Transcription
Kita kan kuberikan bagi hatimu yang damai cintaku. Gelora Asmara.
[Tepuk tangan] [Musik] [Musik]
Halo, kita bicara soal 5 daerah paling populer di Indonesia, maka Jogja adalah salah satunya. Kalau kita bicara soal 3 daerah yang pernah menjadi ibukota negara Republik Indonesia, maka Jogja juga merupakan salah satunya. Dan kalau kita bicara 2 daerah khusus di Indonesia, ini juga salah satunya.
[Musik]
Tapi roni-nya, walaupun kota ini populer, romantis, dan bersejarah, upah minimum pekerja di sini ternyata termasuk yang paling rendah. Dan selama ini rendahnya upah tersebut tertutupi dengan ilusi biaya hidup murah. "Lagi mahal apa-apa kerasanya di Jakarta tuh, apapun itu mahal kerasa banget gitu mahalnya. Kenapa harus ngeluarin duit segini, ketika di Jogja nggak ngeluarin duit sampai segitu." Nggak tahu ya, dibilang dibilang bisa sampai murah banget. Cuman menurut aku udah sangat murah. Eh, beda nggak sih? Iya, tapi murah lah gitu. Sangat nyaman untuk bisa hidup di Jogja dengan harga segitu. Untuk kebutuhan makan contohnya. Makan, nah itu kayak makan Magelangan mungkin under Rp10.000 udah banyak banget. Dan kemudian nanti ada es teh. Jadi kayak mungkin Magelangan plus es teh cuman Rp12.000.
"Eh, dibilang terpaksa sih nggak. Ada yang maksa ya, cuman karena tuntutan kerjaan aja sih gitu. Jadi harus move out dari Jogja ke Jakarta. Akan ada opportunity untuk kerja, tapi kan gajinya nggak nyaman ya gitu. Karena kalau gajinya nyaman pasti di situ. Cuman karena mohon maaf warga Jogja gajinya kurang nyaman jadi pastinya juga harus ada perhitungan untuk bisa tumbuh di kota lain sih."
Membahas masalah UMP atau UMK yang populer dengan sebutan UMR di Jogja bukanlah barang simpel, Bapak Ibu sekalian. Dan gua memutuskan untuk langsung pergi ke Jogja guna mencari tahu penyebab mengapa UMR begitu rendah, bagaimana kehidupan di Jogja, apakah benar yang disebut dengan biaya hidup yang sangat murah, dan apa dampak yang akan timbul setelahnya.
[Musik] kelinci [Musik] [Musik]
"Mau ke tempat pulsa terdekat di mana, Pak?" "Saya nggak enak sudah saya terima di badan."
[Musik]
Lalu gue mencoba berbagi jenis makanan di Jogja dan harus gua akui harganya sangat luar biasa murah, apalagi jika dibandingkan dengan Jakarta. Kereta yang murah, becak motor yang seikhlasnya, makanan yang sangat terjangkau. Gua jadi mulai memahami dari mana ilusi ini terbentuk. Tidak heran banyak pendapat yang bilang UMR Jogja nggak perlu tinggi-tinggi karena biaya hidup di sini sudah sangat murah dan kota ini sudah sangat nyaman.
Dan ini adalah masalah yang besar, kawan-kawan. Hal ini tidak sepatutnya dibenarkan. Mengapa demikian? Karena kebutuhan manusia untuk menunjang hidup bukan terbatas hanya soal hidangan. Oke, nasi yang lu makan memang jauh lebih murah. Harga kosan memang jauh lebih terjangkau. Tapi harga rumah di sini sangat mahal, ketiga termahal di Indonesia setelah Jakarta dan Bali. Harga rokoknya sama aja dengan Jakarta. Harga motor, harga mobil, harga handphone, dan banyak barang lainnya tidak memiliki diferensiasi yang berarti.
Apa yang dinamakan biaya hidup murah tentu tidak bisa kita sederhanakan cuman dengan berpatok pada harga es teh manis dan nasi kucing. Gudang Garam Filter 2 bungkus ada signature ya. Gudang Garam Filter Rp23.000. Mins itu harganya sama dengan daerah-daerah lain. Sebagai perbandingan, Semarang dengan biaya hidup dan kondisi yang relatif mirip dengan Jogja, dengan transportasi publik yang lebih terkoneksi, bisa memiliki UMR lebih dari 3 juta rupiah. Saat UMR Jogja sekarang hanya berkisar 2,1 juta.
