Transcription
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Alhamdulillahil ladzi ja’alana min asykarihi. Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh.
[Musik]
Yaumin iadallah ahbaibi wa usuliahu ‘alaihi wasallam. Illaantum muslimun, faqala ta’ala, “Ya ayyuhalladzina amanuttaqullaha haqqa tuqatihi, wala tamutunna illa wa antum muslimun.”
Hadirin jemaah Jumat rahimani wa rahimakumullah. Mengawali Jum’ah kita di Jumat ini yang telah memasuki pekan kedua di bulan Ramadan, tepatnya 14 Ramadan tahun 1446 Hijriah, khatib ingin mengajak kita semua untuk selalu meningkatkan syukur kita kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Alhamdulillah. Di antara sekian hamba yang berkehidupan dan menyatakan dirinya beriman kepada Allah, sampai detik ini kita yang masih terpilih di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala untuk mendapati kenikmatan Ramadan di tahun ini. Semoga seluruh rangkaian ibadah yang telah kita tunaikan dari awal Ramadan, khususnya sampai detik ini, berkenan diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan semoga Jumat ini dijadikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala sebagai Jumat terbaik di antara sekian Jumat yang pernah kita tunaikan.
Hadirin, satu kali disebutkan riwayat ini oleh Al Imam Al Bukhari dalam kitabnya, Adabul Mufrad, nomor hadis 646. Demikian ditegaskan pula di dalam Kitab Sahih Muslim, nomor hadis 2551, yang sanadnya tersambung pada sahabat mulia Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu. Zukir fil adabil mufradal imamil Bukhari rakmil hadit 6. Waadalika akkadal imamul muslim had riwayah fi kitabihahih rakmul hadit.
[Musik]
Alfaini wa anad hadit muttasilabil jalil Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu. Zukira ahu ‘alaihi wasallam. Amin amin amin, ya rasulallah. Maqahu ‘alaihi wasallam. Jibril ‘alaihi salam. Qalin abwi ahuma alamudilhul jann. Wi riwayatin ahahumal kibar walam yudilhul jann. Faqutu amin. Faqala rima anfu abdinakala ‘alaihi ramadun lam yugfarlah. Falu amin. Faqala am.
Hadirin, satu kali diriwayatkan, yang riwayat ini tersambung pada sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, saat akan naik ke mimbar – beliau, dan adalah mimbar Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam kurang lebih ada tiga tangga – gundakan saat naik. Pada tangga yang pertama, tetiba datang Malaikat Jibril menyampaikan pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Sebelum ini disampaikan, Nabi mengatakan, “Amin amin amin.” Maka ditanyakan oleh para sahabat, “Ya Rasulullah, mengapa engkau mengatakan amin amin amin tiga kali?” Maka kata Nabi, “Saat aku naik pada tangga pertama, datang dan mengatakan, ‘Celakalah seorang hamba, tercela seorang hamba,’ di riwayat lain, ‘Budan jauh dari rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala bagi seorang hamba yang mendapati satu dari kedua orang tuanya,’ yang mendapati di riwayat lain, ‘satu di antara kedua orang tuanya telah sepuh, maka tidak mampu berbuat baik kepada kedua orang tuanya yang berpotensi memasukkan kedua orang tuanya ke dalam surga.’ Kata Nabi, ‘Amin.’” Maka ketika naik tangga yang kedua, dikatakan pada Nabi melalui Malaikat Jibril ‘alaihis salam, ‘Celakalah seorang hamba, tercela seorang hamba, keterlaluan seorang hamba, jauh dari rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala, seorang hamba yang disampaikan oleh Allah ke bulan Ramadan tapi tak mampu memanfaatkan Ramadan itu untuk mendapatkan ampunan Allah Subhanahu wa ta’ala.’ Kata Nabi, ‘Amin.’ Saat naik tangga yang ketiga, maka Malaikat Jibril mengatakan, ‘Celakalah seorang hamba, keterlaluan seorang hamba, tercela seorang hamba yang disebutkan namamu ya Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam di sampingnya tapi dia tak mau berselawat kepadamu.’ Kata Nabi, ‘Amin.’
