewat Muzdalifah, nanti di lereng gunung itu sepanjang jalan yang ada di Muzdalifah ke Mina itu, Bu, sebelah kanan kita itu nanti ada dinding-dinding ya, bangunan ya. Bangunan di lereng gunung itu bangunan ya, bangunan itu. Jadi bentuknya itu kayak kanal, tahu kanal, ya? Kanal itu kayak irigasi saluran air, Bu. Itu dalam bahasa Arabnya disebut dengan "qanat." Apa? Qanat. Qanat Zubaidah. Kanal Zubaidah. Kanal Zubaidah. Ini siapa yang membangun, Bu? Zubaidah tadi pada saat beliau itu menjadi istrinya Harun Ar-Rasyid dan beliau itu menunaikan ibadah haji. Ketika itu jamaah haji mengalami kesulitan air. Maka beliau bangun itu kanal Zubaidah itu, dan itu panjang kalau kita lihat di Muzdalifah itu panjang, ya. Lalu kemudian beliau itu tidak hanya membangun Kanal Zubaidah, beliau itu membangun namanya Birkah Zubaidah. Dari Baghdad itu sampai ke Makkah itu dibangun itu birkah itu apa? Jadi semacam sumber air, kemudian nanti ada penampungan-penampungan air untuk apa? Karena zaman dulu orang kalau mau berangkat haji itu kan mereka naik unta, naik kuda. Mereka untanya, kudanya butuh minum. Itu logistik yang paling mereka butuhkan. Maka dibuatkan birkah. Birkah tadi namanya Birkah Zubaidah. Dan itu dibiayai dengan uangnya sendiri, Bu. Bukan uang negara.
Lalu kemudian Sayidah Zubaidah ini meninggal. Pada saat meninggal itu, ini belum di akhirat ini ceritanya, meninggal, saudaranya Sayidah Zubaidah ini bermimpi ketemu dengan Sayidah Zubaidah. Dalam mimpinya itu ditanya dia, "Bagaimana keadaanmu sekarang?" Sambil murung dia mengatakan, "Ya, semua amalku ditolak oleh Allah." Kemudian saudaranya bertanya, "Loh, amalmu kan banyak sekali. Kamu sudah bangun ini, kamu sudah membuat ini, sudah ini, sudah ini, sudah ini, sudah ini." Ini istrinya khalifah yang enggak suka pamer Hermes, ya, dan enggak suka shopping, ya, atau nenteng ke mana-mana, ya, pamer kalung, Pak. Enggak. Hartanya itu dipakai untuk bangun fasilitas-fasilitas tadi loh, yang kayak begitu saja. Itu ternyata amalnya tidak diterima oleh Allah. Masyaallah. Coba bayangkan.
Terus ditanya, lah, terus amalmu yang sebegitu banyak itu enggak ada yang diterima oleh Allah? Kenapa enggak diterima oleh Allah? Karena dulu ada sedikit pamer, ada sedikit ini, ada sedikit ini. Itulah, Bu, mengapa kita itu jangan hanya mengandalkan amal yang kelihatan. Kalau ibu-ibu mengandalkan amal yang kelihatan, potensi amal itu riya' ada. Betul tidak? Maka ibu-ibu harus punya amalan rahasia yang hanya ibu dan Allah saja yang tahu. Supaya apa? Untuk jaga-jaga kalau amal kita yang kelihatan tadi ditolak sama Allah. Jadi kita ini enggak bocor, ya. Begitu amal yang kelihatan tadi itu ditolak sama Allah, kita punya cadangan. Nah, itu yang diceritakan oleh Sayidah Zubaidah tadi.
Terus ditanya lah, terus bagaimana? "Untung Allah mengampuni dosa-dosaku karena amal-amal rahasiaku." Masyaallah. Seandainya beliau itu tidak punya amal rahasia yang diterima oleh Allah, Allah mungkin tidak akan mengampuni dan mungkin catatan amal dia lebih banyak yang tidak diterima. Karena diampuni, maka kemudian akhirnya dia bisa lega. Nah, ini masyaallah, ya. Nah, ini cerita, ya.
Nah, ibu-ibu sekalian yang dimuliakan oleh Allah, kita ini mumpung masih diberi kesempatan. Coba bayangkan nanti begitu sudah dihadapkan di hadapan mahkamah Allah, lalu kemudian kitabnya diberikan sama Allah, lalu kemudian ditunjukkan semua amalnya enggak ada yang diterima. Karena syarat diterimanya amal itu ada dua. Yang pertama ikhlas, dan yang kedua apa? Benar. Ikhlas dan benar. Ya, yang benar itu insyaallah gampang kita bisa lakukan amal yang benar. Karena amal yang benar ini zahir. Kita mengikuti sesuai dengan hukum syariat, sesuai dengan ketentuan Rasulullah itu gampang karena zahir. Yang susah itu adalah jaga hati kita. Bagaimana caranya kita ini tetap ikhlas, hati kita itu tetap bersih? Itu yang susah, ya kan? Itu yang susah. Masyaallah, ya.
