Transcription
Di posisi seperti itu ada banyak responsibility kan, ada banyak tanggung jawab, ada banyak hal-hal yang dulu bisa kita lakukan dengan blas gua mau kayak gini aja terserah dunia mau ngelihat kayak gimana, gua mau kayak gini, gua mau hantem ini, gua mau hantem ini. Tapi sekarang harus dikonsider nih semakin besar kekuatannya semakin besar tanggung jawabnya gitu. Dan itu real banget.
Kalau cuma karena enggak suka by ideological, by sikap by itu ya udah manusia gitu enggak apa-apa. Tapi yang ku jaga ya jangan sampai kehidupanku tuh merugikan kehidupan orang lain atau memaksakan kehendakku pada orang lain.
Tapi kan kalau orang goncang itu opportunity orang bisa lebih kaya, Bang. Betul benar. Tapi ya orang kayak gitu enggak sampai 2%. Kayak gimana lu mastiin lu masuk di 2% bukan 98%. Gua sih ogah. Misalnya kamu pekerjaan kamu stuck gitu berarti itu kan bukan zona nyaman, itu zona ketidaknyamanan. Ya carilah kenyamanannya gitu. Wah itu bagus. Iya.
Halo semuanya, kembali lagi di podcast Suara Berkelas. Hari ini happy sekali karena kita kedatangan tamu berkelas, orang yang mungkin sering kalian lihat di dunia atensi seperti saat ini. Ada Bang Feri Irwandi. Halo, terima kasih Mas Bilal. Makasih sudah diundang. Terima kasih Mbak Beri.
Mungkin semua orang yang konsumsi YouTube atau karya-karya abang kan ngelihat dari kacamata ini orang hanya ada di dunia internet. Hm. He. Sehingga orang melupakan bahwa ada Feri loh di dunia nyata juga gitu. H kita masuk ke dunia nyata gitu. Siapa Feri yang jarang orang lihat? Siapa Feri yang jarang orang tahu? Siapa Feri yang aku sendiri enggak tahu gitu. Kayaknya kalaupun ada enggak menarik sih. Oke. Maksudku aku bingung juga ee kayaknya juga aku sangat-sangat banyak membagikan apapun yang ada di internet ya. Langsung internet itu part of my life juga gitu. kayak aku enggak pretend to be someone or something ya termasuk lemahnya, termasuk kurangnya, termasuk hal-hal yang mungkin ya by standar itu enggak bagus gitu juga bukan hal yang aku tutup-tutupi. Jadi ketika orang melihat aku di internet ya mungkin mereka sudah nge-capture bigger picture-nya lah. Jadi kalau ditanya bingung yang enggak orang ketahui ya paling sifatnya usaha bisnis ya kan kan karena enggak semuanya ke end to end user ya banyak ke B2B juga dan aku pikir juga enggak perlu untuk nge-sharing hal-hal seperti itu gitu e enggak perlu nge ya ngapain kita nge-marketing hal yang enggak perlu dimarketing gitu kan seperti itu. Cuman yang mungkin orang enggak tahu ya itu agak sulit keluar dari diriku sendiri gitu. Mungkin ditanya aja ke orang-orang terdekat karena aku enggak enggak enggak enggak ngerti gitu ya. Hidup seperti orang biasanya aja gitu. Hidup seperti orang biasanya aja. Nyari penghasilan ngidupin keluarga. Dihidupin oleh keluarga. Kadang capek kadang marah kadang kesal. Kadang tidak dalam keadaan yang stabil. Kadang dalam keadaan yang stabil banget. ya pada kayak manusia pada umumnya lah. Jadi nothing special juga sih ya. Ya, hidup seperti manusia pada umumnya.
Tapi menurut aku kalau tanda kutip pada umumnya enggak mungkin ada cara pandang seperti Pak Feri itu kayak apa trigger pointnya sehingga kemudian yang kita manusia pada umumnya ini kemudian beraksi kal menurut aku bisa aja beresiko, bisa aja disalah pahami bisa aja itu dianggap aneh di zaman sekarang karena kemudian Bang Fed itu outstanding karena berani itu gitu. Apa-apa trigger point-nya di kepala orang yang tadi biasa aja tapi kemudian menghasilkan sesuatu yang menurut aku bisa luar biasa.
Justru mungkin karena aku naif kali ya, karena aku pikir itu biasa aja gitu. Jadi ya semua orang bisa ngelakuin itu gitu. Jadi enggak ada enggak ada spesial-spesialnya yang aku lakuin. Yang malah aku bingung kenapa orang ngelihat itu se-outstanding itu ya yang aku lakuin biasa aja, beneran biasa aja gitu kayak ya aku bersuara misalnya aku bersuara aku memprotes, aku ngekritik itu kan bagian dari hak yang dilindungi oleh undang-undang sebagai warga negara ya. Dan selama proses melakukan itu semua, aku enggak pernah menegasikan orang lain, merendahkan orang lain atau apapun gitu. Dan kupikir juga selama itu aku lakukan, selama itu ya aku perbuat juga bisa dipertanggungjawabkan ya. Yang penting bisa dipertanggungjawabkan ya enggak akan ada masalah berarti. Kupikir awalnya seperti itu gitu kan. Kupikir juga orang akan ngelihatnya biasa aja tapi ternyata respon dari publik atau respon dari yang dikritik itu kan ternyata berbeda-beda ya. Dan itu jadi proses belajar juga. Hm. Ternyata seperti ini orang-orang gitu. Dan itu yang membuat kalau dari aku sendiri ya terlepas apapun impact yang ke depan atau yang terjadi sekarang dan bagaimana orang melihat good or bad-nya gitu. Itu sarana belajar sih tentang bagaimana hidup dan bagaimana manusia gitu dari apapun yang aku lakuin waktu itu, hari ini atau kemarin gitu kan. Cuman ya basisnya enggak pernah orang lain aja atau kayak gimana penonton melihat atau kayak gimana follower ngelihat. Enggak. The end of the day ya ada hal yang baik mungkin. ada hal yang enggak baik mungkin ya pada manusia berdikari semua kan. Iya sih. Iya sih.
Jadi kayak e aku tuh paling paling enggak suka ketika orang itu lu expect orang untuk melakukan hal yang mungkin lu belum bisa lakukan gitu atau lu ini terus ketika dia tidak melakukan lu kecewa gitu atau sebaliknya. Nah di dunia digital sekarang, dunia ee ya kita bisa internet sekarang hal-hal itu kan terbangun. itu terjadi gitu. Semua orang punya ekspektasi atas orang tertentu. Semua orang pengin orang tertentu itu bersikap AB CDE. And the end of the day, ketika dia tidak bersikap ABC de, kekecewaannya bukan sama apa yang jadi penyebab masalahnya, tapi orang yang dia harapkan. Pada akhirnya ekspektasi itu yang selalu menyakiti manusia kan. Benar. Itu itu alasan kenapa salah satunya ya ee saya di media sosial itu tidak pretend to be someone or something gitu. He maksudnya kayak enggak berusaha untuk memenuhi semua ekspektasi kayak gitu karena pada akhirnya itu berbahaya untuk semua orang juga. Jadi ya lihat yang baiknya, buang yang buruknya itu aja sih. Makanya kalau dibilang outstanding yang K lakukan, enggaklah banyak yang lebih hebat, banyak yang lebih berkontribusi. Banyak teman-teman yang misalnya kayak di Aceh itu masih ada sampai sekarang berbulan-bulan yang kita tetap ponteekan. Banyak yang bersuara lebih keras. Ya, saya cuma melakukan hal yang saya pikir bisa saya lakukan gitu. That's ya. Cara termudah untuk kecewa yaitu dengan berekspektasi dengan orang lain. Kali iya makanya saya pun berusaha untuk tidak berekspektasi apa-apa walaupun karena akan kecewa terus. Jadi paham paham. Kita udah pakai low bar nih, kita sudah pakai be minimum misalnya ke government sekarang ya kecewa lagi gitu.
