Transcription
[Muzik] Ikhwatul Islam, saudara kaum Muslimin, kaum Muslimat, ikhwani akhawati rahimani warahimakumullah. Alhamdulillah, Allah Subhanahu wa Ta'ala kembali memberikan kemudahan kepada kita bersama untuk bisa berkumpul, duduk di dalam rumah Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam rangka membacakan ayat-ayat Allah dan juga hadis-hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.
Dan kita tahu bagaimana keutamaan yang mulia diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Di antara salah satu kemuliaan ketika kita berada di dalam rumah Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka kita akan mendapatkan hal-hal yang sangat indah. Salah satunya sebagaimana hadis yang disebutkan oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam tentang salah seekor atau salah satu seekor unta yang namanya unta Kauma. Unta Kauma itu, Ikhwatul Islam, adalah unta yang sangat berharga bagi orang-orang Arab, disebut dengan unta Kauma.
Bagaimana bentuk unta Kauma? Kerana unta itu merupakan di antara barang berharga. Kalau sekarang misalnya, barang berharga bagi kita mungkin kereta, kereta yang jenamanya luar biasa, ataupun yang semisalnya emas permata. Kalau orang Arab, di antara salah satu barang berharganya adalah unta Kauma. Dan unta itu merupakan barang yang sangat berharga kerana nilainya juga tidak main-main. Bahkan kami selalu menyebutkan, Ikhwatul Islam, ada unta itu yang bahkan harganya sampai 40 juta riyal. 40 juta riyal dikalikan 4,000, berapa kira-kira itu satu ekor? Ya, betul, 6 bilion ini, 6 trilion atau 6 bilion. Tayib, itu satu ekor unta. Bagaimana dengan unta-unta yang lainnya?
Nah, salah satu unta yang termahal itu namanya adalah unta Kauma. Sehingga Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam menyebutkan kepada para sahabatnya, "Mahukah kalian kalau seandainya kalian pulang, kalian membawa seekor, satu ekor unta Kauma?" Siapa yang tidak mahu? Semua para sahabat mahu, "Kami mahu, ya Rasulullah, kami mahu." Kemudian apa kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam? "Satu ayat yang kalian baca di dalam rumah Allah Subhanahu wa Ta'ala itu sama harganya dengan seekor unta Kauma. Dua ayat, dua ekor. 10 ayat, 10 ekor unta." Semakin banyak ayat yang kalian baca, hadis-hadis Nabi yang kalian telaah, maka semakin banyak pulalah unta Kauma yang akan kalian bawa.
Siapa di antara kita yang mahu membawa unta Kauma ke rumahnya? Kerana unta ini kita tambah keimanan kepada Allah dan kecintaan kita kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Dan pembahasan kita pada malam hari ini adalah bagaimana kita mencintai Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Kerana tidak ada seorang Muslim kecuali wajib hukumnya mencintai Baginda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Ketika mereka mencintai Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, maka wajib pula hukumnya bagi mereka untuk membuktikan bagaimana mereka mencintai Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Kerana sesiapa pun kalau kita bertanya kepadanya, "Adakah kamu mencintai Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam?" Pasti semua jawabannya sama, "Kami mencintai Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam." Bahkan kepada orang yang tidak pernah beribadah sekalipun, kalau kita tanya, selama mereka seorang Muslim, kalau kita tanya, "Adakah kamu mencintai Nabi?" Pasti jawabannya, "Kami mencintai Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam."
Semua kaum Muslimin mencintai Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Tapi pertanyaannya, adakah Nabi mencintai kita atau tidak? Masalah kita mencintai Nabi, semuanya mencintai Nabi. Tapi adakah kita dicintai oleh Nabi atau tidak? Maka di situlah kita harus mencari jawabannya. Apa jawabannya? Lakukanlah sesuatu yang bisa mendatangkan kecintaan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.
Kita tahu, Ikhwatul Islam, orang yang paling mencintai Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam adalah para sahabatnya. Mereka, kalau kita berbicara tentang para sahabat, bagaimana mereka mencintai Nabi, maka sulit bagi kita untuk membayangkan. Salah satunya, Ikhwatul Islam, kita contohkan salah seorang sahabat Nabi yang bernama Abdullah, atau yang lebih kita kenal dengan Abu Bakar As-Siddiq Radhiyallahu Ta'ala Anhu. Abu Bakar As-Siddiq adalah orang yang paling dicintai oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, dan Abu Bakar adalah orang yang paling mencintai Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Bertemu antara dua, dia dicintai dan dia mencintai. Kerana di dalam masalah cinta kepada Nabi harus bertemu antara dua hal ini: mencintai dan dicintai.
Apa gunanya kita mencintai Nabi kalau kita tidak dicintai Nabi? Ibarat sebagaimana kata pepatah, seseorang menyukai Fulan atau Fulana, tapi Fulan tidak menyukai dia. Artinya cinta bertepuk sebelah tangan. Dan itulah yang disebutkan oleh para ulama, masalah mencintai itu bukan terletak bagaimana kalian mencintai Nabi, tapi bagaimana supaya kalian dicintai oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Abu Bakar As-Siddiq, dia dicintai oleh Nabi dan dia mencintai Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Kedua-duanya masuk, dan dia membuktikan bagaimana cintanya kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.
Salah satu contoh yang biasa, Ikhwatul Islam, Nabi dan Abu Bakar, dia adalah teman yang seumuran, berbeza tipis. Mana yang paling tua, Nabi atau Abu Bakar? Antara Abu Bakar dan Nabi? Nabi atau Abu Bakar? Abu Bakar atau Nabi? Yang kanan Abu, Nabi yang kiri Abu Bakar As-Siddiq. Berbeza ulama Masjid Raya Bengkina. Tayib, mana yang paling tua, Nabi atau Abu Bakar As-Siddiq? Nabi meninggal di umur 63 tahun, Abu Bakar meninggal di umur 63 tahun. Mana yang lebih tua? Sama. Nah, Nabi meninggal di umur 63 tahun, Abu Bakar meninggal di umur 63 tahun. Mana yang paling tua? Abu Bakar. Tayib, kenapa Abu Bakar yang paling tua? Masya-Allah, berarti yang lebih tua adalah Masya-Allah, jawabannya. Silakan, Bang. Masya-Allah, silakan, bisa di, bisa, sehat selalu, Bang, ya. Tapi jawabannya salah 100 per 100. Kita sudah membocorkan, Nabi meninggal umurnya 63, Abu Bakar umur meninggal umurnya 63. Mana yang lebih tua? Nabi. Nabi, kerana Abu Bakar meninggal setelah 2 tahun setelah Nabi wafat. Artinya Nabi lebih tua dari Abu Bakar 2 tahun. Jelas, ya? Bukan pula sama, sama umurnya, tapi lebih tua Nabi. Kerana mereka tidak sama meninggalnya. Meninggal umurnya sama, 63, 63, tapi waktunya berbeza. Dari situlah Nabi lebih tua dari Abu Bakar As-Siddiq Radhiyallahu Ta'ala Anhu. Tapi orang menganggap Abu Bakar itu lebih tua dari segi penampilannya.
Terlepas daripada itu semua, Nabi dan Abu Bakar ini, mereka selain mertua dan menantu, mereka juga adalah teman yang paling akrab. Selain mereka mertua dan menantu, kerana Abu Bakar menikahi putrinya kepada, menikahkan putrinya Aisyah Radhiyallahu Ta'ala Anha dengan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Kemudian walau mereka mertua dan menantu, mereka juga adalah teman yang paling dekat. Saking dekatnya, Ikhwatul Islam, saking dekatnya, Nabi itu terbiasa tidur atau sering tidur di atas pahanya Abu Bakar As-Siddiq Radhiyallahu Ta'ala Anhu. Saking dekatnya.
Kemudian dikala Nabi tertidur, Abu Bakar terbangun atau Abu Bakar bangun membiarkan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam tidur. Kemudian dikala Nabi tidur, maka Abu Bakar kedatangan tamu. Tamunya ada yang menyebutkan ular berbisa atau kala jengking. Nah, dikala kala jengking ini datang menghampiri, kalau dibunuh oleh Abu Bakar As-Siddiq, maka dia akan melakukan gerakan. Kalau dia melakukan gerakan, maka nanti bisa membuat Nabi terbangun, dan dia tidak mahu. Kalau dia tidak membunuhnya dan tidak mengusirnya, maka dia yang akan digigit. Siapa yang pernah digigit oleh ular? Sakit atau tidak? Kala jengking saja sakit atau tidak? Sakit sekali, Ikhwatul Islam. Kalau ingin tahu, silakan cuba. Sakit sekali. Kami waktu kecil suka digigit oleh kala jengking. Sakit sekali, sakit, bahkan bisa berdarah, bahkan bisa, yang penting sakit.
Kemudian Abu Bakar berada di antara dua pilihan: membunuh kala jengking, risikonya Nabi terbangun. Kalau dia diam, risikonya dia yang digigit. Kemudian apa yang terjadi, Ikhwatul Islam? Maka kerana cintanya kepada Baginda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, beliau tidak membunuh kala jengking supaya tidak melakukan gerakan. Maka Nabi tetap tidur. Kemudian kala jengking atau ular ini menghampiri dirinya, kemudian menggigit Abu Bakar As-Siddiq sehingga berdarah. Ada yang menyebutkan kakinya, bahagian kakinya. Ada yang menyebutkan bahagian tangannya. Intinya dia berdarah dan banyak darahnya.
