Transcription
Dan adapun materi pengantar kita pada malam hari ini, yaitu fikih Asmaul Husna, mengenal makna Al-Mutakabbir, yang insyaallah akan dibawakan oleh narasumber kita, yaitu Al Ustaz Dr. Maulana Laeda, Lc, MA.
Sebelum kita masuk ke materi pengantar, terlebih dahulu kita sapa ustaz kita. "Assalamualaikum, Ustaz."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Suara saya kedengaran ya, Ustaz?"
"Kedengaran, Ustaz. Alhamdulillah."
"Di sini hujan. Apakah di situ juga hujan?"
"Hujan juga di sini, Ustaz."
Tib. Sebelum mempersilakan ee narasumber kita untuk menyampaikan materi pengantarnya, terlebih kami mau mengingatkan kepada para peserta agar kiranya bisa menyiapkan pertanyaan yang berkaitan dengan tema kita pada malam hari ini. Pertanyaan bisa diketik di kolom komentar di Zoom, atau bagi yang ingin berinteraksi langsung dengan narasumber kita, bisa raise hand untuk nanti kami persilakan untuk berbicara.
Tayib. Untuk mengefisienkan waktu, selanjutnya kami persilakan kepada narasumber kita untuk menyampaikan materi pengantarnya. Kepada Ustaz, waktu dan tempat kami persilakan.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil alamin. Alhamdulillahilladzi hadana lihadza wama kunna linahtadi laula an hadana Allah. Ashadu alla ilaha illallahu wahdahu la syarikalah, wa ashadu anna nabiyana Muhammadan abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli wasallim alaihi wa ala alihi wa ashabihi waman tabi'ahum bi ihsan ila yaumiddin. Amma ba'du."
"Ya, terima kasih Ustaz atas mukadimahnya, juga kepada hadirin dan hadirat sekalian yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa taala atas kehadirannya pada kesempatan kali ini. Alhamdulillah, pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan mengkaji salah satu nama dari nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang terindah. Kajian kita pada kesempatan ini terkait dengan nama Allah Subhanahu wa taala, Al-Mutakabbir."
"Nama Al-Mutakabbir disebutkan oleh Allah satu kali dalam Al-Qur'an sebagai nama Allah. Dalam surah Al-Hasyr ayat 23, Dia berfirman, 'Huwallahul ladzi la ilaha illa huwal malikul qudusus salamul mukminul muhaiminul azizul jabbarul mutakabbir. Subhanallahi amma yusrikin.'"
"Di sini Allah Subhanahu wa taala menyebutkan tentang sifat zat-Nya. Dialah Allah yang tiada Tuhan yang berhak disembah selain-Nya. Dia adalah Maha Raja, Maha Suci, Maha Sejahtera, Maha Mengaruniai keamanan, Maha Memelihara, Maha Perkasa, Maha Kuasa, Maha Tinggi. Kemudian Al-Mutakabbir."
"Al-Mutakabbir bisa dimaknai dengan banyak makna. Bisa dimaknai dengan banyak makna. Tapi kalau kita memaknai dengan maha menyombongkan diri atau maha meninggikan diri, iya, maka itu semuanya bin J. Al-Mutakabbir bisa dimaknai dengan makna maha meninggikan diri. Itulah makna dari Al-Mutakabbir."
"Baik. Al-Mutakabbir berasal dari kata takabbara, yatakabbaru, yang memiliki asal kata dari kata alkibriya atau dari kata kabura yakburu, besar. Di antaranya di antara perubahan kosakatannya adalah menjadi alkibriya. Alkibriya bermakna al-adamah. Alkibir yang kita anggap atau yang kita maknai sebagai sombong, artinya meninggikan diri atau ketinggian diri. Adapun makna attakabbur adalah attaadzum. Artinya apa? Artinya adalah meninggikan diri sendiri. Meninggikan diri sendiri itu makna dari otak. Meninggikan diri sendiri dari apa?"
"Nah, ini para ulama rahimahullahu taala menyebutkan beberapa di antaranya makna Al-Mutakabbir atau takabbur adalah meninggikan diri dari seluruh keburukan. Di antaranya juga adalah meninggikan diri dari seluruh sifat makhluk. Artinya makna takabbara yatakabbaru di sini adalah meninggikan diri, menjadikan diri lebih mulia, menjadikan diri lebih agung dan lebih tinggi. Ini makna dari pet. Dan ini kemudian menjadi salah satu sifat dari sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala."
"Sebagaimana dalam Sahih Muslim, Rasul Allah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadis qudsi, 'Al-kibriya'u ridai, wal-'azamatu izari. Fa man yunaazi'uni fihi, azabtu man yunaazi'uni fihi.' Kibria atau ketinggian kesombongan itu merupakan pakaian yang melekat kepadaku, kata Allah. Demikian pula keagungan. Siapa, kata Allah, yang menyaingiku dalam berlaku sombong dan berlaku meninggikan diri di hadapan makhluk lain, maka Aku akan membinasakannya, lalu melemparkannya ke dalam neraka.'"
"Jadi sifat takabur ini merupakan kekhususan dan keistimewaan Allah Subhanahu wa taala. Kenapa? Karena sikap takabur ini adalah meninggikan diri, memuliakan diri di atas semua orang, semua makhluk. Dan ini hanya pantas bagi Allah. Dan dalam Al-Qur'an Allah Subhanahu wa taala banyak menunjukkan sikap takabur. Misalnya firmannya, 'Anallahu la ilaha illa ana fa'buduni.' Dia mengatakan, 'Saya adalah Tuhan yang tiada Tuhan yang berhak disembah selain Saya.' Ini bentuk takabur dari Allah Subhanahu wa taala. Ini bentuk takabur dari Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Aku. Itu bentuk ketinggian dan kemuliaan yang Dia angkat untuk zat-Nya di hadapan makhluk."
"Demikian pula dalam Ayat Kursi. Ayat Kursi itu semuanya merupakan bentuk takabbur atau kibriya dari Allah Subhanahu wa taala. 'Allahu la ilaha illa huwal hayyul qayyum.' Semua sampai terakhir dari Ayat Kursi itu merupakan bentuk takabbur dari Allah. Termasuk misalnya Allah mengatakan bahwa Dia satu-satunya pemberi rezeki, satu-satunya yang menciptakan, satu-satunya yang memberikan, memelihara bumi dan langit. Seluruh makhluk itu merupakan bentuk takabur dan kibriya dari Allah Subhanahu wa taala. Dia memuliakan diri dan meninggikan diri di hadapan makhluk. Apakah pantas bagi Allah? Itu sangat pantas. Pertama, karena Dia adalah Maha Sempurna. Dia adalah Maha Sempurna. Tidak ada yang seperti ini. Semua yang ada ini adalah ciptaan-Nya, milik-Nya. 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.' Sesungguhnya kita ini semuanya milik Allah. Oleh sebab itu, Allah pantas, sangat pantas untuk bersikap takabur atau kibriya, meninggikan diri, memuliakan diri di atas seluruh makhluk."
