Transcription
Guys, ada berita buruk. Ini kabar yang sangat menyedihkan, khususnya dari bisnis pariwisata di Indonesia. Nah, teman-teman tahu dong? Gua pernah posting di Instagram gua bahwa kalangan menengah bawah itu terus tertekan. Cadangan duit mereka, di tabungan mereka, itu makin lama makin tipis, bahkan lebih parah dibanding era Covid. Artinya, sudah terjadi gerakan mantap, alias makan tabungan.
Nah, kalau duit-duit rakyat ini, khususnya kalangan menengah dan kalangan bawah ini, makin lama makin habis, sudah pasti mereka enggak bisa lagi belanja untuk hal-hal yang tidak penting. Nah, teman-teman sudah tahu dong? Kebutuhan pariwisata itu bukan kebutuhan primer, itu adalah kebutuhan tersier. Itu jalan-jalan, hura-hura. Dan gua sudah memprediksi bahwa Lebaran tahun ini akan menjadi Lebaran tersepi sepanjang sejarah Indonesia, dan ini kabar buruk.
Kenapa? Karena asosiasi terbesar yang namanya PHRI di Indonesia, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, itu menunjukkan okupansi hotel itu rata-rata baru mencapai 20%. Jadi, lu bayangin, total kalau ada satu hotel 100 kamar, yang terisi itu cuma 20. Padahal, 2 minggu lagi Lebaran. Nah, ini sangat-sangat mengerikan. Kenapa ini bisa terjadi? Padahal, di periode yang sama di tahun lalu, 2 minggu sebelum menjelang Lebaran, itu okupansi hotel itu naik sampai 50%. Wajar enggak? Wajar. Ingat ya, di Indonesia itu bisnis pariwisata—gua investor saham di sektor pariwisata—itu gua sangat senang karena sangat mudah diprediksi kapan naik, kapan turunnya. Nah, yang terjadi sekarang ini jauh di luar logika.
Karena apa? High season di Indonesia terjadi pertama ya tentu karena liburan Natal sama Tahun Baru, ganti tahun orang liburan. Lalu apalagi? Liburan anak sekolah. Nah, salah satunya apa? Liburan Lebaran. Jadi, liburan Lebaran ini seharusnya menciptakan demand yang tinggi, harga hotel naik, semuanya naik, okupansi tinggi, padat semua tempat wisata penuh di mana-mana. Tapi, apa yang terjadi? Sebaliknya. Sesuai dengan analisis yang ah gua bikin di Instagram, makanya lu buruan follow Instagram Benix ya, ada di @benix.ofici.
Nah, sebetulnya, guys, kenapa sih—sebelum kita bahas ya—yang lebih buruknya lagi dari kehancuran bisnis pariwisata itu ada tiga hal nih, guys, penyebab hancurnya bisnis pariwisata di Indonesia. Yang pertama, daya beli masyarakat rontok. Lu tahu yang terjadi di Indonesia sekarang? Manufakturing pada kabur, pengusaha pada kabur, investor pada kabur. Mereka semua ketakutan untuk berbisnis di Indonesia, buat taruh duit di Indonesia. Akibatnya terjadi apa? PHK massal. Orang Vietnam tambah kaya, orang Indonesia tambah susah. PHK massal, efisiensi anggaran, bahkan PNS juga enggak dilantik-lantik. Which is, sebetulnya gue juga setuju, tapi ternyata itu berakibat panjang, mengakibatkan peredaran duit yang ada di masyarakat itu semakin berkurang, semakin tipis. Akibatnya apa? Daya beli masyarakat turun. Nah, daya beli masyarakat itu turun juga karena inflasi terus merangkak naik. Saat ini sudah sampai di level 6,2% per Maret 2025. Belum lagi harga BBM bersubsidi itu naik, dan kemarin juga sempat krisis karena Pertamina korupsinya dibongkar.
Lalu ada lagi pengurangan subsidi listrik untuk industri. Nah, ini bakal menggerus kemampuan masyarakat kelas menengah untuk berwisata. Jadi, gampangnya gini, lu bayangin aja ya, kalau bayar listrik, bayar bensin, bayar sembako aja udah makin mahal, naik mungkin 20 sampai 30%, terus gimana lagi masyarakat sampai berpikir untuk staycation? Mana sempat lagi dia pikir itu? Mana sempat lagi dia pikir hari ini nginap di hotel mana? Ya udah, enggak bisa. Ini semua udah pada mode krisis, guys. PHK di mana-mana, itu realita. Bahkan survei terbaru dari Biro Pusat Statistik, yang namanya BPS, itu menulis bahwa 70% responden itu mengurangi anggaran libur Lebaran mereka di 2025 ini. Karena apa? Ekonomi semakin tidak pasti. Jadi, ini ngeri banget nih, guys. Karena ini kebutuhan tersier ya, titik indikator ekonomi ya. Ketika tersier ini makin habis, lu bisa tahu berarti kebutuhan dasar itu sedang berada di ujung tanduk nih.