Nah, ini makanya para sahabat itu sering nangis, ya. Salat nangis, gitu. Berdoa nangis. Mereka nangis. Karena itu tadi, banyak amal-amal yang mereka merasa amalnya itu belum tentu selamat, gitu ya. Nah, ini yang ee kita mesti paham.
Nah, kemudian ibu-ibu sekalian, nah ini kalau bahasa manajemennya itu kita sebut "core value." Jadi, kita itu harus punya nilai utama yang kita harus jaga, Bu. Dan nilai utama ini yang nanti kemudian akan men-drive, yang akan memandu, yang akan membentuk, mengarahkan amal-amal kita. Sayidina Ali karamallahu wajhah mengatakan, "Ad-dunya darus sidqin liman shadaqah." Dunia itu, Bu, itu adalah tempat yang benar, tempat yang jujur bagi orang yang memperlakukan dunia itu dengan benar. Ya, contoh misalnya begini. Sekarang kita ini, ya, kalau tadi kan kita sudah sampaikan, misalnya nih, kita ini diberi oleh Allah anugerah, umur, kita bisa diberikan kesehatan, kita bisa datang, kita bisa lakukan macam-macam. Tapi kemudian kita tidak pernah memperlakukan dunia ini dengan benar. Bagaimana? Dengan cara menggunakan semua yang Allah berikan tadi itu dengan benar. Allah nyuruh kita ibadah, kita ibadah. Allah menyuruh kita menggunakan semuanya tadi untuk berkhidmat pada Allah, kita gunakan untuk itu, baru benar. Tapi kalau tidak begitu, artinya apa? Berarti kita ini memperlakukan dunia dengan salah. Dikasih mata, dikasih telinga, dikasih tangan, dikasih hati, dikasih semua dikasih sama Allah. Kasih harta dipakai untuk senang-senang tok. Tadi dipakai untuk foya-foya, dipakai untuk enggak jelas. Ada orang bangun masjid, diam saja. Ada orang butuh bantuan, diam saja. Ada orang ini, diam saja. Padahal dia punya harta. Nah, ini nauzubillah. Ya.
Nah, di sini ya, al-faqir ingin sampaikan ini nilai yang penting untuk kita, ya, untuk kita pegang teguh. Amanah, Bu. Kalau kita ini di dunia tidak amanah, habis kita. Betul enggak? Orang enggak akan percaya sama kita. Jujur. Kalau kita enggak jujur, orang enggak akan percaya. Ya. Nah, Sayidina Ali tadi mengatakan, "Ad-dunya darus sidqin." Artinya kita ini, ya, apa yang kita ambil dari dunia itu kemudian kita gunakan dengan benar. Ya. Dalam surat Al-Ahzab Allah mengatakan, "Minal mukminina rijalun shadaqu ma 'ahadallaha 'alaih." Di antara orang mukmin itu ada rijal shadaqu, yang mereka membuktikan kejujuran mereka. Ya. Jadi, kalau mereka ngomong A, perbuatannya A. Kalau dia melakukan, kalau misalnya dalam hatinya apa, zahirnya juga begitu. Itu namanya jujur. Orang itu kalau enggak jujur disebut munafik. Mulutnya beda dengan yang dilakukan. Ngomong A, yang dilakukan B. Hatinya apa, yang di luar apa, itu namanya tidak jujur. "Minal mukminina rijalun shadaqu ma 'ahadallaha 'alaih." Orang mukmin itu ada orang yang dia telah membuktikan kejujurannya sebagaimana apa yang dia janjikan pada Allah. Dia janji sama Allah apa? Ketika Allah bertanya, "Alastu birabbikum?" Bukankah aku ini Tuhanmu? "Qolu bala syahidna." Itu gitu. Masyaallah. Tapi kemudian hidupnya tidak digunakan untuk ibadah. Padahal ngomongnya, "Inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil 'alamin." Inna sholati, sesungguhnya salatku, wa nusuki, ibadahku, wa mahyaya, hidupku, wa mamati, matiku, lillahi rabbil 'alamin. Katanya untuk Allah. Ya, orang bilang, "pret." Iya toh? Katanya untuk Allah, "pret," gitu kan ya. Suruh ngaji enggak mau, suruh ibadah malas, ya. Suruh sodakoh, apalagi loh. Salat itu ibadah yang enggak modal, enggak modal, itu malas. Apalagi disuruh sodakoh, lebih malas lagi, gitu. Apalagi disuruh umrah, disuruh haji, lebih malas lagi. Apalagi disuruh melakukan puncak