Kita masuk ke ngomongin tentang transisi kehidupan terutama karir kali ya. Sempat di pemerintahan juga dulu. Iya. 10 tahun dan tiba-tiba masuk ke dunia kreatif berkarya. apa benang merahnya dari yang tadi di pemerintahan kemudian masuk ke dunia kreatif dan bagaimana mindset beradaptasi itu yang harus aku ketahui. Karena teman-teman yang menonton ini aku yakin pasti banyak yang mungkin masih di satu lingkungan dan untuk mau coba ke hal baru itu penuh dan banyak sekali pertimbangannya. Pada fase itu apa pertimbangannya dan bagaimana bisa beradaptasi? Aku enggak mau mengglorifikasi movement ini ya, karena kan paham banyak sekali hal-hal yang harus diperhitungkan. Jadi ketika Mas Bilal bilang kalau banyak teman-teman yang punya banyak sekali pertimbangan dan hitungan, which is good. Lebih baik sangat bersiap daripada sangat ceroboh, kan? Iya sih. Nah, dan ketika banyak pertimbangan dan perhitungan ini bisa dilewati, berarti langkahnya sudah mantap nih karena melewati banyak pertimbangan dan perhitungan tadi gitu. Nah, kalau aku sendiri pertimbangannya jelas. Pertama, faktor ekonomi ya yang aku ya pisau bedah ekonomi itu selalu paling objektif menurutku ya karena paling bisa diukur gitu karena kita bisa menanggalkan atau melepas bias-biayas yang mungkin terjadi gitu secara ekonomi ini move yang bagus atau enggak gitu. Karena ketika aku jadi PNS tentu conflict of interest itu banyak banget yang akan terjadi gitu. Apalagi aku di bidang yang terakhir aku di situ itu jabatan dan aku jabatan fungsional perdana tahumas aku ngurusing PR ya terus aku ngonten di YouTube di end of the day ada banyak-banyak faktor eksternal yang enggak bisa aku kendalikin kendaliin nih ee dinamika politik di pemerintahan entah nanti menterinya ganti, entah nanti presidennya ganti, entah arah kebijakannya ganti. Tapi di sisi yang lain awal-awal channel aku itu kan ada dua fondasi nih. kedua videografi justru editing dan itu kan mulai ditinggalin awal-awal terus fokus ngebahas ekonomi spesifik makroekonomi kan karena bidang ini di situ. Nah, ini kan ekonomi dan politik itu kan kausalitas ya. Hm. Saling bertaut satu sama lain. The end of the day, ketika kebijakan ini terus jalan gitu dan ini bertentangan dengan teori yang aku ajarin misalnya atau aku bikin konten, enggak mungkin dong aku jadi di sisi yang lain aku punya code sendiri. Aku enggak akan ngeludahin tempat aku makan gitu. Iya. kan? Aku enggak akan Kementerian Keuangan, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara itu dampaknya ke kehidupan aku sangat besar gitu. Aku di sekolah dibiayain negara, aku kerja di iniin negara. Nah, makanya ketika conflict of interest ini semakin terjadi nantinya walaupun waktu itu belum terjadi ya I ya jangan sampai nunggu itu terjadi dulu gitu kan ya. Nah, tapi waktu di aku jalan bareng pekerjaan itu sekitar 2 tahun ya, dalam 2 tahun itu juga dipertimbangkan nih, oh iya misalnya income dari sini sudah stabil atau belum, h ee pivot-nya nanti ke mana? Yang mau dibawa ke mana, apakah cukup jadi kreator aja gitu. Cuman ya udah jadi kayak bacain berita aja ngelihat ada isu bahas selesai apakah cukup dengan itu doang movement selanjutnya apa. Itu kan harus dirinci, dibikin baik-baik. Enggak usah baik-baik dilihat nih potential gain-nya apa, potential loss-nya apa, cost benefit analisis-nya kayak gimana, diukur gitu kan. Oh, cost prokonnya, prokonnya, prokonnya. Akhirnya ketemulah keputusan. Oh, ya udah kayaknya yang paling baik untuk diriku secara ekonomi, secara moral, secara prinsip ya sepertinya keluar gitu kan tanpa menegasikan atau merendahkan tempat pekerjaan aku sebelumnya. Nah, setelah itu semua akhirnya ya balik lagi ke orang tua kan. In the end of the day, aku akan selalu ngikutin dan minta pertimbangan orang tuaku gitu. Dan ketika ngomong sama orang tua ya syukurnya eh papa mamaku sangat-sangat open open banget dengan hal seperti itu. Dihitung ininya keimanannya dihitung gimana. Tentu orang tua ya apalagi generasi yang lahir tahun '8 60 kan PNS tuh udahlah stabil PNS Kementerian Keuangan lagi ngapain sih gitu kan ya. Kamu kalau jadi kayak gini nih nih nih jadi pertimbakannya gini mah gitu gitu gitu. Jadi clear akhirnya milih keluar dengan baik-baik. Aku masuk baik-baik, keluar baik-baik dan sampai sekarang aku sangat-sangat merasa berutang jasa, berhutang budi kepada institut tempat aku belajar, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, dan tempat aku menempah ilmu dan kerja gitu. Kementerian yang keuangan itu enggak akan terlepas dari cerita hidupku lah. Hm.
Peranan keluarga ketika mengambil keputusan tuh salah satu hal yang underrated kali ya. Iya. Karena orang mikir bahwa aku aku desai aku harus ambil keputusan. Tapi pertimbangan-pertimbangan seperti bertanya dengan keluarga sendiri itu menurut aku salah satu poin yang penting sekali sih. Dan sampai sekarang tuh tetap aku lakuin. Iya. Bagian ke istri, ke orang tua. Karena hidupku kan bukan cuman untuk diriku sendiri ya. Hm. Iya. Hidupku sudah terkait sama hidup orang lain gitu. Dan apapun decision yang aku bikin itu akan mempengaruhi hidup orang lainnya. Semakin kamu bertambah umur, semakin besar tanggung jawabmu, ya semakin hidupmu bukan punyamu kan. Hmm. Iya. Iya. gitu. Itu bahkan dalam tandah kutip keluarga apalagi bernegara gitu ya. Pasti semakin ke sini dampak yang kita lakukan itu semakin luas. Ya gini Mas K aku buat beberapa lini bisnis ya sejak 2024 2025 kita expand 2026 apalagi dan kalau ditotalin itu dari apa yang kita kerjakan sekarang itu dampaknya mungkin untuk internal ratusan. Kalau ditambah donasi kemarin kita punya tanggung jawab ke 90.000 R donatur. Kalau ditambah sama korban penerima manfaatnya bisa ratusan ribu lagi. Iya. Di posisi kayak gitu tuh di posisi seperti itu ada banyak responsibility kan. H ada banyak tanggung jawab, ada banyak hal-hal yang dulu bisa kita lakukan dengan blas gua mau kayak gini aja terserah dunia mau ngelihat kayak gimana. Gua mau kayak gini, gua mau hantem ini, gua mau hantem ini. Tapi sekarang harus diconsider nih. Ini gua enggak sekuat itu misalnya atau pijakan gua enggak segede itu, gua colaps ini berapa orang yang akan nerima dapat. Nah, itu itu akhirnya waktu juga mengajarkan kita kan. H dan kupikir itu trajektory yang tepatlah kalau misalnya punya kesadaran seperti itu. Karena balik lagi kesadaran-kesadaran kayak gini kan enggak muncul tiba-tiba. Itu atas pertimbangan. He. Dan salah satu pertimbangan yang paling aku consider ya istriku sendiri. Wow. Kalau tanpa beliau mungkin wah udah banyak move yang salah. Bukan berarti enggak ada move yang salah yang kul lakuin ya. Udah mungkin lebih salah dan lebih fatal lagi. Jadi makin ke sini makin belajar gitu. Karena ya kata kayak kata ini uncle Ben kan. Hm. Semakin besar kekuatannya semakin besar tanggung jawabnya gitu. Dan itu real banget. Iya.
Di zaman kreators ekonomi kayak sekarang, semua orang berlomba-lomba untuk hasilin cuan dari dunia digital. Tapi faktanya enggak semua orang tahu bahwa kita bisa menghasilkan uang dari satu website builder doang. Kita bisa jualan kelas, bikin digital produk, book konsultasi, sampai bikin ebook, bikin tulisan-tulisan atau karya-karya kita dijual langsung dan orang semuanya bisa ke sana untuk langsung check out di sana. Jadi kita bisa sambil tiduran 24 jam kita tidak harus mengontrol website builder tersebut, tapi uang bisa tetap masuk dari karya kita. Aku bakal kasih solusinya. Solusinya ada di Link ID atau Link kit. Dan aku udah pakai Linkit sejak tahun 2022 dan itu memudahkan sekali kalau kita sebagai kreator menghasilkan uang dan semua orang bisa akses karya kamu di sana. Misalnya kamu penulis kayak aku, kamu bisa bikin ebook, even orang-orang bisa konsultasi sama kamu dengan bikin appointment di sana dan mereka bisa menentukan jadwalnya menyesuaikan dengan jadwal kita sebagai penulis. Bahkan yang menariknya meskipun kamu belum punya produk digitalmu sendiri, kamu bisa affiliate produk orang di Linkit dan itu luar biasa banget. Banyak kreator-kreator di luar sana enggak punya produk sendiri, tapi bisa hasilin du digit, 3 digit per bulan di Linkin. So, bagi teman-teman yang belum bikin Linkit-nya, tunggu apaagi? Langsung bikin sekarang.
Aku masuk ke peranan keluarga dari sisi keluarga barunya Mas Feri gitu. Iya. Hidup dan berkarya dan punya keluarga kecil ini seperti apa? Pembagian waktunya atau esensi makna hidup itu seperti apa? Jadinya kayak e wah melihat anak aku berkarya kemudian aku semakin berkembang terus wah di rumah ada istri ada anak itu itu apa ya? Apakah itu jarang dibahas di podcast dan that's why aku asking this question gitu? Iya. Bukan bukan cuman signifikan ya itu nomor satu ya. Maksudku kayak gini deh. Aku punya kebiasaan merokok kan berat banget dan ketika aku sudah tahu aku sakit pun aku kayak ya nguranginnya basa-basi bangetlah. H at the end of the day ya tetap ngerokok kencang. Tapi ketika aku tahu misalnya kayak kemarin anakku sakit gitu kan, terus ngomong sama dokter gitu ya, penyebabnya karena transmisi kan, penularan dari art neninya sakit ya udah gitu tapi dokter bilang udah kurangin rokok Mas gitu baru detik itu ya udah kurangin bahkan itu lebih penting dari diri gua sendiri gitu dan hari per hari ini juga ya aku enggak bilang aku enggak sounding wah aku berhenti ngerokok enggak maksudku itu kan responsibility yang besar juga ya. Tapi ya udah sangat-sangat ya berapa hari, berapa minggu tuh bahkan sudah enggak nyentuh rokok kreatik atau rokok putih lagi. Itu segitu tuh indikator seberapa penting keluarga buat aku tuh. Wow. Walaupun craving, walaupun stres, walaupun kortisol jadi meningkat. Ya udah buatku iya enggak ada yang lebih penting lagi, Mas. Uang sebanyak apapun juga. Hm. He. Dan ya tingkat tingkat tingkat prioritasnya itu buatku gede banget gitu. Sangat-sangat besar dan bahkan ya apa ya banyaklah banyak mempengaruhi hal dan kehidupan ya dan perbaikan juga untuk diri diriku pribadi gitu. Karena ngelihat kayak gimana mereka ini kan enggak minta dilahirkan gitu. Mereka enggak minta dilahirkan. Mereka enggak milih siapa bapak emaknya. Iya. ya kan. Dan ketika mereka lahir kan ya sekurang-kurangnya kita bisa mengurangilah beban mereka gitu ketika lahir di bumi itu mereka lahir karena kehendak i orang tua anak enggak pernah milih siapa orang tuanya kan ya jadi kupikir ya harusnya jadi prioritas semua orang ya keluarga dan aku malah mikir berapa berapa tahun terakhir. Jadi waktu sangat kurang gitu. Hm. Aku sibuk bekerja untuk nyari jaringan pengaman buat keluargaku, Safety Net sampai anakku dua tuh bisa. Ya, kalau sekarang anakku dua dengan apa yang ku punya dan apa yang sudah ku lakuin kiraan agama itu mungkin ya sampai mereka S2 pun udah aman gitu tanpa harus mereka nyari di mana-mana gitu. Sampai mereka S2 dengan kehidupan sendiri punya rumah itu sudah secure. Sudah. Makanya setelah setelah itu semua udah aku secure, anak-anakku masa depannya secure. Aku enggak kekurangan makan, minum, dan ee apapun yang aku butuhin gitu istriku. Udah, ya sudah enggak ada yang terlalu berarti lagi sih menurutku. Jadi, apapun yang aku cari ini ke mana ya? Ini lebih bagus ke mana ya? Lebih enak ke mana ya? Gitu. H. Aku bahkan bisa bilang ya mungkin di podcast ini baru aku bilang aku bisa bilang aku paling menggunakan satu pertiga dari apa yang aku hasilin gitu dua pertiganya ya ke publik. Wow keren ker. Iya, itu sih karena bukan karena aku baik ya, karena emang sudah enggak butuh lagi gitu. Buat apa lagi sih? Aku enggak punya obsesi untuk gua orang tersukses di dunia atau gua aku juga udah enggak punya cita-cita atau keinginan buat masuk ke politik gitu atau jadi menteri atau jadi I ya. Satu-satu yang aku pikirin aku juga ngajar jadi guru, jadi dosen, ketemu banyak harapan gitu, ketemu banyak anak muda gitu bisa ngobrol sama mereka. That's it. Ngasih fasilitas dan wadah untuk itu. Udah, itu aja. Hm. Sesederhana itu sebenarnya. Iya.
Tapi kan dari dari kacamata orang-orang yang ngelihat dari jauh kan pasti wah ini orang ambisius banget gitu. Mungkin ini orang ngerjain semua hal gitu. Mungkin mungkin dan enggak salah gitu maksudku ketika ketika ada kritik atau bahkan hujatan atau hal-hal yang dimisinterpretasikan atau bahkan mungkin sangat-sangat keliru ya. He. Dulu aku sempat merasa kalau hal-hal seperti itu harus dijawab secara clear-clear tapi enggak akan selesai. Iya juga sih maksudku enggak akan I juga sih. Ya udah orang yang nonton yang bakal nonton. Orang ngikutin bakal ngikutin. Toh yang datang yang muncul dari orang-orang yang sebenarnya emang enggak pernah ngikutin juga tapi punya ketidaksukaan atau punya kekecewaan yang mana itu valid kok haknya mereka gitu. He. Semakin berkembang, semakin tinggi pohon harusnya angin di atasnya makin kencang ya. He bisa jadi yang dihadapkan oleh teman-teman yang kesar berkelas bisa jadi fase dia kesepian. fase disalahpahami, ee dibenci atau fase tidak nyaman. Tapi ketika menghadapi fase-fase itu, seberapa kokoh sih akar yang dibangun oleh Bang Feri ini gitu agar kemudian angin kencang itu tuh udah udah ya udah makan sehari-hari seperti Mang Feri bilang tadi, ya udahlah orang kalau mau salah pahami gua enggak apa-apa gitu. Aku enggak bisa bilang itu kokoh atau enggak ya. H after all we are human kan. After all we are human gitu yang bisa aku lakuin ya. ngepagerin apa yang bisa aku terima atau tidak gitu. Sempat sempat ada up and down, sempat ada back and forth gitu kan. Ini harus gua giniin atau enggak? Tapi the end of the day aku ngalamin hal kayak gini ini udah bertahun-tahun. Benar-benar bertahun-tahun udah terlatih. Terus aku pikir juga ya balik lagi logiknya ya enggak boleh yang tutup telinga sama sekali kan. Karena iya kadang tuh emang ya karena yang kita lakuin itu salah keliru atau ya mungkin yang kita lakuin itu impulsif or something like that. Tapi kalau ngikutin semua ya bisa gila sendiri Mas. Hm. Dan kalaupun misalnya nanti aku pernah ditanya tuh di acara offline kalau reputasi dan source yang lu punya sekarang ini hancur semua, Bang dan lu harus balik ke nol apa yang lu lakuin? Ya jawaban gu nothing. Hm. udah pernah kok gitu dan enggak ada keharusan untuk balik lagi di titik yang sama gitu. Ya sudah ya paling balik kampung ngajak anak balik ke kampung buka toko kelontong udah nolnya seberapa nol nih kalau enggak punya duit sama sekali ya terpaksa cari kerjaan gitu. Iya. apapun yang bisa dikerjain gitu.Udah jadi sebenarnya ya resistance atau ngerasa kalau kita harus jadi poros ya orang semua harus ngerti kita. Kita tuh benar-benar kitanya yang enggak salah gitu. Orang lain yang ini itu juga enggak enggak sehat juga sebenarnya. Yang bisa kita lakuin kan ya menjaga apa yang kita perbuat kan. Seenggaknya ya sampai detik ini saya tidak pernah membuat hal yang merugikan orang lain. Saya tidak pernah menjahati orang lain. Saya tidak pernah abuse power. Saya tidak pernah saya bukan pejabat. Saya tidak punya relasi kuasa atau alat kuasa. Saya netizen sama kayak masyarakat. He. Ya, itu yang bisa aku jaga, Bang. Gitu. Yang itu yang jadi rambu-rambu. Jangan sampai jadi pelaku KS, jangan sampai ngambil hak orang lain, jangan sampai nilp duit orang lain. Yaah. Jadi of the day TRK. Mau kayak giman pun orang ngghancurin, mau kayak gimanap pun orang ngejatuhin, track record bicara kok gitu. Hm. Iya. Kalau cuma kadang enggak suka by ideological, by sikap, by itu, ya udah manusia gitu ya enggak apa-apa. Tapi yang ku jaga ya jangan sampai kehidupanku tuh merugikan kehidupan orang lain atau memaksakan kehendakku pada orang lain. Hm. Nah, itu itu itu sudah cukup kok gitu. H dan orang tentu ya akan punya cara dan banyak upaya ya. It's oke. Dan itu enggak menghentikanku untuk melakukan apapun yang aku ingin lakukan gitu. Hm. Mungkin ketika orang nanya tadi itu mereka melihat bahwa kehilangan banyak hal, karir, reputasi dan lain-lain itu bikin kita stres. Karena kehilangan bisa aja bikin kita stres gitu kan. Nah, ya mungkin. Iya. Aku yakin juga. Aku tadi mau nanya karena pertama kali aku dapat atensi siapa itu Fer Rwandi ketika Bang Feri itu pernah bikin konten tentang Stoik. Heeh. Aku lupa berapa tahun yang lalu, apakah itu masih ada atau tadi kan konsepnya entar kalau gua kehilangan ini, ya enggak apa-apa gua jalani aja. Kenapa harus worry? Apakah itu ada korelasinya sama cara berpikir stoik kalau suatu hari nanti gua tidak bisa mengotol dunia ini? Makudnya kayak pernah tuh kayak ada yang nge-spam ada akun nol. Iya, benar-benar akun bodong banget. Heeh. Aku bodong itu nge-spam komen gitu kayak katanya Stoik kok enggak bisa nerima kritik gitu. Baru pas jawab dia ng-espam berapa puluh komentar gitu di semua posting. Ya udahlah blok aja sama dia diposting ke sosial media lain. Gua diblok nih. Ya sudah ya itu praktiknya gitu kayak ya mau mau menghujat mau kritik silakan loh enggak ngelarang. Tapi kan sosial mediaku tuh He sosial media tuh tempat Iya tempat yang personal bangetlah apalagi Instagram. Lu bisa kok komen di YouTube atau apa segala macam. Tapi ini kan hal-hal yang personal banget ini bank memori gitu dan ya sudah kritik aja tempat lain. Ini kanis yang bisa aku kontrol ya itu fitur ada namanya blok itu e bagian dari demokrasi juga. Iya sih dan enggak wah antikritik padahal banyak juga komenan kritik yang bahkan aku tanggapin gitu loh. Oke makasih masukannya. Kalau anti kritiknya aku bersihin semua. Nah, itu contohnya contoh paling gampang gitu dan malah wah dan ramai itu kan waktu itu sempat di berapa ya enggak enggak kep permukaan memang tapi di Twitter di Facebook gitu karena notifnya masuk di kita kan iya di jadi itu dan ada yang nanya bang lu enggak kesal apa enggak ya emang dan ketika dia ngpost itu pun aku juga enggak masalah gitu loh it's ok then cool gua bilang keren gitu jadi akuon masuk ng-spam diblok terus dia ke sosial media lain dia bikin wah diblok nih tapi dia enggak bikin komentar-komentar ng-espamnya itu enggak dia masukin di blog nih. Dan aku justru belajar hal yang baru. Orang bahkan enggak ngelihat lagi subjeknya. Hm. Itu yang komen di Instagram tuh un, Bang. He. Yang masuk di Twitter itu un juga. Hm. Nah, dari Twitter ke Facebook maksud gua kebiasaan itu anon juga. Bahkan orang enggak ngelihat ini ini nih anon semua loh. Anon kosongan pos loh gitu yang mainin narasi ini. Tapi ya orang ya balik lagi makanya enggak terlalu habis energi untuk menjelaskan. Kalau emang perlu dijelaskan dari awal itu enggak jadi masalah dong. Orang bahkan kalau orang-orang memang objektif untuk ngelihat itu iya orang butuh domain, butuh platform untuk mengamplify atau meng-coping misalnya kemarahan, keresaan atau ketidaksukaannya ke saya gitu misalnya. It's ok. He ya gitu itu. Nah itu Abang tangkap sendirilah itu gimana atau apa. Karena balik lagi ketika konten stoikism itu dibikin itu kan sebenarnya konten santai banget ya. Iya. Kayak kita belajar hal baru nih selama 5 tahun ternyata itu ngubah hidupnya sih. H. Dan apakah itu ada atau enggak sekarang ya orang lah nyimpulin gitu. Enggak semu-semuanya harus dijelasin kan. Iya. Kayak kalau terlalu banyak menjelaskan siapa kita dan apa yang kita pikir capek bang. Benar. Benar sih, benar. Kayak enggak mungkin dong setiap hari kita bikin konten klarifikasi kali. Iya. Dan ya sampai yang aneh yang benar-benar sampai aku tuh menikmatin juga sih kadang jadi lor gitu. Oh iya iya iya jadi lor yang wow gila nih. Kapan gua kayak gini nih gitu. Tapi ya yang kemakan ya emang dari awal udah skeptis. Oke. Hmm. I si tadi tadi aku setuju sekali ketika Bang Feri bilang bahwa orang enggak peduli lagi subjeknya kayak mau dia akun nol, mau dia akunnya akun bukan second lagi udah akun ke-25 tapi akun itu nomornya banyak tuh pos tapi ya orang tetap wah ini nih cela nih gua bisa serang gitu. ya udah it's oke juga terus sedangkan di fase sekarang kita lagi media kita lagi bantu teman-teman di Pati yang case kemarin yaes laporan pas botok dan Mas Tegu itu beberapa tahanan politik juga kita masih koordinasi beberapa korban kemarin 3 bulan itu kita juga 3 bulan setelah aksi September setelah minggu, ya sekitar ya 2 bulan hampirlah itu tuh 2 bulan sori 2 bulan itu kita terlibat dalam pencarian teman-teman hilang sampai yang dua korban meninggal atau apa. Bayangin, Bang. Ada banyak banget yang harus diurus nih. Sementara dari sisi yang lain. Iya. Apa ya matters itu untuk apa ya hal-hal kayak gini harus kita iniin. Sementara di sisi yang lain kayak tadi sebelum itu selesai donasi di Aceh juga harus diurus. Terus sekolah-sekolah yang kita bangun juga lagi diurus. Jadi, ya aku serahkan ke publik aja sih. Aku enggak punya enggak punya keinginan atau kemauan untuk bertahan terus di top level atau apa. Enggak lah. Manusia pasti ada masanya. I sih. Sebenarnya Bang Feri itu terlalu sibuk untuk ngurusin hal itu sebenarnya. Iya. Enggak sih kayak orang-orang yang tadi enggak ada waktu atau mereka cari kesibukan ya marah nyari kesibukan di tempat akun meri kan. It's oke. Dan pada akhirnya juga kan berlalu gitu ya orang juga enggak akan berubah gitu. itu setuju itu berlalu ya enggak ada kerugian apun juga gitu. ya udahlah enggak bisa kita bikin semua orang suka gitu malah stres kita malah kadang aku tuh bingung di internet tuh lu bisa melakukan segalanya untuk orang yang dari awal emang enggak suka sama lu gitu h berusaklah minta ma apa segala macam the end of the day kalau kalau dari awal ya setiap orang punya bias subjektif kan untuk melihat orang itu tuh enggak terlepaskan gitu dan tergantung mau sedalam apa bias itu mereka kembangin gitu. Kalau dari awal emang ya kita masuk ke internet kan bukan sebagai motivator, bukan sebagai sosok ya banyak sekali celah gitu kan. I ya aman aja lah gitu. Hmm. Itu kalau menghadapi angin-angin tadi pertanyaanku. Hmm.
Bang Veri, aku penasaran dengan buku terbaru Abang ya, Prinipil Ekonomi. Dan setelah aku baca-baca beberapa part, ada satu part yang menurut aku tuh bagus banget ee terutama itu relate sama aku dan tim-tim aku gitu. Di era banjir reformasi seperti saat ini, melek makroekonomi menjadi nilai tambah agar kita tidak mudah termakan isu. Iya. Dapat berdiskusi secara cerdas dan turut berkontribusi dalam mencari solusi atas tantangan ekonomi bangsa. Oke. Kalau Abang ingat part menulis itu, kenapa part makroekonomi itu penting sekali untuk anak-anak yang menonton ini harus pelajari lebih detail? Iya. Kenapa?
Tadi kan sempat aku bahas ya, ekonomi dan politik itu kausalitas kan. Kalau mikro itu ngatur rumah tangganya, makro itu bagaimana negara mengambil kebijakan gitu. Dipengaruhi politika atau ekonomi mempengaruhi politik. Nah, dua hal itu sebab akibat gitu. kebijakan itu polisi itu dibuat berdasarkan pertimbangan ekonomi atau pertimbangan ekonomi dibuat berdasarkan eskalasi politik. Nah, ketika kita paham bagaimana makro bekerja, jadi arah sasaran, kritik, masukan, dan saran itu lebih terukur. Karena balik lagi perbedaan antara misalnya channel konspirasi sama channel yang bahas makroekonomi ngebahas satu isu yang sama misalnya kayak yang lagi ramai Iran, Israel, Amerika gitu. Nah, kalau channel-channel based on asumsi, wah nanti Donald Trump bakal kayak gini, e Iran bakal kayak gini, wah ini bakal kayak gini, Cina bakal kayak gini, semuanya tuh asumtif tapi disuarakan dengan bagus kan. Jadi orang percaya dengan itu. Ini buktinya ini ujung-ujungnya di di bank, hoa dan mati di tengah jalan diskursusnya karena basisnya enggak ada. Tapi ketika kita paham ekonomi kayak gimana kayak misalnya, oh ya ternyata bisnis, bisnis senjata Amerika itu gede banget loh. H bayangin loh yang terjadi di Denmark. Mereka mau capok itu Greenland dan ternyata Denmark harus beli misil dari US, pertahanan dari US untuk menjaga daerahnya dari pressure-nya US itu kan gila ya gitu. Nah, orang tuh ada dasar landasan pikirnya gitu. Kenapa sih perang-perang atau konflik-konflik itu diberdayakan? Oh, ternyata ada perusahaan ABCDE yang sahamnya selalu naik, ee omsetnya selalu naik dan kontribusinya pada GDP US segini loh gitu. bisnis ini berjalan dan lain sebagainya. Nah, bayangin ketika kita paham pertumbuhan ekonomi apa, GDP apa, pendapatan per kapita apa, ya kan kita paham gitu. Oh, ya antara beda beda antara teks rasio apa tax rate apa, orang jadi ngelihat sesuatu itu holistik. Nah, ketika kita sudah ketemu bahannya secara holistik, kita ngelihat komponennya seperti apa satu persatu. Dan ketika kita melihat ada suatu masalah di situ, kritik dan masukannya lebih tepat sasaran gitu. Hm. Misalnya kayak gini, kita ngomong, "Mbak, paling gampanglah utang negara ya." Yang jadi masalah orang selalu yang banyak ya mempermasalahkan utang itu jumlahnya. Nah, kalau kita enggak ngerti ngerti makro itu gampang banget di dibang lu lihat China, US, Jepang itu jumlahnya lebih gede loh. Iya. Nah, karena lu enggak paham apa-apa jadinya wah kalah nih gua gitu. Enggak bisa gua ngekritik utang. Padahal utang Indonesia itu perlu dikritik. Bukan dari jumlahnya, rasionya gitu, sumber pembiayaannya, rate-nya gitu, pembayarannya seperti apa gitu, yang dijamin apa. Nah, itu kan roda-roda atau gear yang seharusnya lebih fokus masyarakat di situ gitu. Tapi karena ngertinya jumlahnya utang kita puluhan ribu triliun atau ribuan triliun. Enggak. Itunya yang lu harus lihat rasio di GDP-nya berapa. Hm. H ruang fiskal APBN kita gimana, peruntukan utang itu untuk apa gitu. H. Nah, ini sasaran kritik yang bakal sulit banget untuk dibantah kalau kita ketemu datanya valid. Itulah kenapa makroekonomi itu membantu teman-teman untuk bermedia sosial dengan oke nyampai gitu. Itu masuk akal ya. Itu masuk akal ya. Itu ya. Makanya slogan buku ini kan ini enggak bikin lu kaya, belum tentu bikin lu pintar. Tapi at least kalau lu baca sampai habis, lu bakal nyampai di tongkrongan. Udah. Iya. I lu banyak bahan ketika datang ke tongkrongan ya. Setuju. Iya iya iya setuju.
Kalau dalam konteks makroekonomi sekarang kita masuk ke mikroekonomi deh. Kita misalnya ngomongin tentang finansial secara personal gitu ya. Iya. Saran finansial paling masuk akal untuk teman-teman 20-an atau baru masuki 30-an yang menonton ini. Oke.