Nah, tadi gua bilang ada tiga. Yang kedua apa? Kebijakan diskon tiket di Indonesia itu juga aneh ya. Gua salah satu orang yang suka protes nih, karena sebetulnya ya tarif pesawat nih, khususnya diskon tiket pesawat—tiket pesawat kita tuh di bawah tarif batas atas yang nilainya udah sebenarnya ketinggalan lebih dari 5 tahun yang lalu, sudah basi. Harusnya harga pesawat Indonesia itu makin naik, inflasi makin naik loh, UMR makin naik loh, gaji karyawan, PPN dan lain sebagainya itu tambah mahal loh, tapi ternyata harga tiket pesawat segitu-segitu aja. Nah, gilanya nih, ketika harusnya ya mereka menikmati bisnis yang hebat di bulan Lebaran ini, ternyata enggak bisa karena mereka harus nurunin harga tiketnya lagi. Jadi, makin banyak bisnis yang makin merana nih. Udah penerbangannya berkurang, eh harga tiketnya juga harus dikurangin lagi. Mudah-mudahan mudiknya berjalan dengan baik, transportasi kita sudah turunkan harga pesawat, kita sudah turunkan kereta api, kita jalan tol juga akan diturunkan ya, kita fasilitasi sebaik mungkin untuk rakyat kita. Dan lu jangan salah, orang kalau mau libur Lebaran itu bukan setting hari ini belanja tiket, terus besok berangkat. Enggak gitu. Orang kalau mau libur, mayoritas orang Indonesia ini bukan pengusaha loh yang bebas waktunya, no, mayoritas karyawan. Kalau mereka libur, mereka udah bikin ancang-ancang 1 tahun sebelumnya. Jadi, ketika pemerintah bilang, “Oi, lu harus kurangin harga tiket 30%,” itu udah enggak ngaruh. Itu baru dikabarin ya di bulan Maret ini. Nah, orang ah, belanja tiket selambat-lambatnya ya 6 bulan yang lalu lah. Jadi, sekitar bulan September, mereka—September 2024—itu mereka sudah belanja tiket, “Gua mau pergi ke mana pas Lebaran nanti ya?” Jadi, sudah dari tahun lalu mereka belanja. Nah, ketika pengumuman, “Eh, lu bakal diskon segala macam,” baru dirilis bulan ini, udah percuma. Mereka sudah beli tiket ke tempat lain pastinya, ke mana? Bukan ke Indonesia, bro. Yang menikmati turis kita paling banyak itulah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Kenapa jumlah pariwisata di Malaysia, Thailand, Singapura lebih naik, lebih cepat? Karena pemerintahnya geraknya cepat. Lu ingat ya, ini pertarungan udah antar negara, ini unilateralism yang digaungkan sama Rizal Lio. Mereka udah lihat, baru ngomongin diskon sekarang bulan Maret 2025, tapi mereka sudah mensubsidi pesawat-pesawat mereka. Makanya lu jangan kaget, udah mereka subsidi itu dari tahun lalu. Jadi, orang Indonesia yang mau libur Lebaran itu udah beli, belanja tiket liburan ke luar negeri dari tahun lalu, harganya lebih murah, promonya lebih awal, pemerintahnya lebih cerdas. So, sekarang baru diumumin, “Eh, kalau terbang ke Bali lebih murah, ke Jogja lebih murah.” Udah telat. Mereka udah belanja dari tahun 2024 loh. Pintar nih pemerintah Thailand, Singapura, Malaysia. Kok bisa ya? Mungkin karena enggak makan suap kali. Kok bisa ya? Mungkin karena mereka kerja beneran ya, bukan sibuk cari duit haram aja ya.