ibadah jihad, misalnya. Lebih lagi, wong disuruh ibadah yang enggak modal, ya berat. Salat itu ibadah yang paling ringan, Bu. Kalau kita ini ukurannya, kalau kita salat saja malas, berarti ibadah yang lain lebih malas lagi. Itu karena salat itu ibadah yang enggak modal. Modalnya cuma modal dengkul loh. Iya. Salat itu ibadah cuma modal dengkul, kok enggak modal apa-apa, gitu loh, ya. Nah, ini makanya Imam Almawardi itu memasukkan salat itu ibadah pertama. Baru nanti setelah itu puasa, baru setelah itu zakat, baru setelah itu haji, baru setelah itu jihad. Itu artinya modalnya itu modal dengkul. Enggak perlu modal, gitu ya. Nah, ini kemudian yang ketiga, selain tadi itu jujur, luar, dalam, zahir, batin, sama. Orang munafik enggak bisa begitu. Orang munafik itu ngomongnya enggak bisa dipegang, janjinya enggak bisa dipegang, ya. Nah, yang ketiga itu dia punya yang namanya "mas'uliyah," tanggung jawab. G, Bu, nanti amalnya ibu-ibu itu rapornya yang nerima ibu-ibu. Kalau sekarang ibu-ibu punya anak, anaknya nerima rapor, bisa diwakilin enggak? Bisa diwakilin enggak? Bisa. Tapi nanti ibu-ibu enggak bisa nerima rapor dari Allah diwakilkan. Enggak bisa, Bu. Diterima sendiri. Apa dasarnya? Allah di dalam Al-Qur'an mengatakan, "Walaqad juma'nakum furdan furdan." Kamu akan datang kepadaku ngadap satu-satu seperti aku dulu ciptakan kamu satu-satu. Ibu-ibu, ada yang saudara kembar? Kalau saudara kembar lahirnya bareng, brojol langsung dua gitu atau satu-satu? Satu-satu. I kan, operasi caesar aja satu-satu, Pak, gitu diambil satu. Allah mengatakan begitu. Kami, ya. Jadi, "wa tu'uduna furdan," kamu pasti akan datang menghadapku untuk nerima rapor, untuk minta dimintai pertanggungjawaban satu-satu seperti kami ciptakan kalian pertama kali. Satu-satu. Nah, itu jadi kita ini enggak bisa diwakilkan. Bahkan kemudian Allah katakan, "Iqra kitabaka." Nih, kamu baca sendiri catatanmu. "Kafa binafsika al yawma 'alaika hasiba." Sekarang kata Allah, cukup kamu yang baca sendiri. "Kafa binafsika al yawma 'alaika hasiba." Kalau sudah enggak begitu, siapa yang bisa nolong kita, Bu? Enggak ada. Enggak ada. Nah, ini, Bu. Nah, jadi makanya kita ini kalau kita melakukan apapun kita harus berpikir bahwa amalku amalku, aku yang akan bertanggung jawab. Saya yang akan bertanggung jawab, saya akan menerima konsekuensinya. Jadi jangan nyalahin orang lain. Kita seringkali karena tidak punya tanggung jawab, begitu enak dia pengin dapat nama, begitu ada masalah dia lempar ke orang lain. Nah, itu itu namanya tidak bertanggung jawab. Makanya dalam ayat tadi Allah menyebutkan, "masing-masing akan menerima," gitu ya. Masing-masing akan menerima. Itu kesadaran pentingnya kita tanggung jawab. Kita akan dihisab masing-masing. Mau suami istri, mau orang tua sama anaknya, semua akan nerima hisabnya sendiri-sendiri. Ya.
Nah, ini kemudian yang keempat, itu pentingnya kita disiplin. Nah, ini nanti kaitannya dengan bagaimana kita ini bisa fokus agar mendapatkan jannah. Bu, kalau kita tidak disiplin, ibadah harus disiplin. Baca Quran disiplin, ngaji disiplin, salat sunah disiplin, kerja juga begitu. Itu nanti sukses. Kenapa orang tidak sukses? Karena enggak disiplin. Enggak disiplin, ya. Nah, ini itu kuncinya, ya. Kalau dalam hadis itu disebutkan, "Qul amantu billahi summastaqim." Katakanlah, "Amantu billahi," aku beriman kepada Allah, "summastaqim," kemudian istikamah, disiplin, istikamah. Tapi penyakitnya kita itu seringkali enggak bisa disiplin, enggak bisa istiqamah. Nah, ini nanti kita akan bahas kenapa enggak bisa disiplin, enggak bisa istiqamah.