Kemudian pada akhirnya terbangunlah Baginda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Abu Bakar As-Siddiq menahan bagaimana rasa sakit yang begitu luar biasa. Kemudian dikala Nabi terbangun, Nabi melihat ada darah. Beliau pun bertanya, "Wahai Abu Bakar, dari mana darah ini datang?" Maka di saat itulah Abu Bakar menceritakan, "Ya Rasulullah, tadi ada ular, tadi ada kala jengking yang datang menggigit. Kalau aku membunuhnya, aku takut kalau kamu terbangun. Pada akhirnya kala jengking inilah yang menggigitku. Itulah darah yang kamu lihat, ya Rasulullah." Kemudian di saat itulah, Ikhwatul Islam, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam tentunya meludah atau menghembusnya, kemudian mengucapkan doa yang pada akhirnya Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan kesembuhan kepada sahabat Abu Bakar As-Siddiq Radhiyallahu Ta'ala Anhu.
Terlepas daripada itu semua, Ikhwatul Islam, yang kita ingin sampaikan, kalau mencintai sesuatu itu harus ada pengorbanannya. Dan orang yang paling kita cintai adalah Baginda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Maka dalam mencintai Nabi tidak semudah yang kita bayangkan, "Saya mencintai Nabi," cukup demikian. Tidak, cinta kita kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam harus dibuktikan sebagaimana orang-orang terdahulu mereka membuktikan cintanya kepada Nabi. Kita juga demikian keadaannya, buktikan kalau kita mencintai Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Apa buktinya? Di antara salah satu buktinya, iaitu kita mengetahui tentang sunah-sunah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Kemudian bukan hanya sekadar mengetahui, tapi berusaha mengamalkan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Baginda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.
Kita sebutkan sedikit contoh, Ikhwatul Islam, contoh yang popular bagi kita bersama dan kita akan ulang lagi bagaimana mereka mencintai Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Salah satunya adalah hadis yang dibawakan oleh Abdullah bin Umar Radhiyallahu Ta'ala Anhu. Abdullah bin Umar adalah sahabat kecil Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, dan beliau termasuk orang yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Nabi, dan beliau adalah orang yang paling cinta kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Dan beliau membuktikan bagaimana cintanya kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Setiap gerak-geri Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dicontoh oleh Abdullah bin Umar. Abdullah bin Umar sangat mencintai Nabi, semuanya ditiru oleh Abdullah bin Umar. Bahkan di mana Nabi buang hajat, dia akan berusaha di situ dia akan buang hajat. Cuba bayangkan. Hanya saja tentunya para ulama berselisih tentang apa yang dilakukan oleh Abdullah bin Umar tersebut dalam beberapa perkara. Tapi secara umum, Abdullah bin Umar adalah seorang figur yang memberikan contoh dan keteladanan bagaimana mencintai Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.
Kita bacakan hadisnya, Ikhwatul Islam, iaitu hadis yang dikeluarkan oleh Imam At-Tirmidzi dan juga hadis yang dikeluarkan oleh Imam Al-Hakim. Anna rajulan, ada salah seorang laki-laki yang bersin di samping Abdullah bin Umar. Dia bersin. Faqal, ketika dia bersin, maka dia pun mengucapkan, "Alhamdulillah wassalamu ala Rasulillah." Perhatikan baik-baik hadisnya. Orang ini bersin, kemudian dikala dia bersin, dia mengucapkan, "Alhamdulillah wassalamu ala Rasulillah Sallallahu Alaihi Wasallam." Adakah yang salah dalam kalimatnya? Ada yang salah atau tidak? Kita ulang lagi, Ikhwatul Islam, dia mengatakan, "Alhamdulillah wassalamu ala Rasulillah." Alhamdulillah dan keselamatanlah untuk Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Ada yang salah atau tidak?
Kita kembalikan kepada lanjutannya. Abdullah bin Umar ketika mendengarkan orang ini mengucapkan, "Alhamdulillah wassalamu ala Rasulillah." Apa yang terjadi? Abdullah bin Umar menyebutkan, "Aku juga mengucapkan segala puji bagi Allah dan keselamatan untuk Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam." Kemudian maka Abdullah bin Umar menyebutkan, "Katakan Alhamdulillah wassalamu ala Rasulillah." Tapi kalimat ini adalah kalimat yang boleh diucapkan kapan saja kecuali di momen-momen yang kita tidak boleh mengucapkannya, atau di dalam zikir-zikir yang muqayyad. Muqayyad itu artinya zikir yang terikat dengan benda, dengan tempat, dengan keadaan. Itu disebut dengan zikir muqayyad. Kerana zikir itu bisa jadi muqayyad, bisa jadi zikir mutlak. Zikir mutlak itu zikir bebas. Bebas kita mengucapkan kapanpun, di manapun, dalam keadaan apapun. Itu disebut dengan mutlak, bebas. Sedangkan yang muqayyad tidak boleh kita mengucapkan kecuali yang terikat dengan zikir, dengan tempat, dengan keadaan yang telah disebutkan oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.
Nah, orang ini dia bersin, dia mengucapkan, "Alhamdulillah wassalamu ala Rasulillah." Setelah dia bersin, maka Abdullah bin Umar menegurnya. Namun sebelum ditegur, Abdullah bin Umar menyebutkan, "Saya juga mengucapkan Alhamdulillah wassalamu ala Rasulillah." Artinya kalimat ini tidak salah, tidak ada yang salah. Tapi yang kurang tepat itu adalah waktu dan tempatnya. Yang kurang tepat itu adalah waktu dan tempatnya. Kenapa? Kerana dikala kita bersin yang diajarkan oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, kita mengucapkannya, "Alhamdulillahi ala kulli hal." Itu adalah doa yang diajarkan oleh Nabi dikala kita mengucapkan ketika bersin. Sedangkan "Assalamu ala Rasulillah" itu bukan doa yang kita baca setelah kita bersin.
Bisa dipahami? Kita contohkan misalnya, boleh tidak kita mengucapkan istighfar 100 kali setelah solat? Boleh atau tidak? Boleh atau tidak? Boleh atau tidak? Tidak boleh. Boleh atau tidak? Boleh beristighfar, berzikir. Boleh tidak kita mengucapkan "Astagfirullah" 100 kali setelah solat? Silakan, tidak menjadi masalah. Tapi 10 minit setelah zikir, setelah kita berzikir, boleh atau tidak? Pertanyaannya, boleh tidak kita mengucapkan "Astagfirullah" 100 kali setelah solat? Setelah solat langsung tiga kali. Tapi setelah solat yang lain, silakan, tidak menjadi masalah. Misalnya kita, kita mengucapkan "Astagfirullah" 100 kali setelah solat sunat, boleh atau tidak? Boleh. Jadi pertanyaannya kadang-kadang apa, ya? Pertanyaan menipu. Makanya hati-hati dengan jawabannya.
Baik, kita ulang lagi, Ikhwatul Islam. Ketika kita solat, kemudian kita salam, kita mengucapkan, "Astagfirullah, Astagfirullah, Astagfirullah." Berapa kali kita ucapkan? Tiga kali. Boleh tidak 10 kali? Berarti sudah mulai termakan syubhat ini. Tayib, boleh kalau seandainya tidak langsung setelah solat, setelah salam. Tapi setelah kita salam ke kanan, salam ke kiri, istighfarnya hanya tiga kali. Kenapa hanya tiga kali? Kerana itu zikir muqayyad namanya. Zikir yang terikat dengan jumlah, zikir yang terikat dengan waktu. Bukan berarti kita melarang mengucapkan "Astagfirullah" lebih dari 100 kali, tidak. Tapi waktunya, tempatnya, keadaannya harus dilihat.
Contoh yang lain misalnya, ada orang yang punya cucu, dia punya menantu tujuh orang. Kemudian tiba-tiba semua menantunya melahirkan, yang perempuan tentunya. Kemudian dikala melahirkan, maka dia bersyukur kepada Allah. Dan di antara syukurnya, dan kebetulan semua, semua cucunya perempuan, maka dia ingin berakikah. Dan dia mengatakan akikah untuk perempuan tujuh orang, berarti tujuh ekor kambing. Kemudian dia pun mulai mengkiaskan, biasanya tujuh ekor kambing itu sama dengan seekor kerbau. Sama dengan dikala kita berkorban tujuh, tujuh ekor kerbau sama nilainya dengan tujuh ekor kambing. Maka pada saat itulah dia tidak jadi menyembelih kambing, dia menyembelih kerbau dengan alasan manfaatnya lebih luas, kemudian hukumnya sama. Maka pada akhirnya dia menyembelih satu ekor kerbau untuk mengakikahkan semua cucunya. Boleh atau tidak? Kenapa tidak boleh? Kerana muqayyad, kerana terikat. Kalau ingin berkorban satu ekor kerbau, silakan tambah dengan kambing tujuh ekor tadi, lebih banyak lagi dan lebih memberikan manfaat kepada kaum Muslimin. Itulah yang disebut dengan muqayyad, Ikhwatul Islam.
Maka kita kembalikan kepada permasalahan yang terjadi kepada Abdullah bin Umar. Abdullah bin Umar dikala ada orang bersin, maka orang ini mengucapkan, "Alhamdulillah wassalamu ala Rasulillah." Kalimat ini bukan kalimat yang salah, tapi kalimat yang tidak pas lokasi dan posisinya. Kerana dikala kita bersin yang diucapkan, "Alhamdulillah" atau "Alhamdulillahi ala kulli hal." Sedangkan mengucapkan salam kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam boleh kita baca kapan saja, di mana saja. Maka di saat itulah Abdullah bin Umar mengatakan, "Wa laisa haka allamana Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam." "Wahai Fulan, bukan seperti itu yang dicontohkan oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam kepada kita." Begitulah tentang masalah sunah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.
Artinya, Ikhwatul Islam, mengamalkan sunah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam itu butuh ketelitian. Bukan berarti kita melarang orang beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sama juga dengan peristiwa yang terjadi di zaman Nabi Alaihi Wasallam. Ada salah seorang sahabat yang masuk ke dalam Masjid Nabawi, kemudian orang ini melaksanakan ibadah solat. Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam berada di bahagian hujung Masjid Nabawi dan Nabi memperhatikannya. Dikala orang ini solat satu rakaat, dua rakaat, kemudian setelah dia salam, dia datang bertemu dengan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dan mengucapkan, "Assalamu'alaika Ya Rasulullah." Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam menjawabnya. Kemudian sebelum orang ini duduk, maka Nabi mengatakan, "Irji' fashalli fainnaka lam tusalli." "Wahai Fulan, wahai sahabatku, ulangi solatmu kerana tadi kamu belum melakukan ibadah solat."
