Transcription
Nah, baik rekan-rekan semuanya, kita akan coba lanjutkan materi berikutnya. Masih di bagian dua ini, terkait dengan metode pelaksanaan dan metode pengawasan atau kontrol mutu dari pondasi tiang pancang. Sebelumnya, kalian sudah belajar terkait banyak hal, mulai dari eh menghitung daya dukung tiang tunggal sampai ke daya dukung tiang GR, ya. Nah, ini kita akan coba lihat cara pelaksanaan pondasi tiang pancang di lapangan, metodenya seperti apa, juga nanti kontrol mutu. Kontrol mutu ini kaitannya nanti kalau di lapangan ada tiang panjang seperti ini, kita untuk memastikan daya dukungnya sudah terpenuhi sesuai desain, seperti apa ini kita akan lihat di dalam pemaparan ini.
Jadi, ini saya untuk kasang sudah pemahaman kita ini bisa teman-teman ambil dari instruksi kerja di Bina Marga tahun 2011 nomor 30, gitu ya, tentang pengawasan pembangunan jembatan. Nah, ini dijelaskan secara rinci di sana, termasuk dengan instruksi kerjanya dan ceklis-ceklis yang harus dilalui atau disiapkan dalam proses pemancangan. Nih, misalkan mulai dari pengajuan kesiapan kerja. Ini nanti yang harus dicek apa, lokasi kerjanya sudah siap belum, kemudian alat-alatnya sudah siap belum, kemudian sudah diacking out belum, gitu. Nanti di sini di pengajuan kesiapan.
Nanti kalau sudah ini, biasanya dari pelaksana atau kontraktor mengajukan yang namanya tiang pancang. Nah, kita mau pakai sesuai desain tiang pancangnya seperti apa. Nah, ini nanti kita harus lakukan pengujian tiang pancang ini di pabrik ataupun kalau biasanya kita sudah beli di pabrik, gitu ya, nanti diberikan sertifikat pengujian dari sana. Nah, selain di pabrik, kita juga perlu melakukan pengujian tiang ini di lapangan. Tujuannya apa? Dari data sondir kan biasanya kita dapatkan atau data SPT dan dihitung oleh perencana, misalkan kedalaman tiang pancang ini 40 meter. Nah, benar enggak data-data soil tadi? Kita akan coba tes dengan yang namanya tespel. Jadi, kita datangkan tiang pancang mungkin jumlahnya tidak sebanyak yang dibutuhkan karena hanya untuk ngetes. Kita pancangkan sampai kedalaman tersebut.
Nah, ternyata kalau misalkan sesuai, berarti kita bisa pesan untuk ke depannya adalah pengajuan tiang pancangnya. Kita sesuaikan dengan keadaan lapangan. Tapi kalau tidak sesuai, misalkan tadi 40 meter, ternyata dipancangkan sampai kedalaman 35, dia sudah tidak bisa masuk, sudah mentok, kapasitasnya sudah terpenuhi. Berarti kita nanti ke depannya tidak usah pesan 40 meter. Ternyata pendidikan tanah kita entah yang mungkin salah atau keliru dan lain sebagainya. Kita pesannya cukup 35 meter. Nah, ini sekaligus kita menentukan konfigurasi panjangnya. Nah, misalkan 35 meter di pabrikan kan biasanya ada yang panjangnya 10. Apakah mau 10, 10, 10,5 seperti itu, atau mau pakai yang 7, 7, 7, tapi kali 5 itu bisa disesuaikan tergantung kebutuhan di lapangan. Nah, ini sangat perlu, teman-teman, pengujian tiang atau tespel ini.
Jangan sampai kita pesan kebutuhan tiang kita, misalkan 100 titik, gitu ya. Kita sudah terlanjur pesan karena di desain 40 meter, kita langsung datangkan semuanya dan ternyata di lapangan tidak bisa dipancangkan. Tersisa 5 meter tadi. Nah, ini 5 meter ini nanti tidak terpakai akan menjadi kerugian bagi kontraktor karena dari pihak owner tidak mau membayar apa yang tidak terpancangkan. Biasanya seperti itu. Nah, ini jadi pengujian atau tespel ini sangat perlu, ya, teman-teman, untuk dilakukan sebelum kita memesan tiang pancang dalam jumlah yang banyak.
Nah, kalau oke nanti ini kita mengajukan panjang tiang pancang termasuk pembeliannya. Nanti kalau sudah datang ke lapangan bisa kita lakukan pemancangan. Pemancangan ini nanti kita lakukan namanya loading test. Pengujian ini nanti kita kita jelaskan di belakang. Nah, ini kalau memenuhi Seperti apa, kalau tidak seperti apa. Nah, ini misalkan memenuhi, maka nanti tahap berikutnya adalah pemotongan kepala tiang panjang dan selanjutnya adalah pengukuran hasil pekerjaan ini untuk opnam. Kalau teman-teman di lapangan, opnam, kemudian pembayaran.
Kalau tidak memenuhi, maka harus dilakukan perbaikan. Perbaikan ini apa? Biasanya bisa dengan menambah jumlah tiangnya. Jadi, kita harus membuat konfigurasi ulang kembali tiang. Misalkan tadi diuji satu tiang harusnya 40 ton, ternyata di lapangan hanya didapatkan sekitar 37 tonan. Nah, maka kita harus memutar otak lagi nih untuk mendapatkan nilai kapasitas yang grup di yang tadi terpenuhi. Ya, kita terpaksa harus negosiasi dengan perencana ataupun desainer. Kalau ini tidak terpenuhi, kita harus rancang ulang dari pelkap-nya. Itu seperti itu. Kalau kesalahannya adalah kesalahan dari kontraktor, maka tanggung jawabnya secara keuangan dan secara waktu itu kembali ke kontraktornya karena tadi pas Inya tidak melalui pengujian tiang ini dan loading test ini tidak terpenuhi. Itu berarti kesalahan ada di kontraktor karena sudah diberikan, di sini yang namanya pengujian tiang atau tespel.
Tespel ini biasanya nanti bisa digunakan bisa tidak. Ya, kalau memang ini di lokasi rencana dan kondisi tiangnya masih bagus, berarti bisa kita gunakan. Tapi kalau misalkan di luar ee rencana lokasi, itu berarti tidak digunakan atau tiangnya misalkan rusak, ini berarti tidak digunakan. Itu bagan alir secara keseluruhan.
Kira-kira apa kita coba cermati satu-satu. Untuk persiapan ini harus diperhatikan apa? Kondisi tanah di mana alat pancang ini diletakkan ini harus cukup kuat. Jadi, jangan sampai nanti ketika mancang dia ikut amblas atau turun, bahkan miring. Terutama ini miring. Kalau miring yang awalnya kita ingin mancang tiang lurus, nanti jadi tiang miring dan itu nanti akan mengurangi daya dukung dari tiangnya. Kalau miring, bahkan kalau kalau miringnya tidak terkendali, nanti bisa menyebabkan rusak atau retaknya tiang panjang, ya.
