📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Materi Drama kelas XI Bahasa Indonesia

Arisa Nur Aini12:02

Transcription

Hai, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Halo, berjumpa lagi dengan saya Arisan Nuraini dan terima kasih sudah mengklik video ini. Kali ini kita akan bahas mengenai materi kelas 11, yakni drama.

Jadi, drama merupakan salah satu jenis karya sastra. Bagi kalian yang sudah pernah mempelajarinya, pasti masih ingat karya sastra itu ada tiga: puisi, prosa, dan drama. Perbedaannya apa? Jadi, kalau misalnya puisi, prosa, dan drama, tentu saja ada bedanya, yakni bentuknya. Kalau puisi bentuknya adalah bait dan baris. Prosa merupakan teks paragraf, kalimat. Sedangkan kalau drama itu adalah dilakonkan atau diperankan.

Jadi, apa itu drama dan kenapa sih Kalian harus mempelajari drama? Drama itu apa? Ternyata drama berasal dari bahasa Yunani, yakni *draw my*, yang artinya berbuat, bertindak, berlaku, dan lain-lain. Intinya drama berisi tentang perbuatan maupun tindakan atau *action*. Jadi, ketika syuting film atau sinetron, biasanya ada yang bilang *action*. Ketika bilang *action*, itu mulailah berakting, beradegan, dan lepas dari kehidupan nyata.

Sedangkan pengertian dari drama adalah kisah kehidupan manusia yang dipentaskan berdasarkan naskah, menggunakan percakapan, gerak laku, unsur pembantu seperti pencahayaan, busana atau kostum, *make up*, serta disaksikan oleh penonton. Kalian pasti pernah melihat ada film yang berasal dari novel maupun cerpen. Emang boleh, Bu? Boleh, karena sumber penulisan naskah drama itu ada tiga. Yang pertama adalah dari karya yang lain. Jadi, karya yang lain otomatis berasal dari novel, cerpen, atau cerita rakyat, atau misalnya yang baru-baru ini ada Wattpad. Nah, Wattpad itu kan aplikasi mirip-mirip seperti cerita novel, begitu kan? Atau misalnya ketika kalian drama di sekolah, pasti pernah memerankan cerita rakyat. Ada Ande-ande Lumut, ada Timun Mas, ada mungkin legenda-legenda Danau Toba, legenda Malin Kundang, atau juga dulu waktu saya SMA itu pernah memerankan Roro Jonggrang. Legenda apa itu? Sombong amat.

Lanjut, sumber penulisan naskah yang kedua berasal dari pengalaman pribadi. Jadi, kalau misalnya kalian punya pengalaman disakiti terus-menerus tetapi masih saja memaafkan, bisa loh kalian jadikan sebagai drama. Dan sumber yang ketiga adalah dari imajinasi. Jadi, kalau imajinasi itu bentuknya fiktif, ya kan? Tidak nyata. Kalian bebas untuk berimajinasi. Kalau misalnya kalian pernah melihat ada pahlawan manusia laba-laba atau manusia kelelawar atau manusia yang mengecil seperti semut, boleh kan kalian misalnya membuat pahlawan manusia cupang dari Hah.

Lanjut, kita bahas mengenai struktur drama. Faktor drama merupakan bagian-bagian di dalam drama itu. Jadi, drama itu ada 3 bagian. Yang pertama adalah prolog, dialog, dan epilog. Lok, lok, lok, begitu juga, ya. Prolog merupakan bagian pembuka, permulaan dari sebuah drama. Di dalam prolog ini bisa dinarasikan oleh dalang, kalau misalnya itu seperti wayang, ya. Jadi, ada narasinya begitu. Kalian pasti pernah melihat film, misalnya film kolosal. Sebelum masuk ke dalam inti film, itu biasanya kan ada kayak narasi dulu. "Pada suatu hari tersebutlah..." Nah, seperti itu.

Struktur yang kedua adalah dialog. Dialog merupakan percakapan antar tokohnya. Jadi, dalam dialog ini para tokohnya itu saling berinteraksi dan nanti akhirnya ada permasalahan di dalam dialog tersebut. Dan struktur yang ketiga adalah epilog. Epilog bagian akhir berisi simpulan atau amanat yang ingin disampaikan dari keseluruhan drama tersebut.

Selanjutnya, nah, bagian dari drama atau struktur drama itu kan tadi ada tiga, ya. Nah, bagian yang kedua atau dialog itu masih terbagi lagi menjadi tiga bagian, yakni ada orientasi, komplikasi, dan resolusi. Orientasi merupakan bagian di mana dialog para tokohnya itu sedang awal mula begitu. Jadi, ketika orientasi itu saling memperkenalkan latar belakangnya, saling memperkenalkan aku siapa tokoh tersebut, siapa aku, siapa kamu, siapa tidak ada yang tahu. Bahkan orientasi.

Selanjutnya, bagian kedua adalah komplikasi. Di dalam komplikasi ini para tokohnya itu sudah mulai ada timbul permasalahan-permasalahannya. Apa? Apakah permasalahan tentang percintaan? Apakah tentang keuangan? Persahabatan? Permasalahan antar negara, antar benua? Semuanya terangkum di dalam komplikasi itu. Dan yang terakhir, tak resolusi. Resolusi merupakan tanggapan-tanggapan dari komplikasi tadi. Jadi, kalau misalnya di komplikasi itu ada permasalahan, maka di revolusi itu penyelesaiannya seperti apa atau tanggapan dari para tokohnya itu seperti apa.