Nah, dunia itu, Bu, ini kata Nabi, ya. Ini sabda Nabi tentang dunia. Apa kata Nabi? "Wa min hawanid dunya all illa fiha waluah illaha." Kata Nabi, "Di antara bentuk kehinaan dunia, dunia itu hina," kata Nabi itu karena Allah itu dimaksiati. Mana ada maksiat di tempat lain kecuali dunia. Di surga begitu Adam, begitu iblis maksiat pada Allah, diusir. Bu, enggak layak kamu ya maksiat di tempat ini. Diusir di dunia, ya. Kita itu kalau maksiat diusir terus mau ke mana? Hah? Mau ke mana lagi kita? Makanya kata Nabi itu, "min hawanid dunya," termasuk kehinaan dunia itu adalah karena Allah itu satu-satunya tempat di mana Allah itu dimaksiati. Allah itu ditentang. Allah itu perintahnya enggak ditaati. Ya di dunia gitu, ya. Nah, ini. "Wala yunalu ma 'indallahi illa bitarkid dunya." Dan tidak akan apa yang ada di sisi Allah itu didapatkan, kecuali dengan meninggalkan dunia itu. Makanya kalau kita ingin mendapatkan apa di sisi Allah, dunia itu jangan dibawa-bawa, Bu, ya. Nah, ini kita itu seringkali kan berat gitu, apa kalau orang Jawa bilang itu ngeboti, ya, memberatkan dunia sehingga akhirnya kita dengan Allah juga setengah-setengah, ya kan? Mau ibadah entar, mau ini entar, mau ini entar karena masih ada yang memberatkan. Betul tidak? Itu makanya kita enggak akan dapat yang di sisi Allah tadi kalau kita tidak tinggalkan semuanya itu. Gitu loh. Kalau kita tidak tinggalkan semuanya itu.
Nah, ini. Kemudian kata Nabi, ya, tentang dunia ini, "Ad-dunya yawman." Dunia itu sebenarnya istrinya cuma 2 hari, Bu. Enggak banyak. Dua hari tok dunia itu. "Yawmun farahun," satu hari itu isinya senang. "Wa yawmun hammun," satu hari itu isinya ya sedih. Ada senang, ada sedih. Betul enggak? Jadi, kalau dikumpulin ibu-ibu yang umurnya sudah 70, 80 tahun, mungkin ada 90 tahun itu isinya senang sama sedih. Iya kan? Ada lagi enggak yang lain? Enggak ada. Dunia itu cuma dua hari. "Yawmun farahun wa yawmun hamun." Kata Rasulullah, "Wa kulluhuma zailun." Masing-masing, baik itu yang senang maupun yang sedih, itu sama-sama hilang. Pernah enggak kita senang-senang terus enggak hilang-hilang? Enggak ada. Pernah enggak sedih-sedih terus enggak hilang-hilang? Enggak ada. Ya, sedih terus hilang sedihnya. Senang senangnya hilang. Terus begitu itu dunia. Ya, makanya Rasulullah ngajari, "Ajaban li amril mukmin." Orang mukmin itu luar biasa. "Asobahurruyun fasyakara." Kalau dia mendapatkan kebaikan, dia bersyukur. "Wa idza asobahu syarun fasabara." Kalau dia dapat keburukan, dia itu bersabar. "Wa ma zalika illa lil mukmin." Dan tidak ada yang bisa begitu kecuali orang mukmin. Itu hebatnya. Karena dunia itu isinya cuma dua itu. Makanya kata Nabi dalam riwayat yang lain, "Al imanu nisfan." Iman itu isinya dua. Separuh as-sabru, separuh itu isinya syukur. Jadi, kalau kita hanya bisa sabar, enggak bisa syukur, enggak boleh. Bisa syukur, enggak bisa sabar, enggak boleh. Dua-duanya. "Al imanu nisfan." Ah, gitu. Iman itu ada dua. Ada separuh-separuh. Separuhnya sabar, separuhnya syukur. Karena dunia itu cuma dua hari tadi isinya senang sama ya susah, gitu. Maka kata Rasulullah apa? "Kulluhuma zailun." Angka. Masing-masing tadi itu akan hilang darimu. "Fada'u," maka kamu tinggalkan "ma yazulu." Apa yang hilang? Apa yang hilang tadi? Ya senang kadang datang hilang. Susah sedih kadang datang hilang. Itu kamu jangan terlalu pikirin. Jadi, kalau senang saking senangnya itu sampai enggak ingat, ya. Sedih saking sedihnya juga begitu, enggak boleh, ya. Senang ya senang, tapi jangan keterlaluan. Sedih ya sedih, tapi jangan keterlaluan, gitu loh. Maka kata Nabi apa? "Fada'u ma yazulu." Yang akan hilang tadi, yang pasti hilang tadi. Sudah kamu enggak usah terlalu pikirin, gitu loh. Nanti karena terlalu sedih akhirnya stres. I kan. Nah, ini enggak boleh, ya. Enggak boleh kita itu harus tetap bahwa yang namanya senang tidak selamanya, yang namanya sedih juga tidak selamanya, gitu. Itu yang harus kita pahami. Kemudian apa nasihat Nabi? "Wa'amiru anfusakum." Dan kamu buatlah letih dirimu. Kamu buatlah capek dirimu untuk apa? "Fil 'amali." Untuk melakukan amal "lima la yazulu," yang tidak akan pernah hilang. Apa yang tidak akan pernah hilang? Akhirat. Dunia tadi kan senang dan susahnya itu pasti hilang. Tapi akhirat enggak pernah hilang. Jadi senang itu secukupnya, sedih secukupnya, dan selebihnya sudah pikiran kita, kita bebaskan. Kita pakai apa? Untuk amal akhirat, gitu. Nah, makanya kalau dapat senang syukur akhirat, dapat sedih sabar akhirat. Itu caranya, ya. Jadi supaya enggak stres itu sampai ada yang, ya ini kan sekarang kondisi ekonomi lagi susah, ya, Bu, ya? Ya, kan banyak PHK, harga-harga naik, ya, kan? Di daerah-daerah itu masyarakat menjerit. Masyaallah, kasihan. Banyak orang stres, Bu, sekarang, Bu, ya. Rumah sakit jiwa, ya, penghuninya bertambah terus, ya. Dinsos sampai kewalahan, ya. Belum lagi, ya Allah, ya, kasus-kasus, ya, ini banyak sekali.