Orang yang ditegur oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam ini, beliau sudah solat atau belum? Sudah solat atau belum? Apa buktinya dia sudah solat? Apa buktinya dia sudah solat? Pertanyaannya, apa buktinya kalau dia sudah solat? Nabi suruh, kalau Nabi suruh mengulang, berarti dia sudah solat atau belum? Pertanyaan ini, Ikhwatul Islam, sama dengan orang yang bertanya, "Mana yang lebih tua antara kamu dengan orang tuamu?" Jadi pertanyaan, bukan jawabannya yang salah, yang bertanya salah. Bisa dipahami? Apa buktinya dia sudah solat? Dilihat oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam di samping Nabi. Sesuatu yang tidak boleh ditanyakan atau tidak perlu lagi ditanyakan bahawa orang ini betul-betul sudah melaksanakan ibadah solat secara, secara jelas orang ini sudah melaksanakan ibadah solat. Tapi secara hukum agama sesuai dengan sunah Baginda Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, orang ini belum dihitung sebagai orang yang melaksanakan ibadah solat sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi.
Maka Nabi mengatakan, "Irji' fashalli," "ulangi solatmu kerana tadi kamu belum solat." Padahal dia solat di depan Nabi. Namun Nabi menganggap dia belum solat. Kemudian diulang lagi yang kedua kali, masih dikatakan oleh Nabi kalimat yang sama. Kemudian diulang yang ketiga kali, dan Nabi masih kembali mengatakan, "Irji' fashalli fainnaka lam tusalli." "Ulang solatmu kerana tadi satu, dua dan tiga kamu belum solat." Kemudian setelah itu baru dia mengatakan, "Ya Rasulullah, la uhsinu." "Ya Rasulullah, saya tidak lagi bisa melakukan yang lebih bagus daripada ini." Kemudian setelahnya baru Nabi mengajarkan bagaimana solat yang sesungguhnya.
Artinya apa, Ikhwatul Islam? Orang solat banyak juga di antara mereka yang salah di dalam melakukan apa yang diinginkan oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, dan bisa jadi solatnya tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kenapa demikian? Kerana di luar daripada konteks yang diajarkan oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Begitu juga dengan ibadah-ibadah yang lainnya. Ibadah puasa misalnya, apakah kata Nabi, "Betapa banyak orang yang berpuasa tidak ada pahalanya kecuali lapar, haus, dahaga." Artinya dia tidak punya pahala padahal dia puasa. Kenapa demikian? Kerana puasanya tidak sesuai dengan apa yang telah disebutkan oleh Baginda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Itulah yang disebut dengan sunah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, terkhusus dalam masalah ibadah.
Dan yang paling berat, Ikhwatul Islam, masalah sunah ini, sunah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam adalah masalah-masalah sunah fi'liah dengan sunah qauliah, iaitu sunah yang berkaitan dengan perkataan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dan sunah yang berkaitan dengan perbuatan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Yang paling berat dilakukan oleh kaum Muslimin adalah sunah yang berkaitan dengan qauliah, iaitu perkataan, zikir, ibadah-ibadah lisan. Itu sulit sekali, Ikhwatul Islam. Kadang-kadang orang salah di dalam menanggapinya. Seperti misalnya tadi kita contohkan, dikala berzikir setelah solat 10 kali, kemudian kita mengatakan tidak boleh demikian, maka langsung dikatakan, "Orang berzikir, kenapa engkau melarangnya?" Yang dilarang itu bukan zikirnya, tapi tata cara zikirnya, jumlahnya, tempatnya, waktunya. Itu yang dilarang di dalam agama Islam. Bukan zikir yang dilarang, tidak. Tapi bagaimana tata caranya. Makanya contoh yang terjadi kepada Abdullah bin Umar ini merupakan contoh yang sangat luar biasa agar kita bisa mengukur kepada ibadah-ibadah yang lainnya.
Dari situlah kisah yang selalu kita angkat, Ikhwatul Islam, kisah yang terjadi kepada Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu Ta'ala Anhu. Ini mungkin sebahagian kita sudah pernah mendengarkannya, namun kita hanya sekadar mengulangnya. Ketika Abdullah bin Mas'ud berada di Kufah, ketika berada di Kufah, tiba-tiba datang salah seorang sahabat yang bernama Abu Musa Al-Asy'ari Radhiyallahu Ta'ala Anhu. Maka sahabat ini, kerana di antara kalangan para sahabat ada yang ulama, ada yang bukan ulama. Ada yang ulama, ada yang bukan ulama. Dan salah satu yang bahagian daripada ulamanya adalah Abdullah bin Mas'ud. Dia adalah ulama dari kalangan sahabat Nabi, dan dia adalah sahabat yang paling mulia. Dan dia pernah pergi atau dia hijrah ke sebuah tempat yang bernama Kufah.
Kemudian, Ikhwatul Islam, Abu Musa Al-Asy'ari dia pernah melewati sebahagian masjid-masjid yang ada di Kufah. Dikala beliau melewatinya, maka beliau melihat ada orang yang sedang berzikir. Orang yang sedang berzikir. Kemudian Abu Musa tidak berani menegurnya, kerana biasanya kalau kita menegur, Ikhwatul Islam, kita harus tahu alasan dan kita juga harus tahu argumennya. Tidak hanya sekadar melarang tanpa memberikan solusi. Kerana agama biasanya diberikan larangan, ada solusinya. Misalnya Allah Subhanahu wa Ta'ala haramkan jual beli, diberikan solusi jual beli. Allah Subhanahu wa Ta'ala haramkan zina, solusinya adalah dengan menikah. Tidaklah ditutup suatu pintu di dalam agama kecuali dibuka pintu yang lain. Kerana itu merupakan di antara fitrah manusia.
Salah satunya adalah beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Berzikir itu, Ikhwatul Islam, sebahagian kaum Muslimin Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan kepada mereka kemudahan dalam berzikir dan mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kerana zikir itu adalah ibadah yang paling mulia. Hanya saja harus diperhatikan baik-baik, harus dipilah, harus dipilih mana zikir yang mutlak, mana zikir yang muqayyad. Mana zikir yang bebas, mana zikir yang tidak bebas. Kita harus mengetahuinya. Bagaimana tata caranya juga harus diketahui. Kerana tidak ada satupun bentuk zikir dalam agama kecuali sudah diajarkan oleh Baginda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Semuanya. Tinggal bagaimana kita mempelajarinya.
Nah, salah satunya, Ikhwatul Islam, adalah ketika Abu Musa melewati masjid yang ada di Kufah, melihat orang sedang berzikir. Zikirnya apa? Cuba, Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Lailahaillallah. Tidak ada yang salah. Namun yang salah itu adalah tata caranya. Kemudian dia pergi datang ke rumah Abdullah bin Mas'ud. "Ya Aba Abdillah, ada sebuah kaum aku mengingkarinya. Aku tidak setuju dengan apa yang mereka lakukan." Abu Musa mengatakan, "Aku tidak setuju tapi aku tidak bisa mengingkarinya." Sehingga membuat Abu Abdillah atau Abdullah bin Mas'ud merasa penasaran, "Apa yang terjadi? Apa yang mereka lakukan?" Abu Musa tidak memberikan jawaban, "Kalau seandainya Allah berikan kepadamu umur panjang, maka engkau akan melihat dengan mata kepala sendiri."
Kemudian Abdullah bin Mas'ud dia pergi datang ke masjid tersebut dan memperhatikan orang sedang berzikir. Berzikir. Namun zikirnya bagaimana bentuk berzikirnya? Berzikirnya lain dari yang lain. Mereka duduk berhalaqah di dalam masjid yang ada di Kufah, kemudian sedang memanggil atau sedang memakai kerikil-kerikil menggunakan batu kerikil. Misalnya ada kerikil, ada 10 atau ada 100 kerikil. Kemudian diletakkan kepada kawan yang pertama, "Sabbihu miah." "Kamu yang pertama kali memulai, silakan kamu bertasbih 100 kali." Maka dia pun berzikir, bertasbih 100 kali dengan kerikil ini. Kemudian setelah dia menggunakan kerikil mengucapkan Subhanallah, kerikil ini diambil diberikan kepada kawan yang ada di sampingnya, "Hamid, silakan kamu bertahmid 100 kali." Begitu seterusnya, "Kabir, bertakbirlah 100 kali." "Tahlil, 100 kali." Begitu seterusnya. Mereka sedang berzikir kepada Allah, bukan berbuat maksiat. Mereka berzikir kepada Allah Azza wa Jalla.
Kemudian Abdullah bin Mas'ud dikala melihat orang ini, Ikhwatul Islam, maka Abdullah langsung memberikan teguran, "Wahai kalian penduduk Kufah, tidakkah kalian ketahui bahawa para sahabat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam masih banyak yang hidup? Piring-piring mereka, alat perabotan rumahnya belum pecah. Artinya mereka masih hidup di tengah-tengah kalian. Kenapa kalian melakukan seperti ini? Kenapa kalian harus berzikir kepada Allah harus dengan cara seperti ini? Kenapa demikian?" Apa jawaban daripada orang-orang Kufah yang ada di masjid tersebut? "La nuridu illa khairan." "Wahai Abu Abdillah, kami hanya berzikir. Apa salahnya? Di mana salahnya? Tidak ada tujuan kami kecuali ingin melakukan kebaikan."
