📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Konsultasi Syariah - Seputar Pembahasan Umum | Ust. Sirajuddin Qasim, Lc., M.H.

WahdahTV32:21

Transcription

[Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] Ya ayyuhalladzina aman.

[Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sahabat TV yang Insyaallah Subhanahu Wa Ta'ala. Apa kabar Anda di kesempatan sore hari ini? Ya alhamdulillah ya, semoga kabar kita semua di penghujung hari yang berkah ini dalam keadaan sehat walafiat dan terlimpahkan segala kebaikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Sebagai kali kembali kita bisa menyimak live streaming di channel dakwah kesayangan kita, yaitu Wahda TV, dalam program Konsultasi Syariah. Program persembahan dewan Syariah Wahdah Islamiyah untuk kita bisa bertanya atau berkonsultasi permasalahan hari ini. Temanya seputar umum atau kontemporer. Dan alhamdulillah, seperti biasa, kita ditemani narasumber kita dari dewan Syariah Wahdah Islamiyah. Kali ini bersama narasumber kita di komisi umum dewan Syariah Wahda Islamiyah, yaitu Al Ustadz Sirajuddin Qosim LC MH, fizahullah. Assalamualaikum warahmatullahi. Semoga juga sahabat-sahabat dimanapun berada juga dalam keadaan yang sama. Insya Allah, supaya kita bisa mengikuti apa program kita pada sore hari ini. Untuk Anda bisa bertanya atau berkonsultasi seputar permasalahan umum atau kontemporer. Nah, kami tunggu pertanyaannya via pesan WhatsApp dan juga kolom komentar live streaming yang Anda simak saat ini. Untuk pesan WhatsApp 0823 444 5117, seperti yang tertera di layar kaca Anda. Dan juga di kolom komentar live Facebook streaming YouTube yang Anda simak. Baik, kita langsung ke pertanyaan yang sudah masuk sambil menunggu juga pertanyaan dari Anda sahabat. Kita ke pertanyaan yang sudah ada ini. Sebelumnya, ini semuanya pertanyaan yang tersisa dari episode sebelumnya. Izin bertanya, bagaimana jika kita pernah mengajarkan ilmu kepada seseorang, namun orang yang kita ajar tersebut menggunakan ilmu tersebut dengan buruk? Apakah si pengajar mendapatkan dosa jariyah atas perbuatan orang tersebut? Memang baik atau tidak? Atau para pemirsa sekalian yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kita langsung saja jawab pertanyaannya. Disampaikan tadi tentang ilmu yang kita ajarkan kepada seseorang, lalu kemudian disalahgunakan. Tentunya ilmu yang diajarkan itu bisa ilmu yang asalnya baik, bisa juga ilmu yang asalnya buruk. Kalau ilmu yang asalnya buruk, kemudian disalahgunakannya, memang sepertinya seperti itu peruntukannya ya. Jadi otomatis orang yang mengajarkannya berdosa, dan orang yang mengamalkannya juga tentunya berdosa. Hanya saja yang mengajarkan ini bisa mendapatkan dosa yang berlipat ya, karena orang yang pernah diajarkan kesalahan itu cara berbuat maksiat. Misalnya, dia mengajari seseorang bagaimana supaya bisa korupsi, bagaimana trik-triknya supaya bisa korupsi. Maka dia sebagai orang yang mengajarkan jelas berdosa, dan yang melakukannya juga akan menitipkan dosa untuknya. Makanya dalam surah An-Nahl itu kan disebutkan, di hari kiamat mereka akan datang membawa dosa-dosa mereka, pikul dosa-dosa mereka dan dosa-dosa orang yang pernah dia sesatkan. Diajari sesuatu yang buruk. Adapun jika yang diajarkan adalah ilmu yang bermanfaat ya, hanya saja ada kemungkinan disalahgunakan ya. Seperti banyak sekarang kita lihat ya, para ilmuwan, para pakar, bahkan akademisi, kemudian juga ada yang sudah menjadi apa namanya, orang-orang penting yang duduk di parlemen, sudah menjabat ya, bahkan jabatan yang luar biasa dengan ilmu yang dia dapatkan. Yang sepertinya ilmu itu bermanfaat seharusnya ya, tetapi karena disalahgunakan, kecerdasannya disalahgunakan ya, akhirnya dia mendapatkan dosa. Adapun yang mengajarkannya, maka dia tidak berdosa selama niatnya memang dia mengajarkan sesuatu yang baik ya. Misalnya, seseorang yang melatih muridnya untuk apa namanya, bisa membelah dirinya, latihan bela diri, gunanya untuk membela diri ya, dan hal-hal yang buruk yang mungkin bisa ya dalam kondisi tertentu kita diperhadapkan ya, sehingga darurat kita harus memanfaatkan ilmu yang pernah kita gunakan. Mungkin itu tidak masalah kalau untuk membela diri. Tetapi kalau orang belajar bela diri untuk menzalimi orang lain ya, maka orang itu mendapatkan dosa. Adapun gurunya, tergantung apa yang dia niatkan. Kalau memang niat mengajari murid-muridnya supaya bisa bermanfaat ya ilmunya itu untuk membela dirinya, untuk membela keluarganya misalnya ketika bepergian dengan kejayaannya ya, dia bisa menjaga keluarganya dengan juga anak-anaknya, maka itu insya Allah bermanfaat. Wallahu.