Nah, kemudian Nabi Isa itu tadi Nabi Muhammad. Sekarang Nabi Isa ini nasihatnya bagus sekali. Nabi Isa alaihi salam pernah bersabda tentang dunia. Katanya begini, "La tunazi'u ad-dunya." Kamu jangan berebut dengan orang yang mabuk dunia. Ya, kenapa? "Fa inyunazi'ukum fi dinikum." Karena mereka akan merebut agamamu. Ya, agama kita itu akan hilang kalau kita berebut dengan orang yang mabuk dunia tadi. Akhirnya apa? Kita itu ikut-ikutan. Dia enggak salat, kita ikut enggak salat. Akhirnya begitu, kan. Dia ke parti, kita ikut ke parti. Dia ke mana? Ikut ke mana. Itu nanti yang dikatakan Nabi Isa tadi. "Fayunaziukum fi dinikum." Dia kemudian akhirnya mengambil agamamu. Copot, hilang akhirnya agamanya. Ya. Apa yang terjadi kemudian? "Fala dunyahum asabtum." Kamu enggak akan dapat dunia mereka. "Wala dinakum." Dan agamamu. Ya, maaf. "Wala dinakum abqaitum." Dan kamu juga tidak akan bisa mempertahankan agamamu. Agamamu hilang. Itulah mengapa ulama sering mengatakan, kalau kamu mencari dunia, akhiratmu akan hilang. Tapi kalau kamu cari akhirat, duniamu akan ikut. Gitu. Jadi, sekarang ini banyak orang tua yang kebalik-balik mikirnya. Nyekolahkan anak, ya, masukkan anak ke sekolah itu pikirannya dunia, ya. Padahal ketika dia mendapatkan dunia itu belum tentu akhirat dia selamat. Padahal dunia itu kan apa sih? Cuma berapa tahun sih kita ini? Enak juga cuma berapa tahun, gitu loh, ya. Nah, ini. Nah, itu nasihat dari Nabi Isa alaihi salam.
Kemudian nasihat, ya, ini kutipan sahabat tentang dunia. Ini kutipannya Sayidina Ali karamallahu wajhah. Sayidina Ali mengatakan, dunia itu, Bu, "awaluha 'ana." Dunia itu awalnya itu adalah penderitaan. Coba sekarang siapa yang sedang bekerja, ya, itu enggak capek semua pasti capek. Kerja mau jadi apa saja, mau jadi kuli, mau jadi direktur, mau jadi tukang apa saja, capek. Kita kerja itu capek. "Awaluha 'ana," ya toh. Kemudian "wa akhiruha fana." Nanti setelah kita kumpulkan hasil kerja itu, punya rumah, punya mobil, punya ini, punya itu, punya semua asetnya kumpulkan, ujungnya apa? Fana, habis, hilang. Betul tidak? Mobilnya fana, hartanya fana, rumahnya fana, bahkan dirinya sendiri yang tadinya bekerja keras itu juga akhirnya fana, mati. Itu awalnya capek, awalnya berat, awalnya sulit, awalnya sengsara, akhirnya hilang. Itu makanya dunia itu dari kata "yadaniah" yang artinya atau "daniah" yang artinya hina, maka disebut dunia, ya. Kemudian kata Sayidina Ali, "halaluha hisabun." Kalau ibu-ibu dapat harta yang halal, halalnya itu dihisab, Bu. Halalnya itu dihisab. Dimintai pertanggungjawaban. Dari mana kamu dapat? Untuk apa kamu pakai? Itu halalnya. "Wa haramuha." Apalagi haramnya. Kalau ibu-ibu dapat harta haram. Haramnya apa? "Iqabun." Akan disiksa sama Allah. Sampai ya Nabi itu mengatakan, daging yang kemasukan harta yang haram itu nanti akan menjadi santapan neraka. Itu namanya apa? "Haramuha iqabun." Haramnya itu kena kena siksa. Halalnya dimintai pertanggungjawaban. Halalnya ada hisabnya. Haramnya disiksa. "Faman shaha fiha amina." Siapa yang betul-betul selamat di dunia itu, maka dia akan selamat nanti di akhirat. Siapa yang benar amalnya, gunakan waktunya dengan benar, gunakan hartanya dengan benar, dapat hartanya dengan benar, menggunakan masa mudanya dengan maka "faman shaha fiha amina," dia akan selamat. "Waman marid fiha nadima." Tapi siapa yang marid, artinya siapa yang apa namanya? Ee sakit dalam pengertian hidupnya itu salah di dunia tadi, maka dia akan menyesal. Ya, ini ya, maka dia akan menyesal. Ya. Nah, ini naudubillah summa naudubillah.