Lalu bagaimana bila dibandingkan dengan Jakarta? Mari kita gunakan survei terakhir BPS pada tahun 2018. Menurut survei pengeluaran perkapita nominal tahunan di Yogyakarta sebesar Rp32.724.000, sedangkan di DKI Jakarta berkisar Rp53.592.000. Sementara UMR Jogja 1,7 di tahun itu dan UMR Jakarta 3,6 di tahun itu. Dengan demikian, ketika UMR Jogja hanya 47% dari UMR Jakarta, biaya hidup di Jogja mencapai 61% biaya hidup di Jakarta.
"Lu mau nanya-nanya lu kan di bantu Kulon Progo Jogja provinsi kabupaten Jogja jadi Kulon Progo tuh masuk provinsi Jogja Daerah Istimewa Yogyakarta berarti masih di bawah Ke Keraton Jogja. Aku kan tinggal di Kulon Progo kecamatannya namanya Kalibawang itu mayoritas tetanggaku itu bekerja sebagai petani. Bahkan kakek itu juga sebenarnya petani. Header mereka punya lahan sawah sendiri atau sebagai penggarap. Kenapa ya? Karena kalau buat apa ya mata pencaharian paling gampang di situ ya jadi petani karena lahan ada tanah subur itu mata pencaharian yang paling gampang untuk dikerjakan. Terus juga nah di sana kan kalau rumah gitu masih kadang-kadang masih punya apa namanya kebun ya lumayan luas lah dibanding di kota-kota besar gitu ya. Nah space lahan yang kosong tanah-tanah yang kosong itu sering ditanamin tuh entah sayuran atau tanam-tanaman yang juga bisa diolah gitu buat jadi makanan untuk untuk kebutuhan sehari-hari juga gitu. Jadi misalkan mau masak sayur apa itu bisa aja nggak perlu ke pasar udah tinggal cari aja di kebun. Nanam bayam udah sayur bayam udah ngambil dari kebun. Nanam cabe dapat cabe. Menanam bawang dan itu pernah dilakuin juga sama kakek nenek. Even bokap gua pernah juga ngelakuin gitu."
"Bukan bukan kalau kalau petani-petani di kampung di desa lu gitu perkiraan mereka kurang lebih sebulan mereka bisa ngasihin uang berapa ya? Anggap aja mereka sehari itu mungkin paling banyak 1,5 juta. Mungkin paling banyak. Mungkin mereka juga butuh bercocok tanam gitu maksudnya gini. Mereka kan ada ada hal-hal yang mereka harus cukupi yang nggak bisa mereka proju sendiri kayak harus bayar listrik, bayar sekolah, buat beli minyak goreng, buat beli bensin gitulah. Atau mungkin mereka kan harus beli. Nah untuk menekan cost supaya tetap bisa afford kayak biaya sekolah dan sebagainya kebutuhan lainnya yang nggak bisa mereka penuhi sendiri ya mereka menekan apa kayak makanan. Oh aku bisa nanem bisa bisa apa namanya bisa jadi bisa mengurangi belanja cabe kadang-kadang dia nanam cabe di kebun."
Market bau kecil ini kan ngasilin margin yang kecil juga. Jadi artinya kan untuk barang-barang seperti itu mereka dipaksa, bukan dipaksa ya, mereka dalam kondisi yang mana harus menjual lebih murah supaya market bisa bersaing. Karena jujur aja aku mungkin melihatnya gini, daya belinya rendah. Pasti daya belinya nggak kuat. Jadi nggak mungkin. Sementara di satu sisi kan bensin harganya sama, listrik harganya sama. Berarti kan memang ada problem di situ sebetulnya.
Jadi dampak negatif yang timbul dari rendahnya UMR ini tentu akan merugikan masyarakat Jogja itu sendiri dan akan dirasakan dalam jangka panjang. Kalau terus dibiarkan, para pekerja yang berkarir di Jogja harus mengubur impiannya dalam-dalam untuk memiliki hunian di kota karena penghasilan mereka miliki tidak akan cukup membeli rumah walau dengan mekanisme KPR sekalipun, kecuali mendapat warisan dari orang tua. Lantas siapa yang memiliki rumah nantinya? Ya mereka yang mengadu nasib di kota lain dan menghabiskan masa pensiunnya di Jogja.