Baik, insya Allah, terima kasih untuk jawabannya. Kita ke pertanyaan berikutnya dari akun YouTube Rafilia. Ustadz, bagaimana jika ada yang beranggapan bahwa orang-orang non-Muslim yang ada di luar negeri atau mungkin di daerahnya masing-masing yang memang mayoritas non-Muslim, Ustadz, itu katanya tidak termasuk kafir karena belum mengenal Islam secara sempurna, sehingga mereka bisa masuk surga? Katanya ini gimana nih? Atau cara agar kita dan keluarga ini bisa terhindar dari fitnah pemikiran yang seperti ini?

Nah, ini pertanyaan yang penting ya untuk kita jawab bersama. Jadi sekarang ini Islam sudah sampai ke berbagai tempat di pelosok-pelosok, bahkan sehingga tidak ada lagi alasan untuk mengatakan saya tidak paham apa itu Islam. Dikhawatirkan itu hanya karena memanjakan syahwatnya, hawa nafsunya untuk hidup bersenang-senang dan dia mengabaikan Islam. Bahkan kalau kita lihat saat ini, bagaimana Islam semakin munculnya mencuat, entah karena sisi negatif yang musuh-musuh Islam angkat bahwa Islam itu agama yang intoleran dan sebagainya. Justru ini memancing banyak orang yang kemudian mempelajari Islam dan tertarik ini masuk Islam ya. Jadi kalau ada orang yang sudah mendengarkan tentang Islam, bahkan mungkin sudah ada dakwah dia dengar, tetapi dia jadikan alasan bahwa dia belum mengenal Islam karena tidak dipelajari. Ini tidak bisa dibenarkan. Apalagi kalau dikatakan orang itu tetap masuk surga ya. Kunci surga itu iman. Ini harus dipahami. Kunci surga itu pertama iman, berikrar bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala ialah satu-satunya berhak disembah dan nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah rasulnya yang harus ditaati. Dan selain daripada ini, tidak ada orang bisa masuk surga kecuali Ashabul Fath Raya dahulu ya, antara satu risalah dengan risalah berikutnya karena memang tidak sampai ke situ nabinya dan risalah itu. Maka itu Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang memutuskan ya. Tapi kalau sekarang Islam sudah sampai berbagi penjuru dunia ya, tinggal orang-orang itu yang perlu dipertanyakan apa yang membuat mereka tidak belajar, apa yang mereka eee apa membuat mereka kemudian lalai untuk mengenal Islam. Alhamdulillah sekarang dakwah begitu semarak di mana-mana. Kita bisa dengan mudah untuk dapatkan, bahkan dengan media sosial ya. Anda berada di tengah-tengah rumah Anda di kamar Anda bisa mendengarkan tentang Islam. Jangan sampai mereka-mereka itu sudah sampai kepada mereka teknologi yang luar biasa, tetapi mereka lebih banyak membuka hal-hal yang tidak penting untuk dibuka, dilihat, dibaca dibandingkan mencari jati dirinya. Apakah dia sebagai seorang manusia yang punya tujuan hidup di dunia? Karena fitrah manusia itu ketika dilahirkan oleh ibunya adalah fitrah yang suci. Bahwa mereka punya ilah, mereka yakin dengan fitrahnya bahwa ada yang menciptakan langit dan bumi, ada yang menciptakan seluruh makhluk. Tidak mungkin begitu rapi teratur pergantian siang dan malam kecuali ada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang mengaturnya. Itu fitrah manusia. Sehingga ini memotivasinya untuk mencari dan mencari tentang jati dirinya. Jadi kalau ada yang sampai tidak berusaha untuk mencari jati dirinya, itu karena sifat takabur atau syahwat syahwat duniawi yang membuatnya terhalang dari hidayah. Orang-orang kafir saja dahulu di zaman nabi kita Shallallahu Alaihi Wasallam dan di zaman orang-orang musyrik terdahulu itu, kalau ditanya siapakah yang menciptakan langit dan bumi, mereka mengatakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tapi mereka tidak mau menyembah Allah, mereka menyembah kepada berhala. Sama juga ketika mereka di daratan menyembah berhala, tapi pada saat tertentu di mana tidak ada lagi pelarian ya, seperti di tengah laut ketika mulai diombang-ambingkan ombak, mereka tidak bisa lagi melihat berhalanya di daratan, akhirnya mereka ikhlas ya berdoa hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Karena itu fitrah manusia. Ombak besar ya, mulai menggoncang mereka di atas kapal-kapal itu, tiba-tiba saja mereka tulus ikhlas memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Jadi ini perlu diluruskan ya. Kalau ada yang mengatakan mereka-mereka yang tidak beriman kepada Allah Ta'ala masuk surga, ini pemikiran-pemikiran liberal yang tidak boleh masuk ke rumah kita. Itu akan merusak kita, merusak keluarga kita, dan juga anak-anak kita. Allah Ta'ala.