"Hanya saja sikap kibria ini atau sebelum itu, kibriya ini kemudian atau takaburnya Allah, kibriya-nya Allah dimaknai oleh ulama dengan lima pandangan. Pandangan pertama, bahwa makna takaburnya Allah adalah Dia memuliakan diri dari seluruh kebutuhan. Artinya Allah memuliakan diri-Nya dengan mengangkat diri-Nya dari seluruh kebutuhan, bahwa Dia tidak akan mungkin berbuat buruk dan tidak akan mungkin ditimpa keburukan. Yang kedua, bahwa Dia memuliakan diri dari kezaliman hamba-hamba-Nya. Dia meninggikan diri sehingga tidak ditimpa oleh kezaliman hamba-hamba-Nya. Yang ketiga, Dia adalah pemilik terbesar. Jadi takaburnya Allah adalah Dia menegaskan bahwa hanya Dialah satu-satunya pemilik kebesaran dan keagungan. Yang keempat, dari makna takabur ini, takaburnya Allah adalah Dia meninggikan diri dan menjauhkan diri dari sifat-sifat makhluk. Di antara maknanya juga adalah Dia memuliakan diri, mensucikan diri, menghindarkan diri dari atau ya, Dia meninggikan diri di atas hamba-hamba-Nya yang durhaka. Dia meninggikan diri di atas hamba-hamba-Nya yang durhaka dan berlaku sombong."
"Jadi ini semua merupakan makna dari takaburnya Allah Subhanahu wa taala yang disebutkan oleh para ulama. Jadi takabur ini merupakan sifat khusus dan keistimewaan Allah Subhanahu wa taala. Karena Dialah satu-satunya yang berhak untuk sombong. Dialah satu-satunya yang berhak untuk membanggakan diri, memuliakan diri, dan meninggikan diri. Karena Dia Maha Sempurna. Adapun makhluk-Nya, maka dia tidak pantas untuk berbuat sombong dan meninggikan dirinya, memuliakan dirinya di atas. Kenapa? Karena makhluk ini tempatnya salah dan lalai. Makhluk adalah sosok yang serba kurang. Jadi kalau dia berbuat sombong, apa yang disombongkan dari diri? Tidak ada. Apa yang dia bisa sombongkan? Apakah kegantengannya? Itu kegantengannya tidak sempurna. Dia tidak bisa apa-apa dengan kegantengannya. Sangat terendah. Apakah kecerdasannya? Itu tidak akan pernah sempurna. Itu semua ciptaan Allah. Jadi dia makhluk tidak boleh kemudian berbuat sombong."
"Dan sombong dalam kategori makhluk memiliki dua makna. Disebutkan dalam hadis Bukhari Muslim dari hadis Abdullah ibn Mas'ud radhiallahu anhu, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, 'Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada sebiji zarah kesombongan.' Bayangkan, ada sebiji zarah kibir, kesombongan, kebanggaan diri, ketinggian diri, itu tidak akan masuk surga. Kenapa? Karena makhluk tidak pantas, makhluk yang banyak kekurangannya, banyak kelalaiannya, yang dia tidak dia sendiri tidak tahu mau masuk surga atau tidak, dicintai Allah atau tidak, saleh atau tidak, itu tidak pantas untuk membanggakan diri sendiri, tidak pantas untuk berlaku sombong. Makanya sedikit saja dia memiliki kesombongan, maka dia telah menyaingi sifat Allah. Kata Allah, 'Siapa yang menyaingi sifat-Ku, sifat kesombongan-Ku ini, maka Aku akan melemparkannya ke dalam neraka.'"
"Jadi tidak boleh seorang pun untuk menyaingi sifat Allah dalam hal kesombongan dan ketinggian dan kemuliaan. Maka sebiji zarah kesombongan yang ada dalam hati seorang hamba itu langsung dianggap sebagai sikap menyaingi Allah Subhanahu wa taala. Kemudian di akhir hadis ini Rasulullah mengatakan, 'Al-kibru khuyala'u wal-khuyala'u fi nar.' Sombong itu cirinya ada dua. Yang pertama, menolak kebenaran. Yang kedua, meremehkan orang lain. Yang pertama, menolak kebenaran. Yang kedua, meremehkan orang lain. Tapi meremehkan atau menolak kebenaran ini kembali pada sikap meremehkan orang. Kadang kala kebenaran itu datang dari orang yang lebih rendah dari kita, tapi kita tidak terima. Itu dianggap sebagai sebuah kesombongan. Dan itu kembali pada sifat kita meremehkan pemberi nasihat."
"Oleh sebab itu, jemaah sekalian yang dimuliakan oleh Allah, kemurkaan Allah Subhanahu wa taala itu disebabkan oleh sikap kesombongan dan ketinggian diri. Ketika dia mengatakan Allah, 'Ana khairun minhu, khalaqtani min nar wa khalaqtahu min tin.' Wahai Allah, saya tidak bersujud kepada Nabi Adam, kepada Adam alaihissalam, karena saya lebih baik darinya. Meremehkan. Ini merupakan karakter meremehkan. Saya lebih baik darinya. Padahal persoalan lebih baik, lebih rendah itu urusan Allah. Hanya Allah yang tahu. Tapi iblis laknatullah alaih kemudian berlaku sombong di hadapan Allah. 'Saya lebih baik dari Adam. Engkau ciptakan saya dari api, sedangkan Adam engkau ciptakan dari tanah liat yang kotor yang menjijikkan.' Tentu, kata iblis, 'Saya lebih mulia.' Tentu, kata iblis, 'Saya lebih mulia daripada Adam.' Ini merupakan bentuk kesombongan. Ini merupakan bentuk kesombongan."
"Padahal iblis laknatullahi alaih tidak mengetahui, tidak sadar bahwa kemuliaan itu bukan dilihat dari asal, bukan dilihat dari asal usul, tapi kemuliaan itu dilihat dari hasil. Bukan asal usul, tapi dilihat dari hasil. Ya, dari hasil kehidupan kita, dari hasil pekerjaan kita, dari hasil usaha kita. Itulah kemuliaan. Ya, kalau kita melihat asal usul, maka manusia ini sangat rendah. Manusia ini sangat rendah. Diciptakan dari tanah, lalu kemudian itu diciptakan dari dari air mani. Sangat rendah. Tapi Allah Subhanahu wa taala menegaskan bahwa kemuliaan itu bukan dilihat dari asal usul, tapi kemuliaan itu dilihat dari hasil."