Bilamana elevasi akhir tiang pancang nanti di bawah permukaan tanah, maka galian ini terlebih dahulu harus dilaksanakan. Alat pancang ini kan harus mendekati dari lokasi yang kita pancang. Kalau memang nanti lokasinya berada di bawah permukaan tanah, ya baiknya permukaan itu digali terlebih dahulu sehingga nanti bisa mancang di bawah. Atau kalau memang tidak memungkinkan karena terendam air, gitu ya. Biasanya pemancangan tetap dilakukan di atas, tapi nanti dipotong di bagian bawah sehingga karena metode konstruksi ada tiang pancang yang dibuang dan itu tidak dibayar. Itu tergantung nanti dari metode kerjanya.
Selanjutnya, persiapan alat pancang ini juga harus disiapkan. Nanti ee set alat pemancangnya, baik dari krinnya, dari alat pemukulnya, itu harus disiapkan oleh kontraktor, gitu ya. Dan juga bila diperlukan, ini pelaksana dapat melakukan pendidikan tanah. Jadi, teman-teman, selain sebenarnya sudah dilakukan pendidikan tanah, ya, oleh si perencana dan kemudian keluar desain, keluar gambar, tapi untuk meyakinkan ini diperbolehkan. Malah kadang dianjurkan dari kontraktor atau pelaksana melakukan pendidikan tanah. Hubungannya apa? Supaya ketika nanti pesan tiangnya tidak salah lagi. Kemungkinan bisa saja waktu penyelidikan yang dulu, eh lokasinya tidak berada tepat di rencana kita yang akan dilakukan pondasi, atau kesalahan pada saat pendidikan tanah yang dulu. Ini lebih baik kita sebagai pelaksana bisa melakukan pendidikan ulang. Mungkin harganya tidak seberapa dibandingkan nanti kalau kita salah pesan, gitu ya, dan nanti dibuang. Nah, ini malah lebih rugi lagi. Nah, ini biasanya disarankan mereka untuk dilakukan pendidikan ulang di lokasi tersebut.
Berikutnya, tahapannya adalah pengangkutan, penyimpanan. Ini yang harus diperhatikan apa? Ketika diangkut ataupun dimobilisasi ke lapangan, dipastikan bahannya, kalau misalkan dia beton, ya harus memenuhi kriteria atau kekuatan bahannya, umurnya sudah masuk. Kalau baja mungkin tidak terpengaruh, ya. Dan nanti disimpan di sekitar lokasi pemancangan. Kalau bisa yang jangan sampai dipindahkan kemarin, disimpan di sana karena lokasinya kejauhan, diangkut lagi. Itu akan menyebabkan potensi kerusakan dari tiang pancang kita. Kalau bisa, ya kita tempatkan di lokasi yang nantinya dekat dengan lokasi pemancangan dan mudah dijangkau oleh Ken service-nya, gitu ya. Juga tiang pancang ini disusun, kalau penyimpanan itu seperti piramida, bawahnya lebih banyak, kemudian ke atasnya semakin sedikit, gitu ya, dan diberikan alas kayu. Itu biasanya pakai balok 5x10 antara satu dengan yang lainnya, gitu ya, teman-teman, supaya nantinya dia tidak gelinding dan juga tidak saling berdeformasi atau saling menindih satu dengan lainnya.
Kemudian juga dikelompokkan, kalau bisa sesuai dengan tanggal pengecoran, supaya nanti kalau yang datang dahulu atau umurnya lebih dahulu, ini yang biasanya dipancangkan terlebih dahulu. Kalau yang datangnya terakhir, nanti yang dipancangkannya urut yang terakhir. Jangan sampai baru datang, ternyata dari segi transportasi dia sudah ee mencukupi umurnya, tapi untuk dipancangkan ternyata dia belum mencukupi. Nah, ini dikhawatirkan nanti ketika dipancangkan akan rusak, gitu ya. Jadi, nanti dikelompokkan menurut tanggalnya, tipe, diameter, serta dimensi yang sama, ini untuk kemudahan pada saat pemancangan.
Masuk ke tahap utama, pemancangan. Nah, ini nantinya teman-teman harus diperhatikan, ya. Tiang ini diberikan marking atau tanda skala setiap kedalaman 1 meter. Ini tujuannya apa? Untuk mempermudah kita mengontrol, ini kira-kira tiang sudah dipancangkan berapa meter, sambungannya sudah berapa, sehingga nanti secara tit pun kalau ada pemeriksaan, ketika kita dokumentasikan, ya, biasanya tiang pancang ini diberikan skala, nih, per 1 meter diberikan angka, gitu, misalkan atau per 1,5 meter, ini bahkan per 1,5 meter. Nanti ketika dipancangkan, ini kan kita dokumentasi, oh, ini berarti tiang pertama. Ketika nanti dia masuk, kita sambungkan dengan tiang berikutnya, kita dokumentasikan lagi, berarti ini tiang yang kedua, sehingga total kedalaman tiang nanti ter-record dengan baik, terdokumentasi dengan baik. Kalau ada pemeriksa, ini biasanya ditanyakan, ini tiang kedalaman berapa? 40 meter. Buktinya apa? Nah, kita enggak bisa jawab apa-apa. Barangnya sudah tertanam. Salah satu bukti yang bisa menyelamatkan kita adalah dari dokumentasi foto yang kita urutkan berdasarkan tanggal dan urutan pemancangannya. Jadi, ini batang pertama, Pak. Ini fotonya 10 meter. Kita sambungkan batang kedua, ini ketiga, ini keempat, ini. Nah, ini 40 meter, Pak. Makanya kedalaman kita adalah 40 meter. Nah, kita punya bukti karena sampai saat ini kita belum punya teknologi untuk mengetahui berapa kedalaman tiang pel ini yang dipancangkan. Ini yang biasanya jadi perdebatan di lapangan. Benar enggak ini dipancangkan 40 meter? Jangan-jangan kalian akal-akali hanya 35 meter tapi diakui 40 meter. Nah, ini harus diperhatikan, ya, dengan marking ini diharapkan nanti terdokumentasi dengan baik dan tidak ada lagi temuan.
Oke, kemudian yang perlu disiapkan lagi adalah kepala tiang pancang ini harus dilindungi dengan yang namanya topi atau cion. Nah, ini biasanya topi ini atau cion ini dari bantalan kayu, biasanya plywood atau papan, gitu ya, karena nantinya kepala ini akan bertumbukan langsung atau berhadapan langsung dengan si pemukul atau hammer. Nah, supaya dia tidak pecah, gitu ya, teman-teman, ini harus ada yang namanya cion atau bantalan topi.
Metodenya Seperti apa? Ini tiang pancang nantinya diikatkan pada. Nah, ini perlu diperhatikan, ya, teman-teman, titik angkat ini biasanya kalau yang dari pabrikan sudah diberikan. Ketika tiang diangkatnya hanya satu titik, biasanya diberikan tanda di sini. Kalau ingin dua titik, biasanya di 1/4, se/4, gitu ya, itu juga diberikan tanda. Jadi, harus kita perhatikan dan kita ikuti. Jangan sampai kita ngangkatnya di ujung. Nah, kalau di ujung, mungkin momennya akan sangat besar sekali, sehingga bisa saja tiang ini retak. Nah, ini biasanya titik-titik angkat ini sudah diberikan oleh pabrikan di mana dia sudah diperkuat di sini dengan tambahan baja tulangan dan momennya juga sudah dipertimbangkan supaya tidak retak terhadap titik angkat ini, gitu ya. Nanti ini diangkat sampai kita masukkan ke bagian bawah dari pemukul atau hammer. Nah, nanti elevasi di-set supaya tegak lurus, gitu ya, teman-teman. Nah, kalau sudah tegak lurus, Nah, kita bisa lakukan pemancangan.