Baik, Masya Allah, terima kasih dan penjelasannya. Berikutnya ada pertanyaan dari sahabat kita di akun WhatsApp. Ustadz, jadi begini Ustaz, kami dalam beberapa waktu ke depan akan di-PHK, kehilangan pekerjaan karena perusahaan memang akan berhenti beroperasi. Di satu sisi, kami paham tauhid Ustadz, bahwa segala sesuatu itu sudah ada dalam pengaturan Allah. Tapi di sisi lain, sebagai manusia biasanya karena kurang ilmu juga ya, kami masih saja khawatir. Ini bagaimana kami akan menjalani atau bahkan menafkahi keluarga nantinya setelah di-PHK, Ustaz? Mohon pencerahannya dan juga mungkin tips yang sehat bagaimana agar kami bisa memperkokoh keimanan tauhid sekaligus bisa mengikis kekhawatiran yang sering muncul itu? Mohon pencerahan. Jazakallah Khairan.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengatakan, "Siapa yang bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka Allah akan berikan solusi dari setiap persoalannya dan akan memberikan dia rezeki dari arah yang dia tidak sangka-sangka." Dikuncinya bahwa memang hidup di dunia itu kita akan berhadapan dengan banyak persoalan. Kita akan dilelehkan. Dunia ini memang tempat untuk bersusah payah ya, untuk lelah karena begitulah dunia diciptakan. Karenanya ketika Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengatakan kepada Nabi Adam tentang iblis, "Jangan sampai iblis ini menyebabkan kalian berdua," Nabi Adam dan Hawa, keluar dari surga, "lalu kalian celaka." Tapi ada juga yang mengartikan di situ dari kata masyaqqah, bahwa jangan sampai kalian dikeluarkan dari surga lalu diturunkan ke bumi, lalu banyak sekali persoalan hidup dihadapi. Nah, di sinilah kemudian hadir risalah Nabi kita Shallallahu Alaihi Wasallam diutus oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk membuat kita merasa lega. Bahwa ada risalah yang memberikan kita petunjuk. Yang bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan menjaga perintah-perintah Allah ya, menaati perintahnya, menghindari larangan-larangannya, menjaga dirinya dari fitnah-fitnah dunia, maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu janjinya ya, janji Allah bahwa pasti akan Allah berikan solusi dari setiap persoalannya. Jadi, kalau misalnya seperti yang ditanyakan bahwa ke depan ada ancaman-ancaman duniawi. Nah, ini sifatnya duniawi. Dan selama kita masih hidup di dunia, insya Allah rezeki itu akan mengalir. Hanya saja, hanya saja ini catatannya bahwa kalau kita ingin rezeki itu adalah rezeki yang berkah yang hadir yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan kepada kita, maka jadikan dulu diri kita ini memang berhak untuk mendapatkan rezeki yang berkah itu. Karena jangan sampai kita berharap rezeki yang berkah tapi diri kita ini tidak berhak. Artinya bahwa kita ini bergelimang maksiat, dosa, bahkan mungkin berbuat syirik, lalu tiba-tiba kita mengharap adanya rezeki yang berkah. Itu mustahil. Perbaiki dulu dari kita, perbanyak tobat dan istighfar kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sucikan jiwa kita agar Allah Subhanahu Wa Ta'ala melihat bahwa ada niat yang baik ya, ada di dalam hati keinginan bahwa dengan rezeki yang Allah berikan kita akan manfaatkan untuk kemaslahatan keluarga kita, anak-anak kita, menafkahi mereka untuk kebaikan dunia dan akhirat mereka. Jika Allah melihat sesuatu yang baik dalam hati kita, maka Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita. Jadi, ikhlaskan dunia, bertakwa kepada Allah dengan tulus demi ketaatan kepadanya. Biarkanlah Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan kita apa yang Allah lihat paling kita butuhkan. Karena sesungguhnya Allah lebih tahu tentang kebutuhan kita daripada diri kita sendiri. Allah Subhanahu Wa Ta'ala kadang-kadang tidak memberikan kita rezeki yang kita harapkan dalam bentuk materi, tetapi Allah memberikan sesuatu yang lainnya. Sepertinya menurut kita mungkin tidak lebih penting dari materi, tidak dapat kita butuhkan, tapi bagi Allah itu lebih penting bagi Anda. Anda meminta kepada Allah supaya dilapangkan rezekinya untuk membeli kendaraan misalnya. Allah tidak berikan, tetapi Allah palingkan kita dari sebuah musibah yang sudah ditakdirkan untuk menimpa kita karena doa kita. Allah Subhanahu Wa Ta'ala palingkan dan musibah itu, dan itu lebih baik menurut Allah. Tapi menurut kita mungkin ada sesuatu yang lain yang lebih kita inginkan. Tapi Subhanallah, pilihan kita mungkin baik menurut kita, dan Allah jauh lebih baik. Dan ini prasangka baik. Iman kita kepada Allah harus diperkokoh. Apalagi dengan tantangan kehidupan sepertinya akan lebih berat, maka memperkuat pertahanan dengan iman itu menjadi sesuatu yang peniscayaan harga mati istilahnya. Dan itu butuh butuh usaha, butuh untuk selalu mengkondisikan tuan rumah kita dengan lingkungan imani. Kalau sebelumnya mungkin ada musik, ada nyanyian, ganti dengan murottal, yang tidak ceramah-ceramah. Kalau sebelumnya kita punya teman-teman yang agak-agak mudah membuat kita terjatuh dalam kelalaian, ganti dengan pergaulan yang lebih baik. Dan itu bisa kita dapatkan di masjid, orang-orang saleh itu yang selalu bolak-balik ke masjid ya, dari pekerjaannya, dari kantornya, pulang ke rumah ke masjid lagi. Dan waktu kita lihat di masjid di luar waktu salat ada pada pekerjaan yang bermanfaat yang apa namanya, yang yang halal, maka ini kita cari ya. Karena sehebat apapun kita, sekuat apapun iman kita, kalau pergaulan kita rusak, maka itu bisa mengikisnya iman kita sehingga bisa menjadi lemah. Nah, ini kita tidak bisa menghadapi persoalan-persoalan hidup kita dengan baik. Allah Ta'ala.