"Oleh sebab itu, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabau sering menyebutkan bahwa kemuliaan itu bukan dilihat dari asal Anda mana, dari daerah mana, dari keluarga yang mana, bukan itu. Tapi kemuliaan adalah hasil amalan yang Anda lakukan. Apa? Oleh sebab itu, orang yang berilmu itu mulia. Kenapa? Karena hasil dari usahanya menjadikan dia berilmu dan dia tidak perlu dilihat dari mana asal usulnya. Oleh sebab itu, iblis laknatullahi alaih kemudian melakukan kesalahan yang sangat besar. Pertama, dia menyangka bahwa dia lebih baik dari Nabi Adam. Yang kedua, dia tidak tahu, jahil, bahwa yang namanya kemuliaan yang hakiki itu berdasarkan hasil akhir, hasil usaha kita. Bukan berdasarkan asal usul."
"Tib. Jadi yang namanya kibir tidak boleh ada dalam hati seorang hamba. Yang namanya kibir tidak boleh ada dalam hati seorang hamba. Kapan ada dalam hati seorang hamba, maka dia telah menyaingi. Menyaingi Allah dalam sifat-Nya ini. Satu-satunya yang berhak untuk sombong, memuliakan diri di atas semua, membanggakan diri di atas semua adalah Allah Subhanahu wa taala. Karena Dia adalah Maha Sempurna. Dia pemilik segala sesuatu. Kapan seorang hamba meremehkan orang lain, sebagaimana iblis laknatullahi alaih, maka dia telah berlaku sombong. Bahkan Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa sumber dari segala keburukan adalah al-hasad wal-kibr. Sumber dari segala keburukan adalah kedengkian dan kesombongan."
"Jadi ciri kesombongan adalah yang pertama menolak kebenaran, menolak nasihat. Sedangkan yang kedua adalah meremehkan orang lain. Kapan Anda meremehkan orang lain, maka itulah kesombongan. Kapan Anda meremehkan orang lain, maka itulah kesombongan. Dan bentuk kesombongan ini sangat banyak. Termasuk berujub atau berbangga diri. Berbangga diri ini merupakan bagian dari kesombongan. Ya, berbangga diri ini merupakan bagian dari kesombongan. Hanya saja para ulama mengatakan bahwa berbangga diri ini terbagi dalam dua dua jenis. Kalau berbangga diri sambil bersyukur kepada Allah, maka ini dianggap sebagai bagian dari attahaddutsu binikmatillah. Ya, kita mengatakan, 'Masya Allah, alhamdulillah.' Segala puji bagi Allah. Misalnya, 'Anak saya telah lulus, anak saya telah menjadi seorang hafiz.' Itu bangga. Tapi ketika sambil memuji Allah, maka itu dianggap sebagai bagian dari 'Fatahadtsu binikmati rabbika.' Maka ceritakanlah nikmat karunia Tuhan. Tapi kalau berbangga diri sambil melupakan pemberi karunia, yaitu Allah. Berbangga diri sambil membungsungkan dada, sambil menyombongkan diri, maka inilah bangga diri yang tercela yang dianggap oleh Allah sebagai kibir, dianggap oleh Rasulullah sebagai sebagai kibir yang pelakunya pasti akan dijebloskan, dilemparkan ke dalam neraka jahanam. Kata Allah, 'Adkhiluu abwaba jahannama khalidiina fiihaa.' Ya, Aku akan melemparkannya ke dalam ke dalam neraka."
"Tib. Kemudian kalau kita mengetahui bahwa Allah memiliki sifat Mutakabbir atau nama-Nya Al-Mutakabbir yang bermakna zat Tuhan yang memiliki sifat kesombongan di atas seluruh makhluk. Zat yang meninggikan diri di atas seluruh makhluk. Zat yang memuliakan diri dari seluruh sifat-sifat yang ada pada makhluk. Kalau kita memahami ini, maka apa dampak positif yang harus ada dalam diri kita? Apa dampak positif yang harus ada dalam diri kita terhadap pemahaman nama Allah Al-Mutakabbir?"
"Yang pertama adalah ketika kita mengetahui bahwa Allah Al-Mutakabbir satu-satunya yang berhak untuk menjadi maha menyombongkan diri, kita harus memenuhi hati kita dengan sikap tawaduk kepada Allah. Kita harus memenuhi hati kita dengan sikap tawaduk kepada Allah Subhanahu wa taala. Dengan cara apa? Dengan merendah, merendahkan diri kepada-Nya dalam beribadah, taat kepada perintah-Nya dan menjauhi maksiat. Apalagi dalam hadis sahih Muslim dari jalur Alla ibn Abdurrahman Al-Kharqi dari ayahnya dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, 'Wa ma tawada'a ahadun lillahi illa rafa'ahullah.' Tidaklah seseorang merendahkan hati, merendahkan diri untuk Allah, melainkan Allah pasti akan mengangkat dirinya, memuliakan dirinya. Jadi hal pertama yang harus kita lakukan ketika kita mengetahui nama Allah Al-Mutakabbir dan sifat Allah attakabbur dan alkibriya adalah merendahkan hati, merendahkan diri di hadapan Allah dengan beribadah kepada-Nya, menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya."
"Kemudian yang kedua adalah merendahkan hati di hadapan makhluk Allah Subhanahu wa taala. Merendahkan hati di hadapan makhluk Allah. Kenapa? Karena satu-satunya yang berhak untuk berlaku sombong, untuk meninggikan diri adalah Allah Subhanahu wa taala. Adapun kita sebagai manusia tidak berhak untuk. Maka kita harus ber, merendahkan hati di hadapan seluruh makhluk. Tidak boleh meskipun kita memiliki ilmu yang sangat banyak. Tidak boleh kita kemudian meremehkan orang-orang yang kurang ilmunya. Meskipun kita memiliki jabatan yang sangat tinggi, kita tidak boleh meremehkan orang yang memiliki jabatan yang rendah. Kenapa? Karena kesombongan itu hanya milik Allah Subhanahu wa taala, bukan milik manusia. Bukan milik manusia. Kapan kita berlaku sombong, maka artinya kita telah menyaingi sifat kesombongan Allah dan kita pasti akan dijerumuskan ke dalam neraka. Kata Rasulullah tadi, sebiji zarah kesombongan ada dalam hati, balasannya adalah balasannya adalah neraka. Apalagi dalam hadis Rasulullah dalam Sahih Muslim, beliau juga bersabda, 'Innallaha auha ilayya an tatawada'u hatta la yafkhara ahadun ala ahadin wala yabu ahadun ala ahadin.' Rasul bersabda, 'Sesungguhnya Allah mewahyukan kepada agar kalian merendahkan agar kalian saling merendahkan hati, agar tidak ada orang yang merasa lebih tinggi dibandingkan yang lain dan agar tidak ada seorang pun yang menzalimi orang lain.'"