Pemancangan ini saran saya, setiap satu segmen nanti ketika kita akan mulai nyambung ke segmen berikutnya, gitu ya. Misalkan ini sudah masuk segmen 1, disambung segmen 2, tadi didokumentasikan. Jadi, ini segmen 1 ke segmen 2, segmen 3, segmen 4, untuk sebagai bukti dokumentasi kita berapa kedalaman tiang pancang ini, ya. Juga nanti dilakukan nih monitoring dengan biasanya sudah disediakan form, ya, di instruksi kerja itu. Misalkan nanti terkord kedalamannya berapa, jumlah pukulan ini, bahkan jumlah pukulan juga harus terkord, berapa penetrasi terakhir nanti ketika ini sudah sampai tanah keras yang dinamakan final set, nanti saya jelaskan, ini berapa senti ketika dipukul 10 pukulan terakhir ini harus direkord juga. Ribon, ribon ini ketika dipukul dia membal ke atas. Membalnya ini berapa, juga harus direkord. Ini untuk kita nantinya menghitung daya dukung aktual. Kalau tadi daya dukung rencana, ya, ini di dukung yang memang aktual dari tiang pancang tersebut di lapangan.
Nah, ini tadi yang terkait dengan transportasi, ya, dan ini dengan penumpukan di lapangan. Kalau bisa yang rapi seperti ini, jadi ada bawahnya diberikan ganjal kayu 5x10, ini juga, dan ke atasnya membentuk piramida, semakin kecil, dan perhatikan biasanya di sini dibaji supaya dia tidak ee meluncur atau jatuh ke arah samping. Ini karena bahaya, ini ee kejadian-kejadian ee banyak tiang pancang yang ee jatuh menimpa, misalkan ada orang yang sedang berada di bawahnya. Ini perlu diperhatikan oleh teman-teman, ya, eh terkait dengan eh handling ataupun penyimpanan tiang panjang di lapangan. Oke, saya lanjutkan.
Oke, kita berlanjut ke pemilihan alatnya. Alat pemukul dari tiang pancang yang harus kita perhatikan apa? Nah, alat pemukul ini harus kita sesuaikan nantinya dengan jenis tiang pancangnya, apakah beton, baja, kayu, dan sebagainya. Berat yang pancangnya ini terkait dengan dimensi dan bahan juga, ya, kondisi tanahnya, serta daya dukung dari rencana yang akan dicapai. Nah, kalau tiangnya cukup berat atau kondisinya dimensinya cukup besar, maka juga pemukulnya harus yang besar, sehingga nanti memberikan energi ketika dipukulkan itu memberikan energi sampai ke ujung tiang pancangnya, sehingga dia bisa masuk.
Berat pemukul ini diberikan guidance paling sedikit beratnya adalah setengah dari berat total tiang pancangnya yang di dipengaruhi oleh kedalaman rencana ini panjang tiang. Misalkan 0 sampai 15, biasanya dia disarankan adalah perbandingan berat palu terhadap berat tiang dia satu. Semakin ke dalam nanti semakin kecil, tapi paling tidak, paling sedikit minimal harus setengah dari berat ee tiang pancangnya. Juga energinya nanti juga harus diperhatikan. Nah, di sini diberikan ketentuan sedikitnya 1 ft-lbs, gitu ya, atau 0,1383 kgm untuk setiap P berat tiang atau 0,4536 kg. Atau cara lebih gampangnya, kalau misalkan pondasi tiang beton itu 635 energinya kgm untuk setiap 1 m³ berat tiang pancang beton. Nah, seperti itu.
Juga nanti pemilihan disesuaikan dengan ketersediaan yang ada di lapangan, tekanan udara, ruang gerak, kemiringan dari tiang, serta kondisi sosial lingkungan. Nah, ini yang menarik apa, teman-teman? Kondisi sosial lingkungan. Kadang di lokasi itu, misalkan di tengah pemukiman padat, ada masyarakat yang terdampak ketika kita melakukan pemancangan. Nah, ini kita harus perhatikan. Kira-kira kalau dengan alat ini nanti masyarakat akan protes karena ada getaran, ada suara bising. Kita bisa pakai alternatif yang lain, tapi kalau memang tidak bisa, ya kita harus negosiasi dengan masyarakat, seperti apa baiknya. Mungkin mukulnya atau mancangnya tidak boleh lebih dari magrib atau malam hari, tidak diperkenankan. Yang diperkenankan hanya dari jam 8.00 pagi sampai jam 6.00 sore, misalkan seperti itu, ya, sehingga aspek sosial ini juga perlu diperhatikan.
Nah, ini kita bahas jenis alat pemukul atau hammer. Ini sebenarnya ada banyak, nih, tapi yang di warna merah ini adalah yang biasanya atau umum kita gunakan di lapangan. Nah, yang warna biru ini mungkin banyak digunakan di luar, tapi eh saya belum pernah menjumpai di Indonesia. Nanti yang vibratori ini biasanya digunakan untuk seat pile atau tiang turap. Nah, kita akan bahas yang drop hammer, diesel, dan hidrolik. Bedanya apa, kira-kira kelebihan dan kekurangannya seperti apa.
Nah, ini untuk drop hammer. Drop hammer ini yang paling sederhana sebenarnya, yaitu dia hanya suatu bahan, entah logam ataupun beton juga bisa sebenarnya, yang cukup berat, yang dia diangkat dengan hos line, cukup hanya seperti ini, ya, baja, kemudian ada line atau wire, diangkat dalam suatu misalkan ini nanti dengan ngangkatnya pakai wins atau ini pakai eh namanya leader ini, ya, atau rangka, rangka untuk mengarahkan dari si drop hammernya. Nah, ini nantinya karena ini nanti ditarik ke atas sampai ketinggian tertentu, kemudian dijatuhkan atau didropkan sehingga mengenai kepala tiang pancang. Nah, ini karena dinamis cukup besar, diangkat kemudian jatuh, itu kan mengenai kepala, gayanya cukup besar, maka di kepala itu harus diberikan perlindungan berupa tadi, ya, topi atau cion atau yang di sini bisa juga disebut sebagai shock absorber, ini supaya beban dinamis tidak merusak dari kepala tiang pancang, gitu ya.
Nah, keuntungannya apa? Ini investasinya lumayan murah, ini dan banyak digunakan biasanya di proyek-proyek kecil, gitu ya, rumah tinggal ataupun rumah dua, tiga lantai, kalau memang pakai tiang pancang ukurannya yang kecil 20 cm atau 30 cm, pakai drop hammer yang seperti ini masih memungkinkan. Kemudian pengoperasian juga sederhana. Energinya bisa bervariasi tergantung pada berat dan tinggi jatuhnya. Kemudian kerugiannya ini lambat karena kita harus naikkan, kemudian kita jatuhkan, turunkan, kita naikkan, jatuhkan, dan sebagainya. Cenderungnya bisa berpotensi merusak apabila eh tinggi jatuhnya terlalu tinggi. Vibrasi juga cukup besar dan mengganggu di lingkungan sekitar. Kemudian ini tidak bisa digunakan untuk pemancangan di air, seperti itu.