Baik, Masya Allah, terima kasih jawabannya. Ini menjadi pertanyaan terakhir, Ustaz, dari akun Facebook Nur Salam. Semoga Ustadz, pembawa acara, rekan Wahda TV, dan semua pemirsa mendapat rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Iya, berkaitan dengan iman, ilmu, dan ibadah. Kalau iman seseorang itu kan bisa berkurang, bisa bertambah, Ustaz. Itu apakah kalau ilmu dan ibadah juga demikian?

Yang menarik ya, terkait imannya jelas ya, aqidah kita bahwa iman itu yazidho'al, yang iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan. Ilmu juga seperti itu. Ilmu itu bertambah kalau kita mencari terus ya, mempelajarinya, menghafalnya, mendengarkannya, itu akan bertambah. Dan ilmu itu akan berkurang juga dengan maksiat. Maksiat itu akan menyebabkan ilmu-ilmu kita itu berkurang karena ilmu itu ibarat cahaya dan maksiat itu kegelapan, sehingga tidak bisa menyatu. Ketika maksiat yang dominan, maka akan meredupkan cahaya ilmu itu. Ketika ilmu itu yang dominan, maksiat itu ditinggalkan, maka itu akan menerangi hati kita, menerangi jalan hidup kita. Jadi sebagaimana iman, iman itu berkurang dan maksiat. Sebenarnya ilmu juga begitu. Ilmu itu berkurang karena maksiat. Apa yang sudah kita hafalkan akan kita lupakan, seperti apa yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala jadikan hukuman bagi Bani Israil ya, tentang bagaimana pembangkangan mereka dan tidak patuhnya terhadap Ahad, perjanjian mereka dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Akhirnya mereka melupakan apa yang telah diberikan peringatan kepada mereka, ilmu-ilmu yang telah mereka pelajari dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala karuniakan kepada mereka, mereka lupa itu karena pembangkangannya mereka lakukan. Imam Asy-Syafi'i mengatakan kepada gurunya, "Aku pernah mengadukan kepada guruku tentang melemahnya hafalanku." Maka beliau memberikan petunjuk kepadaku agar meninggalkan maksiat, lalu mengatakan, "Ketahuilah bahwa ilmu itu adalah nur, cahaya. Dan cahaya Allah itu tidak diberikan kepada para kemaksiatan." Anda juga begitu. Saya kira jelas ya, bahwa ibadah itu adalah sumber keimanan juga. Jadi iman itu bertambah kan kita katakan tadi dengan ketaatan dan ibadah-ibadah yang kita kerjakan dengan menjiwainya dengan baik, dengan tulus dan ikhlas, insya Allah itu akan menambah keimanan kita. Selama ibadah itu sah dari segi hukumnya dan kita penuhi syarat-syarat, rukun-rukunnya, bahkan kita sempurnakan yang sunah-sunahnya, tentunya dengan ikhlas dan khusyuk, maka itu akan menambah keimanan kita. Tatkala ibadah ini kita abaikan, kita lalaikan kewajiban kita, itu akan melemahkan iman kita, bahkan juga bisa melemahkan ilmu kita. Jadi ini saling terkait sebenarnya ya. Ibadah