Nah, sekarang, Bu, apa kuncinya kita berhasil hidup di dunia? Kuncinya tiga. Ini tadi ibu-ibu harus fokus. Fokus ke mana? Visinya tadi, misinya tadi, tujuannya tadi ke akhirat. Kita fokus pada visi, misi, dan tujuan, ya. Nah, ini kemudian fokus pada hasil-hasil yang kita ingin dapatkan. Outputnya, termasuk output yang kita inginkan. Apa itu? Amal saleh. Kita itu ingin mengumpulkan sebanyak-banyak apa? Amal saleh. Kemudian apa? Konsisten terus-menerus, terus melangkah. Mesti berat. Amal saleh lakukan, Bu, meskipun berat, ya. Selama kita ini masih diberi umur, lakukan ngaji berat, lakukan terus. Jangan berhenti, sabar, istiqamah itu. Dan kemudian hindari yang namanya distraksi. Apa itu namanya? Pengalihan. Distraksi dari fokusnya, distraksi dari konsistensinya.
Nah, sekarang mari kita lihat apa yang menyebabkan kita itu kemudian akhirnya mengalami distraksi. Perhatikan dalam surat Yusuf ayat 108, Allah itu mengatakan begini, "Qul hadhihi sabili." Katakanlah Muhammad, ini adalah jalanku. "Ad'u ilallahi 'ala bashiratin." Aku mengajak kepada jalan Allah dengan sejelas-jelasnya. "Ana wamantab'ani." Aku dan orang-orang yang mengikuti aku. Itu kata Allah. Berarti apa? Jalan yang digariskan Islam tadi sudah jelas. Apa? Jelas. Lurus. Nanti akan dijelaskan oleh Nabi di ayat berikutnya. Kemudian berikutnya dalam surat Al-An'am 153, Allah mengatakan, "Wa anna hadha shirati mustaqiman." Dan ini adalah jalanku, mustaqim, lurus. "Fattabi'u." Kamu ikuti. Berarti apa? Fokus. Iya toh? Fokus. Jangan belok-belok, Bu. Fokus itu istiqamah. Kuncinya apa? Disiplin. "Wa la tattabi'u as-subula." Dan kamu jangan ikuti jalan-jalan yang "fatafarraqa bikum 'an sabili." Sehingga kalian terpencar-pencar dari jalan tadi, gitu. Itu firman Allah dalam surat Yusuf ayat 108 dan surah Al-An'am 153.
Sekarang lihat penjelasan Rasulullah, apa penjelasan Rasulullah? Nabi, ya, ini bersabda tentang fokus pada visi, misi, dan tujuan tadi. Kata Nabi, "Apa ketika surat ya ee A'raf tadi itu ya, surah Ala'raf tadi itu, e maaf, surah Al-An'am 153 tadi itu turun, Nabi itu kemudian menjelaskan ayat ini sampaikan Nabi kepada para sahabat. Lalu kemudian Nabi itu menjelaskan begini. Khaththa Rasulullah biyadihi." Rasulullah kemudian membuat garis dengan tangannya. Lurus, ya. "Summa qala." Kemudian Nabi mengatakan, "Hadha sabilullah." Ini jalannya Allah, lurus, mustaqim. Kata Nabi, "Yamini." Kemudian Rasulullah membuat garis sebelah kanan, "wa syimalihi," atau membuat garis sebelah kiri. Jadi, "yamini wasyimali." Kemudian ke kiri, "yamini syimali, yamini syimali." "Qala." Kemudian Nabi mengatakan, "Hadhihi subul," jalan-jalan ini di kanan dan kiri ini, "laisa minha sabilun." Tidak ada satu pun jalan di situ. "Illa 'alaihi syaitan." Kecuali di situ ada setan yang nongkrong, tuh. Ada setan yang nongkrong, "yad'u ilaihi." Di mana setan itu manggil-manggil. Itulah mengapa. Ini ini, Bu. Supaya ibu-ibu tahu, ya. Ini jalan ini gambarnya kayak begini. Jadi yang digambar oleh Nabi tadi yang lurus, sret, itu namanya "hadha sirati mustaqim." Iya kan? Nah, ini ini jalanku. Kemudian Nabi menggambar, "wa khatta 'an yamini wa 'an syimali," kanan sama kiri, kanan kiri, kanan kiri. Kemudian kata Nabi, "Dan tidak ada satu pun dari jalan itu kecuali ada setan yang nongkrongi yang memanggil-manggil supaya kita ke situ."