Nah, kita lihat di tipe alat pancang berikutnya yang namanya adalah diesel hammer. Nah, diesel hammer ini cukup banyak digunakan di kita ini sebenarnya. Tadi ada yang namanya steam, steam hammer tadi yang pakai uap tadi. Nah, ini diesel hammer ini tidak memerlukan tenaga luar, tidak seperti yang steam boiler atau yang tenaga uap tadi kan harus kita punya pembangkit uapnya untuk memberikan tekanan sehingga menaikkan si hammernya naik ke atas, kemudian bisa jatuh. Nah, kalau di hammer ini di diesel ini, nah, alat-alat yang terpisah-pisah tadi ini jauh lebih sederhana. Ini sudah komplit nih, terdiri dari silindernya, dia vertikal, ada pistonnya, kemudian ada landasannya, ada bahan bakarnya juga sudah masuk sini, ada pelumasnya, dan lain sebagainya. Jadi, ini sistemnya nanti diesel hammer ini ketika dia jatuh, gitu ya, nanti di sini akan terjadi kayak semacam hentakan, dan hentakan itu nantinya dia akan membakar si bahan bakar diesel ini sehingga eh meledak. Nah, ledakan ini nanti dia akan mengembalikan dari si drop hammer naik kembali, sehingga nanti dia akan jatuh secara gravitasi lagi mengenai tiang pancang, begitu seterusnya.
Jadi, pada awalnya memang ditarik dulu nih sama operator, dia ditarik naik ke atas, kemudian dijatuhkan. Nah, akibat efek jatuh ini, dia akan menghentak bagian bawah dari diesel ini, nanti sehingga terjadi hentakan atau ledakan akibat bahan bakar. Nah, ledakan ini nanti akan membuat si hammernya ini naik kembali, dia nanti turun kembali, naik kembali, sebegitu seterusnya sampai dia dapat memancangkan si tiangnya ini. Jadi, ini prinsipnya sebenarnya lebih cepat dan lebih mudah dibandingkan dengan yang drop hammer tadi kan harus dinaikkan, kemudian dilepaskan, dinaikkan, lepaskan. Nah, kalau ini sudah semi otomatis. Ketika nanti dia sudah alat ini bisa dihidupkan, ketika nanti dia sudah dapat hentakan pertama, nah, ini biasanya akan berlanjut terus, dia akan memukul si tiang pancang, gitu ya.
Jadi, keuntungannya dia lebih mobil, dan kemudian eh waktunya lebih singkat, tidak seperti yang tadi drop hammer. Kemudian ekonomis, bisa pemeliharaan juga sebenarnya sederhana. Kemudian energi pukulan juga bisa ditingkatkan, yaitu dengan menaikkan si ledakan tadi, bahan bakarnya kita naikkan, dia bisa meledak lebih besar, sehingga energinya juga lebih besar. Tapi kecepatan eh pada saat apa namanya pemancangan ini rendah. Nah, rendah ini sebenarnya juga cukup menguntungkan, sehingga kita bisa memonitor si tiangnya ini, kira-kira masuknya per berapa meter, pukulannya berapa, tadi bisa kita kontrol. Kerugiannya ini kita sulit menentukan atau mengukur energi perpukulan karena tinggi piston nanti dia akan seperti saya ceritakan tadi, naik ya, sejalan dengan ledakan. Nah, ledakan ini kadang tidak bisa kita kontrol, mungkin dia naiknya 1,5 meter, kadang dia 2 meter, tergantung dari batasan ketinggian diesel hammernya ini, sehingga kita tidak bisa kontrol. Kemudian hammer ini tidak bisa digunakan pada kondisi tanah lunak. Kalau tanah lunak, ketika dia meledak pertama, tiang ini langsung masuk. Kalau langsung masuk, hentakan tadi tidak sempat kembali ribot ke atas, gitu ya, karena tidak ada perlawanan dari si tiang, sehingga dia cukup sulit digunakan kalau di tanah lunak, gitu ya. Juga ini polusi suara dan udara ini yang harus diperhatikan. Ini cukup mengganggu lingkungan. Biasanya ada cipratan oli kalau pemeliharaannya kurang baik, ya, ada polusi udaranya, kadang warnanya hitam, gitu, karena dari ledakan si diesel tadi, dan juga suara bising. Nah, ini harus diperhatikan juga.
Ada pemukul yang yang namanya hidrolik. Nah, kalau hidrolik ini cenderungnya memanfaatkan tekanan hidrolik dari eh fluida, gitu ya, bisa dari minyak dan lain sebagainya. Ini efisiensinya cukup besar, kemudian juga energinya tertransfer baik ke tiang pancang, terus bisa diukur juga energinya karena lebih terkontrol, lebih efisien dari steam hammer maupun diesel hammer, gitu ya. Nah, ini kalau cara kerjanya, dia ram-nya tadi diangkat oleh tekanan hidrolik, kemudian dijatuhkan bebas. Nanti diangkat lagi oleh hidroliknya, dijatuhkan bebas, gitu ya, tapi prosesnya bisa lebih cepat. Nah, ini juga nanti tinggi hammer ini bisa diset bervariasi tergantung kondisi tiang dan kondisi tanah di sekitarnya. Ini bentuknya seperti ini, cenderungnya ini lebih polusinya tidak seekstrem dari diesel hammer tadi, dan suaranya, meskipun dia masih sistemnya drop hammer, gitu ya, dijatuhkan, tapi cenderungnya polusinya atau bisingannya dan getarannya lebih kecil dibandingkan yang drop hammer dan diesel hammer.
Nah, ini ada lagi yang ini sangat minim eh getaran dan minim polusi suara, yaitu hidrolik pile driver. Nah, kalau ini berbeda dengan tiang pancang. Kalau ini tadi masih dijatuhkan ke atas mengenai tiang pancangnya. Kalau ini malah tiang pancangnya ditekan. Jadi, caranya adalah dia digenggam si tiang panjang ini, ya, di sebelah sini ada tiang panjang, dia digenggam, kemudian ditekan masuk ke atas eh ke bawah. Nah, ini juga bisa digunakan untuk mencabut. Berarti kalau mencabut, dia digenggam, kemudian ditarik. Nah, ini bisa dengan hidrolik pile driver ini. Kapasitasnya bisa sampai 140 ton, mungkin kalau saat ini jauh lebih berkembang, bisa sampai ada yang di atas 200 atau 300 ton, gitu ya. Nah, cara kerjanya tadi, ya, tiang pancang tadi digenggam, istilahnya, kemudian ditekan sedalam kira-kira 3 feet atau 1 meter sampai habis stroknya atau batang pemandunya, gitu. Nanti ketika habis, dia naik lagi, ditekan lagi ke bawah. Jadi, semacam kayak hanya ditekan ke bawah sampai e posisi atau kedalaman yang direncanakan, gitu ya. Tingkat kebisingan tentu saja minimum dan getaran juga kecil, dan cocok untuk lokasi yang sangat terbatas, misalkan lokasinya tidak luas ataupun di lokasi yang dekat dengan perumahan atau pemukiman padat. Tapi catatannya, ini masih sangat mahal kita menggunakan yang sistem ini dibandingkan dengan yang hidrolik maupun yang diesel, jadi masih jarang digunakan di kita.