Maka apa jawaban Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu Ta'ala Anhu? "Mana yang lebih pintar, kalian atau sahabat-sahabat Nabi yang masih hidup? Mana yang lebih bagus? Mana yang lebih mulia? Mana yang lebih faham tentang agama, kalian atau sahabat Nabi? Sedangkan mereka masih ada di tengah-tengah kalian. Pedangnya masih berlumuran dengan darah berjihad di jalan Allah Azza wa Jalla. Kemudian tiba-tiba kalian melakukan sesuatu yang tidak mereka lakukan. Mana yang lebih bagus? Mana yang lebih pintar?" Tidak ada di antara mereka yang berani menjawabnya. Kemudian setelah itulah keluar sebuah ungkapan yang diabadikan di dalam sejarah kaum Muslimin, "Kam muridin lil khairi lam yusibhu." "Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi mereka salah di dalam melakukannya." "Kam muridin lil khairi lam yusibhu." "Betapa banyak di antara kita yang menginginkan kebaikan tapi salah di dalam melakukannya."
Sehingga di dalam agama [Muzik] tidak dilihat apa tujuan orangnya. Kerana tujuan yang bisa melihat hanyalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Itu poin yang harus kita ketahui bersama. Masalah tujuan, kita tidak bisa menghukum seseorang kerana itu adalah perkara hati. Dan perkara hati hanya Allah yang tahu, sedangkan kita tidak tahu. Makanya kita tidak boleh menjadikan tujuan atau tidak boleh menjadikan perasaan standar sebagai agama dalam agama. Tidak. "Oh, saya melakukan ini kerana tujuannya baik." Itu bukan urusan kita, itu urusan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sedangkan urusan kita menjadikan barometernya adalah sunah Nabi yang jelas. Sedangkan masalah tujuan itu dikembalikan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita hanya bisa menghukum seseorang dari tampakan yang jelas. Jelas dia melakukan seperti ini. Kalau seandainya salah-salah, sedangkan tujuannya baik, itu diserahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka dari situlah banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi mereka salah di dalam melakukan kebaikan tersebut. Kerana orang yang paling tahu tentang kebaikan adalah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.
Maka dari situlah, Ikhwatul Islam, sunah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam harus kita perhatikan baik-baik. Kadang-kadang ada orang yang menginginkan untuk menerapkan sunah Nabi tapi dia salah di dalam melangkah. Dan sunah Nabi itu mencakup semuanya. Sunah Nabi mencakup dalam masalah kita berpakaian. Sunah Nabi mencakup kita bermuamalah. Sunah Nabi mencakup bagaimana kita beribadah. Semuanya adalah sunah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam yang tidak boleh kita pisahkan antara satu dengan yang lainnya. Tapi biasanya, Ikhwatul Islam, masalah amaliah, masalah amaliah di dalam sunah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, di situlah ya kaum Muslimin mereka salah di dalam masalah memahaminya. Bukan hanya kita kaum Muslimin biasa, bahkan ini juga terjadi di zaman sahabat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.
Kita contohkan misalnya, sahabat Muawiyah. Sahabat Muawiyah ini, Ikhwatul Islam, adalah salah seorang pemimpin kaum Muslimin, dan dia adalah orang yang menulis wahyu di zaman Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Namanya Muawiyah. Dan dia, apa hubungan Muawiyah dengan Nabi? Muawiyah apa hubungannya dengan Nabi? Ipar. Kerana saudaranya bernama Ummu Habibah adalah isteri Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Kita ulang lagi, Ikhwatul Islam, Muawiyah adalah iparnya Nabi, kerana saudaranya bernama Ummu Habibah atau yang kita kenal dengan Ramlah adalah salah seorang isteri Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Dekat hubungannya dengan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, dan bahkan dia dulu adalah orang yang menulis wahyu di zaman Nabi. Maka dipanggil dengan Katibul Wahyi, orang yang menulis wahyu di zaman Nabi.
Apa yang terjadi permasalahannya? Tipis. Ketika dia melaksanakan ibadah haji, maka dia tawaf di Ka'bah Al-Musyarrafah. Dikala beliau tawaf, biasanya kalau orang tawaf yang pertama kali dicari adalah Hajar Aswad. Kemudian yang kedua adalah Rukun Yamani. Itu biasanya yang dicari oleh kaum Muslimin. Muawiyah dikala beliau tawaf, maka yang beliau, Hajar Aswad, kemudian Rukun Iraqi, kemudian Rukun Syami, kemudian Rukun Yamani. Semua sisi yang ada di Ka'bah disentuhnya dan dipegangnya. Semuanya. Mulai dari Hajar Aswad, kemudian Rukun Iraqi. Rukun Iraqi disebut dengan Rukun Iraqi kerana mengarah kepada daerah Iraq. Kemudian Rukun Syami kerana mengarah kepada daerah Syam. Kemudian Rukun Yamani kerana mengarah kepada daerah Yaman. Maka disebut dengan rukun-rukun yang mengarah ke daerahnya: Rukun Syami, Rukun Iraqi, dan Rukun Yamani.
Kemudian dikala beliau tawaf, apa yang terjadi? Beliau memegang semuanya. Dikala beliau memegangnya, Ikhwatul Islam, adakah salah dikala kita tawaf memegang Ka'bah? Salah atau tidak? Kalau kita tawaf kemudian kita memegang Ka'bah, salah atau tidak? Salah atau tidak? Apa jawabannya? Apa jawabannya? Tidak tahu. Ah, itulah jawabannya, tidak tahu. Nah, ini hadiahnya, Pak. Masya-Allah, kan jujur kan lebih adil. Tidak tahu, ya, tidak tahu.
Tayib, memegang Ka'bah dikala kita tawaf ada dua keadaan. Ada orang memegang Ka'bah, Ikhwatul Islam, dikala beliau tawaf atau dikala tawaf kerana penasaran bagaimana sih bentuk Ka'bah? Penasaran bagaimana keadaan Ka'bah? Penasaran. Ada orang yang memegang Ka'bah dikala beliau tawaf atau dikala mereka tawaf kerana nanti ingin berdagang. Apa maksudnya berdagang? Mengambil keberkahan dari dindingnya. Ihram itu yang dibeli harganya 200,000. Ya, itu bisa jadi harganya nanti 200 juta. Kerana ihram ini adalah ihram yang sudah menempel di Ka'bah Al-Musyarrafah. Itu mahal, Ikhwatul Islam. Ada yang pernah beli? Jangankan ihram, air minum saja yang harganya 5,000 bisa jadi 5 juta. Kenapa demikian? Kenapa tawaf? Air yang dibawa tawaf. Harga air ini 5,000 tapi dibawa tawaf jadi 5 juta. Kenapa? Kerana air ini tawaf. Pernah kita mendengar air tawaf? Inilah itu dia jawabannya. Contoh dan banyak seperti itu, Ikhwatul Islam. Maka banyak kalau seandainya kita perhatikan orang melaksanakan ibadah haji, dititipkan baju, dititipkan peci, peci atau dititipkan barang-barang yang lain dengan permintaan, "Tolong bawa barang-barang ini tawaf di Ka'bah Al-Musyarrafah." Kalau demikian tujuannya, kerana sudah masuk waktunya kita azan dulu, ya. Nanti kita sambung. Barakallahu fikum wa jazakumullahu khairan. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kami sampaikan kepada jemaah, kita azan iqamat langsung solat. Dan kami minta kepada jemaah semua nanti kerana kita banyak, boleh diisi saf di antara tiang. Kajian disambung setelah solat, insya-Allah.
[Muzik]
Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Ashadu Alla ilaha illallah.
Ashadu Alla ilaha illallah.
[Muzik]
Ashadu anna Muhammadar Rasulullah.
[Muzik]
Ashadu anna Muhammadar Rasulullah.
[Muzik]
Hayya alas solah.
[Muzik]
Hayya alas solah.
[Muzik]
Hayya alal falah.
[Muzik]
Hayya alal falah.
Allahu Akbar, Allahu Akbar.
La ilaha illallah.
[Muzik]
Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Ashadu Alla ilaha illallah.
Ashadu anna Muhammadar Rasulullah.
Hayya alas solah.
Hayya alal falah.
Allahu Akbar, Allahu Akbar.
La ilaha illallah.
Allahu Akbar.
Alhamdulillahi Rabbil Alamin. Ar-Rahmanir-Rahim. Maliki Yaumiddin. Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in. Ihdinas siratal mustaqim. Siratal lazina an'amta 'alaihim ghairil maghdubi 'alaihim waladdallin. Amin.
Ya ayyuhan nabiyyu ittaqillaha wa la tuti'il kafirina wal munafiqin. Innallaha kana 'aliman hakima. Innallaha kana bima ta'maluna Khabira. Wa tawakkal 'alallah. Wa tawakkal 'alallahi wa kafa billahi wakila. Ma ja'alallahu lirajulim min qalbaini fi jaufih. Wa ma ja'ala azwajakumullati tuzahiruna minhunna ummahatikum. Wa ma ja'ala ad'iya'akum abna'akum. Zalikum qaulukum bi afwahikum. Wallahu yaqulul haqqa wa huwa yahdis sabil.
Ud'uhum li aba'ihim huwa aqsatu 'indallah. Fa in lam ta'lamu aba'ahum fa ikhwanukum fid dini wa mawaliykum. Wa laisa 'alaikum junahun fima akhta'tum bihi wa lakim ma ta'ammadat qulubukum. Wa kanallahu Ghafuran Rahima.
Allahu Akbar.
Samiallahu liman hamidah.
Allahu Akbar.
Allahu Akbar.
Allahu Akbar.
Allahu Akbar.
Alhamdulillahi Rabbil Alamin. Ar-Rahmanir-Rahim. Maliki Yaumiddin. Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in. Ihdinas siratal mustaqim. Siratal lazina an'amta 'alaihim ghairil maghdubi 'alaihim waladdallin. Amin.