"Yang ketiga adalah merasakan rasa malu. Merasukkan rasa malu dalam hati. Merasukkan rasa malu dalam dalam hati. Rasa malu kepada siapa? Rasa malu kepada Allah Subhanahu wa taala. Kenapa? Karena meskipun kita ini memiliki ketinggian jabatan, memiliki ketinggian ilmu, memiliki ketampanan, kecantikan, kekayaan, tapi semua itu tidak ada apa-apanya di hadapan Allah Subhanahu wa taala. Semua itu tidak ada apa-apanya di hadapan Allah. Mau mau berlaku sombong, Anda harus malu kepada Allah. Anda harus malu kepada Allah. Oleh sebab itu, sifat malu ini harus ada dalam hati kita. Ketika kita memikirkan bahwa Allah Maha Menyombongkan, Maha Tinggi, Maha Meninggikan, maka kita harus merasa malu kepada Allah bahwa apa yang kita miliki tidak pantas untuk dijadikan sebagai faktor kesombongan. Karena itu tidak ada apa-apanya di hadapan Allah Subhanahu wa taala. Oleh sebab itu, rasa malu ini mesti ada dalam hati kita setelah kita mengetahui bahwa Allah adalah Al-Mutakabbir."
"Kemudian yang keempat adalah harus ada rasa takut dalam diri kita. Harus ada rasa takut dalam diri kita kepada Allah. Kapan kita berbuat dosa kepadanya? Ingatlah bahwa Allah itu Maha Menyombongkan diri. Allah kuasa untuk menghancurkan kita, membinasakan diri kita dalam ya dalam waktu yang sangat singkat. Harus takut kepada Allah karena Allah adalah satu-satunya yang menyombongkan diri, satu-satunya yang sempurna yang meninggikan dirinya sendiri, maka harus takut kepada Allah ya untuk tidak berbuat sombong, untuk tidak menzalimi orang lain. Kapan ada rasa takut kepada Allah, memikirkan bahwa Allah Maha Sombong dan bisa mencabut nyawa kita kapan saja, maka kita harus merasa takut kepada-Nya."
"Kemudian yang keempat adalah harus menanamkan keyakinan kepada Allah Subhanahu wa taala. Apa? Menanamkan keyakinan bahwa setiap hamba yang sombong maka dia pasti akan diazab oleh Allah Subhanahu wa taala. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat. Setiap hamba yang sombong yang menyombongkan diri maka dia pasti akan diazab oleh Allah baik di dunia ataupun di akhirat. Allah berfirman dalam Al-Qur'an. Sebagaimana kaum Ad yang menyombongkan diri di bumi tanpa hak, mereka mengatakan, 'Siapa yang lebih kuat dibandingkan dari kami?' Ini kesombongan. Iya. Siapa yang lebih kuat? Sebagaimana iblis? Dia mengatakan, 'Saya lebih baik dari Adam.' Siapa yang lebih kuat daripada kami? Tidak ada menurut mereka. Kemudian Allah mengatakan, 'Bukankah mereka mengetahui bahwa Allah yang menciptakan mereka lebih kuat dibandingkan daripada diri mereka?' Ya, jadi yang namanya kesombongan ini adalah petaka bagi orang. Oleh sebab itu, kita harus menanamkan dalam diri kita. Kita harus menanamkan dalam diri kita bahwa orang yang saleh, orang yang berbangga diri itu pasti akan diazab oleh Allah Subhanahu wa taala. Kalau tidak disegerakan di dunia, maka dia pasti akan diazab di akhirat juga. Allah berfirman tentang wafatnya orang-orang kafir, 'Ya ayyuhal ladziina amanu laa tusyrik billahi syai'an wa laa tatakabbara.' Orang-orang yang suka bermaksiat, orang-orang yang tidak taat kepada Allah akan dicabut nyawanya oleh malaikat dan malaikat akan mengatakan, 'Bim kuntum?' Kalian pada hari ini akan diazab dengan azaban yang menghinakan karena kalian telah berlaku sombong di atasku. Bahkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadisnya, kata beliau, 'Orang-orang yang suka menyombongkan diri, yang suka meninggikan diri, mereka akan dibangkitkan oleh Allah pada hari kiamat, amatsalu naml.' Seperti dalam bentuk yang sangat kecil, dalam bentuk tubuh yang sangat kecil sehingga manusia menginjak-injak mereka sebagai balasan daripada kesombongan mereka. Karena dalam kaidah Islam, 'Al-jaza'u jinsul 'amal,' balasan itu sesuai dengan jenis amal. Kapan Anda menyombongkan diri, maka pada hari kiamat Anda akan diinjak-injak. Oleh sebab itu, para hadirin dan hadirat sekalian, seorang hamba harus selalu menghayati, memikirkan, memperhatikan bahwa Allah adalah Maha Menyombongkan diri sehingga dia tidak boleh menyombongkan dirinya sendiri. Setinggi apapun jabatannya, semulia apapun dirinya, sekaya apapun hartanya, bahkan secerdas apapun otaknya, dia tidak boleh kemudian menyombongkan diri. Kapan dia menyombongkan diri, maka dia telah menyaingi Allah seperti halnya iblis laknatullahi alaih. Dan pasti akan dijermuskan oleh Allah ke dalam ke dalam neraka. Barakallahu fikum. Wa jazakumullah khairan. Kalau ada pertanyaan dipersilakan."
"Barakallahu fik, Ustaz. Rafdi. Baik, Ustaz. Ee syukran wa jazakumullah khairan atas materi pengantar yang telah dibawakan, Ustaz. Selanjutnya kita masuk ke agenda berikutnya, yaitu sesi tanya jawab. Jadi kami persilakan kepada para peserta, bagi para peserta yang memiliki pertanyaan agar kiranya bisa diketik di kolom komentar di Zoom, atau bagi yang ingin bertanya langsung kepada Ustaz, bisa raise hand untuk kemudian kami persilakan untuk berbicara. Tib."
"Eh, kita mulai dari pertanyaan pertama, Ustaz, dari hamba Allah. Afwan, Ustaz, apakah ada sifat sombong yang diperbolehkan, Ustaz? Misalnya seorang ibu yang membangga-banggakan anaknya yang lanjut di luar negeri, hafiz, atau punya pekerjaan yang bagus. Apakah itu hukumnya boleh?"