Nah, kalau untuk pemilihan, kira-kira Seperti apa? Ini saya Tampilkan, ya, Ee untuk contoh kasus tiang panjang beton, gitu, beton bertulang. Nah, di sini ada tipe Diesel dan tipe hidrolik hammer tadi. Nah, di sini kalau kita perhatikan ini, ya, di sini disajikan diameter tiangnya antara 300 sampai variasi 600. Nah, kalau dia sistemnya single pile, artinya tanpa adanya sambungan, ini nanti bisa digunakan yang spesifikasi ini. K adalah di sini disampaikan, ini kita ambil dari KOB, singkatan dari KOB. Ini dia K adalah berat eh kekuatan dari si pemukulnya dalam satuan Kilonewton. Jadi, ini kalau K13 ini berarti sekitar 13 Kilonewton atau 1,3 ton. Nah, ini jadi berat hammernya 1,3 ton. Nah, semakin besar ini, biasanya untuk diameter tiang yang besar juga nih, misalkan 600 mm atau 60 cm, ini biasanya dipakainya adalah yang 4,5 ton, bahkan sampai kalau yang dia memang sambungan, gitu ya, karena sambungan kan semakin dalam, bisa sampai yang 6 ton atau sampai 6,5 ton juga ada. Ini demikian juga yang hidrolik, gitu ya. Hidrolik juga eh disajikan, hanya saja di sini, ya, di sajikan adalah S, S adalah striking energy dalam kilojoule. Jadi, ini bisa disesuaikan, teman-teman. Kalau misal nanti kita mau pakai tiang panjang diameter 60 cm, gitu ya, kira-kira kedalamannya dia 40 meter, nah, kita bisa pakai nih, karena dia pasti jointed pile, ya, kita kita kira-kira bisa pakai yang 45 atau 60 KB ini. Kalau pakai hidrolik, ya, bisa pakai yang 60 atau 70 S ini, ya. Nah, ini bisa kita gunakan untuk pemilihan dari pemukulnya.
Nah, ini kita lanjutkan. Bagaimana kalau pemancangannya berupa tiang miring? Nah, tadi saya sampaikan, tiang pancang itu harusnya adalah vertikal, kalau memang itu adalah tiang vertikal. Nah, kalau memang kemarin saya sajikan ada tiang miring yang memang tiang itu dipancangkan miring untuk menambah kekakuan horizontal. Nah, ini yang disebut adalah konstruksi batter pile atau dengan kata lain juga namanya reel atau incline pile. Nah, ini adalah teknik pemasangan tiang dengan memposisikan tiang pada kemiringan tertentu terhadap posisi vertikal, gitu ya. Nah, di sini dibagi menjadi dua, yang namanya batter pile positif dan negatif. Positif ini jika arah kemiringan, gitu ya, beta ini sudut beta ini, dia kemiringannya searah dengan bebannya. Jadi, kalau ini tiangnya miring ke sana, ada beban vertikal ke sana, kan tiang ini cenderungnya, gitu ya. Nah, ini dinamakan batter pile positif. Nah, kalau ini namanya batter pile negatif, di mana kalau arah beban horizontalnya dia berlawanan dengan sudut tiangnya, betanya malah negatif. Nah, ini dinamakan batter pile negatif.
Nah, tadi saya sampaikan, batter pile ini digunakan untuk mendukung gaya lateral atau horizontal dari sekelompok tiang jika tiang vertikalnya memang tidak mempunyai daya dukung yang kuat seperti yang dibutuhkan, gitu ya, karena kalau vertikal kan cenderungnya kurang kuat dalam menahan gaya horizontal, makanya bisa dilakukan treatment dengan batter pile ini. Nah, ini kalau pemancangannya di laut, gitu ya, di tengah-tengah laut atau di sungai, ini bisa digunakan sistem ponton, teman-teman. Nah, ini harus diperhatikan adalah kekuatan atau kapasitas si ponton, dan juga kapasitas krin. Krin ini juga harus kuat karena dia akan dibuatnya adalah miring juga. Posisi ini harus dipertahankan si ponton ini supaya tidak geser kiri kanan, biasanya diangkerkan, sehingga ketika kita mancang dia bisa tepat pada posisinya. Nah, kalau di darat sih cenderungnya dia akan lebih gampang, ya, karena Ken kita posisinya berada di daratan yang stabil. Oke, saya lanjutkan.
Bisa juga ada yang istilahnya di sini namanya tiang pancang dengan water jetting. Nah, ini biasanya kalau memang tanahnya itu tanah pasir dan padat, gitu ya, dan kita mensyaratkan eh tiang pancang itu harus masuk sampai kedalaman tertentu. Ini biasanya karena akibat gempa, minimal dia harus masuk sampai kedalaman tertentu. Nah, kita bisa gunakan kalau kita pancangkan dengan alat pancang biasa, gitu ya, tanpa dimodifikasi, tentu saja nanti yang kalah biasanya adalah si material tiang pancangnya akan retak, kita paksakan kalau dia beton. Nah, ini bisa dengan alternatif yaitu namanya water jetting. Jadi, ini ada suatu pipa yang ditanamkan di ujung sampai ujung tiang pancang, dan di ujungnya ini ada nozle yang ketika nanti kita berikan tekanan air, gitu, dia akan menyemprot di sebelah bawahnya dengan kekuatan tinggi, sehingga ini cocoknya adalah memang di tanah pasir, ketika dia disemprot sambil kita tekan masuk ke dalam tanahnya, gitu ya, si butiran-butiran pasir ini akan dengan sendirinya menyingkir, dan kemudian nanti tiang ini akan bisa masuk. Nah, ini ada catatan, dia memang efektifnya adalah di tanah pasir. Dia tidak efektif di tanah kerikil ataupun lanau dan lempung. Nah, karena lempung ini kan sifatnya adalah kohesif, sehingga kalau dikasih semprotan seperti ini, ya, dia partikelnya tidak akan menyingkir, malah kadang nanti masuk ke dalam nozelnya. Nah, kalau pasir ini kemungkinan masih bisa dibantu dengan sistem water jetting. Oke, saya lanjutkan.
Saya masuk ke sambungan tiang pancang. Nah, sambungan tiang pancang ini perlu saya sampaikan karena ini juga sangat penting terkait dengan integrity atau satu kesatuan tiang pancang, ya. Jadi, tiang pancang kekuatannya ada di salah satunya adalah sambungan. Nah, sambungan ini kalau tiang pancang kayu, gitu ya, ini bisa dilakukan dengan menggunakan metal strap. Ini disambung dengan menggunakan semacam plat-plat baja yang nantinya dibautkan antara tiang satu dengan yang lainnya, antara kiri dan kanan bisa digunakan dengan straping ini, ya. Jadi, ini disatukannya kalau tiang kayu, ya, dengan baja seperti ini, jauh lebih kuat. Nah, ini nanti bisa disatukannya dengan las ataupun dia dipakai baut yang tembus antara satu dengan yang lainnya. Ini nanti juga bisa lebih kuat juga. Kalau di tiang pancang kayu, perlu diperhatikan adalah sepatunya nya, karena kalau dia dipukul terus di bawahnya tidak dipersiapkan, ini nanti ada rusak. Nah, ini biasanya disiapkan adalah sepatu dengan berkuat dengan baja ini, kalau kita masih menggunakan kayu.