An nabiyyu awla bil mu'minina min anfusihim wa azwajuhu ummahatuhum. Wa ulul arhami ba'duhum awla bi ba'din fi kitabillah minal mu'minina wal muhajirina illa an taf'alu ila awliya'ikum ma'rufa. Kana zalika fil kitabi mastura. Wa iz akhazna minan nabiyyina mitaqahum wa minka wa min Nuhin wa Ibrahima wa Musa wa 'Isa ibni Maryam. Wa akhazna minhum mitaqan ghaliza. Liyas'ala as-sadiqina 'an sidqihim wa a'adda lil kafirina 'azaban alima.
Allahu Akbar.
Samiallahu liman hamidah.
Allahu Akbar.
Allahu Akbar.
Allahu Akbar.
Allahu Akbar.
Allahu Akbar.
Samiallahu liman hamidah.
Allahu Akbar.
Allahu Akbar.
Allahu Akbar.
Allahu Akbar.
Assalamualaikum warahmatullah.
Assalamualaikum warahmatullah.
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi Rabbil Alamin. Ikhwatul Islam, saudara kaum Muslimin rahimakumullah. Kita akan membawakan beberapa hadis Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam sebelum kita menyambung pembahasan tentang Muawiyah Radhiyallahu Ta'ala Anhu, iaitu hadis yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari Jabir bin Abdillah. Orang sahabat yang mulia, dia juga memiliki periwayatan hadis yang sangat banyak dari Baginda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Padahal dia adalah seorang penduduk Madinah, artinya dia baru berjumpa dengan Nabi ketika Nabi datang ke Kota Madinah. Dan pertemuannya dengan Nabi tidak lebih daripada 10 tahun sahaja. Antara Makkah dengan Madinah dua daerah yang berbeza dan tidak sama. Tidak sama adat istiadatnya, tidak sama makanannya, tidak sama pekerjaannya. Berbeza antara Makkah dan Madinah. Begitu juga dengan Jabir bin Abdillah Radhiyallahu Ta'ala Anhu.
Hadis ini menyebutkan, Ikhwatul Islam, "Akaza Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam biyadi manzili." Suatu ketika Nabi menggenggam tanganku, memegang tangan Jabir. Dan itu adalah di antara bentuk kasih sayang Nabi kepada sahabatnya. Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam memegang tangan Jabir, kemudian membawa Jabir ke rumah beliau. "Fa akhraja ilaihi falaqan min khubuz." Kemudian dikala Jabir datang ke rumah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, tiba-tiba Nabi mengeluarkan makanan dari rumahnya, iaitu berupa roti. Makanan pokok atau makanan roti yang ada pada saat tersebut. "Faqala min udum," iaitu roti yang kasar. Kerana roti itu banyak macamnya, ada roti yang lembut, ada roti yang kasar. Sama juga dengan kita membeli donat, ada yang tergantung levelnya, ada yang keras, ada yang lembut dan yang semisalnya. Nah, roti yang Nabi tawarkan ini adalah roti yang agak sedikit kasarlah istilahnya.
Kemudian, "Faqalu la illa syai'un min khall." Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mengatakan, "Wahai Aisyah," kepada keluarganya, kebetulan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam berada di rumah ibunda Aisyah Radhiyallahu Ta'ala Anha. Kerana memang biasanya para sahabat datang ke rumah Nabi ketika Nabi berada di rumah Aisyah. Dan kita selalu menyebutkan, kan Nabi memiliki isteri lebih daripada satu orang. Yang meninggal Khadijah, Zainab binti Khuzaimah. Dua orang ini sudah meninggal. Yang masih hidup bersama Nabi: Saudah, Aisyah, Safiah, Hafsah, Maimunah, Juwairiah, Ummu Habibah yang bernama Hindun, kemudian Ummu Habibah bernama Ramlah, Ummu Salamah bernama Hindun, kemudian Zainab binti Jahsy, dan yang terakhir adalah Maria Al-Qibtiyah. Itu semua adalah isteri-isteri Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Dan yang paling dicintai oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam adalah semuanya. Iya kan? Semuanya dicintai oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Tapi kalau boleh memilih, kerana hati itu bukan pilihan, tapi mencintai dengan perbuatan itu pilihan, sedangkan hati itu bukan pilihan.
Nah, kalau seandainya yang ditanya mana yang paling dicintai oleh Nabi, kalau secara perbuatan semuanya sama. Nabi memperlakukan mereka dengan sama dan Nabi adalah orang yang paling adil. Namun kalau ditanya masalah hati, hati Nabi sangat condong kepada ibunda Aisyah Radhiyallahu Ta'ala Anha. Dan para sahabat tahu yang demikian sehingga mereka tidak mahu datang ke rumah Nabi kecuali ketika Nabi berada di rumah Aisyah. Bisa dipahami? Bahkan mereka tidak mahu memberikan hadiah kepada Nabi kecuali ketika Nabi berada di rumah Aisyah. Sehingga sebahagian isteri yang lain mereka protes, "Ya Rasulullah, bilang kepada sahabat-sahabatmu kalau mahu kasih hadiah jangan pilah-pilih sebagaimana kasih hadiah di rumah Aisyah, kasih hadiah juga di rumah kami." Tapi tidak mungkin Rasul mengatakan yang demikian kepada sahabatnya. Itu urusan sahabat, mahu beri hadiah, mahu tidak beri hadiah, itu urusan, urusan mereka. Di mana Rasul diberikan hadiah, ke mana Nabi diberikan hadiah, itu urusan sahabat Nabi. Artinya mereka tahu bagaimana Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam sangat sayang kepada ibunda Aisyah Radhiyallahu Ta'ala Anha. Dan sahabat tahu bagaimana Nabi sayang kepada ibunda Aisyah Radhiyallahu Ta'ala Anha. Nah, biasanya kalau Nabi bertamu itu biasanya rumah Aisyah. Baik itu sahabat yang datang, kerana mereka tahu datang ke rumah Aisyah, bertamu ke rumah Aisyah, maka tentu itu membuat Nabi bahagia. Kerana memang Nabi secara hati, ya, bukan secara perbuatan. Secara perbuatan semuanya sama, tapi secara hati, hati Nabi condong kepada ibunda kita Aisyah Radhiyallahu Ta'ala Anha.
Kemudian dikala Jabir berada di rumah Aisyah, ditawarkan roti. Roti kalau dimakan, Ikhwatul Islam, roti tawar tentu rasanya tidak enak. Maka Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bertanya, "Khall? Adakah makanan untuk memakan roti ini wahai Aisyah?" Artinya makan roti tanpa ada temannya. Garam paling tidak, garamlah supaya nanti rasanya tidak tawar. Maka Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dikatakan kepadanya, "Ada khall." Khall itu ibarat cuka. Seperti cuka. Kita tahu cuka? Cuka itu cairan atau butiran? Ada yang butiran? Cuka. Cuka itu terbuat dari apa? Dari buah-buahan. Buah-buahan apa? Ee, apa artinya? Buah-buahan yang kemudian didiamkan beberapa waktu kemudian menjadi cuka. Rasanya enak atau hambar atau bagaimana? Asam. Biasanya asam itu adalah kesukaan penduduk Madinah atau penduduk Makkah? Biasanya asam itu adalah makanan penduduk Makkah. Asam itu, Ikhwatul Islam. Makanya kalau ada di antara kita yang diberikan rezeki datang ke Makkah, ke Madinah, dan semoga Allah berikan rezeki tersebut kepada kita bersama, maka kami sarankan jangan selalu makan di hotel. Datang dari Indonesia ke Makkah, makan makanan orang Makkah. Jangan makan makanan orang Indo. Tapi itulah faktanya, kita tidak mahu merasakan makanan orang lain. Nah, nanti kita akan menemukan salah satu bumbu namanya syattah. Orang yang ada di Madinah atau orang yang pernah melaksanakan ibadah umrah, ada bumbu namanya syattah. Dan biasanya bumbu ini tidak pernah disentuh oleh orang-orang Asia kerana rasanya lain, ya, mirip-mirip cuka tadi, mirip-mirip cuka.
Kemudian, Ikhwatul Islam, orang Madinah itu bukan makanannya khall, cuka. Bukan makanan penduduk Madinah. Kemudian Nabi yang berasal dari Makkah, maka tadi kita menyebutkan Nabi dari Makkah, Jabir dari Madinah. Ada tujuan dan ada alasannya. Kemudian disebutkan apa kata Nabi? "Nikmal udum." "Cuka adalah yang terbaik," kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Kerana Nabi adalah orang yang paling sayang kepada keluarganya. Dan di antara bentuk kasih sayang Nabi, Nabi tidak pernah mencela makanan yang dibuat oleh keluarganya, bagaimanapun bentuknya. Kalau Nabi suka, Nabi makan. Kalau tidak suka, makan di luar. Selesai. Selesai atau tidak? Tidak selesai, Ustaz. Bahaya tidak masak 2 hari. Tapi begitulah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Kalau Nabi suka dimakan, kalau tidak suka, "tarokaha." Nabi tinggalkan tanpa mencela. Mana yang lebih berbahaya, dicela atau ditinggalkan? Dua-duanya bahaya, sama-sama mudarat. Tapi mana yang lebih banyak mudaratnya? Yang dicela. Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam memilih yang sedikit mudaratnya. Dan ini tidak diketahui orang yang masih jomblo. Yang jomblo tidak tahu. Ini khusus bagi yang sudah punya keluarga. Dicela bahaya, tidak dimakan juga bahaya. Sama-sama bahaya. Tapi, tapi mana yang sedikit bahayanya? Iaitu dikala tidak dimakan dengan alasan sudah kenyang, makan sama kawan tadi, mampir di warung. Banyak alasan yang lain, ya. Kita laki-laki paling banyak alasan. Tayib, ini ibu-ibu mohon maaf, ya. Agar kita tahu bagaimana sifat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.