"Pertanyaan membanggakan anak kita yang kuliah di luar negeri, yang menjadi hafiz Al-Qur'an, yang tamat dari pesantren, ya, yang kum laut, dan lain-lain. Apakah boleh? Tadi kita sudah sebutkan, kalau membanggakan anak kita sambil bersyukur kepada Allah dengan lisan dan hati, sambil bersyukur kepada Allah dengan lisan dan hati, mengatakan, 'Alhamdulillah, anak saya lulus dari luar negeri, anak saya menjadi penghafal Al-Qur'an, anak saya begini dan begini,' atau saya sendiri, 'Alhamdulillah dapatkan rezeki dengan syukur di lisan dan di hati,' maka ini tidak dianggap sebagai bagian dari kesombongan. Kenapa bukan bagian dari kesombongan? Karena ketika dia menyebutkan karunia itu, dia mengembalikannya kepada Allah Subhanahu wa taala. Dia mengembalikannya bahwa semua ini tidak mungkin terjadi kecuali karena adanya anugerah dari Allah dengan rasa syukur. Tapi kalau ketika menyebutkan hal yang membanggakan tersebut sambil melupakan Allah, sambil melupakan Allah, atau sambil menyombongkan diri, walaupun lisannya mengucapkan alhamdulillah tapi hatinya ingin dipuji. Ya, ada orang banyak seperti itu. Alhamdulillah. Ditulis di Facebook, di Instagram. Alhamdulillah. Padahal inginnya dipuji. Misalnya syukurnya cuma di lisan, tapi hatinya ingin dipuji, menyombongkan diri, maka orang yang seperti ini dianggap telah sombong. Dianggap telah telah sombong dan ujub. Oleh sebab itu, hal ini tidak diperbolehkan. Ya. Adapun yang pertama tadi, maka dia merupakan bagian dari firman Allah, 'Fatahadtsu binikmati rabbika.' Ceritakanlah nikmat dan karunia Allah kepada dirimu, tapi sambil bersyukur kepada Allah dengan lisan dan hati. Adapun kalau tanpa menyebut nama, tanpa menyebut Allah, tanpa bersyukur kepada Allah dengan lisan dan hati, atau dengan lisan saja tapi hati tidak bersyukur, maka orang yang seperti ini atau kebanggaan yang seperti ini adalah kebanggaan yang dianggap sebagai bagian dari kesombongan, sebagai bagian dari ujub, sebagai bagian daripada kebanggaan yang negatif."
"Bab, apakah ada kesombongan yang diperbolehkan? Ya, memang ada hadis yang diif yang ee mengatakan bahwa sombonglah kepada orang yang sombong. I atau kesombongan kepada orang yang sombong itu bukan merupakan kesombongan. Atakabbur al mutakabbir. Tapi hadis yang seperti ini adalah hadis diif. Hadis yang seperti ini hadis hadis yang diif. Intinya seorang hamba harus ya seorang hamba harus ee merendahkan hati kepada siapapun. Harus merendahkan hati kepada siapapun. Ya. Adapun menunjukkan kekuatan kepada orang-orang yang meremehkan kita, maka itu diperbolehkan dalam beberapa kondisi ya. Menunjukkan kekuatan kepada orang-orang yang meremehkan kita, maka itu diperbolehkan. Tapi itu bukan dalam bentuk kesombongan. Itu bukan dalam bentuk kesombongan. Tapi sebagai bentuk menunjukkan kekuatan. Misalnya Rasulullah dalam umratul qada, umrah pada qada pada tahun ke-7 Hijriah. Rasulullah kemudian menyunahkan namanya ittiba. Ittiba itu ketika tawaf memperlihatkan bahu kanan. Memperlihatkan bahu kanan dan berlari-lari. Tujuannya apa? Untuk menunjukkan kepada kaum Quraisy yang saat itu masih kafir bahwa para sahabat kaum muslimin ini walaupun mereka melaksanakan perjalanan jauh tapi otot mereka masyaallah ya sangat otot mereka sangat kuat, mereka masih bisa berlari-lari. Artinya mereka ini sangat kuat. Itu namanya menunjukkan ya ee menunjukkan kekuatan dan menunjukkan kekuatan kepada orang yang meremehkan kita ya itu tidak dianggap sebagai kesombongan, tidak dianggap anggap sebagai kesombongan. Hanya saja ya jangan kemudian kita juga dalam hati saya ya agar kemudian ee dipuji agar tidak ya itu hanya semata agar mereka tidak meremehkan kita. Cukup itu saja. Adapun sambil menyombongkan diri ya agar dipuji, maka itu sudah masuk dalam kategori kesombongan. Baik."
"Baik, Barakallahu fik, Ustaz. Syukran wa jazakumullah khairan untuk pertanyaan jawaban atas pertanyaan pertama. Selanjutnya kita beralih ke pertanyaan berikutnya dari hamba Allah. Ee Afwan, Ustaz, mohon nasihatnya. Saya terbiasa untuk mengabaikan salat, tapi hari ini saya berhasil untuk salat lima waktu. Apakah ada cara untuk menguatkan hati saya sebelumnya?"
"Masyaallah. Barakallahu fik. Baik. Keselamatan seorang hamba terletak pada konsistensinya dengan kewajiban. Kapan Anda konsisten dengan kewajiban, Anda selalu walaupun tanpa mengamalkan amalan-amalan yang sunah. Kapan Anda konsisten dengan kewajiban dan menjauhi maksiat, Anda selamat. Walaupun tidak mengamalkan amalan sunah itu, Anda selamat. Karena yang namanya takwa itu menjalankan kewajiban dan menjauhi maksiat itu takwa. Adapun amalan sunah tentunya tetap urgen ya. Kita tidak katakan ya bahwa jangan ya tidak perlu amalan tidak tidak perlu amalan sunah misalnya tidak. Kita katakan amalan sunah tetap sangat urgen. Karena pertama menyempurnakan kelalaian kita dalam kewajiban-kewajiban kita. Yang kedua, meninggikan derajat kita di hadapan Allah Subhanahu wa taala. Yang ketiga, amalan sunah itu menjadi pembeda derajat antara kita dengan orang lain. Amalan sunah. Adapun kalau seseorang hanya melakukan kewajiban, maka itu sudah selamat insyaallah taala. Oleh sebab itu, memang kewajiban ini harus diperhatikan. Kapan konsisten dengan kewajiban, maka itu sudah sangat luar biasa. Itu sudah sangat luar biasa. Salat lima waktu ya itu sudah sangat luar biasa. Kalau ditambah dengan yang sunah-sunah itu juga sudah sangat luar biasa. Hanya saja sebaliknya, kalau meninggalkan amalan-amalan kewajiban, maka itu sangat berbahaya. Ya, salatnya bolong-bolong cuma empat kali dalam sehari, cuma tiga kali dalam sehari. Ini berbahaya dan Anda belum dianggap sebagai orang yang bertakwa. Ya, Anda belum dianggap sebagai orang bertakwa dan ini sangat berbahaya. Ya, oleh sebab itu harus tetap konsisten dengan ini karena ini merupakan rukun Islam. Ini merupakan rukun rukun Islam. Kalau seandainya salat saja kita tidak konsisten, maka mustahil kita bisa Islam. Karena salat ini adalah kata Rasulullah, 'Afḍalul 'amal.' Sebaik-baik amalan itu adalah salat. Tidak ada amalan yang paling tinggi selain salat. Oleh sebab itu ya seorang muslim wajib memperhatikan salat. Apalagi kalau sudah menjaga salat lima waktu, insyaallah selamat. Insyaallah selamat dunia dan akhirat. Iya. Tapi kalau melalaikan, ini kata Allah Subhanahu wa taala, dia akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan Firaun, dengan Haman, ya, dan dengan para pemuka tokoh-tokoh kekafiran. Oleh sebab itu, marilah tetap menjaga salat ya semampunya tentunya ya. Karena Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengatakan, 'Apa yang saya perintahkan maka lakukanlah.' Ya, semampunya. Tapi semampunya di sini artinya jangan e saya sakit tidak mau salat. Tidak. Walaupun sakit harus tetap salat semampunya. Iya. Kalau tidak mampu berdiri, duduk. Kalau tidak mampu duduk, ya salat berbaring. Ya. Kalau tidak mampu salat berbaring dengan isyarat, maka. Kalau tidak lagi mampu dengan isyarat mata, terpaksa harus disalatkan."