Nah, kalau tiang pancang beton, seperti apa? Nah, ini khususnya adalah beton pratekan. Biasanya ini sudah dipersiapkan dari pabrikan untuk penyambungan dari eh tiang pancang ini menggunakan las. Jadi, ini sudah ada plat di sini, baik di sisi atas tiang panjang maupun di sisi bawahnya, gitu ya, atau yang ini yang kotak ini juga sama, sudah dipersiapkan platnya, sehingga nanti kita tinggal melakukan pengelasan. Nah, yang harus diperhatikan apa? Biasanya untuk pengelasan ini, penyambungan ini biasanya kita pakai yang namanya di sini untuk mengarahkan supaya ini presisi dengan bantuan biasanya eh plat-plat atau tulangan, gitu ya, kita tag well atau last titik. Nah, nanti untuk dia memberikan panduan atau guide saat kita menempatkan tiang pancang yang di atasnya ini. Nah, nanti ketika dia sudah pada posisinya, nah, ini kita tag kembali atau kita last titik di posisi atas, sehingga dia tidak bergerak, gitu ya, baru kita lakukan pengelasan di lokasi atau di tempat yang disediakan di sini.
Pengelasan ini biasanya kita lakukan secara tiga lapis, ya, teman-teman, kalau belajar las, ya, biasanya ada kalau kita ngelas, ada las tahap 1, tahap 2, tahap berikutnya, gitu ya. Misalkan ini ada sambungan las, gitu, ini kan ada titik sambungnya, gitu ya. Nah, ini misalkan yang disambung di sini, biasanya penyambungan las itu enggak bisa sekali kita las. Biasanya kita las isian pertama, kita lakukan, kemudian las isian kedua, baru nanti isian penuh. Nah, ini biasanya kita sampai tiga kali pengelasan. Ini harus diperhatikan, ya, teman-teman, kalau kita nyambung eh tiang pancang ataupun sambungan las yang lainnya di baja.
Nah, cara ngontrolnya gimana? Kalau las itu memang sudah terisi dengan penuh, tidak ada retakan. Nah, caranya adalah dengan yang namanya penetran. Jadi, penetran ini adalah non-destructive test atau tes tidak merusak untuk mengetahui tingkat kepadatan dan juga tidak adanya retakan pada las sambungan las tiang pancang kita ini. Caranya ini, misalkan sambungan las kita, ya, kita bersihkan, kemudian ini ada yang namanya penetran yang warna merah ini, kita semprotkan di baja kita, di sambungan, kita tunggu untuk dia eh istilahnya curing, gitu ya, meresap. Kalau memang dia ada retakan, dia nanti akan meresap ke sana, tapi kalau enggak, ya, dia hanya di permukaan. Nah, nanti sisanya ini yang berlebih ini kita bersihkan. Setelah itu kita semprotkan cairan putih yang namanya di sini adalah pengembang atau developer. Kita semprotkan, teman-teman, ke atas eh si penetran merah tadi. Kita tunggu, nanti kalau memang ada retakan, dia akan muncul si warna penetran merah tadi, nembus dari penetran atau developer warna putih. Nah, ini nanti kita Tandai lokasi-lokasi mana. Misalkan ini ada titik ini di sini, berarti sini tidak rapat las-lasannya, atau kan nanti kalau ada lingkaran dan retakan yang lainnya, ini ada ketentuan yang harus kita ikuti. Misalkan ada cacat linear, misalkan ada retakan arah memanjang gini, ya, kalau panjangnya 3 kali dari lebarnya dan besarnya lebih dari 1,6 mili, maka ini harus kita perbaiki sambungan ini. Kalau nanti termuncul lingkaran-lingkaran, gitu ya, misalkan dengan ukuran yang kita tentukan, ini nanti juga kita harus perbaiki. Nah, ini salah satu inspeksi retakan dari las. Ada juga cara lain, ya, yang bisa kita gunakan.
Nah, ini kita kembali lagi. Ini kalau sambungan baja, tentu saja kalau baja, kita biasanya menggunakan adalah las, gitu ya. Nah, ini baik untuk habim. Kalau habim ini biasanya pakai bantuan atau kita tambahkan di sini eh stiffener atau pengaku, baik untuk sisi dalam maupun sisi luar, gitu ya. Kalau untuk tubular atau tiang bulat, ini biasanya kita tambahkan namanya backing ring, atau plat tambahan untuk mempermudah kita waktu mengelas, nah, jadi ini teman-teman, sebelum sambungan atasnya kita tempatkan, kita ngelas dulu yang namanya tadi backing ring, gitu ya, ring tambahan di sebelah dalam. Nanti ketika ini sudah, ini kita masukkan tiang di atasnya. Nah, di atasnya sudah, biasanya kita take well atau kita last titik untuk eh sementara supaya dia tidak bergeser. Kalau sudah, baru kita sambungkan tiangnya ini. Juga sama, weldingnya adalah tiga lapis tadi, gitu ya. Nah, ini tagwell ini hanya untuk las titik, ini untuk menyambungkan sementara, tapi yang dinamakan las seperti ini adalah namanya butt weld ini, ya. Nah, ini yang tiga lapis tadi yang saya jelaskan. Nah, ini caranya kita berikan backing apa namanya tadi ring-nya, kemudian kita masukkan tiangnya, kita take well, baru kita last penuh tiga lapis tadi. Nah, ini pemeriksaannya cara lain selain tadi dengan penetran, ini adalah dengan radiografi dalam Ultrasonic testing. Jadi, ini kayak diongen pakai Ultrasonic, mana nanti bagian yang lemah atau yang tidak menunjukkan kekuatan tertentu, berarti dia terjadi retakan atau perlemahan las. Nah, itu yang harus diperbaiki. Nah, setelah ini nanti baru ini dicat ulang kembali untuk menghindari korosi, gitu ya. Oke, saya lanjutkan.
