Transcription
Wujudi bidikril idas hayatu binuri huda jamalul wujudi bidikril ilah watasul hayatu biduri huda watabu nafsulahuatan. Mari kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan rahmat berkah-Nya sehingga pada hari ini kita dapat berkumpul dalam rangka kajian bulan Ramadan pimpinan cabang Muhammadiyah Gising, dengan keadaan sehat walafiat. Tak lupa selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Ya ayyuhalladzina amanu kutibaikumusam kama kutiba alalladzina min qablikum la'allakum tattaquun.
[Musik]
Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah, nahmaduhu waastainuhu wasastagfiruh wa naudzu billahi min syururi anfusina wamin sayiati a'malina. May yahdihillahu fala mudillalah wam yudlil fala hadiyaalah.
[Musik]
Ashadu alla ilahaillallah illa i wa asadu anna muhammadan abduhu wa rasulullah. Allahumma sholli wasallim ala nabina Muhammad ibni Abdillah waa alihi waman tabiahum ila yaumilqiamah. Qallahu taala fi kitabihilim.
[Musik]
Auzubillahiminasyaitanirrajim. Umma lil bilufil munkar ya amanu. Rasulullah alaihi wasallam.
[Musik]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Nabi Karim. Mudah-mudahan amal ibadah kita, mulai dari awal hingga hari ini di dalam bulan Ramadan, akan menjadikan kita sebagai orang-orang yang bertakwa, sebagaimana yang diharapkan oleh Allah di dalam Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah ayat 183 yang saya bacakan tadi. Dan mudah-mudahan kita diberikan umur panjang sehingga kita bisa menyelesaikan puasa di bulan Ramadan sampai selesai. Dan mudah-mudahan kita berharap keluar dari bulan Ramadan seperti bayi yang baru dilahirkan tanpa adanya dosa dan kesalahan. Auzubillahiminasyaitanirrajim. Syahru Ramadan alladzi unzila fihil quran hudan linnas minal huda.
[Musik]
Di bulan Ramadan itu, di mana diturunkannya Al-Qur'an, hudan linnas sebagai petunjuk bagi manusia, wayinatin minal huda wal furqan dan menjadi penjelas daripada petunjuk-petunjuk itu serta menjadi pembeda antara yang hak dan yang batil. Nah, di sini masih secara global tujuannya Al-Qur'an diturunkan, bukan hanya untuk orang Islam, tetapi secara umum Qur'an diturunkan untuk seluruh manusia. Maka dikatakan hudal linnas. Tetapi di ayat 2 Surah Al-Baqarah, ikal kitabuhiil muttaqin.
[Musik]
Kitab ini atau kitab itu, zalika itu kan itu ya, kitab itu artinya kitab Al-Qur'an itu tidak ada keragu-raguan di dalamnya, hudal lil muttaqin dan merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Nah, ini ada sedikit ada perbedaan di dalam ayat 183 dikatakan bahwa Al-Qur'an itu hudal linnas, petunjuk bagi manusia, sementara di ayat 2 disebutkan hudal lil muttaqin. Ini harus kita pahami, hudal linnas artinya apa? Ini dari segi penyampaiannya, dari segi pemberiannya. Jadi, petunjuk ini diberikan kepada seluruh manusia, tapi ketika di ayat 2 ini penerimaannya siapa yang menerima? Maka seolah-olah sama seperti matahari. Matahari itu bersinar untuk seluruh alam bagi setelah setiap manusia, alam semesta menerima cahaya matahari, tetapi bagi yang mau menerimanya, bagi yang sehat. Tapi begitu sudah dari segi penerimaan, ada enggak yang mau menerima atau ada enggak yang tidak mau menerima? Coba kalau kita lihat orang yang sakit mata, jangankan mau sinar matahari, cahaya lampu yang kedip aja kadang-kadang enggak mau menerima, pasti merem. Nah, artinya apa? Tidak semua manusia bisa menerima Al-Qur'an, petunjuk-petunjuk apa yang ada di dalam Al-Qur'an? Petunjuk yang mana yang mau kita ambil? Yang pertama sebagai petunjuk hukum, dalam Surah Ar-Ra'd ayat 37 Allah berfirman: "Bismillahirrahmanirrahim...ahum. Dan demikianlah Kami telah menurunkannya Al-Qur'an sebagai peraturan yang benar dalam bahasa Arab. Sekiranya engkau mengikuti keinginan mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka tidak ada yang melindungi dan yang menolong engkau dari siksaan Allah." Artinya bahwa Al-Qur'an ini diturunkan untuk menjadi alat untuk mengatur kehidupan manusia, karena ini mengandung banyak masalah-masalah hubungan antara Allah dengan antara manusia dengan Allah, antara manusia dan sesama manusia. Maka ketika manusia bersama manusia pasti ada permasalahan yang harus diselesaikan, oleh karenanya maka Al-Qur'an menjadi hidupnya sebagai standar hukumnya. Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kami ikuti selain Dia sebagai pemimpin. Sedikit sekali kamu yang mengambil pelajaran. Bahkan Allah mengancam orang yang tidak menghukumi dengan Al-Qur'an, anzallah. Bahkan ada ayat lain yang lebih ekstrem lagi. "Amaha kafirun?" Siapa yang tidak memutuskan satu perkara berdasarkan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka termasuk orang yang kafir. Maka inilah yang harus kita pikirkan, meskipun kita hidup di negara yang bukan negara berdasarkan hukum, tetapi pendukungnya penduduknya ini mayoritas adalah orang Islam, tapi tidak berani untuk menetapkan hukum Islam sebagai peraturan yang ada di negara kita. Hanya Aceh yang berani menerapkannya, itu pun hanya beberapa perspektif saja, tidak seluruh perspektif ditetapkan. Karena apa? Apa yang diturunkan oleh Allah tidak ada yang menyengsarakan, semuanya untuk kebaikan manusia. Tetapi memang inilah sikap manusia, tidak mau yang baik, inginnya yang jelek. Ya, mohon maaf, ketika ada orang yang apa mencalonkan diri jadi pimpinan, entah itu kepala pepon, pahat daerah, anggota deon dan sebagainya, mohon maaf, lebih banyak mana yang terpilih antara orang yang baik dengan yang kurang baik? Maka inilah penyebabnya. Maka Allah memberikan
[Musik]
gambar dalam Surah Al-Baqarah ayat 170 ketika dikatakan kepada mereka, "Ikutilah apa yang telah Allah turunkan," apa jawab alai? "Kami cukup mengikuti apa yang sudah dilakukan oleh nenek moyang kami." Ya, termasuk negara kita, hukum yang ada di negara kita ini adalah warisan dari hukum Belanda, di mana Belanda itu adalah bukan Islam. Makanya yang malingnya miliaran hukumnya cuma 5 tahun, yang malingnya cuma Rp 10.000 bisa 3 tahun, maling ayam 7 tahun misalnya kan, tapi yang malingnya miliaran lain artinya kan tidak seimbang. Bunga indah saat berkah, kita kuat saat berjamaah. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ilatu biduri huda watabu nafsu lahu muntaha.