Saya ingatkan ya, bagi yang belum subscribe, jangan lupa di tekan tombol merah di bawah ini. Dan bagi yang sudah subscribe, silakan like dan berikan komentar di bawah ini. Terima kasih.

Lanjut, berbicara tentang drama itu pasti ada babak dan adegan. Perbedaannya apa? Jadi, kalau babak dan adegan cakupannya lebih banyak babak, karena di dalam babak satu babak itu biasanya dalam satu latar belakang. Jadi, misalnya ada babak di sekolah, lanjut babak di rumah. Nah, biasanya perbedaan dari babak itu seperti itu. Kemudian, kalau adegan itu biasanya bagian dari babak itu sendiri. Contohnya, sama-sama di sekolah, adegan pertama adalah ketika di kelas. Kemudian adegan selanjutnya adalah mungkin mereka sedang ke kantin dan lain-lain.

Drama juga tidak lepas dari sebuah skenario. Apa sih skenario itu? Apa ada yang pernah baca skenario dari drama? Jadi, perlu saya tekankan bahwa skenario di dalam drama itu berbeda dengan penulisan dialog dalam teks negosiasi atau dulu pernah ada teks anekdot. Itu berbeda. Yang kalau teks negosiasi ataupun anekdot penulisannya itu tokoh titik dua pakai tanda kutip, begitu kan? Tapi kalau di skenario penulisannya tidak seperti itu. Silahkan disimak contoh dari *scene* berikut ini.

Pengertian dari skenario sendiri adalah secara umum dan secara khusus. Secara umum, skenario merupakan naskah atau teks yang berisi urutan cerita yang ditulis agar peristiwa yang terjadi sesuai dengan apa yang diinginkan. Kalau secara khusus, skenario merupakan naskah yang ditulis dengan istilah-istilah kamera yang digunakan untuk panduan sebuah tayangan, bisa film, drama, maupun sinetron.

Oke, terkait dengan penyusunan skenario tadi, ternyata ada tiga elemen penting yang harus ada di dalam skenario. Yang pertama adalah tokoh. Tokoh itu biasanya ditulis di tengah atau *center*. Nah, tokoh itu adalah pelaku yang melakukan tindakan di dalam cerita tersebut. Kemudian, setelah tokoh, dibawahnya adalah wawancang. Wawancang merupakan dialog atau percakapan yang disampaikan oleh tokoh tersebut. Di bawah wawancang atau bisa juga di dalam wawancara itu sendiri, biasanya ada kramagung. Nah, kramagung ini biasanya dituliskan dalam kurung atau dicetak miring. Kramagung merupakan petunjuk tingkah laku atau petunjuk apa yang harus dilakukan oleh tokoh tersebut. Misalnya, dalam kurung menunduk atau menangis. Nah, itu namanya adalah kramagung.

Selanjutnya, ciri kebahasaan dari teks drama. Teks drama memiliki ciri kebahasaan yang pertama adalah yang menggunakan konjungsi urutan waktu, karena drama merupakan cerita yang ada alurnya. Alur ini biasanya digabung gabungkan memakai konjungsi atau kata hubung urutan waktu. Kemudian, lalu, setelah itu, selanjutnya. Di SpongeBob itu biasanya ada tulisan "Two years later" atau "200 years later", "2000 years later". Nah, di dalam bahasa Indonesia artinya 2 tahun kemudian, 2000 tahun kemudian. Kemudian merupakan konjungsi urutan waktu.

Enggak, mental. Ciri kebahasaan yang kedua adalah banyak menggunakan kata kerja yang menunjukkan peristiwa. Contohnya adalah menyuruh, menobatkan, menyingkirkan, dan lain-lain. Ciri-ciri kebahasaan yang ketiga adalah banyak menggunakan kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh. Contohnya menginginkan, merasakan, mengharapkan, mendambakan, dan lain-lain. Ciri-ciri kebahasaan yang keempat adalah menggunakan kata-kata sifat, karena kata sifat ini untuk menggambarkan tokoh, suasana, latar belakang. Jadi, contohnya adalah bagus, cantik, gagah, kuat, dan lain-lain. Dan ciri kebahasaan yang kelima atau yang terakhir adalah menggunakan kata ganti. Jadi, kata ganti tahu ya, kata ganti? Kata ganti contohnya adalah dia, iya, aku, mereka, kalian, kami. Nah, di dalam drama kita tidak mungkin kan terus-menerus menyebut nama tokohnya. Nah, nama tokoh itu bisa digantikan dengan pronomina atau kata ganti orang.

Demikian pemaparan materi drama kali ini. Mungkin materi tema kali ini akan ada episode selanjutnya ya, karena saya belum memaparkan apa itu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik dari drama. Nantikan di video selanjutnya. Demikian pemaparan dari saya. Apabila ada kesalahan, saya mohon maaf dan terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bye bye bye.

[Musik]