"Tapi lu sendiri kalau berkarir di Jogja melihat peluang itu nggak, guys? Peluang apa untuk berkarir di Jogja itu dengan dengan gaji Jogja?" "Kalau sekarang gara-gara aku rasanya di Jakarta ya, kayaknya masih milih di Jakarta. Karena perbedaan walaupun kenyamanannya beda jauh ya. Iya, soal kenyamanan namanya juga aku lahir di sana ya itu faktor tersendiri kenapa aku bisa nyaman. Tapi soal penghasilan, soal duit ya ya Jogja bukan tempat untuk nyari duit menurutku ya pribadi ya."
"Di sini tapi lu ada keinginan ketika pensiun nanti punya rumah di Jogja, beli rumah di Jogja, pengen?" "Berarti kan kebanyakan emang sekarang rumah di Jogja itu rumah-rumah orang yang udah cari duit di luar balik lagi ke Jogja." "Tergantung sih, mungkin kalau di kota bir mirip dengan Jakarta ring ring satu lah kayak deket kampus ya kota-kota Jogja kemudian dekat kampus. Tapi kalau di pinggir-pinggir ya lu mau cari tanah harga Rp100.000 per meter masih ada. Besok kalau udah pensiun belinya ke situ. Prefer sebenarnya kebetulan udah ada lebih pengen ngebangun di ini aja sih di pinggiran."
[Musik]
Pertanyaan mengapa UMR di Jogja bisa begitu murah bukanlah pertanyaan yang bisa dijawab dengan sederhana. Ada yang mengatakan UMR Jogja di bawah murah karena political will supaya jadi daya tarik agar investor masuk, industri masuk, menu masuk. Nyatanya tidak. Perusahaan-perusahaan lebih tertarik berinvestasi di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang bahkan punya upah minimum yang jauh lebih tinggi. Pendapatan Jogja dari sektor manufaktur hanya berkisar 12%, tentu ini hal yang sangat minim.
Apa yang gua pahami kenapa Jogja tidak menarik adalah perkara harga tanah yang mahal dan ketersediaan lahan yang kurang. Selain itu, beberapa regulasi Kesultanan juga membuat pengusaha tidak melihat Jogja sebagai opsi. Kalian bisa membaca UU Keistimewaan Nomor 13 Tahun 2012 dan berbagai UU Keistimewaan lain yang menjadi pintu masuk klaim tanah dan Keraton Jogja. Salah satu daya tarik dalam melakukan investasi adalah easy to doing business. Ini yang tidak mereka temukan di Jogja. Dualisme aturan, ketidakpastian regulasi, dan hal-hal lain yang membuat banyak pabrik dan investor lebih melihat daerah lain.
Faktor selanjutnya adalah daya beli masyarakat. Pasar di Jogja itu kompetitif tapi kapitalnya nggak gede karena memang margin untungnya kecil. Kenapa kecil? Karena memenuhi demand mahasiswa-mahasiswa di sana yang memang terbiasa dengan harga murah. Lu naikin dikit harganya, mereka punya ketersediaan lebih banyak buat opsi yang lain. Mau nggak mau untuk usaha lu tipis untung, usaha lu tipis. Sebagai pegawai juga nggak bisa gede dong. Nah, dipaksa naik pun nggak bisa. Mau nggak mau ya pilihannya bertahan atau cabut sekalian. Enak kalau lu bisa bikin bisnis yang punya target nasional tapi beroperasi di Jogja, bisa cuan sekali.
Bapak Ibu sekalian, pendapat Anda pengeluaran punya margin yang tinggi sekali buat pengusaha memang menguntungkan. Gua pekerja yang tidak ada bedanya. Ditambah lagi kenaikan upah minimum sekarang menggunakan formula yang ditentukan PP 78 Tahun 2015 lengkap secara nasional. Artinya naiknya 5 atau 7%, maka dari itu tidak ada perubahan ranking karena semuanya mengalami kenaikan yang seragam. Sungguh sebuah keruwetan yang luar biasa.
Solusi masalah ini jelas ada di pemerintah kita. Itulah kenapa mereka dibayar baik pusat maupun daerah harus duduk bareng meluruskan kembali benang-benang kusut ini untuk menemukan pemecahan masalah yang berdampak positif bagi rakyat Jogja. Pertanyaannya, apakah mungkin? Karena pada akhirnya pertanyaan tersebut selalu berujung pada pertanyaan yang lain, yaitu apa untungnya.
Sekian Doku Vlog kali ini. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa.