📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Unlock The Future: Capaian & Roadmap AI Indonesia

Radio Elshinta50:33

Transcription

Jadi peta jalan ini nantinya akan jadi sebuah pedoman atau bagaimana? Iya, pedoman untuk sektor-sektor mengadopsi itu, kan? Nanti ada pendidikan, ada kesehatan, transportasi, ada energi, dan lain sebagainya, di mana teknologi AI ini akan dipakai.

Nah, saya ingin mengatakan bahwa dengan perkembangan demikian, kita bisa belajar, gitu, ya, apa yang harus kita lakukan. Tidak hanya menjadi user, tapi kita juga bisa menjadi developer dari yang namanya AI ini. Kita enggak mau negara kita jadi pasar, sementara kita enggak mengambil benefit yang lebih besar.

Pernah ada satu berita itu, berita online, gitu. Beritanya bagus sekali, lancar, alur logis yang sangat bagus. Tapi dia lupa waktu di dari ChatGPT itu, dia lupa bahwa ada prompt yang dis-suggest yang diusulkan oleh ChatGPT. Apakah Anda ingin versi lebih ringkas 180 kata? Itu muncul, muncul di situ, dan wow, ini AI, gitu, ya, kan?

Saya kira ada satu pedoman yang penting, ya, bahwa kita jangan sampai menjadi slave, jangan sampai menjadi budak dari AI ini. Kita harus menjadi master, gitu. Kita harus menjadi tuan atas teknologi AI.

[Musik]

Dalam rangka 1 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, hari ini kita akan membahas tentang capaian dan arahan kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran dalam bidang teknologi informasi dan kecerdasan buatan (AI). Dengan kemajuan teknologi yang pesat, bagaimana pemerintah memanfaatkan artificial intelligence untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mendorong langkah-langkah strategis dalam mengintegrasikan berbagai aspek kehidupan bangsa?

Nah, pagi ini kita akan bahas bersama Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Pak Nezar Patria. Halo, selamat pagi. Asalamualaikum, Pak Wamen.

Waalaikumsalam, Mas Wiro. Apa kabar?

Kabar baik, Pak Wamen, ya. Sehat, Pak Wamen, ya.

Alhamdulillah sehat. Ini terima kasih betul nih, karena kesibukan yang luar biasa. Tadi sebelum wawancara, beliau zoom dulu karena harus mengikuti beberapa kegiatan yang sudah terjadwal. Tapi sekali lagi, terima kasih karena memang betul bahwa ini sangat penting, Pak Wamen.

Betul, dan ini juga yang berkali-kali disampaikan oleh Presiden bahwa artificial intelligence, kecerdasan, apa, teknologi saat ini harus kita respon dengan sangat baik. Nah, bagaimana Kementerian Komunikasi dan Digital merespon hal itu, Pak Wamen?

Betul. Iya. Ee, jadi kita melaksanakan perintah presiden, ya, karena ee artificial intelligence ini ee salah satu teknologi baru yang sudah masuk ke ee sedemikian kuat, ya, ke dalam masyarakat dan mempengaruhi berbagai sektor. Ee, terjadi secara global juga, gitu, ee, di mana ada hype tentang artificial intelligence ini, ee, terutama dipicu oleh penggunaan generative AI 3 tahun terakhir ini, ya. Kita kenal ChatGPT semakin, semakin masif penggunaannya dan semakin cerdas, semakin pintar, semakin cepat juga. Dan adopsi teknologi AI ini sudah berlangsung di berbagai sektor dan sudah terasa sejumlah disrupsi yang di, di, apa, disebabkan oleh penggunaan artificial intelligence ini.

Ee, jadi saya kira tepat sekali apa yang disampaikan oleh Presiden Prabowo bahwa Indonesia, ee, jangan sampai tertinggal dalam soal, ee, adopsi teknologi AI ini. Dan, ee, Kementerian KOMDI mencoba menerjemahkan perintah Presiden itu dengan serangkaian, ee, program, ya, termasuk kita juga membuat, ee, peta jalan, ee, AI nasional yang, ee, nantinya akan menjadi semacam panduan atau navigasi kita dalam mengembangkan dan mengadopsi teknologi ini.

Jadi, memang pemerintah sudah sangat serius sekali merespon hal ini supaya ini justru, ee, bukan menjadi kita bodoh, ya, bukan seperti itu. Karena kan kebanyakan orang menggunakan itu untuk mempermudah, jadi kita malas berpikir. Nah, itu yang sedang dilakukan pemerintah supaya kita enggak malas, gitu, ya?

Betul. Betul. Jadi, memang, ee, AI ini ada dua sisi, ya. Yang pertama, dia, ee, bisa menolong kita, membantu manusia untuk mempermudah pekerjaan-pekerjaan dan juga, ee, membantu manusia untuk, ee, melakukan optimasi, gitu, ya, dalam setiap, ee, proses bisnis, terutama di perusahaan, ee, dan di berbagai sektor lain, gitu. Ee, namun demikian, ada juga efek yang ditimbulkan oleh artificial intelligence, terutama generative AI, ee, yang berbasis dengan LLM, gitu, ya, last language model, di mana kita bisa berinteraksi, bercakap-cakap dengan, apa, mesin, ee, AI ini, seperti ChatGPT, misalnya. Dan banyak orang kemudian tergantung. Anda bisa bayangkan, Mas Wiro, ee, banyak mahasiswa yang memakai AI untuk mengerjakan, ee, skripsi, tesis, es, dan itu juga terjadi di dunia media, ya. Ada banyak wartawan sekarang menulis berita dengan AI, gitu. Dan, ee, mungkin ini bahayanya kalau kita tidak aware, ee, kita tidak memelihara yang namanya critical thinking, ya, berpikir kritis kita sebagai manusia, gitu, ya. Ee, itu bisa saja terjadi kita diperbudak oleh AI ini. Dan itu terjadi karena juga sejumlah orang malas, kemudian untuk berpikir dan segalanya diserahkan pada AI.

Pernah ada satu berita itu, Mas Wiro baca di website, gitu, ya, berita online, gitu, mungkin dibuat dengan AI. Beritanya bagus sekali, lancar, dengan, ee, apa, alur logis yang sangat bagus, gitu, ya. Iya. Quality jurnalisme sekilas, sekilas, wah, ini bagus sekali. Iya. Tapi dia lupa waktu dia copy dari ChatGPT itu, dia lupa bahwa ada prompt yang dis-suggest yang diusulkan oleh ChatGPT itu, kan? Ada, apakah Anda ingin versi lebih ringkas 180 kata? Itu muncul, muncul di situ, dan wow, ini AI, gitu, ya, kan? Ya. Jadi, ya, itu ini, ini karena kemalasan, gitu, karena kemalasan.

Jadi, yang benar adalah bagaimana AI ini, AI ini menjadi companion kita, menjadi teman, gitu, ya, menjadi teman, teman, menjadi partner, ee, untuk mempermudah, mempertajam, atau mungkin juga memberikan, ee, ee, apa, informasi-informasi baru, gitu, kan, atau membantu kita menstrukturkan satu persoalan, atau mempermudah kita membuat, ee, order, gitu, dalam, apa, logik yang kita bangun. Kalau kita bekerja untuk membuat tulisan dan lain sebagainya, AI sangat-sangat membantu untuk itu. Karena kalau manusia, mungkin kadang-kadang kita kan khilaf, atau kadang-kadang kita enggak melihat, ee, bahwa ada logika yang jumping atau salah, macam, tapi AI bisa, bisa menemukan hal-hal begitu.

Betul. Betul. Iya. Pak Wamen. Pak Wamen kan, ee, sebagai orang yang pernah menjadi jurnalis ternama, ya, ketika itu. Mungkin kalau kita flashback ke belakang, bagaimana jurnalis ketika itu dan sekarang, ya, Pak Wamen, ya? Ini barangkali yang menjadi kekhawatiran nanti, tadi persoalan malas, kemudian plagiat, dan lain sebagainya. Pak Wamen ini kan, ee, yang harus menjadi perhatian serius, bagaimana kemudian dibatasi secara penggunaan dan penggunaannya itu untuk apa, kan, gitu, ya?

Iya. Iya. Saya kira, ee, yang pertama, ya, tentu saja ada perbedaan, ya, penggunaan teknologi yang semakin masif, ee, sekarang ini, ya, ee, dengan adanya media sosial juga, dengan bergesernya industri media juga, ee, ada banyak perilaku-perilaku yang dulu mungkin, ee, sepertinya tabu, gitu, ya, sekarang menjadi biasa, gitu, ya. Ee, ya, misalnya itu tadi, ee, dulu kan kita enggak boleh menulis dengan, apa, ya, ee, contekan atau segala macam, gitu. Sekarang kan kita bisa bilang ChatGPT, ya, itu sebuah contekan, gitu, ya, dan kita ambil, gitu aja, dan kita kita tempel, lalu kita publish, gitu, ee, tanpa melakukan cek dan recek lagi, misalnya. Padahal AI ini kadang-kadang juga punya, ee, halusinasi, gitu, loh. Halusinasi. Dia bisa buat sesuatu hal yang, ee, tidak eksis di dunia. Tiba-tiba dengan kemampuan dia untuk melakukan imitasi atas realitas, gitu, ee, seakan-akan ada, gitu. Nah, ee, pekan lalu saya baca satu berita, ada satu badan atau lembaga konsultan, ee, asing, gitu, ya, ee, dia dikontrak oleh pemerintah di satu negara, Australia, kalau enggak salah, gitu, em, untuk membuat satu planning, gitu, dan dia menggunakan ChatGPT, salah satunya, gitu, dan ternyata berapa resource-nya itu fiktif, gitu, karena ditipu oleh ChatGPT membuat rujukan untuk satu data, ee, yang sebetulnya enggak pernah eksis, gitu. Nah, akibatnya, yaitu kontrak ratusan ribu dolar. Ee, akhirnya ini badan lembaga ini kemudian melakukan, apalah, revisi terhadap itu, dan, ee, dan mereka siap untuk mengembalikan uang kontra itu kalau memang kliennya tidak berkenan, gitu, ya. Jadi, ee, ya, itu, bahkan lembaga-lembaga riset yang sangat, sangat berprestasi, ya, dengan quality yang sangat tinggi, itu juga bisa kadang-kadang terpeleset ketika menggunakan AI. Tapi ada banyak juga yang sukses, ada banyak juga yang perfect, gitu, menggunakan AI, dan, e, ya, hasilnya, ya, luar biasa, gitu. Itu ada banyak juga, ya. Jadi, ini sangat tergantung bagaimana kehati-hatian kita dan sikap kita ketika menggunakan artificial intelligence, gitu.

Saya kira ada satu pedoman yang penting, ya, bahwa kita jangan sampai menjadi slave, jangan sampai menjadi budak dari AI ini. Kita harus menjadi master, gitu. Kita harus menjadi tuan atas teknologi AI ini. Iya.

Tetap, ee, kita tetap mengorbankan hati dan pikiran kita, ya, Pak Wamen.

Ya, betul. Heeh.

Oke. Nah, Pak, tadi, ee, peta jalan kecerdasan artifisial, ee, nasional yang sekarang sedang disusun pemerintah. Ee, apa sebetulnya melatarbelakanginya itu, Pak? Dan progresnya sejauh ini bagaimana?

Iya. Jadi, latar belakangnya karena perkembangan AI begitu cepat dan, ee, adopsi teknologi AI ini harus, ee, ada regulasinya juga, gitu. Dan itu terjadi di seluruh, ee, belahan dunia sekarang, ya, secara global. Ee, pengaturan soal AI ini, ee, terjadi baik di Amerika, di Eropa, di China, ya. Dan kita lihat secara geopolitik ini, US, ya, Amerika dengan Cina ini kan kompetisinya luar biasa. Kompetisi yang luar biasa. Dua-duanya, ee, punya kekuatan, ee, yang cukup signifikan untuk mempengaruhi lanskap, ee, ee, perkembangan teknologi artificial intelligence ke depan, gitu. Ee, tapi Amerika punya satu kekuatan dalam soal infrastruktur, terutama karena mereka menguasai industri semikonduktor yang saat ini mungkin belum bisa dikalahkan. Paling tidak sampai hari ini, ee, mereka bisa memproduksi GPU yang cukup, cukup kuat, dan ini, ee, computing power yang dibutuhkan dalam industri, ee, yang memakai artificial intelligence. Dan kita tahu, ee, China juga sedang mengembangkan satu, ee, GPU, gitu, ee, yang kuat untuk, untuk me-back up atau untuk mendukung, ee, ee, kluster komputasi yang mereka punya, ya. Ya, kita lihat beberapa waktu lalu kita dikejutkan munculnya Bipai, gitu, ya, untuk, ee, mengimbangi yang namanya ChatGPT. Dan mereka melakukannya dengan infrastruktur yang terbatas, gitu, dibandingkan dengan ChatGPT, gitu, tapi dengan hasil yang sama maksimalnya. Nah, itu menunjukkan bahwa, ee, computing power, kalau, ee, kluster komputasi yang isinya itu adalah digital talent yang, yang mumpuni, gitu, ya, itu, atau talent-talent digital yang, ee, yang tangguh, gitu, itu bisa mengalahkan juga kelemahan infrastruktur, gitu. Jadi, mereka memainkan di algoritmanya. Dan algoritma ini ada rumus-rumus matematik yang canggih, gitu, ya. Mereka bisa tweak, ee, formulasi matematiknya, dan kemudian hasilnya bisa sangat, ee, optimal, seperti yang dicapai oleh ChatGPT.

He. Nah, saya ingin mengatakan bahwa dengan perkembangan demikian, kita bisa belajar, gitu, ya, apa yang harus kita lakukan. Apa yang harus kita lakukan agar kita tidak hanya menjadi user, tapi kita juga bisa menjadi developer dari yang namanya AI ini. Kita bisa jadi deployer dari yang namanya AI ini. Kita enggak mau pasar kita, ee, atau negara kita jadi pasar, gitu, ya. Ee, untuk AI. Ee, sementara kita enggak mengambil benefit yang lebih besar dari teknologi ini. Kita punya, ee, populasi yang hampir 300 juta, ya, di tahun 2030 mungkin tembus 300 juta. Ee, dan ini tentu saja pasar yang sangat potensial untuk satu ekonomi digital yang akan tumbuh di masa depan. Dan proyeksi pertumbuhan ekonomi digital ini sendiri, kan, cukup, cukup, apa, ee, promising, gitu, ya. Ee, kita diproyeksikan di Asia Tenggara saja, ekonomi digital akan tumbuh sampai 1 triliun US Dollar, dan kita akan kontribusi terhadap pertumbuhan itu sekitar 40%, sekitar 366 miliar dolar, kurang lebih. Ee, dan ini tentu saja menjadi satu, apa, ya, satu harapan buat kita semua kalau kita siap. Apa yang harus kita siapkan? Ada dua hal. Yang pertama adalah human capital kita. He. Ee, sumber daya manusia kita, talent digital kita ini harus kuat dan harus cukup cakap juga menguasai yang namanya, ee, teknologi baru ini, termasuk artificial intelligence. Lalu yang kemudian kita harus mampu membangun infrastruktur industri AI. Nah, di sini mungkin, ee, kita akan berbicara lebih luas lagi, ya, termasuk dengan strategi industri teknologi kita sendiri, gitu, ke depannya. Nah, ini harus berjalan beriringan. Nah, dua hal ini kemudian akan menjadi backbone untuk membentuk satu ekosistem, ee, ekonomi digital yang ada di Indonesia. Tentu saja nanti, ee, di sana ada R&D, di sana ada investasi, dan lain sebagainya. Jadi, ee, saya kira saya cukup optimistis, ya, kalau ini bisa kita lakukan dengan tepat. Dan kita melihat juga Presiden memberikan semacam, ee, gestur yang cukup jelas bahwa kita harus bisa memimpin di bidang ini, setidaknya di, ee, regional, ya. Ee, jadi saya kira kita bersiap. Dan peta jalan nasional AI ini salah satunya adalah mencoba memberikan semacam arah dan koridor buat kita bahwa kita akan menuju ke penguasaan teknologi secara mandiri, gitu.

Iya. Jadi, peta jalan ini nantinya akan jadi sebuah pedoman atau bagaimana, ee, Pak Wamen?

Iya, pedoman untuk sektor-sektor mengadopsi itu, kan? Nanti ada pendidikan, ada kesehatan, transportasi, ada energi, dan lain sebagainya, di mana teknologi AI ini akan dipakai. Dan juga menjadi, ee, panduan untuk, ee, mengembangkan industri AI ke arah mana, dan lain sebagainya. Ee, jadi peta jalan ini, ee, bisa menjadi pegangan, gitu, ya, pegangan untuk ke arah, ee, ee, transformasi digital. Heeh. He.

Yang termasuk juga dalam visi besar yang sudah kita buat, yang kita sebut dengan Visi Indonesia Digital 2045, ee, yang sejalan juga dengan Indonesia Emas 2045, yang kita harapkan kita akan bisa, ee, menjadi negara yang cukup mandiri dalam soal ekonomi dan juga teknologi, ee, di tahun 2045. Nah, memang 2045 ini kan semacam satu garis imajiner yang kita buat, gitu, ya. Ee, kita bisa lebih cepat juga sampai ke sana, atau, gitu. Saya kira saya optimistis untuk soal ini, ee, sepanjang persiapan-persiapan itu kita lakukan mulai sekarang. Dan persiapan itu tentu saja, ee, akan sangat ditentukan dari 5 tahun sekarang ini, gitu, menjadi 2025 sampai dengan 2030. Saya kira akan menjadi satu, ee, critical times, gitu, karena dia akan menjadi bridging, ya. 2030 ke 2045 itu 15 tahun, ya. 15 tahun itu sebetulnya adalah masa-masa yang sangat dinamis dan menentukan. Tapi base-nya ditentukan, ee, di 5 tahun. Jadi, ini semacam jembatan untuk menuju ke pintu gerbang, ee, ee, masa-masa yang sangat produktif di 2030 ke atas.

Ada berapa, ada berapa hal di situ? Ee, Mas Wiro. Yang pertama, 2030 itu menurut para ahli ekonomi dan juga, ee, demografi mengatakan bahwa lapisan masyarakat yang produktif, usia produktif itu mungkin mencapai hampir 60% dari, ee, total populasi, ee, umur sekitar 17 sampai dengan 55. Gitu. Itu lapisan itu cukup tebal, dan ini adalah kekuatan produktif yang luar biasa buat bangsa kita. Dan ini yang disebut dengan bonus demografi, itu kan. Dan kita pelan-pelan ini sudah masuk ke sana, gitu. Nah, ee, ini tentu saja harus dikelola dengan baik untuk bisa mendapat manfaatnya. Jadi, ledakan tenaga produktif ini harus bisa menjadi, ee, apa, ya, ee, stepping stone buat kita, dan juga modal buat kita untuk bisa masuk ke, ee, negara yang lebih maju, keluar dari middle income trap, iya, kan, ee, menjadi negara yang maju. Nah, saya optimistis, ee, kalau kita tetap dengan visi ini, ya. He. Ee, dan kita semua solid sebagai bangsa untuk melihat ke depan, gitu, dan kita bekerja keras untuk sampai ke sana. Dan itu dibuktikanlah oleh bangsa-bangsa yang pernah mendapatkan bonus demografi ini, semisal Cina dan Jepang, gitu, ya. Jepang. Kita lihat setelah Perang Dunia Kedua, di tahun 60-an, 70-an, mereka menikmati, ee, satu, apa, ledakan demografi yang cukup, ee, signifikan, ya, untuk menopang ekonomi mereka sekitar 60 sampai 1960 sampai 1980. Dan kalau kita lihat Jepang pada hari ini, itu adalah yang dibangun pada masa-masa itu, ya. Dan 70, 80 mereka mulai start menjadi, ee, negara yang maju. Cina. Demikian juga setelah 80-an, kita lihat ada ledakan cukup besar, tapi mereka kan punya, punya apa namanya, ee, populasi yang cukup besar, gitu. Ee, tapi belakangan kan kita lihat juga bahwa mereka, ee, ternyata komposisi demografinya juga harus diisi dengan tenaga produktif lebih besar. Kalau dulu, ee, apa, kita kenal dengan polisi one one family, one child, apa, gitu, ya. Ee, sekarang, sekarang sudah boleh lebih, lebih dari satu. Itu membuktikan bahwa mereka membutuhkan satu tenaga yang besar juga ke depan. Jadi, ya, secara global kita menghadapi, ee, pergeseran-pergeseran dalam soal demografi, ee, di dunia. Ee, dan ini harus kita respon dengan cukup baik, karena, ee, resource secara ekonomi ini terbatas. Jadi, kita harus, ee, harus, apa? Punya strategi yang cukup tepat, gitu, ya. Kita punya kekayaan luar biasa pastinya, gitu. Enggak ada yang mendebat soal ini. Kita punya critical minerals di, apa, di Indonesia cukup banyak. Industri ekstraktif yang ada di negeri ini sudah menopang bangsa ini hampir 80 tahun, gitu, ya. Tapi tentu saja, resource ini, karena resource, sumber daya alam itu terbatas, ee, kita harus berpikir, kita harus punya satu strategi. Kita bukan hanya negara yang mengekspor bahan mentah, tapi kita juga harus melakukan downstreaming, hilirisasi. Dengan hilirisasi, misalnya, ee, industri-industri ekstraktif itu kita bisa membangun dua pilar yang penting untuk negara industri. Misalnya, industri baja yang kuat, industri petrokimia, yang nanti pada akhirnya akan menopang industri teknologi kita.

Iya, Pak Wamen. Ee, peta jalan artificial intelligence ini, AI ini, e, selesainya akan, ee, kapan? Adakah, adakah target tertentu?

Ee, dokumennya sudah dalam tahap finalisasi. Ee, saat ini sedang dibahas di Kementerian, ee, Hukum, ee, dan juga dengan sejumlah kementerian yang lain, gitu, dalam rangka, ee, kita kirimkan ke Setneg, gitu, ya. I. Jadi, pada tahap finalisasi. Jadi, kita coba berkoordinasi dengan berbagai kementerian, gitu, untuk persiapannya, gitu, loh, agar nanti ketika dia jadi perpres, dia, ee, cukup solid, gitu, dia tidak ada komplikasi hukum atau tumpang tindih, dan lain-lain, gitu.

Iya. Baik. Ini menarik sekali, karena memang ternyata kita sekarang sedang mempersiapkan berbagai infrastruktur. Karena yang selama ini dikhawatirkan adalah kita negara besar dengan jumlah penduduk yang sangat besar, kemudian, ee, perkembangan teknologi yang begitu sangat cepat. He. Tadi Pak Wamen juga menyinggung tentang bagaimana persaingan di dunia, Cina dan juga Amerika, ya, kecanggihan itu. Kita khawatir nih, sebetulnya, Pak, jangan sampai kita hanya menjadi objek mereka, kita hanya jadi penonton, tapi kita enggak bisa ngapa-ngapain, gitu, Pak. Jadi, dengan peta jalan AI ini, itu salah satu, e, cara kita untuk, betul-betul, setidaknya kita punya satu, ee, arah, gitu, ke mana kita akan menuju. Nah, peta jalan kan namanya peta, ya, membuat kita enggak tersesatlah, gitu, ya. Kita punya tujuan, dan ini akan memungkinkan kolaborasi antar sektor itu terjadi, dan kita bisa fokus kepada area, kepada, ee, program-program nasional yang strategis, gitu, ee, untuk bisa mengadopsi teknologi AI ini. Heeh.

Pak Wamen, tadi, ee, sebelum kita break, saya sampaikan ke Pak Wamen, nanti ada pertanyaan dari pendengar yang ingin disampaikan. Nah, kita coba, ee, dengarkan dari Aldriansyah, mahasiswa Universitas BSI. Ya, coba kita simak bersama, Pak Wamen, ya.

Perkenalkan nama saya Aldriansyah dari Universitas BSI. Saya sangat antusias melihat bagaimana teknologi AI berkembang pesat dan mulai diterapkan di berbagai sektor, termasuk di pemerintahan. Bagi generasi muda seperti saya, ini bukan hanya tentang kemajuan teknologi, tapi juga tentang harapan akan masa depan yang lebih efisien, adil, dan transparan. Saya pribadi merasa sangat terbantu dengan adanya teknologi AI, terutama dalam kegiatan kreatif seperti editing video, pembuatan video, dan ilustrasi gambar. Dengan AI, proses editing jadi lebih cepat dan efisien. Misalkan untuk membuat sebuah transkrip otomatis atau memotong sebuah video. Selain itu, AI juga memudahkan saya membuat sebuah video dari teks atau script sederhana. Bahkan bisa membuat menghasilkan ilustrasi gambar yang sesuai dengan ide saya. Meskipun saya tidak terlalu mahir untuk mendesain.

Silakan ditangkapi dulu, Pak Wamen.

Iya. Ee, saya kira itu yang disampaikan oleh Aldriansyah. Aldriansyah, ya. Adik mahasiswa kita itu, ee, betul, itu adalah gambaran bagaimana adopsi teknologi AI, ee, terjadi belakangan ini. Itu sangat banyak, apa, manfaatnya, ya. Dia menggunakan itu untuk mengolah video. Ee, dia menggunakan itu untuk kegiatan kreatif lain, ya. Ee, dia bisa membuat video dengan AI, bukan hanya melakukan editing. Ee, saya kira inilah bentuk-bentuk adopsi teknologi AI yang, ee, terjadi saat ini. Dan mungkin juga di luar itu, ya, di luar itu kita juga menyaksikan ada pembuatan-pembuatan video dengan menggunakan AI ini digunakan untuk disinformasi dan misinformasi. Ini juga perlu kita waspadai, ya, kita waspadai apa yang kita kenal sebagai AI deepfake, gitu, ya. Ee, deepfake, ee, di mana video itu dihasilkan oleh aplikasi AI yang sudah sangat sophisticated, sangat canggih, sehingga bisa membuat hasil video itu, gambar yang super realistis, gitu, ya. Ee, dan bisa meniru wajah kita juga, suara kita, gitu, ya, ee, dengan jadi wajah kita mungkin dipermak, gitu, atau mungkin juga pakai wajah orang lain, ya, dibuat mirip Donald Trump, Presiden Amerika, dimuat mirip dia, buat mirip pemimpin Cina, Xi Jinping, misalnya, dan mereka mengatakan sesuatu yang, ee, seakan-akan dunia akan perang, gitu, ya, ee, tapi sebenarnya itu tidak, tidak demikian. Ee, atau di tokoh-tokoh di dalam negeri itu bisa dibuat wajahnya dan juga ditiru suaranya dengan sangat persis, dan akan mengecoh orang yang kurang waspada terhadap, ee, apa, ee, apa yang diucapkan. Dan kita menerima laporan banyak, ee, kejahatan-kejahatan siber yang menggunakan AI ini, dan makin canggih, termasuk pembobolan rekening dengan menggunakan, ee, video call. Heeh. Ee, video call masuk ke seseorang, dan itu wajahnya mirip sekali dengan seseorang yang sangat terkenal, gitu. Dan dia mengatakan ingin memberikan bantuan sekian puluh juta, dan akan ditransfer ke rekening, lalu di, dan lalu diberikan nomor rekeningnya oleh si penerima telepon ini, video call ini. Lalu bukti transfernya tuh ditunjukkan kalau sudah, dan itu resitnya itu, bukti transfernya itu mirip sekali dengan logo bank, dengan segala macam. Pokoknya, ee, kita enggak bisa bedain mana sih, mana palsu, gitu. Tapi apa yang terjadi? Ternyata itu adalah, ee, penipuan. Dia minta supaya website itu tetap terbuka waktu login untuk melakukan apa? Pengecekan bank. Nah, dalam waktu sekian puluh menit dia biarkan terbuka, dan kemudian uangnya habis dikuras, disisakan tinggal beberapa ribu perak saja. Jadi, itu yang saya kira, ee, masih negatif, tadi, ya, Pak Wamen, ya? Iya. Jadi, kita harus berhati-hati, ee, dalam soal itu. Tapi tadi kan ada yang positifnya, ya. Ee, yang positif seperti yang dilakukan oleh Aldriansyah. Saya kira bagian itu kita harus support, bagian itu kita harus berikan, apa, ee, jalan, ya, ee, bagaimana kegiatan-kegiatan kreatif itu bisa, bisa, ee, lebih banyak dilakukan dan lebih menguntungkan, lebih memberi manfaat buat semua. Ee, dan kita bisa tunjukkan bahwa AI itu kalau kita kendalikan, ya, ee, terutama dikerjakan dengan panduan etis. Nah, ini, ini yang salah satu kata kunci yang penting di dalam, ee, peta jalan nasional AI kita. Jadi, penggunaan AI yang etis dan bertanggung jawab ini menjadi, menjadi hal yang, apa, yang harus, ya, dan wajib untuk diadopsi oleh para pengembang AI, ee, dan pengguna AI.

Iya. Saya bacakan, ee, pertanyaan atau tanggapan sekaligus ini melalui WhatsApp, ya, Pak Mujiman. "Penggunaan AI ini untuk penipuan, apakah bisa dilacak dan ditangkap menggunakan Undang-Undang ITE, misalnya?" Ini dari Pak Mujiman. Kemudian dari Pak Ari, "Semenjak adanya AI ini, saya hampir tidak bisa membedakan, Pak Menteri, ya, ee, video ataupun foto yang banyak di media sosial. Jadi, tolong beri tanda video atau foto yang dibuat oleh AI, bagaimana caranya supaya masyarakat tidak menjadi korban penipuan." Nah, ini yang tadi Pak Wamen sampaikan, salah satunya bahwa sisi negatif dari AI kalau kita enggak waspada. Nah, gimana itu caranya?

Iya, betul. Jadi, dalam panduan, ee, dan juga dalam peta jalan nasional AI ini, kita juga mempertimbangkan sisi-sisi keamanan dalam penggunaan AI. Ini adalah salah satu aspek yang perlu diantisipasi dan juga harus jelas regulasinya. Nah, kita mengantisipasi ini sesuai dengan kecenderungan global, ee, penyalahgunaan AI yang terjadi di banyak negara, terutama dengan AI deepfake tadi, itu salah satunya adalah kita minta para pengembang untuk memberikan, ee, watermark, gitu, bahwa, ee, apa yang dihasilkan itu adalah AI. Dan kita juga, ee, meminta kalau dia di-upload di platform media sosial, maka metadatanya itu harus juga, ee, bisa ditangkap bahwa itu adalah dicreate oleh, ee, AI. Ee, jadi ini sudah menjadi komitmen. Ada semacam koalisi besar antara, ee, pengembang AI, korporasi-korporasi yang mengembangkan teknologi AI untuk membuat semacam, ee, yang kita sebut sebagai content authentication. Jadi, ee, kita coba membuat, ee, otentikasi dari, dari konten-konten itu. Apakah dia dibuat oleh AI atau dibuat oleh manusia. Ini salah satu jalan untuk, untuk mencegah, ee, masyarakat luas tertipu oleh yang namanya deepfake. Nah, memang butuh satu kejelian untuk soal ini. Dan kita minta juga, misal di platform-platform media sosial itu, mereka memasang juga alat-alat untuk mendeteksi bahwa video yang dimasukkan AI dan video yang belum lagi, ee, memakai watermark, misalnya, itu otomatis, ee, bisa diberikan oleh, ee, platform, he, ee, di mana video itu disebarkan atau foto itu disebarkan dengan memberikan warning bahwa video ini adalah buatan AI.

Betul. Iya. Nah, Pak Wamen, apa yang sekarang sedang dipersiapkan, barangkali, ya, untuk mencetak para talenta-talenta digital yang siap memanfaatkan AI itu, termasuk juga ke, apa, keterlibatan perguruan tinggi, ya?

Ya, betul. Ee, mencermati perkembangan global dan juga kebutuhan-kebutuhan dari human capital yang ada. Seperti saya jelaskan di awal, kita membutuhkan, ee, kesiapan, gitu, ya. He. Ee, saat ini ada gap yang terjadi. Kita butuh tenaga, ee, yang punya skill dalam soal digital, khususnya juga AI, termasuk AI di dalamnya, ya. Jadi, ya, tenaga yang tahu bagaimana menggunakan data science, cloud computing, ee, internet of things, ee, sampai dengan artificial intelligence. Dia juga tahu soal blockchain, dan lain sebagainya. I. Ee, kita butuh sekitar 1 juta, gitu, 2030. Nah, berdasarkan proyeksi studi yang kita buat, kita mungkin hanya mampu menghasilkan dengan keadaan yang biasa-biasa saja ini, ya. Ee, dan juga dengan berbagai, ee, program yang sudah kita lakukan, ee, mungkin hanya bisa memasukkan sekitar 9 juta. Jadi, ada gap sekitar 1 juta sekian gitu dalam, ee, talenta digital kita sampai 2030. Nah, untuk itu, kita coba, e, berkolaborasi dengan banyak pihak. Kita bekerja sama dengan universitas, kita bekerja sama juga dengan, ee, global tech companies, national tech companies, termasuk juga startup, termasuk juga, ee, komunitas-komunitas pengembang AI, riset AI, dan lain sebagainya, baik yang ada di pemerintahan maupun yang ada di swasta, untuk sama-sama bergerak, gitu, untuk bisa menghasilkan, ee, talenta digital kita ini. Kita bekerja sama dengan, ee, cukup banyak global tech companies yang punya program, ee, mendidik anak-anak kita, gitu, untuk menguasai teknologi ini. Tapi kita enggak mau berhenti hanya sebagai user, seperti saya katakan itu. Kita mau menjadi developer. Nah, untuk itu, KOMDI membuat satu project khusus yang kita sebut dengan AI Talent Factory. Berbagai stakeholder yang ada, I, ee, termasuk di sini adalah kita seleksi mahasiswa-mahasiswa yang memang brilian, ee, nilainya cakep, gitu, untuk soal-soal teknologi informasi, AI, dan lain-lain. Lalu kita kumpulkan mereka menjadi satu komunitas yang solid, gitu, lah. Lalu kita berikan modul-modul untuk meningkatkan skill mereka, knowledge mereka, dan kita bekerja sama dengan sejumlah lembaga perguruan tinggi, lembaga-lembaga riset. Bukan hanya nasional, nih, Mas Wyrio, tapi juga internasional. Indonesia diaspora. Jadi, diaspora Indonesia yang ada di luar, ada, apa, ee, warga kita yang bekerja di global tech companies, seperti misalnya ada yang di Google DeepMind, ya, ee, ada juga yang di Microsoft, ada yang di IBM, dan lain sebagainya. Jadi, kita minta mereka juga mengisi, selain juga para ekspert, para pakar yang, ee, ada di universitas-universitas terkenal yang memang punya riset yang khusus untuk soal AI ini. Nah, kita harapkan AI Talent Factory ini akan mengerjakan dan, ee, memecahkan persoalan-persoalan yang menjadi proyek strategis nasional kita. Jadi, mereka diharapkan berkontribusi, ya, dengan, ee, use case. Kita sebutnya use case. Ee, misalnya untuk bagaimana kita bisa mengoptimasi, ee, distribusi di sebuah koperasi, ya, dalam rangka membangun koperasi merah putih, atau, ee, bagaimana penggunaan AI untuk mengoptimasi proses belajar mengajar dan pembelajaran di sekolah rakyat, atau juga apa yang bisa dilakukan dengan AI untuk membantu, ee, proses dari yang namanya, ee, supply chain di dalam makan. bergizi gratis, ee, dan juga bagaimana melakukan evaluasi dan monitoring agar standar dari MBG ini bisa, bisa seperti yang kita harapkan, dan memperkecil semua insiden-insiden yang terjadi. Nah, ini, ini bisa dibantu dengan artificial intelligence, ya.

Baik, Pak Wamen. Ee, yang penting kan bagaimana, ee, pemerintah merespon dengan kesiapan infrastrukturnya, Pak Wamen, sehingga tadi kekhawatiran-kekhawatiran dua sisi yang tadi itu bisa kita sikapi, kita antisipasi, Pak Wamen.

Iya. Ee, dalam hal ini, kita tentu saja berkolaborasi dengan kementerian dan lembaga yang ada, gitu, ya. He. Ee, kita juga berkoordinasi dengan Kementerian, ee, Perekonomian, Kemenko Perekonomian. Kita, ee, bekerja sama dengan Kementerian Industri. He. Kita bersama dengan Kementerian Pendidikan. Iya. Pendidikan Tinggi, Pendidikan Dasar Menengah juga. Kita bekerja sama dengan BRIN, kita bekerja sama dengan KORIKA, itu satu lembaga kolaborasi untuk riset dan inovasi artifisial, ee, kecerdasan artifisial. I. Lalu kita bekerja sama dengan, ee, sejumlah perguruan tinggi, gitu, ya. Ee, jadi, ee, ya, ini memang membutuhkan satu gotong royong yang, yang luas, gitu, untuk, untuk bisa mengantisipasi persoalan-persoalan yang muncul dan memperkuat landasan, ee, industri AI kita ke depan, gitu. Nah, ada banyak PR sebetulnya yang harus kita lakukan di sana, termasuk juga, ee, bagaimana kita masuk ke dalam soal industri, ya, industri AI, terutama dalam soal infrastruktur tadi itu. Ee, yang pertama, bagaimana kita mendapatkan, ee, akses kepada infrastruktur AI, semisal, ee, untuk computing power. Kalau kita memperkuat data center kita yang ada, ee, karena AI enggak, enggak bisa bekerja tanpa data yang, ee, cukup, gitu, ya. Dan kita perkuat juga lini human capital-nya, seperti yang sudah kita bicarakan tadi. Nah, ini kita harapkan akan menopang, ya, akan menopang, ee, lanskap industri, ee, pengembangan AI kita. Dan jangan lupa, kita sebetulnya bisa masuk dalam global supply chain, ee, untuk industri AI, misalnya untuk semikonduktor. Meskipun kita belum punya, maaf, he, pabriknya di sini, tapi kita bisa masuk ke dalam global supply chain, ee, dalam industri manufaktur, manufaktur semikonduktor ini, misalnya, kita bisa memasukkan beberapa komponen-komponen, ya, yang, ee, berbasiskan pengolahan critical minerals yang kita punya. Jadi, ada hilirisasi untuk critical minerals yang kita punya. Karena untuk membuat satu semikonduktor itu butuh, butuh macam-macam critical minerals. Dan kita punya nikel, kita punya timah, kita punya, em, kita punya emas, gitu, ya. Dan semua itu dipakai buat satu, ee, chip, gitu, ya. Dan jadi, saya kira kalau kita bisa masuk dalam global supply chain ini, kita akan punya semacam bargaining position di dalam pasar. Dan ini penting sekali agar akses kita pada teknologi ini bisa tetap, tetap terjaga, dan kita tidak hanya menjadi user saja.

Betul. Baik, Pak Wamen. Kita coba dengarkan apa yang disampaikan Pak Ibnu Di Cahyo, ya. Beliau adalah direktur lembaga riset.

Saya Ibnu Di Cahyo, ee, Pak Wamen. Eh, saya direktur riset dan komunikasi Lembaga Survei Kedopi. Terkait dengan, ee, rencana pembentukan pembuatan buku putih peta jalan AI, artificial intelligence nasional. Ya, mungkin ada beberapa hal yang ingin saya, ee, sampaikan, ya. Yang pertama, ee, terkait definisi high risk dari AI itu sendiri, ya. Bagaimana Kominfo mendefinisikan sistem AI yang berisiko tinggi ini akan dikenakan regulasi yang lebih ketat. Jadi, terkait definisi dari, ee, high risk AI itu sendiri, ee, bagaimana? Jadi, itu perlu diperjelas agar itu nantinya tidak menjadi, ee, pasal karet, gitu, ya, yang, ee, tafsirnya itu, ee, bisa ke mana-mana, ya. Itu yang pertama. Lalu, dengan adanya, ee, data jalan AI nasional ini, apakah nantinya, ya, ini akan mendorong startup lokal lebih, ee, berkembang, atau malah ini akan membuat startup lokal ini menjadi lebih, lebih terkekang, ya, karena nanti akan muncul banyak aturan penggunaan AI? Karena untuk sekarang, ya, banyak sekali, ee, kawan-kawan di startup, ya, itu sangat terbantu, ya, dengan adanya, ee, AI, ya. Jadi, jangan sampai startup dan UMKM, ee, lokal nanti ini yang ada hubungannya dengan AI atau yang menggunakan AI ini nanti bisa terbebani, ya, oleh aturan-aturan kepatuhan yang mungkin itu akan memberikan, berimbas pada cost yang, ee, ber, tambah. Lalu yang terakhir, ee, Pak Wamen, ya, ee, AI ini kan rentan, ya, dengan bias, ya. Bagaimana aturan ini menjamin bahwa data latih atau training data yang digunakan oleh para pengembang AI, ee, di Indonesia itu, ee, bisa bebas bias, ya, bisa bebas, ee, bias sosial, gender, dan etnis, ya, karena ini kan bisa merugikan kelompok-kelompok, ee, tertentu. Jadi, saya harap di, ee, peta jalan, ee, nasional itu, ya, paling tidak tiga hal tadi itu yang saya sampaikan, yang saya tanyakan, itu bisa di-consider, ya, oleh, ee, Kementerian, ee, Kominfo. Mungkin itu saja yang bisa, ee, saya sampaikan. Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Terima kasih. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kita tampung dulu, Pak Wamen, ya. I. Eh, selanjut yang ketiga, ada, ada Tasya. Tasya ini mahasiswa Universitas Budi Luhur. Silakan, Tasya.

Saya Tasya dari Universitas Budi Luhur. Harapan saya untuk ke depannya itu cukup besar, ya. Apalagi dengan perkembangan zaman dan teknologi yang semakin ke depannya makin canggih. Nih, kenapa saya bisa bilang harapan saya besar? Karena AI membantu kualitas hidup manusia untuk menyelesaikan persoalan kompleks seperti kemiskinan, kesehatan, pendidikan, gitu. Kita bisa mendapat solusi yang lebih cepat, lebih efisien, dan akurat. Mempercepat proses kerja kita, seperti kayak ada tugas kuliah atau kerjaan apapun itu bisa dibantu melalui AI dan mempersingkat waktu tentunya, dan bisa meningkatkan produktivitas kerja kita, waktu kerja kita. Terus ketiga, itu kita bisa mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Kenapa saya bisa bilang berbasis data? Karena di saat kita ingin menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas itu, kita bisa memberikan analisis yang objektif karena bersumber dengan analisis data yang kita dapat dari AI tersebut. Tapi perlu diingat, bukan untuk menggantikan peran manusia, peran kerja manusia, tapi tetap dengan kerja sama antara manusia dan juga teknologi, yaitu mesin menjadi alat bantu manusia yang memberdayakan manusia untuk bekerja lebih cepat, kreatif, dan produktif, tentunya juga bisa lebih menghemat waktu kerja, gitu.

Iya. Jadi, ee, banyak sekali, ya, sebetulnya mereka sangat optimis. Tapi, ee, sebelum ditanggapi, ini saya sekaligus, ya, Pak Wamen, ya, karena ini kan segmen terakhir, ya, Pak Wamen, ya. Ini dari beberapa WhatsApp juga saya pilihkan saja, di antaranya dari Pak Wirawan. "Teknologi AI ini tidak cocok di Indonesia katanya, sebab mudah disalahgunakan untuk hal yang, ee, negatif dan merugikan orang lain. Jadi, semoga Kominfo ini bisa membatasi penggunaan AI di Indonesia." Heeh. Ee, kemudian Pak Lukman. "Nah, ini perlu juga nih, di, ee, zaman digital ini, sekolah SD sampai SMA, SLA ini setidaknya bisa disediakan lab komputer sebagai tambahan belajar. Kemudian ada WiFi gratis. Nah, secara, apa, di sekolah-sekolah itu, ini akan sangat memudahkan anak-anak kita terbiasa dengan AI." Nah, paling itu, ya, beberapa, beberapa hal yang bisa disampaikan. Mungkin ini bisa secara umum, hampir sama harapannya bahwa pemerintah juga bisa memberikan dukungan, support-nya kepada masyarakat, khususnya anak-anak muda kita, supaya mereka juga bisa manfaatkan dan pelatihan-pelatihan tadi disebutkan juga nih, ada pelatihan secara gratis barang pemanfaatan. Nah, bagaimana kementerian merespon hal itu, Pak Wamen?

Iya. Ee, kita yang pertama, saya coba respon yang, yang tadi, ya. Jadi, ada pertanyaan yang penting, saya kira, soal high risk tadi. Tadi, ee, apa yang kita sebut dengan, ee, high risk itu, dalam peta jalan nasional AI ini, ya, high risk itu salah satu pendekatan yang kita pakai untuk memetakan spektrum risiko, gitu. Jadi, ada yang namanya, ee, high risk, ada yang namanya, ee, low risk, gitu, ya, ada juga yang, ee, kita sebut sebagai middle risk, gitu, ya. Ee, jadi yang masuk kategori high risk itu, misalnya, soal-soal yang berkaitan dengan data pribadi, biometrik, segala macam yang dipakai, atau level otonomus dari, ee, AI, gitu, yang harus kita regulasi di dalam high risk ini. Kadang-kadang ada juga yang unacceptable risk. Kalau di Eropa, mereka menyebutkan itu, ee, misalnya untuk autonomous machine, gitu, yang mesin yang bergerak secara autonomous. Jadi, tanpa campur tangan manusia lagi, dia bisa membuat decision making sendiri, keputusan sendiri, gitu. Dan ini trennya ke arah sana, nih, Mas Wiro. Dengan adanya AI, lalu kemudian ke arah physical AI, di mana robot dilengkapi dengan AI. Dia, dia akan bisa, ee, mengerjakan tugas-tugas, ee, apa, yang biasanya dilakukan oleh manusia, gitu, dengan autonomous, dengan sendiri, dengan tanpa harus diperintahkan lagi. Jadi, cukup diberikan satu perintah saja, dan dia bisa mengembangkan perintah itu, menafsirkan perintah itu, dan dia bisa bekerja, gitu. Nah, ini, ini yang harus kita regulasi agar, apa? Agar decision making-nya itu enggak, enggak kemudian mengancam manusia sendiri, gitu. Jadi, ini harus ada semacam regulasi untuk itu, dan itu terjadi secara global juga, ya, untuk mengatur level otonomus yang kemudian, ee, secara global disepakati bahwa harus ada campur tangan manusia di dalam keputusan yang dibuat oleh AI. Nah, ini yang disebut dengan human in the loop, gitu, ya. Ada campur tangan manusia di dalam proses pengambilan keputusan itu. Nah, lalu soal startup, saya kira, ee, ada banyak startup, dan kita tahu ini masuk juga tech winter di dalam soal, ee, startup-startup belakangan ini. Karena, ee, tidak seperti 10 tahun yang lalu, sekarang para, ee, venture capital itu mulai berpikir untuk masuk ke startup, karena banyak startup yang rugi, gitu, kan, akhirnya mulai sepi, nih. Terus juga ada beberapa startup yang ternyata enggak memenuhi, ee, corporate, good governance, gitu, ada fraud, ada kecurangan, dan lain-lain. Sehingga itu kemudian mematahkan semangat yang lain juga. Tetapi dengan adanya AI sekarang, itu, ee, diharapkan muncul arus balik terhadap venture capital, dan itu terbukti, ee, ada banyak, ee, ee, investor-investor yang kemudian menanamkan modalnya di startup-startup AI ini, dan kita harapkan ini bisa menggairahkan, ya. I. Lalu kemudian soal data tadi disebut ada bias, ya, bias. Nah, ini juga saya kira terkait dengan, ee, bagaimana kita memperlakukan data. Ini penting sekali dalam soal, ee, bagaimana AI dilatih dengan data-data ini. I. Ee, AI datanya, ee, di makanannya, itu kan data. He. Jadi, kalau yang masuk itu data yang salah, pasti dia juga keliru, gitu. Jadi, garbage in, garbage out, gitu, ya, kan? Nah, jadi, ini juga harus dipikirkan. Dan saya kira dalam pendekatan-pendekatan di, ee, computer science itu memang sudah ada, ee, bagaimana menjaga yang namanya quality, ee, data quality, gitu. Ee, saya kira kalau itu dilakukan, itu akan memperkecil bias juga. Dan bagaimana waktu mesin ini training, dia juga, ee, harus memperhatikan sejumlah nilai-nilai, gitu, ya, nilai-nilai. Karena data itu kan juga enggak bebas nilai. Betul. Ee, para program ini juga adalah manusia yang dibentuk oleh nilai-nilai tertentu. Makanya, misalnya, ee, LLM atau large language model, ChatGPT, misalnya, gitu, yang dibuat di Barat, kadang-kadang untuk, untuk menjawab persoalan-persoalan yang sangat khas Indonesia, dia mungkin, mungkin akan berbeda ukuran-ukuran nilainya. Nah, jadi, demikian yang bisa saya respon. Dan, ee, yang paling penting lagi, bahwa regulasi-regulasi yang dibuat itu tidak untuk menghambat inovasi, I, tetapi untuk memberikan proteksi. Prinsip yang kita pakai adalah kita memaksimalkan manfaat dan meminimalkan, I, ee, dampak, ya, atau risiko yang, ee, muncul yang ditimbulkan oleh penggunaan AI ini.

Timbulkan. Betul. Baik. Yang jelas, ee, kita harus tetap bijak dan beretika dalam menggunakan, ee, AI tersebut, ya, Pak Wamen. Hati-hati juga, ya.

Iya. Harus hati-hati. Harus hati-hati dan harus punya kesadaran bahwa AI ini harus kita perlakukan sebagai partner, sebagai teman kita, sebagai kawan kita, ya. Kita jangan kemudian terserap, kita jangan kemudian, ee, apa, diatur oleh AI, gitu, ya. Dan kita sebagai manusia, kita mengatur AI. Baik. Nah, ini sikap ini, saya kira penting.

Baik, Pak. Terima kasih sudah bersama kami, ya.

Terima kasih, Mas Wiro. Sangat mengedukasi sekali dan tentu saja bermanfaat untuk kita semua. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih untuk Anda yang mengikuti wawancara kami bersama Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Pak Nezar Patria, selama 1 jam ini. Terima kasih. Saya Sirio. Sampai jumpa pada kesempatan yang lain.

[Musik]