"Ib. Barakallahu fikum wa jazakumullah khairan. Tib, syukur wa jazakumullah khairan atas jawaban yang kedua. Selanjutnya kita beralih ke pertanyaan ketiga. Pertanyaannya adalah Ustaz, kadang ketika saya memulai untuk beribadah, misalkan puasa sunah atau salat tahajud atau salat di masjid, kadang terbetik di hati saya merendahkan orang-orang yang tidak melakukan amalan ibadah tersebut. Apakah hal itu dicatat oleh malaikat?"
"Hal yang seperti ini kadang ada dalam diri kita. Hal yang seperti ini kadang ada dalam diri kita. Oleh sebab itu, kalau sudah ada bisikan dari setan terkait ini, maka secepatnya dihilangkan. Maka secepatnya dihilangkan. Kalau sudah dihilangkan, maka insyaallah kita tidak mendapatkan dosa. Hanyalah lintasan dalam pikiran kita. Hanyalah sebuah lintasan dalam pikiran kita. Ya, misalnya salat, tiba-tiba terlintas, 'Saya ini lebih utama dari si fulan. Saya ini lebih banyak beribadah dari si fulan.' Kapan ada lintasan pikiran seperti itu, segera hilangkan. Kalau hilang, maka Anda tidak mendapatkan dosa. Itu hanyalah dianggap sebagai lintasan pikiran. Tapi kalau sampai tertanam dalam hati, tertanam dalam pikiran, terus terbawa dalam pikiran kita, 'Saya lebih utama dari si fulan.' Anda tidak berusaha untuk menipisnya atau menghilangkannya, maka itu akan tercatat di pada oleh malaikat bahwa Anda telah menyombongkan diri ya. Bahwa Anda telah menyombongkan diri atau meremehkan orang lain walaupun itu dalam hati. Makanya Abu Ubaidah ibn Jarrah dikisahkan bahwa ketika beliau menjadi imam, saat menjadi imam ya terlintas dalam pikirannya bahwa dia itu lebih baik daripada para makmum yang bermakmum di belakang. Bayangkan, setelah salat dia mengatakan, 'Mulai hari ini saya tidak akan mengimami kalian.' Ya, karena hal itu menjadi faktor dia merasa lebih mulia dibandingkan dari dari orang itu. Oleh sebab itu, kalau lintasan pikiran ditepis cepat karena itu kadang ada, maka itu bukan sebuah kesombongan. Itu hanyalah lintasan dan was-was dari setan. Adapun kalau tertanam dalam hati, pikiran ya, dan dijadikan sebagai ee bahkan dijadikan sebagai sebuah keyakinan, maka itulah yang menjadi sebuah ya kesombongan yang akan dicatat sebagai dosa oleh para malaikat. Tib."
"Ustaz. Syukran wa jazakumullah khairan atas jawaban dari pertanyaan ketiga. Selanjutnya pertanyaan keempat dari hamba Allah. Mohon sarannya, Ustaz. Tips agar bisa selalu mengerjakan salat tahajud. Salat hajat sebaiknya dikerjakan kapan dan adakah doa-doa khususnya?"
"Jadi dua pertanyaannya, Ustaz, tentang tips salat tahajud dan salat hajat. Tib. Barakallahu fikum. Iya. Dengan cara banyak caranya ya, dengan tidur cepat, berazam ya, berazam untuk salat, kemudian tidur cepat, lalu kemudian kalau merasa tidak bisa bangun, maka salat witir 3 rakaat setelah isya. Salat witir 3 rakaat setelah setelah isya. Intinya adalah azam, niat, lalu tidur cepat, lalu kemudian kalau merasa tidak bisa bangun, maka salat witir setelah isya. Dan inilah yang diajarkan dalam oleh para ulama, kalau setelah isya itu, maka salat sunahnya setelah salat sunah rawatib hendaknya melaksanakan salat sunah witir tiga rakaat. Salat sunah witir tiga rakaat. Dan inilah juga yang diwasiatkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kepada Abu Hurairah, 'Hendaknya dia salat witir 3 rakaat sebelum sebelum tidur.' Adapun salat tahajud, maka salat hajat itu adalah salat yang dikerjakan ketika kita mendapatkan kesulitan. Dalam Sunan Abi Daud, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, 'Kana Rasulullah sallallahu eh Hudzaifah ibn Yaman radhiallahu anhu mengatakan, kana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam idza abahu amrun sha.' Dahulu Rasulullah kalau ditimpa suatu persoalan yang sulit, maka beliau akan salat. Beliau akan melaksanakan salat ditimpa musibah, ditimpa kesulitan, ee ditimpa kesedihan, maka beliau akan salat dua rakaat. Iya. Salat inilah yang dikenal pada masa sekarang sebagai salat hajat. Iya. Kapan dilaksanakan ini salat hajat? Pertama, dilaksanakan kapanpun, gitu ya. Tapi asal jangan dilaksanakan antara salat asar sampai tenggelamnya matahari, atau salat subuh sampai terbitnya matahari. Ini tidak dibolehkan. Kapanpun Anda sedih, kapanpun Anda ee kesulitan, mendapatkan musibah, maka silakan salat dua rakaat kapanpun selain dua waktu yang kita sebutkan. Tapi waktu yang paling utama adalah pada malam hari di akhir malam. Adakah doa-doa khususnya? Tidak ada doa khususnya. Tidak ada doa khususnya. Silakan berdoa dengan doa apa saja, baik dalam salat atau di setelah salat. Silakan berdoa dalam sujud untuk dimudahkan dan doanya disesuaikan dengan kesulitan yang kita dapatkan. Doanya disesuaikan dengan hajat yang kita inginkan. Barakallahu fikum."
"Bab, ustaz. Syukran atas jawaban dari pertanyaan keempat. Mungkin kita lompat ke pertanyaan dari Mustamin, Mustamin, karena beliau ada pertanyaan yang relate sama pertanyaan sebelumnya, yaitu sarannya Ustaz, bagaimana kalau ketika bangun malam selalu, tapi ketika mau salat lail tiba-tiba mata tertutup berat, berat mata ini sehingga menunda sampai tertidur lagi."
"Ya, itu hal biasa. Itu merupakan hal biasa. Itu merupakan hal biasa yang berat. Oleh sebab itu, hendaknya berwudu. Hendaknya berwudu. Kalau sudah berwudu, insyaallah akan semangat ya. Kalau sudah berwudu, akan semangat ya dan tidak akan berat. Barakallahu fik, ustaz. Cifan atas jawabannya. Selanjutnya kita beralih ke pertanyaan berikutnya dari Zulfitar Asdi. Pertanyaannya, afwan, Ustaz, izin bertanya, apa saja amalan untuk menjauhi berbagai jenis penyakit hati?"
"Amalan untuk menjauhi berbagai penyakit hati. Pertama, mengikhlaskannya. Berusaha untuk mengikhlaskan. Itu yang pertama. Yang kedua, berusaha agar amal ibadahnya tidak diketahui orang lain. Kalau sudah terbiasa amal ibadah kita tidak perlu diekspos, maka itu artinya Anda tidak dikenai riya. Sedangkan beribadah dengan ibadah sunah tanpa harus diketahui oleh orang, artinya kita memiliki satu amalan yang tidak diketahui orang lain. Berzikir, beristigfar 100 kali tanpa diketahui orang lain. Bersedekah setiap minggu Rp50.000 tanpa harus diketahui orang lain. Kalau sudah terbiasa dengan amalan-amalan yang seperti ini, beramal tapi tidak perlu diketahui orang lain, maka Anda akan dijauhkan dari berbagai macam jenis penyakit hati. Jadi ini latihan yang pertama adalah berusaha untuk mengikhlaskan hati diri. Yang kedua, memiliki amalan yang tidak diketahui oleh orang. Kemudian yang ketiga, banyak membaca Al-Qur'an dan berzikir. Banyak membaca Al-Qur'an dan berzikir. Karena semua ayat Al-Qur'an itu merupakan syifa' lima fil fuduri, ya, obat dari apa yang ada dalam dada. Baik."
"Barakallahu fik, ustaz. Syukran jazakumullah khairan atas jawaban dari pertanyaan keenam. Selanjutnya kita beralih ke pertanyaan berikutnya, Ustaz. Ee pertanyaannya adalah, apa nasihat Ustaz bagi kita sebagai pendakwah yang memegang bara api di zaman sekarang? Saya lelah, Ustaz, terutama dengan keluarga. Karena setiap kali kami melaksanakan syariat, mereka selalu mengejek dengan perkataan, 'mabuk agama, sok suci,' dan sebagainya. Bisa diulangi, Ustaz, Rafdi?"
"Insyaallah. Ee Ustaz, apa nasihat Ustaz bagi kami selaku pendakwah yang memegang bara api di zaman sekarang, Ustaz? Saya capek, Ustaz, terutama dengan keluarga. Sering kami melaksanakan syariat, misalnya tidak bersentuhan dengan lawan jenis, tapi mereka selalu mengejek dengan perkataan, 'mabuk agama,' atau 'sok suci.' Ustaz, baik."
"Kalau mereka mengatakan seperti itu, maka tidak perlu dipedulikan. Tidak perlu dipedulikan dan tidak perlu sering-sering berkumpul dengan mereka. Harus ya seperti itu ya. Yang pertama, tidak perlu dipedulikan. Kata Allah, kata Allah kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, 'Janganlah engkau merasa sempit dan merasa sedih atas apa yang mereka lakukan kepadamu.' Tidak perlu dipedulikan, ya. Jangan bersedih, ya. Karena mereka adalah orang jahil. Mereka tidak tahu apa-apa. Ya, jadi tidak perlu dipedulikan. Itu yang pertama. Yang kedua, tidak perlu sering-sering bersama dengan mereka. Tidak perlu sering-sering bersama dengan dengan bersama dengan mereka pada hal-hal yang sangat urgen saja. I tidak perlu kemudian ya sering-sering kalau mereka memang berlaku demikian. Hendaknya kita itu sering-sering duduk dengan orang-orang yang saleh. Baiknya keluarga kita atau bukan keluarga kita. Jangan sering duduk bersama mereka, cukup sekali-kali pada hal-hal yang sangat urgen. Ya, apalagi pada masa sekarang. Pada masa sekarang, kalau kita sering-sering duduk dengan orang-orang yang seperti itu, bisa saja kita terpengaruh. Bisa saja kita terpengaruh. Baik terpengaruh dalam ibadah kita ataupun terpengaruh dengan akhlak kita. Kalau bukan ibadah kita, bukan konsistensi kita yang terpengaruh, maka akhlak kita juga akan terpengaruh. Baik."
"Barakallahu fikum. Tib, ustaz. Syukran atas jawaban pertanyaan ketujuh. Selanjutnya kita beralih ke pertanyaan berikutnya, Ustaz, dari Panda. Bismillah. Jika suka posting foto hasil masakan atau kue dan di-upload ke sosial media dengan niat untuk memotivasi, apakah termasuk pamer dan sombong, Ustaz? Misalnya ee caption-nya dengan duit Rp10.000, alhamdulillah sudah bisa masak A, B, C, D."
"Baik. Secara hukum asal itu bukan kesombongan. Secara hukum asal itu bukan kesombongan. Tadi kita sudah sebutkan, kalau sambil bersyukur kepada Allah dan memberikan info kepada orang lain terkait apa yang kita lakukan yang bukan yang penting bukan privasi, ya ini juga ini juga ya ee hal yang mesti dilakukan, yang mesti diperhatikan ya. Bahwa yang di-upload di Facebook itu bukan hal yang privasi. Privasi di sini adalah pertama, hal yang memalukan. Yang kedua, hal yang bisa memberikan mudarat pada kita. Hal yang memalukan termasuk aurat. Termasuk aurat. Kemudian hal yang memberikan mudarat termasuk nomor rekening, i, itu bisa memberikan ya rom atau password. Kalau sudah itu privasi yang tidak boleh di. Baik. Hal-hal yang seperti ini pada hukum asalnya bukan sebuah kesombongan. Bukan sebuah kesombongan. I hanya saja kalau jumlahnya banyak ee ini dikhawatirkan akan terjatuh ke dalam tiap upload foto dirinya sendiri. Masyaallah ya. Pergi umrah ada 50 status di Facebook atau Instagram dirinya berfoto di hadapan Ka'bah. Masyaallah. Ya, ini problem karena itu sangat berpot berpotensi untuk ada dalam kesombongan. Itu sangat berpotensi untuk terjatuh ke dalam kesombongan ya. Tiap amalnya diupload, tiap masak diupload. Ah, itu problem. Tapi kalau sekali-kali, sekali-sekali memberikan kabar, maka itu hal biasa ya. Itu hal biasa. Barakallahu fikum."