Hadirin, hadis ini, dengan riwayat yang sahih terkait dengan Ramadan, memberikan pesan penting kepada kita bahwa Ramadan ini bulan yang penuh dengan keistimewaan. Di antara keistimewaannya, ada peluang rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala diberikan kepada setiap hamba, siang dan malam, yang berupa ampunan dari seluruh dosa-dosa yang pernah dikerjakan. Dalam hadis riwayat Al Bukhari, ditegaskan juga dalam hadis riwayat Muslim, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah menyampaikan, “Man Ramadana imanan wa bairu maqama wanq lailatal qadrii.” Riwayatin manq Ramadana imanan wtisabau maqama. “Siapapun yang menunaikan puasa Ramadan, ditunaikan di siangnya dari mulai fajar sampai dengan magrib, diisi dengan keimanan kepada Allah, dia berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, ikhlas dia tunaikan puasa itu, maka dengan keikhlasan menunaikan puasanya, Allah berkenan mengampuni dosa-dosa yang pernah ia lakukan selama hidupnya. Dan siapa yang bangun di malam Ramadan, dia tunaikan salat malam bersamaan dengan malam Al-Qadar, atau dia tunaikan setiap malam Ramadan, dia tunaikan ikhlas karena Allah untuk memperbaiki dirinya supaya lebih baik dalam perjalanan hidupnya, maka dengan itu diampuni dosa-dosa yang pernah ia kerjakan selama hidupnya.” Jadi bayangkan, hadirin, siang ada ampunan, malam ada ampunan. 24 jam, potensi dosa kita diampuni oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan siapakah di antara kita yang tidak pernah memiliki dosa? Dosa mata, dosa telinga, dosa lisan, sampai dosa ke ujung kaki. Dosa anak pada orang tua, dosa orang tua yang mengabaikan anak, dosa dengan kerabat, dosa dengan tetangga, dosa pada tubuh kita sendiri, di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka khusus Ramadan, selama sebulan penuh, siangnya malamnya ditebarkan oleh Allah rahmat-Nya untuk mengampuni seluruh hamba-Nya, sehingga terlahir kembali dalam keadaan fitrah, bersih untuk menghadap Allah Subhanahu wa ta’ala. Hanya sayang, kata Nabi, ada orang yang disebut oleh Malaikat Jibril, saking sayangnya Allah ingin mengampuni dosanya, diberikan siang ampunan, diberikan malam ampunan, tapi tapi tidak disambut peluang ampunan ini dengan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Diminta puasa, dia tidak kerjakan. Diminta salat, dia malas-malasan. Diminta istigfar, dia tidak lakukan. Maka apa yang terjadi? Kata Malaikat Jibril, “Ragima anajulin.” Sungguh celaka orang seperti ini, tercela orang seperti ini, jauh dari rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala. “Dak hala ‘alaihi Ramadan lam yugfarlah.” Sudah diberikan kesempatan Ramadan, masuk di bulan Ramadan, tapi tidak memanfaatkan itu dengan baik, tidak ibadah dengan baik, sehingga tak mampu diampuni dosa-dosanya di bulan itu.
Semoga kita semua digolongkan pada golongan hamba-hamba Allah Subhanahu wa ta’ala yang mau memanfaatkan bulan Ramadan untuk meningkatkan ibadah kepada Allah. Siangnya kita puasa dengan baik, malamnya kita tunaikan ibadah dengan baik. Dan lebih penting daripada itu semua, itu kerja kita kerjakan karena Allah untuk mendapatkan rahmat-Nya. Dan semoga kita termasuk dalam golongan hamba Allah yang diampuni dosa-dosanya sehingga nyaman untuk pulang kepada Allah di hari kiamat kelak.
Barakallahu fiikum. Quranilim waikum bimitiikim qal minnium tilaahu inahuuulim udullaha yajibana wakum jam. Alhamdulillah. Wassalatu wassalamu ‘ala rasulullah nabiina wa maulana Muhammad Ibni ‘Abdulllah wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. La ilaha illallah wahdahu la syarikalah. Ahqantum muslimun? Ya ayyuhal muslimin was salamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barakatuh. Was shahi was salama was agfirullah Subhanahu wa ta’ala. Subhanahu wa ta’ala. Subhanahu wa ta’ala. Maq nahah ins.
[Musik]
Ah subhahu wa ta’a. Subhahu wa ta’a. [Musik] Subhahu wa ta’aahu wa ta’. Ya Allah Allah ya Allah. [Musik] Yarhamukumullah. Allahu Akbar.