Terus, yang ketiga apa? Ketiga ini yang suka telat dipikirin. Ini masalah infrastruktur. Itu ada hubungan lah. Ketika infrastruktur jelek, pasti orang malas juga liburan. Gua itu tadinya mau liburan, pergi ke Krui—Krui itu di Lampung Barat ya. Banyak orang Italia, Jerman, kalau liburan senangnya pergi ke Krui di Lampung Barat. Nah, gua sebetulnya mau pergi ke Krui, tapi ternyata gua lihat di Lampung, jalan-jalan di Lampung itu parah, kubangan, kolam ikan di mana-mana gitu loh. Jadi, tidak menyenangkan untuk pergi ke sana pada saat ini, apalagi sebentar lagi bakal banyak hujan ya, jalanan makin rusak. Itu infrastruktur itu sangat penting. Nah, satu lagi ya, infrastruktur ketika dibangun itu juga bisa bikin penyakit. Contoh yang terjadi di Yogyakarta, teman-teman tahu kan? Sekarang lagi dibikin jalan tol menuju Yogyakarta. Kok bisa ada jalan tol malah pariwisata berkurang? Gampangnya begini, zaman dulu lu kalau mau liburan di Yogyakarta, mungkin lu cari tempat wisata itu yang dekat di Prawirotaman, atau kalau lu mau jalan-jalan di kotanya lu cari dekat Malioboro, hotelnya, atau kalau lu mau ke Borobudur, Prambanan, lu cari hotel-hotel yang dekat Borobudur, Prambanan. Nah, tapi sekarang ada jalan tol. Jalan tol ini menyambungkan Klaten, Boyolali, yang artinya orang, “Ah, tahu enggak, lu kalau tinggal di kota kecil itu biasanya lebih murah makan, lebih murah hotel, so buat mereka dibanding gua stay di Yogyakarta, mendingan gua stay-nya di Klaten sama Boyolali, nanti pas mau jalan-jalan gua tinggal masuk tol, 1 jam nyampai.” Pintar ya, wisatawan Indonesia. Nah, akibat ini yang merasakan dampak penurunan pariwisata adalah orang-orang yang terlanjur punya hotel di kota-kota besar, yang salah satunya berimbas dari faktor infrastruktur ya di Yogyakarta. Okupansi di Yogyakarta, gua rasa makin tambah nyungsep. Lu bakal lihat. Salah satunya kenapa ya? Karena tadi… sebentar guys, bentar guys, sebelum kita lanjut videonya… good news, guys! Kalau… Benix Season 7 kembali dibuka nih! Jadi, buat teman-teman yang belum sempat join yang Season 6, kita sekarang sudah masuk ke Season ke-7, dan ini seru banget karena tahun ini kita membahas tentang energi terbarukan. So, teman-teman tahu enggak? Orang kalau ngomong energi di Indonesia ini cuma ada batu bara atau minyak bumi, tetapi sekarang kita sudah masuk ke era di mana saham-saham perusahaan yang prospek itu justru datang bukan dari batu bara lagi, tapi dari energi terbarukan. Dan banyak loh sebetulnya energi terbarukan. Ada lu ngomong minyak sawit, ada namanya gas bumi, ada namanya tenaga surya dari matahari, termasuk tenaga air, dan masih begitu banyak lagi yang belum kita bahas. Nah, makanya di Season 7 ini kita akan membahas saham-saham yang sangat prospek investasi yang menurut gua sangat menarik buat kita pelajari bersama, hanya di Sekolah Sam Benix Season 7 tentang emiten-emiten dan prospek-prospek yang luar biasa dari sektor energi terbarukan. Makanya jangan sampai ketinggalan, guys! Segera buruan daftar karena kita ada promo nih, diskon 25%, hanya untuk 50 orang pertama yang daftar sebelum 25 April 2025. So, tunggu apa lagi, guys? Buruan yuk! Segera hubungi nomor handphone yang ada di bawah ini atau www.skalasambenix.com. Salah satunya kenapa ya? Karena tadi jalan tol, jalan tol sudah jadi, ada tempat menginap yang lebih murah di pinggiran Yogyakarta, lebih baik nginap ke situ, begitu nanti mau jalan-jalan ke Borobudur baru masuk tol ke Borobudur, ke Prambanan, kan gitulah. So, dari sini lu bisa lihat ya, tiga faktor utama yang gua yakin akan menghancurkan sektor pariwisata Indonesia di tahun 2025: daya beli berkurang, kebijakan diskonnya aneh, dan yang ketiga ya banyak proyek infrastruktur itu yang enggak jelas, dibangun enggak salah, dibangun juga salah. Tapi, it’s the reality lah. Ini namanya siklus lah, pariwisata itu siklus, kadang naik, kadang turun. Sayangnya ya ini berdampak sangat fatal karena Indonesia saat ini juga sedang mengalami yang namanya defisit anggaran, jatuh tempo pembayaran hutang 800 triliun. Gila, duit dari mana buat bayar itu? Sehingga pemerintah harus melakukan efisiensi anggaran. Efisiensi anggaran hasilnya apa ya? Pejabat-pejabat enggak bisa lagi meeting-meeting di hotel mewah, pejabat-pejabat lagi enggak bisa lagi bikin perjalanan dinas yang tidak jelas itu sering, dan mereka enggak bisa lagi bikin meeting-meeting yang enggak jelas di hotel mewah, di restoran mewah, yang pada akhirnya itu akan mengurangi penghasilan para pengusaha PHRI, hotel dan restoran yang ada di Indonesia. Nah, hal yang sama ini bukan cuma terjadi di Pulau Jawa loh ini, tapi juga terjadi di Bali. Bali itu ya salah satu yang terkenal. Organisasi ASITA, Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia, anyway, mereka juga sudah banyak komplain. Dulu gua suka berhubungan lah sama orang-orang PHRI, sama ASITA ya, ya salah satunya ASITA. Itu kalau lu tahu yang sifatnya touring lah, travel agent 5 hari 4 malam di Lombok, atau 7 hari menginap di Bali, keliling Bali, itu semua udah pada drop permintaan buat jalan-jalan ke Bali. Dropnya itu ekstrem, hampir 50%.