"Baik, Ustaz. Syukran wa jazakumullah khairan atas jawaban dari pertanyaan ke-delapan. Selanjutnya kita beralih ke pertanyaan berikutnya, Ustaz, dari Khairun Nisa. Bismillah. Ustaz, izin tanya. Apakah yang harus dilakukan oleh seorang anak perempuan apabila mendapati keluarganya tidak sepemahaman dengan dirinya? Ia ingin mendakwahi mereka. Akan tetapi anak perempuan itu lemah, masih belum bisa untuk mendakwahi."
"Barakallahu fikum. Barakallah fik. Semoga dimudahkan. Semoga dimudahkan insyaallah. Yang pertama, pada awalnya kita juga semua semuanya sama seperti saya juga dulu seperti ini. Saya juga seperti ini. Hanya saja yang perlu kita lakukan adalah pertama, memperkuat ilmu dan iman kita. Itu pertama, memperkuat ilmu dan iman kita. Sering hadir di di kajian di majelis ilmu untuk menambah ilmu, baik offline ataupun online ya. Kemudian memperkuat iman kita dengan banyak beribadah. Yang kedua, selalu melekat dengan orang-orang yang saleh. Selalu melekat dengan orang-orang yang yang saleh. Kalau seandainya orang tua kita tidak sepaham, sepemahaman dengan kita, saudara-saudara kita tidak sepemahaman dengan kita, maka milikilah orang tua dan saudara-saudari yang jangan sepemahaman dengan kita. Bisa ustazah kita kalau perempuan, bisa ee teman-teman kita, teman kuliah, teman sekolah, teman sepesi. Yang penting mereka adalah orang-orang yang saleh. Jadikan mereka sebagai pengganti saudara-saudari kita, saudari kita kalau perempuan. Jadi, pertama adalah memperkuat ilmu dan iman. Yang kedua adalah bersahabat dengan orang-orang yang saleh. Karena sahabat yang saleh inilah yang akan menyelamatkan kita, yang akan ee selalu memotivasi kita, yang akan mengeluarkan kita dari ee banyak kesulitan. Yang ketiga, iya, yang namanya berdakwah itu adalah keinginan. Tapi kadang kala kita tidak bisa melakukannya karena kita masih lemah. Memang itu hal biasa. Oleh sebab itu, ya, oleh sebab itu berdakwahlah semampunya. Berdakwahlah semampunya. Pahamkan i keluarga kita bahwa inilah jalan yang benar, inilah ibadah yang benar, inilah karakter yang yang benar. Ya, tapi tidak boleh kita berlaku keras, sedikit demi sedikit. Sedikit demi sedikit. Baik."
"Barakallahu fik. Baik, Ustaz. Syukran wa jazakumullah khairan atas jawaban dari pertanyaan ke-9. Ee mungkin kita harus pertanyaan lagi, Ustaz, sebelum kita tutup, pertanyaan dari ee Mustamin. Afwan, Ustaz, izin bertanya. Bagaimana cara membantingi diri agar tidak mudah marah apabila anak dan istri melakukan kesalahan yang sudah berkali-kali padahal sudah diingatkan?"
"Baik. Iya. Hal yang seperti ini bisa dipelajari dalam persoalan manajemen manajemen marah. Manajemen marah. Bahwa dalam persoalan marah ini ada tiga hal. Yang pertama, kesalahan kecil yang tidak berdampak apa-apa. Yang kedua, kesalahan kecil yang bisa berdampak besar. Yang ketiga, kesalahan besar. Adapun kesalahan kecil yang tidak berdampak apa-apa, maka itu tidak perlu dipedulikan. Tidak perlu dipedulikan. Iya. Jangan marah, apalagi jangan pedulikan, apalagi marah, tidak dipedulikan. Kesalahan kecil yang berdampak besar, maka ini harus ditegur. Harus ditegur tapi tidak dimarahi. Adapun kesalahan besar, maka itu dimarahi. Adapun kesalahan besar sudah dalam bentuk kemaksiatan, maka itu pantas bagi kita untuk ini tiga jenis kesalahan dan cara penyikapannya. Itu secara bagaimana kalau kita kemudian marah ya. Kalau sudah marah, maka pertama ya pertama menahan amarah. Pertama menahan amarah. Karena perintah Rasulullah, 'La taghdab.' Janganlah marah. Artinya janganlah menampakkan amarah. Karena setiap kita sebagai manusia, setiap kita pasti memiliki amarah. Orang yang tidak marah itu adalah orang yang tidak normal, orang yang kelainan. Setiap kita pasti memiliki amarah. Hanya saja harus ditahan. Itu amarah disimpan dalam hati dan tidak dilampiaskan. Kalau sudah marah, maka simpan dalam hati dan jangan lampiaskan. Itu yang pertama. Yang kedua, beristi'adzah kepada Allah. Beristi'adzah kepada Allah. Yang ketiga, berganti posisi. Kalau sedang berdiri, usahakan duduk atau dalam rumah, rumah, usahakan duduk. Insyaallah itu semua akan mendinginkan mendinginkan otak. Kemudian ya di antaranya juga yang keempat adalah berwudu. Sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis, hendaknya ketika marah ber, mengingat Allah dan berwudu. Karena amarah itu laksana api yang berasal dari setan, maka harusnya didinginkan dengan air wudu sebagaimana dalam beberapa hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Barakallahu fik."
"Ustaz wakaumullah khairan atas jawaban yang telah diberikan. Ee sekali lagi kami ucapkan syukran wa jazakumullah khairan kepada narasumber kita karena telah menyempatkan waktunya untuk memberikan materi kepada kita pada malam hari ini. Dan juga kami ucapkan syukran wa jazakumullah khairan kepada seluruh peserta, seluruh viewers, seluruh partisipan yang telah menyempatkan dirinya untuk bergabung pada kita pada malam hari ini. Dan bagi yang bertanya juga kita tutup ee ee kita tutup pertemuan kita pada malam hari ini dengan masing-masing membaca doa kafaratul majelis. Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."