Nah, tadi kalau kita cerita tentang distraksi tadi, misalnya ini contoh ya, kadang-kadang kita baca Quran baru sebentar, lihat WA. Betul enggak? Betul enggak? Ah, yang punya IG lihat IG-nya, lihat followernya. Nah, itu namanya distraksi. Pertanyaannya, siapa, Bu, yang ngajak ibu-ibu dialihkan tadi mengalami distraksi tadi? Yang ngajak itu adalah setan. Itu tadi kata Nabi, "yad'u ilaihi." Setan itu yang manggil-manggil. "Eh, eh, sudah kamu sudah lama ngajinya, berhenti." Gitu, gitu. Jadi, kalau ibu-ibu pengin tahu ya bagaimana setan, Bu, Ibu saya sarankan, alfakir sarankan cari buku "Talbis Iblis" yang ditulis oleh Alhafid Ibnu Jauzi. Itu semua ya diceritakan di situ tentang bagaimana langkah-langkahnya setan untuk menjebak kita. Luar biasa buku itu, ya. Nah, ini. Jadi, "Talbis Iblis" judulnya, terjemahnya itu mungkin "Jeratan Iblis" atau "Belitan Iblis" itu terjemahnya itu. Ana nanti cari coba supaya ibu-ibu tahu ya. Jangan dikira jadi ustaz itu enggak ada iblisnya. Ada. Jadi, apa namanya, imam, jadi ahli ibadah, jadi semua ada, Bu. Wong iblis enggak pernah tidur kok. Ya, kan? Dan itu janjinya iblis. Iblis itu sudah bersumpah, ya. Ketika Allah usir iblis dari surga, Allah, ya, terjadi dialog antara iblis dengan Allah. Dalam surat Al-A'raf ayat 15, ya, ayat ayat 14, 15 itu iblis itu mengatakan, "Anzirni ila yawmi yub'atsun." Kata iblis, "Ya Allah, berikanlah aku tangguh sampai hari di mana mereka dibangkitkan." Maksudnya hari kiamat. Kemudian Allah mengatakan, "Innaka minal mundharin." Coba bayangkan, iblis itu minta sama Allah, doanya iblis diijabah loh, Bu. Kurang apa Allah itu? Apalagi kita kalau minta, ya toh. Makanya kata Nabi, Allah itu malu kalau kita minta enggak dikasih. Malu Allah itu. Wong iblis minta aja dikasih kok. Ya toh. Jadi, kalau ibu-ibu minta terus enggak dikasih-kasih, jangan suudzon. Bu, kenapa sih Allah ini enggak dikasih-kasih? Jangan, ya. Ibu-ibu suudzon itu namanya, ya. Jangan. Enggak boleh, ya. Kitanya kadang-kadang enggak tahu gitu loh. Kitanya misalnya contoh gini, ya. Kadang-kadang kita itu kan minta, "Ya Allah, gitu, kuatkanlah hambamu ini." Begitu minta doa kuat, yang dikasih kok malah sakit. Ujiannya banyak sekali. "Ya Allah, saya kan minta kuat, kok uji begini, begini, begini, begini." Loh, justru Allah itu ngasih kamu ujian supaya kamu kuat, lah. Doanya minta kuat. Betul enggak? Lah, ibu-ibu yang enggak merasa doanya minta kuat, dikuatkan dengan cara diuji kok ngeluh sekarang. Nah, itu namanya suu suudzon. [Musik] Gitu loh. Suudzon namanya itu, ya. Nah, ini.