Kalau di buku itu di sesi mikronya kan gua ngebahas soal supply and demand, gua ngebahas soal utilities, gua ngebahas diminishing of return segala macam. Nah, soal sarandi itu gua masukin ke ekonomi terapan, Mas. Jadi, aku masukin ke ekonomi terapan sesuatu yang mungkin banyak sekali di buku-buku pengantar ilmu ekonomi sebelumnya itu belum masuk ya, kayak behavioral economics juga belum masuk atau masuk senangan ilmu ekonomi itu kan berkembang terus-terusan. Jadi kita lihat dari suku paling besar duluah ketika great depression itu terjadi gitu orang berpikir bahwa government spending itu penting gitu. Oh, Kinesian itu bisa menyelesaikan great depression waktu stakflasi terjadi. Oh, enggak bisa nih kinesian pun eh sistem glment spending itu sudah enggak jalan. Tetap aja jadi masalah neoliberalism naik gitu segala macam. Eh, tahun 2008 balik lagi pakai kean untuk ngekatrol suku bunga segala macam. Jadi, ekonomi itu berkembang terus. H kayak dulu setiap orang itu mengasumsikan manusia itu selalu mengambil pilihan paling rasional. Homoekonomicus. I ya kan? Kan itu ngembantah enggak lah, enggak setiap manusia itu ngambil keputusan itu rasional. Ada behavior di situ. Nah, muncullah menanglah mereka nobel kan. Dan itu kan esensi dasar nih paling itu berpengaruh banget sama ilmu ekonomi. Karena ketika orang mengukur tingkat utilitas itu jadi oh iya ya belum tentu ketika pilihan ini diambil itu enggak rasional loh gitu. Justru mungkin jadi ini paling rasional. Benar. Nah, kalau saran finansial personal tiap orang yang salah satunya aku bahas di situ ya, banyak banget orang kan bikin rumus gitu 50, 30, 20 kayak gitu. Karena itu yang standar baku tuh yang muncul di era media sosial sekarang atau investasi harus ini atau apa. Tapi balik lagi, Pak Lindas itu tergantung seberapa banyak loh uang yang kamu punya gitu. Hm. Kalau misalnya uang kamu punya katakan cuman 5,2 juta standar UMR Jakarta dan kamu harus ngehidupin keluarga pakai rumus 503 2020, kamu bukannya berinvestasi, kamu meninggalkan beban buat orang lain gitu. Pemenuhan kebutuhannya itu lebih sulit. Jadi nilai dari 5,4 juta itu yang harus kamu naikin gitu. Berarti kamu harus bukan bukan butuh untuk me nunjuk berbasket-basket, tapi butuh meningkatkan income dulu. nih revenue 5,2 juta baik apa? Oh, banyak solusinya gitu. Pekerjaan tambahan, pekerjaan sampingan atau pos-pos yang bisa digarap selama itu tidak menyalahin hukum dan aturan berlaku, ya lakuin. Dan kalau emang butuh pertambahan misalnya 5,2 juta dan harus tambah berarti enggak ada ruang gambling dong di situ. H harus cari risnya yang rendah gitu supaya nilai ini nambah terus-terusan gitu. Nah, itu yang harus dipahami orang. Makanya aku pakai rumus itu ada yang namanya atap, ada yang namanya dinding, ada yang namanya ee lantai kan. Jadi enggak serta-merta wah yang paling penting itu planningnya seperti apa. Enggak juga income-nya dapat dari mana dulu kan ada atapnya gitu. Rumah kalau enggak ada atapnya ya collaps juga. He. Planning itu di planner itu di dindingnya gitu ya atau investment itu di dindingnya atau income itu di atapnya itu kan sudah kita breakdown satu-satu gitu. H. Jadi hal-hal seperti itu yang harus diingat orang-orang. Jadi di zaman sekarang dengan volatilitas yang luar biasa sekali yang enggak ketebak sama sekali kupikir pilihan realistis itu udah pilihan paling masuk akal di era ini, bukan tentang menggandakan uang yang kamu punya sekarang, tapi store of value-nya gitu. Hmm. Ya, dia di zaman ini ya. Karena aku enggak ngelihat. Tapi kan kalau orang goncang itu opportunity orang bisa lebih kaya, Bang. Betul, benar. Tapi ya orang kayak gitu enggak sampai 2%. Kayak gimana lu mastiin lu masuk di 2% bukan 98%. Gua sih ogah terlalu terlalu bad-nya terlalu tinggi gitu. Iya. Memang ada di setiap krisis itu orang yang akhirnya jadi kaya banget. Tapi ya jumlahnya sangat sangat sedikit gitu. Tapi setiap orang punya confiden biaya kalau mereka bagian dari 2% itu. Iya. I ya. Sering sekali. Apalagi di dunia internet sekarang. Iya. Wah. Apalagi dengan behavior ngelihat orang pakai mobil mewah segala macam. He. Bukan berarti itu otomatis dia ng-scam atau dia penipu. No. Paham. Mungkin dia dapat momentumnya begitu tapi enggak serta-merta berapa satu banding sejuta atau R juta lu bisa di situ gitu. Padahal ada TRK TRK TRK trajektory lain yang lebih aman, lebih secure dan lebih ningkatin apapun value yang lu miliki termasuk urusan material atau money gitu. Iya. Karena itu yang paling seksi. Iya. That's why. Dan mereka kayak gitu kan punya kebutuhan ya. Mereka kebutuhan kayak gitu. Misalnya tukang pam lah. Dia butuh banyak orang masuk untuk hal yang lagi dia pam gitu kan. Betul. Iya. Dan anehnya gitu di ekosistemnya sendiri mau ngomong saham kripto segala macam. Orang-orang ikut grup, orang-orang ikut kelas, orang-orang ikut apa. Cobalah tanya satu persatu, apa mereka kalau ikut kelas itu untuk belajar? No. Jarang sekali mereka ikut kelas itu untuk oh kayaknya ini insider nih, gitu. And collapse. Hm. Akhirnya bingung kan. Baik lagi. Baik lagi. Cara paling mudah kecewa yaitu dengan berekspektasi pada manusia. Iya. Padahal lu bisa build build build build knowledge sendiri. lu bisa ngelakuin apapun sendiri. Makanya di buku itu sama sekali aku enggak enggak ngasih optimisme yang berlebihan gitu. Bahkan ngelihat orang kalau lu punya ilmu, kalau lu belajar ilmu ekonomi paling dasar aja itu udah cukup untuk hidup lu lebih baik gitu. Hm. Lu tahu nih cost benefit analysis itu apa? Opportunity cost yang lu buang apa? Setiap hari manusia bisa punya puluhan ribu decision dalam hidupnya dan sebagian besar tanpa dia sadarin gitu. Coba lu sadarin sesekali gitu mau cuci muka atau gosok gigi duluan gitu. Apa sih kos yang terbuang dari cuci muka duluan atau gosok gigi duluan? Benar sih. H itu sih orang kadang enggak sadar bahwa sehari dia bisa mikir 70.000 kali gitu ya. Iya. Iya. I untuk milih untuk jalan kaki kiri atau kaki kanan duluan gitu. Pakai jam tangan apa, pakai baju apa. Dalam 1 jam ribuan keputusan kita ambil kan. Hm. Dan kita enggak sadar itu terjadi. Dan itu kenapa ilmu ekonomi ada? Karena manusia harus membuat pilihan. Kenapa manusia membuat pilihan? Karena manusia hidup dalam keterbatasan. Hmm. Hm. Dan keterbatasan ini mau dihilangkan seperti apap pun enggak akan bisa. Mau kemajuan teknologi seluar biasa apapun manusia tetap akan mengalami keterbatasan dan keterbatasan. Makanya ilmu ekonomi akan selalu relevan gitu. Yap. Y.
Gimana obrolan kami tadi? Seru banget kan? Tenang-tenang, jangan skip dulu ya. Ini bukan iklan. Aku cuma mau bilang aku butuh untuk ketemu dengan 30 orang yang serius belajar proses kreatif suara berkelas dari nol. Mulai dari gimana aku menemukan ide, gimana scriptingnya, gimana eksekusi long form podcast-nya, long form contentnya, gimana kemudian eksekusi di short form-nya sampai ke kita belajar detail tentang content waterfall. Dan yang paling penting gimana caranya kita bisa monetisasi semua hal tentang proses kreatif dari nol kita akan kita bedah detail di satu hari full bootcamp langsung bareng aku dan temanku Agus Leo Halim. So, tunggu apa lagi? Langsung aja klik link di deskripsi dan sampai jumpa di eksklusif creative masterclass langsung bareng aku dan K Agus Leo Holim ya. Come on, come on sampai jumpa. Khusus 30 orang yang serius ya.