Kemudian, Ikhwatul Islam, apa kata Nabi? Nabi ketika mendengarkan tidak ada kawan makanan kecuali khall, cuka. Apa kata Nabi? "Nikmal udum." "Cuka adalah yang terbaik." Nabi puji makanan tersebut. Kemudian khall ini dicampurkan dengan roti. Maka ada rasanya. Roti bercampur khall, agak sedikit asam, asin, tercampur semuanya di dalam. Kemudian apa kata Jabir? Kita kembalikan kepada Jabir. Jabir yang tadi diajak oleh Nabi Radhiyallahu Ta'ala Anhu. "Semenjak Nabi mengatakan bahawa cuka adalah makanan yang terbaik, maka semenjak itu pulalah aku mencintai makanan yang dicintai oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam." Tidak sampai di situ. Yang meriwayatkan hadis ini adalah Talhah. "Wa qala Jabir Radhiyallahu Ta'ala Anhu." Talhah yang meriwayatkan hadis ini dari Jabir. Jabir meriwayatkan dari Nabi. Talhah meriwayatkan dari Jabir. Jabir mengatakan atau Talhah mengatakan, "Semenjak aku meriwayatkan hadis ini, maka semenjak itu pula aku mencintai cuka." Dan sesiapa pun yang mendengarkan hadis ini wajib mencintai. Nanti hati-hati nanti, ya. Amanah sudah disampaikan. Ini serius.
Kita ingin menyampaikan apa, Ikhwatul Islam? Agar kita tahu bagaimana kecintaan sahabat kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Jangankan masalah agama, masalah makanan, mereka akan memaksa dirinya mencintai apa yang dicintai oleh Nabi. Padahal Jabir tidak suka, kita juga tidak suka. Dan kalau kita tidak suka makanan yang tidak, yang disukai oleh Nabi, berdosa atau tidak? Berdosa atau tidak? Tidak. Makanan selera antara satu daerah dengan daerah yang lain berbeza. Tidak menjadi masalah. Antara Kampar saja dengan Air Tiris, dengan Mengkinang, banyak perbezaan makanannya. Apalagi antara kita dengan orang-orang yang ada di sana, sangat jauh berbeza. Tapi kalau ada di antara kita yang menyukainya kerana kesukaan Baginda Nabi yang mulia, maka kita akan mendapatkan pahala dengannya. Ini masalah makanan, bukan masalah agama. Tapi kita berusaha untuk mencintai apapun yang dicintai oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.
Hadis yang kedua, hadis ini hadis yang juga diriwayatkan oleh salah seorang sahabat yang bernama Anas bin Malik. Dan hadis ini dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. "Inna khayyatan da'a Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam li ta'amin sanahu." Ada salah seorang yang ahli menjahit mengundang Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam untuk makan di rumahnya atau makanan yang dia buat. Anas mengatakan, "Fata'abna Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam." Kemudian aku pergi bersama Nabi mendekati makanan yang tadi dibuat untuk kami. Kemudian makanan ini didekatkan kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Makanannya tidak banyak, makanannya sedikit. Dan memang itu merupakan di antara kewajiban seorang Muslim dengan Muslim yang lainnya saling memberikan hadiah makanan atau saling menawarkan hadiah makanan. Itu merupakan di antara tradisi baik itu banyak ataupun sedikit. Nah, makanan ini tidak banyak dan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam tetap menghadirinya. Diberikan kepada Nabi roti yang terbuat dari syair. Syair ini adalah macam gandum atau bahagian daripada gandum yang lebih bagus dari yang lainnya atau yang agak sedikit bagus. "Wa marqin." Dan kuah. Di dalam kuah ini ada dubba. Dubba itu labu. Kalau bahasa kitanya gulai kari. Biasanya kalau labu kita buat apa di sini? Buat apa? Buat kolak, ya? Setelah mendengarkan hadis ini, buat gulai bisa atau tidak? Tanggung jawab nanti di akhirat. Kemudian dan sudah jelas, ya. Nanti cuba bikin gulai, ya. Kalau kita bikin gulai kerana ingin mencontoh Nabi, ingat pahala yang ada di sana walaupun masalah makanan, Ikhwatul Islam.
Kemudian ketika ditawarkan kepada Nabi roti, gulai yang ada di dalamnya labu, apa yang terjadi? "Fara'aitun Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam yata'abba'u minad dubba." Kemudian aku melihat Nabi dikala diberikan kepadanya gulai yang ada labu dengan roti, maka Nabi betul-betul mencari labu tersebut. Betul-betul dimakan. Kemudian apa? "Falam azal uhibbud dubba." Kerana suka, berarti Nabi suka. "Semenjak itu maka aku pun menyukai dubba, menyukai labu yang ada di dalam gulai." Maka sukailah dubba, labu yang digulai, bukan dikolak. Ini kolak tidak masalah, Ikhwatul Islam, tidak menjadi masalah. Tapi kita ingin melihat bagaimana kecintaan kita kepada Nabi. Apa kata Anas? Berarti Anas sebelumnya juga tidak suka. Namun dikala melihat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam suka, "falam azal." Apa arti "falam azal"? "Semenjak itu," kata Anas, "uhhibbud dubba." "Aku sangat mencintai labu ba'da yauma'izin." "Setelah aku melihat Nabi menyukainya, maka aku ingin menyukai apapun yang disukai oleh Baginda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam."
Jangan salahkan orang yang menyukai pakaian Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Jangan salahkan orang menyukai pakaian yang disukai, warna pakaian yang disukai oleh Nabi. Jangan salahkan orang yang mencontoh bagaimana bentuk tubuh Nabi Alaihi Wasallam. Jangan salahkan orang yang menyukai penampilan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Kerana itu adalah arti pelajaran dari mereka yang ingin mencintai Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Semestinya kita harus belajar dari mereka, Ikhwatul Islam. Makanya masalah sunah Nabi, kalau kita belum sanggup melakukannya, jangan dianggap remeh. Apalagi jangan dihinakan orang yang melakukannya. Kalau belum sanggup, berdoa kepada Allah, "Ya Allah, jangan wafatkan aku kecuali aku ingin mencontoh sunah Nabi walau satu kali." Dan itu yang diterapkan oleh sahabat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam Radhiyallahu Ta'ala Anhum.
Kita lihat para sahabat Nabi, Ikhwatul Islam, mereka berpacu, berlomba menerapkan sunah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Seperti misalnya makan dengan tangan kanan, makan dengan menggunakan tangan, menjilat jari sebelum selesai makan. Itu semua sunah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Jangan pernah kita menganggap remeh, "Dasar jijik orang kampung." Ingat, Ikhwatul Islam, Nabi, Nabi kita, Nabi anda, Nabi kita semua memerintahkan kita melakukan yang demikian. Kalau belum sanggup, berdoa, jangan hina. Kalau kita tidak sanggup, jangan dihinakan. Ada orang yang menerapkan sunah Nabi, berusaha menerapkan apa yang diperintahkan oleh Nabi, itu yang terbaik. Kalau kita ingin atau kita belum sanggup melakukannya, maka berdoa kepada Allah, "Ya Allah, mudah-mudahan suatu saat nanti Engkau berikan kekuatan kepadaku untuk bisa melakukannya." Apapun itu, itu Ikhwatul Islam.
Makanya kita kembalikan kepada sahabat Muawiyah. Ini adalah bentuk bagaimana cinta Nabi, mereka menerapkan dan mencontohkan kepada kita bagaimana cinta Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Maka kita kembalikan kepada Muawiyah dan sahabat Abbas, Abdullah bin Abbas. Dua sahabat yang satu level. Hanya saja Abdullah bin Abbas berkecimpung dalam dunia agama, sedangkan Muawiyah berkecimpung dalam kepemimpinan. Dan beliau termasuk orang yang paling lama memimpin 40 tahun lamanya memimpin Syam. 20 tahun menjadi amir, menjadi gabenor. 20 tahun menjadi raja kaum Muslimin. Dan beliau adalah raja pertama kaum Muslimin, Muawiyah bin Abi Sufyan. Dan beliau adalah sahabat yang paling mulia, ipar.
Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, sekaligus orang yang dimuliakan tangannya oleh Allah dengan menulis Wahyu yang ada di zaman Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, maka diberi gelaran Katibul Wahyi Muawiyah Radhiallahu Taala Anhu.
Mengapa kita mengatakan demikian? Kerana banyak orang yang melecehkan Muawiyah Radhiallahu Taala Anhu. Mereka tidak tahu siapa Muawiyah. Muawiyah itu adalah anak kepada Abu Sufyan. Dia adalah ipar Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Ertinya, kalau kita melecehkan dirinya, bererti kita melecehkan ipar Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Kalau ipar sahaja kita jaga, apalagi ipar Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.
Kemudian, Ikhwatul Islam, ketika Muawiyah ini tawaf, boleh jadi kerana ketidaktahuannya. Kerana sebagaimana tadi yang telah saya sebutkan, tidak semua para sahabat itu adalah ulama. Tetapi mereka mulia semuanya, baik yang kalangan ulamanya atau yang bukan ulamanya. Semua mereka mulia tanpa terkecuali, dan semua mereka mulia. Ada sahabat yang mulia kerana ulamanya, ada sahabat yang mulia kerana jihadnya, ada sahabat yang mulia kerana kedekatannya dengan Baginda. Tetapi semua mereka memiliki kemuliaan yang berlebih antara satu dengan yang lainnya, yang semuanya menyebabkan mereka menjadi mulia. Dan cukup kemuliaan yang Allah berikan kepada mereka semua ketika kedua matanya dapat memandang manusia yang paling mulia dan paling dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Itulah kelebihan sahabat Nabi, iaitu mereka yang dapat memandang, bertemu, bersua, berjumpa dengan orang yang paling mulia. Makanya, Ikhwatul Islam, kemuliaan tersebut khusus untuk para sahabat Nabi, tidak terdapat pada orang lain.