Nah, itu, Bu. Kemudian ketika Allah sudah mengabulkan tadi, apa kata iblis? "Qala fabima aghwaytani." Kata iblis, "Ya Allah, ya, karena engkau telah menyesatkan aku, karena engkau telah menjadikan aku kayak begini ini." Iblis itu dendam. "Laq'udanna lahum shirotaka al mustaqim." Aku akan tongkrongi jalanmu yang lurus itu, untuk apa? Nunggu anak keturunan Adam. Itu janjinya iblis. Jadi iblis itu sampai kayak begitu. Kemudian apa kata Allah? Diceritakan dalam surat ya Al-A'raf ayat 17. "Summa la'atiyannahum min bayni aydihim wa min khalfihim wa 'an aymanihim wa 'an syama'ilihim." Aku akan datangi anak Adam itu dari depan, dan dari belakang mereka, dan dari sebelah kanan mereka, dan dari sebelah kiri mereka. "Wa la tajidu aktsarahum syakirin." Dan engkau ini omongnya iblis kepada Allah, "engkau tidak akan mendapati mereka orang-orang yang banyak bersyukur." Kenapa? Semua berhasil dijadikan sebagai kawannya iblis. Nauzubillah. Semua. Nauzubillah. Makanya iblis itu, Bu, goda kita dari depan, dari belakang, dari kanan, dari kiri. Yang ke atas ini tidak. Kenapa? Ibnu Abbas menjelaskan, kalau ke atas ini, kalau kita sedang lupa karena digoda dari depan, dari belakang, dari kanan, dari kiri, kita itu masih bisa minta ampunan dari Allah Subhanahu wa taala, ya. Nah, itu.
Nah, karena itu manusia itu, Bu, di dunia ini punya kesempatan yang sama. Kenapa hasilnya berbeda? Karena ada yang memanfaatkan waktu dengan benar, ada yang memanfaatkan waktu tidak benar. Kita waktunya sama, kesempatannya sama, tapi rapornya kok beda-beda. Ya, amalnya lain-lain. Karena yang kita tanam juga lain-lain. Nah, itu loh. Makanya kuncinya apa, Bu? "As-sabru jamul amri widamul hasmi wamatul aqli wadrul khairi wilatu lailat." Katanya ini kata Abu Hatim, sabar itu adalah kunci segala-galanya. Makanya kalau ibu-ibu sedang suntuk, sabar, ya. Sedang capek, sabar, itu loh, Bu. Enggak punya duit, sabar, ya. Jangan suaminya, ya. Kuncinya itu sabar. Sabar itu "jamul amri," kunci. "Wa 'idamu al-hasmi," penentu tekad dan keteguhan. "Wa 'adamatul aqli," dan sabar itu merupakan penyanggah akal kita. "Badrul khairi," dan sabar itu adalah benih semua kebaikan. Jadi, kalau ibu-ibu mau ngaji, enggak sabar, mau ibadah, enggak sabar, mau enggak bisa. Karena kuncinya semuanya dimulai dari sabar. Nah, itu kuncinya sabar.
Terakhir, ya. Ah, ini ada nasihat yang bagus sekali dari Imam Duraid, ya. Imam Duraid nasihatnya ini dalam syair. Syairnya panjang, tapi alfakir pilihkan dua saja. Jadi, satu bait zir bunyinya begini. "Almar'u hadisu man ba'dah." Manusia itu, Bu. "Hadis man ba'dah." Manusia itu, dia akan diceritakan, dia akan menjadi pembicaraan orang setelahnya. "Oh, dia itu dulu baik." "Oh, dia dulu orangnya jahat." Ya. Betul. Enggak. Itu namanya "almar'u hadis man ba'da." Apa kemenangan nasihat Imam Durid? Beliau mengatakan, "Fakun ya hadisan hasanan liman waa." Maka jadilah kamu hadis pembicaraan yang baik bagi orang-orang yang menghafalkan trek recordmu. Maka kita ini hidup sedang membikin sejarah. Jadi, ibu-ibu kalau bermuamalah, berinteraksi, berhubungan dengan orang, namanya dititeni. Apa titeni? Ya, itu bahasa Jawa, Bu. Ya, dititeni itu namanya "hadisuman ba'da," ya kan. Jadi maksudnya apa? Jadi orang itu nanti sudah hafal, "Oh, ini ke sini pasti mau pinjam duit ya." Nah. "Oh, ini ke sini Pak mau ngerumpi ini." Nah, itu, ya toh. Maka kata Ibnu Darat tadi apa? Beliau mengatakan, "Fakun hasanan, fakun hadisan hasanan liman waa." Temanmu yang hafal kebiasaanmu itu, maka jadilah kamu sebagai apa? Hadisan hasanan, sebagai pembicaraan yang baik. Jangan yang dihafalkan itu jeleknya. Maka buatlah sejarah yang baik. Hidup itu begitu, buat sejarah yang baik itu. Jangan yang dikenal jeleknya itu hidup. Nah, ini "almar'u hadisu man ba'dahu fakun hadisan hasanan liman waa." Ya.
Baik, mungkin sampai di sini yang bisa ee alfakir sampaikan, ya. Semoga bermanfaat, ya. Kalau ada mungkin yang mau ditanyakan atau, ya, silakan.