Bang Veri. Tiga pertanyaan dari teman-teman suara berkelas. Pertanyaan pertama dari Ishakul Haq. Dia nanya, "Bagaimana kacamata Bang Feri melihat sisi spiritual Abang dengan kehidupan Abang yang sekarang? Aku penasaran."
Ya, seperti itu sisi spiritual ya. Iya, banyaklah banyak hal yang emang membimbing dari awal. Banyak hal yang ya keluargaku, sukuku itu kan sangat terkait dengan hal-hal seperti itu. Semua Sumatera Pride, jadi banyaklah hal-hal yang emang benar-benar ngembantu kita dalam berkembang juga, membantu membantu kita dalam memahami ilmu pengetahuan juga, membantu kita untuk memahami manusia juga gitu. dari ya aku lulusan madrasah Ibtidaiyah ya waktu SD ya. Jadi di situ banyak belajar juga jadi pengaruhnya juga sangat besar sih menurut sampai sekarang. Hm. Tapi aku memang bukan spiritualis atau orang-orang yang emang menitik beratkan hal-hal di situ gitu. Cuman ya aku percaya setiap manusia punya kok. Hm. Dan punya fundamentalnya dari awal. Karena kan kita dididik oleh orang tua kita. Iya. kita dibesarkan sama orang tua kita dan kita hidup dalam lingkungan kita. Tapi sekarang kalau sekarang ditanya apa apakah yang berdampak banget atau bagaimana cara mengambil keputusan atau segala macam ya kita akan terus coba untuk mengambil atau melihat sesuatu itu dalam aspek rasionalitas yang seperti apa gitu. Jangan sampai bias lah. Kalau ada yang bisa kita upayakan ya harus kita upayakan ini pilihan terburuk dari terbaik seperti apa. Terbaik dari terburuk seperti apa begitu. Hm. H
Kita ke pertanyaan kedua. Pertanyaan kedua dari Agus Saputra. Tidaknya kalau bisa balik ke usia 20-an awal, aku penasaran Bang Feri itu ingin lebih belajar di bagian mananya?
20-an awal ya. Bahasa Inggris sih. Oke. Oke. Aku punya punya big problem ketika bicara bahasa Inggris dan aku tuh baru belajar benar-benar ketika aku kuliah di Australia aja. I jadi benar-benar wah nyesal banget sih enggak belajar dari dulu karena hambatan diseleksikkan. Hmm. Jadi susah banget untuk belajar bahasa baru dan ternyata bisa gitu. Ternyata bisa ya. ternyata bisa dan andai aku bisa belajar lebih awal lagi karena ketika kuliah itu ada banyak baret kita punya ide, kita punya konsep gitu tapi terhalang dari tata bahasa gitu. H gimana sih gua bisa memproyeksikan ini dengan baik ya dalam dalam bahasa yang bukan mother tong-nya gua gitu. Nah, itu yang aku rasakan sal bahasa Inggris. Kedua, antropologi sih. Hm. He. Seandainya bisa lebih awal mengenal manusia itu mungkin punya dampak yang lebih bagus. Oh, sama sih gua kalau ditanya jawaban gua antropologi. I pengin lebih belajar antropologi ya. Tapi kalau bahasa Inggris kan dari cara aku melihatnya Bang Feri itu bisa dapat akses langsung ke buku utama yang berbasiskan bahasa Inggris kan. Jadi kayak misalnya ada buku puisi yang berat banget dalam bahasa Inggris. Kalau kita emang bisa bahasa Inggris itu aksesnya langsung enggak
Harus diterjemahkan lagi dengan bahasa baku. Itu sih kelebihannya. Iya. Dan aku ngelihat banyak ilmu pengetahuan masa itu juga dibahas di bukuku, ya. Ee, di awal-awal banyak sekali buku-buku ekonomi di awal Indonesia itu, Bu, yang yang nerjemahin itu bukan ekonom. Jadi, banyak sekali kata-kata atau istilah yang miss, sebenarnya misleading, dan bisa bikin orang itu makin sulit memahami ekonomi. He. Ya. Contohnya penawaran gitu. Penawaran tuh kan ambigu banget. Hm. Utilitas itu kayak gimana? Oh, iya, ya. I, ya. Penawaran dan inkonsistensinya di depan mata gitu. Kayak kita bicara permintaan penawaran, supply and demand. H. Supply and demand kita terjemahkan permintaan penawaran. He. Nah, ketika supply chain kita terjemahkan rantai pasokan. Oh, iya, ya. Iya. Ya, ber bukan rantai penawaran. Padahal itu supply in the same term gitu loh. Eh, iya, ya. Kayak kemarin pas aku bahas tentang leverage di konten aku, terus ada yang nanya, "Leverage itu apa?" Kalau aku terjemahkan daya ungkit, kan jadi susah, jadi bingung, ya. Ya, tapi gua punya leverage nih ke orang ini. Nah, itu kan susah, kan. Gua punya daya ungkit, kok. Iya. Ya, gitu sih. Iya. Opportunity cost gitu. Biaya peluang. I, ya. Ya. Padahal ini hmm, ya tidak semua hal diterjemahkan dengan sama, karena padanan antara berbahasa itu kan berbeda sekali antara antara, ya. Dan kita harus sadarlah. Bahasa Inggris itu jumlahnya, bahasa Inggris tuh sudah tua banget gitu. He. Tapi bukan berarti bahasa Indonesia jelek, ya. Cuman, ya, ada hambatan seperti itu. Makanya, salah satu hal pertama yang aku bahas di buku itu, ya, misleading translasi itu. Jadi, kita bikin benar dulu, jadi orang lebih gampang ngerti gitu. Kayak scarcity itu kan dari, ya. Iya, bukan dari rare, gitu. Iya, iya, iya. Y, itu sih.