Kemudian, kita kembalikan kepada Muawiyah. Ketika dia tawaf, maka dia memegang semuanya; satu rukun, dua rukun, tiga rukun, empat rukun, memegang Kaabah. Tiada salahnya, terutamanya ketika kita tawaf. Kerana biasanya orang yang memegang Kaabah itu kerana landasan penasaran sahaja. Bagaimana bentuknya? Bagaimana bentuk batunya? Itu sahaja. Kecuali kalau seandainya ada tujuan lain seperti tadi yang kita sebutkan, untuk dijadikan sebagai jimat.
Bahkan, tiba-tiba, Ikhwatul Islam, ada orang pulang haji, maka selepasnya mereka menjadi pedagang. Yang mereka jual adalah kiswah Kaabah. Tahu kiswah Kaabah? Penutup Kaabah. Dan kita tidak tahu yang mereka ambil itu kiswah Kaabah di Mekah atau kiswah Kaabah di Iran. Kita tidak tahu, boleh difahami? Namun, bagaimanapun, kiswah Kaabah itu laris, Ikhwatul Islam, mahal. Ada yang punya kiswah Kaabah di sini? Makanya, cari beli agar kita tahu berapa harganya. Kenapa, Ikhwatul Islam? Kerana itu lain dari yang lain. Kalau itu tujuannya, maka baru salah.
Ada lagi yang tujuannya sengaja membawa pecinya, diambil pecinya ketika dia tawaf, diusap-usap kepada dinding Kaabah. Pulang, ini peci yang berkat bersentuhan dengan dinding Kaabah. Betul atau tidak? Betul atau tidak? Perkataannya betul, perbuatannya salah. Perkataannya betul, perbuatannya salah.
Banyak macam-macam, Ikhwatul Islam, terlalu banyak yang dilakukan oleh kaum Muslimin. Makanya, kalau hanya sekadar menyentuh kerana penasaran, tidak menjadi masalah. Dan semua kita pasti penasaran, pasti semua kita ketika tawaf ingin mencari bagaimana bentuk Kaabah Musyarrafah, bagaimana dindingnya, bagaimana kiswah Kaabahnya. Hanya sekadar bertanya bagaimana bentuknya. Dan alhamdulillah, kalau orang-orang kita, ya alhamdulillah, tidak ada di antara kita yang sampai ke tingkat apa namanya yang seperti tadi kita contohkan, bawa air tawaf kemudian pulang, 'Ini air sudah tawaf tujuh keliling di Kaabah Al-Musyarrafah, maka dia boleh menjadi ubat, boleh menjadi ini, boleh menjadi itu.' Itu semuanya adalah perkara-perkara yang tidak diajarkan di dalam agama, tetapi itu banyak sekali dilakukan oleh kaum Muslimin.
Kemudian, Ikhwatul Islam, Muawiyah, dia memegang Kaabah ini. Ketika dia memegang, dia tidak memegang dinding Kaabah, tetapi beliau memegang sisi Kaabah. Nah, ketika kita lihat ketika Muawiyah memegang sisi Kaabah, Muawiyah ini memegang sisi Kaabah kerana penasaran atau kerana menganggap itu hukum semuanya sama? Yang mana? Yang pertama atau yang kedua? Yang pertama atau yang kedua? Yang pertama atau yang kedua? Untung tidak ada yang mengatakan 'Allahu A'lam', ya, saya tidak dengar. Kalau yang pertama, Ikhwatul Islam, kerana penasaran? Muawiyah dia lahir di mana? Di Mekah. Dia tidak mungkin penasaran. Dia tinggal di sana. Kaabah itu berada di dekat rumahnya. Mungkin dia penasaran? Jawabannya yang kedua, kerana dia menganggap hukumnya memegang Hajar Aswad sama dengan memegang Iraqi, Syami, dan Rukun Yamani.
Maka di saat itulah, apa kata Abdullah bin Abbas? 'Wahai Muawiyah, kenapa engkau memegang semua sisi Kaabah?' Apa jawapan Muawiyah? Kira-kira sama dengan jawapan kita bersama. 'Memang ada yang salah? Di mana salahnya? Apakah ada bangunan Kaabah yang boleh ditinggalkan oleh kaum Muslimin?' Jawabannya bagus sekali, Ikhwatul Islam. 'Apakah ada bangunan Kaabah yang harus ditinggalkan oleh Muslimin?'
Maka di saat itulah Abdullah bin Abbas mengatakan, 'Laqad kana lakum fi Rasulillahi Uswatun Hasanah.' Nabi adalah contoh bagi kita bersama. Kalau Nabi mencontohkan hanya dua, kenapa empat? Kalau Nabi mencontohkan tiga, kenapa sepuluh? Kalau Nabi mencontohkan satu, kenapa harus seribu? Boleh difahami, Ikhwatul Islam? Nabi mencontohkan dua, bukan empat.
Apa jawapan Muawiyah? Orang yang betul-betul cinta kepada Nabinya menurunkan egonya. Kalau diperturutkan egonya, Ikhwatul Islam, Muawiyah seorang pemimpin, mudah bagi dia mengatakan, 'Penjarakan Abdullah bin Abbas kerana dia memberikan fatwa yang salah kepada diriku. Dari mana tidak boleh menyentuh Kaabah? Berdosa? Dari mana hukumnya? Penjarakan dia!' Selesai, kerana dia punya kuasa. Tetapi mereka lebih mendahulukan kecintaan kepada Baginda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.
Kadang kita ditegur, Ikhwatul Islam, tetapi di situlah kita harus menundukkan hawa nafsu, menerima agama. Kerana kita tidak akan sempurna iman kita kepada Allah dan kecintaan kita kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam kecuali hawa nafsu kita berada di bawah. Kalau hawa nafsu sudah berada di atas, maka di saat itulah kita akan selalu mengatakan, 'Di mana salahnya?' Dan kalau sudah keluar 'di mana salahnya', Ikhwatul Islam, maka terlalu sulit bagi kita untuk menerima, menerapkan sunah-sunah Baginda Rasulullah Sallallahu Alaiham. Dan semoga Allah mudahkan bagi kita bersama untuk mencintai Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, dan agar kita semuanya juga dicintai oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, dan dimudahkan bagi kita untuk menerapkan apa pun yang disukai oleh Baginda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.
Ikhwatul Islam, saudara kaum Muslimin, kaum Muslimat, ikhwani akhwati rahimani warahimakumullah. Sampai di sini pembahasan yang dapat kami jelaskan. Yang benar dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, yang salah dari kami peribadi, kerana kurangnya ilmu kami, kerana kebodohan, kerana kejahilan, kerana ketidaktahuan kami, mohon dimaafkan kalau ada kesalahan. Sekarang, mungkin ada satu atau dua pertanyaan, kami persilakan. Jazakumullahu Khair. Ada yang bertanya, silakan.
Adakah mencintai Habaib yang ada di daerah kita adalah sebahagian daripada kita mencintai zuriat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam? Apa jawapannya? Dengarkan baik-baik, jangan salah melangkah, bahaya! Perhatikan kaedahnya: Sesiapa pun yang mengatakan dirinya adalah keturunan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, maka tugas kita adalah percaya. Selesai. Sesiapa pun yang mengatakan dirinya adalah keluarga Nabi, keturunan Nabi, maka tugas kita hanyalah percaya. Selesai, habis. Kita tidak pernah dituntut untuk mencari-cari. Mengapa demikian? Cuba kalau kita dicari, 'Kamu betul anak ayahmu?' Apa bagaimana tanggapan kita? Ada orang yang bertanya, 'Betul kamu anak ayahmu?' Apa yang kita lakukan kepada orang yang bertanya ini? Kalau marah masih lumayan. Kalau saya, saya cari batu, itu istilahnya. Kenapa harus meragukan sesuatu yang jelas? Makanya, sesiapa pun yang mengatakan, 'Saya keturunan Nabi,' selesai, percaya, aman. Adakah kita rugi dengannya? Rugi atau tidak? Tiada ruginya.
Tetapi yang kedua, urusan mereka dengan Nabi. Adakah mereka betul keturunan Nabi atau bukan keturunan Nabi, itu urusan mereka. Kalau seandainya mereka betul, alhamdulillah, selesai. Bererti kita sebagai kaum Muslimin sudah mencintai keluarga Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Tetapi kalau mereka berdusta, itu urusan mereka dengan Nabi juga di akhirat sana. Dan Nabi mengatakan, 'Sesiapa pun yang berdusta atas namaku, maka dia sudah ada jatah di dalam api neraka.' 'Saya keturunan Nabi,' namun dia tidak keturunan Nabi, bererti sama sahaja dia meletakkan kerusi di dalam api neraka. Apa urusan kita? Makanya, di antara salah satu kewajiban yang harus kita lakukan, adab yang paling mulia, hadis 'Min Husni Islamil Mar' (di antara indahnya keislaman seorang hamba) adalah meninggalkan perkara-perkara yang dia tidak ada urusan dengannya. Urusan Habib, dia keturunan Nabi atau bukan keturunan Nabi, urusan kita atau bukan? Urusan kita adalah mempercayai mereka yang mengatakan dirinya adalah keturunan. Selesai. Dia urus cucu Nabi, keturunan Nabi, keluarga Nabi, dia betul atau dia salah, itu bukan urusan kita. Tidak usah kita mengoreksi. Kenapa demikian, Ikhwatul Islam? Dengarkan baik-baik, yang mahu pulang, tunggu dulu.