sebagai sumber keimanan, dan ibadah itu memotivasi kita untuk menuntut ilmu ya. Kenapa? Karena menuntut ilmu untuk jalan yang terbaik. Masalah kerikan yang termasuk barang siapa yang meniti jalan untuk menuntut ilmu karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan memudahkan jalannya menuju ke surga. Kenapa? Karena penuntut ilmu itu semua aktivitasnya akan bernilai ibadah. Ketika dia bangun tidur, mulai berniat, bersiap-siap untuk hadir di semua majelis, maka itu semua aktivitas yang mulai dari mandi, segarkan badannya dengan niat supaya bisa hadir tanpa ada rasa kantuk, kemudian dia persiapkan alat-alat tulisnya, disiapkan bukunya, itu semua adalah persiapan yang bernilai ibadah. Ketika dia membaca, membacanya adalah ibadah, ketika dia menghafal itu juga adalah ibadah, berusaha untuk memahami persoalan itu juga adalah ibadah. Sehingga memang pantas ya, menuntut ilmu ini ibadah yang dikatakan jalan pintas untuk menuju surga Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ibadah ya, jelas meningkatkan keimanan kita. Menuntut ilmu juga sangat potensial meningkatkan keimanan kita. Jadi saling terkait ya, tiga poin yang disebut.

Baik, Masya Allah, terima kasih jawabannya. Baik, sahabat Wahda, para pemirsa TV yang ingin Masya Allah, menarik apa yang kita simak, apa yang kita saksikan, dan perjumpaan kita sore hari ini di penghujung hari yang berkah, hari Jumat ini. Maka cukup sekian untuk perjumpaan kita karena kita dibatasi waktu. Begitulah narasumber kita ada agenda yang cukup jauh jaraknya dari sini. Insya Allah. Jadi, insya Allah, apa yang sudah masuk pertanyaan yang sudah masuk ini ya, kami akan save lagi untuk episode berikutnya. Jadi, silakan tonton terus program Konsultasi Syariah, program persembahan dewan Syariah Wahdah Islamiyah, setiap hari Senin sampai dengan Jumat, jam 4 sore waktu Indonesia bagian tengah, live hanya di channel dakwah Wahdah TV. Dan narasumber kita dari dewan Syariah Wahdah Islamiyah. Masya Allah. Episode berikutnya dimanapun berada, tak lupa kami ucapkan terima kasih banyak yang sebesar-besarnya atas segala atensi dan partisipasinya. Mohon maaf atas kekurangan. Dan live stream ini Anda bisa simak ulang, tonton ulang di waktu yang Anda bisa sisihkan untuk bisa mengambil pelajaran dan manfaat dari pertanyaan-pertanyaan dan juga jawaban dari narasumber kita. Dan silakan jangan lupa dukungan untuk channel kita ini dengan cara share, like, comment, and subscribe channel kita Wahda TV. Kita tutup dengan dua kavalet 5 majelis. Subhanallah. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

[Musik] Apa? [Musik] Audzubillahiminasyaitonirrojim. [Musik] Bismillahirrahmanirrahim. [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Musik]