Ins baru tentang bahasa Inggris. Kita ke pertanyaan ketiga, which is pertanyaan terakhir dari Nurul Amelia. Dia nanya, "Aku penasaran cara Abang Ferry berpikir tentang Game of Attention. Karena aku yakin orang-orang yang sudah berkembang akunnya itu, mereka tahu sesuatu yang enggak kita tahu. Apa nih yang aku enggak tahu tentang Game of Attention?" Nah, ini bagus pertanyaan, ya. Aku apa ya? Aku kurang kurang kurang klik sama itu, ya. Kayak Game of Attention or something like that, gitu, ya. Ya, yang aku tahu, ya emang sosial media pasti orang-orang bakal melihat, menilai, dan men-judge gitu. Apakah itu harus dilakukan? Jangan sampai mikirnya konotasinya selalu negatif. Kan gua butuh atensi, atensinya diconvert jadi apa? Oh, iya juga, ya. He. Iya. Kan kalau orang bilang atensi itu currency, good, tapi diconvert jadi apa nih? Kalau enggak ada konversinya, buat apa? Misalnya kayak orang ngambil atensi dengan bikin konten apa? Ee, giveaway. Iya, giveaway handphone, giveaway apa, kan udah lihat best modelnya dari awal gitu. Apa ada yang bertahan sampai sekarang? He. The end of the day, kalau enggak ada esensi atau barang jualan yang emang lu mau jual, buat apa? Currency itu ketika dia bisa dikonversi, kan. Iya. Kalau enggak ada, ya atensi itu enggak selalu menarik, loh. Beneran deh. He he. Enggak, enggak selalu punya edit value gitu. Dan kadang itu bisa, bisa jadi malah merugikan Anda sangat besar gitu. Anda disalah artikan. Anda di ini. Jadi, kalau game of attention itu bukan bahasa yang ku kepakai sih, cuman yang aku tahu, gitu, ketika kamu bisa membuat friksi di media sosial dengan plus and minus, itu bakal lebih baik daripada kamu mendapatkan plus semua atau minus semua. Tapi di sisi yang lain, yang orang banyak enggak sadar, ketika kamu mulai dengan minus, hidup kamu lebih enak. Karena ada satu hal baik aja kamu lakukan, orang bakal appreciate. Tapi ketika kamu mulai dari plus-plus, ya kan, satu aja kesalahan kecil, orang bakal itu, dan itu enggak bisa dibantah. Gitulah human behavior dari zaman dulu juga memang seperti itu, gitu. Oke. Misalnya ada orang yang terkenal negatif, yang katakan influencer A, tiba-tiba dia ngelakuin ini B. Emang nih orang ini, ya sesimpel itu. Atau yang bangun benar-benar benar, tiba-tiba dia ngelakuin, nah, udah kayak penjahat aja gitu. Dan itu terjadi setiap era, setiap masa. Dan untuk melawan hal kayak gitu, ya enggak perlu juga. Hm. Yang kamu lawan jutaan manusia kok. Ya, enggak akan mungkin kamu bisa membuat semua orang benci sama kamu atau semua orang suka sama kamu, tuh enggak mungkin lah. Hm. Itu sih. Jadi, game of attention itu tergantung, tergantung peruntukannya untuk apa. Dan enggak selalu kan nyari atensi itu dari hal yang negatif. Tapi, ya, cara paling mudah sebenarnya kalau ket bikin sesuatu yang kontroversial, ya tinggal diconvert jadi hal seperti itu. Dan sekarang pun udah enggak butuh lagi kan menuk. Ada banyak, bukan enggak butuh atau apa, ya. Ada banyak hal-hal yang lebih diprioritaskan untuk dilakukan sekarang. Iya. Ada lebih banyak hal yang butuh atensi kita. Iya, bukan atensi orang ke kita, tapi atensi kita. Nah, itu Mas, poin paling benar. Kalau di aku sekarang, ya. Iya, ada banyak berapa UMKM itu kita bantu, kita support, kita modalin, gitu. Dan kalau atensi kita enggak ke situ, ya modalnya bakal hilang gitu aja. Kalau hilang gitu aja, dia berkembang, it's ok lah. Tapi kalau dianya ujungnya enggak berkembang, ya susah. Nah, ini Mas, orang Aceh tahu sendiri, pemulihan di situ masih butuh banyak banget atensi. Iya, iya, iya, iya. Dan ada kita dari donasi 10,3 miliar, dari internal kita nyumbang 3,2 miliar, gitu. Huge money, ya. Dan itu butuh atensi banget, peruntukannya seperti apa. Kita sempat tuh, ada yang, "Bang, kita mau bikin sekolah," langsung ngasih RAB 3M. Terus lihat RAB-nya, langsung tak tanyain, "Jangan macam-macam, ya," gitu. H. Langsung aku sekak, gitu loh. Lu jangan ini dalam keadaan bencana, lu gitu. H. Tapi lu ngasih er, iya, kayak kayak kita tuh enggak ngerti gitu, logistik seperti apa, barang seperti apa, dan kayak sekolah enggak pernah itu ada. Dan itu kan butuh atensi. Kalau kita enggak ada atensi sedetail itu untuk ngelihat RAB laporan, ya bakal keluar duit yang kita enggak tahu ke mana. Benar. Benar. Makanya, ya, ya itu sih. Kalau mau main media sosial, ya, ya konversinya apa dulu, gitu. Hm. Iya. Ya. Mungkin konteks dia bertanya seperti ini karena dia berpikir bahwa cuma ngomongin viral doang nih. Tapi kita enggak tahu dari viral itu mau diconvert ke mana, kan. Iya. Dan sekarang kan susah di media, ya. Aku lihat kalau orang cuma mau viral di Instagram, TikTok, kan enggak ngasilin duit. Itu mah viralnya. Kalau di YouTube kan ada ads-nya, gitu. Tapi kalau anak umurnya 18 tahun, 17 tahun, rata-rata emang comfort-nya untuk tenar sih. Oh, fame, ya. Iya, iya. H. Ya, kita sudah tua juga. Makanya aku kadang dibilang Gen Z, itu aku bingung, gua 35. Iya. Aku ketemu bahkan partner aku, kalau Agus, itu kayak aku tanya tentang game of attention, ya jawabannya, "Kita nih cari uang, gitu, bukan beneran cuma sekedar dari sisi cari tenar, kan." Iya. Ya, makanya orang-orang orang-orang yang insecure, kayak bikin konten, "Aku insecure," tuh bisa jadi karena yang dikejarnya views, likes, tenarnya itu. Makanya insecure-nya beda-beda. Iya, beda-beda. Money, ya, tetap aja priority-nya beda-beda, gitu. He.
Alright, Mbak Veri. Oke. The worst advice yang pernah Mbak Veri terima. "Keluarlah dari zona nyaman." Selalu itu. Oke. Kenapa? Kenapa itu the worst advice? Wong kita hidup nyari kenyamanan kok. Belum nyaman disuruh keluar. Gimana ceritanya? Oke. Emang seberapa banyak sih manusia yang hidupnya sudah nyaman semua? Hidup kita hidup dalam ketidaknyamanan, kan. Hm. He. Dan apapun yang kita lakukan untuk menambah kenyamanan kita, gitu. Kalau nyamannya udah, kalau sudah nyaman, ngapain disuruh keluar? Nah, pertanyaannya justru, carilah kenyamananmu, gitu. Enggak setiap hal itu benar-benar bikin kamu nyaman. Kalau kamu sudah enggak nyaman, berarti enggak nyaman dong itu. Hm. Misalnya, kamu pekerjaan kamu stuck, gitu, berarti itu kan bukan zona nyaman, itu zona ketidaknyamanan. Ya, carilah kenyamanannya, gitu. Wah, itu bagus. Iya, kan. Orang pakai pakai quote, "Keluarlah dari zona nyaman," tuh kita harus berani keluar dari stereotype. Bentar, kalau kalau memang ternyata itu bagus, lu nya enak, keluarga lu happy, ya. Tapi kalau memang ternyata itu udah bikin lu terbelenggu, ya berarti enggak nyaman dong namanya. I, iya, iya. Ya. Itulah kenapa belajar prinsipil ekonomi itu, ya ini, apa sih gitu. Ini rasional atau enggak rasional? Gitu. Utilitasnya apa? Makanya itu worst, ya, juga, ya. Kayak define your nyaman, deh. Sekarang, misalnya, kalau nyamannya itu berarti lu ngerjain hal-hal yang lu benci, berarti enggak nyaman, ya berarti enggak nyaman dong. Bukan, bukan, wah itu zona nyaman. Enggak, justru lu hidup harus nyari kenyamanan. Lu. Kenyamanan saya, saya tidak jadi PNS lagi. Saya bisa keluar, saya bisa bersuara. Saya bisa ngapa-ngapain. Saya bisa bikin sekolah. Saya bisa genyamanan buat saya. Tapi buat orang lain, wah, dia berani ya keluar dari zona nyaman. No man, justru yang sebelumnya gua enggak nyaman makanya gua keluar. Tapi sekarang sudah sudah di fase nyaman atau gimana? Kayaknya mencari kenyamanan baru lagi. Ah, ya. Ya, dengan bikin sekolah, bikin kuliah, kayaknya aku bakal lebih ngerasa nyaman dengan melakukan hal-hal kayak gitu. Hmm. Ya. Wow. Itu tamparan juga bagi aku. Enggak pernah ngelihat ada orang yang bilang the worst advice-nya malah itu. Aku biasanya kayak mdefine, perluas zona nyaman itu juga bisa kayak lu ngerasa di sini sempit banget nih kotaknya, lu bisa perluas kan. Tapi dengan kacamata baru lagi aku dapat bahwa define your nyaman bisa jadi yang lu anggap sekarang nyaman, itu ngapain lu keluar, ya berarti lu enggak nyaman. Iya, ya. Terima kasih banyak, Bang. Kelas. Terima kasih. J baca nih.