Di dalam sebuah kitab ini, mungkin sebahagian kita pernah mendengarkannya. Di dalam kitab yang judulnya 'At-Tawwabin', dikarang oleh Imam Ibnu Qudamah, judulnya adalah 'At-Tawwabin', dikarang oleh Imam Al-Qudamah, tentang orang-orang yang bertaubat. Di antara salah satu kisah yang paling indah, ada salah satu keluarga, suaminya keluarga Nabi, isterinya juga keluarga Nabi. Hanya sahaja, keluarga Nabi di zaman dahulu kala mereka menyembunyikan identitinya. Kenapa demikian? Kerana menjadi keluarga Nabi itu berat sekali, Ikhwatul Islam. Jangankan jadi keluarga Nabi, jadi keluarga ustaz sahaja tidak ringan. Susah. Kita melakukan salah, kalau bersalah bukan kita sahaja yang diomeli, ayah kita juga kena, 'Dasar anak ustaz!' Itu baru anak ustaz, apalagi anak Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Boleh difahami? Ada anak pondok yang sama-sama cabut, sama-sama merokok. Yang satunya anak ustaz, yang satunya anak petani atau anak pegawai. Mana yang akan dimarahi? Anak ustaz. Apa alasannya? Alasannya apa? Adalah ayahnya. Tidak ada salahnya, ayahnya kena. Cuba bayangkan kalau ada keluarga Nabi yang melakukan kesalahan, siapa yang kena? Nabi. Tidakkah mereka Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam? Adakah Nabi hanya dijual untuk dunia? Tidakkah mereka sopan dan beradab kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, tidak kira siapa pun dia? Faham sampai di situ? Jadi, orang-orang terdahulu tiada yang mengatakan, 'Saya keluarga Nabi.' Kalau boleh, mereka sembunyikan identitinya. Kenapa demikian? Berat pertanggungjawabannya. Sulit. Mereka melakukan... manusia wajib melakukan salah. Kalau tidak bersalah, bukan manusia namanya. Ertinya, tidak ada manusia yang suci dari dosa dan salah, sesiapa pun dia. Begitu juga keluarga Nabi, mereka bersalah atau tidak? Cuba, ketika mereka bersalah, mereka akan menjadikan patokan, 'Keluarga Nabi sahaja melakukan seperti ini, masa kita? Kamu keluarga siapa?' Kan ujung-ujungnya seperti itu, Ikhwatul Islam. Dan pada akhirnya, banyaklah kesalahan yang akan dilegalkan. Makanya, orang terdahulu, kalau mereka keluarga Nabi, dalam satu sisi adalah kemuliaan, dalam sisi yang lain itu adalah tanggungjawab. Makanya mereka berusaha untuk menyembunyikan identiti keluarga ini, keluarga Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.
Suaminya Syarif, isterinya Syarifah, kerana gelaran mereka dulu adalah Syarif dan Syarifah. Kemudian, tiba-tiba, qadarullah, meninggal suaminya. Yang tertinggal, yang tersisa adalah isteri dan anak-anaknya. Seorang isteri yang biasanya diberikan belanja oleh suaminya, yang bertanggungjawab terhadap diri dan anak-anaknya adalah suaminya. Sekarang suaminya sudah dipanggil oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan itu bukan perkara yang ringan bagi dirinya. Ingin meminta, dia adalah keluarga Nabi, dia malu. Keluarga Nabi itu adalah orang yang selalu menjaga Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, bukan menjual Nabi, tetapi mereka menjaga Nabi. Bahkan mereka rela mengorbankan dirinya demi Nabi, bukan mengorbankan Nabi demi dirinya. Bagaimana keadaannya? Apa yang harus dia lakukan? Pada akhirnya, dia terpaksa meninggalkan kampung halamannya. Malu kalau minta tolong, dia malu, dia keluarga Nabi. Pada akhirnya dia keluar meninggalkan kampung halamannya. Nah, pergi ke kampung halaman yang lain, kita tahu dia tidak mungkin dikenal oleh kampung halaman tersebut kerana qadarullah di zaman itu belum ada TikTok, jadi tidak ada yang terkenal, ya, tidak ada TikToknya atau media sosialnya. Kemudian, ketika dia pergi, kerana meminta tolong kepada orang yang kita kenal, lebih kita segan daripada kita minta tolong kepada orang yang kita tidak kenal. Kadang, misalnya, minta tolong kepada tetangga, kadang kita malu. Tetapi minta tolong kepada orang yang kita tidak kenal, ya biasalah istilahnya, kerana kita juga tidak kenal.
Kemudian, isteri dan anak-anaknya pergi ke kampung halaman yang lainnya. Kerana mereka malu kalau minta tolong kepada orang kampungnya. Mereka malu, mereka keluarga Nabi. Kemudian mereka keluar. Ketika keluar, Ikhwatul Islam, maka dia pun minta tolong. Dilihatnya masjid, kemudian dilihatnya ada salah seorang mungkin yang dituakan atau yang dilebihkan, yang diustazkan ataupun yang semisalnya. Setelah bubar, maka dia datang kepada orang ini, 'Wahai Fulan, aku minta tolong kepadamu. Suamiku sudah meninggal. Aku memiliki tanggungjawab anak beberapa orang, dan aku adalah keluarga Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.' Tujuan dia mengatakan, 'Aku adalah keluarga Nabi,' supaya nanti mudah dia mendapatkan pertolongan. Tetapi orang ini mungkin salah ucap atau salah kalimat, dia menyebutkan, 'Apa buktinya kamu keluarga Nabi?' Wanita ini boleh membuktikan atau tidak? Tidak. Sulit, kerana dulu mungkin tidak sama dengan zaman sekarang, Ikhwatul Islam. Kemudian dia pun keluar mencari pertolongan yang lain. Biasanya orang yang betul-betul sulit, maka mereka akan minta tolong kepada sesiapa pun.
Pada akhirnya dia melihat ada orang yang kaya. Kebetulan orang kaya ini bukan beragama Islam, beragama Majusi. Kerana dia sudah kelaparan, tidak ada yang menolongnya, dia malu, dia mengorbankan dirinya untuk menjaga nama datuknya, Muhammad bin Abdillah Sallallahu Alaiham. Kemudian dia minta tolong. Orang ini bermurah hati, ditolongnya. 'Silakan kamu masuk. Aku berikan kepadamu pakaian, aku berikan kepadamu makanan. Bahkan aku sediakan untukmu tempat tinggal. Tinggallah kamu di sini sesuai dengan kemampuanmu. Berapa waktu pun kamu ingin tinggal, tinggallah di sini.' Padahal dia orang beragama Majusi.
Kemudian, Ikhwatul Islam, pada malam harinya, maka kedua orang ini sama-sama bermimpi terjadi hari kiamat. Yang pertama bermimpi terjadi hari kiamat. Ketika terjadi hari kiamat, siapa yang kita cari? Atau ketika kita dikumpulkan di padang mahsyar, siapa yang kita cari? Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam untuk mendapatkan syafaatnya. Kerana memang Nabi menjanjikan, 'Aku akan berikan syafaatku kepada semua umatku tanpa terkecuali, selama mereka wafat dalam keadaan beriman.'
Kemudian, Ikhwatul Islam, semuanya mengatakan, 'Ya Rasulullah, aku umatmu! Ya Rasulullah, aku umatmu!' Orang tadi yang pertama, dia juga datang kepada Nabi, 'Ya Rasulullah, aku juga umatmu!' Nabi memandangnya dan bertanya kepadanya, 'Apa buktinya kamu umatku? Apa buktinya kamu umatku?' Sama dengan perkataan dia kepada cucu Nabi tadi, 'Apa buktinya kamu cucu Nabi?' Ketika dia bertemu dengan Nabi, Nabi pun bertanya, 'Apa buktinya kamu adalah umatku?' Bagaimana cara dia membuktikan? Boleh dibuktikan? Tidak boleh. Dia pun terbangun. Ketika dia terbangun, dia tahu di mana letak kesalahannya. Maka dia langsung mencari, dicari, dicari, dicari, maka ditemukanlah cucu Nabi ini atau keluarga Nabi ini di rumah seorang Majusi. Dia pun mengatakan, 'Maukah kamu berikan kepadaku wanita dan anak-anaknya tersebut? Aku yang akan bertanggungjawab.' Orang Majusi ini tidak mahu. 'Aku tidak mahu.' Maka orang ini kembali menawarkan, 'Aku berikan kepadamu seribu Dinar.' Berapa seribu Dinar? Satu Dinar dua juta. Kalau seribu Dinar, sedikit atau banyak? Banyak sekali, Ikhwatul Islam. Orang Majusi ini kembali mengatakan, 'Aku tidak mahu.' Ternyata dia juga bermimpi, dan tidaklah dia bangun kecuali dia sudah mengucapkan kalimat, 'Asyhadu Alla ilaha illallah wa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.'
Dikhawatirkan nanti kalau ada orang yang mengatakan, 'Aku cucu Nabi,' kemudian kita tidak mempercayainya, kita ditanya oleh Nabi, 'Kenapa kamu tidak percaya kepada cucuku?' Apa jawapan kita? Apa jawapannya? Kita tidak ada jawapan. Makanya, Ikhwatul Islam, lakukan apa yang semestinya kita lakukan. Kita harus adil. Sesiapa pun yang mengatakan, 'Aku cucu Nabi,' tinggal percaya. Urusan dia jujur atau tidak jujur, itu urusan dia dengan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, bukan urusan kita. Faham atau tidak? Itu masalah percaya, sedangkan masalah dakwah, sedangkan masalah keyakinan, itu lain cerita. Kerana banyak juga orang mengatakan cucu Nabi, mereka Syiah. Ya atau tidak? Harus kita percaya kepada orang Syiah? Mereka juga cucu Nabi. Hukum asal dia cucu Nabi, kita poinnya poin percaya, sedangkan mengikuti lain cerita. Faham ya? Jelas pertanyaannya, Pak? Ya, baik. Barakallahu fikum. Cukup satu sahaja ya? Ada lagi yang lain? Barakallahu fikum, Ikhwatul Islam. Semoga pembahasan kita ini memberikan manfaat kepada kita bersama. Jazakumullahu Khairan. Dan kita tutup dengan doa kafaratul majlis: Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaika. Wa shallallahu ala habidina Muhammadin. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.