Nah, kenapa situasi ini memburuk, dan ini bakal terus melebar nih, bakal terus melebar, bukan cuma dari hotel, tapi melebar ke restoran, terus melebar lagi ke agen perjalanan, agen pariwisata, terus ke tur guide dan sebagainya. At the end of the day, ini juga akan melebar ke PHK massal di sektor pariwisata. Logika aja, kalau lu punya kamar 100 biji, terus yang ngisi cuma 20, apa yang lu harus lakukan? Lu harus pecat karyawan lu. Dan teman-teman akan saksikan ya, kalau tidak ada perubahan sampai akhir bulan ini, maka akan semakin banyak jumlah karyawan di bidang pariwisata di Indonesia yang mengalami PHK massal. Dan ini, in the long run, ini akan mengurangi pertumbuhan ekonomi Indonesia, alias GDP kita akan semakin terkoreksi. Semua orang makin takut buang duit, semua orang pada nahan duit, penciptaan lapangan kerja semakin tertunda, akibatnya pengangguran di mana-mana. Dan kalau dikira ini enggak berhubungan lu sama gua? Oh, enggak juga. Lu bakal lihat ya, at the end of the day pasti, bahkan sampai ke level pedagang kecil, UMKM, toko oleh-oleh, cinderamata, mau yang ada di Semarang, yang ada di Jogja, yang ada di Bali, pasti lu akan berasa bahwa Lebaran tahun ini itu jauh lebih parah dan menderita dibandingkan bahkan era Covid loh. Gua udah lihat data, gua data terbaru kita, jumlah rekening tabungan itu sekarang, gerakan mantap, makan tabungan itu sudah makin ekstrem dibandingkan era Covid. Jadi, jumlah tabungan makin lama makin berkurang dan berkurang dan berkurang. Nah, salah satu solusinya apa di sektor pariwisata? Menurut gua, ketika wisatawan domestik pada nahan duit di sini, harusnya bisa dimanfaatkan ya sama menteri-menteri pariwisata kita buat menarik wisatawan asing. Datanglah ke Indonesia, jangan ke Thailand kayak orang Medan, jangan ke Malaysia kayak orang Medan dan Jakarta, jangan ke Singapura kayak mayoritas orang Sumatera dan Jakarta. Jangan! Wisatawan asing, please datanglah ke Indonesia! Tapi mau enggak mereka datang ke Indonesia? Mereka sebenarnya sebel juga karena di Indonesia terlalu banyak peraturan yang enggak jelas. Kemarin gua datang ke sebuah daerah loh yang sangat bagus, pantainya indah, terus gua tanya, “Kenapa enggak ada bule di sini ya?” Ya, Pak, soalnya dilarang minum bir. Loh, kenapa dilarang minum bir? Kan orang bule terbiasa minum bir seperti minum air putih. Ya, karena kalau dia nanti minum bir, warungnya dibakar. Terus siapa yang mau jalan-jalan ke sana? Gimana caranya lu bisa dapat penghasilan dalam US dollar? Tidak logis pemikirannya. Jadi, ini sangat menghambat nih pariwisata Indonesia. Gua melihat masa depannya sangat-sangat suram. Kalau menurut lu gimana, guys? Lu optimis enggak pariwisata Indonesia di tahun 2025 akan lebih baik dibandingkan yang sebelumnya, atau justru malah tambah nyungsep? Kalau menurut lu gimana? Ditunggu ya pandangan kalian ya, khususnya para investor di sektor pariwisata. Jan la video ini. Oke, semoga video ini bermanfaat. Salam sehat, salam Benix. Bye!