Nah, setelah penyambungan tiang dan kemudian tiang tadi dipancang kedalaman rencana, nanti di ujungnya kita melakukan yang namanya pemotongan tiang pancang. Nah, ini dilakukan kalau memang tiang pancangnya berlebih dan perlu kita buang karena elevasi dari pur atau footing kita. Nah, caranya kalau tiang beton, ya, kita potong dulu dengan eh gerinda atau dengan alat potong, kemudian baru setelah itu tiang yang berlebih ini nanti kita buang. Nah, tapi kita harus tetap mempertahankan yang namanya adalah ini, di sini adalah tulangan prestressnya dia. Ini harus kita pertahankan minimal adalah 1 kali diameter. Ini nanti yang perlu kita sambungkan, ya, teman-teman. Jadi, ini kawat prategang ini, ini kita perlu pertahankan yang panjangnya minimal 1D. Ini nanti kita hubungkan dengan tulangan pelkap kita. Selain itu, nanti kita juga harus memasukkan yang namanya tulangan overstack. Nah, overstack ini biasanya tingginya di sini adalah minimal 1D dan yang masuk ini adalah 1 sampai sekitar 2D. Nah, ini nanti dimasukkan ke dalam lubang dari tiang pancang ini, kemudian dicor. Nah, ini yang dinamakan adalah kepala tiang pancang, sambungan kepala tiang pancang ini yang menyatukan antara si masing-masing tiang tunggal ini ke dalam satu pel capap atau satu grup kelompok tiangnya. Ini juga harus diperhatikan. Ada syarat nih, minimal teman-teman yang yang tadi dipotong. Jadi, kalau kita motong di sini, gitu ya. Nah, ini misalkan kepalanya dibuang, gitu ya. Nah, nanti biasanya yang untuk mendapatkan si besi-besi prategang ini, karena ini kawat prategang ini adalah dibobok. Nah, dibobok ini nanti sampai kedalaman yang direncanakan. Nah, kedalaman ini disyaratkan kita harus punya sekitar 5 sampai 15 cm pur yang masuk ke dalam eh footing kita. Nah, ini harus kita perhatikan, ya, teman-teman. Jadi, tadi dipotong, kemudian dibobok, gitu ya, dibobok, kita sisakan kawat prategangnya 1D, kemudian kita masukkan overstack 1 sampai 2D, kita cor, gitu ya, dan nanti ketika kita ingin ngecor pel capap atau pur, kita harus menyisakan ini sekitar 5 sampai 15 cm ini dimasukkan ke dalam si pur-nya.
Oke, kalau baja, ya, sama. Kalau baja pemotongan lebih lebih mudah dengan alat blender, gitu ya, kita potong sesuai rencana. Nah, di baja ini ada khususan tersendiri. Kalau di pancang beton itu karena kekakuannya sudah cukup. Nah, di baja ini kalau untuk menambah kekakuan biasanya si baja ini bisa diisi pasir, kemudian ada juga yang diisi beton atau beton bertulang sesuai dengan kebutuhan perencanaan kekakuannya dibutuhkan Seperti apa. Nah, di atasnya sama, nanti diberikan tulangan overstack ini. Nah, ini nanti untuk menyatukan si tiangnya ini dengan pur, gitu ya. Nah, tadi yang sempat saya sampaikan juga bisa juga disatukan antara tiang satu dengan tiang yang lainnya ini dengan misalkan habim atau ibim atau dengan kanal C, itu untuk memberikan kekakuan yang lebih antara tiang satu dengan yang lainnya. Jadi, ini tiang satu dengan lainnya, selain tadi nanti ada overstack yang naik, juga ini disatukan dengan si yang namanya habim atau UNP, pengaku antara tiang satu dan lainnya, baru nanti ini di atasnya diberikan tulangan puting atau pur, kemudian dicor. Oke, itu tadi terkait dengan metode pelaksanaan dari pondasi tiang pancang.
Sekarang kita akan tinjau bagaimana metode pengawasan atau kontrol mutu dari pondasi tiang pancang. Kira-kira pondasi tiang pancang yang kita pancang di lapangan ini sudah masuk belum terhadap perencanaan. Nah, ini kita lihat, ya, teman-teman, caranya untuk mengetahui daya dukung tiang yang aktual terjadi di lapangan ini bisa dilakukan yang namanya pertama, uji beban statis atau static loading test. Caranya seperti apa? Nah, ini untuk mengetahui hanya pondasi tiang tunggal, ya, jadi satu tiang. Pengujian ini nanti melibatkan pemberian beban statik atau beban diam, dan nanti pengukuran dari pergerakan tiang akibat beban tersebut. Biasanya beban nanti diberikan secara bertahap, sehingga penurunan nanti bisa diamati. Beban uji biasanya diberikan dua kali dari beban rencananya. Nah, keruntuhan ini kadang tidak kita amati di lapangan karena memang eh pengujiannya tidak sampai runtuh, tapi nanti yang dinamakan eh runtuh ini bisa kita interpretasi lebih lanjut di mana kalau kita kasih beban yang konstan, tiang ini terus-menerus nanti dia turun tidak berhenti. Nah, makanya itu adalah yang dinamakan runtuh. Nanti bisa interpretasikan menjadi daya dukung ultimate, ya.
Nah, beban statis ini bisa kita lakukan yang pertama, yaitu dengan sistem celage. Celage itu apa? Nanti kita lihat. Kemudian bisa dengan angker atau jangkar ke tanah, ya. Dan jumlah samplingnya adalah minimal 1 tiang uji dan maksimal tiang uji per jembatan. Jadi, ini karena pembebanan ini lama dan mahal, biasanya hanya disyaratkan di satu jembatan itu minimal satu tiang uji, dan bahkan kadang sekarang sudah tidak digunakan lagi, tapi digunakan metode lain yang lebih cepat dan murah. Nah, tadi yang sistem klate, saya berikan penjelasan. Jadi, nanti si tiangnya ini akan kita uji, di atasnya diberikan beban yang cukup besar, gitu ya. Nah, nanti di sini diberikan dongkrak terhadap beban ini, nanti kita dongkrak, sehingga nanti si tiang ini terdesak ke bawah. Nah, sehingga nanti kita bisa baca antara beban dan penurunan si tiang ini, sehingga kita bisa perhitungkan daya dukungnya. Nah, ini contohnya di lapangan seperti ini. Nah, kalau yang ini sistem jangkar. Jadi, kita harus membuat jangkar di sisi kiri dan kanan, bisa dilakukan pengecoran seperti ini, sehingga beban nanti ditransferkan ke jangkar-jangkar ini. Nah, ini sama prinsipnya, kita kasih di sini dongkrak, ketika didongkrak, dia akan memberikan beban, si yang ini. Nah, perlawanan ini lendutannya berapa kali, dan bebannya kita amati, nanti bisa kita lihat atau kita hitung dari dukungnya. Nah, seperti itu, ya. Itu untuk beban statis.
Bagaimana kalau dengan cara lain? Cara lain yaitu ada dengan yang namanya pile dynamic analysis dengan beban dinamis. Kenapa dinamis? Karena ini prinsip pengujiannya yaitu tiang dipukul dengan palu atau hammer tadi, sehingga nanti akan terjadi gelombang, gitu ya, dan gelombang itu ditransferkan ke sepanjang tiang dan dipantulkan balik, nanti akan ditangkap oleh si sensor akselerometer dan sensor regangan atau strain gauge. Nah, gelombang ini nanti diproses dengan software signal matching analysis, sehingga didapatkan komponen dinamis dan komponen statis. Jadi, nanti daya dukungnya kita bisa ketahui dari sini. Samplingnya bisa sekitar 12 sampai 2% dari total jumlah tiang, gitu ya, teman-teman, atau minimal satu tiang dalam satu kelompok tiang. Nah, biasanya kalau misalkan kita ingin mancang 100 tiang, kalau setengah sampai 2% kan berarti hanya dua tiang, gitu ya, tapi biasanya kita persyaratkan adalah atau minimal dalam satu kelompok tiang itu kita ambil satu yang kita lakukan uji dinamis, gitu ya. Ini syarat yang harus dipenuhi. Prosedurnya nanti kita pasang sensornya dari PDA tadi, strain dan akselerometer itu biasanya di badan tiang dengan jarak 1 sampai 2D dari permukaan ujung tiangnya atau kepala tiangnya. Nanti sensor ini dipasang berlawanan, berpasangan dan berlawanan, ya. Nah, nanti diberikan beban dinamis dengan menjatuhkan palu atau drop hammer tadi, kemudian nanti diukur regangan dan gelombangnya. Jadi, prosesnya seperti ini. Kita lakukan pengukuran 1 sampai 2D tadi untuk meletakkan sensor. Nah, ini sensor dipasang di arah yang berlawanan antara si kiri kanan tadi, kemudian dihubungkan dengan alat. Nah, ini proses ketika nanti dia dijatuhi oleh hammer atau palu, dia direcord. Nah, nanti recordnya ini hasilnya kita lihat di monitor dan selanjutnya dianalisis dengan signal matching tadi. Nah, hasilnya nanti teman-teman, kita bisa dapatkan banyak parameter di sini. Salah satunya nih, misalkan ada jumlah pukulan nya. Nah, daya dukung ini, ini juga bisa kita dapatkan, misalkan di sini 490 ton. Nah, ini nanti daya dukung ini bisa kita split, ada dua daya dukung akibat n bearing kemarin, ya, ujung tiang, dan daya dukung akibat friction-nya. Nah, ini dari PDA tes bisa ketahuan. Kemudian ada macam-macam nih, sampai penurunan. Penurunan maksimumnya berapa mili, kemudian ada tinggi jatuh palunya juga terekord, kemudian pukulannya berapa, integritas tiangnya berapa, ini 100% berarti tiangnya tidak ada yang retak dan lain sebagainya, gitu ya. Nanti teman-teman bisa dilihat pada hasil pengujian beban dinamis.
Nah, yang terakhir adalah yang paling sederhana dan banyak dilakukan yaitu dengan sistem cendering. Cendering ini digunakan karena keterbatasan kita dalam melakukan uji dinamis dan statis tadi, hanya persyaratannya sekitar setengah sampai sampai 2% atau satu titik tiap kelompok tiang. Ini terkait karena biaya karena cukup mahal untuk melakukan uji statis dan uji dinamis, makanya biasanya dilengkapi dengan uji kalendering. Kalendering ini nanti untuk supplementary data atau data pendukung dari uji-uji yang pernah kita lakukan, gitu ya. Nah, ini juga nanti sebelum dilaksanakan kalendering, perlu dilakukan monitor pemukulan pemancangan untuk mengetahui jumlah pukulan tiap meternya dan jumlah total pemancangan ini harus disajikan bersamaan dengan data kalendering. Nah, yang disiapkan apa saja? Ini cukup sederhana, hanya spidol, kertas milimeter blok, selotip untuk nempelin kertas tadi di tiang pancang, kemudian kayu untuk ngarahin spidol tadi. Nah, pelaksanaannya nanti dilakukan pada 10 pukulan terakhir, yaitu pada saat sudah mendekati yang namanya final set. Jadi, final set yang disyaratkan tadi di depan saya sebutkan sekitar 1 inch untuk 10 pukulan terakhir. Nah, ini kalau asumsinya adalah didesain secara n bearing. Nah, kalau secara friction, ya, nanti mungkin angka ini akan jauh bisa lebih besar dari 2,5, tidak masalah, yang penting nanti kita masukkan ke dalam rumusan kalau daya dukungnya sudah masuk, ya, berarti sudah memenuhi.
Pelaksanaannya seperti ini, teman-teman. Jadi, ini tiang pancangnya, alatnya, si milimeter blok ditempatkan di sini, dilekatkan dengan selotip, kemudian ini kayu untuk membantu tadi tadi mengarahkan si spidol. Nah, ketika nanti tiang dipukulkan, ini akan memberikan grafik spidol tadi naik karena adanya ribon, kemudian turun lagi, gitu ya. Ini ribon berarti ada hentakan naik, kemudian turun lagi, tapi ini ada selisih penurunan, teman-teman, antara yang pertama.
Dengan kedua ini ada selisih penurunan. Nah, ini dihitung selama 10 pukulan tadi. Dijumlahkan nilai penurunannya ini sebagai S, ya.
Nah, S ini dibagi dengan jumlah pukulan. Kalau ini ada 10, berarti S misalkan di sini 290 mili dibagi 10, berarti dia sekitar 2,9 C. Nah, kalau dari persyaratan tadi, dia belum masuk final set kan 1 in tadi, ya? 2,5 sampai 3, ya. Kalau kita ambil 2,5, berarti dia belum masuk. Tapi mungkin saja tiang ini adalah kita desain sebagai tiang fren, kita tidak tahu.
Dan yang dimaksud ribound di sini adalah ini rata-rata dari ketika dia dipukul, kemudian dia membal naik dan turun lagi. Ini adalah nilai ribound atau k.
Nah, daya dukung ini nanti kita bisa hitung dengan menggunakan rumus yang sering kita pakai namanya rumus Heli. Nah, Heli ini memberikan persamaan seperti ini, di mana nanti kapasitas daya dukung ini tergantung dari berat Palu, kemudian berat yang pancangnya, tinggi jatuh Palunya. Nah, nilai S ini yang kita dapatkan dari calenderding, yaitu penetrasi tiang pancang saat penumbukan yang terakhir kalinya atau final set. Dan K ini adalah nilai reibound atau membalan tadi untuk 10 ukuran terakhir dirata-ratakan. Dan kemudian ada nilai n adalah koefisien restitusi.
Nah, ini terkait dengan adanya pengurangan akibat tadi, ya? Ada pakai landasan dan lain sebagainya. Misalkan 0,4 sampai 0,5 itu untuk besi cor tiang panjang beton tanpa helm atau tanpa pelindung topi tadi. Nah, kalau pakai pelindung landasan kayu atau dengan ini bisa 0,3 sampai 0,4. Nah, tiang kayu ini bisa 0,25 sampai 0,3.
Nah, ini ya, teman-teman, dengan calenderding ini adalah cara yang paling sederhana, murah, tapi nanti kita bisa mengestimasi nilai kapasitas daya dukung dan kemudian kita bandingkan dengan hasil PDA. Kira-kira apakah logis atau tidak sebagai pelengkap. Karena tidak semua tiang bisa kita lakukan PDA ataupun static loading. Yang paling murah dan mudah adalah dengan calenderding ini. Jadi, calenderding ini adalah sifatnya wajib dilakukan untuk semua tiang pancang yang terpasang di lapangan.
Nah, nanti ini kita bisa hitung besaran daya dukung dari estimasi nilai ini. Nah, ini yang sebagai dasar kontrol mutu kita. Apakah tiang pancang kita sudah memenuhi kriteria atau belum. Nah, mungkin itu, teman-teman, penjelasan saya terkait materi metode pelaksanaan dan pengawasan yang panjang.